Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Raven: Stories & Poems

Rate this book
Kelam, gelap dan kisah-kisah yang menunggumu dalam ratusan halaman di balik sampul buku ini. Kau akan bertemu para tokoh dan cerita yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya. Bangsawan keji dan kuda misteriusnya yang membara, pria yang terobsesi pada gigi tunangannya, dokter yang menghipnosis pasiennya yang berada di ambang kematian, seekor gagak yang menjumpai seorang kekasih yang sedang putus asa, atau ... sudah siapkah kau bertemu sang mumi, yang terjaga untuk mengisahkan padamu sejarah masa lampau yang menggemparkan?
Membaca karya pengarang misteri-horor-klasik legendaris dunia, Edgar Allan Poe, bersiaplah tenggelam dalam imajinasinya yang lair. Kumpulan puisi dan cerita pendek yang tidak boleh dilewatkan para pencinta misteri sejati.

228 pages, Paperback

Published July 1, 2017

3 people are currently reading
33 people want to read

About the author

Edgar Allan Poe

9,797 books28.7k followers
The name Poe brings to mind images of murderers and madmen, premature burials, and mysterious women who return from the dead. His works have been in print since 1827 and include such literary classics as The Tell-Tale Heart, The Raven, and The Fall of the House of Usher. This versatile writer’s oeuvre includes short stories, poetry, a novel, a textbook, a book of scientific theory, and hundreds of essays and book reviews. He is widely acknowledged as the inventor of the modern detective story and an innovator in the science fiction genre, but he made his living as America’s first great literary critic and theoretician. Poe’s reputation today rests primarily on his tales of terror as well as on his haunting lyric poetry.

Just as the bizarre characters in Poe’s stories have captured the public imagination so too has Poe himself. He is seen as a morbid, mysterious figure lurking in the shadows of moonlit cemeteries or crumbling castles. This is the Poe of legend. But much of what we know about Poe is wrong, the product of a biography written by one of his enemies in an attempt to defame the author’s name.

The real Poe was born to traveling actors in Boston on January 19, 1809. Edgar was the second of three children. His other brother William Henry Leonard Poe would also become a poet before his early death, and Poe’s sister Rosalie Poe would grow up to teach penmanship at a Richmond girls’ school. Within three years of Poe’s birth both of his parents had died, and he was taken in by the wealthy tobacco merchant John Allan and his wife Frances Valentine Allan in Richmond, Virginia while Poe’s siblings went to live with other families. Mr. Allan would rear Poe to be a businessman and a Virginia gentleman, but Poe had dreams of being a writer in emulation of his childhood hero the British poet Lord Byron. Early poetic verses found written in a young Poe’s handwriting on the backs of Allan’s ledger sheets reveal how little interest Poe had in the tobacco business.

For more information, please see http://en.wikipedia.org/wiki/Edgar_al...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (22%)
4 stars
23 (37%)
3 stars
21 (34%)
2 stars
2 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Aravena.
677 reviews36 followers
October 29, 2017
Ah, menutup bulan Oktober memang pas dengan baca-baca karyanya EAP, salah satu empu termasyhur cerita horor dan misteri....

Ada 13 cerita di sini yang diurutkan berdasarkan kronologi penulisan, dari 1832-1849. Aura horor gotik sangat terasa dengan taburan elemen seperti kejatuhan aristokrat disfungsional, mayat, pekuburan, kematian, latar kastel kerajaan, dan tokoh utama cowok yang ditinggal mati kekasihnya. Intinya, bukan jenis cerita yang pas dibaca kalau mau menceriakan mood. Namun, di antologi ini EAP juga menunjukkan keserbabisaannya: ada juga cerita yang lebih berasa komedi ketimbang horor (Percakapan dengan Mumi,Sistem Dr. Tarr dan Profesor Fether), maupun kisah petualangan pencarian harta karun yang sarat kriptografi (Kumbang Emas).

Sejujurnya, saya kurang nyaman membaca sebagian besar cerita di paruh pertama buku ini. Cerpen EAP yang dari tahun 1930-an disampaikan dengan penuh kosa kata 'muluk', tumpukan majas, racauan ngalor ngidul narator.... dan intinya, ndak sesuai selera saya. Gawatnya lagi, bahasa EAP yang penuh kiasan dan 'bersajak' ini tergolong sangat sulit dialihbahasakan. Di sini, terjemahannya kadang terasa terlalu harfiah dan rentan 'terpeleset' secara makna karena penerjemahannya kata per kata, tanpa mempertimbangkan kohesi dengan kata lainnya dalam satu kalimat/kalimat lainnya dalam satu paragraf (msl. ada penggunaan kata 'betray' yang hanya diterjemahkan 'mengkhianati', padahal secara konteks maknanya lebih tepat 'membuat belangnya kelihatan'). Begitulah, banyak makna yang tersamarkan atau malah hilang sama sekali di beberapa cerpen di awal, sehingga saya terpaksa cari sendiri versi aslinya supaya benar-benar bisa meresapi ceritanya.

(*terlepas dari itu, saya sebenarnya masih bisa menoleransi. Banyaknya catatan kaki dari penerjemah yang menjelaskan tiap istilah/tokoh/filosofi yang disebut sekilas dalam cerita juga patut diapresiasi, sangat membantu bagi saya yang tidak familiar dengan sebagian besar hal yang direferensikan tersebut, hahaha).

Bagi saya yang cenderung mementingkan 'fungsi' ketimbang 'estetika', paruh kedua buku ini terasa lebih enak dibaca. Tidak begitu berlemak dan bertele-tele, sehingga kekuatan plot dan konsep ceritanya lebih jelas terasa. Lebih sedikit 'jebakan Batman' juga untuk penerjemahnya. Dengan kata lain, saya tidak merasa perlu cari-cari lagi versi aslinya untuk cerita-cerita ini, haha.

Semua cerita di sini (selain The Raven) baru pertama kali saya baca, dan setelah selesai saya pun jadi makin tertarik ingin baca semua cerita EAP (*terlepas dari gaya bahasa 'Narator Meracau'-nya yang kadang muncul dan membuat saya ingin jedot-jedotin kepala ke tembok). Highlight antologi ini versi saya:

Dokter Tarr dan Profesor Fether: sebenarnya saya sudah bisa menebak alurnya dari beberapa halaman pertama saja, tapi saya tetap suka ceritanya. Cerita yang kocak; siapa bilang horor dan komedi tidak bisa menyatu?

Hop-Frog: cerita dengan akhir yang brutal, tapi juga amat memuaskan. Ini cerita kedua EAP tentang 'pembalasan' yang berkesan bagi saya, setelah The Cask of Amontillado yang dulu pernah saya baca di antologinya yang lain.

Berenice dan Morella: sama-sama dinarasikan oleh laki-laki yang ditinggal mati istrinya, dan sama-sama punya konsep cerita/twist paling mengerikan dari semua cerita di buku ini.

Sang Gagak: salah satu dari tiga puisi dalam antologi ini, dan sepertinya juga puisi EAP yang paling populer. Berkisah tentang (lagi-lagi) seorang laki-laki yang baru saja ditinggal sang pujaan hati (*sumpah, ini orang kayanya terobsesi banget dengan tema ini). Imej burung gagak yang berkaok-kaok seperti kakaktua sebenarnya terasa agak konyol di benak saya, tapi saya suka tema dan pesannya. Untuk puisi-puisi di antologi ini, terjemahannya cukup bagus.
Profile Image for Lidya.
126 reviews10 followers
January 29, 2018
Other than the short stories, I don't think I'm amused by the poems. I like the talking to mummy story, it shows the roots of scifi genre.
Profile Image for Zah.
67 reviews6 followers
October 27, 2021
Paling suka Percakapan dengan Mumi (1845)
Profile Image for Haris Quds.
52 reviews55 followers
March 4, 2018
Hmm, yah gak diragukan sih, karya Poe gitu lho.
Bagusnya buku ini adalah, penyusunan karya-karyanya diurut berdasarkan tahun dibuatnya karya tersebut, sehingga bisa dilacak bagaimana perkembangan gaya penulisan Poe dari karya ke karya lain.
Profile Image for Miss Amelie.
291 reviews8 followers
September 5, 2020
Beberapa cerita pendek di buku ini sudah pernah ku baca di Kisah-kisah Tengah Malam, seperti Some Words With Mummy dan Hop Frog. Dibandingkan dengan cerpen yang pernah ku baca, beberapa judul dalam buku ini lebih menyeramkan. Seperti Metzengerstein, tentang konflik antar keluarga bangsawan yang berakhir tragis. Atau Berenice yang akhir ceritanya membuat perut mual. Morella juga sama seperti Berenice, namun aku perlu membacanya berulang kali untuk memahami apa yang dilakukan Morella sebelum kematiannya.

Bicara soal perut mual, The Facts of M. Valdemar’s Case juga menimbulkan efek serupa. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran si narator saat dia hendak melakukan eksperimen itu. Terkadang aku berpikir, apa yang menginspirasi Edgar Allan Poe saat dia menulis? Mengapa dia sering menulis dari sudut pandang lelaki yang hilang akal atau obsesif?

Pertanyaan yang sama juga muncul saat membaca puisi berjudul Anabel Lee. Saat membaca Oval Portrait, Berenice dan Morella, aku tidak menyadari hal itu, namun setelah membaca Anabel Lee, aku jadi memikirkannya. Kenapa Edgar Allan Poe suka sekali menulis tentang kematian seorang wanita? Apa Edgar Allan Poe pernah mengalami kehilangan yang sangat mendalam?

Aku menangkap kesan itu saat membaca puisi The Raven. Kesedihannya terhadap kematian Lenore sangat kuat. Aku seolah menjadi ‘gagak’ yang mendatangi Edgar, berusaha ‘menghiburnya’ dengan cara yang mungkin aneh bagi orang lain. Puisi The Raven selalu meninggalkan kesan yang kuat setiap kali aku membacanya. Aku membaca versi originalnya tahun 2018, kemudian membaca versi terjemahannya tahun ini dan aku selalu mendapat kesan yang sama. Pendapatku terhadap The Raven tidak pernah berubah.

Selain The Raven, ada puisi lain berjudul The Bells. Puisi ini mengeksplor variasi suara lonceng dalam situasi yang berbeda. Dalam situasi tertentu, lonceng bisa terdengar sangat mengerikan seperti mengumumkan kematian. Namun dalam situasi lain, lonceng bisa menjadi pertanda hari bahagia. Puisi The Bells ini merupakan bukti kejeniusan dan kekreatifan Edgar Allan Poe.

Beberapa kisah lainnya, seperti The Gold Bug dan King Pest, rasanya kurang cocok dikategorikan sebagai cerita horor. King Pest ini lebih cocok dikategorikan sebagai komedi. Sementara The Gold Bug lebih terasa seperti kisah petualangan.

Untuk The System of Dr. Tarr and Professor Fether, mungkin bisa disebut horor. Apalagi dengan plot twist luar biasa yang membuat pembaca ternganga saat mencapai bagian akhirnya. Lalu, The Man in the Crowd, menurutku seperti eksperimen pribadi Poe. Sadar atau tidak, kita seperti belajar cara menguntit orang.

Selain Kisah-kisah Tengah Malam, The Raven: Stories & Poem bisa menjadi pilihan jika kalian ingin mencoba mengeksplor karya Edgar Allan Poe. Kalian tidak hanya mendapatkan cerita-cerita horor terbaik, tapi juga puisi-puisi terindah buatan sang maestro horor.
Profile Image for Lilian.
169 reviews11 followers
March 23, 2021
antologi ini terdiri dari 13 tulisan poe yg dipublikasikan dalam rentang 1832 - 1849. aku yakin 13 tulisan ini, baik cerpen maupun puisinya, dipilih dengan pertimbangan matang dan diterjemahkan seoptimal mungkin. aura kelam, gotik, janggal, dan misterius khas poe dijaga sangat baik.

salah satu yg ku nikmati saat membaca antologi adalah variasi, baik variasi plot, tokoh, sampai gaya penulisan. di sini, nampak jelas sekali perubahan gaya penulisan poe. Metzengerstein (1832) adalah cerpen poe yg pertama dipublikasikan saat usianya masih 23 tahun. dalam cerpen itu, kalimat-kalimat poe penuh kata yg 'ndakik-ndakik'. sampai beberapa tulisan selanjutnya, poe masih gemar dengan kata-kata 'artsy'. lalu pada Lelaki di Keramaian (1840), poe mulai menulis dengan bahasa yg lebih mudah dipahami meski plot ceritanya tetap tidak mudah dipahami.

beberapa tulisan poe di sini yg sangat ku sukai adalah Berenice (1835), Morella (1835), Lelaki di Keramaian (1840), Kumbang Emas (1843), dan Hop-Frog (1849). aku suka cara poe mengeksplorasi tema-tema klenik, misteri harta karun, penyakit mental, dan bahkan alegori politik. meski jujur, Berenice dan Morella menyisakan perasaan janggal yg baru pergi setelah lewat hari. sangat mencekam.

Profile Image for Rio Pale.
Author 3 books2 followers
February 4, 2021
Saya baru paham kenapa Poe, selain disebut pelopor genre horor & suspense, beliau juga disebut pelopor genre misteri/detektif. Cerita Kumbang Emas (dalam buku ini) mewakili julukan itu. Cerita dan puisi lainnya masih seperti cerita-cerita lainnya yang juga saya baca: gelap dan kelam. Sebetulnya Poe mungkin bisa saja menuturkan dengan nada yang lain. Cerita Berenice misalnya. Berenice dituturkan dengan sangat gelap dan muram. Atau pada puisi Lonceng-lonceng, seolah sebuah panggilan bagi diri Poe untuk memasukkan unsur keseraman dan kematian di dalamnya.

Poe selalu bisa membuat saya berdecak kagum dalam pembangunan karakter dan jalan ceritanya. Meskipun saya lebih suka terjemah Maggie Tiojakin dalam Kisah-kisah Tengah Malam, The Raven versi Jia Effendie juga tetap bagus.
Profile Image for chyntia putri.
53 reviews2 followers
July 17, 2020
aku tidak benar-benar menyukai gaya penulisannya. banyak diksi yang terasa sangat dipaksakan, belum lagi catatan kaki yang membingungkan. mungkin karena sudah terlalu banyak membaca review yang menuliskan bahwa The Raven adalah salah satu novel terbaik Poe.

penurunan imajinasi memang kerap terjadi di novel terjemahan. sayang sekali, padahal ini adalah novel perdana aku membaca karya Poe. pilihannya sekarang memang harus membaca versi dalam bahasa originalnya. aku yakin Poe memang semenakjubkan itu.
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,424 reviews291 followers
April 27, 2025
Kumcer author ini buku ketiga yg aku baca bulan ini. Buku ini ada puisi 3 judul yaitu "The Raven 🐦‍⬛", "Annabelle Lee", dan "The Bells".

Untuk cerita yg belum kubaca, lumayan horror tapi gak se-wadidaw spt baca buku pertama. Yg lumayan cuma "The Gold Bug".

Pengen baca lagi sih buku author lainnya, nanti aja kalau ada terjemahannya yg lain. Belum kapok.
Profile Image for Tael.
262 reviews4 followers
December 4, 2021
Terdiri dari beberapa kisah yang cukup menarik dan buat gue berhah-hah ria. Sayangnya, kekurangan buku ini adalah terjemahannya yang kurang nyaman untuk dibaca, gue udah ngulang beberapa kalipun masih tetep aja kerasa bingung
Profile Image for Rizki Wulandari.
125 reviews3 followers
January 18, 2020
Ada 10 cerita dan 3 puisi di buku ini. Aku kurang bisa menikmati beberapa judul di bagian awal. Entah karena alur cerita yang terlalu absurd atau kata-kata yang digunakan berada di luar jangkauan pemahamanku. Membacanya saat itu membuatku berpikir keras seperti orang yang sedang belajar kimia/fisika di kelas. Bukan seperti menonton film di bioskop.

Syukurlah, ketika membaca 7 judul terakhir di buku ini (setelah sekitar sebulanan berhenti sejenak membacanya), aku mulai bisa menikmati dan pikiranku tidak terasa "berat" bersentuhan dengan materi cerita.

Selanjutnya, ketika membaca kisah-kisah yang Poe tulis ini, entah mengapa aku selalu berpikiran buruk. "Kejadian buruk apalagi yang akan menimpa si narator/tokoh utamnya, ya?" Padahal ternyata tidak ada kejadian buruk seperti itu yang menjadi ending/penutup kisahnya.

Intinya Poe sukses membangun atmosfer suram/kelam yang menular kepada pembacanya (sepertiku).
Profile Image for Ansi Widya.
78 reviews
September 25, 2017
Not as scary and gory as the previous stories collection but I love it all the same. The way he built the stories and introduced the characters in most of the stories in this book are slightly more complicated in my opinion. But, hey, I got to meet Annabel Lee!
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.