Jump to ratings and reviews
Rate this book

La Barka

Rate this book
Novel La Barka ini mengangkat berbagai permasalahan wanita ke permukaan, seperti perceraian, hidup menjanda, mendidik dan memelihara anak seorang diri, berpacaran, dan keraguan terhadap lembaga perkawinan
Secara bertahap, novel ini menyajikan keadaan wanita dan sikap pria yang tidak saling menghargai. Akibatnya, mereka tidak saling mengisi dan saling menghargai. Pria tampak dominan sebagai makhluk yang egois, kaku, dan tidak menghargai sesuai dengan kodrat dan potensi wanita.
Aneka ragamnya karakter tokoh novel ini (Monique, Francine, Sophie, Yvonne, Cristine, dan Rina) membuat novel ini menarik. Selain itu, yang tak kalah menarik adalah latar Prancis yang disajikan pengarang. Dengan membaca novel ini, seakan-akan pembaca sedang berkelana didaerah pegunungan dan pedesaan Prancis Selatan.

Penerbit Cetakan Pertama : Jakarta Pustaka Jaya

249 pages, Paperback

First published January 1, 1975

32 people are currently reading
299 people want to read

About the author

Nh. Dini

51 books237 followers
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.

Bibliography:
* Padang Ilalang di Belakang Rumah
* Dari Parangakik ke Kampuchea
* Sebuah Lorong di Kotaku
* Jepun Negerinya Hiroko
* Langit dan Bumi Sahabat Kami
* Namaku Hiroko
* Tirai Menurun
* Pertemuan Dua Hati
* Sekayu
* Pada Sebuah Kapal
* Kemayoran
* Keberangkatan
* Kuncup Berseri
* Dari Fontenay Ke Magallianes
* La Grande Borne

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
53 (14%)
4 stars
99 (27%)
3 stars
150 (41%)
2 stars
50 (13%)
1 star
10 (2%)
Displaying 1 - 30 of 69 reviews
Profile Image for Marina.
2,038 reviews359 followers
November 9, 2016
** Books 291 - 2016 **

2 dari 5 bintang!

Baru kali ini saya mati kebosanan membaca karya Nh. Dini. Ceritanya menjemukan tetapi yang jelas saya menangkap buku ini mengupas tentang kesedihan para wanita yang hidup di La Barka dan sekitarnya. Penggambaran suasana Perancis selatannya terasa sangat hidup sekali seakan-akan penulis pernah tinggal disana :)

*Asikk berkurang satu lagi buntelan buku. :3
Profile Image for Leonart Maruli.
285 reviews6 followers
May 22, 2021
Novel ini ceritanya liat sekali. Saya sampai geleng kepala gimana caranya Nh Dini bisa sesabar itu dalam menulis ratusan halaman...jika dibandingkan dengan penulis perempuan Indonesia kontemporer seperti Djenar Maesa Ayu atau Ratih Kumala, Bu Nh Dini jauh menang kemana-mana soal kualitasnya...kalau orang bule baca novel ini dalam Bahasa Inggris pasti banyak yang suka, penokohannya bagus banget, beda dengan penulis seperti Djenar Maesa Ayu atau Ratih Kumala yang tulisannya simplistik (penggemar Djenar atau Ratih pasti KO kalau disuruh baca novel seliat ini)...saya cuma memberikan 3 bintang karena ya itu, novel ini liat sekali tulisannya, sangat mirip dengan kebanyakan novel-novel Eropa atau Amerika Serikat yang kualitas sastranya kelas berat...

Salam,

Leonart, 22 Mei 2021
Profile Image for Kimi.
402 reviews30 followers
July 29, 2010
Buku La Barka berkisah tentang wanita Jawa bernama Rina yang tinggal di Perancis. La Barka ditulis dalam bentuk buku harian. Seolah-olah kita membaca buku harian Rina yang sebenarnya ditujukan untuk kekasihnya (yang hingga akhir cerita tidak disebutkan namanya).

Dalam rangka menunggu selesainya proses perceraian dirinya dengan suaminya, Rina memutuskan untuk tinggal sementara waktu di rumah sahabat baiknya, Monique, di daerah Perancis Selatan. Di rumah itulah, Rina menuliskan catatan hariannya mengenai orang-orang yang ia temui di rumah itu. Ada Monique, Francine, Sophie, Yvonne, dan Christine. Masing-masing dari nama tersebut dibuat menjadi judul bab tersendiri.

Kelima nama perempuan tersebut digambarkan Rina memiliki karakter yang berbeda. Monique yang sangat ramah namun naif, Francine perempuan ulet dan mandiri, Sophie yang menggunakan keelokan tubuhnya untuk mengambil keuntungan pribadi dari pria-pria, Yvonne yang licik, dan Christine yang berwawasan luas dan terbuka.

Tak hanya bertemu dengan wanita-wanita tersebut, Rina juga bertemu dengan dua pria yang mendekatinya. Ada Rene yang setelah berpisah dengan Francine mengajak Rina untuk keluar malam dan ada Robert, anak pertama Christine, yang tanpa segan menunjukkan ketertarikannya kepada Rina.

Ketika membaca buku ini, saya tidak terlalu bergairah. Padahal saya memiliki pengharapan yang tinggi terhadap Nh. Dini. Maklum, dari kabar-kabar yang saya dengar, Nh. Dini adalah penulis bagus dan karya-karyanya patut diperhitungkan. Namun, ketika saya dalam momen membaca buku ini, saya merasa biasa saja. Tidak ada yang spesial dari segi cerita ataupun plot. Kejamkah saya kalau saya bilang La Barka datar dan hambar? Well, komentar subjektif diperlukan dalam menulis riviu kan? :-D

Terlepas dari cerita yang datar itu, harus saya akui Nh. Dini berani mengangkat topik seorang wanita Jawa Katolik yang tidak lagi ke gereja, namun mengaku masih percaya Tuhan dan hari akhir. Maksud saya, isu-isu seperti itu tentu masih tabu untuk dibahas pada tahun 1970-an (La Barka pertama kali terbit tahun 1975 dan diterbitkan ulang oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada Pebruari 2010), kan?

Dua bintang yang saya berikan untuk buku ini murni dari pendapat saya setelah membaca La Barka. Tidak ada maksud untuk menilai karya Nh. Dini sebagai karya buruk, tetapi... I'm just not that into it.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
October 22, 2014
Cerita tentang seorang perempuan Indonesia bernama Rina yang tinggal di Perancis. Setelah kegagalan rumah tangga nya dengan lelaki berkebangsaan Perancis, Rina memutuskan untuk tinggal bersama temannya disebuah pedesaan di Perancis.

Bersama anaknya, Rina melewatkan waktu dengan bergaul dengan teman dan kenalan Monique pemilik rumah. Silih berganti teman yang singgah La Barka, rumah didesa itu. Rina mencatat semua pengalamannya didalam buku hariannya.

Terdapat beberapa kemiripan cerita dengan kisah di buku lainnya tentu dengan perbedaan disana sini. Antara lain kisah perceraian wanita Indonesia dengan pria Perancis, keputusan menyepi dan kisah cinta dengan lelaki lain yang berakhir tanpa kabar berita.

Pilihan kata tetap menjadi hal yang menarik di buku ini. Detil penggambaran setting cerita membuat kita membayangkan suasana yang digambarkan.
Profile Image for Fhia.
497 reviews18 followers
July 13, 2014
Selalu yang aku suka dari buku-buku NH.Dini adalah penuturannya yang sederhana namun detail dalam setiap kisah. Menggunakan sudut pandang orang pertama, ditambah alur yang dibuat seperti menulis diari bikin aku seolah ikut menjadi 'aku'.
Benang merah dari beberapa karya NH Dini yang aku baca adalah, karakter tokoh utama yang sederhana, kalem, sedikit introvert, dengan tipikal pengamat.
Aku mesti berterimakasih deh sama guru B.Indonesia SMP yg pernah mewajibkan membaca karangan NH.Dini, krn sampai sekarang buku karangan"nya masih suka aku beli tanpa pikir panjang, karena aku tau aku akan suka.
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
September 20, 2018
Ketika melewati rak tempat karya Nh Dini berada, saya baru sadar belum membaca buku ini.
Niatnya dibaca selama akhir pekan, plus membuat catatan buku ini berikitbuku eyang yang terbaru.
Tapi, begitu menemukan beberapa tempelan mahasiswa berisi point=point dalam kisah, semangat saya untuk membuat catatan langsung bubar jalan. rasanay sekana diarahkan, celakanya banyak sekali post-it bertebaran dalam buku ini. Mungkin si peminjam lupa mencopotnya. Dilain sisi, saya juga gembira, karena masih ada yang mau dan menyukai karya penulis lokal. Sepertinya buku ini dibaca untuk menyelsaikan salah satu tugas kuliah.

Seorang wanita dengan satu anak bercerai dari suami Perancisnya, lalu menepi di rumah sahabatnya di Prancis. Rumah nyaman tersebut dikenal dengan La Barka. Penggamabaran penulis sungguh luar biasa, saya seakan berada di sana. rasanya saya juga kenal dengan beberapa nama yang disebutkan.

Buku ini memuat peristiwa yang terjadi di La Barka selama tokoh utama kisah ini, Rina berada di sana. Berbagai konflik dan peristiwa terpapar dengan jelas. Menarik!
Profile Image for Rei.
366 reviews40 followers
March 27, 2019

Dinarasikan dalam bentuk buku harian yang ditulis Rina, menurutku La Barka tak lain merupakan hasil pengamatan Bu Dini terhadap perangai, tingkah laku dan kebiasaan orang Barat. Dalam kisah ini juga digambarkan berbagai sifat manusia yang dapat terbayangkan. Namun tetap dengan ciri khas Bu Dini, Rina sang tokoh utama walaupun terkesan pendiam dan agak pemalu, tetapi berperangai tegas, keras kepala dengan jalan pikiran yang terbuka. Di sana-sini tetap terselip protesnya akan kedudukan wanita yang selalu dianggap lebih rendah daripada pria. Dalam beberapa hal, seperti seks, tulisan Bu Dini cukup mengejutkanku mengingat tahun buku ini ditulis dan diterbitkan.⁣
Profile Image for Stella_bee.
496 reviews15 followers
March 24, 2023
Masalah selera aja ini sepertinya.. Kebetulan aku kurang cocok dengan gaya penceritaannya pun tidak bisa bersimpati pada si tokoh utama..
Mungkin kapan2 akan mencoba baca karya beliau yang lain...
Profile Image for Mikan.
7 reviews1 follower
January 10, 2015
Dulu, duluuuu banget sampe gue lupa kapan, lagi bebongkar lemari buku-buku lama nyokap, terus nemu ini. Binding-nya udah pada lepas, kertasnya coklat, penuh debu, sampul plastik kaku-nya aja udah kuning. Gue juga lupa nyokap bilang apa soal buku ini, yang jelas, buku itu yang pertama kali gue baca. Debu-debunya dilap-in dulu, tapi tetep aja gue baca sambil bersin-bersin dan gatel idung. Tapi tetep gue baca sampe selesai.

I think I was hooked. Can't really remember anymore, my memory is as weak as the fog under the first sunshine. Tapi kayaknya sih I was really hooked, soalnya pas nemu buku yang sama dengan edisi sampul baru dan (obviously) kertas yang masih baru dan tanpa debu, I took it without second thought. And I re-read it from cover-to-cover. And I can firmly say that I loved it.

Terkadang gue baca sambil ber-ooooh and aaahh sama pemilihan kata-kata dan gaya menulis jaman itu. Coba, masih aku-engkau. Saya-anda. Deskripsinya juga... a la seseorang yang belum pernah melihat dunia, perempuan dengan harapan-harapan dan kekecewaan-kekecewaannya, terkadang masih melihat segala sesuatu dengan hitam dan putih, padahal dia sudah di tahapan hidup di mana harusnya dia sudah mengenal dunia. Lalu di tahapan berikutnya, Rina paham kalau dunia tidak hanya hitam dan putih, tidak lagi naif, tapi cara dia mendeskripsikan sesuatu masih begitu. Tapi mungkin jaman waktu ditulis, gaya menulisnya emang kayak gitu ya. Still, I like it.

Ceritanya memperlihatkan interaksi Rina sama beberapa temen-temennya di Perancis. Meski Rina udah menikah sama pria Perancis, tinggal di Vietnam, temenan sama beberapa orang Perancis, dan sebagainya, gue ngerasa, jauh di dalam, Rina masihlah Rina yang sederhana, Rina yang... sangat pribumi, perempuan jawa banget. Karena pandangannya dia tentang teman-temannya, tentang bagaimana cara mereka hidup, bahkan pandangannya tentang kehidupannya sendiri dan cara dia membuat keputusan masih dipengaruhi sama kepribumiannya (is that even a word???? Hang on is this even a coherent review??? The more I wrote, the more it's only a bunch of blabbers orz). I was hooked dengan deskripsi La Barka dengan kamar-kamarnya, kebunnya, udaranya, sedekat apa ke pantai, juga suasana desanya, trus gue baru sadar, mungkin impian gue untuk suatu saat nanti menghabiskan masa tua di rumah kayak gini, terpengaruh dari waktu baca buku ini pertama kali dulu.

Tapi meski buku ini pertama diterbitkan tahun 1975 (damn nyokap gue kawin aja belon) dan obviously ditulis dalam setting timeline tahun segituan dan dengan deskripsi polos a la gadis pribumi sederhana, ceritanya ga sepolos, senaif, dan se-hitam putih itu. Buku ini meng-capture skandal (iyakah skandal??? Yah gitudeh pokoknya) (kamu niat ngeripiu gak sih) tentang siapa ama siapa, tentang gimana sepasang suami istri yang bahkan belum cerai udah sangat terbuka kencan sana sini ama yang lain, flirting sana sini ama yang lain, tokoh lainnya, si istri punya selingkuhan tapi pas abis cerai suaminya langsung kawin lagi dan si istri baru udah melendung gede, si mantan istri shock... sangat opera sabun. Sangat sinetron. Tapi kok gue suka....

Agak kurang suka sih sama gimana cara anaknya Rina di-deskrip. Bahkan gue gatau nama anaknya siapa. Rina me-refer si anak dengan 'anakku' sepanjang cerita dan yang lain juga dengan 'anakmu' instead of a name. Dia gak pernah dapet line dialog. Seolah si anak ini bener-bener cuma alat dalam cerita sebagai pelengkap konflik. Mungkin karena fokusnya dunia orang-orang dewasa, sih. Tapi well.

Dan masih agak-agak awesome gimana Rina bisa temenan sama Christine, dan ternyata salah satu yang paling nyambung selain Monique, yang obviously pasti udah bertahun-tahun lebih tua dari Rina karena anaknya yang paling gede aja yang baru lulus kuliah, cuma beda 10 tahun sama Rina. Hidup itu ya memang. We can never know what kind of people we would encounter and bagaimana randomnya encounter itu terjadi sampai bisa berkenalan dengan orang-orang random di negeri yang jauh. But it happened. Dan mereka membawa pengaruh ke kehidupan kita jauh lebih dalam dibanding yang kita kira.

Udahlah I ship RobertxRina pokoknya. Terus Rina kok agak bego juga sih gabisa moveon. Well iya sih namanya moveon itu tidak semudah yang diucapkan. Kenangan gak bisa ilang begitu aja. Cinta gak bisa dihapuskan gitu aja. Tapi tetep aja gemes.....apalagi dengan open-ending kayak gitu makin gemes juga I DEMAND A DEFINITE RESOLUTION ON ROBERT AND RINA tapi ya namanya hidup ya, gaada yang namanya actual ending. Actual ending-nya ya kematian. TAPIKANTAPIKANTAPIKANGUEGEMES---

Ah udahlah ini review makin bawah makin gaberes =w=
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
October 24, 2020
Meskipun tema kebebasan wanita khas NH Dini sangat progresif (bahkan hingga saat ini), namun pengemasan Dini dalam novel ini terasa hambar, bertempo lambat, dan cenderung lebih mirip kumpulan cerita dibanding novel yang koheren. Saya tetap tergelitik dan turut tenggelam dalam satu dua kisah percintaan perempuan Prancis selatan yang selalu berliku, namun tidak sampai menyentuh sanubari. Kebanyakan cerita tidak berlanjut konsekuensinya di bab-bab berikutnya, tidak ada perkembangan karakter yang tampak. Baru di bagian akhir ada plot yang berarti, namun sisanya tidak "nendang" sama sekali. Bintang 3/5, bagi saya biasa saja.
Profile Image for Ria.
113 reviews
May 29, 2014
Bersama nasib kita berterjunan dalam lembah
mengetuknya dan membenahinya
Dunia cukup indah di sini, kata orang kemarin malam
kita sama2 mengangguk, karena kitapun lebih tahu.


Memang tidak sebagus salah satu novelnya yang lain yang pernah saya baca, Pada Sebuah Kapal. Tapi saya sangat menikmati alur dan bahasa penceritaan novel ini. Kalimat demi kalimatnya sangat terususun rapi, membuat saya menikmati membaca buku ini. Memang alurnya agak lambat tapi tidak membuat saya bosan, karena ceritanya memang membuat saya penasaran.

Untuk ceritanya, saya suka. Manis, dan memberikan kesan elegan. Kisah tentang seorang perempuan berwarga negara Indonesia yang menunggu proses peceraiannya dengan berlibur di sebuah desa di Prancis. Di sebuah rumah yang dinamakan La Barka. Ah, kisah selanjutnya silahkan dibaca sendiri deh heheh...


-setiap seseorang mengambil keputusan untuk membebaskan dirinya dari sebuah ikatan, pastilah selalu ada jeda dalam sebuah ruang. kosong-
Profile Image for Nenangs.
498 reviews
December 29, 2009
Buku yang menyenangkan.

Disampaikan dengan gaya menulis diary yang ditujukan untuk seseorang, cerita mengalir dengan letupan emosi teredam disana-sini, khas penampilan emosi wanita asia (jawa?) jaman baheula yang meskipun passionate, namun terpaksa/terbiasa meredamnya akibat pendidikan yang diterimanya dan ekspektasi lingkungan.

Perpisahan, perselingkuhan, perhatian, perceraian, dukungan, kepasrahan, ketakpedulian, penghindaran, jatuh cinta, perpisahan, semua berputar tanpa aturan namun berujung pada pencarian kedamaian. Begitulah kesan saya terhadap novel ini.
Profile Image for Yelsa Fahziani.
91 reviews3 followers
November 17, 2014
Cerita yang bagus, sangat dekat dengan kehidupan perempuan pada umumnya, dan gaya penceritaan yang nyaman membuat ingin selalu tenggelam di dalamnya. Tapi ketika cerita ini berakhir, tak ada kesan istimewa yang saya dapatkan. Si tokoh utama juga terasa menyebalkan di akhir-akhir cerita, mungkin karena kenaifannya.
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
March 2, 2015
Entah, ya, apa memang karya-karya klasik itu terasa datar dibaca saat sekarang-sekarang ini. Albert Camus juga sama. Gaya penceritaannya datar. Nggak ada kalimat yang meledak-ledak meski di sana terkandung konflik. Atau, gaya bercerita yang (bagi saya) datar itu memang ciri khas si penulis. Entahlah.
Profile Image for Ritsky.
338 reviews7 followers
Read
June 9, 2015
Memalukan memang, tapi sungguh saya lupa ending cerita buku ini. Seingat saya, gaya tulisnya cukup bisa diikuti dan tidak membosankan. Satu kesan yang saya ingat adalah kehidupan masing-masing wanita ini diwarnai kesedihan.
Profile Image for Adinda Putri.
74 reviews
November 26, 2020
"Lihatlah ke sebelah kanan," kata kawanku tiba-tiba. "Kau lihat rumah persegi panjang dengan latar belakang hutan-hutan cemara?"

Memang aku melihatnya.

"Itulah La Barka!"

- La Barka, hlm 11-12

Menceritakan Rina, tokoh utama berkebangsaan Indonesia yang menikahi seorang pria Prancis yang kemudian berakhir dalam jurang perceraian. Ia memilih untuk menginap di villa kawannya yang bernama Monique, yakni di La Barka atau tepatnya di daerah Prancis Selatan, sebagai ruang tunggunya dalam menunggu proses perceraiannya dengan suaminya. Di La Barka lah, ia menghabiskan liburannya bersama sang buah hati. Dan juga di situlah awal mula ia akan dipertemukan oleh kawan-kawan perempuan Monique dengan karakter yang berbeda-beda; yang lambe turah, yang baik hati, yang berpenampilan menggoda tapi ngeselin, yang manipulatif, dan yang berpikiran terbuka. Tak lupa dengan adanya pria-pria yang terpikat olehnya dan begitu pula sebaliknya. Melalui kesehariannya baik itu di villa La Barka, di jalanan Draguignan, bersenang-senang di pantai, menemani anaknya berenang di kolam renang, menonton film, makan malam di kafe, membuatnya mendalami kehidupan setiap orang yang dikenalnya dan setiap pasangan yang ditemuinya yang nasibnya justru tak jauh berbeda darinya.

Ini adalah karya pertama dari almarhumah N.H. Dini yang saya baca. Awalnya saya sedikit kurang terbiasa dengan penggunaan bahasa dalam novel ini yang terkesan jadul dan sarat akan nuansa "sastra", tapi lama-lama saya pun semakin nyaman dengan gaya penceritaannya yang mengalir nan lugas dan saya terseret dalam alur ceritanya yang menurut saya cukup menarik. Ditulis layaknya buku harian, membuat saya ikut terpikat pada tokoh Rina dengan pola pemikirannya yang apa adanya, praktis, dan realistis. Dari situ saya merasakan adanya banyak kesamaan di antara saya dengan tokoh Rina ini, saya pun berani memvonis bahwa Rina adalah seorang introver.

Penggambaran pedesaan Prancis di sini sangat mendetail seakan saya bisa membayangkan sejuknya pemandangan dan hawa udara di sekitar villa La Barka, mengetahui bahwa pengarangnya sendiri sebelumnya juga menikahi seorang pria Prancis dan pernah diboyong ke sana. Novel ini pada dasarnya melukiskan tentang gambaran lika-liku kehidupan dari sudut pandang para perempuan yang melingkupi cerita dalam novel ini yang penuh akan nilai-nilai moral untuk mendorong kita berpikir kritis dan bijak dalam berkawan, menjalin hubungan, berkeluarga, mendidik anak, dan menghadapi cobaan hidup.

"Bagiku masing-masing dari kita menganut arus hidup sendiri-sendiri. Segalanya tergantung pada pendidikan yang diterima sewaktu kecil dan berbagai pengaruh selanjutnya, nasib atau peruntungan."

-Rina, La Barka (hlm 149)

Profile Image for yunda..
66 reviews2 followers
June 4, 2022
Gamang sebetulnya, antara memberi 3 atau 4 bintang. Karyanya oke, tetapi mengingat tema yang diangkat serta cara membawakannya yang santai, mulus, dan perlahan, rugi kalau hanya memberi 3 bintang.

Gara-gara pembawaan novelnya inilah, saya sempat mengira kalau La Barka akan mudah ditebak alurnya serta berakhir membosankan. Menurut saya, pemilihan latar di Perancis memang terasa ketika menggambarkan budaya, lingkungan sosial, serta keseharian para tokoh meski kurang meninggalkan kesan yang kuat; mungkin karena setting-nya di daerah pedesaan yang cukup jauh dari Paris. Pilihan kalimat dan katanya juga terbilang sederhana, bahasa Perancis yang digunakan pun hanya sebatas pada sebutan atau panggilan; dan ini bisa dihitung.

Faktanya, saya malah bolak-balik memberi anotasi di sana-sini. Banyak bagian yang bisa saya ambil menjadi pembelajaran atau pandangan yang menarik tentang hubungan dua orang manusia dalam urusan pernikahan. Adegan-adegan seputar kehidupan perceraian yang disajikan terasa dekat dan tak asing sebagaimana yang sering dijumpai di media massa maupun cerita langsung dari si pelaku atau lingkungan sekitar, sehingga secara tak langsung saya juga sedikit-sedikit belajar memahami betapa rumitnya bahtera rumah tangga. Terlebih, di masa sekarang, banyak yang terburu menilai bahwa menikah itu enak dari apa yang mereka lihat di dunia maya maupun nyata.

Saya mengapresiasi penulis soal bagaimana dia menjadikan perempuan-perempuan di novel ini sebagai sosok yang punya prinsip, mandiri, dan tegas meskipun tanpa ada sosok laki-laki. Ada laki-laki pun, kalau orangnya bahkan tidak bisa tegas pada diri sendiri, meninggalkan kewajiban mereka, sampai diam-diam berselingkuh, tetap tidak bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin keluarga. Itulah mengapa, seorang istri harus bisa berani dan bijak mengambil keputusan di dalam kondisi yang 'harus' menuruti suaminya. Perempuan berhak memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi haknya, tentu dengan catatan mereka sudah menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya.

Memang, sudah seharusnya sepasang suami-istri untuk saling menaruh rasa percaya satu sama lain, apalagi dalam kondisi berjauhan. Namun, jika sudah ada fakta yang jelas di depan mata bahwa pasangan kita merusak kepercayaan itu, kita harus menggunakan akal sehat untuk menilai keadaan dan memutuskan sikap, tidak bisa hanya dengan berpatokan rasa cinta.

Aku tidak bisa bilang bahwa kau harus jadi seperti Rina pada cerita ini--karena sikapnya juga tidak sepenuhnya benar--tetapi setidaknya, jangan seperti Monique yang terlalu naif dan Sophie yang berbuat tidak seharusnya.
Profile Image for AhyaBee.
151 reviews3 followers
January 6, 2023
Aku seharusnya tidak bermimpi terus-terusan tentang kehidupan yang sering kita bicarakan bersama. Di dalam kamar tenang dan menentramkan itu, aku akan mencoba menyusun kejadian-kejadian yang kualami dan yang telah kujanjikan akan kuceritakan padamu—La Barka halaman 9.

Novel ini mengisahkan tentang Rina, seorang istri yang telah bercerai. Dia menginap di rumah temannya, Monique di Prancis Selatan yang di sebut La Barka. Rumah itu bernama La Barka berada didekat Trans-en-Provence. Rina datang bersama anaknya untuk berlibur sambil menanti penyelesaian urusan perceraiannya dengan suaminya, seorang insinyur Prancis. Selama beberapa minggu tinggal di La Barka, dia telah sempat berkenalan dengan beberapa orang Prancis. Dari pertemuan itu Rina menulis kisah-kisah kegagalan dalam perkawinan dari orang-orang yang ditemui dalam sebuah buku harian.

Kegagalan pernikahan telah mengubah Rina yang naif menjadi realistis dan sederhana. Sehingga dia yang sebelumnya berada di Indonesia terikat dengan moral, nilai katolik yang ketat justu menyerahkan diri kepada seorang mahasiswa yang usianya delapan tahun lebih muda. Selengkapnya bisa dibaca di Ipusnas atau gramedia digital.

Aku bisa merasakan bahwa penulis sangat menekankan riset tentang lokasi hingga La Barka terasa sangat nyata. Di awal bab sejujurnya saya kurang tertarik dengan opening cuaca, mungkin karena buku ini terbitan tahun 1975-an pada masa itu opening seperti ini sangat lumrah bahkan bisa dikatakan trend. Namun, pembuka seperti ini sangat tepat karena menonjolkan tema yang diangkat, sebuah tempat yang disebut La Barka.

La Barka terasa berbeda karena pengemasannya. Ada bagian di mana penulis menujukan kepada ‘engkau’ feelnya dapet banget, aku sangat suka. Namun, aku sempat kehilangan fokus, untuk ukuran buku harian La Barka menampilkan begitu banyak tokoh, walaupun saling berkaitan satu sama lain. Menurut aku porsi yang disajikan setara, tidak ada yang menonjol. Baik kisah kehancuran perkawinan Rina ataupun yang lainnya. Ada tipo yang kutemui, tetapi tak mengganggu.

Bagian paling favoritku adalah adegan di mana Rina menyerahkan diri seutuhnya kepada Robert, itu rasanya ... gimana ya, bukan membenarkan sesuatu yang salah, tapi penulis mampu membuatku merasa maklum dengan keputusan Rina 😂 Tokoh favoritku jelas Rina, dia berhasil membuatku masuk dalam kehidupannya, membawaku seakan ada di La Barka. Buku ini cocok banget, nih, buat kamu yang lagi nyari bacaan tentang rumah tangga, tapi yang berkualitas enggak terlalu nganu~
Profile Image for Dhea Kirana.
23 reviews
May 25, 2024
"Masyarakat telah memastikan bahwa dunia ini untuk pihak laki-laki. Dunia modern lebih memudahkan seorang lelaki yang haus akan tubuh perempuan daripada sebaliknya"

La Barka berisi curahan hati Rina, orang Indonesia yang bercerai dari orang Prancis. Sambil menunggu perceraiannya selesai, Ia menumpang di rumah temannya, Monique di Cote d'Azur (kalau di jaman sekarang, rumah yang disebut La Barka ini mungkin mirip sama Couchsurfing). Curahan hati ini sebenarnya ditulis untuk pacar Rina yang sepertinya kerja di Vietnam. Namun, sampai akhir cerita, identitas pacar Rina ini sama sekali tidak disebut.

Di awal, La Barka banyak menyinggung struggle perempuan yang terpenjara karena patriarki. Misalnya, kenapa laki-laki mudah untuk mencari pelampiasan hawa nafsu dan itu legal, sedangkan wanita tidak. Disinggung juga permasalahan mertua yang suka ikut campur rumah tangga menantunya sampai warna cat aja diributin. Serta Rina yang berhenti percaya dengan gereja karena pastor meminta Rina menuruti kehendak suaminya walaupun harga dirinya sudah terinjak-injak. Aku sendiri kagum dengan tulisan Eyang Dini yang cukup berani menyuarakan feminisme. Apalagi novel ini terbit tahun 1975 dimana orang-orang belum sadar tentang isu patriarki.

Dating culture orang Prancis juga banyak diceritakan karena ada teman Monique lainnya yang menginap di La Barka. Mungkin dating culture prancis akan mengundang hujatan netizen Indonesia karena orang prancis terbiasa dengan open relationship, mereka semua belum resmi cerai tapi sudah nyari pacar yang lain, atau masih beristri tapi kencan sama perempuan lain dengan persetujuan istrinya. Bukannya aku menormalisasikan hal kayak gini. Tapi emang begini kenyataannya. sering dapet curhatan doi (alm.) yang kuliah di Prancis kalau cwk yang udah pada punya pacar mencoba menggoda dan mendekati doi tapi yang-yangan sama pacarnya sekarang tetap jalan 🥲.

Novel ini alurnya sangat slow pace dan ga ada konflik yang dramatis, mungkin akan membosankan karena rasanya kayak baca diary orang lain seyebal 280 halaman. Namun, vibes daerah pengunungan prancis di awal cerita dan pantai prancis di tengah-akhir cerita tergambarkan dengan sangat baik.

Profile Image for Triyul.
46 reviews2 followers
February 17, 2020
khas. aku nemuin kesamaan karakter tokoh utama yg dibangun NH Dini dalam novel²nya.

dalam buku ini, pembaca seperti sedang dibacakan buku harian Rina sang tokoh utama. kemasan ceritanya ga pasaran. juga ide cerita yang terkesan seperti sedang dibacakan buku harian Rina begitu memang related sih dgn karakter Rina itu sendiri, yang sedikit tertutup, yang merasa lebih bebas dan leluasa untuk bercerita dalam bentuk tulisan, yaitu buku harian.

hal yg membuat aku terkesan dgn karakter yang diajarkan bu dini dalam novel²nya, selalu menekankan pada karakter dasar budaya ketimuran yg dianut wanita indonesia. yang penuh kesantunan dalam bersikap. yang penuh pertimbangan dalam tiap kalimat yang akan terucap. mengolah mana yg baiknya dibicarakan dan disimpan.

di mana melihat pergaulan modern para wanita saat ini, fenomena yang banyak terjadi sebaliknya, dimana lebih mengedepankan berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.

hal ini terlihat dari berbagai dialog2 yg dibangun dalam novel oleh tokoh Rina.

tapi di luar itu, tanggapanku terhadap novel ini, hmmm.. tradisi masyarakat parisnya kerasa bgt siii.. sebagai seorang yang ga begitu tertarik dgn paris -sebelumnya- dan segala budaya hidup masyarakatnya, aku merasa dapet informasi baru.

dan, betapa kesetiaan mahal harganya ya di sana ahahaha.. orang ketiga seakan menjadi sesuatu yang biasa. masing2 tokoh punya orang ketiga semua getoh, dan terlihat wajar aja. padahal kalo di indonesia sesuatu yg berhubungan dgn orang ketiga itu ngejengkelin dan bikin gemes. entah diberita entah disinetron, tapi dibuku ini kok nampak biasa aja wkwkwk
Profile Image for febriani.
109 reviews6 followers
January 22, 2019
La Barka berkisah tentang Rina, seorang ibu berkewarganegaraan Indonesia yang sedang menunggu proses perceraiannya dengan suaminya yang berkewarganegaraan Prancis. Sementara menunggu, Monique—kawannya di Prancis—menawarkan Rina untuk tinggal di rumahnya, La Barka. Tidak hanya Rina, Monique yang dikenal murah hati juga menerima teman-temannya yang lain untuk tinggal sementara di sana. Buku ini menceritakan tentang kehidupan Rina dan teman-teman Monique yang ditemuinya, kepribadian dan kehidupan percintaan mereka lengkap dengan permasalahannya masing-masing. Semua narasi dalam buku ini ditulis dalam bentuk catatan harian yang semula ditujukan untuk kekasih Rina.

La Barka ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan Bu Dini ketika menginap dan berinteraksi dengan orang-orang di La Barka betulan, sebuah rumah yang dimiliki sahabatnya di Prancis. Di sini kita dapat menyaksikan pandangan seorang berkebangsaan negeri timur terhadap kehidupan Eropa pada saat itu. Beberapa hal yang kini umum di Indonesia, saat itu mungkin merupakan konsep baru, sehingga Bu Dini pun menuliskan keterangan definitifnya yang kini mungkin dapat dinilai bertele-tele. Selain itu, aku mulai menyadari kebiasaan Bu Dini memotong-motong kalimat majemuk menjadi kalimat sendiri-sendiri yang polanya tidak selalu baku. Kesan biasku terhadap karya-karya beliau tentunya tidak mempermasalahkan itu. Bagaimanapun juga, aku tetap menikmati buku ini.
Profile Image for Puji Maharani.
13 reviews3 followers
November 12, 2020
Mengisahkan tentang tak hanya kehidupan tokoh utamanya, namun juga perempuan-perempuan lain di La Barka, dengan kejutan-kejutan menjelang akhir cerita, ini adalah novel Nh. Dini favorit saya sejauh ini.

Dalam La Barka, Nh. Dini menggambarkan suasana liburan musim panas di Perancis Selatan yang tenang namun semarak, dan sekilas damai namun bergejolak, mengingatkan pembaca bahwa hal-hal yang tampak indah dan ideal tak selamanya seperti kelihatannya. Tak semua keresahan dapat mereda ketika seseorang jauh dari sumber keresahan itu, sebagaimana yang dialami Rina, Monique, dan Francine, selama berada di La Barka, jauh dari laki-laki yang menjadi tokoh utama dalam prahara rumah tangga mereka. Prahara itu pun tidak selalu berujung pada kebersamaan yang berterima di masyarakat, sehingga seolah menempatkan mereka di persimpangan yang memantik keraguan akan masa depan.

Buku yang pertama kali terbit pada 1970an ini hadir dalam format catatan harian, sesuatu yang mungkin sudah terlalu lazim dalam lima puluh tahun terakhir. Banyak karya Nh. Dini ditulis dengan gaya ini, termasuk Gunung Ungaran, karya terakhirnya, sehingga catatan harian seolah sudah menjadi ciri khasnya. Namun, dalam La Barka, sang tokoh utama tak hanya membicarakan dirinya sendiri, sehingga penceritaan menjadi lebih berwarna bagi saya.
Profile Image for Cynthia.
160 reviews
October 9, 2021
Bagi penyuka plot yang naik turun dan menegangkan, buku ini pasti kurang menarik, mungkin terasa membosankan. Tapi, sesungguhnya bagiku buku ini ditulis dengan sangat bagus: ceritanya mengalir, runut, jelas. Kita bisa membayangkan dengan begitu nyata setiap tokoh dan suasana La Barka.

Untuk temanya juga menarik sih. Seorang wanita Indonesia katolik bernama Rina, yang tinggal di Prancis di rumah temannya, bersama anaknya saja sambil menunggu perceraian (Rina katolik, yang artinya sebenarnya dia tidak bisa bercerai secara agama). Di rumah temannya tersebut dia bertemu dengan beberapa wanita lain, yang memiliki karakter berbeda-beda, yang punya masalah dan skandal masing-masing. Rina juga bertemu dengan dua pria yang berusaha menjadi bagian hidupnya, padahal sembari menunggu perceraian dengan suaminya, Rina sudah memiliki seorang kekasih yang ditunggu-tunggunya sekian lama untuk menjemputnya.
Setiap pertemuan dikisahkan Rina dalam buku hariannya, seakan-akan ia sedang menceritakannya kepada kekasihnya tersebut.
Rina menjadi pengamat bagaimana kedudukan seorang wanita di dalam masyarakat, bahkan masyarakat Eropa, yang saat itu jauh lebih terbuka dibandingkan Indonesia.

Baca buku ini memang harus sabar, tapi sukaaa..
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
December 14, 2018
Kok rumit ya kehidupan pasangan di Perancis itu. Apakah benar kesetiaan adalah hal yang langka di sana? Mengenai hal ini, Bu Dini sempat memprotes, katanya di Perancis terkenal ungkapan seperti ini, satu kali saja berselingkuh maka seorang perempuan tidak akan berhenti berselingkuh. Hei, kenapa ungkapan itu tidak ditujukan juga untuk laki-laki?

Yang ku tak bisa menghayati,
pertama,
kenapa setelah dikhianati sedemikian rupa, Rina masih aja cinta dan berharap bertemu dengan kekasih gelapnya? Apalagi si dia jatuhnya ke perempuan seperti itu. Apa dia sebenarnya seperti George, yang tetap membela si dia. Menyalahkan peperangan sebagai penyebab prilaku si dia yang tak terpuji itu. Ya apa bedanya si dia ama Rene? Si pria leda lede?
kedua,
miapah, ngasih nama pada bayi perempuan dengan nama Sugiharino?
ketiga,
apakah teramat susah untuk membalas cinta dari seorang brondong nan sopan, pandai, dan baik hati?

Untuk poin ketiga, mungkin iya sih. Bisa aja memang susah, karena datangnya cinta bukan dari pihak Rina. Rina menjunjung tinggi kesetiaan. Walaupun dia pun mempertanyakan posisi dirinya sebagai perempuan yang tersia yang masih ingin setia.
44 reviews1 follower
Read
June 21, 2021
Novel ini ditulis pada latar tahun 1950-an tetapi apa yang diceritakan sungguh dapat dinikmati dan dirasakan oleh saya yang lahir tahun 1997. Novel ini merangkum semua perempuan dari seluruh perwakilan permasalahan rumah tangga, Rina si tokoh utama yang renggang hubungan rumah tangga nya setelah anaknya lahir, sebaliknya sahabat baiknya Monique renggang dan memutuskan bercerai karena tidak dapat memberikan keturunan. Monique pun masih harus menghadapi orang tua mertua yang kelewatan ikut campur dalam segala hal bahkan setelah Monique dan Daniel bercerai. Yvonne yang hanya menjadi simpanan dari direktur kaya yang pada akhirnya ditinggalkan pula. Sophie adalah salah satu yang beruntung karena dicintai oleh David tetapi tidak juga bersyukur karena di belakang David sering selingkuh dengan berbagai laki-laki yang berbeda. Hingga di akhir Rina yang berada pada persimpangan saat suaminya berganti pikiran, tidak ingin bercerai, melainkan mengubah bentuk hubungan menjadi open relationship. Setelah membaca buku ini dapat saya simpulkan bahwa jika laki-laki ingin bertahan maka mereka akan bertahan. Punya anak tidak membuat laki-laki bertahan, jadi tidak punya anak bukan menjadi alasan rusaknya rumah tangga. Menjadi pintar seperti istri Rene tidak membuat dirinya bertahan setia, namun Rene pun tidak tertarik dengan perempuan yang kosong otaknya menurut pendapatnya seperti Sophie. Rina yang sangat ideal menurut standar umum perempuan, tidak selingkuh sudah memiliki anak lulusan sekolah biara bahkan sangat cermat mengelola keuangan tidak dapat membuat suaminya bertahan setia kepadanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for reas.
94 reviews4 followers
April 24, 2022
Ini buku kedua dari Nh. Dini yang aku baca. Ceritanya bisa sampai ke aku, karena aku juga melakukan kebiasaan yang sama dengan tokoh utama. Tetapi, alurnya sangat lambat. Aku jadi gagal untuk untuk bisa cepat membaca buku ini.

Tapi, yang bikin aku gak nyerah buat baca adalah penulis selalu membawa tokoh perempuan pada masalah yang realistis, seperti kehidupan perempuan diambang perceraian, orang tua tunggal, dan bagaimana perempuan bisa hidup berdampingan dengan orang di sekitarnya meski latar yang sangat jauh berbeda.

Di sini, kita akan dikenalkan dengan berbagai macam laki-laki yang dekat dengan tokoh utama. Di lelaki terakhir, dengan kepribadiannya yang sangat baik. Aku jadi menyayangkan kenapa tokoh utamanya masih saja mengharapkan seseorang yang menjadi target sasaran buku hariannya. Namun, aku sadar, sebagaimana pun kita berjuang untuk menyingkirkan seseorang dengan orang lainnya, itu tidak akan pernah bekerja selama hati masih tertambat pada yang satu itu saja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nebulas.
18 reviews3 followers
March 25, 2019
Buku kurang menarik.
Kisah ini menceritakan pristiwa di Prancis selatan, pada akhir 1960-an atau awal 1970-an.
Karakter utama adalah seorang wanita Indonesia, Rani, yang sedang menunggu dengan anak kecilnya untuk mengakhiri proses perceraiannya. Dia sedang berlibur dan menginap di rumah besar seorang teman lama, Monique, perempuan Prancis. Dia menginap selama beberapa minggu dan bertemu berbagai orang dan pasangan di sana.
Matahari itu hangat, orang-orang berbelanja, orang-orang memasak, orang-orang pergi ke pantai… (“Rien ne se passe !”). Rani tidak melakukan apa-apa selain berbicara tentang sesuatu yang tidak ada isinya dan hanya merawat anaknya. Tidak ada pengembangan karakter, tidak ada humor, tidak ada perkembangan yang menarik.
Saya telah membaca tiga perempat buku dan kemudian menyerah.
Profile Image for Inggrid.
13 reviews
March 1, 2020
Mungkin buku ini dari segi bahasa kurang relevan di jaman sekarang. Dan alur ceritanya kurang ada plot atau klimaksnya, sehingga akhirnya terkesan gantung. Ada beberapa bagian yang sengaja tidak dibahas detail misalnya nama anakku, lalu hubungannya dengan suami, lalu ada juga yang di sebut ‘dia’ dalam buku ini di bagian menuju akhir-akhir cerita.

Isinya kurang lebih bercerita tentang permasalahan hidup wanita Perancis dalam membangun rumah tangga, terkhusus Rina, sebagai tokoh utama cerita. Buku ini menjelaskan secara deskriptif, detail di bagian-bagian tertentu saja sayangnya sehingga ada bagian yang kurang dapat di pahami atau sengaja di buat kita mengambil kesimpulan sendiri di akhir cerita.
65 reviews
December 26, 2018
Pada permulaan, saya bertanya-tanya kepada diri sendiri: apakah baik memulai membaca karya Nh. Dini dari La Barka sebelum yang lain-lain?

Ternyata ini cukup mengesankan. Cerita tentang kehidupan para perempuan (Rina (aku), Monique, Francine, Sophie, Yvonne, dan Christine) dengan segala kepelikannya. Perceraian, kemandulan, kehidupan yang bebas berganti pasangan, perkawanan, pengkhianatan, dsb.

Deskripsi cerita sangat indah (seperti membaca To Kill a Mockingbird). Sayang, dari segi cerita, saya tidak suka keputusan akhir yang diambil Rina, sang tokoh utama. Mengapa ia demikian lembek untuk menunggu suaminya alih-alih jatuh ke pelukan Robert, laki-laki muda yang siap mencintainya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 69 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.