Ettore Gnocchi mati dalam sebuah jamuan makan malam di rumahnya sendiri. Profesor posmodernisme Universitas Berkeley itu ditembak di jidatnya, ditikam pisau di punggungnya, ditusuk panah di pipinya, dan diracun lewat minumannya. Keempat modus pembunuhan itu berlangsung serentak dan sekejap, tepatnya ketika lampu ruangan mati akibat gangguan listrik. Ada enam orang yang lain di meja makan, dan begitu lampu kembali menyala mereka semua kaget melihat sang tuan rumah telah mati dengan cara mengenaskan.
Di meja makan ada istri Gnocchi, ada mahasisiwi bimbingannya, ada seorang linguis dari Rusia, ada seorang filsuf muda dari Prancis, ada seorang novelis dari Inggris, dan ada seorang feminis asal Jepang. Mereka di sana untuk membantu persiapan acara seminar Gnocchi dan semuanya terhubung oleh satu minat yang sama, apa lagi kalau bukan: Posmodernisme. Pembunuhnya pastilah salah satu dari keenam orang itu. Atau malah, pelakunya bisa jadi lebih dari satu orang.
Lalu seorang detektif datang dan mencoba memecahkan kasus aneh ini. Kalau ini adalah novel detektif seperti pada umumnya, tentunya pembaca akan diajak menelusuri penyingkapan demi penyingkapan yang menegangkan menuju ke pelaku berikut motifnya. Tapi berhubung ini adalah novel yang oleh penulisnya sendiri disebut sebagai “novel misteri akademis” maka hal-hal klisé tidak akan terjadi. Sebaliknya, di sini pembaca akan disuguhi teori demi teori, opini demi opini, perspektif demi perspektif tentang posmodernisme; entah itu yang terpengaruh oleh gagasan Lyotard, Baudrillard, Habermas, atau pemikir posmo lainnya yang seabrek itu.
Interogasi yang dilakukan si detektif kepada setiap tersangka ujung-ujungnya memang selalu membahas tentang apa itu posmodernisme. Si detektif tidak merasa keberatan karena dia mengakui butuh paham dulu tentang posmodernisme demi menguak motif terselubung yang mungkin dimiliki si pelaku. Saya sebagai pembaca juga tidak merasa keberatan karena ternyata rasanya asyik loh menjejali kepala dengan serba-serbi posmo (baik yang akademis maupun yang omong kosong). Pada satu titik, saya bahkan sudah tak peduli lagi dengan pembunuhan yang terjadi.
Bumbu cerita utama dan yang paling unik adalah bahwa setiap tokoh punya keeksentrikan masing-masing yang sangat terpengaruh oleh posmodernisme—yang konsepnya juga didefinisikan secara subjektif. Pokoknya, tidak ada satu tokoh yang sepakat memaknai ide posmodernisme yang sama dengan tokoh lainnya.
Contohnya, ia yang percaya kalau posmodernisme itu meniadakan batas antara keadaan sadar dan mimpi, memperlakukan mimpi buruknya sebagai realitas yang tak terpisahkan dari kesadaran itu sendiri. Ia yang percaya kalau posmodernisme mendobrak batas-batas kebudayaan atau kebangsaan, bisa bebas memilih variasi seks berdasarkan stereotip nasional mana yang dimaui (sambil meminum Moet Chandon dan mendengar Edith Piaf untuk gaya Prancis, atau dimulai dengan khutbah singkat tentang Taurat dan memasang musik Schlomo Carlebach untuk gaya Yahudi). Ia yang percaya kalau posmodernisme adalah suatu kebutuhan akan kebaruan dan narasi, bisa menuangkan visi artistiknya dengan membuat film eksperimental nan absurd demi meraih “15 menit ketenaran” di atas panggung.
Sudah pasti nama-nama seperti Foucault, Thomas Pynchon, Laurie Anderson, David Lynch, Saussure, dan sebangsanya, disebut-sebut dan bersliweran sebagai sosok referensi. Pun demikian dengan istilah-istilah macam metanarasi, hiperrealitas, eklektisisme, komodifikasi, dan sebangsanya, yang sangat efektif jadi agen promosi Google. Semuanya secara acak menempati bab-bab dan jalin-menjalin dalam ikatan teks yang tidak terasa seperti menguliahi walaupun padat oleh teori, dan tidak terasa mendramatisir walaupun ini adalah─bagaimanapun juga─sebuah novel.
Saya belum pernah membaca buku-buku Arthur Asa Berger sebelumnya. Di bagian profil disebutkan bahwa konon beliau sudah menekuni kajian budaya pop saat budaya pop belum diminati kalangan ilmu sosial. Dan memang, seperti yang tersaji dalam novel ini, posmodernisme tidak bisa lepas dari budaya pop sebagai salah satu medium pengaplikasiannya baik itu dalam bentuk musik, film, sastra, atau tayangan iklan televisi sekalipun. Tidak ada lagi yang membeda-bedakan antara filsafat dan showbiz, antara budaya tinggi dan budaya massa, bahkan antara galeri seni dan mall.
Semakin dibaca lagi, saya kemudian merasa kalau Arthur Asa Berger ini adalah profesor serius yang suka iseng. Karena kalau dipikir-pikir, jadinya kocak juga ada satu kasus pembunuhan yang diselidiki lewat jalur ngalor-ngidul posmodernisme seperti ini. Ditambah lagi dengan "keabsurdan" para tokohnya yang seperti tidak punya hal lain untuk dijabarkan sebagai alibi kepada detektif selain gagasan dan “iman” mereka terkait posmodernisme. Saya yakin beliau sengaja ingin membuat pembacanya tergelak sambil mengernyitkan dahi─tepat di persimpangan antara pencerahan dan kekonyolan─dan begitu itu terjadi beliau pun tertawa lepas di belakang layar.
Yang pasti, ini novel detektif yang sangat menarik, unik, dan asyik, dengan kesimpulan kasus pembunuhan yang posmo abis.
Lalu, apakah dengan membaca novel ini saya jadi lebih paham tentang posmodernisme? Sepertinya nggak juga. Tapi sepertinya saya jadi punya alasan kuat bahwa berbeda paham tentang posmodernisme itu adalah hal yang lumrah dan bahkan mesti terjadi, karena mendefinisikan posmodernisme itu rasanya nggak posmo banget deh.