Perbedaan otak introver dengan otak ekstrover:
1. Introver memiliki aktivitas listrik yang lebih besar di daerah korteks frontal yang merupakan tempat pemrosesan internal, belajar, membuat keputusan, mengingat, dan memecahkan masalah. (Roming, 2011).
2. Peningkatan aliran darah di korteks frontal terjadi pada otak introversi (Dr. Debra Johnson, 1999). Darah introver dan ekstrover bergerak mengikuti jalur-jalur yang berbeda. Rangsangan pada introver harus menempuh perjalanan yang lebih mendalam ke dalam otak daripada orang ekstrover. Akibatnya introver sering memerlukan waktu yang lebih lama untuk berpikir sebelum bereaksi.
3. Otak ekstrover menunjukkan aktivitas yang jauh lebih banyak di jalur neurotransmiter dopamin, sedangkan introver lebih aktif di jalur asetilkolin (Olsen Laney, 2002).
Neurotransmiter berperan sebagai pembawa pesan yang berpengaruh terhadap aktivitas korteks serebral, membawa pesan seperti rasa puas dan rasa sejahtera (Roth, 2007). Jalur-jalir yang diikuti neurotransmiter terbentuk akibat aksi-aksi berulang yang membentuk kebiasaan.
4. Dopamin berhubungan dengan gerak motoris, rasa ingin tahu, pencarian keragaman, dan keinginan mendapatkan imbalan. Sedangkan asetilkolin penting untuk konsentrasi, memori, dan pembelajaran (Roth, 2007).
Susan Cain (2011) menyimpulkan bahwa perbedaan neurobiologis ini membuat ekstrover lebih berorientasi pada imbalan, sedangkan introver berorientasi pada ancaman.
Konsekuensinya dalam berkomunikasi: ekstrover cenderung ceria, bersemangat, gembira, bahkan merasakan euforia. Ekstrover juga lebih bersedia mengambil risiko, berani menghadapi konflik, cenderung ambil peluang yang berisiko, dan lebih nyaman berada di lingkungan dengan banyak orang.
Introver tidak sering mengalami euforia dan tidak mengejar perasaan itu. Mereka cenderung mengamati dan mendengarkan dengan cermat sebelum beraksi. Lebih suka menghindari konflik dan jarang bersikap agresif.
5. Ada dua sistem yang karakteristiknya berlawanan dalam saraf otonom kita. Saraf otonom adalah daerah tempat segalanya terjadi secara otomatis.
a) Sistem simpatetis menjamin agar tubuh dapat berbuat sesuatu, bersiap untuk fight or flight, atau upaya besar lain yang berkaitan dengan dunia luar.
Saraf ini menggunakan "transmiter ekstrover" dopamin sebagai penyampai pesan.
b) Sistem parasimpatetis bekerja untuk hal yang berlawanan dengan simpatetis.
Saraf ini menjamin ketenangan, relaksasi, dan konservasi. Sistem ini menurunkan denyut jantung dan mendorong pencernaan dengan "transmiter introver" asetilkolin.
6. Karena inilah, para ekstrover (menurut penelitian Debra Johnson di tahun 1999), membutuhkan rangsangan lebih banyak dari dunia luar. Mereka memang tidak bisa merangsang diri sendiri dari dalam sampai ke tingkat intensitas yang sama.
Bersikap tenang dan santai itu tantangan buat ekstrover.
Jika ekstrover dihadapkan pada aktivitas rutin, sedikitnya orang yang aktif, atau ritual yang kaku, mereka akan merasa kurang terstimulasi. Akibatnya bisa cepat resah atau bosan jika dalam waktu lama tak mendapat rangsangan. Menderita gejala kekurangan dopamin. (Peneliti Dean dan Peter Copeland).
***
Di sini dikatakan, sungguh menyehatkan jika bisa berpindah-pindah di sepanjang kontinuum introver-ekstrover sesering mungkin asal masih dalam zona nyaman kita, paling dekat dengan biotop atau habitat alami kita, yang paling sesuai dengan kita, agar kita bisa mengoorganisasikan hidup kita dengan lebih mudah dan menyenangkan.
***
Bagi orang introver, bertemu dengan orang lain dianggap investasi. Itu karena bertemu banyak orang dalam kelompok besar, menguras energi dan bisa membuat introver jadi tidak berdaya. Karena itu mereka memasang pertahanan diri. Mengajukan persyaratan yang sangat tegas, dan memilih posisi yang pasif ketimbang secara aktif mendekati orang lain.
Kejadian-kejadian eksternal akan terus-menerus dinilai berdasarkan pengalaman, sikap, atau standar pribadi. Jadi ketika orang introver menutup diri dari dunia luar, ia bukannya tidak peduli, tapi sedang perlu waktu untuk mengisi ulang energi sendirian.
Namun, ada juga para introver yang cukup puas meski waktu menyendirinya lebih sedikit. Mereka senang bergaul dan merawat pergaulan mereka sedemikian rupa agar dapat tampil seperti ekstrover. Mereka disebut sebagai introver yang senang bergaul (socially accessible introvert) oleh Helgoe (2008). Sedangkan penulis buku ini menyebutnya sebagai flexi-introverts (introver yang fleksibel) karena kelompok ini bisa dengan mudah mengubah diri menjadi ekstrover. Namun, tetap saja mereka perlu masa tenang dan menyendiri sebelum mampu berhadapan dengan orang lain lagi.
Sayangnya fleksi-introver yang terkesan lebih mudah diakses ini sering sulit memenuhi kebutuhannya karena orang lain biasanya sulit memahami bahwa mereka butuh waktu menyendiri. Adakalanya para fleksi-introver sendiri tak sadar soal itu.
***
Para introver cenderung mengkritisi dirinya sendiri dan butuh upaya sadar agar bisa menemukan kelebihan diri mereka. Jika tidak terkontrol, hal ini bisa menyabotase diri sendiri. Buku ini menjabarkan kekuatan sosok introver, yaitu:
1. Kewaspadaan
Hal ini bisa terlihat pada bagaimana para introver berhati-hati dalam mengambil.keputusan maupun memperlakukan orang lain ketika berkomunikasi. Mereka tidak menanggapi orang lain dengan reaksi berlebihan dan semburan emosi, melainkan dengan pemahaman, sopan santun, rasa hormat, dan fleksibel.
Ketika berurusan dengan orang lain, mereka memastikan ada jarak dan tidak ingin mengungkap terlalu banyak soal diri mereka sendiri. Mereka hanya menceritakan hal yang membuat mereka tergugah, yang penting buat mereka, dan yang mereka sukai hanya kepada teman mereka. Mereka juga suka menghormati jarak personal orang lain.
Mereka juga berhati-hati agar tidak mengatakan hal yang masih setengah matang atau belum dipikirkan dengan baik. Mereka juga memandang negatif penyataan orang lain yang sifatnya masih setengah matang.
2. Substansi
Para introver terus memikirkan apa yang mereka lihat, pikirkan, dan alami. Merenungkan tentang diri sendiri, orang lain, rasa dan makna, memikirkan apa yang seharusnya dan apa yang sesungguhnya. Ketika introver berkomunikasi pada orang lain, apa pun yang mereka katakan biasanya penting, signifikan, dan berharga. Dan hal itu sudah benar-benar disaring soal seberapa penting, akurasi, kesesuaian, dan latar belakangnya.
Orang introver suka menjalin pertemanan dengan sedikit orang, tapi benar-benar mendalam. Hubungan murni ini bisa terjalin seumur hidup. Mereka tidak menyukai menjalin hubungan dalam lingkar yang besar tapi tanpa komitmen.
Meskipun begitu, karakter ini bisa membuat para introver terlihat dan dicap lebih lambat dalam situasi yang memerlukan komunikasi cepat. Ini karena introver perlu waktu untuk mengolah segala informasi dan pertimbangan untuk mendapatkan kedalaman yang diharapkan. Aktivitas yang intensif dalam kepala mereka tidak terlihat dari luar.Terutama jika ada banyak hal yang harus dipertimbangkan atau banyak persilangan pendapat yang harus diselesaikan.
Meski begitu, sikap ini menguntungkan mereka ketika menghadapi perbincangan berkualitas, debat akademis, membaca artikel filsafat, atau rapat untuk memecahkan berbagai masalah.
3. Konsentrasi
Introver mampu fokus pada satu masalah untuk waktu yang lama. Karena introver tidak begitu memerlukan umpan balik atau sensasi dari luar, tidak seperti ekstrover. Nikolaus Enkelmann, pakar komunikasi, merumuskan hukum konsentrasi sebagai salah satu di antara 14 prinsip perkembangannya.
Dalam berkomunikasi, introver tidak perlu ada di bawah sorotan atau di bawah panggung untuk berkomunikasi. Juga tidak memerlukan banyak pendengar. Sehingga orang-orang yang berkomunikasi dengan introver bisa menyesuaikan diri dan memberikan perhatian yang diperlukan. Ini akan menyenangkan untuk mereka. Semua orang senang berbicara dengan orang yang bisa berkonsentrasi saat menanggapi mereka.
4. Mendengarkan
Kemampuan mendengarkan bisa menciptakan hubungan lewat suasana diskusi yang menyenangkan sampai terpecahkannya konflik.
5. Sikap tenang
Ketenangan dari dalam (inward calm) adalah kondisi mental. Orang introver akan sangat terbantu dengan kondisi ketenangan di luar (outward calm) yang meniadakan keresahan. Introver yang tidak mendapatkan ketenangan akan mudah tegang, tersinggung, dan cepat letih.
Ketenangan memberi introver lebih banyak ruang untuk merenungkan dan mengolah pengalaman. Ketenangan introver berharga bagi orang ekstrover karena hal ini mendorong mereka untuk memberikan perhatian kepada diri sendiri serta kebutuhan mereka, juga memicu mereka untuk berpikir sebelum bertindak. Kemampuan introver untuk menciptakan kondisi tenang bagi orang lain merupakan sebuah kekuatan.
Namun, ketenangan bukan semata ketiadaan gangguan eksternal. Dengan ketenangan, orang bisa mendapat pencerahan tentang diri sendiri, orang lain, dan kehidupan. Ketenangan dari dalam, bisa menyebabkan perubahan dalam otak. Studi-studi neurologis yang dilakukan Andrew Newberg dan Eugene d'Aquili menunjukkan bahwa pada orang-orang yang bermeditasi, bagian-bagian otak yang berhubungan dengan kebahagiaan, kedamaian internal, serta ketergantungan ego pada dunia sekitar menjadi lebih aktif. Ketika bermeditasi, energi yang biasa diarahkan ke bagian untuk mengaktifkan agresi, dorongan untuk lari, atau perilaku memaksa bisa berkurang secara signifikan.
6. Berpikir analitis
7. Kemandirian
8. Kegigihan
9. Keterampilan menulis daripada bicara
10. Empati
Psikologi Positif menganjurkan untuk mengandalkan dan memanfaatkan kekuatan-kekuatan sewaktu memgembangkan kepribadian. Beberapa tes dan sistem penentu kepribadian seperti Strength Finder atau Reiss Profile membantu menganalisis sisi kuat orang. Kita akan mendapatkan jauh lebih banyak jika berkonsentrasi pada berbagai kekuatan ketimbang menghabiskan tenaga membenahi kekurangan kita. Karena jika kita fokus pada kekuatan, kita membangun apa yang menjadikan kita seperti sekarang dan apa yang kita kuasai. Kita akan lebih mudah meraih kesuksesan dan merasa lebih autentik dibanding hanya sibuk mengejar kekuatan orang lain dengan cara membenahi kelemahan kita. Itu cuma memboroskan energi. (Halaman 60)
***