Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Rate this book
“Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri.

Untuk hal itu, aku setuju.”

Kebanyakan orang lebih senang menceritakan sisi manis dari cinta.
Sedikit sekali yang mampu berterus terang mengakui
dan mengisahkan sisi gelap cintanya.
Padahal, meski tak diinginkan, selalu ada keresahan
yang tersembunyi dalam cinta.

Bukankah kisah cinta selalu begitu?
Di balik hangat pelukan dan panasnya rindu antara dua orang,
selalu tersimpan bagian muram dan tak nyaman.
Sementara, setiap orang menginginkan cinta yang tenang-tenang saja.

Cinta adalah manis. Cinta adalah terang. Cinta adalah putih.
Cinta adalah senyum. Cinta adalah tawa.

Sayangnya, cinta tak sekadar manis. Cinta tak sekadar terang.
Cinta tak melulu tentang senyum dan tawa. Ini kisah cinta yang sedikit berbeda.

Masih beranikah kau untuk jatuh cinta?

293 pages, Paperback

First published December 14, 2014

56 people are currently reading
798 people want to read

About the author

Bernard Batubara

26 books818 followers
I am a best selling writer of 19 books.

They are "Angsa-Angsa Ketapang" (2010), "Radio Galau FM" (2011), "Kata Hati" (2012), "Milana" (2013), "Cinta." (2013), "Surat untuk Ruth" (2014), "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" (2014), "Jika Aku Milikmu" (2016), "Metafora Padma" (2016), "Elegi Rinaldo" (2017), "Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran" (2017), "Luka Dalam Bara" (2017), "Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan" (2017), "Asal Kau Bahagia" (2017), "Espresso" (2019), "Tentang Menulis" (2019), "Residu" (2019), "Batu Manikam" (2020), and "Banse Firius" (2020).

My short story “Goa Maria” appeared in the bilingual anthology of Indonesian writing Through Darkness to Light (Ubud Writers and Readers Festival 2013 & Hivos).

I provide editorial and copywriting services, for commercial and literary purposes. I accept prose, poetry, and nonfiction story.

Contact me through the information below.

Whatsapp: +6287839894689
Twitter & Instagram: @benzbara_

benzbara89@gmail.com
www.bisikanbusuk.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
136 (26%)
4 stars
197 (38%)
3 stars
143 (27%)
2 stars
19 (3%)
1 star
18 (3%)
Displaying 1 - 30 of 132 reviews
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
December 15, 2014
Hadoooh cerita-ceritanya....

Bernuansa mistis, lokal, dan kelam.

Sukaaa!!!!

Sebenernya agak males baca kumpulan cerpen, karena reviewnya susah. hahahaha maklum yaa namanya juga blogger buku, milih buku tuh berdasarkan blog-able atau tidaknya gituuu... *plak!* Tapi yang ini pasti direview di blog laaah.. Nanti, tunggu waktu buat nulis lebih rapi yaa tapinya.

Betewe, iya, buku ini memiliki benang merah yang sangat jelas, yaitu cinta yang kelam, cinta yang salah, cinta yang brutal. Bukan hanya percintaan sepasang kekasih yang menyek-menyek, tapi lebih luas. Dan kebetulan, sentuhan lokal adalah hal yang selera gue banget. Jadi nyambung aja gitu sama gue dengan mudahnya.

Mulai baca novel ini pas bete nungguin Transjakarta di Kelapa Dua Sasak di tengah hujan, sejam lebih nggak nongol-nongol itu bis, separo buku abis aja gitu dibaca. Dan hari ini, kembali di Transjakarta menuju kantor, buku itu tuntas dibaca. Duh, cewek Transjak banget sih gueeee!!!

Patut dicoba nih teman-teman...

Eiyaa!! Ilustrasinya jempolan.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
February 4, 2015
"Tentu saja, kami selalu merasa sakit. Sebab hati kami tak pernah usai berharap dan itu yang membuat kami terus merasa sakit."

Buku ini merupakan sebuah kumpulan cerpen yang terdiri atas 15 kisah yang berkaitan dengan cinta, yang sebagian besarnya mematikan. Sebelum membaca bukunya, aku merasa judulnya terasa gelap sekali; dan ternyata cerita-cerita di dalamnya pun sangat suram. Di saat novel-novel lain menceritakan sisi manis dari pengalaman jatuh cinta, buku ini membawa pembaca melihat sisi gelapnya karena cinta memang tidak hanya sekadar manis saja. Untuk memberikan sedikit gambaran tentang isi buku ini, aku akan menuliskan beberapa cerita yang menjadi favoritku :)

1. Seorang Perempuan di Loftus Road
Berkisah tentang seorang perempuan yang menunggu selama berjam-jam di Loftus Road, hingga akhirnya ia menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi sebatang pohon. Selama itu pula ia selalu menanti lelaki yang tidak menepati janjinya itu sebagai sebatang pohon; meskipun lelaki itu telah berkeluarga. Hingga suatu saat lelaki itu datang sendirian ke Loftus Road, dan perempuan itupun melakukan apa yang harus ia lakukan agar dapat kembali menjelma sebagai manusia. Namun yang ia dapat pada akhirnya hanyalah rasa kecewa.
"Sayangnya, kadang tidak cukup bagiku. Jika ia adalah sesuatu atau seseorang yang layak aku tunggu, ia tidak akan memberiku hanya sebuah kadang. Kata itu merendahkan usaha dan meremehkan seluruh kerja keras penantianku. Aku tidak ingin mencintai seseorang yang memberiku kadang."

2. Bayang-bayang Masa Lalu
Ainun telah dikutuk menjadi tua dan tidak bisa mati sejak ia menunggu lelaki itu dari 690 tahun yang lalu. Pada masa yang lampau, Ainun jatuh cinta kepada seorang lelaki yang dituduh memperkosa seorang perempuan dan membunuhnya. Ainun percaya bahwa lelaki itu tidak bersalah dan menuntut keadilan. Karena ia dianggap telah membela penjahat, Ainun pun dikutuk dalam penantian yang tidak ada habisnya. Dan saat ia akhirnya bertemu kembali dengan lelaki yang ia cinta, Ainun mendapati bahwa semua tidak seperti yang ia sangka.
"Ainun tidak tahu apakah ia telah mencintai orang yang salah ataukah ia telah melakukan hal yang salah karena cinta? Barangkali takdir akan menjawab pertanyaannya."
...

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2015/0...
Profile Image for Carolina Ratri.
Author 26 books40 followers
February 27, 2015
Dari cerita pertama, "Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah" sampai dengan "Nyctophilia", saya seperti tersihir. Nggak bisa berhenti sama sekali. Mulai dari cerita "Bulu Mata Seorang Perempuan" sampai cerita terakhir "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" rasanya antiklimaks. Meski saya tetap suka sih. Tapi nggak sesuka cerita-cerita pertama.
Semoga sempat menuliskan reviewnya di blog. Tiga setengah bintang, yang setengah saya ambil lagi karena antiklimaks tersebut. Tapi saya tetap suka. Jauh lebih suka ketimbang cinta. dan itu bukan masalah cerpen dan novel. Ini memang jauh lebih bagus.
Profile Image for Najah Mustapa.
91 reviews5 followers
May 9, 2020
Aku terkesan dengan cerita seribu matahari untuk ariyani dan meriam beranak. Terasa sakit dan perit membacanyaa.
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
December 22, 2014
Ini pertama kalinya saya mencicipi tulisan penulis, yang ternyata merupakan kali ketujuhnya dia meracik buku. Dan saya memang paling tertarik sama yang ini, terutama karena judulnya. Coba saja lihat yang lain. Cinta, cinta, cinta. Giung, giung, giung.

Plus, saya dijanjikan kisah yang kelam nan muram dari sisi cinta (masih cinta juga sih, sebetulnya, tapi tak apa). Karena janji sisi lain itu, serta reputasi penulis yang gemar kegiungan, saya pun memulai perjalanan saya.

Inilah catatan saya sepanjang membaca:

1. Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
Pembuka yang tepat! Seketika menarik saya ke dunia seorang Bernard Batubara. Showing off yang baik karena betul-betul membuktikan kapasitasnya sebagai penulis.

2. Nyanyian Kuntilanak
Straight retelling dari dongeng asal-usul kota Pontianak dengan sudut pandang berbeda. Ekspektasi menurun. Cukup 'meh' karena betul-betul hanya diceritakan ulang.

3. Seorang Perempuan di Loftus Road
Nuansanya berubah drastis di cerpen ini. Sendu, romantis, heartbreaking. Saya seperti deja vu, lalu teringat karya Sungging Raga (saya penggemar cerpen-cerpennya yang berlatar Inggris). Dan benar saja. Cerpen ini adalah tanggapan untuk cerpen Sungging yang berlatar sama.

4. Hujan Sudah Berhenti
Masih dengan tone sendu nan muram, tapi lebih ada kesan hangat yang ditinggalkan karena satu lain hal. Topiknya seputar keluarga. Favorit saya.

5. Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
Perubahan lagi, dengan nilai kearifan lokal melatari kuat cerpen ini. Saya suka penyampaiannya, tapi rasanya ada yang gimanaaaa gitu. Entahlah.

6. Seribu Matahari untuk Ariyani
Recommended. Cobalah untuk tahan di bagian awal, semuanya akan terbayar di akhir. Dan silakan memalingkan wajah sejenak kalau-kalau menangkap sesuatu yang membikin kamu jengah. Soalnya saya pun melakukannya. Tapi bagus. Cocok untuk dipelajari lebih.

7. Langkahan
KenTang. Kena Tanggung. Saya mengerti maksud dan pesan penulis, tapi rasanya kurang 'makjleb' saja. Jadinya malah 'lol, wut' dan bikin cepat lupa tadi awalnya tentang apa.

8. Meriam Beranak
Penempatan twist-nya seapik cerita pertama dan Ariyani. Ada kearifan lokal juga di sini. Senangnya, pernah tinggal di Kalimantan... saya jadi tambah penasaran saja gimana Sungai Kapuas itu.

9. Lukisan Nyai Ontosoroh
Salah satu favorit saya juga, meski di bagian akhir terasa terburu-buru. Suara lelakinya tetap bisa bikin saya masuk dan merasakan si tokoh utama. Agak-agak mistis dan historis. Yang suka Tetralogi Buru, bacalah.

10. Bayang-Bayang Masa Lalu
Judulnya terlalu 'biasa' buat cerita yang punya twist bikin gondok ini. Tapi entah mengapa gampang terlupakan juga. Saya tadi melihat dulu sekilas agar ingat ceritanya tentang apa. Masih kearifan lokal.

11. Orang yang Paling Mencintaimu
Masih bias dengan tokoh utama, dia sebetulnya apa? Tapi saya suka akhirannya. Kesimpulannya menarik.

12. Nyctophilia
Sepanjang membaca buku ini saya selalu bertanya-tanya, adakah cerita yaoi di sini? Namun sayang, maaf, esensinya kurang dapat. Banyak logika yang patah. Yang bukan fujoushi pun mungkin sadar itu mustahil terjadi. Punyanya Dee (lupa judul, ada 'Lana'-nya, di FilKop kalau tidak salah) lebih nendang.

13. Bulu Mata Seorang Perempuan
Saya bingung. Berputar-putar. Apa memang dibuat seperti itu, tidak tahu intinya apa, dan hanya untuk dinikmati karena rangkaian kata-katanya memang indah.

14. Menjelang Kematian Mustafa
DNF. Rasanya jadi yang paling panjang dari semua cerpen. Intinya, ada hubungan ayah-anak, mafia (?) dan kematian. Nanti saya baca lagi jika sempat.

15. Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Ada dua protes saya: satu, siapa yang narator ajak ngobrol? Memangnya dia pernah berkata seperti di judul saat kapan? Apa benar narator dan Teman pernah berbincang? Kok rasanya narator bercerita tentang dirinya saja, tak pernah membawa-bawa si empunya quote jatuh cinta.

Dan dua, sebetulnya ini pakai referensi yang mana, ya? Karena masalah dewa-dewi dan kerajaan langit dan Tuhan itu beda-beda tiap mitologi, agama, dan kepercayaan. Oke, mungkin saya berlebihan. Ini juga pasti efek dari baca buku fantasi akhir-akhir ini. Tapi saya merasa sedikit terganggu juga. Saya tahu ada cerita serupa ini di Islam, tentang malaikat yang mencoba menjadi manusia. Tapi tidak seperti ini. Jadi pasti ini dari referensi lain. Namun apa?

Sayang sekali, hanya judulnya yang menarik hati saya. Memang provokatif sekali, ya.

Kesimpulan: tiga bintang, karena saya membacanya lancar jaya dan ada beberapa cerpen yang saya beri jempol dua. Buku ini juga pantas dikoleksi. Buat yang mau mengenal Bernard Batubara, sebaiknya dimulai dari buku ini.
Profile Image for nindy.
29 reviews25 followers
March 13, 2015
Jatuh cinta. Apa yang ada di benak kita saat mendengar dua kata tersebut? Indah? Membahagiakan? Penuh romansa? Hmm, bukankah rasa manis ketika jatuh cinta cukup mainstream? Tidakkah kita juga rasakan kepahitan, juga sisi kelam, saat jatuh cinta?

Sepertinya premis ini yang ingin diangkat Bernard Batubara, atau yang biasa saya kenal di Twitter sebagai Bara. Di kumpulan cerpen bersampul ungu-kuning ini, Bara menuturkan 15 cerita pendek dengan beragam sisi gelap jatuh cinta.

Sebelum membaca karyanya dalam bentuk novel, saya sudah lebih dulu menikmati tulisan Bara di blog pribadinya yang kebanyakan berisi cerita-cerita pendek. Sejujurnya, buku Bara yang menarik perhatian saya adalah Milana, dan memang sudah berencana untuk membelinya. Namun ternyata, justru Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri yang berhasil meraih gelar sebagai buku pertama Bara yang saya baca. Kebetulan, seorang teman memilikinya dan saya sedang kehabisan buku bacaan.

Namanya juga kumpulan cerpen. Tentunya penokohan yang ada dalam tiap cerita pasti berbeda. Beberapa cerita dikisahkan menggunakan sudut pandang orang pertama, beberapa diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga. Gaya bahasanya masih khas Bara. Diksinya 'sastra banget'. Walau saya bukan tipe pembaca sastra, tapi pemilihan kata Bara tidak mengurangi keasyikan membaca. Jujur, kadang saya harus membaca satu kalimat berulang kali untuk memahami maksud yang ingin disampaikan sang tokoh. Namun, di sinilah seninya membaca karya Bara. Ia selalu berhasil meletakkan makna implisit yang menggelitik.

Seperti misalnya ketika membaca cerpen Seribu Matahari Untuk Ariyani. Bara mencoba mengangkat permasalahan kekerasan seksual pada anak-anak yang marak terjadi. Atau, dalam cerpen Bayang-bayang Masa Lalu. Saya merasa ada curhatan mengenai keadilan negeri ini. Dan masih banyak lagi pesan-pesan yang tersirat dalam kesuraman jatuh cinta yang menyentil kita.

Beberapa cerita dalam Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri cukup familiar bagi saya karena pernah Bara publikasikan di blog pribadinya. Yang menarik dari cerita-cerita pendek di buku ini adalah timbulnya hawa misterius setiap kali kita membaca kisahnya. Dan, justru kemisteriusan itulah yang membuat kita--para pembaca--ingin segera menamatkan satu cerita dan cepat-cepat menuntaskan cerita berikutnya. Hal menarik lainnya yang ada dalam buku ini adalah ilustrasi cerita yang dibuat sama misteriusnya dengan cerita yang akan disajikan di tiap halaman awal cerita.
Saya mencatat dua typo yang ada di buku ini; yang paling saya ingat adalah ketidaksesuaian panggilan 'Ayah' dan 'Papa'. Selain itu, tidak ada kesalahan letak tanda baca atau yang lainnya.

"Jika ia adalah sesuatu atau seseorang yang layak aku tunggu, ia tidak akan memberiku hanya sebuah kadang. Kata itu merendahkan usaha dan meremehkan seluruh kerja keras penantianku. Aku tidak ingin mencintai seseorang yang memberiku kadang." -Seorang Perempuan di Loftus Road.

"Hanya orang yang paling mencintaimu, yang mampu membunuhmu." -Orang yang Paling Mencintaimu.

"Mungkin ketika sampai pada sebuah keberhasilan, orang-orang yang melecehkanmu akan kembali dan bermanis-manis kepadamu, tapi kau hanya mendengar kata-kata kosong mereka dan kau lalu meninggalkan mereka tanpa minat." -Nyctophilia.

Menurut saya, kumcer Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri merupakan satu buku yang harus dibaca untuk kalian yang terlalu sering berandai-andai dengan segala indah manis cinta.
Profile Image for Gin Teguh.
Author 11 books47 followers
November 30, 2015
Baiklah. Ini buku ketiga dari Bernard Batubara yang saya baca setelah Cinta. dan Surat untuk Ruth. Dan saya berekspektasi lebih dikarenakan judulnya yang provokatif.

Ada 15 cerita pendek dalam buku ini. Sayangnya hanya 6 yang membuat saya terhenyak.

'Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah' membuka buku ini dengan luar biasa. Jujur, ekspektasi saya terbayar. Diikuti dengan 'Nyanyian Kuntilanak' yang sayangnya begitu datar. Ekspektasi sedikit menurun.

Untungnya, 'Seorang Perempuan di Loftus Road' (yang ternyata merupakan cerita tanggapan atas karya Sungging Raga) menaikkan ekspektasi saya terhadap buku ini. Meski kemudian sedikit turun lagi, di 'Hujan Sudah Berhenti' yang alurnya sangat tanggung karena sebenarnya masih bisa dieksplor lebih jauh lagi.

'Bayi di Tepi Sungai Kayu Are' menaikkan ekspektasi saya untuk terus melanjutkan ke cerita-cerita berikutnya. Dan dibayar dengan 'Seribu Matahari untuk Ariyani' yang sangat menarik. Sayangnya, ekspektasi kembali anjlok setelah membaca 'Langkahan' yang sangat datar dan mudah ditebak. Dan voila, kekecewaan saya dibayar oleh cerita 'Meriam Beranak' yang mengejutkan. Plus, dilengkapi dengan asyiknya 'Lukisan Nyai Ontosoroh'.

Dan sepertinya itu adalah puncak dari ekspektasi saya karena 6 cerita pendek berikutnya, sangatlah mengecewakan. Meski sempat naik sedikit di 'Nyctophilia' (cerita yang pernah saya baca di blog milik Bernard Batubara).

Tapi menarik melihat keberanian Bernard Batubara yang mencoba lepas dari bayang-bayang pop di karya-karya sebelumnya. Ini memang buku kumpulan cerita yang tak sempurna (melihat naik turun secara kualitas). Saya merasa, ada keterburu-buruan ketika menyusunnya. Padahal saya mengira, Bernard Batubara bisa lebih serius di beberapa cerita di halaman-halaman terakhir seperti halnya cerita-cerita pembukanya yang cukup memukau.

Meski begitu, ini buku yang layak untuk dikoleksi dan langsung mengubah pandangan saya terhadap Bernard Batubara. Ditunggu lagi karya-karya kelamnya macam ini.
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
March 10, 2015
“Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri. Untuk hal itu, aku setuju.” –Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, hlm. 252


Pernah mendengar selentingan kalau cinta adalah sesuatu yang manis? Banyak orang mengasumsikannya dengan premis seperti itu; manis, hangat, terang, semuanya pasti ada dalam satu paket. Tapi, di balik sebuah tatapan teduh seseorang dan buaian manis sebuah kata, ada satu hal yang tak pernah bisa lekang dari nalar seorang manusia. Manusia terlalu pandai untuk menyakiti.

Mereka dapat saling bunuh untuk lembaran uang; membunuh untuk sekadar mendapatkan apa yang meraka mau. Lantas, dengan kumpulan cerpennya Bernard Batubara mencoba mengumpulkan lima belas cerita pilu yang tak melulu tentang cinta yang manis. Jika cinta punya sisi terang, pun cinta punya sisi gelap.

1. Hamidah Tidak Boleh Keluar Rumah
2. Nyanyian Kuntilanak
3. Seorang Perempuan di Loftus Road
4. Hujan Sudah Berhenti
5. Bayi di Tepi Sungai Are
6. Seribu Matahari untuk Ariyani
7. Langkahan
8. Meriam Beranak
9. Lukisan Nyai Ontosoroh
10. Bayang-bayang Masa Lalu
11. Orang yang Paling Mencintaimu
12. Nyctophilia
13. Bulu Mata Seorang Perempuan
14. Menjelang Kematian Mustafa
15. Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Dari satu sampai lima belas, cerpen-cerpen milik Bernard Batubara tak ayal telah melangkahi lini ekspektasi saya. Mulanya dari rasa penasaran dan tertarik dengan sampulnya yang cantik, tapi di cerpen pertama pun sudah membuat saya bergidik. Dengan judulnya “Hamidah Tidak Boleh Keluar Rumah”.




Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...
Profile Image for Tephanie.
1 review
December 29, 2014
Awalnya pada saat tau buku si Bara muncul di bukabuku.com dengan judul Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri, jujur saya mengira endingnya bakalan sedih2 kayak Surat untuk Ruth. Di Surat untuk Ruth kata2nya amat sangat mengalir dengan mudah tapi tidak disini. Buku kumcer ini bertajuk lebih ke 'sastra' daripada ke cerita pendek biasa.

Ada 2 cerita yang sangat saya suka disini. Judulnya adalah Loftus Road dan 1000 MAtahari untuk Ariyani. Di Loftus Road, cerita yang dituang oleh Bara sungguh jauh dari realitas. Bagaimana seorang manusia bisa berubah atau mengharapkan dirinya menjadi sebuah pohon? Tentunya sosok manusia digambarkan sebagai kelompok yang kompleks dengan rumitnya permasalahan, cinta, dan kekecewaan. Cerita yang dituturkan Bara terkesan 'sastra' namun ia masih mengemasnya dalam kata-kata yang mudah diserap.

Untuk cerita 1000 matahari untuk Ariyani, wahhhhh speechless! Dibanding cerita2 lainnya, cerita yang satu ini saya baca dengan sanat antusias. Ia menggambarkan seorang anak yang (sedikit) terbelakang dengan sangat sangat sangat sempurna. Ia menulis sama PERSIS seperti bahasa seorang anak kecil. Menghitung jumlah teman sekelasnya, menggambar matahari, dan hal-hal kecil yang bahkan saya pernah mencoba menulis (untuk keperluan mengajar saya) untuk anak kecil, saya tidak bisa! HAHAHA~~ In brief, saya sih melihat pada kisah ini anak yang berlatarbelakang lurang secara mental pun bisa merasakan cinta di usianya. Cinta secara tulus dan tidak penuh kepura-puraan.

Errrr, buat cerita Nyctophilia, aku sudah baca 2x dan I still did not get the point :( Overall, SUKA BANGET sama novel2 Bara deh! Semoga suatu hari ketemu langsung sama penulisnya!! :)
Profile Image for liez.
180 reviews20 followers
December 21, 2015
-Hanya orang yang paling mencintaimu, yang mampu membunuhmu-

Suka banget sama buku ungu ini. Mulai dari kavernya, penulisan dan cerita-cerita yang disajikan. Dari awal membaca saya sudah memikirkan akan dibawa kemana kumpulan cerita ini dan setelah membaca, saya selalu berakhir dengan kaget atau "hah" yang berulang2. Saya menyukai hampir semua ceritanya. Buku ini memiliki aura suram (dan terkadang muram) walau berbicara cinta. Ternyata cinta tidak hanya menawarkan rasa manis.

Review selengkapnya
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
December 30, 2014
sebenarnya sudah kutulis ben, panjang, tapi kehapus, nanti kutulis ulang dehh
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
February 23, 2015
Berdasarkan pernyataan Bara bahwa buku ini akan berbeda dari buku-buku sebelumnya yang cenderung lebih teenlit, saya tergerak untuk membaca. Bara tampaknya sedang mencoba membawa pembacanya pada area bermain yang lain, pada 'dunia' yang berbeda.

Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri saya dapatkan ketika GRI Surabaya mengudara bersama Sang Penulis, Bernard Batubara di Prima Radio Surabaya. Berbagi slot, saya secara singkat mendengar Bara berkisah tentang buku terbarunya. Setelah Milana dan Surat untuk Ruth, saya cukup bertanya-tanya, apa yang telah dihasilkan oleh penulis muda produktif ini.

Ini bukan perkenalan pertama saya pada karya-karya Bara, namun seakan saya sedang diperlihatkan sesuatu yang baru dari sisi penulisan Bara. Lima belas cerpen pada buku ini relatif singkat dari sisi kuantitas kata. Mungkin sejatinya memang cerpen-cerpen ini ditujukan untuk koran. Banyak sisi surealis yang ditampilkan. Personifikasi pun cukup sering bermunculan. Saya merasakan 'kehadiran' Aan Mansyur pada bagaimana Bara membangun cerita. Misalnya personifikasi pohon dan hujan. Sepintas mengingatkan saya pada Kukila dan Hujan. Deras Sekali, cerpen milik Aan mansyur.

Seperti biasanya, Bara selalu serius pada pemilihan diksi. Penciptaan suasana ceritanya cukup berhasil pula. Hanya saja karena mungkin pada saat penulisan ada target jumlah maksimal kata tertentu yang diterapkan, sehingga seakan penulis agak kekurangan ruangnya. Beberapa kali saya mesti agak kecewa karena pemaparan latar belakang tokoh yang terputus di tengah (meski sebenarnya hal itu bukan garis utama jalan cerita).

Penulis juga membentuk kisah-kisahnya dari berbagai pengaruh. Misalnya saja cerpen Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah yang ditulis karena terinspirasi tweet dari Aan Mansyur. Cerpen Nyanyian Kuntilanak dan Lukisan Nyai Ontosoroh kental dipengaruhi oleh kota Pontianak dan tetralogi Buru milik Pram.

Sebagai pembuka dan penentu, saya mungkin akan lebih setuju dengan peletakan Nyctophilia, cerita favorit saya di antara kelimabelas cerpen yang ada di halaman awal. Cerpen itu mengalir, utuh secara porsi pemaparan logika cerita, dan memiliki ending yang tidak saya duga. Cerpen yang berhasil 'membuat kesal' begitu, secara otomatis meresap ke dalam kepala.

Bara masih punya waktu, daya juang besar dan kesempatan luas untuk berkembang dengan cerpen-cerpennya. Sebagai pembaca, saya cukup menantinya tanpa buru-buru.

Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
August 22, 2016
"Ibuku bilang, jika kau belum gila karena cinta, kau masih memberi hatimu setengah-setengah. Dan, kau tak hanya akan gagal mendapatkan cinta, tapi hal-hal yang lain juga dalam hidupmu jika kau memberi hati setengah-setengah."

“Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri” merupakan kumpulan buku berisi 15 cerita pendek yang masih menceritakan tentang CINTA. Namun, 15 cerita terpilih yang ada dalam buku ini mencoba mengupas tentang cinta dari segi lain. Jika biasanya kita membaca cerita cinta yang manis, kali ini penulis mencoba memberi warna yang berbeda dari kumpulan ceritanya. Kita akan dibawa ke sisi gelap, pahit, bahkan cenderung suram dan mematikan dalam novel ini.

Dari penampilan covernya dengan warna “ungu” dan judulnya yang begitu “menggoda”, kamu akan disuguhkan pengalaman membaca kisah cinta yang berbeda dari buku-buku yang mungkin telah kamu baca sebelumnya. Nuansa lokal yang dibangun, kali ini penulis banyak mengambil setting lokasi di Kalimantan, juga sudah memberikan warna tersendiri.

Buku ini memuat 15 cerita pendek terpilih, antara lain:
1.Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
2.Nyanyian Kuntilanak
3.Seorang Perempuan di Loftus Road
4.Hujan Sudah Berhenti
5.Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
6.Seribu Matahari Untuk Ariyani
7.Langkahan
8.Meriam Beranak
9.Lukisan Nyai Ontosoroh
10.Bayang-Bayang Masa Lalu
11.Orang Yang Paling Mencintaimu
12.Nyctophilia
13.Bulu Mata Seorang Perempuan
14.Menjelang Kematian Mustafa
15.Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri

Dibuka dengan cerpen “Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah” dan diakhiri dengan “Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri”, aku dibuat larut dengan cerita yang disajikan oleh penulis, hingga tak terasa sudah sampai di halaman terakhir. Aku dibuat terkesima dengan “twist” yang disajikan di setiap akhir ceritanya, sesuatu yang sungguh diluar pikiranku. Walau memang buatku masih ada saja yang mengganjal dan terkesan anti-klimaks, tetapi aku cukup menikmati buku ini. Jika kamu ingin membaca cerita cinta dari sudut pandang yang berbeda, kamu bisa mencoba membaca buku ini dan rasakan sendiri sensasinya. Kamu akan dibawa ke dalam dunia cinta ala Bernard Batubara yang penuh aura mistis, nuansa lokal, gelap, kepedihan dan pada akhirnya mematikan.
Profile Image for Anggrek.
Author 3 books11 followers
April 29, 2015
"Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" (JCaCTuBD) merupakan kumpulan cerpen kedua Bernard Batubara (Bara) setelah "Milana". Kumpulan cerpen kali ini juga masih bercerita dengan kelam, tanpa ada ending yang cerah dan memang seakan menunjukkan bahwa memang begitulah yang akan disampaikan kumpulan cerpen ini: tidak selamanya cinta berakhir bahagia meski di awal proses kejatuhan cinta begitu indah.


JCaCTuBD berisi 15 cerpen yang membuat pembaca lebih leluasa memainkan imajanisi karena ruang yang Bara sediakan melalui narator membuat pembaca "dihormati sebagai pembaca". Misalnya saja narator mengajak pembaca berinteraksi salah satunya dalam cerpen terakhir di buku ini yaitu "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri". Narator memperlakukan pembaca teman, bukan sebagai penonton. Itulah yang saya sukai saat membaca kumpulan cerpen ini--rasanya seperti mendapat teman baru.


Kelima belas cerpen ini berisikan formula cerita yang sudah dijadikan oleh masyarakat sebagai cerita turun-temurun terasa seperti takhayul, mitos, yang dalam kumpulan cerpen ini rata-rata Bara mengambil formula itu dari kearifan lokal seperti bisa dibaca pada cerpen "Nyanyian Kuntilanak", "Bayi di Tepi Sungai Kayu Are", "Langkahan", "Meriam Beranak" dan lain sebagainya.


Pada kumpulan cerpen Milana, unsur cinta yang disajikan Bara terasa masih labil, seperti orang remaja yang tidak bisa mengendalikan perasaannya, maka di kumpulan cerpen JCaCTuBD kali ini unsur cinta disajikan Bara terasa dewasa dalam artian segala sesuatunya terencana, emosi yang terbangun benar-benar terencana sehingga pada akhirnya semakin dewasa cinta itu, akan diam-diam menyembunyikan rasa sakit, terlihat sangat tegar. Begitulah tampilan keseluruhan tokoh pembawa cerita dalam kumpulan cerpen ini. Para tokoh memang terlihat tegar sekali menyembunyikan sakit mereka, lalu pada akhirnya kita pun akan tahu dampak jatuh cinta memang cara terbaik untuk bunuh diri.


Ya, Bara berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikannya, bahwa memang jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri.
Profile Image for Anisa Nurjanah.
6 reviews1 follower
January 31, 2015
Sekalipun ini adalah buku ketujuhnya Mas Bara, tapi buku ungu nan manis ini adalah buku pertama karangan Mas Bara yang saya baca. Berawal dari give away-nya Gagas Media, saya bertemu dengan buku ini. Terima kasih Gagas!

Dari sekian banyak pemikiran yang berkelebat, cuma satu yang nempel sampai ke akhir halaman: Ini beneran penulis yang sama dengan penulis radio galau fm? I mean, oke, saya memang baru melihat filmnya dan belum membaca bukunya. Tapi menurut saya, adaptasi sebuah buku menjadi film tidak akan begitu jauh menyimpang dari buku, sekalipun banyak kurang disana sini. Buku ini, menurut saya, memiliki 'vibe' yang berbeda dengan radio galau fm. Tidak banyak penulis yang dapat membuat karya dengan 'vibe' yang berbeda. Untuk ini, you gained my respect, like a huge one :)

Dari sekian banyak cerpen yang dimuat, "Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah" tetap jadi jawara di hati saya. Diikuti dengan "Seribu Matahari untuk Ariyani" dan "Lukisan Nyai Ontosoroh". Bukan berarti yang lain tidak bagus, macam "Nyctophillia" atau "Hujan Sudah Berhenti", tapi ketiga cerpen yang saya sebutkan memiliki kesan yang sangat dalam, bagi saya *lebay mode: on*

Saya suka gaya penyampaian cerita yang berbau sastra. Kebanyakan cerita memiliki impact yang cukup siginifikan di akhir cerita, sekalipun ada beberapa cerita yang menurut saya ending-nya biasa saja. Overall, buku ini membuat saya penasaran dengan buku Mas Bara sebelumnya.

Tiga bintang untuk buku ini.

Good job, Mas Bara!!
Author 4 books21 followers
January 8, 2015
Ini karya ketiga Bara yang aku baca setelah Cinta. dan Surat untuk Ruth. Dan, thank God, aku nggak kecewa dengan kumpulan cerpennya ini. Sesuai dengan yang aku harapkan. Aku lebih suka dengan ceritanya yang kelam dan lebih ke arah 'sastra' dibandingkan cerita pop yang galau (macam Cinta. itu).

Ada beberapa cerita yang memang biasa saja dan nggak jelas (menurutku) tapi selain itu, sisanya aku suka semua.

Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah, membuka kumcer ini dengan baik. Aku langsung suka dengan ceritanya yang bernuansa lokal. Entahlah. Kayaknya aku lagi bosan membaca cerita Indonesia yang banyak menggunakan campuran bahasa Inggris dalam dialognya dan Hamidah memuaskan dahagaku akan cerita yang lebih 'Indonesia'.

Satu cerpen yang paling aku suka dalam kumcer ini adalah Seribu Matahari untuk Ariyani. Cerita ini menggambarkan cinta seperti yang disampaikan Bara dalam kumcer ini. Cinta tidak selamanya manis. Cinta itu pedih.

Menurutku dalam cerpen Ariyani ini, Bara benar-benar menunjukkan kemampuannya dalam menulis cerita. Good job buat Bara.
Profile Image for Rahardian Shandy.
14 reviews
October 15, 2015
Sebelumnya, kalau saya disuruh membandingkan antara cerita yang diramu oleh Bara dalam sebuan novel dengan di dalam sebuah cerpen, maka saya akan mengatakan jika cerita di dalam cerpen-cerpen Bara jauh lebih menarik ketimbang novelnya. Mengapa? yang pertama, seperti yang sudah saya baca di beberapa novel Bara (Seperti Cinta. dan Surat Untuk Ruth), cerita yang ia ramu di dalamnya terkesan lebih mendayu-dayu. Amat jauh jika dibandingkan dengan cerpen-cerpen Bara yang sekiranya lebih gelap, bahkan tak jarang membuat saya mengernyitkan kening ketika sampai di akhir cerita. Setidaknya itu menurut saya.

Oke, bila bicara tentang kumcer Bara kali ini, maka saya akan katakan jika kekaguman saya kepada Bara belum berkurang sedikit pun. Mungkin, karena itulah sampai sekarang saya masih menjadikan Bara sebagai salah satu 'kiblat' saya dalam membuat cerpen. Meskipun hampir sebagian cerpen di dalam buku ini sudah pernah saya baca (di bisikanbusuk.com), tapi untungnya beberapa cerpen lainnya amat menarik. Dan yang membuat cerita-cerita itu menarik tak lain adalah karena Bara berhasil mengeluarkan sisi gelap, juga sadis dari hal yang amat dekat dan melekat dalah hidup kita: cinta. Jadi, agaknya tak salah jika saya memberikan bintang empat kepada buku kumcer Bara kali ini.
Profile Image for Anisa.
84 reviews7 followers
March 27, 2015
Gak nyangka kalau isinya ternyata kumpulan cerita pendek dengan isinya yang sangat 'menyayat hati'

Dari judulnya sih emang udah tahu kalau cerita di buku ini akan beraura 'kelam' karena bang Bara membawa pembacanya melihat sisi lain dari cinta yang selama ini diidentikan orang dengan kebahagiaan. Padahal dengan jatuh cinta, kita juga kerap merasakan kepedihan dan patah hati.

Memang, cerita - cerita di buku ini tidak ada yang membuat pembaca merasakan kebahagiaan lantaran memang para tokohnya tidak bahagia karena cinta. Jadi, begitulah yang dirasakan pembaca. Tapi, aku justru menyukainya. Cerita - cerita yang disajikan berbeda dengan cerita romance kebanyakan. Akhir yang sad ending, dan beberapa ada yang gantung (saya lupa sebutannya untuk cerita yang begini).

Yang sangat saya kagumi, ide bang Bara yang begitu cemerlang, tidak main stream. jujur saja saya sama sekali tidak bisa menebak akhir cerita di setiap cerpen - cerpen itu. Dan kemampuan bang Bara yang bisa menggunakan POV dari berbagai sudut pandang.

Tulisan bang Bara emang sangat berciri sastraaaa bangeettt

Love this book :)
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
January 13, 2015
3,5 bintang. saya sangat menyukai perkembangan Bang Bara; pesat dan hampir-hampir drastis, setelah saya bandingkan dengan karya-karya terdahulunya, yang bahkan hanya berselang satu dua tahun dari Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri. rentang waktu yang pendek itu menjadi bukti Bang Bara benar-benar serius meningkatkan kualitas tulisan (dan bacaan, saya lihat) sampai menjadi seperti yang ada dalam buku ini. rapi, indah, kadang magis, walau pada beberapa kalimat saya merasa terlalu kaku sehingga kurang nyaman dibaca.

saya lebih menyukai cerpen-cerpen di bagian akhir yang terkesan lebih realistis. cerpen-cerpen di bagian awal dan tengah saya rasakan seperti cerita rakyat yang ditulis dengan cantik tanpa menghilangkan nuansa khasnya. hanya, saya tak suka membaca cerita berbau erotika. cerpen-cerpen bagian awal dan tengah dalam buku ini, lepas dari nilai-nilai positifnya, banyak berbau erotika. karena saya tak suka (dan ini berkaitan dengan prinsip pribadi) maka saya memberi buku ini hanya tiga setengah bintang saja.

tetap saja, saya salut pada produktivitas Bang Bara dan dedikasinya pada dunia sastra. semoga sastra negeri ini pun lekas berkembang sepertimu, ya, Bang.
Profile Image for Novarina Simbolon.
31 reviews4 followers
February 15, 2015
Judul buku ini, yang pertama kali bikin pengen beli--entah kenapa belakangan sering tertarik beli buku gara-gara judulnya, bahaya nih--dan setelah pertimbangan masak-masak selama lima detik, tak ambil juga bukunya dari rak di Gramedia itu. (tsaelaaah..)

Anyway, awalnya bingung sih pas baca buku ini. Maklum, saya kan beli karena judulnya, jadi memang nggak ngeh kalo ini ternyata kumpulan cerita, bukan novel. Bukunya, sama seperti reviewnya Dee di sampul belakang: gelap. Dia menceritakan sisi yang lebih gelap tentang cinta, mencintai sih mungkin lebih tepatnya. Nggak cuma sekali juga saya merinding sambil baca buku ini (ditambah bacanya di malam Jum'at, jadi makin ngeri :p).

Tapi biarpun gelap, saya suka sama cerita-ceritanya. Ngerasa sayang juga karena cuma cerita pendek, tapi nggak kebayang juga kalo cerita-ceritanya lebih panjang lagi kayak novel. Mungkin lebih seru, mungkin mengecewakan.

Cuma orang yang paling mencintaimu yang paling bisa membunuhmu. <--- kurang lebih begitu kalimatnya, yang paling saya suka.
Profile Image for Andi.
Author 22 books12 followers
Read
April 24, 2016
Di halaman 173, saya menyerah setelah bersabar membaca kata demi kata.

Di halaman 173, si aku bertanya-tanya "Kenapa aku menembak mati Miranda yang aku cintai?", padahal di halaman 172 si aku jelas-jelas melepaskan pelukan Miranda, menarik tangannya, lalu mendorongnya ke dalam kobaran api. Si aku menyaksikannya berteriak saat api menjilati tubuhnya dalam balutan gaun merah saga. Tidak ada suara DORRR! di situ.

Di halaman 173, saya membayangkan Miranda dalam balutan merah saga mati mengenaskan terpanggang api dan si aku terlalu sakit untuk langsung membunuhnya dengan satu tembakan (tak bersuara?). Mungkin saya gagal paham, atau... ah, sudahlah.

skimmed and skipped
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sainstika Diza.
8 reviews
April 20, 2015
"Untuk apa? Aku sudah cukup bahagia hanya dengan melihatnya. Jika aku menjadi manusia lagi, siapa yang tahu pasti bahwa dia akan menepati janji? Dia sudah pernah mengecewakanku. Dia bisa melakukannya lagi."
"Kamu terlalu pesimis."
"Aku terlalu cinta, hingga aku mwrasa takut."

Potongan dialog dalam salah satu cerpen didalam buku ini. Masih tetap jadi yang terfavorit.

Banyak yang bilang, benz berubah dibuku ketujuh nya ini. Jadi kayanya harus baca buku-buku nya yang lain, eksplore lebih dalam, biar bisa tau apa benz benar-benar berubah atau enggak. Hahaha.
Profile Image for Denny Ardhianto.
222 reviews24 followers
January 11, 2016
JUDULNYA MENIPU! dan covernya juga...

Sebenernya dari sinopsis udah tau kalo buku ini bahas cinta dari sisi gelap, tapi enggak nyangka, LEBIH GELAP DAN KELAM daripada ekspektasi awalku.
Cerpennya aku suka, ya cerpen yang jadi judul buku (Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri) menurutku biasa aja, lebih suka cerpen yang lainnya.
Ada satu cerpen yang sebenernya itu udah cerita biasa, karena dulu juga ada berita heboh tentang cerita ini di TV, jadi udah enggak terkejut.
Selebihnya aku suka.
Profile Image for Rieka Berry.
1 review1 follower
December 16, 2014
Seneng banget karena pulang kantor disambut sama si ungu dirumah.

Seperti cerita Bara yg lain, cerita yang selalu membuat pembaca gemas, tidak lain dan tidak bukan adalah tentang CINTA.
Di buku ini, ceritanya lebih kompleks, Bara dengan sukses membuat imajinasiku semakin liar. Semua ceritanya membuat imajinasi yang berbeda tentang cinta. Di buku ini, bisa ditemukan kalau cinta itu tidak hanya satu, tetapi banyak dan tidak terbatas.
i love his word choices. simple but meaningful.
Profile Image for Gistii Adistie.
19 reviews2 followers
January 27, 2015
I love his books as always..

Saya selalu suka semua buku karya Bara, dari awal hingga buku ketujuhnya.
Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri merupakan sekumpulan cerpen. Sama seperti Milana.
Saya suka cara Bara merangkai kalimatnya, untuk mengungkap sisi lain dari cinta yang manis.
Cinta tidak selamanya manis memang. Tapi setiap cerita yang ditulis Bara, selalu menjadi kisah yang manis untuk dibaca.

I recommend this book!
Profile Image for Haniva Zahra.
425 reviews43 followers
April 19, 2015
Saya pribadi hanya suka dengan judulnya yang menarik. Untuk ceritanya sendiri, penulis menunjukkan kepada pembaca berbagai macam interpretasi dari cinta. Menariknya, buku ini berbeda dengan yang lain. Buku ini menceritakan bahwa jatuh cinta itu banyak pahitnya, banyak jatuhnya, apalagi sakitnya.

Saya berusaha sangat keras untuk sampai di halaman terakhir, semata karena saya ternyata tidak terlalu cocok dengan buku jenis seperti ini :)
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
September 24, 2015
meskipun saya menjuluki diri saya bahwa tahun ini adalah tahunnya saya membaca kumcer, tapi saya kurang bisa menikmati kumcer ini.

hanya 2 cerpen saja yg benar-benar bisa saya nikmati. sisanya saya merasa seperti ketakutan, kebingungan dan tidak puas.

mungkin karena tema ceritanya? entahlah. saya jadi teringat milana yg bisa saya habiskan dalam sekejap dan membuat saya membacanya ulang.

ditunggu kumcer lainnya kak Bara!
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
December 21, 2015
Saya suka Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah, Nyctophilia, Seribu Matahari untuk Ariyani, Bayi di Tepi Sungai Kayu Are, Menjelang Kematian Mustafa, Seorang Perempuan di Loftus Road.

Baca review selengkapnya di sini: http://kimfricung.blogspot.co.id/2015...
31 reviews
November 15, 2015
First impression selain 'Aku suka bahasanya. Aku suka ceritanya. Suka semuanya!', aku merasa bersalah baca novel ini (?) dewasa, ya -_-
Padahal diriku ini masih polos (?) :3
Tapi beneran deh ini buku bagus. Banyak quotes yang dalem/? Hahahahahaha.
Tapi ini bukan termasuk genre favoritku, jadi bintang 3 :v
Displaying 1 - 30 of 132 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.