Paling lambat 1,5 bulan ke depan, kalian semua harus sudah berangkat!
Demikian ucapan Prof. Rhenald Kasali di hari pertama masuk kuliah Pemasaran Internasional yang sontak membuat kelas gaduh luar biasa. Negara tujuan ditentukan saat itu juga. Sementara paspor harus didapatkan dalam waktu dua minggu ke depan.
Metode kuliah yang awalnya ditentang banyak orang tersebut—dari orangtua mahasiswa sampai sesama dosen—terbukti menjadi ajang “latihan terbang” bagi para calon rajawali. Demikian Prof. Rhenald mengibaratkannya. Tersasar di negeri orang dapat menumbuhkan mental self driving, syarat untuk menjadi pribadi yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab menentukan arah hidup sendiri.
Dalam jilid kedua buku ini, petualangan seru para mahasiswa berlanjut. Mulai dari hidup super irit, ditertawai dan dipandang aneh oleh penumpang bus, sampai dijodohkan dengan penduduk asli. Semuanya tak membuat mereka kapok, melainkan justru semakin berani menantang dunia.
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala. – Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.
Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.
Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan. – “Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.
Akhirnya setelah menunggu giliran karena buku ini laris di kalangan internal keluargaku, aku bisa menyelesaikan lanjutan kisah para mahasiswa kelas Pemasaran Internasional dalam rangka nyasar di tanah orang.
Di sini aku masih menemukan lokasi-lokasi tujuan yang sudah umum aku baca. Sebut saja Korea Selatan, Jepang, Belanda, Jerman. Jadi, jujur saja aku hanya sebatas skimming kalau sudah pada bagian ketika mahasiswa ada disana. Aku mencari tujuan yang tidak terlihat menarik bahkan orang Indonesia pun menjadi skeptis ketika mendengar namanya.
Contohnya saja dengan salah satu tulisan yang menuturkan usaha survival selama seminggu di Dubai, yang di pandangan orang Indonesia sebagai lokasi yang serba mahal. Atau pergi ke Vietnam yang masih kita tidak ketahui bagaimana keamanan disana. Atau ke India, dimana banyak orang bilang lingkungannya tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Dalam buku ini, ada keunikan tersendiri karena dikisahkan oleh para solo traveler yang seusia denganku.
Keunikannya masih seputar petualangan nyasar mereka, dibantu oleh orang lokal yang kebaikannya masih meragukan dan banyak persepsi-persesi yang lebih condong ke arah meragukan ketimbang mempercayai. Aku menikmati beberapa bagian yang cara menulisnya lepas, seperti mereka sedang bercerita kepada teman sebayanya. Sisanya, aku mengakui, membosankan.
Di buku ini juga apa yang dikatakan prof Rhenald pada pembuka terbukti adanya. Bahwa setelah ini sudah tidak lagi orang menanyakan dari perguruan tinggi mana, melainkan kemampuan apa yang dipunya (baca bagian mahasiswa ke Taiwan).
Sudah aku tidak perlu lagi harus berpromosi panjang lebar. Buku ini tepat dibaca jika kamu butuh sesuatu untuk meyakinkan diri bahwa menjadi burung dara tidak akan membuat kamu terbang tinggi padahal kamu punya sayap elang. Atau, tidaklah kamu dapat menjadi elang meskipun punya sayap sepertinya jika kamu tidak pernah berlatih untuk terbang semakin tinggi dan tinggi.
Gak beda jauh dengan buku pertama, masih menarik! Kali ini yg seru datang dari Jerman, Turki, Filipina dan Vietnam. Banyak yg memiliki kendala lokasi beribadah (karena di buku kedua ini banyak yg muslim dan negara yg dikunjungi mayoritas penduduknya bukan muslim). Namun membaca banyaknya hal yg didapat kala "berubah" menjadi kaum minoritas tentunya menimbulkan kesan tersendiri.
Salut pada yg berusaha mati-matian ngurus paspor dan visa mepet-mepet, serta yg mampu mengatasi kesulitan finansial. Buku yg penuh energi positif...dan itu menular.
Berbeda dengan buku 1, entah kenapa buku 2 lebih terasa ke hati. Mungkn karena destinasi cukup terjangkau waktu masih sendiri dahulu kala. Selalu ya setiap baca cerita 30 paspor, bawaannya pengen paakai paspor juga. 😄
Buku ini untuk memenuhi tantangan Yuk Baca Buku Non Fiksi 2015 dan National readathon Day 2015
3 dari 5 bintang untuk buku ini!
Dibuku ini saya menyukai kisah Saggaf Salim S. Alatas yang pergi ke Belanda yang mendapat diskriminasi karena memiliki perawakan timur-tengah, Ananda Rafi yang berpetualang di Dubai, Tiara Marchellina yang pergi ke Vietnam, Ayu Ariandini yang pergi ke Kobe dan Osaka, Aland Diknas Tanada yang pergi ke India dan Destiara Putri yang pergi ke Cebu, Filipina
Jadi semakin tertarik untuk pergi ke negara2 diatas >__<
agi kalian yang memimpikan untuk keliling dunia, buku ini adalah pilihan yg tepat.
baru kali ini saya tak dapat melupakan kata pengantar sebuah buku, biasanya kata pengantar menjadi salah satu part yang tak dilirik. namun berbeda ketika yg memberikan kata pengantar itu adalah guru besar UI, Yaitu bpk prof. Rhenald Kasali. sungguh buku yang luar biasa.
selesai membaca buku ini, saya langsung mencari bagaimana cara membuat visa, dan melihat2 harga tiket jakarta-amsterdam.
Secara garis besar kisah-kisahnya masih sama dengan buku ke-1, tapi rasanya saya lebih bisa menikmati buku ke-2 ini (1 bintang lebih banyak). Awalnya saya kira buku ke-2 ini bakal bikin bosan karena saya sudah membaca pola cerita yang sama di buku ke-1, tapi ternyata enggak tuh. Yah, memang beberapa cerita cuma dibaca selewat & kurang berkesan, tapi di buku ke-2 ini ada lebih banyak cerita yang lebih kuat. Personally saya suka cerita di Cebu & Dubai.
Lebih bagus dari buku 1. Keren! Apalagi yang bagian ke Cebu, Filipina. Saya suka dengan kalimat, "aku pantas mendapatkan hal yang lebih dibandingkan itu semua, Tuhan memberiku kegagalan agar aku terus belajar dan memperbaiki diri karena aku hampir dekat dengan keberhasilan". Gadis tersebut pergi dengan keterbatasan dan keberanian yang luar biasa. Saya kira, inilah cerita backpacker sesungguhnya. Cewek pula! hahahah
Almost the same with the first book. They are talking about the trips. One student went to Cebu and finding herself and the value of family. Finding new friends and being crazy hang out in GuAngzhou, something that will be remembered all years. Get a courage to speak English with stranger turn to be helper n friend on the plane to Malaysia-Amsterdam. Using networking in Istanbul. Have a happy selfie in India....Finally trip is the journey of life. Learn n love it....
Sama seperti seri pertamanya, 30PdKSP juga berisi esai pengalaman para mahasiswa Pemasaran Internasional UI yang diharuskan untuk "tersesat" di negeri orang dengan bahasa ibu non-Melayu. Cerita dari mereka punya keunikan sendiri. Dari kejadian unik yang mereka alami ada banyak poin positif yang bisa diambil, mulai dari kerja keras, keuletan, menjadi mandiri, belajar berkata tidak, berani bertanya ketika kita memang tidak tahu, dan banyak lagi.
Bagi saya yang paling berkesan adalah perjalanan ke Dubai. Kenapa? Karena narasinya ditulis dengan kocak dan menghibur sekali (bukan berarti yang lain tidak demikian lho). Buku ini pas banget untuk dibaca ketika senggang. Secara keseluruhan, buat saya 3,5/5.
Buku ini dibaca untuk tantangan #SehariSebuku Hari Pertama.
Aku pikirnya ini novel yang bercerita tentang petualangan mahasiswa, ternyata ini cerita pengalaman dari para mahasiswa UI yang tugas kuliahnya adalah jalan-jalan keluar negeri seorang diri.
Sulit untuk memilih buku mana uang lebih baik: apakah buku ini atau buku 1. Namun, untuk lebih adilnya, saya tidak akan membanding-bandingkan. Di buku pertama, saya menemukan kisah-kisah favorit, dan demikian pula halnya dengan buku ini.
Bagian-bagian yang paling saya suka adalah kisah perjalanan ke Jepang (terutama cerita tentang Kakek Jo), Jerman, India, dan Cebu. Tanpa bermaksud menihilkan kisah-kisah lain, empat kisah itu yang paling berkesan di hati saya. Baik dari segi perjuangan prakeberangkatan, bertemu dan berinteraksi dengan warga lokal, hingga catatan penutup yang menggugah untuk direnungkan.
Setahun lagi, mudah-mudahan saya bisa mencicipi pengalaman seperti mereka.
Kurang lengkap membaca buku "30 Paspor di Kelas Sang Profesor jilid 2" tanpa tahu semua cerita seru, nyasar, takut, berani dalam menyusuri setiap keping sudut kota di negara orang pada buku jilid 1. Inilah sebuah cerita yang begitu mengispirasi yang disajikan oleh teman2 FEUI dalam mata kuliah "pemintal", pemasaran internasional, asuhan Pak Rhenald Khasali. Yaa... sebuah pembelajaran yang menginspirasi dengan sebuah pelajaran berjuta makna.
buku ini luarbiasa, sangat memberi inspirasi. Materi kuliah dengan praktik/terjun langsung ke lapangan jauh lebih memberi pelajaran dan lebih dikenang dari sekadar dosen menerangkan di kelas. untuk para generasi muda, mari kita nyasar! kita maksimalkan fungsi otak dalam menemukan solusi. saatnya move on dari zona nyaman.
tidak ada yang istimewa pada buku ini kecuali nama Rhenald Kasali. Buku ini membosankan, terlalu banyak cerita obyek-obyek wisata dibanding kesan dan pengalaman penulis-penulisnya selama berada di mancanegara