★2,5
Buku ini kupilih untuk TBR prompt: probably unhaul. Bacaan bulan kemarin membuktikan bahwa aku sudah enggak cocok untuk novel-novel teenlit, jadi mungkin aku juga enggak cocok dengan yang ini, apalagi topik cerita insecurity terkait penampilan sudah sering dibahas sebagai cerminan kehidupan remaja di dunia nyata.
Saat baru baca dua halaman, aku hampir DNF novel ini. Hal-hal yang diucapkan tokoh utamanya sangat stereotipe, apalagi ada 50% kemungkinan bahwa ujaran kebencian itu cuman asumsi dia sebagai seseorang yang iri dan denial pada orang yang "sukses". Namun, berhubung si Protagonis masih remaja—biasanya mereka memang cenderung melihat hal dari satu sudut pandang saja—sehingga kumaklumi dan target minimal halaman aku boleh DNF itu sekitar ½ atau ¼ buku, maka aku melanjutkannya. Selain itu juga karena novelnya tipis dan penceritaannya juga ringan, jadi ya sudahlah... tanggung. Omong-omong, aku jadi ingat betapa menakutkannya para remaja itu.
Setelah beberapa bab, untungnya, ada hal yang melatarbelakangi dia menjadi seperti itu, yakni karena trauma atas ketidakadilan pada masa kecilnya. Aku ikut sedih karena ambisi dan kerja kerasnya yang jauh melebihi teman-temannya itu menjadi sia-sia. Oh, aku baru sadar. Katak yang dulu "dibencinya" itu berubah menjadi sosok yang "dilindunginya" di akhir cerita. Nice...
Omong-omong, aku jadi kepikiran. Masa enggak ada cerita dengan tokoh berfisik ala Miss Perfect Teenager yang ternyata orangnya itu sangat baik? Dari yang kubaca, kok mereka semua jahat begitu? Apa yang masuk ke kategori itu cuman tipe cewek cantik nan dominan yang mukanya judes, ya?
Ada bagian yang ironis sekali. Di halaman 66, Jenny enggak mau berdansa dengan cowok culun. Tapi, di halaman 101, dia mengakui bahwa dia enggak keren dan culun.
Halaman 40 membuatku merenung... Memangnya sejahat itu, ya, pikiran orang-orang kalau lihat seseorang sedang duduk sendirian di keramaian? Hehehehe. Waduh...
Di sini terdapat mimpi-mimpi simbolis yang muncul sesuai situasi yang dikhawatirkan Jenny. Ada juga fun fact soal berat badan yang enggak bisa turun gara-gara air, sayangnya enggak ada informasi tambahan soal itu, padahal aku penasaran.
Soal kondisi psikologis Jenny... Dia sering berbicara sendiri dan menjelek-jelekkan diri sendiri ketika terserang kepanikan karena paranoia, lalu ada keinginan untuk melarikan diri. Sayang sekali, hal tersebut tidak dibahas lebih lanjut. Aku agak suka sekaligus enggak suka dengan itu. Aku suka karena memang banyak manusia nyata yang memiliki masalah kesehatan mental nan terpendam lama tanpa disadari. Pembaca pun memiliki kebebasan untuk menebak-nebak sendiri kira-kira apa yang sedang terjadi padanya. Tapi, aku kurang suka karena aku tipe orang yang ingin tahu lebih banyak dan butuh kepastian.
Jenny menyadari pesan moral dari masalahnya, namun interaksi dia dan Amy untuk yang terakhir kalinya itu enggak membekas. Ekspresi Amy memang sudah menjelaskan kira-kira apa yang akan terjadi pada mereka, tetapi tetap saja terasa kurang menyakitkan untuknya yang di sepanjang cerita mengkritik terus tanpa mendengarkan pilihan gaya hidup orang lain. Selain itu, ia merasa malu jika dilihat orang lain ketika bersama seseorang yang seharusnya sahabatnya.
Meksipun aku suka ending soal nasib persahabatan tadi, dua halaman terakhir rasanya sangat terburu-buru. Aku sampai syok. Lah? Sudah selesai? Cuman begini? Terus apa? Pertama-tama, dari mana Geng Makhluk Mars tahu Jenny jadi melakukan demo?
Aku sudah hampir memutuskan untuk menyimpan cerita yang relatable ini, tapi sekarang bimbang karena akhirannya enggak memuaskan. Setelah buku ini berakhir, aku pun bertanya-tanya... Apakah buku ini cukup spesial untukku?
Ketika membaca blurbnya, aku enggak menyangka bakal dihadapkan permasalahan soal penyerangan burung hantu dan demo, perang terbuka, serta revolusi demi katak, yang di halaman 137 sampai membuatku tergelak. Ini random dan mengejutkan banget. Untuk itu, aku mengapresiasi karena buku ini punya unsur keunikan.
Yang kusukai dari cerita ini adalah relate banget dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin hampir semua manusia di dunia ini pernah bertanya pada diri sendiri, kita itu pantasnya berada di kelompok sosial mana. Ketika melihat orang populer, terkadang kita juga ingin menjadi seperti mereka. Ketika melihat keanehan orang lain, tanpa sadar diri kita juga memiliki keunikan itu. Omong-omong, ada banyak sekali cara pandang berbeda yang kupelajari di sini. Well, jadi unik itu oke-oke saja, asalkan tidak memaksakan kehendak dan mengganggu kehidupan orang lain.
Hal lain yang bisa dipelajari dari novel ini adalah lebih baik kita mencari teman baik yang satu koneksi dengan kita. Jika prinsip sahabat kita sangat berkebalikan dari jati diri kita, lambat laun hal itu bisa jadi beracun. Daripada saling memaksakan kehendak kepada satu sama lain, lebih baik mengambil jarak atau putus hubungan saja.
Soal hal yang sering dikatakan Jenny... Tentang praktik membedah katak, sebenarnya ada manfaatnya. Aku pernah melakukannya pas SMA dan aku mengapresiasi berbagai pengetahuan yang kupelajari di sana serta aku jadi lebih bisa menghargai cara kerja tubuh makhluk hidup. Cita-cita Jenny memang sepertinya enggak memerlukan pengetahuan semacam itu, namun mungkin siswa lainnya yang ikut di kelas biologi—apalagi mungkin itu merupakan kelas tambahan—berpikir bahwa itu penting untuk masa depan mereka. Oleh karena itu, demonya terasa... selfish.
Well, aku enggak bisa memberikan alternatif lain cara melakukan praktikum tersebut tanpa terkesan "kejam" sih. Atau mungkin cuman si Guru saja yang melakukannya dan direkam, lalu videonya ditunjukkan ke siswa-siswi di layar lebar pas kelas? Apa itu sudah cukup untuk pengetahuan anak SMA?
Omong-omong, aku masih bertanya-tanya. Kenapa Marva dan Chris kayak memaksa banget Jenny buat melakukan demo itu? Apa itu jebakan penulis demi membangun kecurigaan seperti yang dikatakan Amy? Atau itu karena mereka berdua cuman excited saja setelah akhirnya menemukan teman baru yang satu pikiran sama mereka? Soalnya, di awal bab terakhir, hubungan Jenny, Marva, dan Chris baik-baik saja.
Ulasan versi video ada di channel YouTube-ku.