Resensi novel ini saya tulis, 21 Juni 2008, tanggal segitu novelnya belum dimasukin ke goodreads...jadi baru sekarang di-posting
Sungguh tak enak memang hidup dalam kondisi keterbatasan. Namun bukan berarti kita harus menyerah kepada keadaan. Dan jangan jadikan takdir sebagai “kambing hitam”. Laisa, putri sulung Mamak Lanuri, mengerahkan segala kemampuannya untuk membela nasib adik-adiknya, Dalimunthe, Ikanuri, Wibisana, Yashinta. Babak (ayah) mereka telah lama pergi, dimangsa Harimau Gunung Kendeng. Laisa telah lama berhenti sekolah dan bekerja membantu Mamak di ladang mereka. Namun, ia tak mau adik-adiknya mengikuti jejaknya berkutat di ladang.
Dalimunthe, berbakat sebagai penemu, dengan percobaan sederhananya dia berhasil membuat sawah kampung mereka tidak lagi tergantung hujan. Ikanuri dan Wibisana, serupa anak kembar tapi tak kembar, ada-ada saja tingkahnya, bolos sekolah, kabur ke kota kecamatan dan mereka sama2 jago berdiplomasi (dibaca: ngeles) jika dimarahi orang lain. Yashinta, yang paling kecil, sangat cinta dengan kehidupan satwa-satwa di alam rimba. Laisa sangat tegas mendidik adik-adiknya, kerja keras...disiplin..dan ia sangat marah jika didapati adiknya bolos sekolah, ranting kayu akan menghukum ulah nakal adik-adiknya.
Trouble maker, duo Ikanuri dan Wibisana, bisa membuat pembaca mengelus dada..nakal banget sih..Di saat penduduk kampung sedang bergotong royong membangun kincir air (berkat Dalimunthe), mereka berdua malah asyik mencuri mangga. Bagi mamak, tabu, saat orang-orang sedang bekerja, kita malah berpangku tangan, apalagi ternyata kedua anaknya malah mencuri,celaka sekali..Laisa sangat marah..dan memukul keras tangan adiknya..Ikanuri malah menantang Laisa, “kamu bukan kakak kami” teriaknya lantang. Membuat Laisa jatuh terduduk, dia tak percaya adiknya berujar seperti itu. Sakit sekali..kata tersebut menghujam hatinya..ya memang benar..dia berkulit hitam sementara yang lain kuning langsat, rambutnya gimbal, dan tubuhnya pendek..sungguh berbeda dengan keempat adik – adik lainnya..tapi baginya biar tak ada ikatan darah...Laisa sangat mencintai adik-adiknya...Hari itu berlanjut panjang, karena Ikanuri dan Wibisana tak pulang ke rumah malam itu..Kentongan kampung dibunyikan..seluruh tetangga menghambur keluar rumah..para lelaki dan pemuda membawa tombak dan golok..dan para ibu berkumpul menenangkan Mamak di balai kampung..situasi gawat..karena rimba luas di dekat kampung mereka sangat berbahaya bagi manusia apalagi oleh dua anak kecil...Harimau Gunung Kendeng masih menjadi raja yang menguasai hutan tersebut. Terakhir kali kentungan dibunyikan saat babak mereka ditemukan tak bernyawa diterkam inyiak (klo orang minang nyebut harimau, secara harfiah artinya kakek)..
Siapa sih yang tidak khawatir jika anggota keluarganya terancam bahaya..Karena rasa cinta dan takut kehilangan adiknya, Laisa ditemani Dalimunthe, nekat berlari menerobos hutan Gunung Kendeng. Dan...Seketika Laisa menyeruak menghalangi kedua adiknya yang ketakutan dikelilingi tiga Harimau Gunung Kendeng...Lari Dali...bawa adikmu pulang...cepat..lari..sampaikan pada mamak.. Lais minta maaf,Laisa memasrahkan diri hendak mengantarkan nyawanya ke ketiga Harimau Sumatra itu...Ajaib, Induk harimau itu berlalu dari mangsa empuk mereka. Subhanallah..
Laisa tak pernah terlambat untuk adiknya..selalu menjaga..selalu melindungi..selalu ada jika dibutuhkan..sungguh saya iri sekali dengan Laisa..saya merasa bukan kakak yang baik..saya punya tiga adik..adik pertama, Azar, Juli ini masuk SMA. Adik kedua,kembar sepasang, Alam-Wiya mau naik kelas 6 SD. Sebagai putri sulung, saya paham kondisi seperti yang dialami Laisa (tak perlu menjelaskan bagaimana susahnya mencari uang..saya sudah paham sedari kecil)..lho kok jadi saya yang curhat?
Waktu berlalu..Dalimunthe menjadi Profesor Fisika yang terkenal... Ikanuri dan Wibisana membuka bengkel bersama.. Yashinta berkecimpung dalam konservasi elang jawa... sementara Laisa masih di kampung mereka...Lais telah mempunyai perkebunan strawberry ribuan hektar berkat ketelatenannya dan membuat kemajuan di kampung mereka.
Namun, ada yang merisaukan hati Dalimunthe, Ikanuri, Wibisana, Yashinta tentang kakak tercinta mereka, jodoh tak kunjung datang untuk Kak Laisa. Kekurangan fisik Laisa telah membuat laki-laki tak datang melamarnya. Wajahnya tidak cukup menarik...pendek..berkulit hitam..Awalnya Laisa masih cuek saja..namun seiring bertambahnya usia dia...adik-adiknya pun cukup matang untuk membina rumah tangga..Mereka tidak mau mendahului atau melangkahi Kak Laisa untuk menikah. Satu per satu adik Laisa menikah tapi tetap saja mereka tak mau melangkahi Kak Laisa..Bagi Laisa, kelihatan tak masalah baginya, ia ikhlas didahului adiknya, jodoh bisa datang kapan saja. Dalimunthe tak tahan melihat Kak Laisa sendirian padahal usianya menurut orang kampung tak lazim jika masih sendiri. Berbagai laki-laki datang yang mau dijodohkan dengan Kak Laisa, satu persatu mundur setelah melihat Kak Laisa.
Salah satu teman Dalimunthe yang ia kenal baik sangat sholeh,dan ia tahu benar dia tidak akan mencari istri hanya karena fisik, harta, atau keturunan karena bukankah, ibadah yang sholeh kriteria utama mencari pasangan hidup..Dali telah menceritakan semua tentang kak Laisa..Si Ustadz tersebut langsung ingin bertemu dengan Kak Laisa, terpesona dengan kegigihan Kak Laisa, yang membuat adik2nya sukses. Alangkah terkejutnya Dali, ketika dipertemukan, justru si Ustadz kondang tersebut mendadak ingat ada jadwal ceramah, munafik sekali!.bukankah Kak Laisa telah memenuhi tiga kriteria terutama yang pertama Ibadah yang sholehah, harta dia punya perkebunan strwaberry, ketiga dia berasal dari keluarga yang baik dan terhormat. “setidaknya cantik itu menawan hati” ujar Ustadz sebelum meninggalkan rumahnya..ironis sekali..dari tampilan..ucapan tentunya dia orang yang memahami agama tetapi kita tidak bisa menilai keimanan seseorang hanya dilihat dari packaging-nya yang tak kalah dengan penampilan Habib, celana gantung...jenggot tipis..ane-ente oriented..(poin penting yang saya dapatkan dari buku ini)
Laisa ikhlas jika memang dia ditakdirkan tidak mendapatkan jodoh di dunia. Ia tidak ingin menjadi penghalang pernikahan adik-adiknya. Perempuan yang tidak mendapat jodoh karena kekurangan fisik dan wajahnya, maka kelak ia menjadi bidadari surga yang parasnya cantik sekali. Sungguh membuat saya berpikir....apakah lelaki selalu memilih pasangan hidupnya yang dilihat pertama kalinya dari fisiknya ..dari mata jatuh ke hati...bukan dari hati tetap dihati?
Novel ini menyentuh siapa saja yang membaca melalui kata-kata sederhana khas Tere Liye...mengharukan..dan bisa membuat pembaca menangis tergugu (seperti saya yang memang orangnya sensitif). Tak salah memang Bung Hari, berpendapat “bagus”. Cuma (tapi ada cuman nya.. hehehe) kenapa saat terakhir tiba-tiba ada tokoh yang “mendadak datang”..orang itu adalah tere liye sendiri..inilah khas dia lagi..mengikut sertakan dirinya ke konflik cerita dan membuat pembaca percaya novel-novelnya adalah kisah nyata (hafalan shalat Delisa dan Bidadari-bidadari surga, baru dua sih yang udah saya baca) atau menimbulkan pertanyaan “ini beneran ga ya?”. Tapi saya sepakat sama Bung Hari menyoroti kemunculan Bang Tere yang mendadak muncul dengan tas ransel besar dan motor besar (inilah yang membuat kami tertawa, kenapa pake motor besar ya? kayaknya engga cocok gitu dech ama orangnya..hehehe.peace..Bang Darwis :p)
Untuk Bang Tere Liye atau yang lebih disuka dipanggil Bang Darwis, Saya mengerti inilah yang disebut dengan menulis tentang kehidupan, tentang sekitar, dan tentang yang lebih menggugah