Ah, menutup bulan Oktober memang pas dengan baca-baca karyanya EAP, salah satu empu termasyhur cerita horor dan misteri....
Ada 13 cerita di sini yang diurutkan berdasarkan kronologi penulisan, dari 1832-1849. Aura horor gotik sangat terasa dengan taburan elemen seperti kejatuhan aristokrat disfungsional, mayat, pekuburan, kematian, latar kastel kerajaan, dan tokoh utama cowok yang ditinggal mati kekasihnya. Intinya, bukan jenis cerita yang pas dibaca kalau mau menceriakan mood. Namun, di antologi ini EAP juga menunjukkan keserbabisaannya: ada juga cerita yang lebih berasa komedi ketimbang horor (Percakapan dengan Mumi,Sistem Dr. Tarr dan Profesor Fether), maupun kisah petualangan pencarian harta karun yang sarat kriptografi (Kumbang Emas).
Sejujurnya, saya kurang nyaman membaca sebagian besar cerita di paruh pertama buku ini. Cerpen EAP yang dari tahun 1930-an disampaikan dengan penuh kosa kata 'muluk', tumpukan majas, racauan ngalor ngidul narator.... dan intinya, ndak sesuai selera saya. Gawatnya lagi, bahasa EAP yang penuh kiasan dan 'bersajak' ini tergolong sangat sulit dialihbahasakan. Di sini, terjemahannya kadang terasa terlalu harfiah dan rentan 'terpeleset' secara makna karena penerjemahannya kata per kata, tanpa mempertimbangkan kohesi dengan kata lainnya dalam satu kalimat/kalimat lainnya dalam satu paragraf (msl. ada penggunaan kata 'betray' yang hanya diterjemahkan 'mengkhianati', padahal secara konteks maknanya lebih tepat 'membuat belangnya kelihatan'). Begitulah, banyak makna yang tersamarkan atau malah hilang sama sekali di beberapa cerpen di awal, sehingga saya terpaksa cari sendiri versi aslinya supaya benar-benar bisa meresapi ceritanya.
(*terlepas dari itu, saya sebenarnya masih bisa menoleransi. Banyaknya catatan kaki dari penerjemah yang menjelaskan tiap istilah/tokoh/filosofi yang disebut sekilas dalam cerita juga patut diapresiasi, sangat membantu bagi saya yang tidak familiar dengan sebagian besar hal yang direferensikan tersebut, hahaha).
Bagi saya yang cenderung mementingkan 'fungsi' ketimbang 'estetika', paruh kedua buku ini terasa lebih enak dibaca. Tidak begitu berlemak dan bertele-tele, sehingga kekuatan plot dan konsep ceritanya lebih jelas terasa. Lebih sedikit 'jebakan Batman' juga untuk penerjemahnya. Dengan kata lain, saya tidak merasa perlu cari-cari lagi versi aslinya untuk cerita-cerita ini, haha.
Semua cerita di sini (selain The Raven) baru pertama kali saya baca, dan setelah selesai saya pun jadi makin tertarik ingin baca semua cerita EAP (*terlepas dari gaya bahasa 'Narator Meracau'-nya yang kadang muncul dan membuat saya ingin jedot-jedotin kepala ke tembok). Highlight antologi ini versi saya:
Dokter Tarr dan Profesor Fether: sebenarnya saya sudah bisa menebak alurnya dari beberapa halaman pertama saja, tapi saya tetap suka ceritanya. Cerita yang kocak; siapa bilang horor dan komedi tidak bisa menyatu?
Hop-Frog: cerita dengan akhir yang brutal, tapi juga amat memuaskan. Ini cerita kedua EAP tentang 'pembalasan' yang berkesan bagi saya, setelah The Cask of Amontillado yang dulu pernah saya baca di antologinya yang lain.
Berenice dan Morella: sama-sama dinarasikan oleh laki-laki yang ditinggal mati istrinya, dan sama-sama punya konsep cerita/twist paling mengerikan dari semua cerita di buku ini.
Sang Gagak: salah satu dari tiga puisi dalam antologi ini, dan sepertinya juga puisi EAP yang paling populer. Berkisah tentang (lagi-lagi) seorang laki-laki yang baru saja ditinggal sang pujaan hati (*sumpah, ini orang kayanya terobsesi banget dengan tema ini). Imej burung gagak yang berkaok-kaok seperti kakaktua sebenarnya terasa agak konyol di benak saya, tapi saya suka tema dan pesannya. Untuk puisi-puisi di antologi ini, terjemahannya cukup bagus.