Arial punya cara unik menganalogikan seseorang; dengan menggunakan karakteristik font style. Meski bernama Arial, dia sendiri ingin menjadi Helvetica yang disenangi dan menjadi favorit desainer. Omong-omong soal Helvetica, Arial cukup terkejut saat bertemu kembali dengan cewek pemilik nama itu. Setelah tiga tahun, Helvy masih saja mendendam atas kejadian saat mereka bertarung dalam final cerdas cermat Fisika. Cewek itu terlihat begitu serius, seperti merasa perlu membuktikan kemampuannya. Apalagi setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dan mengakibatkan ayahnya meninggal dunia, Helvy menjadi sinis memandang kehidupan dan mimpi.
Arial sendiri juga merasa perlu membuktikan kemampuannya dalam desain grafis patut dibanggakan. Agar pilihannya masuk jurusan multimedia yang menentang keinginan ayahnya yang seorang dokter dimaklumi. Selain pembuktian diri, lomba desain poster juga menjadi reuni bagi Arial dan Helvetica. Ajang itu membuka kelanjutan kisah keduanya. Kisah yang membuat mereka mempertanyakan kembali mimpi masing-masing.
Lahir dan tinggal di Samarinda. Hobi membaca berbagai genre buku, terutama fiksi. Suka menulis sejak kecil. Jarang menulis sambil mendengarkan lagu. Senang mempelajari banyak hal dari sekitarnya. Suka IPA dan matematika. Gemar bermain dengan kucing-kucingnya. Dan suka bengong sendiri setiap malam.
Oohh ini menarik, menjadikan jenis-jenis font untuk menggambarkan karakter orang. Banyak banget pula pelajaran hidup yang bisa dipetik dari novel ini 😭 nanti lah kusunting lagi ini review dengan ulasan betulan wkwkwk
2.5🌟 aja sorryyyy. Gak tau deh padahal aku lagi seneng-senengnya baca teenlit. Sayangnya Arial vs Helvetica ini bukan seleraku. Subjektif banget memang. Aku sukaaa kovernya. Cute banget. Tapi pas baca sinopsis gak terlalu tertarik. Trus aku lanjut baca..ternyata memang bukan seleraku. Gini, ide ceritanya unik banget nyeritain font gitu kan, trus banyak juga hal-hal antimainstream yang dibahas kayak multimedia dan lomba bla bla. Aku terkesan sama temanya yang berbobot. Belum lagi ditambah amanatnya yang oke punya.
Aku rekomended buku ini buat yang lagi nyari novel ringan namun bahasannya berbobot dan penuh amanat👌
Tapi....gini loh...entah ini perasaanku doang atau bukan, aku merasa penulisnya sangat mementingkan amanat yang ingin disampaikan ya. Sampai-sampai rasanya setiap kejadian antara Arial ataupun Helvy dipenuhi amanat. Dan jujur aku merasa bosan dengan alurnya. Cerita kegiatan mereka gak ada yg menghiburku. :( sorry to say.
Padahal aku seneng waktu si Fanny bikin taruhan itu, tapi hehehe gitu doang. Kayak...novelnya tuh datar aja gituu... Sebelumnya udah baca Carisa dan Kiana, dan novel itu lebih banyak gelombangnya daripada novel ini yang dataarrr banget. Aku jarang senyam-senyum ataupun sedih di sini, kenyang karena amanatnya hehehe
Ada juga yg bikin aku bertanya-tanya, kenapa ya tiap ada tokoh dengan latar belakang kayak helvy, aku selalu mikir ibunya ngapain aja sih 3th sampe gabisa bikin helvy berubah malah arial yang notabene 'bukan siapa-siapa' ini dalam sekejap bisa ngerubah helvy, pdhl menurutku keluarga harusnya lebih banyak membantu. Wkwk skip ya ini opini pribadi sih, kalau gak kayak gitu nanti arial gak punya peran di hidup helvy kan? Hehe
Trus aku juga heran knp fanny tiba2 kepikiran buat jadiin helvy pembicara dadakan pdhl sesungguhnya fanny itu tdk mengenal helvy:( aku kira ada arial di belakangnya ternyata tdk:( lagi-lagi aku berpikir scene ini dibuat hanya untuk menyampaikan amanat.
So ya segitu aja dariku, aku gak nyalahin banyak amanat ini sih cuma saran kedepannya mungkin bisa bikin scene yang lebih woww :D biar pas baca ikutan gereget :D
Oh ya, aku suka scene ayahnya dan arial di bagian akhir, touched my heartttt, kalau soal ayah aku pasti baper.
Terakhir, setuju banget sama Arial tentang hujan pas malem itu kayak ninabobo. Definitely agreeee with you, boy!
P.s ah ya soal karakter, menurutku semuanya biasa-biasa aja sih makanya sampe kelupaan dan ditaro di p.s :D
Sebenarnya ada banyak hal yang aku apresiasi dari novel ini. Di antaranya adalah:
- kurasa, so far cuma penulis novel ini yang terpikir untuk membuat analogi karakter manusia berdasarkan jenis font. Analoginya juga pas, sih. Nggak maksa. Wajar tapi jelas sangat unik.
- tema meraih impian khas cerita remaja,
- fokus ceritanya yang tak hanya cinta tapi juga soal persahabatan dan keluarga,
- isu disabilitas,
- tema insecurity dan penerimaan diri,
- para tokoh utamanya adalah tipe high achiever yang benar-benar memperhatikan urusan sekolah, nggak cuma pergi ke sekolah buat pacaran,
- perkembangan karakter para tokoh utamanya sangat terasa. Di awal karakter Arial dan Helvy ini diperlihatkan nggak banget soalnya. Arial kurang asertif, Helvy menutup diri dan jadi sinis pasca mengalami kecelakaan. Namun, lambat laun kedua orang ini benar-benar mengalami perkembangan karakter yang signifikan secara bertahap.
- ada elemen Studio Bambu, tempat pembinaan kreativitas untuk anak-anak jalanan dan anak yang kurang mampu.
- peristiwa yang membuat para tokoh utamanya berkonflik punya impact yang kuat. Arial mengikuti kompetisi poster dengan tema disabilitas dan menggambar sosok Helvy yang kakinya bermasalah dengan sangat kentara. Jelas ini hal sensitif yang bisa sangat menyinggung.
- adegan resolusi antara Arial dan Fanny. Usaha mereka untuk mempertahankan persahabatan walaupun sudah mengalami konflik seperti itu.
***
Namun, membaca buku ini membuatku lebih sadar bahwa membidani sebuah novel itu jelas bukan perkara remeh. Dari awal pun aku nggak pernah meremehkan urusan proses menulis novel dan proses-proses lain yang menyertainya seperti pengeditan, layouting, pembuatan kover dan sebagainya. Tapi entah kenapa baca novel ini rasanya membuatku lebih sadar bahwa merangkai narasi dan dialog yang benar-benar menggugah pembaca itu... sangat kompleks.
Kenapa? Karena seperti yang kusebutkan di awal review, sebenarnya banyak sekali unsur dalam buku ini yang aku suka. Namun anehnya aku sulit merasa tergugah saat membaca novel ini. Buatku nyaris segalanya terasa datar (kecuali bagian resolusi antara Arial dengan Fanny). Jadi saat membacanya, aku hanya ingin segera menyelesaikan buku ini biar bisa segera berpindah ke buku lain.
Barangkali karena gaya penceritaannya terlalu banyak telling (yang diungkapkan dengan gaya narasi rapi tapi terasa biasa saja) dan kurang showing. Banyak elemen dalam cerita ini yang disampaikan tidak dengan adegan dan dialog konkrit sehingga tak menggugah emosiku saat membacanya. Barangkali karena saat para tokohnya berdialog pun isi dialognya yah... standar dan biasa saja, tidak terlalu kuat sampai bisa dikutip (lagi-lagi, kecuali pada bagian resolusi Arial dan Fanny). Kebanyakan informasi penting pembangun cerita Arial VS Helvetica ini disampaikan lewat penjelasan dari penulis: si tokoh ini mengalami ini dan itu. Kalau tidak ya melalui mulut orang kedua.
***
Penggambaran konflik yang buatku nggak terlihat konkrit ini adalah konflik Arial dengan ayah kandung dan mama tirinya. Karena tak ada adegan pertengkaran atau perang dingin yang divisualisasikan dengan nyata. Hanya ada penjelasan secara pasif dari penulis kalau ayah Arial tak mau datang mendukung setiap anaknya ikut lomba, ayah Arial tak akan apresiatif jika Arial hanya mendapatkan juara 2 dalam lomba, dan Arial menyalahkan ayahnya karena tidak bisa menyelamatkan ibu kandungnya yang kemudian meninggal. Lalu ada cerita dari orang kedua, yaitu dari Kak Ana bahwa ayah Arial memaksa Arial untuk mempersiapkan diri agar bisa menjadi dokter seperti dirinya.
Tapi bagaimana aku bisa percaya kalau Arial dan ayahnya sedang bertengkar kalau pada saat Arial mendapati Helvy mimisan parah, yang dia telepon untuk mendapatkan nasihat medis adalah ayahnya? Ayahnya juga menjawabnya dengan datar, tak ada kesan dia terganggu karena ditelepon saat jam kerja. Percakapan ayah-anak yang normal. Tak menyiratkan adanya konflik apa pun.
***
Juga ada konflik soal para guru yang seolah lebih mementingkan ambisi sekolah daripada kepentingan para muridnya. Saat Helvy merasa marah dengan presentasi poster Arial, dia mendapat telepon bahwa ibunya sakit sehingga langsung walkout dari area presentasi. Akibatnya perjuangan Helvy dalam lomba pun berhenti hanya menjadi finalis. Sedangkan Arial yang sedang presentasi langsung tak konsentrasi melihat kepergian Helvy. Gara-gara itu dia pun "hanya" mendapat juara 2. Baik Helvy maupun Arial di sekolahnya masing-masing mendapat semacam perlakuan tak menyenangkan dari beberapa guru penanggung jawab pasca lomba karena dianggap menyia-nyiakan kesempatan.
Sungguh keterlaluan sebenarnya ketika Arial diperlakukan seperti itu padahal dia sudah mendapat Juara 2. Juga ada kejadian ketika beberapa guru berdebat soal konsep yang akan diajukan untuk lomba yang diikuti Arial. Ambisi para orang dewasa memang bisa sangat memuakkan. Untuk persoalan Helvy, aku nggak liat alasan sekolah berhak protes dengan perilaku Helvy, karena toh awalnya dia mendaftar lomba sendiri, bahkan tanpa sepengetahuan pihak sekolah, kan? Namun, dua konflik ini sebenarnya sangat menarik, begitu riil, dan relevan dengan beberapa kondisi tertentu di dunia nyata. Sayangnya, konflik ini hanya diperlihatkan sepintas lalu. Mengambang tanpa ada resolusi seiring dengan semakin sibuknya Arial dan Helvy dengan drama romansa masing-masing.
***
Ada banyak tokoh yang berseliweran di novel ini tapi tak mendapat jatah pengembangan karakter yang berarti. Mulai Romi dan bisnis kaosnya yang suka memanfaatkan kemampuan Arial dengan balas jasa yang tak memadai, Kak Armand yang kemunculannya timbul-tenggelam di sepanjang cerita, sampai tokoh Nora dan teman-teman Helvy.
Nora digambarkan sebagai satu-satunya anak di kelas Helvy yang masih mau berteman dengan gadis jutek itu. Tapi apa alasan Nora bertahan? Sampai akhir pun hal itu nggak dijelaskan. Cuma ada keterangan bahwa tingkat kecuekan Nora di atas orang lain. Tapi masa hanya itu? Nggak ada momen spesial yang membuat Nora jadi begitu terkesan dan memutuskan jadi teman Helvy meski diperlakukan dingin?
Begitu juga dengan perubahan sikap teman-teman Helvy lainnya yang akhirnya mau mendekat setelah berhasil menggoda Helvy pasca insiden file presentasi kelompok yang dibajak Arial. Ini set up turning point yang sangat bagus sebenarnya. Tapi hanya itu sajakah? Tak ada momen lain yang membuat teman-teman Helvy ini jadi lebih terkesan soal sisi lain Helvy selain bahwa ternyata Helvy bisa dijadikan candaan dan gosip soal hubungannya dengan Arial? Manusia seharusnya nggak bisa berubah secepat itu. Terutama remaja. Biasanya mereka hanya tertarik pada sesuatu secara sekilas, dan berikutnya langsung mengalihkan perhatian pada hal lain.
Juga ada soal hubungan romansa Helvy dan D...(Derry bukan namanya? Lupa), anak yang pernah jadi satu tim dengannya di lomba cerdas-cermat Fisika. Hubungan mereka retak setelah Helvy kecelakaan dan harus mengulang kelas. Ketika Helvy bertemu mantan pacarnya itu lagi di SMA, cowok itu tampak pura-pura tak kenal. Kenapa? Nggak jelas juga.
***
Demikian, barangkali karena terlalu banyak hal sepintas lalu dalam novel ini, rasanya jadi kurang greget. Kurang fokus. Aku membayangkan andai novel ini ditampilkan dalam format school story ala anime, mungkin adegan-adegan yang menggantung di atas beneran bisa dikupas jadi jauh lebih dalam dan memberikan impresi serta impact yang sangat kuat.
Dan seandainya setelah menulis review berupa kritik panjang lebar ini ada yang nanya, "Jadi kalau seandainya kamu yang nulis cerita ini, kamu bakal bikin kayak gimana biar tiap hurufnya bisa menggugah pembaca?"
Waduh!
Aku sendiri pun masih harus belajar dan banyak berlatih untuk bisa merangkai kalimat-kalimat yang menggugah ketika menulis cerita. Aku sendiri juga masih bingung sihir macam apa yang dimiliki penulis seperti Haruki Murakami sehingga rasanya tiap huruf narasi dan dialognya bisa menyeret diri untuk terus menyantap kisah dengan antusias. Makanya, waktu baca novel ini aku juga ngerasa bingung, materi ceritanya oke (sesuatu yang biasanya akan mendapatkan interestku), jalinan konflik potensial untuk jadi kuat, rangkaian kalimat untuk menyajikan dialog dan narasinya juga rapi, tapi kok... hatiku merasa biasa saja? Why?
Barangkali juga karena sebelum baca novel ini aku membaca novel Resign karya Almira Bastari yang suasananya sangat hidup dan kocak, sehingga aku langsung merasa canggung ketika bersentuhan dengan aura melankolis yang dominan pada Arial VS Helvetica. Apakah pendapatku akan berubah kalau aku membaca novel ini lagi di lain kesempatan pada situasi yang berbeda? Bisa iya bisa tidak
***
Ada yang mau kutambahkan soal kutipan adegan resolusi antara Fanny dan Arial. Itu bagian dalam novel ini yang menurutku beneran paling menyentuh baik secara value maupun keindahan kalimat-kalimat sederhana yang dipakai untuk menyampaikannya. Warning, adegan ini termasuk dalam adegan spoiler.
If only adegan-adegan di dalam buku ini dikemasnya dengan penuh penghayatan seperti adegan Fanny dan Arial di atas. Ah....
Pemilihan nama dan analogi tokoh dari jenis font? Ini unik, dan merupakan salah satu yang menarik menurut saya. Arial adalah seorang remaja laki laki berbakat di bidang desain grafis yang bersekolah di SMK, sedangkan Helvetica adalah seorang perempuan cerdas yang memiliki kekurangan fisik dan juga trauma mendalam. Kedua nama ini diambil dari jenis font yang bisa kita gunakan setiap mengetik.
Sampul dan sinopsis di belakang buku membuat saya menjadi ragu, mengingat ini adalah buku YA, dan saya bukanlah penikmat cerita cinta remaja, apalagi dari judulnya sudah menunjukkan buku ini pasti ada cinta cintaan antara si Arial sama Helvetica. Memang saya agak "takut" membaca buku YA. Terutama disebabkan oleh masalah stereotipikal, dimana tokohnya hampir sama semua, sempurna walaupun tidak menyadari dia sempurna. Selain itu, saya juga agak jengah dan risih dengan cinta cintaan anak remaja. Mengingat cerita waktu sekolah dulu yang jauh berbeda dari fiksi. Hahaha
Hanya saja buku ini berbeda, karena Helvy ternyata adalah seorang yang cacat dan punya trauma masa lalu, yang menurut saya masuk akal. Saya jadi semangat membaca buku ini ketika tahu ada isu-isu lain yang lebih banyak dibahas dibandingkan cinta dan kemarahan remaja. Saya suka dengan isu keluarga dan juga isu trauma / PTSD yang diambil, well researched, dan tidak dilebay-lebaykan. Penulis disini juga tidak langsung memvonis seseorang memiliki gangguan kejiwaan apalagi membuat tokohnya yang percaya dan meromantisasi gangguan jiwa (which is get on my nerve) namun dengan caranya yang halus menunjukkan bahwa masalah kejiwaan pada remaja itu ada. Dan itulah... yang paling saya suka dari buku ini.
Ohya, satu lagi yang menarik perhatian saya, yaitu keinginan Helvy masuk ke kedokteran dan juga Arial yang ogah sama kedokteran. Ini lucu sih. Saya jadi ingat masa-masa obsesi untuk masuk kuliah, saya malah seperti Arial yang tidak kepikiran untuk masuk kedokteran dan ingin masuk jurusan IT. Lucu saja sih melihatnya, tapi saya senang akhirnya apa yang terjadi pada Helvy dan Arial mengenai masa depan mereka. (Ngomong -ngomong, selama isu ini diangkat rasanya saya ingin tarik - tarik Helvy supaya jangan masuk ke dunia kedokteran, jangan.😂 )
Saya senang dengan cerita di buku ini, menjadi aroma baru buat saya untuk genre YA. Dalam buku ini masalah yang diangkat berbobot. Walaupun yaaa... yang ada juga bisa dibilang simalakama sih. Ini membentuk kesan yang jauh lebih dewasa dari usia tokoh yang sesungguhnya. Bayangkan saja, Arial dan Helvetica sungguh dewasa dalam menuliskan rencana jangka panjang mereka. Saya tidak tahu harus kagum atau bingung dengan kedewasaan anak- anak ini, masalahnya waktu saya SMA kerjaan saya masih bergadang semalaman bermain MMORPG dan sibuk fangirling Avenged Sevenfold atau McFly. :))
Kalau kalian mengharapkan sebuah cerita cinta monyet yang manis ala-ala hate to love antara Arial dan Helvetica, kalian nggak bakalan nemu. Sebetulnya tema yang diangkat cukup unik, yaitu mengibaratkan karakter seseorang sesuai dengan jenis font. Namun ketika membacanya, aku kok ngerasa kalau cerita ini nanggung banget, kayak nggak bisa fokus ke satu titik gitu ceritanya.
Di sini diceritakan kalau Arial (Arial ya, bukan Ariel NOAH, wkwk) bertemu kembali dengan Helvy setelah tiga tahun. Mereka sebelumnya pernah bertemu di ajang cerdas cermat fisika tingkat SMP, mereka berdua ini rival ya. Lalu terjadi sebuah insiden yang menyebabkan Helvy terluka dan akhirnya kalah, sementara tim Arial keluar sebagai pemenang. Oh ya, insiden itu terjadi karena Arial, nggak sengaja sih dia sebetulnya, tapi Helvy menganggap kalau Arial sengaja membuatnya terluka agar tidak bisa konsen mengikuti cerdas cermat.
Helvy yang bertemu kembali dengan Arial masih saja menyimpan dendam, tapi Arial yang masih merasa bersalah tidak menyerah untuk mendapatkan maaf dari Helvy.
Cerita dalam buku ini beralur lambat dengan jumlah halaman yang sedikit, namun point yang perlu dijabarkan cukup banyak, ini yang aku maksud ceritanya nggak fokus. Beberapa poin yang aku tangkap antaranya sbb: 1. Helvy yang memiliki cacat permanen pada kakinya akibat kecelakaan. 2. Helvy yang memiliki trauma terhadap hujan dan naik mobil. 3. Arial dan ayahnya yang memiliki hubungan buruk. 4. Arial yang berusaha meminta maaf pada Helvy. 5. Arial dan Helvy yang sama-sama berjuang untuk jadi yang terbaik demi sebuah pembuktian. Itu poin yang dominan aja, sebetulnya masih ada beberapa poin lainnya, seperti impian Helvy yang nggak mungkin terwujud, lalu ada Arial yang pura-pura pacaran sama Fanny, dsb. Dan seperti yang aku bilang tadi, nggak ada kisah romantis ala anak SMA seperti yang biasa diumbar dalam novel teenlit. Interaksi langsung antara Arial dan Helvy terbilang sangat sedikit, lebih cenderung ke pergolakan batin masing-masing, jadi memang feel-nya nggak begitu terasa, flat menurutku. Padahal dengan poin-poin yang aku sebutin di atas tadi harusnya cerita ini bisa 'dibumbui' biar agak-agak terasa pedas-manis dikit gitu waktu dibacanya.
Beralih ke POV. POV yang digunakan di sini adalah POV orang ketiga, tapi campur. Jadi ada POV orang ketiga terbatas dan POV orang ketiga serbatahu. Hmmm.... Aku mudeng-mudeng aja bacanya, cuma ngganjal aja, berasa nggak rapi waktu dibaca.
Karakter. Bolehlah aku ketuaan untuk baca novel teenlit, tapi aku ini tipe orang yang gampang jatuh cinta sama tokoh utamanya. Dan di sini...? Arial sama sekali nggak bisa bikin aku jatuh cinta sama dia. Sikapnya suka PHP-in orang menurutku, nggak tegas. Nggak gentle banget sih menurutku. Setahuku cowok seusia dia (kelas XI) biasanya lagi gencar-gencarnya nguber gebetan. Lucu aja gitu Arial berstatus pacarnya Fanny, tapi sukanya sama Helvy. Mana waktu Fanny ngomong ini itu, dia cuma bisa hooh-hooh aja. *mbleewwww* Sementara Helvy, aku bisa memaklumi dia.
Arial dan Helvy digambarkan sebagai anak-anak yang cerdas, namun terus terang aku nggak tau mereka itu secerdas apa. Memang mereka punya prestasi di bidang akademik, tapi dalam kesehariannya, aku sama sekali nggak 'merasakan' kecerdasan mereka.
Banyak kalimat yang bikin aku bingung pas baca, kalimatnya belepotan. Ada juga kalimat yang nggak selesai, kata yang kurang imbuhan, dll [bakalan panjang nanti kalau dijabarin di sini], cek TKP aja langsung deh.
Lalu aku agak terganggu dengan kata 'renjana' yang digunakan penulis. Renjana (KBBI): rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dll) namun bisa juga diartikan sebagai passion. Misal dalam kalimat 'renjana tinggallah renjana', bisa dipakai sih, tapi kok agak-agak gimana gitu. ~> ini pendapatku ya [subjektif].
Terus pada h. 93 ada kata yang menurutku tumpang-tindih, seperti 'mencolek comotan'. ~> ini juga pendapatku [subjektif]
Oh ya, aku juga mau nanya, memang cacat fisik seperti Helvy (pincang) nggak bakalan bisa masuk FK ya? ~> ini seriusan nanya. Yang tau bisa message aku ya. Aku beneran nanya ini.
Sebetulnya temanya bagus lho, unik. Sayangnya eksekusinya kurang maksimal. Saranku kalau mau bikin cerita dengan alur lambat dengan memasukkan unsur-unsur seperti yang udah aku sebutin tadi, paparkan dengan lebih mendetail. Tapi kalau mau bikin sebuah cerita yang lebih sederhana, pilih salah satu dari poin-poin itu untuk diangkat menjadi sebuah inti cerita, untuk poin-poin lainnya cukup dipaparkan secara sederhana saja. Jujur, kalau aku ditanya inti ceritanya, aku bingung.
Nilai plus-plus buat kovernya yang ngegambarin Arial dan Helvy banget. Plus lagi buat tema yang diangkat. Aku juga suka penulisnya menggambarkan sosok Arial dan Helvy. Mereka nggak sempurna. Helvy memiliki cacat fisik, Arial juga bukan cowok perfect macem Jefri Nichol, Arial hanyalah sosok cowok berkacamata yang memiliki passion di bidang desain grafis.
Nisa Rahmah Arial vs. Helvetica Gramedia Pustaka Utama 252 halaman 7.1
Dalam bukunya yang kedua, Nisa Rahmah menceritakan kisah antardua remaja yang bersaing satu sama lain, hingga akhirnya keduanya merasakan getar asmara. Sedikit terseret di bagian awal, Nisa akhirnya menemukan iramanya di paruh terakhir buku ini.
Persaingan, cita-cita, dan impian merupakan hal-hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja. Persaingan untuk mendapatkan hasil terbaik hingga percaya pada diri sendiri untuk mewujudkan impian merupakan cerita yang akan dibahas dalam novel Arial vs Helvetica. Melihat kover bukunya yang sederhana, namun memikat mata. Terlihat gambar sepasang remaja pria dan wanita yang sedang duduk di sebuah halte sambil memandangi hujan cukup menggambarkan salah satu adegan yang ada dalam buku ini. Latar warna biru dan putih pun menyatu dengan tema pada kover bukunya. Penempatan judul dan nama penulis juga terbilang pas dan tepat yang menambah nilai estetika pada kover bukunya.
Novel teenlit biasanya selalu mengangkat tema cinta yang dibungkus dengan kehidupan remaja. Namun, Arial vs Helvetica mengangkat tema tentang percaya diri, cita-cita, dan impian yang diberi bumbu kehidupan remaja yang tidak jauh dari sahabat, keluarga, dan cinta. Satu hal lagi yang membuat novel ini unik adalah kebiasaan tokoh Arial yang selalu menggambarkan karakter setiap orang melalui jenis font style. Nama kedua tokoh utamanya pun diambil dari nama font style yang sering digunakan oleh banyak orang. Cerita remaja yang diangkat pun sangat sederhana dan sarat akan makna. Di mana penulis tidak hanya fokus pada kegalauan remaja akan cinta belaka, tapi juga kegalauan akan diri sendiri, keluarga, dan impian. Namun sayangnya aura persaingan antara Arial vs Helvetica ini menurut saya kurang terasa. Padahal jika kedua tokohnya bisa lebih ambisius lagi mungkin aura persaingannya akan lebih kuat.
Sesuai dengan judul bukunya novel ini memiliki dua tokoh utama, yaitu Arial dan Helvetica. Arial merupakan seorang remaja yang charming, baik hati, dan sangat menyukai dunia desain grafis. Namun dibalik sifatnya itu Arial juga memendam luka akan perlakuan ayahnya. Meskipun Arial tidak menampik akibat kelakuannya juga yang membuat hubungan dengan ayahnya menjadi buruk. Namun untungnya ada kakaknya, Ana, yang selalu memberikan semangat kepada Arial. Kemudian ada tokoh Helvetica yang memiliki karakter sinis, introvert, dan defensif. Karakter Helvetica ini terbentuk setelah kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya. Padahal sebelumnya Helvetica merupakan seorang remaja biasa yang ceria dan punya cita-cita. Namun akibat kecelakaan tersebut membuat Helvetica menjadi pribadi yang tertutup dan ingin diakui oleh orang-orang di sekitarnya. Penggambaran dua karakter tokohnya yang sangat bertolak belakang sukses membuat jalan ceritanya menarik. Di mana ada Arial yang optimis dan Helvetica yang defensif yang saling melengkapi satu sama lain. Penulis juga tak lupa untuk memberikan latar belakang dan masalah keluarga dalam setiap tokohnya. Selain itu tokoh-tokoh lainnya pun cukup mudah untuk disukai, seperti Fanny yang tomboi, Nora yang cuek, dan masih banyak lagi. Saya suka cara penulis menggambarkan setiap tokohnya dalam novel Arial vs Helvetica ini.
Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga melalui tokoh Arial dan Helvetica. Melalui dua sudut pandang tokoh ini membuat saya lebih paham akan perasaan masing-masing. Alur ceritanya berjalan cepat dengan beberapa kejadian di masa lalu untuk memperjelas jalan cerita. Mudah bagi saya untuk menikmati alur ceritanya karena penulis menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Terakhir typo yang saya temukan juga sangat sedikit sekali dan tidak mengganggu proses membaca.
Konflik yang ada dalam Arial vs Helvetica bisa dibilang sederhana dan sangat khas remaja. Di mana Arial dan Helvetica yang pada awalnya saling bersaing mulai dekat satu sama lain. Kedekatan mereka menimbulkan perasaan nyaman, namun masing-masing dari mereka berdua enggan untuk mengungkapkannya. Dari sini mulai timbul kesalahpahaman dan terjadi lah sebuah konflik yang ringan serta seru untuk diikuti. Konflik yang dibuat oleh penulis terbilang sederhana dan tidak berbelit-belit. Saya suka cara penulis menyampaikan konfliknya secara langsung dan cepat. Akan tetapi untuk penyelesaiannya terutama tentang impian Arial, saya rasa penyelesaiannya terlalu terburu-buru. Namun secara keseluruhan dari segi konflik Arial vs Helvetica berhasil mengeksekusinya dengan baik.
Novel teenlit dengan isi dan pesan yang menginspirasi serta mendidik selalu menarik perhatian saya. Dan kali ini novel Arial vs Helvetica berhasil memberikan isi cerita yang menghibur sekaligus menginspirasi. Saya suka ketika penulis tidak hanya menyelipkan unsur mimpi dan percaya diri sebagi selingan saja, tapi juga sebagai inti utama dari ceritanya. Tokoh Arial yang berhasil menyadarkan dan merubah Helvetica akan pandangannya tentang mimpi dan diri sendiri juga sangat menginspirasi. Pesan-pesan yang terkandung dalam novel ini sangat bagus sekali untuk dibaca oleh remaja bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Selain itu unsur font style yang diangkat juga sangat menarik perhatian saya dan menjadikan keunikan tersendiri bagi novel ini. Hanya ada satu hal yang membuat saya mengganjal, yaitu penyelesaian konflik Arial dan ayahnya yang terlalu terburu-buru. Namun, secara keseluruhan Arial vs Helvetica merupakan sebuah novel teenlit yang tidak hanya bicara cinta, tapi juga mimpi dan cita-cita. Sebuah novel yang menghibur dan menginspirasi.
Baca kisah Arial dan Helvy ini bukan hanya cerita tentang romansa cinta anak muda, tapi banyak hal tentang mereka yang emang sangat menarik dan bikin baper. Tentang ketakutan, juga tentang mimpi mereka. Dan ya banyak hal lainnya yang sulit buat dilewatkan! Ya nyesel banget kalau nggak berkenalan sama Arial dan Helvy ini.
Ini pertama kalinya aku baca karya Kak Nisa, dan aku suka gaya berceritanya. Menarik dan detail, apalagi tema yang diangkat ini tentang 'disabilitas'. Ide ceritanya unik.
Karakternya kuat, Helvy yang defensif karena kekurangannya, tapi dia tangguh dengan caranya sendiri. Arial sosok yang emang pintar, ceria dan keren. Juga sikap dia yang manis banget, bikin dia jadi tokoh favorit wkwkwk. Juga tokoh lainnya yang porsinya pas.
Gaya bahasa yang mengalir, memakai sudut pandang orang ketiga ini penulis mampu menceritakan pikiran tokohnya dengan baik. Sampe aku ikut terhanyut, apalagi disaat ada scene yang sedih dan baper bikin hati ini krenyes.
Interaksi yang asik antar tokohnya, menambah cerita jadi seru. Dan juga chemistry yang dibangun dapet banget. Seneng aja bacanya! Dan kover cantik ini juga ternyata ada hubungan dengan ketakutan Helvy.
Konflik yang sedikit rumit, tentang keluarga dan lebih ke konflik batin. Aku selalu suka sama teenlit dengan tema begini, nggak hanya tentang cinta. Tapi lebih ke ambisi, cita-cita, mimpi dan persahabatan. Eksekusi endingnya, apik. Aku sukaaaaa ❤ Bagi yang cari cerita teenlit, wajib baca ini. Rekomen banget! . Catatan : ada salah penulisan, SMK Taruna Jaya yang seharusnya SMK Nusa Bangsa di Hal. 125. . "Hasil memang tak pernah mengkhianati usaha." - Hal. 236
Selain kisah anak remaja yang mulai jatuh cinta buku ini juga menceritakan bahwa ketakutan itu harus dilawan karena kehidupan akan terus berjalan dan untuk mencapai sebuah impian kita harus berani mengeluarkan seluruh kemampuan yang kita miliki agar mendapatkan hasil maksimal. Dan ide penulis mengambil nama dan bentuk font sebagai nama dan karakter tokoh sesuai dengan font sungguh sangat menyegarkan.
Gaya penulisan kak Nisa di buku ini meningkat banget, saya suka gimana novel ini nyeritain tentang kehidupan, keluarga, persahabatan juga nggak cuma cinta-cintaan. Premis dan nama tokoh utamanya juga unik tentang nama font gitu dan untuk latarnya, saya baru nemu cerita yang tokoh utamanya anak SMK.
Tapi ada beberapa karakter yang kurang terekspos di sini, terus menurut saya cara Helvy terbuka ke teman-temannya dan Arial itu terlalu mudah untuk seorang Helvy yang katanya dingin banget. Dan perpindahan sudut pandang satu dengan sudut pandang lainnya di novel ini terlalu cepat dan kurang mulus apalagi di bagian awal.
Arial vs Helvetica ini berkisah tentang pertemuan kembali dua orang yang dulu pernah bersaing. Keduanya lagi-lagi harus bersaing. Namun, selama tiga tahun keduanya tidak bertemu, ada banyak hal yang mengubah mereka.
Novel ini ditulis dengan sangat baik. Tulisannya mengalir dan rapi. Saya suka bagaimana penulis membangun rasa penasaran pembaca soal kisah masa lalu Arial dan Helvy. Lengkap juga dengan konflik demi konflik yang perlahan diungkap. Bikin gregetan!
Nama karakternya juga menarik, belum lagi analogi soal font itu. Unik banget! Dan kovernya juga cantik 😍
Sayangnya, beberapa karakter tokoh terlalu ditunjukkan dengan tell. Helvy begini, Helvy begitu, Arial begini, Arial begitu. Sayangnya lagi, konklusi akhir itu terlalu ... biasa. Penyelesaian masalah Arial terlalu lempeng. Sayang banget habis segala yang dibangun. Kurang menggelegar gitu 😣
Secara keseluruhan sih, novel ini menarik dan asik untuk dibaca. Jauh lebih matang juga ketimbang novel pertama penulis. Semoga ke depannya bisa eksekusi dengan lebih mantap lagi untuk penyelesaian konfliknya. Ini terlalu buru-buru.
Skor akhir 3.5, digenapin jadi 4 buat judul yang unik dan kover yang cakep. Ulasan lengkap segera di blog.
"Lo tau nggak kalau huruf yang lo pilih buat nulis itu punya 'suara'?" (hlm. 93) . Sejujurnya, aku salut banget dengan ide penulis yang membuat kisah di teenlit ini terinspirasi dari font style. Baik dari nama kedua tokoh utamanya, deskripsi karakter tokoh-tokoh yg ada di dalam cerita, sampai ke dalam ceritanya juga. Sebenarnya font style itu "makanan" sehari-hari bagi penulis, namun yg peka untuk membuat sebuah cerita baru kak Nisa ini 👏👏 . Seperti buku perdananya, di buku ini pun terasa sekali kehidupan remaja, bagaimana mereka mesti berjuang untuk meraih cita-citanya, persaingan dalam prestasi, hingga persahabatan & cinta. Mungkin karna background penulis yang berada di dunia pendidikan, jadi gak bisa dipungkiri kalau tema tentang kehidupan remaja sangat dikuasainya. . Banyak pengetahuan yang bisa diambil dari buku karya kak Nisa ini. Untuk kali ini, penulis membeberkan beberapa pengetahuan tentang multimedia, khususnya karakteristik font style. . Cuma satu sih yang bikin aku gregetan banget, yaitu kurangnya "aura" persaingan di antara Arial dan Helvetica. Kupikir, persaingan mereka akan benar-benar panas seperti "DDC" atau "El clasico" di sepakbola, maklum judulnya kan "Arial vs Helvetica" 😅😅 Tapi, ternyata hanya di awal saja. Secara umum, aku malah merasa mereka berdua saling support 😅😅 . Overall, untuk kamu yang masih "teeny", buku ini bisa kamu baca. Selain cinta-cintaan, buku ini bisa memotivasi dirimu untuk berprestasi sesuai passion-mu 😊
Saya pikir bakalan nyelesaiin buku ini 4-7 hari < rencananya 1 hari 50 halaman dan ada sekitar 200-an halaman lebih berhubung saya lagi kecanduan banget baca web novel. Jadi waktu saya buat baca kindle & buku-buku fisik jadinya nyaris nggak ada kecuali diniatin kayak gini.
Dear Nisa, saya nggak nyangka saya bakalan kasih bintang 5 btw. Tapi buku ini layak dikasih bintang 5, bukan karena kita temenan kok tenang aja. Karena kamu mengubah pandanganku tentang "genre teenlit" nggak melulu romens menye- menye-
Saya suka kontennya, bahkan ketika Arial & Papinya baikan saya nangis terharu. Good job, kamu berhasil bikin pembaca ikutan baper.
Mungkin kalau kamu menuliskan novel ini dan berkutat lebih banyak ke romens saya nggak mungkin kasih bintang 5, karena saya udah bukan lagi remaja yang tersentuh cerita-cerita seperti itu.
Tapi ya cerita yang kamu kemas ini konfliknya simpel dan pesan-pesannya dapet. Mengalir. Jujur, bacaan yang sehat buat anak-anak remaja jaman sekarang. Supaya role model mereka soal romens nggak melulu drama a la a la sinetron.
Saya udah lama banget kayaknya nggak baca teenlit ya, kesan saya ke genre itu jadi lebih membaik setelah baca bukumu.
Dan ternyata saya lebih suka kamu nulis novel dibandingkan kamu RP #yha
Keep working! Ditunggu karya kamu selanjutnya ya darling.
Review yang lebih serius kukirim ke email kamu nanti hahahaha #samfa tinggal bikin penutupnya nih, soalnya aku sambil baca sambil bikin review-nya kemarin supaya nggak perlu bolak-balik halaman bukunya lagi.
Notes: aku bakalan pinjemin novel mu ke temenku dan juga nanti novel ini bakalan "aku-kasih-baca" ke sepupuku. Nunggu dia cukup gede dulu untuk bisa mencerna ceritanya.
Saya suka pada tema yang disuguhkan, pada detail yang disematkan dengan ringan tanpa terkesan mendikte, juga pada ringannya jalinan kata di novel ini, hingga tak ragu memberi lima bintang.
Menutup GRC 2018 dengan memasukkan buku sendiri, hehehehe. Pencapaian besar bagiku karena tahun ini berhasil menerbitkan dua buku. Novel ini masih bisa dijumpai di toko buku, grab it fast! Dan ditunggu selalu masukan, kritik, dan sarannya 💙💙
Ide ceritanya unik banget, tentang sifat orang yang dianalogikan dengan bentuk dan karakteristik font tulisan yang sering kita temui. . Arial vs Helvetica (Helvy) menceritakan tentang "permusuhan" antara dua orang itu, yang sebenarnya pihak Helvy doang sih yang dendam kesumat banget sejak SMP. Arial nih orangnya selow-selow aja. Sementara Helvy, dia itu kayak punya kebencian sendiri terhadap dunia dan orang-orang sekitarnya. Auranya negatif gitu deh, kayak kalo mau deketin dia tuh pasti orang takut digigit. 🙄 Tapi Helvy kayak gini tuh ada alasannya, dan aku suka banget cara pengungkapan alasan Helvy ini yang pelan-pelan dan baru ketauan di halaman 40 (atau aku aja yang baru sadar?). Baru deh, aku mulai bisa memahami apa yang dirasa Helvy. ☹️ . Ceritanya emang teenlit banget, karena kedua tokoh utamanya masih pada SMA. Tapi mereka punya masalah sendiri-sendiri yang nggak bisa dibilang sepele. Kak Nisa membuat penyelesaian konflik mereka dengan cukup baik. Hanya saja, aku kurang sepaham dengan mulutnya Arial waktu ngomentarin mimpinya Helvy. 😕 Tapi, pesan-pesan yang disampaikan secara eksplisit dari buku ini, sangat positif, ada yang menohok banget buatku, dan berguna untuk refleksi diri terutama mengenai impian dan cita-cita serta kemampuan diri sendiri. Kata-kata yang paling kusukai adalah 2 halaman di ending, suka banget. ❤️
Saat masih duduk di bangku SMP, Helvy pernah bertemu dengan Arial di lomba cerdas cermat. Pertemuan yang tak akan pernah dilupakan bagi keduanya, karena menyebabkan luka (secara harfiah). Tiga tahun kemudian, mereka bertemu lagi di putaran final sebuah lomba poster. Lalu pertemuan itu kembali mengawali segalanya bagi mereka berdua. Mereka saling membagi mimpi dan saling membagi kelemahan serta ketakutan mereka masing-masing dan pelan-pelan saling membantu mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam hidup mereka. * Kebetulan dulu saya juga anak SMK, jadi kehidupan Arial tentang sidang produktif, LKS, prakerin bukan hal yang asing di telinga saya karena saya juga mengalaminya ahaha (oke.. kecuali LKS). Ini merupakan teenlit yang menarik. Ya iyalah..! Secara dari judulnya aja udah menarik dan unik. Semacam : "cuy..cuy.. kok kepikiran aja membuat karakter dengan nama font ms. office?"
Arial vs Helvetica, termasuk bacaan teenlit yang ringan. Bahkan bisa diselesaikan dalam sekali duduk.
Kavernya cantik, banget. Ide ceritanya unik, membaca karakter seseorang dengan jenis font. Banyak amanat juga.
Sayangnya, selama membaca, aku merasa cerita ini datar. Feel-nya kurang dapat di aku. Karakternya kurang melekat di aku, aku kurang bisa dekat dengan mereka sewaktu membaca.
Ada beberapa adegan yang sebenarnya aku bingung, terjadi tiba-tiba, dan tanpa penjelasan. Seperti taruhan yang diajukan Fanny dan Fanny yang tiba-tiba meminta tolong kepada Helvy.
Aku merasakan proses penyembuhan yang terjadi pada Arial dan Helvy. Meski terlalu cepat, tapi tidak terlalu mendadak.
Meski begitu, aku tetap suka sama amanat yang disampaikan penulis. Berkesan.
Review: Ini buku pertama di tahun ini yang berhasil buat aku nangis, huhu. Pertemuan Arial Dan Helvy, Helvetica-nya itu betul-betul penuh tantangan, sih. Baik Arial ataupun Helvy, mereka sama-sama berjuang buat menggapai impian mereka, meskipun sebelumnya sempat pupus. Tapi, karena pertemuan suatu hari di kafe itu, mereka perlahan dapat membuktikan bahwa mereka dapat menggapai list impian yang sebelumnya mereka buat. Bagian yang paling bikin aku nangis, itu pas Ayahnya Arial menemui dia buat kasih ucapan selamat dan apresiasi buatnya. Wow, sedih sekaligus senang. Dan ya, intinya buku ini menarik dan seru untuk dibaca.
Started: 24/12/2022 Finished: 24/12/2022
This entire review has been hidden because of spoilers.
Idenya menarik banget. Fresh. Beginilah penulis, bisa mengangkat hal-hal kecil menjadi sebuah cerita. Banyak sekali nilai-nilai yang bisa diambil dari novel ini. Terutama tentang perjuangan menggapai mimpi. Bumbu romancenya nggak banyak tapi cukup. Pas. Ada beberapa bagian yang saya rasa terlalu cepat sih, tapi nggak mengganggu. 😊
Puas sekaligus lega setelah membacanya :-). Dari awal enggak memberi ekspektasi yg tinggi sebenarnya seakan plotnya gampang ketebak, eh ternyata terlampau apik!!
Aku suka cara tutur penulis yang berhasil menyelesaikan luka dan trauma lama tiap tokoh dengan smooth.
Indah banget. Novel yang mengajarkan tentang melepaskan, tentang memaafkan, tentang berubah untuk masa depan dan pribadi yang lebih baik. Belajar banyak dari novel ini. Walau awalnya nggak berharap banyak, tapi ternyata novel ini lebih deep dari sekadar teenlit biasa! Keunikan tokohnya, mulai dari nama Arial dan Helvetica, serta sifat-sifat mereka yang perlahan berkembang berhasil meluluhkan hati saya :")