Jump to ratings and reviews
Rate this book

Prajurit Perempuan Jawa: Kesaksian Ihwal Istana dan Politik Jawa Akhir Abad ke-18

Rate this book
Buku ini mengulas catatan harian seorang prajurit perempuan Jawa abad ke-18. Sebagai manuskrip, catatan harian ini lebih dari manuskrip mana pun. Kita dipaksa menimbang kembali berbagai anggapan, pendapat, dan klise tentang masyarakat Indonesia [terutama Jawa] tradisional, seperti konsep Clifford Geertz tentang 'theatre state', pengaruh Islam di kraton Jawa di abad ke-18 yang kurang, dan tentang orang Cina.

Sebuah buku yang untuk kali pertama memamerkan panorama spektakuler kraton Jawa di abad ke-18 dan peran perempuan di dalamnya kepada masyarakat luas.

200 pages, Paperback

First published January 1, 2008

7 people are currently reading
88 people want to read

About the author

Ann Kumar

10 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (25%)
4 stars
6 (17%)
3 stars
17 (48%)
2 stars
1 (2%)
1 star
2 (5%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Arinamidalem.
106 reviews7 followers
April 26, 2009
** 2 bintang saja. karena berharap melihat sosok seorang perempuan laksana Ratu Padhansari..tapi malah ketemu bacaan sarat politik**
-----------
Membaca judul buku, yang terbayang adalah kisah hidup seorang prajurit perempuan. Ternyata lebih luas dari itu.

Prajurit Estri disini adalah prajurit perempuan, bukan ‘istri prajurit’. Sang wanita lah yang menjadi prajurit di sini. Sayangnya pembahasan tentang hal ini – yang menjadi judul buku dan memancing keingintahuan saya – justru kurang dibahas. Seolah-olah hanya untuk membuat calon pembaca penasaran, atau memang materinya tidak memadai untuk dibahas secara mendalam pribadi sang prajurit perempuan itu sendiri dan sepak terjangnya(atau saya yang gak mengerti maksud penulis).

Bagian I

Bagian ini lebih banyak membahas politik keraton dengan campur tangan VOC yang sangat kentara sekali. Sepertinya pernah dengar dari salah satu teman (pakde nanto kah?) bahwa keraton dengan keberadaan Belanda hanya menjadi boneka saja, segala hal yang terkait masalah politik keraton - pasti Belanda turut campur. Ini terlihat pada Bagian I saat hadir konflik antara Pakubuwono III – Mangkunegara – Mangkubumi. Saya jadi tau asal mula dua kerajaan di Jawa tersebut dan juga kenapa ada 2 keraton di Surakarta. Kisah Mangkunegara I menjadi topik penting di Bagian ini. Bahkan profil Mangkunegara dengan tingkah polahnya serta adat yang keras pendiriian terlihat hebat sekali, hingga mengaburkan profil Pakubuwono III dan Mangkubumi.

Masalah ADRT Mangkunegaran dibahas dengan cukup detail, sayangnya buku harian yang menjadi acuan tidak memaparkan tentang ADRT dua keraton yang lainnya.

Selain hal-hal serius yang dibahas, ada juga beberapa hal menarik yang membuat saya bertanya-tanya:
•Tembakan Kanon yang dilakukan sebagai tanda pasangan yang baru menikah telah melawati malam pertama mereka. Hal ini sepertinya budaya kuno yang sering muncul dalam tontonan tentang kisah masa lalu atau yang ada di catatan kuno. Dalam serat centhini terdapat bagian Centhini menunggui Tambangraras dan Amongraga selama 40 hari sebelum akhirnya dia bisa memberitakan kepada keluarga bahwa pengantin telah menyelesaikan ‘PR’ nya. Juga fillm kung-fu kolosal yang embannya menunggu di depan pintu dan akan mengibarkan saputangan pertanda bahwa ‘PR’ is done. Benarkah budaya ini ada atau hanya kreatifitas penulis skenario? Sudah punahkan atau masih ada juga ya? kenapa juga mesti ditunggui.. where’s privacy?
•Manusia di adu dengan hewan, harimau vs manusia = gladiator Jawa? Apakah ini Belanda yang memperkenalkan ke Jawa? Apa karena Belanda juga termasuk imperium Roma dan kemungkinan memperkenalkan pertandingan orang lawan hewan yang jelas gak seimbang ini. Atau memang dari dulu di Jawa sudah ada adu manusia vs hewan? Kalau hewannya hewan jejadian sih justru ada kemungkinan kali ya....
•System penyogokan dari bawahan kepada atasan, dalam hal ini dari pihak keraton kepada Belanda (VOC), misal untuk menaikkan status keradenan. Dan sepertinya masih berlanjut budaya ini sampai saat ini.. shortcut method for efficiency, effectiveness? .. no gurantee.
•Ternyata mata uang yang disukai masa itu (1651-1781) adalah Dolar Spanyol (peso duro) . Mata uang ini nilainya lebih tinggi dibanding mata uang Belanda kala itu.


Bagian II

Bagian ini membahas perkembangan politik : Keraton dan VOC , 1784-1791.
Bukan hanya konflik antar keraton (masih juga) tapi juga konflik antara keraton vs VOC dihadirkan disini,. Semakin menegaskan bagian I, intervensi VOC terhadap keraton-keraton di Jawa. Kalau tertarik dengan sejarah peperangan nusantara – mungkin bagian II ini menarik untuk dibaca. Tapi saya lebih suka bagian I, lebih berwarna.

Sebenarnya saya masih ingin tahu…
Siapakah Prajurit Estri, atau Lady Soldier ini?
Seperti apa sih buku harian yang dia tulis dan detailnya?
Di keraton mana dia bertugas? Tugasnya apa? Keahliannya apa saja?
Pertempuran apa yang telah dia lalui dan apa prestasinya ?
Bagaimana kehidupan pribadinya sebagai betina tangguh pada masa itu?

Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
June 30, 2008
semula, agak bingung juga membaca judul buku ini.
tajuk mengenai prajurit perempuan jawa tapi diberi anak judul mengenai istana dan politik jawa di akhir abad ke-18.
rupanya,
ini adalah gabungan artikel dari majalah terbitan cornell "INDONESIA" edisi april dan oktober 1980.
merupakan ulasan catatan harian seorang prajurit perempuan dari istana mangkunagaran surakarta.
saya membeli karena nama penulis ann kumar dan penerbit komunitas bambu adalah dua nama yang sampai saat ini masih saya hormati. dan buku ini pun memenuhi harapan tadi.

kehebatan ann kumar [paling tidak dalam buku ini] adalah kemampuannya dalam menghubungkan banyak sekali sumber arsip di berbagai tempat penyimpanannya. jangan heran bila catatan kaki utk buku ini sering sekali hanya berupa kode macam KA 3754, VOCOB 1790, dsb. yang menunjukkan lokasi buku, maupun lokasi kutipan dalam manuskrip yang dibahasnya.

manuskrip yang dibahas ini sendiri diberi deskripsi keadaan fisiknya, halaman mana saja yang hilang, juga ditetapkan waktu penulisannya yang berjarak cukup jauh dari peristiwa-peristiwanya sendiri di masa lalu, diulas juga kalimat mana saja yang putus dan tidak nyambung. dan selebihnya adalah pembedahan atas manuskrip tadi yang digunakan untuk menghadirkan ulang sosok mangkunagara I, relasi-relasi sosial dalam istana semasa, konstelasi politik sekitar mangkunagaran, surakarta dan yogyakarta.

kontribusi ulasan ann kumar atas manuskrip yang ditemukannya ini adalah memberi gambaran baru atas suasana politik di seputar perpecahan kerajaam mataram menjadi surakarta, yogyakarta dan mangkunagaran. kebaruannya karena manuskrip ini ditulis dari dalam, dari kalangan prajurit perempuan yang punya jarak sangat dekat dengan pusat kekuasaan. dan bagi saya, saya jadi tahu bahwa ternyata pada akhir abad ke-18 itu sudah ada tradisi menulis catatan harian di kalangan istana pedalaman jawa. saya jadi merasa kuper...:-)
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
December 4, 2014
Gak nyangka perempuan yang konon posisinya marjinal dalam kultur Jawa ternyata memberikan sumbangan bagi sejarah Timur melalui sebuah bentuk informasi yang tidak identik dengan Timur itu: catatan harian.

Seperti layaknya catatan harian, bahasanya lebih personal. Tetap menggunakan media dan gaya bahasa yang patut di zamannya. Cakupannya yang tidak biasa dari sebelumnya bayangan saya. Selayaknya catatan harian, sumber utama buku ini memuat cerita yang tidak secara formal diangkat dalam versi sejarah resmi jaman itu. Terlebih lagi penulisnya perempuan.

Cerita pasca Perjanjian Salatiga yang membelah jawa dalam peta Jawa menjadi tiga kekuatan lokal: Kasunanan, Kasultanan, dan Mangkunegaran. Kali ini penceritanya adalah pasukan wanita dari Mangkunegaran.

Buku ini memberikan kepastian empiris akan cerita yang tertulis dalam Trilogi Roro Mendut karya Romo Mangun, prajurit wanita telah ada sejak jaman Sultan Agung. Mereka bukan sekedar hiasan, pembawa pernak-pernik perangkat agung Sang Raja. Mereka adalah pengaman terdekat bagi raja.

Belum tamat benar, baru 2/3 buku ini dibaca. Tetapi itu dalam semalam. Thx to lidah saya yang salah ucap. Dari bermaksud mengucap "late" menjadi "espreso". Ditenggak magrib, efeknya adalah semalaman bercumbu dengan kisah tidak terduga tentang masa lalu.
Profile Image for Sheeta.
214 reviews18 followers
April 18, 2022
Sejujurnya aku cukup bingung.

Buku ini 70% membahas politik Jawa ketimbang menceritakan tentang para prajurit perempuan Jawa. Cerita tentang prajurit perempuan Jawa hanya di-highlight di bab awal buku ini. Selanjutnya, yang menjadi topik bahasan adalah bagaimana keadaan istana dan politik Jawa di akhir ke-18.

Meskipun demikian, buku ini cukup bagus karena menggambarkan suasana Jawa dengan lebih jelas dengan berpatokan pada buku harian-buku harian yang ditemukan.

Hal lain yang tidak kusuka dari buku ini adalah menulis referensinya itu dalam bentuk catatan belakang. Sulit bagi pembaca untuk membolak-balik buku saat membaca.
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
August 1, 2012
Buku ini merupakan hasil riset Ann Kumar yang mempelajari berbagai manuskrip sejarah Jawa yang berasal dari catatan seorang perajurit perempuan Keraton Mangkunegara dan dicross check dengan manuskrip versi VOC.

Buku ini menceritakan kisah pecahnya keraton Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Semula Keraton Mataram diperintah oleh Pakubuwono II pada tahun 1700an. Pemerintahan Pakubuwono disokong oleh VOC. Kehadiran VOC ini tidak menyenangkan hati Raden Mas Said yang kemudian memberontak. Pemberontakan Raden Mas Said ini bisa diredakan oleh Pangeran Mangkubumi. Namun ternyata Pakubuwono II mengingkari janjinya untuk memberikan hadiah kepada Mangkubumi. Mangkubumipun kemudian bersekutu dengan Mangkunegara untuk melawan Pakubuwono dan VOC.Untuk meredakan situasi kemudian diadakan Perjanjian Gianti (1755) yang membagi wilayah keraton mataram menjadi 2 yakni Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwono dan Yogyakarta yang dipimpin Mangkubumi. Mangkunegara yang merasa ditinggalkan, kemudian terus memberontak walaupun akhirnya dia menyetujui diberi wilayah dan membentuk Keraton Mangkunegara. Meski demikian keraton Mangkunegara ini sifatnya hanya “adipati” dan bukan “raja yang berkuasa penuh”.

Intrik politik dan perebutan kekuasaan antara Keraton Surakarta, Yogyakarta dan mangkunegara. Persaingan maupun Persekutuan-persekutuan yang didasari kepentingan jangka pendek sering terjadi antara ketiga pihak tersebut. Di sinilah kepiawaian VOC mengatur konflik dan keseimbangan antar pihak untuk melestarikan kepentingan mereka sendiri.

Dalam buku ini juga dikupas beberapa hal menarik bahwa:
• Di keraton Surakarta dan Mangkunegara, agama Islam mempunyai peran penting sebagai salah satu norma sosial bermasyarakat. Raja mangkunegara sendiri rajin mempelajari agama, menyalin Quran dan rajin menyelenggarakan ritual seperti pengajian. Meski demikian juga ditemukan berbagai penyimpangan keagamaan di keraton seperti masih banyaknya budaya minum alkohol, judi dll.
• Di keraton Surakarta dan mangkunegara ditemukan barisan prajurit-prajurit perempuan (prajurit estri) yang cukup tangguh.
• Terdapat rangkap fungsi prajurit dengan fungsi sosial lain. Misalnya prajurit perempuan, selain mahir di medan perang juga mahir menari tradisional. Demikian juga prajurit kaum, selain berperang mereka juga mempunyai tugas untuk memakmurkan masjid.
• Dari sisi kesejarahan. Tentara Mangkunegara merupakan tentara yang kuat, profesional, loyal dan semangat korps tinggi. Sehingga legiun Mangkunegaran merupakan barisan yang sangat disegani pada masanya.
• Mangkunegara selain merupakan panglima perang yang tangguh, juga merupakan pemeluk Islam yang relatif taat dan ahli seni budaya khususnya tarian.
• Kebutuhan operasional kerajaan seperti rumah tangga keraton maupun gaji tentara yang cuku besar membuat Mangkunegaran terkadang kesulitan finansial dan akhirnya tergantung ekonominya sama VOC.

Secara umum buku ini agak menarik meski judulnya kurang sesuai dengan isinya. Hal lain adalah penempatan end-note menjadi kurang praktis karena pembaca harus membolak-balik halaman untuk mendapatkan penjelasan . Kelemahan lain adalah buku ini ditulis dengan mengacu pada manuskrip yang ditulis “abdi Mangkunegaran” . Hal ini berpotensi menimbukan bias-bias subyektifitas dalam penulisannya.


Profile Image for winda.
357 reviews14 followers
October 26, 2014
akhirnyaaa selesai juga bacanya. bagus sih buat yang suka sejarah. tapitapii... saya pengen ngintip buku diarynya si prajuritnya.. Gimana rasanya jadi prajurit, curhatannya dia lah.. bukan tentang Keseharian Raja Mangkunegara, intrik-politik kerajaan dan VoC, gambaran komitmen istana terhadap Islam.
Ini memang buku harian yang berbobot, buku harian yang tidak berbicara tentang diri sendiri justru membicarakan orang lain, meneropong kondisi di sekelilingnya, menjadi catatan sejarah
Profile Image for Laila Syafei.
3 reviews2 followers
Want to read
April 7, 2009
i wanna see how far is actually women were involved in the war, and how was the reality hidden so long time about the women contribution in this nation
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.