The Princess of the Flaming Womb, the Javanese legend that introduces this pioneering study, symbolizes the many ambiguities attached to femaleness in Southeast Asian societies. Yet, despite these ambiguities, the relatively egalitarian nature of male-female relations in Southeast Asia is central to arguments claiming a coherent identity for the region. This challenging work by senior scholar Barbara Watson Andaya considers such contradictions while offering a thought-provoking view of Southeast Asian history that focuses on women's roles and perceptions. Andaya explores the broad themes of the early modern era (1500-1800) - the introduction of new religions, major economic shifts, changing patterns of state control, the impact of elite lifestyles and behaviors - drawing on an extraordinary range of sources and citing numerous examples from Thai, Vietnamese, Burmese, Philippine, and Malay societies.
Barbara Watson Andaya is an Australian historian and author who studies Indonesia and Maritime Southeast Asia. She has also done extensive research on women's history in Southeast Asia, and of late, on the localization of Christianity in the region. She teaches courses in Asian Studies as a full professor at the University of Hawaii at Manoa, and is director of the University's Center for Southeast Asian Studies. She was President of the American Association for Asian Studies from 2005 to 2006.
Buku yang diangkat dari penelitian panjang dan tekun ini berawal dari dua kegelisahan. Pertama, kegelisahan akan posisi perempuan yang jarang dibahas dalam historiografi Asia Tenggara. Kedua, kegelisahan akan hanya ada segelintir saja teks sejarah yang membahas tentang perempuan Asia Tenggara, dan itu pun terbatas pada periode abad ke-19 dan abad ke-20. Berbekal kegelisahan-kegelisahan tersebut, melalui kerja akademik yang tekun yang mendasarkan pada sumber-sumber seperti sumber arkeologi, literatur sejarah lokal, dan sumber lisan, penulis dengan berani mengetengahkan hipotesis bahwa perempuan di Asia Tenggara di masa modern awal (tahun 1400-1800) memiliki andil dalam membentuk apa yang dikenal sekarang sebagai sosio-kultural Asia Tenggara.
Sebelum membahas lebih banyak tentang posisi perempuan (di) Asia Tenggara, penulis terlebih dahulu mengetengahkan tentang pengkajian ulang terkait definisi Asia Tenggara, yang umumnya dilihat dari sudut pandang politik. Pendefinisian Asia Tenggara yang diajukan adalah lewat interaksi antar-manusia. Selain itu, alih-alih memandang Asia Tenggara dalam batas geografi yang sudah ditetapkan seperti yang dikenal sekarang, penggunaan sudut pandang melalui batas geografi alami (ekoton menurut istilah geografer) akan semakin memperjelas hubungan interaksi antar-manusia dalam konteks regional Asia Tenggara.
Setelah itu, penulis menunjukkan tantangan-tantangan dari sisi akademik seperti apa yang muncul dalam penulisan sejarah dalam reposisi perempuan Asia Tenggara pada periode modern awal ini. Walaupun tantangan yang dihadapi sangat berat, penulis tetap mengetengahkan objektivitas dalam pembacaan sejarah. Hal ini berarti tidak tergoda dengan penggunaan keberpihakan (terhadap perempuan) untuk memudahkan, dan penulis menunjukkan dalam buku ini kalau pembacaan yang seksama bisa menghasilkan hasil pembacaan yang tidak terduga (dalam arti positif).
Secara keseluruhan, dalam memahami posisi dan dampak peran perempuan terhadap pembentukan sosio-religi-kultural regional Asia Tenggara, diperlukan pemahaman kalau pengalaman aktual perempuan berbeda-beda dalam berbagai hal, misalnya perbedaan antara perempuan yang berada di Asia Tenggara Daratan (Thailand, Laos, Vietnam, Burma) dengan yang berada di Asia Tenggara Kepulauan (Nusantara, Malaka, Filipina), kemudian perbedaan antara kelas sosial, maupun perbedaan yang diakibatkan oleh faktor geografis (pedalaman dengan pesisir).
Perbedaan-perbedaan itu kemudian dikaji lebih dalam melalui kacamata agama, kontribusi terhadap perekonomian, posisi dalam negara, dan tentu tidak ketinggalan posisi dan peran dalam rumah tangga. Dalam hal agama misalnya, terdapat tarik-ulur posisi antara perempuan dan laki-laki berkaitan dengan posisinya sebagai pemuka agama (pemimpin upacara) selama 400 tahun periode modern awal tersebut.
Satu pembahasan yang menarik dari buku ini adalah tentang pembahasan penguasa perempuan, yang lebih umum dijumpai di Asia Tenggara Kepulauan dibandingkan dengan Asia Tenggara Daratan, yang memerintah di beberapa wilayah di Nusantara. Putri Jamilan, sebuah gelar yang disematkan kepada tiga serangkai ibu suri yang memerintah Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau; Ratu Mas, seorang putri asal Palembang yang menjadi ratu di Jambi sepeninggal suaminya pada tahun 1630; periode panjang kepemimpinan empat orang sultanah di Aceh, yang diawali oleh periode panjang (1641-1675) kepemimpinan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah yang naik takhta sepeninggal suaminya yang bernama Sultan Iskandar Thani, berlanjut ke periode kepemimpinan Sultanah Zakiatuddin Syah pada tahun 1678, dan berakhir pada periode kepemimpinan Sultanah Kamalat Zinatuddin Syah yang mulai bertakhta pada tahun 1688; Ratu Syarifah Fatimah, seorang yang memerintah sebagai ratu di Banten sepeninggal suaminya yang wafat pada tahun 1750. Satu hal yang masih mengecewakan dari literatur-literatur yang ada adalah narasi tentang cara bagaimana mereka memperoleh kekuasaan (warisan dinasti besar: janda dari seorang raja dan persekutuan diplomatik: Ratu Syarifah Fatimah yang bersekutu dengan Belanda untuk menyingkirkan suaminya), tentang dampak kepemimpinan mereka (katalis bagi pertikaian besar: kepemimpinan Sultanah Kamalat Zinatuddin Syah, sultanah terakhir Aceh, yang disinyalir memicu kemerosotan, padahal ada sejumlah kontribusi ulama).
Definitely a must-read for anyone interested in Southeast Asian studies.
Her book is chock full of examples surrounding the role of women, ranging from the courts to rural areas (and still manages to paint the nuances even within these specific geographies), as well as in different fields (i.e. religion, the economy). Such depth I think is definitely missing from most Southeast Asian texts that cover the pre-colonial period. She does address why this is so in her second chapter on Southeast Asian sources and expands as well on the limitations of each kind of source, be it visual art or textual analysis etc.
Although the bulk of her work refers to cishet women, I love how she also explores further the experiences of queer folk in Southeast Asia. Plus, the nuances in expectations towards and treatment of women of different ages too.
Might want to skip the first chapter if discussing the meta concept of Southeast Asia as a region is not for you.
Overall 4/5 stars because the ordering of paragraphs can convolute her message at times, reading more like a stream of consciousness than a well-structured argument.
Sejarah ditulis oleh para pemenang, maka tak jarang mereka yang tidak di sisi pemenang maupun jauh dari sorot terhadap ingar bingar kesuksesan perjuangan para pemenang tak banyak mendapat tempat. Salah satu kelompok demografis yang kurang mendapat perhatian arus utama untuk waktu yang lama, karena itu, adalah perempuan.
Tidak banyak yang membahas perempuan dengan posisi2 sosial mereka dalam sejarah Asia Tenggara. Kalaupun ada teks sejarah yang membahasnya, jumlahnya hanya amat sedikit. Lebih sedikit lagi yang melakukan penelitian dengan konteks kelokalan yang tidak banyak dilirik sejarawan Barat, misalnya area Asia Tenggara.
Atas kegelisahan itu, Barbara Watson Andaya mengerjakan riset historiografi yang melahirkan naskah akademis penting untuk perkembangan penelitian perempuan Asia Tenggara. Karya yang padat, mencakup rentang waktu yang luas, & agak melelahkan untuk dibaca utamanya bab2 awal, tapi setelah mendapat pola menulisnya kita akan menikmati cara bertuturnya yang mengalir & penuh detail serta trivia menarik di sana-sini yang akan menggali rasa penasaran kita untuk mencari lebih jauh di lain waktu.
Kepekaan akan pentingnya pemaparan sejarah perempuan dengan sensitivitas atas relasi kuasa antaretnis, gender, & kelas sosial menjadi poin penting dalam riset2 penulis, & memberikan pengharapan serta kebaruan mengenai masa ketika Asia Tenggara mengalami peralihan dengan mulai hadirnya kolonialisme. Peran perempuan yang kompleks tapi otoritatif & sejatinya penuh keberdayaan di masa modern awal mendapat terang. Pun tersingkap betapa berpengaruhnya dinamika agama pendatang (Abrahamik & Hindu-Buddha) juga upaya invasi antarwilayah & kolonialisme dalam menggerus keluasan ruang perempuan bergerak.
Buku ini agak menguras pikiran untuk dibaca karena kebaruan2 pada masanya, tapi rasa penasaran yang akan hadir & narasi yang mengalir serta penuh informasi baru akan mendorong kita untuk terus membaca. Buku yang nikmat untuk didialogkan, walaupun rasanya agak intimidatif untuk dibaca sendirian.
Menarik sekali, ada banyak fakta-fakta baru tentang kehidupan perempuan di asia tenggara masa modern awal yang saya dapatkan dari buku ini.
Bab awal adalah bagian yang menurut saya paling berat dibaca, mungkin juga karena saya belum begitu familiar dengan bahasannya. Tapi seiring dengan semakin mendalamnya bahasan dan meningkatnya pemahaman sebagai pembaca maka bab-bab selanjutnya menjadi lebih mengalir dan mudah untuk dinikmati.
Buku seperti ini sangat penting untuk dibaca, karena saya rasa sangat jarang buku sejarah yang membahas sejarah posisi perempuan yang dianalisis secara regional seperti ini.
Perempuan Asia Tenggara: Minim Catatan, Digempur Bias Budaya dan Agama
Dedy Ahmad Hermansyah
Di Asia Tenggara, sejarah posisi dan peran perempuan dalam masyarakat dibaluti kabut: samar dan nyaris gelap. Di Kawasan yang merentang dari semenanjung Indochina sampai kepulauan Melayu (termasuk Indonesia) ini tidak memiliki sumber terang tentang bagaimana perempuannya bertindak dan berpikir. Kalaupun ada, suara tersebut diwakili oleh sumber-sumber bias patriarkis.
Hal-hal rumit dan runyam inilah yang dihadapi sekaligus jadi tantangan oleh sejarawan feminis sekaligus guru besar kajian Asia di Universitas Hawai di Manoa, Barbara Watson Andaya. Sumber-sumber arkeologis, tulisan, maupun lisan, rupanya menjadi sumber yang nyaris sama tidak memuaskannya. Perempuan masih dicatat sebagai sekadar pelengkap dalam aktifitas masyarakat, atau berakhir dalam simpulan normatif: kehidupan mereka baik-baik saja.
Barbara dengan penuh sikap kritis dan berhati-hati mengajukan pertanyaan penuh risiko berbasis risiko: bagaimana sesungguhnya kehidupan perempuan Asia Tenggara di masa lalu, khususnya pada periode modern awal (akan djielaskan di bawah)? Apa saja masalah dan tantangan yang mereka hadapi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat? Benarkah kehidupan mereka baik-baik saja? Bagaimana adat, budaya, agama, politik, negara, dsb menilai, mengatur, dan mengontrol perempuan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba diuraikan penjelasannya oleh Barbara dalam bukunya setebal nyaris 400 halaman ini. Pertama-tama, Barbara memeriksa secara kritis sumber-sumber tersebut, tidak lantas diterima simpulannya dengan begitu saja. kemudian, Barbara mulai mengajukan pertanyaan berbasis gender dengan membandingkan dengan sumber-sumber lain. Terakhir, dia menyediakan ruang pandang baru bagi kita untuk melihat bagaimana posisi perempuan Asia Tenggara dalam periode yang dibicarakan.
Ada tujuh bagian—di luar dari Pendahuluan dan Kesimpulan—di dalam buku ini yang mengulik persoalan perempuan di Asia Tenggara. Mulai dari kaitan perempuan dengan perubahan agama atau kepercayaan, perubahan ekonomi, negara, kawula, dan sebagainya.
Judul asli buku ini adalah “The Flaming Womb: Repositioning Women in Early Modern Southeast Asia”. Kemudian diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, "Kuasa Rahim, Reposisi Perempuan Asia Tenggara Periode Modern Awal 1400--1800". Diterbitkan oleh penerbit Komunitas Bambu, penerbit yang fokus pada isu-isu sejarah.
Tanpa menafikan signifikansi tema yang mengetengahkan sejarah perjuangan perempuan dunia khususnya yang merujuk pada tuntutan kesetaraan ekonomi-politik di Amerika, barangkali kita yang berada di kawasan Asia Tenggara ini perlu juga mempelajari sejarah posisi dan peran perempuan sejak masa modern awal, saat daerah ini mulai mengalami penetrasi ekonomi global secara dalam, bergairahnya persebaran agama-agama dunia, besarnya kekuatan negara, dan terbentuknya gagasan mengenai keperempuanan dan kelaki-lakian.
Buku bagus ini tergolong berani, karena berhadapan dengan data sejarah yang sangat minim dalam hal bagaimana posisi perempuan di Asia Tenggara. Beraninya ada pada mempertanyakan kembali hipotesa-hipotesa yang termuat dalam referensi yang kadung diterima sebagai kebenaran. Dia siap dengan pertanyaan kritis berbasis gender, dan teguh dengan analisa jembar dan dalam--yang nuansanya agak sensitif.
Sebagai gambaran sekilas hal yang dielaborasi oleh Barbara: posisi perempuan Asia Tenggara (contoh kasus: Vietnam, Assam, dll) sebelum datangnya pengaruh Cinanisasi berspiritkan konfusianisme, dan masuknya agama-agama besar dunia, cenderung memberikan pandangan yang inklusif bagi peran perempuan. Perempuan menjadi pemimpin dalam ritual pertanian (karena pertanian memiliki simbol proses reproduksi perempuan), menuntun acara spritual dengan menjadi dukun, dan bebas memilih pasangan (kohabitasi) serta menikah kembali setelah menjadi janda.
Namun ketika gelombang Cinanisasi yang dibawa oleh migrasi bangsa Han ke daerah-daerah bangsa Non-Han, juga masuknya agama-agama besar, konsep gender itu sedikit banyak mengalami perombakan: ada tradisi ikat kaki di China untuk menghalangi mobilitas perempuan, perempuan yang terlibat dalam perdukunan diberi streotype didorong oleh kekuatan sihir, atau perempuan di Mughal dan Bali dituntut untuk setia 'buta' seperti tradisi sati yakni pembakaran janda hidup-hidup saat suaminya meninggal sebagai bukti kesetiaan.
Untuk kasus di Indonesia sendiri, Barbara mengelorasi masalah perempuan di Jawa, Bali, Aceh, dan beberapa tempat lainnya. Uraian masalahnya kaya dan beragam, informatif, dan menarik. Misalnya, diteliti bagaimana di Aceh dan beberapa tempat lain ada syair-syair yang sangat menyudutkan kaum perempuan.
Saya pikir, buku ini sangat menarik dan penting dibaca untuk mengisi perspektif baru, khususnya gender, dalam melihat sejarah Asia Tenggara, termasuk kita di Indonesia ini.
Judul : Kuasa Rahim, Reposisi Perempuan Asia Tenggara Periode Modern Awal 1400—1800 Penulis : Barbara Watson Andaya Penerbit : komunitas bambu Tahun : Oktober 2021 Tebal : xviii + 388 hlm
Ikut klab membaca (@nonfictionsession) bikin saya terpapar dengan buku-buku yang biasanya nggak masuk radar pribadi. Contoh terakhir: Kuasa Rahim oleh Barbara Watson Andaya.
Buku ini menceritakan dinamika kehidupan perempuan di Asia Tenggara pada masa periode modern awal (abad 15-19) dengan kepekaan terhadap gender, kelas, dan etnis.
Temuan Barbara menarik karena menunjukkan (dan lumayan meyakinkan saya pribadi) bahwa perempuan Asia Tenggara itu nggak nelangsa amat dulunya. Banyak contoh di mana perempuan di Asia Tenggara, termasuk Nusantara, punya posisi strategis secara politik maupun ekonomi. Hanya saja, seiring dengan perkembangan zaman dan masuknya pengaruh agama-agama samawi maupun dunia, nilai dan norma masyarakat adat tergeser dengan sistem patriarki.
Tentu saja bagian-bagian paling menarik buat saya pribadi adalah pembahasan tentang sejarah perempuan Nusantara. Hal-hal yang terkait pengaruh Buddhisme di Asia Tenggara juga menarik dan mengingatkan saya akan kisah-kisah mitologi Buddhis (yang mana sudah banyak saya lupakan hahaha).
Satu poin yang mengejutkan adalah bahwa seks pranikah itu biasa saja di kalangan rakyat jelata. Tapi sudah ada semacam pendidikan seksual sehingga mengurangi risiko kehamilan yang tidak diinginkan (karena konsekuensinya saat itu juga besar, mengingat tingginya tingkat kematian ibu dan rendahnya angka harapan hidup anak).
Seperti halnya baca Dawn of Everything-nya Graeber dan Wengrow, Kuasa Rahim membuat saya berpikir bahwa dinamika gender yang sekarang dominan tentu saja bisa dinegosiasikan lagi. Masyarakat dan nilai dan norma bisa berubah. Apa yang tadinya biasa saja menjadi immoral, dan yang sekarang diperjuangkan kembali justru pernah menjadi sesuatu yang normal di masa lalu. Tentu saja, kita tidak bisa meromantisasi masa lalu hanya karena beberapa hal terlihat lebih baik. Setiap periode punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Misalkan saja: penulis berulang kali menyayangkan absennya materi sejarah yang ditulis perempuan pada periode modern awal ini. Perempuan pada periode itu tidak banyak meninggalkan catatan tentang hidup mereka, karena memang tidak banyak yang punya akses ke kemampuan literasi. Saya langsung kepikiran dengan Jane Austen yang satu periode dengan mereka tapi tulisannya masih kerap dibaca sampai sekarang.
Buku ini memang bukan untuk dibaca sambil lalu saja. Sebagai naskah akademis, bab satu dan dua dari buku ini terbilang lumayan membosankan tapi wajib ada. Sisanya adalah pembahasan dan berbagai cerita yang cukup menguatkan hati sebagai perempuan di Asia Tenggara -- bagaimanapun ia didefinisikan.
A nonfiction book that really left an impression on me, completely changed my views on history, civilization, tradition, and the past that shaped me today. This book is certainly very long and thick, it takes a long time and contextual references to understand the entire contents of the writing. But even though this book took a long time to write, I also enjoyed reading page after page of the research results in this book.
The author has attempted to give a survey of the historical study of gender in the region stretching from North East India to Oceania to highlight patterns in it, though with a heavier focus on the countries within the Southeast Asian region. Compares various aspects of gender; political, economic, religious, social, across countries and regions. Gives some interesting insights through this approach. For example, sedentary agriculture is seen as degrading women's status. But it isn't necessarily always so. In North-East India while this happened to some extent, in Japan women's higher status remained intact due to the sacral nature of transplanting rice.
Begins with the reason for choosing the region, moves on to the nature of sources then gives a thematic study of gender relations. Posits that though there is a lack of sources such approaches can give a better understanding. Relies heavily on anthropology and archaeology. Enjoyed the discussion on the effects of greater global trade and 'early modernity' on women. Though there was a broad downward trend in women's position, as men had greater access to finance and European as well as Chinese traders preferred business dealings with men, yet many women used the existing system to further their economic objectives. For example, they became temporary wives of foreign merchants and conducted all their trade on the mainland.