Dara dan Bagus mengikuti study tour ke Trowulan, kompleks candi peninggalan Majapahit. Study tour itu diselenggarakan oleh klub fotografi SMA mereka di Surabaya, tempat mereka menyalurkan hobi dan mencari pekerjaan sampingan. Mereka berdua bersemangat mencari objek menarik demi memenangi kompetisi dengan hadiah menggiurkan.
Saat berada di reruntuhan Candi Gentong, meski ada rambu larangan mendekati lorong gelap menurun menyerupai sumur, Dara tetap nekat. Bagus yang hendak membawa Dara menjauh malah ikut tersedot kabut jingga yang tiba-tiba keluar dari lorong tersebut. Begitu tersadar, mereka ternyata terlempar ke tahun 1498, ke hutan dekat Desa Wilwatikta, ibu kota Majapahit. Mereka mengalami distorsi ruang dan waktu!
Akankah petualangan mendebarkan ini membuat Bagus membalas perasaan Dara yang diam-diam menyukainya? Atau masing-masing justru menemukan sosok baru yang memunculkan kebimbangan, tetap di Majapahit atau pulang ke masa depan?
Untuk teenlit menurutku cerita tentang hubungan pertemanan, kehidupan remaja, dan manisnya jatuh cinta dapat. Serunya juga ada perjalanan waktu untuk menjelajahi Majapahit masa lalu. Hanya mungkin agak kurang terasa feel Majapahitnya saat baca, mungkin memang jangan terlalu berekspektasi tinggi tentang perjalanan waktu ini, kalau lebih ngalir dan fokus sama interaksi para karakternya saja akan jadi kisah yang menyenangkan.
Judul: The Real Past Penulis: Ayu Dewi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Halaman: 248 halaman Terbitan: Oktober 2014
Dara dan Bagus mengikuti study tour ke Trowulan, kompleks candi peninggalan Majapahit. Study tour itu diselenggarakan oleh klub fotografi SMA mereka di Surabaya, tempat mereka menyalurkan hobi dan mencari pekerjaan sampingan. Mereka berdua bersemangat mencari objek menarik demi memenangi kompetisi dengan hadiah menggiurkan.
Saat berada di reruntuhan Candi Gentong, meski ada rambu larangan mendekati lorong gelap menurun menyerupai sumur, Dara tetap nekat. Bagus yang hendak membawa Dara menjauh malah ikut tersedot kabut jingga yang tiba-tiba keluar dari lorong tersebut. Begitu tersadar, mereka ternyata terlempar ke tahun 1498, ke hutan dekat Desa Wilwatikta, ibu kota Majapahit. Mereka mengalami distorsi ruang dan waktu!
Akankah petualangan mendebarkan ini membuat Bagus membalas perasaan Dara yang diam-diam menyukainya? Atau masing-masing justru menemukan sosok baru yang memunculkan kebimbangan, tetap di Majapahit atau pulang ke masa depan?
Review
Salah satu buku yang sudah menarik perhatian saya sejak tahun lalu. Kebetulan waktu pulang kampung yang lalu, nemu novel ini didiskon 30% di salah satu Gramedia :3. Langsung beli deh (yang disambut tatapan Mama saya yang berkata, "Ha, beli buku lagi?" Yang saya jawab, "Mama juga, beli baju lagi?" :3 #DinamikaIbuDanAnak.)
Saya suka dengan ide cerita yang diambil. Saya suka juga dengan latar Majapahit-nya yang cukup believable sebenarnya, walau banyak "kemudahan" yang diberikan. Semisal: bahasa. Apakah di zaman Majapahit orang memang memakai bahasa Indonesia seperti saat ini? Kok saya ragu yah. Tapi, mungkin untuk kemudahan bersama (penulis & pembaca), orang-orang di zaman Majapahit dibuat berbahasa Indonesia, walau penulis dengan baik memperlihatkan bahwa ada kosakata yang tidak dipahami orang di masa itu.
Untuk eksekusi ceritanya... ini yang kurang memuaskan buat saya. Latar Majapahitnya kurang begitu diperlihatkan. Latar tempatnya sedikit terlalu generik, muternya cuma di rumah, hutan, dan sekitaran rumah. Selain itu, saya juga menyayangkan karena penulis kurang menonjolkan masalah politik yang diangkat.
Untuk karakternya, lumayan sih untukku. Cuma kurang suka sama galaunya Dara di bagian pertengahan akan perasaannya pada Mada. Kesannya agak "maksa" buat saya, mungkin karena kemunculannya yang kurang halus kali ya. Hubungan Bagus dan Dewi, tidak berkesan untukku. Penulis tidak memberi ruang bagi pembaca untuk menikmati kisah mereka.
Hal lain yang menonjol di buku ini adalah penulisan tanda bacanya. Entah kenapa banyak kata yang tidak dispasi setelah titik. Ada juga tanda baca yang dispasi setelah kata terakhir.
Secara keseluruhan, jujur saya kurang puas dengan novel ini. Ide dan cara bercerita penulis sudah oke. Sayang eksekusinya kurang sesuai selera.
Rekomendasi untuk: yang suka membaca fantasi kasual dan yang mau membaca teenlit dengan tema tidak biasa.
Oke, kemarin sewaktu belanja empat novel dengan genre sama semua (teenlit pastinya) tetapi tema cerita hampir beda-beda, novel 'The Real Past' ini yang paling punya ekspektasi tertinggi dariku karena sinopsisnya bisa bikin aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Covernya juga menambah kesan mistis-mistis kuno gitu yang semakin menarik minat, apalagi time-travel dan historical romance adalah salah satu genre all-time favoritku di GR.
Awal-awalnya pembuka ceritanya lumayan menarik menurutku, tetapi saat udah masuk ke bagian distorsi ruang alias perjalanan time travel ke Majapahit aku pribadi ngerasa kurang banget dapat feel-nya dan beberapa bagian scene-nya juga kalo nggak agak datar-datar ya rada ngebingungin. Malah di beberapa bagian ceritanya terkesan kurang ngalir untukku. Seingatku juga ada dua typo di dalam novel dan keduanya kalau tidak salah sama-sama berhubungan dengan tanda baca, hal yang lumayan jarang banget aku temui kalau aku baca novel teenlit-nya gramed. Mungkin ekspektasiku yang ketinggian kali ya, tapi aku salut lho ada penulis dari Surabaya yang cuma sekitar dua tahun di atasku udah nerbitin novel bertema cerita begini. Sebagai referensi aja, ada novel Incognito-nya Mbak Windhy Puspitadewi dan 7 Hari Menembus Waktu-nya Charon yang juga sama-sama ada unsur time travelnya~
Sebenarnya saya mau ngasih 3,5 tapi ga ada opsi 3,5 jadilah saya bulatkan jadi 4. Empat ini karena cerita yg bikin saya berulang kali berekspresi layaknya emot :"| belum sampe nangis. Lalu setengah yg membuat saya ingin memberi angka 3,5 adalah karena banyaaak banget typo dan ejaan yang ga konsisten.
Oke, kisah tentang dua orang yang mengalami distorsi. Awal saya tertarik dengan novel ini karena dari gambarnya saja sudah mencerminkan ada unsur sejarahnya. Berhubung saya suka sekali pelajaran sejarah dan novel ini genrenya teenlit, masuklah dia ke daftar keinginan yang akhirnya terbeli juga.
Dara yang naksir Bagus, tapi akhirnya jatuh cinta sama Mada. Manis, unyu-unyu gitu. Suka waktu Mada ngajak jalan-jalan Dara dan segala kenangan mereka yang bikin waktu baca jadi senyum-senyum membayangkan adegannya =)) Apalagi waktu Mada rela mangkas rambutnya.. Aduh itu itu.... unyu banget :"""""|
Okesip, mungkin segitu aja daripada spoiler sama yang nyari info. Omong-omong, saya penasaran siapa Mada di tahun 2009 yang melempar senyum ke Dara. Berharap ada lanjutannya sih #dor. Duh, saya jadi semacam shipper Mada x Dara gini =))
Novel ini keren banget! idenya unik dan menarik, kisah cinta yang diusung nggak melulu cinta antara lawan jenis yang menye2 kayak novel remaja kebanyakan, tapi ada juga cinta terhadap keluarga dan orangtua. ceritanya seru, ada yg bikin ketawa2 ada juga yg bikin nangis2. karakter tokoh2nya kuat, mereka punya kekurangan dan kelebihan masing2 dan itu mampu membuat pembaca ngerasa simpati sama karakter2nya (terutama mada ><). ada beberapa typo tapi nggak mengganggu jalannya cerita kok. oiya, covernya juga keren menurutku. endingnya agak gantung sih, apakah krn mau ada sekuelnya? kita tunggu aja.
Ini kalo saya bacanya bertahun-tahun silam ketika saya masih SMP, mungkin saya akan sangat menyukai buku ini. Berhubung saya bacanya sekarang, jadi nggak bisa enjoy sepenuhnya karena kzl banget sama Dara :))))
Objektifnya, untuk ukuran teenlit, buku ini berani mengambil tema yang "beda", yaitu tokoh utamanya time travel (atau istilah di sini, "terkena distorsi waktu") ke zaman Majapahit. Eksekusi keseluruhannya lumayanlah untuk terbitan zaman itu, setidaknya cara penceritaannya cukup baik dan alurnya cukup menarik untuk sebuah novel remaja (walaupun ada beberapa inkonsistensi detail cerita di sana-sini). Risetnya mungkin nggak begitu maksimal, tapi untuk ukuran teenlit okelah. Poin plusnya adalah buku ini bisa membuat remaja-remaja yang membacanya tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentang Majapahit. Mungkin setelah baca novel ini, mereka tertarik untuk googling dan mempelajari sejarah Majapahit lebih mendalam.
Tapi yaaa, seperti yang udah saya singgung di atas, karakter Dara nih ngzlin banget :))) Plin-plan, cengeng, nekat, ceroboh, rada egois, kekanak-kanakan, blablabla... membaca ceritanya dari sudut pandang dia jadi terasa annoying. :)))) Walaupun ya karakternya itu cocok-cocok aja sama umurnya (masih SMA kan dia).
Jujur saya kurang merasakan chemistry antara Dara dan Mada, kayak... heran juga kok tiba-tiba Dara bisa jadi sebucin itu padahal sebelumnya ngaku sebel karena dijutekin mulu sama Mada. Terus kenapa dia bisa cepet banget pindah ke lain hati, dari Bagus ke Mada? Anyway hubungan ketika Dara dan Mada udah saling suka lumayan lucu sih haha meskipun penulis memaksudkan hubungan itu menjadi angst dan penuh air mata karena mereka saling jatuh cinta pada orang yang berbeda masa.
Bagian paling bagus dari keseluruhan novel ini adalah bagian masa lalu ibu Mada, Dyah Sasmita. Cuma saya heran aja
Terus ending-nya... kenapa digantung gitu sih... bikin geregetan aja. :)))))
Yaaa pokoknya saya merasa salah zaman baca buku ini haha. Tapi lumayan sih buat bacaan selingan yang ringan dan nggak pakai mikir, soalnya buku ini ada "isi"-nya (bukan cuma kisah cinta remaja yang menye-menye doang).
Dara dan Bagus adalah teman satu sekolah di SMA. mereka sama-sama menyukai fotografi, ikut perkumpulan atau klub fotografi di sekolah, dan bekerja sebagai freelance fotografer di tempat yang sama. Dara sebenarnya menyukai Bagus tapi Bagus tidak menyadari itu dan bukan tipe cowok yang gampang deket sama cewek. jadinya Dara cuma bisa memendam perasaannya.
ada event study tour dari sekolah mereka menuju desa Trowulan. tujuannya untuk lebih mengenal candi-candi peninggalan jaman Majapahit. tak hanya study tour, ternyata ada kontes fotografi juga yang diadakan oleh pihak panitia. bagi peserta study tour yang menyerahkan foto terbaik yang mereka jepret selama study tour berlangsung tentang objek yang dikunjungi, bisa mendapatkan hadiah istimewa dan beasiswa. hal ini mengundang minat Dara dan Bagus. maka ikutlah mereka ke study tour itu.
kebandelan seorang Dara malah membawa petaka. sudah diperingati oleh panitia kalau peserta tidak boleh berpisah dari rombongan dan tidak boleh pergi jauh dari lokasi yang sedang dikunjungi. tetap saja Dara ngeloyor jauh dan sampai ke Candi Gentong. Bagus yang jadi partner Dara tidak bisa meninggalkan pasangannya sendirian. ia mengikuti Dara meski ia tidak suka dengan cara Dara ini. Dara malah nekat masuk ke dalam Candi Gentong, ingin memotret dari dekat, tapi justru mereka berdua terjerembab ke dalam kabut jingga yang menarik mereka ke tahun 1498--jaman ketika Kerajaan Majapahit masih berjaya. ya, Dara dan Bagus seketika mengalami distorsi ruang dan waktu.
awalnya sempat ragu menyelesaikan novel ini karena ide ceritanya yang tidak biasa. point of view tiap orang pastilah berbeda. cerita seperti ini termasuk menarik sekaligus berani menurutku, karena gampang mengundang banyak koreksi oleh pembaca yang teliti jika ia menemui kejanggalan di sana-sini. dostorsi ruang dan waktu mungkin lebih sering ditemui orang dalam film daripada bacaan, akan banyak yang membandingkan hal itu. tapi sesungguhnya ini bukan cerita distorsi pertama yang kubaca.
pertama, aku ingin berterima kasih pada si penulis karena diberi kesempatan untuk mendapatkan buku ini secara gratis dan diberi kehormatan untuk meresensinya. sungguh, aku menikmati bacaan ini disela-sela kondisi kesehatanku yang belum begitu pulih. sedikit-banyak jadi membuka wawasanku tentang sejarah Majapahit, which is pada nyatanya aku tidaklah pintar dalam bidang sejarah. hehe.
kedua, aku ingin mengoreksi beberapa hal dalam buku ini. yang paling mendasar adalah typo yang sungguh membanjiri. sudah tak terhitung. ada di hampir tiap halaman. ada yang kurang tanda titik, kurang spasi, kelebihan spasi, salah ketik huruf, salah eja, tulisan asing yang tidak dimiringkan, dan sebagainya. mungkin bagi sebagian orang ini tidak begitu berpengaruh dan dianggap sepele, tapi sayangnya bagiku itu cukup menganggu. hehe.
ketiga, dari segi cerita sih plotnya menarik, tidak terlalu monoton, membuat pembaca penasaran dengan kisah lanjutan di tiap lembar. ada rahasia besar yang disimpan oleh penulis sebagai kejutan bagi pembaca jika menyelesaikan ceritanya sampai selesai. keseluruhan cerita bisa dikatakan terkonsentrasi pada masa ketika Dara dan Bagus mengalami distorsi, yaitu di jaman Majapahit, bukan di jaman yang sekarang. ah, sebenarnya bukan cuma Pak Herman--guru sejarah Dara--yang akan iri dengan kejadian yang mereka alami. aku juga iri hahaha karena meski menegangkan tapi serunya tiada banding.
diawali dengan kekonyolan Dara yang terbengong-bengong dengan keadaan yang ada di depan matanya, membuat pikirannya nggak lepas dari kata "syuting" dan membuat Mada--prajurit yang menemukan mereka di tengah hutan--sebal karena nggak ngerti "syuting" itu apa. Dara kira dia sedang berada di lokasi syuting film kolosal. jujur aja saya jadi ikutan sebal sama Dara tapi di sisi lain tingkah dia juga bisa membuat saya tertawa. haha.
disebutkan dalam cerita kalau Dara dan Bagus masih membawa peralatan mereka dari masa depan di dalam tasnya. misalnya kamera, buku catatan, minyak angin, plester, permen karet, cologne, dan lain-lain. Dara bilang dia 'gatal' sekali ingin memotret atau mengabadikan keadaan sekitar pasar yang begitu menarik, tapi dia urungkan karena takut orang-orang akan panik dan lari gara-gara kilatan sinar dari kameranya. ini agak janggal sih. saat itu kan Dara sedang di perjalanan menuju tempat pemandian di siang hari. kalau dia ingin memotret, harusnya ya potret saja tanpa harus menghidupkan blitz. toh masyarakat tidak akan kaget kan kalau tidak ada blitz. apalagi di cerita-cerita selanjutnya ada pula disebutkan kalau Dara dan Mada bercengkrama bersama di atas bukit, mengambil foto berdua dari kamera itu tanpa blitz. ya berarti blitz nya memang bisa dimatiin.
oh ya, ada yang membuatku heran ketika Dara, Bagus, dan Dewi--adik Mada--sedang berburu kijang kencana di dalam hutan terlarang. Dara permisi ingin buang air kecil lalu Bagus dan Dewi meninggalkannya sendirian. hmm, logikanya sih kalau lagi di dalam hutan terlarang yang sangat berbahaya seperti itu tidak seharusnya partner meninggalkan temannya sendirian meski untuk buang air. jarak paling jauh harusnya dua meter saja. harusnya Bagus atau Dewi nungguin Dara. nah ini Dara malah harus berjalan sendirian di tengah hutan gelap setelah buang air demi menyusul Bagus dan Dewi. kondisi ini yang membuat keadaan memburuk dan membahayakan nyawa Dara. penasaran? ah, aku nggak mau kasih tahu. biar baca sendiri deh. atau mungkin inilah trik penulis untuk menciptakan sikon yang seperti itu supaya makin menarik dan menegangkan.
trus Mada bilang kalau dia hilang ingatan sejak kecil, sejak ia umur 10 tahun. tapi setelah menyimak keseluruhan cerita, nggak ada tuh saya temukan tanda-tanda yang mendukung Mada untuk hilang ingatan. menurutku bagian hilang ingatan itu mending dihilangkan saja karena tidak ada pengaruhnya di cerita ini. intinya saja dia selama ini sudah dikelabui oleh orang yang merawatnya dan dia tidak ingat banyak tentang masa kecilnya. kalau dia hilang ingatan, harusnya dia tidak ingat lagi siapa-siapa saja orang-orang di masa lalunya, tidak ingat pula siapa nama ibunya. tapi pada nyatanya Mada masih ingat betul dan sering memimpikan ibunya.
saya acungin jempol karena udah bikin konflik ala kerajaan yang seru di novel ini. sebab-akibat yang diciptakan sungguh masuk akal. aku bisa mengerti mengapa tokoh-tokohnya sampai melakukan hal-hal tersebut. hmm, setidaknya novel ini nggak jomplang-jomplang baget lah kayak novel dengan tema sama yang pernah saya baca dulu. yang ini jauh lebih menarik dan lebih runut penjabarannya.
ending-nya gimana? aha! sebenarnya nggak terlalu wah sih dan nggak beda jauh dengan kebanyakan ending yang udah ada. memang agak twist, tapi nggak bisa disebut out of the box juga. eh, tapi tetap saja menimbulkan sebuah pertanyaan di benakku. yang dilihat Dara itu siapa? benarkah yang dimaksud adalah...??? nah, penasaran kan? ya udah baca aja sendiri trus tebak sendiri deh itu siapa. haha.
Berkisah tentang petualangan Dara dan Bagus, partner di ekskul Fotografi Club di sekolah mereka.
Bermula dari keikutaertaan Dara dan Bagus mengikuti study tour ke Candi Trowulan yg diadakan ekskul FC tersebut. Saat study tour, peserta diwajibkan memotret objek di objek wisata tersebut untuk bahan menulis laporan dan salah satunya disertakan untuk lomba kontes foto dengan hadiah menggiurkan bagi pemenangnya. Karena totalitas Dara untuk mencari objek foto bagus di luar wilayah study tour, dia memasuki daerah terlarang dengan keponya walau udah dilarang Bagus. Ga disangka, mereka menemukan kabut jingga misterius yg berasa menghisap mereka kedalamnya. Akibatnya, mereka mengalami distorsi ruang dan waktu ke jaman kerajaan Majapahit!
Bahasa yg digunakan ringan dan mudah dipahami, penggambarannya baku tapi ringan dengan percakapan menggunakan bahasa sehari2. Alur cerita ini campuran, karena di beberapa bagian menceritakan sejarah dan masa lalu beberapa tokohnya. Cerita di kisah ini diceritakan menurut sudut pandang Dara sebagai tokoh utama, sudut pandang orang kedua yaitu salah satu tokoh penting disini dan di beberapa bab menurut sudut pandang orang ketiga yaitu penulis sendiri. Konflik yg menyertai kisah ini cukup rumit dan unik dengan penyelesaian yg juga rumit dan menguras emosi pembaca. Unsur yg terdapat dalam kisah ini macam2, ada senang, sedih, lucu, dan pastinya menegangkan serta seru banget.
Kisah historical-fiction seperti ini bener2 keren dan seru, inovasi cakep buat memahami pelajaran sejarah. Aku bener2 menikmati petualangan tokohnya, suka banget, sampe beberapa kali aku nangis karena baper:”)
Secara keseluruhan, kisah ini memuaskan banget, jadi sangat rekomen untuk dibaca^^ Selamat bertualangan!
Udah selesai dari kemarin tpi lupa ngupdate haha...
Oke, kukasih 4 karena pembulatan dari 3 koma sekian dan karena emang aku ga suka liat buku sekalipun ada kekurangannya dapet 3 atau dibawahnya (nah loh). Intinya aku menikmati setiap titik majapahit yang diceritakan dalam perspektif anak SMA. Karena kak Ayu beneran fokusnya ke misteri distorsi Dara dan Bagus. Kadang menyayangkan kurangnya detail Majapahit yang megaj dan menawan, tapi gpp lah aku maklum hehe.
Soal penokohan, Dara nyebelin ih. Dia nekat ngelakuin hal-hal yang dangkal, dan nggak mikirin orang lain. Bagus sekalipun lebih dewasa masih ada sisi kekanak-kanakannya (Misal pas kabur dan ketemu Mada dan Dewi). Favoritku adalah Janardhana yang lebih terlihat manusiawi timbang tokoh utama. Janardhana adalah punggawa/prajurit yang HARUS setia sama kerajaan, dan itu masalahnya, hati nuraninya juga harus ia pikirkan.
Ada Mada dan Dewi juga, tapi aku nggak masalahin mereka. Terus untuk alur menurutku pas2 aja (Ini alur ya), beda kalo aku bilang jalan ceritanya bisa lebih mendetail lagi daripada ini.
Terakhirrr, endingnya bikin kepo ah. Antara "Sudah kuduga" tapi "ah masa sih" gitu 😂 Tapi yasudah deh, singkatnya aku menikmati buku ini 🤗🤗🤗
This entire review has been hidden because of spoilers.
Baca sinopsis dan liat sampul yang persuasif eh kayaknya beneran menarik banget. Berharap nggak ketipu. Ekspektasi tinggi banget soalnya ini nyenggol topik Trowulan yang notabenenya kampung halamanku ya...
Ekspektasi ku si Ayu Dewi bisa nyeritain peradaban saat itu semisal ketemu sama orang majapahit entah rakyat atau keluarga kerajaan gimana cara mereka berkomunikasi ada unggah-ungguh nya kah dan selipan bahasa saat itu dan gimana alat sarana dan prasarana rakjel di keseharian yang menurut sejarah merupakan salah satu alat peradaban tingkat tinggi...
Baca bagian awal di kehidupan jaman now menarik. Dan ekspektasi makin tinggi ntar pas bab majapahit. Eh pas masuk tuh bab anjlok. Soalnya bahasanya pake bahasa jaman now bukan jaman past. Kecewa aku tuh...
Akhirnya jurus meloncat halaman beraksi. Barangkali ide cerita yang menarik bisa bikin betah baca sampe akhir. Eh jurus udah beraksi yang berjalan selama dua hari tetep aja nggak mempan.
Dan aku memutuskan untuk segera mengembalikan nih novel. Berharap suatu hari bisa nemu novel dengan ide yang 11 12 sama ini dengan kemasan dan isi yang sangat ciamik. Aamiin.
Btw, terlepas dari kekurangan nih novel Ayu Dewi berhasil berkarya di usia muda. Rekam jejak yang bagus. Bikin intropeksi diri karena masih belum bisa berkarya :"( .
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ekspektasiku ketinggian untuk novel ini. Aku menyangka bakal menjumpai kisah petualangan seru di Majapahit, atau pembahasan lebih detail tentang distorsi ruang dan waktu. Tapi ternyata aku salah, penulis lebih menyoroti kisah cinta Dara-Mada yang bagiku malah terkesan maksa.
Andaikata setting diolah menjadi lebih baheula dan lebih terasa nuansa kerajaan masa itu, pasti lebih ciamik. Oh, intrik politik di Majapahit sebenarnya juga bakal menjadi senjata pamungkas bagi buku ini. Sayang kisruh politik seperti sekadar tempelan belaka. Setting tempatnya, omaigad, not so Majapahit bagiku, lebih seperti desa-desa biasa di Jawa.
KUTIPAN Tertawalah jika ingin tertawa. Menangislah jika ingin menangis. Karena hatimu bukanlah penjara, biarkan dia bebas.
SINOPSIS Siswa SMA bernama Dara yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler fotografi di sekolahnya karena cowok yang ia suka, Bagus. Seiring berjalannya waktu, ternyata Dara menyukai juga kegiatan fotografi. Suatu ketika, ekskulnya mengadakan study tour ke tempat sejarah, yaitu di Trowulan Mojokerto untuk melihat Candi Tikus dan Candi Brahu. Namun, karena keras kepala Si Dara akhirnya ia sampai di zaman lain. Tidak sendiri, Dara terlempar di 500 tahun sebelumnya bersama Bagus. Mereka terjebak di sebuah hutan yang dekat dengan ibu kota Wilwatikta, ibu kota dari Majapahit. Lalu, apakah mereka kan kembali ke zaman sebenarnya? Atau mereka akan berada pada zaman Majapahit selamanya?
ULASAN Buku ini bercerita tentang distorsi ruang dan waktu. Setiap kalimat yang diciptakan mampu membuat pembaca seolah mengalaminya. Akan tetapi, ada beberapa ketidaksesuaian cerita pada asal usul Mada. Di awal cerita, Mada mengaku lupa akan masa lalunya. Namun, dalam puncak problem ternyata Mada masih mengingat nama ibunya yang sudah tiada. Hal itu menjadikan pembaca kebingungan. Tetapi, untuk unsur dari cerita dan alurnya sudah menarik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Suka banget sama cerita nya . Dari semua cerita berhubungan Majapahit yang aku baca . Baru kali ini ada cerita yang latar nya tuh , yang jadi raja bukan Hayam Waruk . karena kebanyakan pasti yang dipake itu , Hayam Waruk .
Tapi aku mau nanya juga , itu kenapa ngegantung banget ?!!! Mada beneran ada reinkarnasinya ?
Pros: [1] gue suka tema time traveler yang disuguhkan penulis. [2] gaya menulisnya sederhana! enak banget selama dibaca. [3] penting gak penting, gue demen sama Mada.
Cons: [1] pergantian POV 1 ke 3 ada yg agak kurang smooth jadi kesannya agak berantakan. But I know, it could be better.
Novel ini mungkin adalah novel sad-ending pertama yang masuk ke dalam daftar novel favoritku karena peran Mada sebagai ML terlalu kuat untuk dilupakan :(
Jujur aku beli ini Karna ga sengaja di obral buku dekat sekolah dan suka bangettt sama ceritanya meski ending bukunya agak gantung aaa pengen extra chapnyaaa
Waktu pertama liat nih novel langsung tertarik sama sinopsisnya, kayaknya ceritanya anti mainstream gitu :v , akhirnya aku memutuskan membeli novel karangan mbak ayu dewi ini
Dan.. wow.. karena berhubung aku nya suka sama cerita fiksi kayak gini jadi ceritanya menurut aku keren, keren pake banget malah. mengangkat cerita tentang Dara dan Bagus saat di Candi Gentong mengalami distorsi waktu ke majapahit. aku suka karakter Mada disini, emang dari pertama aku udah bayangin si Mada ini mukanya mirip orang korea, eh taunya kata Dara dia mirip sama Won Bin. makin suka sama Mada pas dia motong pendek rambutnya XD. ending nya kurang jelas aja gitu , kurang jelas hubungan antara Dara dan Bagus, dan kurang jelas yang di akhir emang benaran Mada atau reinkarnasinya.
tapi setiap novel itu pasti ada kekurangannya. apa itu? ya hanya typo tanda baca aja, walaupun gak mempengaruhi jalan cerita tapi tetep aja ganggu kalo dilihat. tapi ini gak ngurangin rating yang aku kasi oh iya. akan lebih bagus lagi kalau novel the real past ini dikasi sekuel. ini menurut aku loh
Sebagai pecinta sejarah (ekhem), penasaran banget sama cerita yang ceritain tentang Majapahit. Berbulan-bulan ga ketemu, sampai akhirnya buku ini lewat di feeds iPusnas. Dan baru kesampaian baca sekarang.
Pas baca langsung kayak, NAH INI YANG AKU CARI! Seseneng itu woi HAHAHAHAHA.
Awalnya Bagus sama Dara study tour ke Candi Trowulan. Nah terus ga sengaja mereka ngalamin distorsi waktu dan ruang ke Majapahit. Mereka ketemu Mada sama Dewi. Dan yah, aku ga berenti komentarin ini cerita; “INI BUKAN MASA KAMU!”, “No, gaboleh ya Dara. Jangan begitu.” DAN KATA-KATA MUTIARA LAINNYA.
Pokoknya deg-degan banget sih. Buat pecinta sejarah atau yang suka his-fic kalian harus baca sih parah. Cuma kesel aja endingnya rada gantung, dan penyebab Dara bisa distorsi enggak dijelasin.
The plot has so many potential. And since the writer herself is a very imaginary and creative person I expected something more. I love it how she explores the teenlit genre into something like this. Kinda disappointed in a lot of part where the leads were in Majapahit. But I love the cliffhanger ending. Hope you have a sequel. But this is her first book ever, and she already did a good job. Just enjoy this book and don't expect too much, and you will like it. I'm so proud of you Ayu Dewi