"Kalau aku bilang aku suka kamu, kamu bakal jawab apa?" "Sori, tapi lo bukan tipe gue." "Emang kurangnya aku apa, sih?" "Lo itu masih SMA." "Cuma itu?" "Lo punya tiga kakak cowok yang buasnya nyaingin raja hutan." "Itu aja?" "Lo bisa liat hantu. Gue benci hantu. Apalagi pacaran sama cewek yang bisa liat hantu. Ogah!"
Sebastian memang takut hantu. Dan dia akan bersumpah pada dirinya agar tidak akan bertemu gadis yang bisa melihat makhluk tak kasatmata (Suri). Hingga permasalahan yang dihadapi membuatnya selalu bertemu dengan gadis itu, dan harapannya kini berubah menjadi—punya pacar yang bisa melihat hantu adalah hal terakhir yang ada dalam daftar keinginannya.
Jujur saya pribadi merasa tertipu dengan cover dan brulpnya wkwk.
Saya pikir tadinya ini tuh novel horor thriller gitu, eh.. ternyata bukan sodara-sodara wkwk. Ya ceritanya memang tentang hantu sih.. tapi nggak se"hantu" itu. Ini lebih ke fiksi absurd gitu (maaf). Jadi saya rada-rada heran kok bisa rating di GR tinggi ya?
Noir, bercerita mengenai Suri yang bisa melihat sosok hantu atau mahluk-mahluk dari dunia tak kasat mata. Sedari kecil Suri sering dinilai aneh karena suka berbicara sendiri. Bahkan hingga saat ini dirinya berumur 18 tahun, ia hanya memiliki seorang sahabat bernama Siena karena teman-teman yang lain menghindarinya. Suri memiliki 3 orang kakak laki-laki yang bernama Chandra, Calvin dan Cetta. Ketiga kakaknya itu sangat over protective terhadap Suri, apalagi saat Suri terang-terangan menyukai Sebastian. Namun sayang Sebastian yang sangat takut hantu justru menghindari Suri karena menurutnya gadis itu "menakutkan". Suri yang bisa melihat hantu, mencoba membantu mahluk-mahluk tak kasat mata itu agar kembali ke tempat seharusnya tanpa sadar konsekuensi yang akan dihadapi. Saat dunia tak kasat mata dan dunia mortal bercampur baur, apakah Suri akan selamat jika semua mahluk menyalahkannya karena telah mengubah takdir?
Hmm, novel ini tuh.. gimana ya jelasinya.. absurd, aneh atau emang otak saya yang gak nyampe?
Pertama-tama saya bingung, penulis ini seorang indigo kah atau hanya manusia "normal"? Saya baru pertama kali baca novel karya Renita Nozaria btw. Ini novel tentang hantu dan dunia tak kasat mata kan. Nah saya tuh penasaran pengambilan sudut atau perspektif tentang dunia yang nggak bisa kita lihat itu dari mana? Atau dari agama apa lah gampangnya. Kalau diambil dari bahasa para tokoh yang tau bismillah, ayat kursi, izrail dll mungkin Islam kali ya? Tapi kok ada 7 prince of hell yang saya cari-cari di google ternyata itu mitologi berdasarkan tradisi Kristen. Karena jujur saya bacanya itu sampai keder kaya pengetahuan penulis tentang dunia tak kasat mata itu ngawur. Jadi ya udahlah anggap aja ini novel 100% fiksi tanpa campuran agama apapun.
Kedua, ini blurpnya kan tentang "hantu" ya? Memang isi novel ini juga ada tentang mahluk-mahluk tersebut tapi nggak sehantu itu loh. Maksudnya saya fikir novel ini akan fokus mengulas cerita si hantu itu. Mulai dari kematiannya, sosoknya, cara nakut-nakutinya. Eh ternyata engga dong, hantunya itu kaya seklebat-klebat gitu doang. Justru disini lebih banyak adegan jokes jayusnya huhuhu.
Sumpah ya, baca halaman awal sampe 50 ini rasanya udah mau DNF aja. Tapi saya tahan-tahan karena yakin pasti nanti bagus waktu udh di puncak konflik. Akhir ya saya paksa baca ini novel sampai hampir 1 minggu! Mana bukunya tebel, hurufnya kecil-kecil pula -_- novel ini juga masih banyak typonya gaess. Banyak juga kata-kata yang nggak nyambung kaya "Calvin meraih sebutir kacang didalam kemasan kacang" atau "kita akan harus menghadapi masalah setiap bulannya" Whattt? Maksudnya apa?
Jujurly, novel ini tuh lebih banyak narasinya dari pada dialognya, jadi serasa baca koran. Sekalinya berdialog malah justru dipanjang-panjangin dengan percakapan nggak perlu. Saya tuh sebuuell banget dengan tipe dialog begini -,- "Jangan main-main" "Aku nggak main-main" "Dia mengakui kesalahannya" "Tapi aku punya alasan sendiri" "Apa alasannya?" "Alasan beneran kan?" "Iya alasan jujur" Apa sih fungsinya dipanjang-panjangin begini? Cuma menuh-menuhin halaman yaampun.. T.T saya tuh saking capenya baca sampe skip-skip baca dialognya doang. Tapi dialognya justru begini.. -_-
Ketiga, saya pengin bahas masalah tokoh-tokohnya. Mulai dari Suri. Penulis selalu menegaskan bahwa Suri itu absurd, unik dan ajaib. Tapi menurut saya Suri hanyalah sesosok anak yang over PD dan ceriwis. Maksudnya ya Suri tuh nggak seabsurs itu gitu loh. Kalau mau dibilang absurd dan nyeleneh menurut saya justru si Rana.
Suri itu suka nyeletuk sembarangan, tapi bercandanya itu jayus. Kadang saya nggak suka ketika moment udh di build up se serius mungkin terus tiba-tiba Suri nyletuk sembarangn. Jadi buyar semua moment yang dibangun di novel ini. Terutama saat sidang. Bayangkan posisinya sudah bersama malaikat dan iblis tapi masih aja gayanya selengekan gitu. Kan jadi gemesss. Seolah-olah para pemimpin-pemimpin itu tak ada wibawanya sama sekali. Tempat sidang kaya sekolah jadi mengurangi kemenarikan di novel ini.
Belum lagi kalau sama abang-abangnya! Ini sumpah ya, entah saya memang yang nggak punya abang laki-laki jadi nggak ngerasain begini atau hubungan Suri dengan abang-abangnya itu yang memang terlalu aneh. Mereka itu.. aduh, gimana ya jelasinya.. interaksinya bikin geli. Terlalu romantis gitu lohh.
Zuzurly saya nggak begitu suka interaksi antara Suri sama abang-abangnya kaya gimana gituuu. Mereka terlalu sweet jadi kesanya bikin geli gitu, ngerti nggak sih wkwk. Misalnya kaya pas Suri jatuh dan lecet nggak seberapa, terus para abangnya langsung heboh dan langsung gendong Suri. Atau saat mereka memperlakukan dan berbicara dengan Suri kaya anak kecil, menurut saya itu bikin geli wkwk. Apa lagi sampe abang-abangnya minta cium pipi terus si Suri tidur di paha abangnya mana abis itu dielus-elus lagi rambut Suri. Ini hubungan kakak adek begini sebenarnya wajar engga sih?? Karena masalahnya tuh gini. Umur Suri 18 tahun, Chandra 24 tqhun, Calvin 22 tahun dan Cetta 20 tahun. Yap. Suri bukan bocah TK gaesss. Apa wajar ya udah segede itu masih manja-manjaan sama abang? Atau saya yang terlalu primitif pikiranya wkwkwk
Next, ada abang-abang Suri : Chandra, Calvin, Cetta trio C yang digambarkan tinggi, tampan dan memiliki kulit sebening dan seterang lampu Philips. Oke, ini juga mengganggu saya karena KENAPA SEMUA tokoh cowok di sini dijelaskan memiliki fisik yang ganteng luar biasa???
Nggak trio C, Bastian, Sergio, Ayahnya Suri, bahkan para malaikat, iblis dan Erza si hantu juga digambarkan memiliki wajah yang rupawan (mau nangis gue jadinya!) Maksudnya kenapa pula harus dijelaskan secara rinci kalau wajah mereka itu tampan, hidung mancung, kulit putih, mata coklat, rambut hitam dan entah apa lagi -_- kenapa semua cowo yang mengelilingi Suri itu sempurna? Why? Ada apa dengan novel ini?
Oh iya sebelum lupa saya mau jelasin dikit tentang abangnya Suri. Pertama ada Chandra, kakak pertama Suri yang punya profesi seorang DJ. Dia cukup terkenal, punya 1,5 juta follower di IG yang entah kenapa juga harus saya sebutin. Dia playboy kelas kakap. Sama kaya Suri, orangnya jayus dan over PD Lalu Calvin, kakak kedua Suri yg aktif di organisasi ke mahasiswan dan punya hobi belajar. Dia sering paling sering debat dengan Chandra. Punya hobi nonton kartun dan telenovela 90an Terakhir ada Cetta, kakak ketiga Suri yang dianggap paling normal. Dia seorang selebgram dengan banyak endors. Followers IGnya 4 juta. Dia paling tampan dan paling beken dari abang Suri yang lain. Dia juga paling perhatoan dan sering menjaga Suri. Cetta memiliki pacar bernama Rana. Mereka punya gaya berpacaran yang absurd wk.
Ketiga, masalah plot di novel ini. Bagi saya pribadi plot di novel ini cenderung lambat dan berputar-putar. Seperti yang saya bilang tadi. Dialognya sengaja dipanjang-panjangin. Belum lagi built up moment yang selalu hancur karena tek-tokan para tokohnya. Sangat disayangkan, padahal tema novel ini menurut saya unik banget. Kenapa engga ditonjolkan kisah para hantunya aja sih, maksudnya fokus aja disitu. Kisah Suri dengan yang lain itu selingan aja. Jadi saya sebagai pembaca nggak terheran-heran saat Suri tiba-tiba disidang di sidang tertinggi dengan permasalahan yang menurut saya sepele.
Ya menurut saya aneh aja si, Suri cuma bantu ngobrol doang sama orang yang berhubungan dengan arwah tersebut masa bisa semudah itu kena hukum? Maksud saya, kesalahannya gak fatal gitu loh. Saya sering liat di youtube-youtube gitu kaya Risa Sarasvati atau Sarah Wijayanto ngobrol dengan mahluk tak kasat mata. Bicara apa yang mau disampaikan dan.. fine. Ya mereka fine-fine aja. Jadi saya nggak terima gitu loh ketika Suri hanya menyampaikan pesan dari mahluk yang telah mati ke mahluk yang masih hidup lalu dia dihukum dan sampai Sang Pencipta harus ikut turun tangan dengan permasalahan yang sepele begini? Mereka cuma ngobrol dan menyampaikan, Suri sama sekali nggak mengusik, merusak apalagi ikut campur dalam dunia perarwahan. Kok bisa sampai seperti heboh begitu dunia atas?
Terakhir, saya nggak sreg Suri dapet gelar dari para malaikat bahwa ia adalah mahluk imortal yang memiliki kasih tanpa batas. Karena yang memiliki gelar tersebut pasti hanya Tuhan ya gaes. Mungkin lebih afdol kalau Suri itu mahluk dengan kasih lintas dunia 😌😌
Btw, Noir ini ada sekuelnya. Tapi kayaknya saya nggak lanjut dulu deh bacanya. Karena baca yang ini aja masih pusing wk
Menurut worldbuilding dalam novel Noir (yang juga digunakan dalam novel Noceur), dunia tersekat jadi tiga dimensi. Dimensi pertama adalah dimensi para iblis, malaikat, undertaker (petugas pendata nyawa), dan jiwa-jiwa orang mati serta jiwa-jiwa yang akan dilahirkan kembali. Dunia ini sebetulnya sulit tersentuh oleh manusia biasa, dan bagi sebagian makhluk dunia pertama, apa yang Suri lakukan dengan mengutak-atik semesta mereka adalah sebuah kesalahan. Jangankan diutak-atik, orang indigo saja dibilang ‘mengintip’ isi dunia mereka.
Sedangkan dimensi kedua ialah tempat di mana para makhluk bayangan tinggal. Makhluk bayangan ini sendiri bervariasi modelannya, kayak serpent, vampir, drakula, banshee, mermaid, siluman, dedemit, atau makhluk jadi-jadian lainnya yang konon bisa menyamar dan berbaur ke dalam kehidupan manusia yang berada di dimensi ketiga. Makhluk bayangan ini disebut sebagai makhluk yang nggak diharapkan ada, sebab eksistensi mereka tuh adalah sebuah kesalahan yang dibuat oleh makhluk dimensi pertama. Dunia dimensi kedua bakal di-breakdown lebih lanjut dalam novel Noceur punya Renita Nozaria juga.
Nah, wordlbuilding ini yang menjadi fokus utama saya dan alasan pertama kenapa saya bisa merekomendasikan Noir. Komplit tapi nggak ribet, simpel tapi tetap kelihatan elit dengan caranya sendiri. Novel Noir adalah tipe novel fantasi yang tetap bisa diterima oleh orang yang IQ-nya jongkok macam saya.
Selain kehidupan percintaan Suri dan konflik lintas dimensi yang dibentuk gara-gara tindakannya, Noir juga menceritakan kehidupan keluarga Suri, keluarga Dawala, lengkap dengan masalah percintaan dan jati diri semua anggota keluarga. Semuanya diberikan jatah masing-masing dengan porsi yang pas tanpa melenceng dari plot utama.
Kamu juga bisa melihat keseruan anggota keluarga Suri, alias abang-abangnya di sini. Bagaimana Chandra yang kehilangan muka di depan adik-adiknya. Lalu Malika eh Calvin yang di-bully. Kemudian Cetta yang merasa kalah pamor dibanding ayahnya. Seru abisss! Apalagi adegan di mana trio C bermaksud ‘menyelamatkan’ adik mereka dari amukan guru matematika karena nggak masuk sekolah dan harus ikut ujian susulan. Kocak pokoknya! Tentunya sebuah perkumpulan gaje nggak akan lengkap rasanya tanpa diwarnai grup chat yang heboh. Di sinilah grup Keluarga Cemara bakal menyemarakkan novel ini. Grup yang beranggotakan para abang Suri ini awalnya dibentuk sebagai media diskusi trio C akan manuver terhadap pacar Suri. Makanya Suri nggak dimasukkan ke dalamnya. Lmao.
Interaksi Suri dengan para hantu yang bisa dibilang sudah menjadi temannya juga bukan tempelan doang. Sebut saja Wati, si hantu penghuni rumah yang ngefans sama Cetta, Oma Jessica, sosialita dunia perhantuan, Asmi, hantu penunggu kamar mandi sekolah, dan hantu-hantu lain yang berkaitan dengan plot. Meski termasuk tokoh figuran, tanpa kehadiran mereka plot nggak akan berjalan.
Noir muncul sebagai perwakilan dosa kedelapan, yakni area abu-abu yang bukan hitam, bukan pula putih. Inilah yang membuatnya jadi punya posisi penting dalam persidangan Suri, menjadi perwakilan Sang Pencipta. Pasalnya, dosa yang dilakukan Suri adalah akibat dari rasa kasih tanpa batas yang masuk dalam kategori abu-abu itu.
Buat saya, inilah poin paling penting alias intisari dari cerita ini. Selama ini kita selalu (atau setidaknya pernah) beranggapan ada rivalitas antara Tuhan dengan Iblis atau malaikat dengan setan. Jalan Tuhan dan jalan Setan. Kebaikan dan kejahatan. Hitam dan putih. Padahal, kalau dipikir-pikir, manusia, kehidupan dan semesta itu nggak bisa dijustifikasi dari hitam-putih hatinya. Ada area abu-abu yang terlalu kabur untuk bisa diidentifikasi. Anggapan akan iblis yang menjadi lawan Tuhan itu sangat-sangat konyol. Sang Penciptalah yang menciptakan iblis, dan Dia jelas menciptakan makhlukNya bukan untuk jadi lawan karena nggak akan sepadan sama sekali. Pernah nggak sih kita mikir kalau kisah iblis yang membangkang dariNya itu justru adalah perintahNya?
I really, truly tried to finish this book — three times — but I just couldn’t. I stopped at page 154.
Not gonna lie, the story itself is fresh, funny, and full of charm. The humor? I actually enjoyed it. But there’s one thing I just couldn’t stomach — the age gap between the characters. It made me feel uneasy to the point of nausea.
I get it — legally, in Indonesia, the age of majority is 18. And sure, by law, that makes someone capable of making their own decisions. But for me, personally? Maturity and legal competence don’t just flick on like a switch at 18. I see 21 as the age when someone is truly capable, logical, and grounded enough to navigate adult relationships.
That’s why the dynamics between Suri and Sebastian, or Chandra and Siena, felt deeply off to me. Teenagers in romantic relationships with significantly older adults? It just didn’t sit right. I’m not against age-gap relationships in general — a 23-year-old with a 50-year-old? Sure, they’re both adults and know what they want. But 16 with 21? 18 with 24? That’s a hard no from me.
Even the author acknowledges this discomfort, on page 148: "Apa kata teman-teman kantornya jika mereka tahu dia menyukai gadis yang belum lagi lulus SMA? Sebastian akan dianggap pedofil." Exactly. If it sounds wrong, it probably is.
Some things aren’t just about legality. They’re about power, growth, and timing — and this book crossed a line I couldn’t ignore.
Another thing that didn’t sit well with me: a throwaway joke about Gaza on page 45. "Jika Suri sampai tahu ketiga kakaknya menguping dan berniat ikut campur dalam urusannya dengan bocah bernama Sergio Dawala itu, bisa dipastikan rumah mereka akan berubah jadi Jalur Gaza." That’s not funny. It’s deeply inappropriate. People are dying there every day — it’s not a punchline.
Personal preference? I love the writer’s storytelling style. Her voice is lively, her humor sharp. I’ll definitely try her other books — just not the ones involving minors in age-gap romances. Ever again.
Fantasy-Romance. Ceritanya lucu, dengan rentang usia Suri - Bastian (8 tahun bok), tingkah Suri yang kepedean disukai Tian dan keusilan/kebegoon abang-bangnya 👍 World building mulai dari kehidupan sehari-hari sampai dunia lainnya cukup bagus. Karakternya banyak dan konsisten. Gaya penulisannya enak dan menarik 👌
Suri itu punya kekuatan super yaitu "baik bgt" suka membantu orang yang lagi ada masalah, dari yang dikenal sampai gak dikenal, bahkan arwah-arwah ditolongin. Karna kebaikannya ini dia dibuat susah. Surga dan Neraka gak terima. Hingga Suri terancam dihukum langit.
Sebastian/Bas/Tian, punya masa lalu pahit ditinggal pacarnya yang setelah susah payah iya menangkan hatinya. Merasa kosong dan hampa, hari-hari Tian menjadi berwarna oleh kahadiran Suri. Gengsi karna hatinya berbunga-bunga karna bocah SMA membuatnya memasang tembok untuk cinta Suri. Tapi kita tak pernah bisa menentukan apa mau hati bukan?
*beli di Google Playstore pas 24 Desember tahun lalu, pas lagi ada diskon.. =)
huwaaaa.. iya baru q baca sekarang ebook'y, terus kenapa, ada masalah.. :p
kirain q yaa, ini buku bakalan horor karena cover buku yg warna hitam & misterius.. q juga penasaran karena judul'y.. dan ternyata setelah dibaca.. dari awal sampai akhir cerita, nggak berhenti buat ketawa, asli menghibur banget sich.. dari sikap suri yg over percaya diri, ketiga abang-abang'y yg overprotektif dan kelewat ganteng.. ( q juga mau donk punya abang - abang kayak Suri.. :p ) Sebastian yg super cuek abis.. sumpah kalo q yg jadi Suri, q nyerah sama Sebastian.. :D
Ok, tinggal baca novel selanjut'y aja.. tapi biarkan q napas dulu sebentar.. baca'y kapan" novel selanjutnya yaa.. :p
Jadi, sebelumnya saya mau baca Noceur dulu. Ternyata, Noceur dan Noir menggunakan universe yang sama. Dan karena saya benci kalo nggak paham atau paham tapi hanya sebatas baca catatan kaki, akhirnya saya menuntaskan novel ini lebih dulu.
Sebagai buku keempat dari Renita yang saya baca, saya merasa jika Noir ini yang paling berbeda. Well, memang genrenya juga beda dengan ketiga buku lainnya, tapi tetap saya perbedaannya begitu terasa.
Dengan cover hitam dan ilustrasi yang cukup 'seram', ditambah sinopsis yang menyertakan kata hantu, saya pikir novel ini bakal jadi novel horor tingkat tinggi. Itulah alasan kenapa saya maju mundur tiap ke toko buku dan nemu Noir, pengennya segera diborong, eh tapi saya bukan penikmat horor. Dan setelah kejadian kalap kemarin, mau nggak mau saya harus baca. Betapa kagetnya saya saat tau kalo novel ini nggak sekelam bayangan saya. I was smiling like a fool.
Novel ini bergenre antara horor, misteri, dan fantasi (menurut saya loh ya). Tapi walaupun sisi horor yang sepertinya jadi genre utama, entah kenapa justru menurut saya fantasinya lebih menonjol. Mungkin karena universenya yang unik.
Noir mengisahkan tentang anak indigo bernama Suri, yang harus terjebak bersama tiga kakak lekaki super protektif—Chandra, Calvin, dan Cetta. Penokohan Suri memang unik, sedikit kekanak-kanakan, dan asyik. Sifatnya yang sering nggak bisa serius (re: slengekan) bisa mengurangi kesan gloomy dari buku ini—malah saya nggak bisa merasakan kegloomyan apapun karena tingkah laku Suri dan ketiga abangnya. Nah, ada satu pemuda takut hantu bernama Sebastian yang harus terjebak dalam kehidupan Suri juga. Sebastian digambarkan sebagai tokoh yang kaku semacam ice prince yang punya sifat bertolak belakang dengan Suri. Romansa mereka unik sih, tapi sayangnya sampai akhir, saya nggak bisa merasakan chemistry keduanya.
Sudut pandangnya menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas yang seringnya keselip jadi serba tahu. Transisinya nggak smooth dan kadang jadi mengurangi rasa dari bagian yang saya baca. Karena tokoh utamanya adalah Suri, maka Suri yang mendapat jatah sudut pandang lebih banyak. Saya rasa, akibat penokohan Suri yang sudah saya ceritakan di atas, gaya bahasa yang digunakan juga kelewat santai. Bahkan menurut saya terlalu santai sehingga segi horornya hampir hilang. Banyak dialog yang menurut saya nggak perlu karena—walaupun menggambarkan hubungan Suri dan tokoh lainnya dengan baik—tidak berpengaruh banyak pada jalan cerita. Makanya saya bilang ini tulisan Renita yang paling berbeda.
Honestly, awal baca saya excited banget. Jarang ada buku horor rasa komedi yang membuat saya nggak lari duluan. Tapi makin kebelakang, penokohan Suri saya rasa terlalu berlebihan. Sifat childishnya kadang nggak ditempatkan di tempat yang seharusnya. Saya merasa buku ini bisa dibuat sedikit lebih serius.
Untuk konflik, sebenarnya sudah muncul di halaman pertengahan, yang sayangnya karena banyak bagian yang tidak terlalu penting ikut diceritakan mendetail, penyelesaiannya jadi kurang. Klimaksnya baru muncul hampir di akhir halaman. Dan lagi saya pikir penyelesaiannya bisa lebih serius.
Nggak ada bagian cliffhanger walaupun ini buku pertama. Atau, semuanya justru lebih jelas dan serius di buku kedua? Entahlah.
Noir sebenarnya bagus dan worth my time kok. Kalo enggak, nggak mungkin saya selesaikan secepat ini. Kuncinya cuma satu, kamu harus bersabar.
“Narkoba?!” . “Ya ampun, Pak. Sumpah deh, satu-satunya narkoba yang saya tahu cuma nasi karo bakwan!” . “Atau narik kolor bapak." . . Oriana Suri Laksita, atau yang sering di panggil Suri ini mempunyai keistimewaan yaitu dengan melihat yang enggak kelihatan alias hantu. Secara tidak sengaja, ia bertemu dan membantu hantu. Hal tersebut menjadi pengalaman pertamanya bersinggungan dunia astral. Namun dengan kasih yang ia memiliki membuatnya membantu para hantu untuk kesekian kalinya. . . Tapi suatu hal yang dilakukan pasti ada harga yang harus dibayar. Apa yang dilakukan Suri telah melanggar batas antara bumi dan langit, apalagi Nael—sang Iblis sudah memperingatinya. . . Aku suka bagaimana karakter Suri digambarkan sama seperti Risa di Noceur, Suri sosok yang manis, ceria, lucu dan kadar kerecehannya yang bikin gemes. Ada lagi keluarga cemara nama grup ketiga abangnya Suri yaitu Candra, Calvin dan Cetta, ketiganya bikin heboh akan sikap dan tingkah laku mereka—bahkan mereka juga mempunyai fans baik dalam lintas manusia maupun lintas percintaan beda alam* hehe sori Wati . . Tenang, percintaan Suri aman kok karna ada Sebastian Dawala tapi ya gitu ke-over protective para abang-abangnya Suri menambahkan bumbu-bumbu bikin tambah gemes dengan mereka. . . Noir memang novel bergenre fantasi yang ada bumbu horror yang melibatkan iblis, malaikat dan juga hantu. Tapi untuk sense of humor wahh petjahh sekali👏 sisi percintaan dan keluarga juga seimbang. . . So recommended banget!! Buat kalian yang cari bacaan antimainstrem seperti Noir dijamin puas😻 . . “I said it. Gue udah mengatakan apa yang selama ini ingin lo dengar. So please, wake up. Come back home. Come back to me. I promise i won't ever let go of this hands. Suri, please. I need you more than everything in this world.”—hal. 364
Pertama baca pas lagi iseng buka wattpad. Dan serius gw begadang karena gak bisa berhenti baca. Beneran bagus bangettt. I can't stop laughing. Sampe gw follow acc RP Culli,3 abang blangsak, dll di IG. Worth to read banget. Selain kocak juga banyak life lessons di buku ini. Seriussss gak bakal nyesel ud baca.
" Kasih adalah apa yang membuat kehidupan menjadi berharga, Oriana Suri Laksita. Tapi dia seperti api.Jika berlebih, dia akan menghancurkan. Kasih tanpa batas. Itu adalah alasan kenapa Nael ada."
Itu salah satu cuplikan dialog di buku Noir. Nyess sampai ke hati.
Aku ketemu Noir ini di wattpad. Waktu itu doi masih pakai cover yang unyunya kebangetan. Waktu baca blurb-nya, menarik dan akhirnya aku mulai seriusin baca. Aku ngikutin Noir ini sejak sebelum tamat, dan aku ingat, Noir adalah salah satu cerita yang bikin capslock jebol pas komen.
PECAH!! Aku nggak bisa berhenti tertawa.
Singkatnya, Noir ini bercerita tentang seorang cewek yang bernama Oriana Suri Laksita yang mempunyai kelebihan bisa melihat hantu. Gara-gara kemampuan ini, secara tidak sengaja dia terlibat dengan dunia gaib. Tapi karena ini pula, dia bertemu dengan Sebastian. Cowok ganteng luar biasa yang dinobatkan Suri sebagai pangeran kuda putih-nya. Tapi sayangnya, Sebastian takut hantu. Dihalangi oleh tiga abang suri yang super protektif, bagaimana kelanjutan kisah cinta Suri dan si babang Tian ini?
Iya, ini buku fantasi yang melibatkan hantu, iblis dan malaikat. Tapi bahasanya nggak berat. Justru ringan dan cocok untuk dibaca sore hari, in the rainy day, may be. Overall, aku suka cara kak Renita meracik bahasanya. Alus, mengalir dan timingnya pas. Bahasanya ringan tapi bikin perut keram saking seringnya ketawa. Lalu pas dibagian serius, kita benar-benar bisa dibuat deg-degan, bisa sampai nangis sesenggukan coba.
For something antimainstream, I recomended this book for you. Aku suka ide nggak biasa yang diangkat sama mbak renoz, dan caranya menyampaikan benar-benar rapi. Bikin pembaca nggak mengerutkan kening saat kita sampai di momen pesan moralnya, tapi justru bisa menerimanya dengan baik.
Yang bener-bener bisa aku tangkap adalah, bahwa nggak semua hal hanya punya dua sisi (baik dan buruk). Mengajarkan kita untuk sekali lagi memperluas sudut pandang dalam menilai suatu hal karena yah...bisa jadi pada suatu kesempatan, kita adalah pihak yang salah tapi kita nggak menyadari karena sibuk menilai bahwa mereka yang melanggar batas adalah salah. Hahaha...
Untuk kamu yang cari bacaan antimainstream tapi ringan dan bikin hari-hari kamu nggak gloomy lagi, aku rekomendasi buku ini. This book is something else.
sukses selalu ya mbak Renita, I really love your stories.
judul ini sebenarnya cukup memikatku di tahun kemarin tapi karena gak ada kesempatan untuk beli, (sampai-sampai stok bukunya kosong di toko buku) aku baca buku ini versi aslinya di wattpad. karena hal tersebut bahasanya masih terbilang cukup enak dan lancar dan banyak menggunakan bahasa sehari-hari meskipun di beberapa part bahasa yang digunakan penulis cukup kompleks untuk ukuran penulis wattpad yang cenderung terlalu santai atau blak-blakan.
pada bab bab awal buku ini menyuguhkan cerita yang unik dan seru untuk diikuti serta beberapa potongan kejadian yang bisa menjadi suatu rangkaian masalah baru. aku cukup menikmati bagaimana ada beberapa kejadian satu dengan kejadian lain dengan para tokoh yang secara langsung tidak saling mengenal akhirnya dapat dipertemukan di cerita ini. cukup unik karena konflik yang ada di dalam sini selalu membuatku kagum dengan pemikiran penulis, dan yang pasti konflik disini tidak terlalu rumit namun masih tetap unik menurutku.
namun wattpad bukanlah wattpad tanpa ada unsur romancenya. meskipun aku pada awalnya mengira buku ini akan lebih banyak membahas tentang alam ghaib, namun unsur romance disini semakin lama semakin mengental, meskipun unsur romance itu dimunculkan perlahan-lahan.
seperti tokoh perempuan wattpad pada umumnya, disini tokoh utama kita yang bernama Suri juga memiliki watak yang tidak jauh berbeda dengan cerita wattpad kebanyakan. dimana seorang gadis yang terobsesi dengan cowok dingin atau badboy yang terkadang membuatku bosan karena benang merah cerita wattpad hanya begitu begitu saja. dan di beberapa sin aku cukup dibuat tercengang dengan karakter Suri yang terlalu menyepelekan beberapa masalah dan terkesan lambat. overall cerita ini cocok buat yang lagi pengen baca kisah ringan yang memiliki konflik tidak terlalu berat.
Ini cerita sebenernya fantasi-horor-humor-komedi-romance jadi satu semua yaa
Pembuka di novel ini juga ajaib langsung nunjukkin gimana ajaibnya trio abangnya Suri, ada Chandra-Calvin-Cetta yang super protektif sama adiknya padahal masing-masing juga jaraknya cuma 2 tahun woy tapi pas Suri mau pacaran itu ga dibolehin karena katanya masih kecil, gubrak memang haha. Tingkah absurd abang-abangnya buat ngejagain Suri biar ga deket-deket cowok selain keluarganya juga, My Lord, aku ngakak-ngakak banget aseli. Super ajaib emang, empat bersaudara ini.
Keistimewaan Suri yang bisa ngeliat apa yang ga umumnya diliat manusia, dari sini semua bermula cerita petualangan Suri hingga dia bertemu Sergio-Sebastian-Noir-Zoei-Sombre dan jajaran para Malaikat dan Iblis lainnya.
Kisah pembuka alias world building dari adanya 3 dimensi yang ada di dunia ini mulai ada makhluk immortal, makhluk bayangan, manusia diambil dengan setting time jaman now itu bener-bener seger banget berasa makan jambu air yang manis dan seger jadi yaaa ga cuma ngakak karena keajaiban mulut dan tingkah empat bersaudara Suri dan abang-abangnya tapi juga benturan dunia jaman now-jaman past-dunia gaib itu jadi makin nyumbang ngakak karena tokoh-tokoh nya yang kepolosan banget dan kegaulan banget berasa kisah kolosal humoris gitu.
Ada juga beberapa di kisah ini yang ga match, beberapa aja jadi mungkin perlu di recheck kayak example waktu Sebastian sama Suri mau ke dufan kan katanya hari minggu tapi di next page nya hari minggu jadi ada kisah lainnya jadi ga match gitu dan nama tokohnya yang jujur aja belibet betul. Dengan ambil setting tempat di Indonesia nama-nama tokohnya itu hampir gaada yang rasa lokal, mana juga banyak banget jadi yaaa lupa-lupa inget deh namanya. But karena setelah baca buku pertama ini, aku jadi nungguin tulisan-tulisan dari Renita Nozaria lainnya. Worth to read!
Buku pertama kak ren yang saya baca. Pertama kali membaca buku ini kalau tidak salah ketika saya masih SMA dan pandangan saya terhadap buku ini adalah ribet. Iya ribet karena banyak sekali nama, tempat atau... sesuatu (idk how to call it) yang baru dan ketika saya sadari kembali, ketimbang ribet saya harusnya bilang kalau novel ini kompleks. Jalan cerita yang lumayan absurd (iya absurd) karena menurut saya banyak sekali hal yang harus saya tau ketika membaca novel ini, tapi ternyata saya salah.
Alur novel ini benar-benar rapih. Novel dengan pemilihan genre fantasi (saya sempat berpikiran bahwa ini adalah novel thriller atau horror dengan hantu yang mengerikan) dengan plot yang disusun rapih oleh kak ren.
Suri anak bobtot dengan tiga abang yang huruf depannya diawali dengan huruf C itu pada usianya yang ke-18 bertemu dengan arwah cewek cantik yang mempertemukan suri dengan sergio dan yah awalnya saya pikir akan end game dengan sergio eh malah ke abangnya haha.
Dimulai dari sanalah secara perlahan kita dibawa kedalam masalah suri yang mencakup ketiga abangnya, abangnya sergio (saya lupa namanya) dan juga kemampuan ajaibnya yang bisa melihat hantu atau arwah.
Novel ini seperti saya katakan, menurut saya adalah novel yang kompleks namun entah bagaimana saya cukup enjoy membacanya. Buat saya, novel ini tak bisa diselesaikan dalam beberapa jam karena ada beberala bagian yang saya kurang suka dan sedikit banyak membuat saya urung untuk melanjutkannya saat pertama membacanya.
Tapi secara keseluruhan bagi seorang awam yang suka membaca saya merekomendasikan novel ini! 🎀🎀🎀
Penilaian subjektif, pendapat pribadi!! Novel yang membutuhkan waktu lama untuk selesai. Gua agak ga enjoy buat bacanya, setiap baca selalu lihat halaman karna pengen cepet2 kelar. Awalnya gua beli buku ini karna tertarik sama sinopsis nya, ekspetasi awal gua tuh ceritanya akan sangat fantasi dmna suri banyak ngebantu hantu agar bisa kembali, dan hantunya akan punya cerita sedih dan menarik yg akan diceritakan. Tapi, ternyata ngga, cerita soal hantunya malah dikit. Fantasi dalam novelnya tuh ngebuat gua mengernyitkan dahi, karna ngerasa 'aneh', terlalu mengada ada dan ga jelas, atau emg gua yg ga paham, tapi oke lah namanya jg fiksi. Selain itu, kisah romansa antara Sebastian sama suri jg ga srek, ga ada feel nya klo buat gua. Apalagi suri yg masih sma dan tian yg udah kerja, ga etis menurut gua walau si suri dah 18 tahun dan dah ada ktp, ini jg sama buat siena dan chandra. Belum lgi penggambaran tokoh suri yg sering ditekankan kalau aneh dan ajaib, sampe cerita berakhir gua ga ngeliat suri seperti itu. Beberapa humornya ada yg lucu dan ada yg garing, momen di novel yg harusnya serius tapi ada candaan garingnya tuh bener2 bikin kesel buat gua, saat persidangan suri misalnya. Terus untuk hubungan antara suri dan abang2nya jg romantis bgt ya wkwk, awalnya gua ngerasa oke tpi pas baca part abangnya mau mandiin suri lgsg kek 'hah'. Secara keseluruhan gua kurang menikmati novelnya, rasanya ga pengen lanjut tpi sayang udah beli wkwk.
Where should I start? Hmmm.. Pertama ceritanya yang agak nggak biasa. Soal Suri yang punya kemampuan untuk melihat dunia lain, dan kisah petualangannya bersama makhluk2 astral, 3 kakak gila dan (calon) pacar2nya, 1 ayah kece ga ketinggalan keluarga Dalawa. Karakter Suri sangat loveable. Keras kepala, pemberani, tulus.
Bahasanya ringan, humornya dapet, haru birunya pas, selipan-selipan moralnya dapet tanpa harus terkesan menggurui. Interaksi antara Suri dan ketiga kakak gilanya yang overprotektif benar2 bikin mupeng punya kakak-kakak segokil kakak-kakaknya Suri. Lalu interaksi Suri sama makhluk-makhluk astral di sekelilingnya yang kadang konyol sampai yang bikin terharu. Belum lagi keluarga Dalawa yang nambah semarak cerita ini.
Really love this book. Can't wait to read Noir 2, while hoping there will be Noir 3 or more in the future. Typonya termaafkan karena ke-okean Noir ini. Good job!
Ceritanya ternyata tak semisteri judul, cover, maupun blurbnya. Mengenai "Noir" itu sendiri nggak terlalu ditonjolkan dalam cerita. Bagi saya plotnya biasa saja. Belum lagi karakter tokohnya terutama cara ngomong mereka pas bercakap-cakap tuh hampir mirip semua. Dan beberapa bagian Suri yang seharusnya menyentuh malah terkesan datar aja gara-gara karakter Suri yang dibikin terlalu nganggap enteng masalah. Bukannya lucu malah jadi kayak "hah, apaan sih", jadi keganggu gitu rasanya. Emosinya jadi tidak tersampaikan ke saya sebagai pembaca. Momen yang harusnya menyentuh malah terasa hambar. Termasuk kisah romancenya, kisah para hantu, atau kisah dengan para malaikat dan iblis, saya nggak dapat feel-nya. Ini penilaian subjektif ya. Tetap dilanjutin baca sampai akhir karena tata bahasanya rapi jadi tetap lumayan nyaman dibaca
Pertama kali baca karya kak Renita di wp yang judulnya Noceur, aku ngerasa itu seru banget makanya aku jadi tertarik buat baca Noir ini dan berekspektasi tinggi. Tapi ternyata buku ini ga seseru kisah Noceur, romance nya bukan romance yang bikin aku ikutan merasa berbunga-bunga, ditambah kurang suka dengan perwatakan Suri sebagai tokoh utama. Dia diceritain sebagai orang yang periang i guess (?) dan senang bercanda, tapi sayangnya beberapa percakapan yang aku rasa harusnya serius malah ditanggapi dengan candaan ga penting sehingga bikin suasananya jadi ga nyampe, contoh adalah waktu persidangan Suri bersama para malaikat dan iblis. Kayaknya satu-satunya yang saya suka dari cerita ini hanya karakter dari Nael.
Cerita horor & romance nya ketutup sama komedi/kocak nya, pas baca novel ini tuh berasa bahagia terus, ketawa gak berhenti :v Lawakannya top bangett pokoknya, walaupun agak kurang suka di cerita horornya yg menurutku gak serem sama sekali, dan romance nya yang biasa aja, ceritanya juga gak sedih" amat, yg lain biasa aja... Eits tapii gak bakal kecewa deh habis baca ini, bener" bikin mood +++..... Sebenarnya udah agak lupa sih ceritanya kayak gimana, karna baca ini tuh dari tahun 2020 an, dan sekarang baru nulis review nya, tapi satu yg gak lupa sih, ceritanya bikin ngakak dari awal sampai akhir :)
dulu udah pernah baca di wattpad tapi ternyata udah diterbitin jadinya aku mati penasaran. tapi waktu itu gramedia jauh banget dari rumah aku dan selalu ga kesampean, yang berujung aku jadi lupa tentang cerita ini. gatau kenapa tiba-tiba inget lagi dan berakhir baca versi digital aja di google play books. akhirnya rasa penasaranku terbayar. buku ini masih lucu dan selalu lucu buat aku. komedinya dapet banget apalagi waktu bagian suri disidang para malaikat dan iblis, aku gak bisa berhenti ketawa😭dannnnnn aku malah gatau noir ada buku kedua. siap-siap mau baca hehehhee
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awalnya gue nemu cerita ini di playbook nya google, baca prelude nya ngerasa ini ceritanya seru. Oke, emang seru, mulai dr jokenya yg ga garing sama sekali, karakternya yg punya ciri khas dan keunikan masing" dan alurnya yg membawa pembaca pd tiap lembar yg ga bikin bosan. Cara penyampaiannya jg sederhana walau kadang agak berat. Dan ini pertama kalinya gue baca novel fantasy yg selucu dan seasik ini. So, gue masih nunggu kapan novel ini di filmin
Cerita menarik tapi kebanyakan humor nya, suka sih dgn interaksi Suri dengan para hantu juga interaksi antara Suri dengan Abang-abangnya. Bacaan ini ringan ditengah kesibukan padahal membayangkan bakal banyak misteri-misteri di dalam nya tapi ternyata smua dengan mudah di hadapi suri . Menghibur banget karena humor keluarga si suri ini yang kocak banget.
Pertama baca di wattpad tahun 2018. Suka banget dengan gaya penulisan kak Renita ini. Pemilihan diksi oke, perpindahan topik juga alus banget. Progress tiap tokoh juga berkembang dengan watak dan ciri khas yang mudah diingat. Fantasi yang dibalut dengan komedi, romansa, dan cinta keluarga. Rekomen untuk dibaca di sore hari sebagai teman minum teh.
Salah satu karya kak Renita yang paling gak ada bandingannya... Dulu gak sengaja nemu cerita ini di wattpad, eh pas mau mendekati ending baru tahu kalau buku ini udah diterbitkan. Langsung tuh gak pakai pikir panjang auto nyari di online shop. Dan kebetulan dapet yang paket 2 buku sekaligus...pokoknya ini buku gak bakal bikin nyesel kalau beli dehh...
Bacaan yang menarik, dengan gaya bahasa yang luwes namun juga tetap nyaman dibaca. Dengan alur yang tidak mudah ditebak, serta berbagai karakter yang aneh namun juga menggelitik menjadikan NOIR sebagai bacaan favorit untuk mengisi waktu luang atau menjadi bacaan ringan ditengah kesibukan.
Pada awalnya, saya berpikir ini merupakan sebuah kisah horor—atau thriller mungkin. Ternyata disuguhkan dengan kisah romance. Penulis menyampaikan pesannya dengan baik dari beberapa hal. Tidak hanya percintaan, tapi juga sisi kekeluargaan.
Ini terlalu keren dan seru banget. Suka banget sama tokoh-tokohnya. Suri dan ketiga kakaknya, mereka mood booster banget. Jangan lupakan Sebastian yang cool dan gengsinya gede. Cinta sama mereka semua.
gapernah ketemu sama jalan cerita di suatu novel yg melibatkan iblis tp comedy……. part lucifer jalan jalan ke tanah abang make batik itu terlucu dan akan selalu gue inget, ini seru bgt dan lucu bgt!!!! i love oriana suri laksita yg bnr bnr punya pure hearttttt aaaaaaahk