Introduces the different kinds of poetry and the mechanics of writing poetry, providing an opportunity for the reader to experience the joy of making a poem.
Myra Cohn Livingston was born in Omaha, Nebraska. Her family moved to California when she was 12 years old. She studied the French horn from age 12 to age 20, becoming so good that the Los Angeles Philharmonic invited her to join them when she was 16 years old. She had other plans. She knew she wanted to write.
Buku ini mengajarkan cara menulis puisi berdasarkan pada bentuk-bentuknya.
Mula-mula, di bab "II. The Voices of Poetry", diberikan kiat mengubah dull statement jadi lebih menarik dengan menggunakan salah satu dari 5 voices of poetry, yaitu the lyrical voice (menyatakan pengalaman dari sudut pandang penulis secara langsung), the narrative voice (menyampaikan cerita, tapi penulis tidak termasuk bagian daripadanya), dan the dramatic voice yang terdiri dari apostrophe (menujukan kepada sesuatu yang tidak dapat menjawab, misal tumbuhan, hewan, cuaca, dll), the mask (menempatkan diri seolah-olah sebagai sesuatu hal yang lain, tidak mesti berupa orang), conversation (seperti pengembangan dari apostrophe, tapi ada yang menjawab sehingga menjadi percakapan).
Bab "III. Sound and Rhyme" mengenai rima, yang tampaknya merupakan ciri khas puisi walau tidak selalu demikian. Adakalanya rima terasa dibuat-buat atau dipaksakan. Bagaimanapun rima itu bagai musiknya puisi, yang membuatnya terasa enak dibunyikan.
Is writing poetry like playing music without the instruments? Satu penemuan saat belajar tentang puisi adalah itu tidak mesti berupa kata yang disusun secara tertentu, tetapi juga "ruh" dalam sesuatu hal yang menyentuh sanubari manusia dan memiliki keindahan (ada di kata pengantar Bakdi Soemanto untuk buku Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya). Sedangkan musik tidak mesti sekadar nada yang dibunyikan melalui instrumen, tetapi bisa juga dengan kata-kata, seperti yang terdapat pada puisi berima.
Dalam bab ini juga dikenalkan bentuk-bentuk puisi berdasarkan pada jumlah baris pada bait atau stanza; ada couplet (2 baris), tercet (3 baris), quatrain (4 baris), dan seterusnya. Bait yang terdiri dari lima baris ke atas bisa merupakan kombinasi dari ketiga bentuk yang isinya 2-4 baris itu. Yang paling sering digunakan tampaknya adalah yang 4 baris, contohnya di Indonesia berupa pantun. Letak rima dalam bentuk-bentuk tersebut bisa bervariasi.
Jenis bebunyian lainnya dalam puisi dijelaskan dalam bab "IV. Other Elements of Sound", yaitu repetisi, aliterasi, onomatopoeia, off rhyme, consonance, and assonance.
Bab "V. Rhythm and Metrics" saya rasa perlu diterangkan sambil dipraktikkan oleh guru native speaker. Satu hal yang baru belakangan saya dapatkan dari belajar bahasa Inggris, khususnya speaking, adalah adanya aksen atau tekanan pada suku kata. Sepertinya bab ini mengenai itu.
"Figures of Speech" yang diterangkan dalam bab VI katanya adalah yang menunjukkan kualitas puisi. Jadi puisi bukan sekadar kata-kata berima. Figure of speech yang paling sering ditemukan adalah simile, metafora, dan personifikasi. Melalui figure of speech, pembuat puisi ditantang untuk menemukan cara ungkap yang segar akan sesuatu hal yang mungkin terluput dari perhatian banyak orang. Malah bisa jadi penggunaan imaji perumpamaan ini lebih mengena ke sanubari pembaca, daripada kalau dikatakan secara gamblang.
Barangkali puisi tidak harus punya makna yang dalam, tetapi sekadar menyajikan suatu cara pandang atau ajakan untuk mengapresiasi hal-hal kecil atau seperti membuat sketsa dengan kata-kata yang objeknya bisa nyata bisa pula batiniah. Dalam menulis prosa, ini bisa jadi inspirasi saat menulis bagian deskriptif. Agar tetap terinspirasi pun sepertinya ada sifat kekanak-kanakkan yang boleh dipelihara, misalnya untuk mengarang personifikasi, kita mesti masih memiliki kemampuan mengkhayalkan sesuatu benda seolah-olah memiliki sifat manusia. Namanya mungkin "sumber daya imajinasi", yang bisa digali dari dalam diri agar tidak melulu mengandalkan orang lain untuk mengobati sepi.
Bab terakhir, "VII. Other Forms", menerangkan tentang haiku, cinquiain, limerick, free verse and open forms, serta concrete, shape, and pattern poetry.
Belum pernah sengaja mencari tahu tentang haiku, di sini saya dipahamkan bahwa bentuk yang satu ini bukanlah asal tiga baris dengan sembarang tema, melainkan ada aturan yang sangat ketat. Haiku harus terdiri dari 17 suku kata (baris 1 isi 5, baris 2 isi 7, baris 3 isi 5), dan temanya pun harus mengenai alam, tepatnya menunjukkan suatu musim, dan berkonsentrasi pada satu hal saja yang sedang terjadi (kalau dalam bahasa Inggris harus pakai present tense), dan tidak boleh ada kata yang diulang. Tapi haiku tidak harus berima. Karena aturannya yang ketat itu, maka kata-kata harus digunakan seefisien mungkin serta dapat dapat memancing pembaca untuk mengembangkan imajinasinya sendiri. Walaupun katanya jenis puisi paling susah, haiku mengajarkan aturan yang berlaku dalam segala jenis tulisan: - to observe things happening and to write about them, - to invite your reader to share what you have seen, - to learn to use words well, wasting none of them, - to make of your poetry, whatever form it takes, not a long recital of many things, but of one thing, keenly observed and felt.
Tidak kalah menarik daripada haiku adalah cinquain, puisi lima baris dengan 22 suku kata (baris 1 isi 2, baris 2 isi 4, baris 3 isi 6, baris 4 isi 8, baris 5 isi 2). Walau jumlah suku kata ditentukan, aturannya tidak seketat haiku karena temanya tidak harus tentang alam atau musim, juga sama-sama tidak harus berima. Di halaman 115 ada cara membuat cinquain pakai diagram untuk melihat di mana suatu kata boleh diletakkan, dan ini kayak "some sort of mathematical puzzle--how to put the words you wish to say into the right order, while paying attention to the form". Yang saya tangkap kalau mau main-main dengan cinquain: tentukan satu kata yang mau dimasukkan ke dalam diagram, lalu cari kata-kata lain untuk melengkapinya hingga bentuk itu terpenuhi--seperti main puzzle dengan kata ^_^;
Limerick saya rasa sulit karena berhubungan dengan rhythm and metrics.
Free verse and open forms juga rada membingungkan, karena penulis menyinggung bahwa banyak orang menganggap prosa yang ditata jadi baris-baris itu sebagai puisi dan menyebutnya sebagai jenis yang satu ini, padahal "nothing more than a spillage of raw emotion, some thought put down any old way, without rhyme or even much reason". Rasanya jadi termentahkan: jadi apakah atau yang bagaimanakah puisi itu sebenarnya? Sementara di buku Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya, Bakdi Soemanto justru menunjukkan bagaimana Sapardi Djoko Damono membuat puisi yang seperti prosa dan prosa yang seperti puisi, tanpa terjelaskan bagaimana membedakannya. Kalau berpegang kepada buku ini saja, maka yang disebut sebagai "puisi" adalah yang bentuknya sebagaimana yang telah ditunjukkan pada bab-bab sebelumnya.
Concrete, shape, and pattern poetry adalah puisi yang bentuknya unik-unik, misalnya berupa objek yang diutarakannya--kudu seimbang antara the idea of the poem and its visual expression.
Contoh-contoh puisi dalam buku ini umumnya bernuansa lugu dan jenaka serta bertemakan alam--subjek-subjek yang menyenangkan buat saya. Sepertinya buku ini ditujukan kepada pembaca usia muda. Ini daftar puisi pilihan saya:
"Message from a Caterpillar" Lilian Moore (hal. 20-21) "It Makes No Difference to Me" John Ciardi (hal. 39) "Father William" Lewis Carroll (hal. 42) "The Little Boy Lost" William Blake
Penulis juga memasukkan puisi-puisi buatannya sendiri; di satu sisi seperti promosi diri (memang beliau telah menerbitkan banyak buku puisi), di sisi lain menjadi contoh proses kreatif.
Dengan cara penyampaiannya yang relatif mudah dimengerti, buku ini tampaknya berhasil menginspirasi saya. Sembari membaca buku ini, ditambah sedang berlangsungnya suatu pengalaman, tercetuslah kata-kata:
CONFESSION OF A SECRET ADMIRER
as the honeymoon is over we secretly despise each other so let this one be some mythical creature that once in a while appear no need to know more be close just make sore and i'm a ghost with nothing to expose mere watching from a safe distance to keep the fascination
Andaikan penulis masih hidup dan saya adalah muridnya, ingin saya menunjukkan ini kepadanya, dan bertanya, "Bagaimana, Bu Guru? Sudah boleh disebut puisi belum?" ^_^;
Definitions, explorations, and invitations to read, to revisit, and to write your own poetry. Poem-Making would make a wonderful companion in the middle grade writing workshop to SPILLING INK. Use also with Ted Kooser's THE POETRY HOME REPAIR MANUAL.
Livingston is an NCTE award-winning poet whose contributions as an anthologist continues to be celebrated. Her ability to pull from canonized poets to poets familiar for their more contemporary offerings, the book would serve teachers well for quick pull-out examples of poems that could be used as mentor text for form or approach.
A great introductory book that stimulated my own writing. The section on poetic voice (lyrical, narrative, and dramatic) is one I don't see covered very often, especially in introductory books. If you don't read anything else, read these first few chapters.