“Fascinating... endlessly sad.”—Noam Chomsky In these remarkable interviews with André Vltchek and Rossie Indira, edited by Nagesh Rao, Indonesia’s most celebrated writer speaks out against tyranny and injustice in a young and troubled nation. Toer here discusses personal and political topics he could never before address in public. Toer is best known for his novels comprising the Buru Quartet . The New York Times described his autobiography as a “haunting record of a great writer’s attempt to keep his imagination and his humanity alive under terrible conditions.” Toer is widely considered a strong candidate for the Nobel prize in Literature.
André Vltchek (Russian: Андре Влчек, [ɐnˈdrɛ ˈvɫ̩t͡ɕɛk], December 29, 1963 – September 22, 2020) was a Soviet-born American political analyst, journalist, and a filmmaker. Vltchek was born in Leningrad but later became a naturalized U.S. citizen after being granted asylum there in his 20s. He lived in the United States, Chile, Peru, Mexico, Vietnam, Samoa, and Indonesia.
Vltchek covered armed conflicts in Peru, Kashmir, Mexico, Bosnia, Sri Lanka, Congo, India, South Africa, East Timor, Indonesia, Turkey, and the Middle East. He traveled to more than 140 countries, and wrote articles for Der Spiegel, Japanese newspaper The Asahi Shimbun, The Guardian, ABC News and the Czech Republic daily Lidové noviny. From 2004, Vltchek served as a senior fellow at the Oakland Institute.
Commenting on Vltchek's book Oceania, published in 2010, American linguist Noam Chomsky said that it evoked "the reality of the contemporary world" and that "He has also not failed to trace the painful — and particularly for the West, shameful realities to their historical roots".
Ketika beberapa waktu lalu saya membaca soal pencalonan Pramoedya Ananta Toer di ajang Nobel bidang sastra, terbersit rasa bangga di hati sebagai orang Indonesia. Bangga rasanya 'memiliki' seorang sastrawan besar yang karya-karyanya diperhitungkan di dunia internasional. Walau pun belum berhasil memenangi penghargaan bergengsi tersebut, saya tetap saja merasa bangga pada Pak Tua itu. Sesaat, rasanya sebagai bangsa, saya berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi, setelah selama ini terpaksa malu oleh 'prestasi' negeri tercinta sebagai pemegang rangking satu negara terkorup.
Pernah suatu hari, kantor kami kedatangan tamu delegasi ekonomi Asia Pasifik. Kebetulan, saya ikut mendampingi mereka melihat-lihat kebun dan pabrik teh kami. Di antara anggota delegasi tersebut, ada seorang perempuan anggun berambut kuning jerami, bermata hijau lembut, dari Cili. Sambil menikmati teh, saya sempat bercakap-cakap dengannya. Tentulah akhirnya sampai ke topik Pablo Neruda. Nyonya cantik ini terkejut dan tampak bangga sekali ada orang dari negeri lain, ribuan kilometer berjarak dari negerinya, mengenal Neruda, sastrawan kebanggaan negeri mereka. Lalu, ia ganti 'membalasnya' dengan menyebut Pram. Kali ini, gantian saya yang bangga. Begitulah.
Karya Pram yang pertama kali saya baca adalah Bumi Manusia. Waktu itu saya masih duduk di kelas II SMP. Saya tidak tahu kalau itu buku terlarang. Dengan pemahaman seorang remaja 14 tahun, saya melahap buku tersebut dengan rakusnya dilanjut buku keduanya : Anak Semua Bangsa. Sedangkan dua judul lagi yang terakhir, Rumah Kaca dan Jejak Langkah, baru saya baca bertahun-tahun kemudian, setelah novel tersebut beredar dengan bebas. Sejak itu, saya mulai mengoleksi buku-buku Pram, baik novel, kumpulan cerpen, drama, atau pun esai-esainya, atau buku-buku yang berkenaan dengan Pram. Termasuk buku Saya Terbakar Amarah Sendirian!
Buku tipis ini memuat wawancara dua orang jurnalis, yaitu Andre Vltchek (Amerika Serikat) dan Rossie Indira (Indonesia) dengan Pram yang dilakukan selama empat bulan, dari Desember 2003 sampai dengan Maret 2004. Wawancara tersebut berlangsung di kediaman Pram di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur.
Dalam wawancara panjang ini, Pram menuturkan banyak hal yang sebelumnya hanya sedikit saja pernah diungkap media massa. Selain karena menyangkut hal-hal yang sensitif, juga karena alasan 'keamanan' di bawah tekanan rezim Soeharto, nama yang banyak disebut Pram sebagai orang yang paling berperan dalam peristiwa penangkapan dirinya, 13 Oktober 1965, pasca huru-hara politik yang menewaskan jutaan rakyat Indonesia dan jutaan lainnya lagi kehilangan kemerdekaannya ditahan di penjara-penjara serta kamp kerja paksa : Pulau Buru.
Pram, sebagaimana ribuan tapol 1965 lainnya, dipenjarakan di Pulau Buru tanpa melalui proses pengadilan selama bertahun-tahun sampai saat pembebasannya, empat belas tahun kemudian. Di kamp kerja paksa ini, di tengah-tengah deraan siksaan aparat, lahirlah karya masterpiece-nya yang memukau dunia sastra : "Tetralogi Buru"
Pram bicara banyak mengenai macam-macam hal, dari mulai keluarga, kudeta 1965, Sukarno, Soeharto, masa-masa selama dalam tahanan, revolusi, CIA, Jawanisme, sastra, sampai dengan soal Aceh dan Timor Leste. Disampaikan dalam nada getir, marah, dan pedih. Kepedihan itu terasa sekali kala ia mengisahkan tentang pemusnahan naskah-naskahnya pada tahun 1965 oleh aparat tentara. Naskah-naskah tersebut (semuanya ada delapan judul) dibakar habis bersama dengan buku-buku lain koleksi perpustakaan pribadinya.
Bagi seorang yang menggantungkan hidup (dan cintanya) pada menulis, pastilah amat menyakitkan kehilangan dokumen sepenting itu. Lebih menyakitkan lagi, ia sama sekali tak memiliki kopinya, dan ia tak akan pernah bisa menulisnya ulang. Oleh karenanya, ia tak bisa memaafkan tindakan tersebut sampai kapan pun.
Namun, yang paling terasa pedih buat saya, adalah saat Pram menyatakan bahwa dirinya tak mampu lagi menulis sejak stroke menyerangnya di tahun 2000. Kondisi fisiknya telah sangat lemah akibat usia sepuhnya. "Saya benar-benar tidak bisa menulis lagi. Saya tahu batas kemampuan saya dan saya sudah harus berhenti di sini. Saya ingin berhenti bermimpi." (hlm.124)
Dari wawancara ini, nyatalah betapa Pram bukan hanya sekadar sastrawan besar, tetapi juga seorang pemikir, nasionalis, humanis. Alangkah kecewa dan marah dirinya, ketika menyaksikan negeri yang dicintai dan pernah diperjuangkannya ini perlahan-lahan terjerumus ke dalam kehancuran di segala bidang hanya karena salah urus segelintir elit yang lebih mementingkan diri sendiri. Untuk menyembuhkannya, ia meyakini, hanya ada satu cara : revolusi total! Dan hanya kaum mudalah yang mampu melakukannya.
Buku ini tersaji benar-benar dalam bentuk tanya-jawab seperti yang kerap kita lihat di koran-koran dan majalah, di mana sang jurnalis bertanya dan nara sumber menjawab. Kalau saja bukan Pram subjeknya, barangkali akan jadi amat membosankan membaca buku ini. Jelas, Pramlah magnetnya.
Tak pelak lagi, rekaman wawancara ini semakin menambah kekaguman dan rasa hormat saya pada Pram. Saya jadi ikut-ikutan 'terbakar', oleh amarah dan juga semangatnya. Dan kita tahu, seorang seperti Pramoedya Ananta Toer tak 'kan pernah dilahirkan dua kali.
buku ini adalah wawancara yang kesekian dari yang pernah ada bersama pramoedya. bagi saya, isinya hanyalah perulangan yang dapat dijumpai di wawancara yang lain juga. tapi, apa pun dokumentasi tentang orang yang telanjur besar seperti pramoedya ini menarik dan perlu dikerjakan atau ditulis ulang. pernyataan-pernyataan pram yang lebih eksplisit tentang agama dan jawanisme -misalnya- tergolong baru buat saya. maksud saya, belum pernah saya jumpai di tempat lain. lain dari itu, kebencian pram pada jawanisme- misalnya perilaku mengemis, yakni suatu perilaku orang jawa pasca majapahit- terasa sekali dalam wawancara di buku ini. tentang mengemis itu sendiri, saya juga pernah 'dikeroyok' para pecinta budaya jawa di milis jawa karena saya menyatakan bahwa bangsa jawa -dibandingkan bangsa lain di nusantara- paling tidak memiliki rasa malu untuk meminta-minta.
[bukankah kata ngemis itu sendiri adalah kata jawa? kata yang konon muncul pada akhir abad XIX ketika susuhunan surakarta pakoeboewana X menyiptakan kebiasaan memberi sedhekah kepada rakyat tiap hari kamis, hari lahir beliau?]
tapi jawa yang dibayangkan oleh pramoedya bukanlah jawa yang semerosot itu. sebaliknya adalah jawa yang punya harga diri: ketika arus peradaban di nusantara masih mengalir dari selatan ke utara. bukan seperti sekarang ini dari utara ke selatan: arus agaknya memang sudah berbalik!
1. Pram hidup dari menulis, untuk menulis dan benar benar di hidupkan dari tulisan2nya.
2.Jangan pernah jadi peminta (bahkan pada tuhan?).
3. Agama hanya mengajarkan mengemis.
4. Indonesia tercinta ini adalah negeri yang kehilangan karakter...biang keladinya adalah jawanisme : taat dan setia buta pada atasan.
5. Negeri ini hanya kenal satu saja: hiburan, terutama perjuangan kearah tempat tidur dan 'peternakan diri'.
4. Para pemimpin Indonesia tak punya prestasi individual, bisanya mengandalkan kelompok, persis main bola kaki keroyokan...satu-satunya yang kita miliki cuma Sukarno. Yang lain cuma lucu-lucuan. dll
This book was slightly depressing. Pram sees absolutely no hope for his country and believes that Indonesia has no cultural identity. I do not necessarily agree with his beliefs but understand his argument. During Suharto's reign, millions of Indonesia's teachers, artists and intellectuals were murdered or imprisoned. Trade was also highly encouraged, resulting in the westernization of Indonesia. Now, Toer says, Indonesia is only a consumer society. Nobody creates things anymore. Even rice is imported which is totally ridiculous.
Do not read this book if you want to learn about Indonesian culture - there are other books for that and this one will only depress you. But it does present a bleak yet straightforward view of Indonesia's past and present condition.
perkenalan saya dengan pramoedya termasuk telat...saya lebih tahu enid blyton daripada bung pram..dan baru kemarin baca buku tanya jawabnya dengan Andre viltec dan Rossie Indira.novel-novelnya yang telah membuatnya terkenal, belum satupun saya pernah baca...
Sensasi ketika saya membaca buku ini sama seperti saat menonton podcast, bahkan lebih seru daripada itu. Andre Vltchek & Rossie Indira mampu menyajikan rangkaian pertanyaan yang mendalam kepada pak Pram. Pak Pram pun memberikan setiap jawaban, dengan penuh ketegasan dan luka batin yang mendalam. Jawaban yang diberikan pak Pram penuh dengan pandangan yang tajam namun naratif, menjadikan buku ini relevan lintas generasi pembaca.
Terdapat 12 bab tematik yang di bahas pada buku ini, diantaranya terdapat beberapa bagian yang menurut saya sangat menarik yaitu ketika Pak Pram membagikan pandangannya akan Fasisme Jawa: Pramoedya sangat keras mengkritik budaya taat buta terhadap kekuasaan yang menurutnya membentuk mental penjajahan dan membuat masyarakat mudah dikendalikan. Beliau menyebutnya sebagai akar ketertundukan dan penindasan sosial di Indonesia.
Pada buku ini Pak Pram sedikit berbagi pandangannya terhadap Tuhan dan agama serta melangsungkan kritik tajam terhadap rezim Soeharto serta menyatakan rasa kecewanya terhadap reformasi 1998 yang menurutnya gagal menciptakan perubahan substansial.
Salah satu bagian paling menarik juga ketika beliau memberikan kesaksian tentang kekejaman sistem penjara politik, kerja paksa, pembakaran naskah-naskahnya, serta penderitaan para tahanan. Pak Pram menyampaikan betapa nyawanya hampir sama tidak berharganya di pulau Buru. Ia juga menceritakan bagaimana mesin ketiknya sempat disita, naskahnya dibakar rezim, dan buku adalah senjata perlawanan yang dirampas.
Dari buku ini kita bisa melihat bahwa Karya dan Sastra merupakan salah satu bentuk perlawanan yang sangat powerfull di mata Internasional. Pak Pram juga banyak berbicara tentang inspirasi realisme sosialis dari Steinbeck hingga Gorky yang tertanam dalam arah penulisannya. Ia berpandangan bahwa sastra yang baik adalah yang berjuang bagi kemanusiaan dan keadilan sosial.
Cukup sulit bagi saya untuk memberikan rate lima bintang untuk sebuah buku, tapi untuk buku yang berisi wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer ini rasanya tidak perlu ragu lagi.
Saya kerap kali membayangkan bahwa isi buku itu ada dalam bentuk video yang bisa saya download dari YouTube atau situs yang lain. Pasti akan saya putar berulang-ulang.
Ini (kalau tidak salah) buku pertama tentang Pramoedya yang saya baca. Saya bilang kalau tidak salah karena sayapun tak ingat apakah sebelumnya saya pernah membaca novelnya. Kecenderungan saya membaca buku tidak sampai tamat dan berganti buku lain masih belum bisa disembuhkan.
Yang jelas, saya kagum dengan sastrawan yang satu ini. Menghabiskan waktu dengan menulis, melihat karya-karyanya dibabat habis, menyaksikan rezim yang sangat tidak mengenal perikemanusiaan dan menyaksikan betapa manusia di jaman modern ini, terutama anak muda, sangat jarang yang peduli dengan semua itu.
Dalam buku ini saya menemukan begitu banyak hal tentang Pramoedya, baik pemikirannya, kisah hidupnya, dll. Ia tak segan bicara tentang wajah negeri ini yang sudah sedemikian luluh lantaknya. Ibarat disiram air keras. Namun orang-orang tetap saja berupaya memakai topeng untuk menutupi kenyataan. Entah karena takut, malu atau memang hendak membohongi diri sendiri. Menyedihkan.
Semoga buku ini kelak dibaca oleh lebih banyak lagi anak muda, agar mereka tau bahwa ada seorang pemikir dengan nasionalisme tinggi yang punya ide-ide brilliant untuk mengubah Indonesia, dan seorang pemikir itu menunggu mereka untuk mewujudkan cita-citanya. Pram telah tiada, tapi karyanya akan selalu hidup di hati dan jiwa pembaca.
Membaca buku ini membuat saya sakit kepala, tapi saya tidak bisa berhenti. Sepanjang wawancara dengan Andrè Vltchek dan Rossie Indira, sesuai judulnya, Pram memang "marah-marah". Ia mengkritisi berbagai hal yang terjadi di Indonesia dalam aspek sosial, politik, ekonomi, pendidikan, sampai agama. Sungguh saya tidak bisa melewatkan amarah itu, sebab semua hal yang dikatakan Pram tidak bisa dikatakan keliru. Sialnya, amarah Pram masih saja relevan saat saya membaca buku ini pada awal 2025, ketika Indonesia dipimpin oleh seseorang yang berasal dari militer. Demonstrasi oleh anak muda terjadi di mana-mana, tapi sebagaimana yang Pram nilai, segala perlawanan tampak mendekati sia-sia, saking hancur dan busuknya negara ini.
Buku pertamaku berkenalan dengan gagasan Pram. Isi buku ini adalah hasil wawancara dengan Pram, karena itu kita akan langsung melihat gagasan-gagasan beliau melalui jawaban yang ia lontarkan dari tiap pertanyaan yang ditanyakan.
Pilu. Ketika membaca karya Pram, saya selalu bisa merasakan amarah yang tidak bisa ditemukan pada penulis Indonesia lain. Pram adalah manusia dengan karakter yang kuat. Lahir pada zaman sebelum kemerdekaan hingga reformasi membuatnya kaya akan wawasan keindonesiaan dan jatuh cinta dengan imaji NKRI ini. Namun, negeri ini tidak pernah membalas perasaan Pram. Kritik yang disampaikannya justru dilihat sebagai pembangkangan, bukan sebagai warga negara yang terbakar melihat negaranya diporak-porandakan para culas politik.
Apakah kalian pernah merasa berdialog dengan seseorang tapi tidak ada yang pernah mengerti pemikiran kita? Seperti itu lah jiwa Pramoedya Ananta Toer pada masa tuanya. Penulis besar Indonesia yang pernah menerbitkan buku Gadis Pantai dan Tetralogi Buru ini tenggelam dalam amarah sendirian, meratapi nasib bangsa yang mulai kehilangan jati dirinya.
Sebagai salah satu penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia, Pram panggilan dari Pramudya Ananta Toer menyimpan amarah sendiri yang dituangkan dalam dialog dengan Andre Vltchek dan Rossi Indira dalam buku ‘Saya Terbakar Amarah Sendirian’. Sampai saat buku ini diterbitkan pada tahun 2006 Pram sudah tidak lagi menulis. Dia mempunyai dendam yang membara terhadap rezim Soeharto yang membakar semua perpustakaan dan beberapa tulisannya yang belum pernah terpublikasikan dan tidak mungkin lagi ditulis lagi. Dia memandang betapa rendahnya budaya Indonesia pada masa itu yang membakar buku-buku menggambarkan budaya yang bar-bar dan sama sekali tidak intelektual.
Pram menggambarkan terasing di Negeri sendiri karena Bangsa Indonesia sama sekali tidak mengenal bangsa Internasional dan bangsa Internasional sama sekali tidak mengenal Indonesia. Indonesia seperti Invisible country.
Tidak ada yang pernah mengerti pemikiran Pram yang sinis terhadap pemerintahan. Dia menolak rezim Jawanisme yang marak di pemerintahan rezim Soeharto bahkan sampai sekarang bagaimana budaya jawa yang sangat patuh kepada atasan sangat menggerogoti mental pemerintahan Indonesia. Orang Jawa selalu digambarkan dengan orang yang malas dan bermetal pengemis. Dengan gagalnya pendidikan di era orde baru yang melahirkan generasi yang sulit perpendapat, tidak berproduktif dan bermental kuli maka Indonesia berada di masa hanya mengekspor tenaga kuli ke berbagai negara.
Lepas reformasi keadaan tidak jauh berubah, bahkan dibilang lebih buruk. Bagaimana individual-individual menggerogoti keuangan negara. Korupsi milyaran rupiah hilang tanpa bekas. Menyisakan Soeharto-Soeharto kecil di berbagai aspek pemerintahan. Indonesia berada di masa terpuruk bahkan membusuk. Warga negara sudah tidak punya jati diri, tidak ada Nation dan Building Character yang pernah dicita-citakan oleh Soekarno. Kita hanya menjadi bangsa pengemis. Warga negara yang tidak pernah belajar berproduksi dan hanya tau berkonsumsi akan berkorupsi di segala aspek. Maka tak heran kita akan menemukan para koruptor di segala bidang. Dari Tukang Parkir sampai Pemimpin Negeri.
Membaca Pramoedya Ananta Toer seperti membaca Indonesia sebagai negeri yang sakit. Yang paling menyedihkan adalah banyak orang yang tidak menyadari kita berada di masa yang sakit dan diperparah dengan membusuknya moral-moral kita sebagai warga negara. Di Usia yang hampir 80 tahun (saat buku itu dibuat) Pram sudah kehilangan semangatnya menulis, jika mengingat sedihnya dia dipenjara dan disiksa saat dibuang di Pulau Buru dan menyaksikan bagaimana Negara pelan-pelan membuat kuburannya sendiri, Pram seperti dibakar amarah sendirian. Dia merasa sakit, sesakit bangsa ini.
Sebuah kesakitan dari seorang pejuang yang seluruh hidupnya adalah perlawanan. Kekerasannya dalam berkata-kata adalah cerita panjang hidupnya yang selalu bersikap. Beberapa bagian saya baca secara cepat tanpa banyak berpikir, karena memikirkannya saja buat saya begitu berat.
Ledakan amarah Pram sangat terasa, terutama ketika ia bercerita sakitnya mengingat naskah-naskah yang dikerjakannya sedemikian tekun hancur oleh sebuah budaya rendah. Pembakaran itu dan pembantaian manusia pada tragedi 65 merupakan sisi emosional yang di usia lanjutnya Pram menjadi terasing di tengah bangsanya sendiri.
Ya, saya hidup di dunia saya sendiri. Di luar itu yang ada hanya korupsi. Satu-satunya pemimpin, Soekarno, sudah tidak ada lagi. Inilah balasan Indonesia pada saya. Negara yang dulu saya perjuangkan sekarang dalam proses pembusukan, jadi bagaimana saya tidak marah? Sangat bertolak belakang dengan negara yang kami cita-citakan dahulu. Hari-hari ini semakin banyak memori yang kembali. Kebanyakan teman saya sudah tidak ada lagi. Saya teringat akan dua juta orang yang dibunuh dan sungai-sungai penuh dengan mayat sehingga airnya menjadi merah karena darah. Bagaimana orang bisa membunuh sesamanya seperti itu? Saya tidak bisa bicara lagi soal hal ini. Terlalu emosional bagi saya.
Sejarah bangsa ini ternyata memiliki sisi buram di mata seorang pejuangnya sendiri.
Wawancara yang ditulis dalam buku ini memang menjadi semacam katarsis buat pram. Sebuah ledakan buat orang yang dibekam sakit sedemikian menahun. Saya tidak bilang pram benar dengan kata-katanya, tapi saya lebih tidak ingin menghakimi. Saya hanya ingin hanya mendengar, bagaimana sejarah bisa menjadi cermin buram di mata seorang pelakunya sendiri.
to know his-tory is to know the pain of his-nation
*update 21 Jan 09* dua review pendek di goodreads begitu menyentil.
The conversation with arguably the best Indonesian writer is a relevant critique for today's Indonesia. Reading Pram's answers, the reader can see that Pram was still as sharp as ever regardless of his, then, incapability to write anything anymore. His voice resounds a critical and rebellious mind that refuses to sleep or to be put into silence. In his "internal exile"—distancing himself from the current Indonesia that disappointed him, Pram managed to pinpoint the roots of Indonesia's decadence and criticize what has been happening since the 1965 tragedy. Pram shows terrible things that many Indonesians these days fail to see from Soeharto's reign. More than the economic disasters that he passed on to the following administrations, Soeharto, through his oppression instigated the absence of national pride, courage, honesty, and critical thinking. Thus, after 32 years, we are now faced with a generation who have no comprehension about their own culture—easily swayed by foreign culture, who are afraid to express their minds, who maintain corrupt mindset, and who possess inability to argue. Pram's words are a harsh slap on the face for us, Indonesians, to wake up and challenge what he called as Javanism (Javanese Fascism): a blind/unthinking obedience and loyalty to superiors. Pram demanded us to stop glorifying all that we consider noble, such as our Indonesian culture, while in fact they are just empty glories from the past. Instead, he wanted us, the young Indonesian generations, to start anew; he urged us to start a revolution that overthrow the irreparable status quo. In personal level, Pram told us not to just consume, but to produce something. This book is a must read for those who are interested to understand further what happened during the 1965 tragedy, to feel the sufferings that the victims experienced, and to learn different steps that we have to courageously take in the future.
Perhaps one of few last account of Toer's thoughts during his later years which while already could be found within many of his works and interview carried on years before, has now being showcased as a more blunt and direct old man's adage; an idealist cum individualist founding himself in a state of decay of everything he fought for, and constant espoused pessimism of a decaying nation.
As an interview piece though personally I'm not a fan of how the interviewee carrying out the entire endeavor, many times they're caught up in a very dogmatic and sometimes repetitive manner that sort of potrays Pram as a more slanted, ideological-spouting figure instead of a more complex person (hence his insistence in using the word "dialectics" everytime the topic of ideology is brought up), but Toer's unabashed individualism sort of charm myself out of the tediousness.
This book mainly talks about socio-political analysis after the 30 September Genocide, and Toer's subsquent exile into Buru Island and alongside more damning views of Indonesian society as a whole and it's intellectual implication, one which brought by repression as the effect of materialist and fascistic tendencies of neo-liberalism - regardless of many contrary opinions between the Soekarno and Soeharto (and his subsquent influence at current politics alike), this is perhaps the best red rapport of an intellectual's report of the bankruptcy of his nation, and a very pessimistic portrait of post-modern cronies without future - quite a bleak book.
So Interesting. Knowing Indonesian biggest author, his story, his sadness, his happiness, his mind, his passion, his life and everything..
Tokoh dengan pemikiran kebangsaan, berjuang melalui tulisannya.. Kemarahannya terhadap perlakuan tidak adil yang selalu saja diluluskan oleh masyarakat umum karena ketidaktahuan atau pura-pura tidak mau tau. Yang menjatuhkan, berusaha membunuhnya dan menjaga keselamatannya adalah pihak yang sama. Negara apa ini?
Pak Pram mengajak pemuda Indonesia untuk membuka mata, membentuk budaya baru, budaya Indonesia tanpa pengaruh budaya Barat atau budaya manapun. Membuat pertemuan Pemuda seperti yang telah terjadi dahulu pada Sumpah Pemuda tahun 28, revolusi hrs terjadi agak bangsa ini bisa bangkit. Bukan reformasi ecek-ecek.
Pramoedya, manusia yang tidak pernah berpikir tentang bangsanya. Mungkin tidak akan pernah ada orang yang menghabiskan waktu lebih banyak dari dirinya, untuk melakukan hal itu..
Pramoedya, adalah kehilangan terbesar yang pernah dialami bangsa ini..
Pramoedya, setelah sekian puluh tahun namanya dihapus dari buku-buku sastra,dan buku-bukunya menghilang di rak-rak toko buku kini perlahan tapi pasti namanya kembali berkibar, karya-karyanya dicetak ulang dan selalu jadi best seller di toko-toko buku yang menjualnya. Beberapa penulis secara khusus mencoba mengkaji karya-karya monumentalnya, sebut saja Prof. A. Teeuw yang secara serius mengkaji karya-karya Pram dalam buku "Citra Manusia Indonesia dalam karya PAT (Pustaka Jaya,1997), Eka Kurniawan membukukan skirpsinya yang bertajuk Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, atau Prof Apsanti D yang mengkaji secara menarik keempat Tetralogi Bumi Manusia dalam bukunya yang berjudul "Membaca Katrologi Bumi Manusia (Indonesia Tera, 2005). Selain karya-karyanya dijadikan bahan kajian penulis-penulis lokal dan luar negeri Pram juga kerap jadi incaran dari para wartawan media cetak yang secara khusus melakukan wawancara langsung dengannya, dan biasanya majalah atau koran yang memuat wawancara dengan Pram selalu habis dibeli oleh pembacanya.
Umumnya wawancara dengan Pram hanya dapat dijumpai di majalah atau koran-koran atau beberapa buku yang menyajikan cuplikan wawancara dengan Pram, kini buku "Saya Terbakar Amarah Sendirian!" (KPG,2006) tersaji dalam bentuk wawancara utuh antara Pram dengan Andre Vltchek (penulis, wartawan, analis politik Amerika Serikat) & Rossie Indira. (arsitek, analis bisnis, penulis di harian Jakarta Post, Gatra,dll).
Buku menarik ini memuat lebih dari 150 pertanyaan yang diajukan oleh pewawancaranya. Wawancara yang berlangsung dalam kurun waktu 4 bulan (Desember 2003-Maret 2004) ini dibagi kedalam 12 bab yang disusun berdasarkan topiknya yang terdiri dari
Wawancara di Jakarta Sebelum 1965 : Sejarah, Kolonialisme, Dan Soeharto Kudeta 1965 Masa Penahanan Budaya dan Jawanisme Karya Sastra Soeharto, Rezimnya, dan Indonesia Saat ini Timor Leste dan Aceh Keterlibatan Amerika Serikat Rekonsiliasi ? Revolusi : Masa Depan Indonesia Sebelum Berpisah Dari keseluruhan bab-bab diatas pembaca buku ini akan diajak menyelami apa yang ada dalam benak seorang Pramoedya Ananta Toer. Tajamnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Andre Vltchek & Rossi Indira membuat seluruh perasaan dan pemikiran Pram yang tetap konsisten dari dulu hingga kini terungkap secara jelas dan apa adanya.
Pada bab "Masa Penahanan" pembaca akan diajak menyelami kehidupan Pram di Pulau Buru dimana nyawa manusia menjadi demikian tidak berartinya, kesalahan kecil seperti yang dialami temannya ketika ketahuan menyimpan sepotong koran bekas mengakibatkan temannya harus mengalami penyiksaan yang berakhir dengan kematian. (hal 37). Tempelengan dan siksaan menjadi hal yang biasa terjadi di Pulau Buru. Beruntung Pram tak mengalami siksaan yang berarti karena dirinya selalu dimonitori oleh dunia internasional. Pantauan dunia internasional inilah yang membuat Pram bertahan hidup dan bisa berkarya hingga menghasilkan karya P. Buru yang monumental itu.
Dalam hal budaya ,Pram yang jelas-jelas seorang Jawa mengkritik habis budaya Jawa yang mengharuskan "taat dan patuh pada atasan" yang menurutnya mengarah kepada fasisme (hl 45). Menurut Pram hal inilah yang menyebabkan bangsa kita terjajah, para kepala desa diberi emas dan perak sebagai sogokan atau kompensasi, sehingga mereka tidak berani protes. Dan rakyatnya pun tak berani melawan karena mereka menghormati atasannya. Inilah yang dikatakan Pram sebagai Jawanisme!, dan hal ini menurutnya masih terjadi hingga jaman kini dan terbukti hingga kini tak ada yang berani membawa Soeharto ke pengadilan karena semua takut dan patuh pada atasan.
Dalam bidang Sastra, Pram menyesalkan jika hingga kini orang masih saja membicarakan tentang pribadinya, bukan karyanya, sehingga sebagai penulis dirinya tidak selaku diakui (hal 67) Di bagian ini juga dijelaskan mengenai proses kreatif Pram baik ketika ia mulai menulis hingga proses kreatifnya di P. Buru. Pram mulai menulis ditahun 1947 karena ia harus menghidupi adik-adiknya, dikatakannya bahwa ia menulis seperti orang gila untuk mendapatakan uang karena ia tak bisa bekerja lain selain menulis (hal 75). Sedangkan inspirasi menulis diperolehnya dari kehidupan. Ketika sesuatu menyinggung dirinya atau membuat dirinya marah, Pram mendapatkan inspirasi untuk melawan. Bagi Pram menulis adalah perlawanan sehingga disemua bukunya ia selalu mengajak pembacanya untuk melawan. Pram yang menurut pengakuannya kini sudah tak bisa menulis lagi semenjak serangan stroke pada tahun 2000 yang lalu, kini menghabiskan waktunya dengan membuat kliping untuk proyek Ensiklopedi Kawasan Indonesia yang kini bahannya sudah mencapai 4 meter! Rencananya jika ia menerima hadiah nobel Sastra, maka uangnya akan dipergunakan untuk menyelesaikan proyek ambisiusnya tersebut.
Dalam bagian-bagian akhir buku ini pada bab Revolusi : Masa Depan Indonesia, Pram secara tegas menyatakan bahwa untuk keluar dari kondisi Indonesia yang semakin buruk ini maka hanya angkatan mudalah yang harus bergerak. Menurutnya sejak tahun 1915 sejarah Indonesia dibuat oleh angkatan muda (hal 114). Sayangnya kini banyak angkatan muda yang konsumtif dan tidak bisa berproduksi atau mengubah situasi, yang dilakukan hanyalah keluyuran dan mendapatkan uang. Pram secara tegas menyatakan jika dirinya menjadi penguasa maka ia akan tetapkan kuota impor barang sehingga akan ada lapangan kerja dan rakyat indonesia dipaksa untuk berproduksi. Bagi Pram hal yang mutlak harus dilakukan untuk mengubah situasi bukan hanya semata menurunkan rezim yang berkuasa, melainkan harus melalui Revolusi total, yang bisa menyingkirkan tenaga-tenaga yang menghambat kemajuan Indonesia.
Ada banyak sekali pemikiran-pemikiran Pram lainnya yang terungkap di buku ini. Kemahiran pewawancara dalam menggali apa yang Pram pikirkan dan rasakan membuat buku ini kaya sekali akan cakupan dan merentang dari masa kemasa, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan, masa peristiwa G30S hingga masa reformasi, mulai dari soal-soal pribadi, politik hingga budaya, bahkan pandangan Pram akan masalah-masalah di Timor Leste dan Aceh-pun bisa ditemui di buku ini.
Bisa dikatakan buku ini berhasil mengeluarkan semua pemikiran dan beban yang bertumpuk yang mungkin selama ini dipendam atau terlewatkan untuk digali oleh pewawancara lainnya. Apa yang dikatakan Pram melalui buku ini sangat menyentuh perasaan dan bahkan menyedihkan. Beberapa bagian yang menyajikan tentang penindasan historis, politis, dan tak manusiawi diungkap dengan pedas, tanpa tedeng aling-aling, pandangan agama di mata Pram terungkap dengan jelas dan apa adanya. Beberapa pertanyaan dijawab dengan nuansa kemarahan yang meledak-ledak, namun ada juga yang dijawab dengan jawaban-jawaban humor. Pembagian-pembagian buku ini dalam beberapa bab membuat pembaca dapat mengikuti kisah hidupnya mulai dari Pram sebagai seorang penulis yang ditahan pemerintahan Belanda sampai masa pengasingannya di P.Buru dan masa kehidupannya kini yang dirasakannya "terasing di negeri sendiri"
Buku ini sangat baik dibaca oleh para pecinta karya-karya Pramoedya (Pramist) karena seluruh isi buku ini akan menjawab semua pertanyaan yang mungkin menjadi pertanyaan para Pramist juga. Jika dicermati lebih dalam lagi, seluruh jawaban yang diberikan Pram melalui buku ini memang terkesan bahwa ia terbakar oleh amarahnya sendiri pada negeri dan budaya Indonesia yang carut marut ini, secara terstruktur pembaca akan dibawa pada pemikiran-pemikirannya yang kritis seperti yang selalu terekam dalam karya-karyanya. Karena itu, buku ini bukan hanya diperuntukkan bagi para ‘Pramist’ saja, melainkan patut dibaca oleh semua kalangan yang ingin memahami akar-akar persoalan di Indonesia dewasa ini.
Perkenalan saya pertamakali dengan nama Pramoedya Ananta Toer sebenarnya lewat pelajaran Bahasa Indonesia atau Sastra mungkin? Tapi yang saya ingat jelas, nama Pramoedya Ananta Toer dan buku-bukunya justru saya peroleh dari Oom Adi, ayah dari Hilmar Farid.
Di suatu siang, beliau menunjukkan buku-buku Pramoedya, dan menceritakan sekilas tentang Pramoedya.
Ketika buku-buku Pramoedya mulai dicetak kembali dan terpajang di Gramedia, saya pun tidak pernah membeli, entah kenapa bagi saya saat itu, buku-buku beliau pasti berlatar-belakang kejadian sebelum 1965 dan saat itu saya mendadak lelah membaca buku-buku yang berkaitan dengan tahun 1965.
Namun entah mengapa, tiba-tiba dua bulan lalu, saya menemukan buku "Saya Terbakar Amarah Sendirian" di rak buku saya. Melihat ketampakannya, buku ini pastinya saya beli sekitar tahun 2006, dan seperti kebiasaan saya sebelumnya, tidak atau belum saya baca. Kali ini saya memutuskan untuk memasukkan buku ini dalam daftar buku yang harus saya baca.
Sesuai dengan pengantar yang tercetak di kulit muka buku "Saya Terbakar Amarah Sendirian", isi buku ini berupa wawancara Andre Vitchek & Rossie Indira dengan Pramoedya, yang dikemas dalam beberapa kurun waktu, sebelum 1965, Kudeta, Masa Penahanan hingga sesudah Reformasi.
Membaca halaman demi halaman wawancara Pramoedya, saya bisa merasakan rasa amarahnya yang mendidih terhadap rezim Soeharto dan militer, terutama rasa frustasinya terhadap Indonesia, negeri yang ia perjuangkan bersama rekan-rekannya dulu. Indonesia yang berjalan mundur di masa Soeharto, masa dimana bangsa ini dikebiri untuk berpikir kritis, dimana kebebasan untuk berbicara dibungkam, dimana bibit-bibit korupsi mulai disemai hingga akhirnya menjadi gurita.
Pram juga secara terbuka dan berulang-ulang menyatakan rasa kekagumannya terhadap Soekarno, pemimpin yang tidak ada duanya hingga kini. Pemimpin yang memiliki visi dan berani memerangi kapitalisme. Pemimpin yang berupaya menciptakan budaya Indonesia.
Membaca rasa ketakberdayannya terhadap ketidak-adilan yang menimpa dirinya, justru dari negara yang ia cintai sedemikian dalam, membuat saya juga ingin berteriak. Namun seperti halnya Pram, saya yakin suara saya pun akan tenggelam. Dipenjara tanpa diadili selama puluthan tahun, karya-karyanya dibakar, harta miliknya diambil, bahkan keluarganya pun dikucilkan selama puluhan tahun.
Pramoedya Ananta Toer sejatinya sastrawan besar, bahkan isi pikirannya tetap memiliki api yang sanggup menggetarkan pembacanya. Sebagian besar dari hal-hal yang menjadi keresahan Pram terhadap Indonesia bahkan masih valid hingga kini. Nyata sekali kecintaannya terhadap Indonesia.
Dalam wawancara ini Pramoedya mengutarakan rasa apatisnya terhadap Indonesia, sehingga solusi yang dia gelorakan adalah REVOLUSI, bukan sekedar Reformasi, karena reformasi menurut Pram adalah bentuk baru dari Orde Baru. Tidak ada pemimpin yang benar-benar tepat bagi Indonesia, dan baginya satu-satunya yang sanggup menggerakkan Revolusi ini adalah kaum muda.
It is a privilege to read the thoughts of such a great man. I wish the interviewer would have explored deeper some parts of the conversation. Some conversations could have been a bit deeper with more probing; it was touching the surface and felt unfinished. First time I heard such critical thoughts from an Indonesian. Quite brave. As Pramoedya said repeatedly in the conversation, our culture is a culture of obedience. To disagree or to be so critical on the culture, the country, javanism, or the religion so publicly required some courage. It is a pity that Indonesia failed to appreciate such a great man while he was alive. His disappointment, and perhaps some bitterness, or perhaps more accurately, sadness, over the fate of Indonesia, after a lifelong struggle and suffering, is very sad.
Sedih, saat menjadi tua lalu tidak bisa lagi melakukan apa ya, mau ga dibilang passion tapi ya kayak ya memang passion itu sih. Menulis. Sedih saat apa yang dicita-citakan untuk bangsa dan negaranya belum tercapai sama sekali bahkan menurutnya sangat bertolak belakang. Pembusukan. Tapi sesedih-sedihnya, kok aku menangkap cintanya yang begitu besar bagi bangsa ini. Klo ga cinta gimana mau memperhatikan sebegitu dalam. Sampai nyiapin bahan ensiklopedia Indonesia yang panjangnya sudah 4 meter. Nah loh, sedih lagi karena dia waktu itu sudah tidak dapat menulis lagi. Buku itu tidak akan pernah ada. Sedangkan pada anak cucunya pun dia prihatin, tidak ada yang punya budaya membaca. Lalu nasib bahan empat meter itu gimana ya.
VLTCHEK is a truther and intellectual of Soviet descent who later emigrated to the United States and became a naturalized US citizen. That didn’t calm his inner seas though, and he published ferociously about US imperialism in the world, that, so he predicted, would one day resemble a totalitarian global world order. Against this background and ideological thinking, the works of VLTCHEK must be read and understood. 30 days before his dead in a chauffeured car in Turkey, VLTCHEK complained on Twitter about a mental and physical exhaustion. Collapse even. His investigative restlessness, the clarity of writing style and his absolute conviction to bring forth the truth will be dearly missed. Rest In Peace!
Sebelumnya memang saya hanya mengenal Pramoedya dari novel-novel serta beberapi esainya, dan di beberapa kesempatan saya hanya mengetahuinya dari artikel di berbagai media. Dengan membaca buku ini saya merasa bisa lebih dekat dengan Pram dibandingkan sebelumnya.
Dengan membaca ini saya bisa merakan bahwa di usia tua nya Pram sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, bahkan hanya untuk berharap. Secara mendalam buku ini berisi percakapan penulis dengan Pramoedya dari Peristiwa 65, Pulau Buru, Karya Sastra, Jawaisme, Agama hingga Ke-Indonesia-an menurut pandangan beliau.
Pandangan dan opini Pram pada Indonesia sebagai negara dam bangsa dalam wawancara yang dibukukan ini terasa menyayat hati dan menjadi pukulan bagi saya sebagai generasi muda Indonesia. Pengertiannya tentang fasis jawa dan revolusi Indonesia yang belum selesai masih sangat relavan hingga hari ini. Saat nasionalisme dan rasa persatuan makin meredup, perkataan pram dalam buku ini saya rasa bisa mebangkitkannya lagi bagi siapapun yang membacanya.
Buku yang baik itu adalah petunjuk dan sumber informasi untuk pembaca pemula. Dan bisa menjadi anggukan kepala, bahkan menemukan bagi yang sudah paham.
Dan saya merasa belum banyak tahu Pram dari sisi biografinya. Jadi buku ini cukup menjadi pedoman.
Pramoedya as it is. Bentuk wawancara menghasilkan banyak celetukan menggelitik dari Pram. Pembagian tematik juga memberi konstruksi ekspektasi menyenangkan sejak awal: kita selalu penasaran tentang pendapat penulis senior terkait situasi kontemporer dan buku ini cukup memuaskan hal tersebut.