Di dalam kereta dari Yogyakarta ke Tasikmalaya, saya tidak bisa tidur sama sekali. Sudah beberapa kali diupayakan untuk merem, masih juga gagal. Alih-alih memikirkan cara tidur yang hampir mustahil, saya membuka buku yang sudah saya siapkan sebagai teman perjalanan. Buku ini adalah Kumpulan cerita karya Puthut EA berjudul Isyarat Cinta yang Keras Kepala.
Buku ini pertama kali terbit tahun 2004 oleh Penerbit Jendela, sedangkan yang saya baca ini buku cetakan V dari Shira Media (2020). Ada 15 cerita pendek di dalamnya dengan ketebalan halaman 167. Saya menyelesaikan buku ini dalam kurun waktu sekitar tiga jam lebih sedikit kira-kira. Satu kali duduk selesai.
Buku ini merupakan buku kedua yang saya baca. Sebelumnya saya membaca bukunya yang lain berjudul Para Bajingan yang Menyenangkan (2016). Dengan rentang waktu yang cukup lama, mungkin bisa saya katakan kesempatan inilah saya berkenalan kembali dengan pengarangnya.
Kesan pertama saya membaca kumpulan cerita ini seperti membaca curhatan ‘aku’ tokoh dalam berbagai wadah peristiwa. Saya bilang curhatan karena terasa bagi saya seolah diajak menyimak solilokui seseorang. Gaya bahasanya relatif mudah dan kadang puitis. Tema yang diangkat bisa dibilang tema yang umum kita temukan sehari-hari, namun ada beberapa cerita yang tidak. Katarsis yang saya rasakan tidak muncul di seluruh cerita. Beberapa cerita terkesan datar dan yang lain bisa benar-benar mengena. Minim dialog sehingga terasa hambar untuk mengeksplorasi watak tokoh di luar “aku” tokoh. Tapi ada satu hal yang terus berputar di benak saya. Saya membayangkan proses penulisan ini seperti Puthut EA habis membaca koran, mendengar cerita kawannya, atau mengalami peristiwa itu sendiri kemudian dia pulang masuk kamar, mengunci pintu, merenung sebentar, lalu menuliskan ulang dalam bentuk cerita yang akan dikirimkan kepada sahabat penanya.
Mengupas tokoh “aku” untuk tidak sampai mengarahkan pada penulisnya cukup sulit dalam kumpulan cerita ini. Mau jadi perempuan atau lelaki banyak cerita yang memiliki cara bertutur yang relatif sama. Mungkin karena minim dialog sehingga terasa seperti itu. Saya juga tidak tahu, ini hanya asumsi. Rasanya seperti menyimak satu jiwa yang berpindah dalam jasad-jasad yang berbeda. Jiwa itu yang mendominasi selama pembacaan berlangsung. Aku tidak tahu juga apakah memang karena baju dalam cerita ini yang mengarahkan saya untuk berziarah pada kenangan-kenangan yang campur aduk. Tapi meski begitu, bahasa yang mengalir dan kadang puitik inilah yang membuat saya tidak terlalu memikirkan kesan monoton dari “aku” tokoh. Semua tokoh aku entah seberapa usianya memiliki kepandaian tutur yang seimbang.
Rumah Hujan adalah cerita yang paling saya suka. Dalam cerita ini “aku” tokoh adalah seorang perempuan yang melihat kenangannya sebagai pemicu untuk menentukan warna kemarahannya. Kalimat penutup Tubuh dan hidup kami sudah terlalu merah dalam marah membuat jantung saya mak deg. Di sini terasa saya terkecoh. Saya kira dengan memperhatikan judul cerita ini akan terasa melankolis dan sendu. Tapi tidak. Rumah hujan itu ternyata adalah saksi dari konflik politik, perjuangan, dan ketidakadilan. Cerita ini berhasil membuat pengantar panjang yang menarik untuk mewajarkan seseorang marah. Tapi sekali lagi, marah dalam pikiran itulah seperti lahar gunung yang masih tertahan. Tinggal menunggu waktu meletus.
Selain cerita di atas, Sebuah Peristiwa tentang Kematian memiliki daya tariknya. Kita diajak untuk menyimak sebuah cerita dari arwah yang dihukum tembak. Cerita ini padat dengan konsep yang absurd dan diiringi dengan suasana mencekam. Kita seolah didatangi arwah untuk menuruti segala pikiran dia sebelum detik-detik eksekusi. Di dalamnya ada refleksi tentang kematian. “Aku” tokoh yang menjabarkan perjalanan gulat batinnya dalam bentangan masa menuju titik kematian. Dengan melibatkan konflik eksternal kerunyaman kondisi politik, konsekuensi yang diakibatkannya menunjuk tokoh “aku” yang tidak memiliki bayangan setelah kematian. Dengan membandingkan sikapnya dengan temannya sebelum eksekusi, di mana dia mulai takut dan temannya teguh tersenyum, ada pertanyaan fundamental yang harus dijawab kita semua tentang keyakinan kehidupan setelah kematian. Latar ini mengingatkan saya pada cerita Pramoedya Ananta Toer dalam Keluarga Gerilya (1950).
Ada cerita lain yang tak bosannya saya baca berulang. Tanpa Tanda Seru: Tiga Penggal Prosa-Lirik. Di sini “aku” tokoh tidak berdiri sendiri. Pengarang mengembangkannya dalam format jamak “kami”. Cerita ini bernada keluhan dari tiga kelompok: nelayan, petani, dan buruh. Mereka mengeluhkan satu masalah yang sama: raibnya penghidupan mereka dan pandangan masa depan yang getir. Mengikuti kalimat demi kalimat serasa mendengarkan satu orasi penuh renungan. Tidak frontal. Tidak berapi-api. Begitu datar tapi jujur. Suara-suara yang jarang kita dengar. Suara-suara yang sering terwakilkan tapi tidak pernah benar-benar diwakili. Saya bisa bilang cerita ini cerita paling menyentuh dari seluruhnya.
Cerita-cerita lain tidak kalah menarik karena menurut saya begitulah Puthut EA dalam kumpulan ini. Dia mampu menciptakan jeda waktu untuk menengok ke dalam satu keterangan jujur akan satu fragmen peristiwa lewat tokohnya. Mulai perselingkuhan, parenting, perceraian, persahabatan dan beberapa tema umum lainnya digarap dengan cara yang berbeda-beda. Semua itu tetap menjadi menarik dengan gaya bahasanya. Juga beberapa menciptakan katarsis meski kadang kecil letupannya. Dari semua cerita, saya tidak begitu tertarik Cerita dari Lemari. Ini benar-benar plot-twist. Saya kira akan ada sesuatu dari ‘lemari’ itu. Entah sebagai simbol atau metafora baru yang segar. Ternyata ‘lemari’ itu hanya menjadi awal rentet cerita curhatan yang biasa-biasa saja.
Perkenalan dengan karya Puthut EA lewat kumpulan cerita Isyarat Cinta yang Keras Kepala ini tidak mengecewakan.
Paling suka prosa yang berjudul Tanpa Tanda Seru: Tiga Penggal Prosa-Lirik. Benar-benar sesuai dengan keadaan Indonesia yang dulunya negara maritim dan agraris, yang sekarang pelan tapi pasti ingin menjadi seperti negara-negara maju.
Meskipun judulnya Isyarat Cinta Keras Kepala, menurut saya prosa di Sarapan Pagi Penuh Dusta lebih banyak bicara cinta.
Antologi cerita pendek ini kali kedua dibaca, sebelumnya baca zaman SMA masih terbitan Labuh. Tapi masih ada beberapa bagian yang masih nyisa di pojokan ingatan. . "Empat Perempuan" itu makin kontekstual di zaman sekarang, dengan medsos yang jahanam itu. Saat tiga perempuan bergunjing pada satu perempuan dengan memacam latar. Tapi yang tergunjing paham dan mafhum karena itu soal datang bulan. Tapi cara penulisannya yang macam omnibus itu yang menarik. . Tapi yang buat paling sesak tetap "Tanpa Tanda Seru: Tiga Penggal Prosa-Lirik". Kerakusan pembangunan, involusi pertanian, nelayan yang ditinggalkan, ilusi selebriti dan sulap media layar kaca diadon jadi satu. Di tulisan ini saya sadar, cara saya meracau ternyata ada banyak pengaruhnya dari tulisan-tulisan Mas Puthut.
Lima belas cerita di buku ini sungguh warna-warni. Seperti pelangi, seandainya ia punya lima belas warna, tidak hanya tujuh. Ada cerita yang bisa dituntaskan dengan mudah dan cepat. Ada juga yang perlu waktu lebih lama untuk bisa dicerna dengan sempurna. Mas Puthut membawa berbagai topik yang beberapa tampak biasa tapi disajikan dengan cara yang berbeda. Mas Puthut membawa saya menyelami banyak makna melalui cerita-ceritanya. Ada kesan yang luar biasa setelah menamatkan buku ini. Bahwa mas Puthut bukan penulis cerita biasa. Dia patut diwaspadai.
Ini buku kedua dari Mojok yang aku baca setelah dari twitwar ke twitwar. Awalnya, dari buku Dhani aku iseng baca buku lainnya. Termasuk ini. Iseng baca satu bab, kebablasan semua bab dalam buku aku baca dalam waktu sehari. Biasanya, kalo aku udah lupa makan, dan mandi buat baca buku berarti aku menikmati buku itu. Ya, kayak buku ini.
Pertama kali baca buku terbitan Buku Mojok. Pertama kali pula baca karya Puthut EA, ini juga disodori pinjam dari seorang teman. Nyoba baca lah, katanya.
Ternyata tulisan Puthut EA ini mudah dinikmati. Pas pertama baca kumpulan cerpen, banyak diantara judul ini yang saya suka. Contohnya ada Isyarat Cinta Yang Keras Kepala, Anak Laki-Lakiku, Empat Perempuan dan Perempuan Tanpa Nama.
sekumpulan prosa ini unik, seperti ketika saya membaca Cinta Tak Pernah Tepat Waktu atau Para Bajingan yang Menyenangkan. sekumpulan prosa ini punya karakteristiknya masing-masing, jenaka, kelam, penuh asmara, diaduk menjadi satu. bagian yang paling saya sukai adalah yang terakhir. ada geram yang sunyi, sama seperti saat ini
Lumayan lah untuk penikmat prosa seperti saya. Tapi ada beberapa cerpen yang menurut saya anti klimaks dan membuat saya bergumam "Yaaah... gini doank?". Terimakasih atas kumpulan prosa yang bagus ini, Puthut EA.
“...aku justru harus berani menghadapi seluruh peristiwa yang telah lewat,dan bukan justru menghindarinya.Kenangan tidak bisa dihilangkan.Kenangan hanya bisa dihadapi atau diperam dengan risiko membusuk di dalam.”
Saya memang belum pernah sekali pun membaca cerpen atau puisi atau novel karya Puthut EA. Ini buku pertama yang saya baca, dan, dari setiap cerita, saya menyukai bagaimana penulis mengakhiri setiap ceritanya. Berbeda.
Kelam, Tajam, Dingin, Menderu, Terheran. Semua perasaan yang menggambarkan tiap-tiap larik prosa-prosa secara menyeluruh. Apa-apa saja yang disampaikan terasa dekat dengan narasi yang berusaha untuk berteman baik dengan larutnya emosi dalam tumpahan kolam empati yang di tuangkan Mas Puthut.
buku bukan novel, bukan komik, bukan textbook kedokteran yang akuu baca. genre pertama dan yaa lumayan aku sukaaa, makasih yg udah minjemin aku bukuunyaaa, i miss you
Ada beberapa cerpen yang saya sukai di buku ini, walaupun banyak juga yang hanya sekedar lewat saja ketika saya membacanya. Tapi karya Puthut EA memang harus di apresiasi 👏🏻
Beda dari bukunya Puthut EA yg ku baca sebelumnya, buku ini bukan cerita kesatuan tp terdiri dr 15 kumpulan cerita pendek. Cerita dg tema dr yg super biasa sampe yg luar biasa puitis sampe ku gak paham 🙈
Setelah baca epilognya pun ku baru sedikit paham sama cerita2 cerpen yg ditulis disini. Jadinya ku semacam 'menyamakan pendapat' dulu sama si penulis epilog, karena ternyata pemahamanku kadang berbeda dr 'pesan' cerita yg ingin disampaikan si Puthut hahaha
Dari ke-15 cerita, emang cuma cerita dg tema yg biasa2 aja yg ku paham hahaha tp cerita2 dg puitis tingkat tinggi itu tetep menarik untuk dibaca.
My favorite 'Ruang Harapan yang kembali Lengang' Sedangkan 'Kitab Laknat: Mukadimah' jd cerita laknat yg susah ku pahami tp penuh dg kata puitis 🙈
Beberapa paragraf dr cerita 'Kitab Laknat: Mukadimah' 'Aku tidak boleh menatap kotak pemenjara fakta, tidak boleh membaca kertas pembatas fakta, tidak boleh mendengar suara yang mendatarkan fakta. Kata-kataku limbung, kata-kataku terluka pada lambung.'
'Jam tidur yang tidak pasti, meditasi yang menabrak jalur sunyi, selalu dirundung cemas apakah ini bukan jalan lain seperti bunuh diri?'
'Jangan pura-pura gila dan jangan pura-pura ingin bunuh diri. Rasakanlah dua-duanya, lalu kamu akan bilang, cukup sudah! Atau memang tidak ada nyali untuk itu? Lalu kenapa sering keluar dalam omongan dan lagu-lagu, dalam cerita dan lamunanmu?'
This entire review has been hidden because of spoilers.
Di bagian "Tanpa Tanda Seru : Tiga Penggal Prosa - Lirik" adalah bagian paling menyentuh jiwa kemanusiaan kita, menghantam nurani kita, dan kembali membuka mata kita akan realita yang mengkerdilkan masyarakat 'pinggir', kaum tani, kaum nenek moyang kita dalam menghijaukan dan menghidupi bumu pertiwi ini.