01. Jujur Prananto – Kado Istimewa 02. Hudri Hamdi – Petaka Kampar 03. Ahmad Tohari – Penipu Yang Keempat 04. Jujur Prananto – Nurjanah 05. Umar Kayam – Ke Solo, Ke Njati 06. Ratna Indraswari Ibrahim – Perempuan Itu Cantik 07. Santyarini – Mak Dan Ikan Teri 08. Putu Wijaya – Sket 09. B.M. Syamsuddin – Cengkeh Pun Berbunga Di Natuna 10. Abrar Yusra – Burung Ketitiran 11. Harris Effendi Thahar – Ngarai 12. Agus Vrisaba – Randu Alas 13. Yanusa Nugroho – Purnama Dan Ringkik Kuda 14. Edi Haryono – Paing 15. Ahmad Tohari – Mata Yang Enak Dipandang
"Ibu sendiri kenapa tidak mengikuti jejak Pak Gi?" "Sebagai mantan bagian dapur umum saya tetap berjuang terus, lho! Melawan kelaparan...." - Kado Istimewa, Jujur Prananto.
Ternyata, ini dia edisi perdana Kumcer Pilihan Kompas yang memuat 15 cerita pendek terbaik yang tayang di harian Kompas sepanjang tahun 1991. Sebelum ini, saya udah baca beberapa kumcer pilihan Kompas lainnya, dan sejauh ini, kumcer "Kado Istimewa" ini adalah yang paling bagus!
Baru di edisi ini saya merasa cerpen yang dipilih sebagai cerpen terbaik (yang ditandai dengan dipilihnya cerpen tersebut di judul buku) dapat betul-betul saya nikmati. Sebelum ini, cerpennya bikin dahi mengkerut. Bikin pusing atau bingung, "sebenernya ini mau cerita tentang apa sih?"
Nah, di cerpen Kado Istimewa ini ceritanya simpel banget (ya sebagaimana cerpen Jujur Prananto lain). Bercerita tentang Bu Kus yang bertekat menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi, orang yang ia hormati dan pejuang sejati dulunya.
Masalahnya, Bu Kus ini bukanlah salah satu tamu yang diundang. Ia tahu rencana pernikahan itu pun dari anak dan mantunya.
"Ibu ini nekat! Kenapa tidak kasih kabar dulu?" "Yang penting sudah sampai sini." "Bukan begitu, Bu. Kalau kita tahu persis kan bisa jemput Ibu di stasiun." "Saya tidak mau merepotkan. Lagipula saya sudah keburu takut ketinggalan resepsi mantunya Pak Gi. Salahmu juga, tanggal persisnya tidak kamu sebut di surat." "Bukan begitu, Bu." Wawuk sedikit ragu melanjutkan ucapannya. "Ibu kan.... tidak diundang?" Hal.4.
Ini bukan cerpen horor, tapi sepanjang baca saya degdegan membayangkan sikap Bu Kus ini yang sebegitu semangatnya pingin kondangan. Apakah ia akan diterima masuk ke gedung? atau, kado apa yang ia persiapkan? endingnya sih bikin terenyuh.
Cerpen lain yang saya suka adalah "Penipu yang Keempat" oleh Ahmad Tohari berkisah tentang seorang pria yang sehari-hari didatangi para pengemis di rumah. Orang yang datang ini biasanya hadir dengan cerita menyedihkan dan memilukan masing-masing. Lalu apa jadinya saat si tokoh ini sengaja mengintai dan menemui orang-orang ini dan mencari tahu kisah hidup mereka yang benar-benar terjadi?
Jujur Prananto kebagian mengisahkan 2 cerpen di buku ini. Cerpen keduanya yang berjudul "Nurjanah" juga bagus banget dan agak pilu juga. Bercerita tentang penyanyi dangdut yang sering dikirimin ilmu hitam. Siapa yang ngirim? ntah. Bisa jadi pedangdut lain atau, istri pak Lurah yang diam-diam tahu kalau Pak Lurah demen sama dia.
Kado Istimewa bisa jadi cerpen terbaik versi buku ini. Tapi sebetulnya ada satu cerpen lagi yang lebih jleb versi saya. Yakni cerpen berjudul "Mak dan Ikan Teri" berkisah tentang Rini, seorang istri yang sibuk sebagai ibu rumah tangga dan seorang guru yang harus berhadapan dengan suami yang.... patriarki. Dan, kisah ini bikin ia terkenang dengan Mak (neneknya dari sebelah ibu) yang menghilang saat dia masih kecil.
Cerpen ini terasa lebih personal. Walau secara teknik penulisan Kado Istimewa lebih bagus dan ngalir. Intinya sih, kumcer Kado Istimewa ini bagus banget. Gak ada cerpen yang saya nggak suka. Bagus semua. Dan saya nggak akan bahas satu persatu, silakan kalian baca sendiri, ya! kayaknya di Ipusnas ada deh ini.
LKado Istimewa merupakan buku yang berisi 15 cerpen pilihan yang pernah terbit di Harian Kompas tahun 90-an awal. Ditulis oleh 12 sastrawan yang namanya sudah malang melintang, seperti Abrar Yusro, Agus Vrisaba, Ahmad Tohari, B. M Syamsudin, Edi Haryono, Harrus Effendi Thahar, Hudri Hamdi, Jujur Prananto, Putu Wijaya, Ratna Indraswari Ibrahim, Santyarini, Umar Kayam, dan Yanusa Nugroho.
Cerpen-cerpen ini menyajikan cerita yang temanya dekat dengan kehidupan masyarakat (realisme), terutama kelas menengah ke bawah. Dan tidak bisa dimungkiri kisah-kisah seperti itu masih banyak terjadi di sekitar kita.
Tentang kebodohan, kurangnya pendidikan, kemiskinan, ketamakan, ketidakpuasan, drama keluarga terangkum dalam kumpulan cerpen ini. Banyak pesan yang terkandung di dalamnya. Di antara 15 cerpen ini, saya pribadi merasa berkesan dengan karya Ahmad Tohari - Penipu yang Keempat dan karya Putu Wijaya-Sket.
Semua kisahnya bagus dan menarik. Hanya saja, ada satu cerita yang tidak saya mengerti sampai akhir: Purnama dan Ringkik Kuda. Saya tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Tebak-tebakan yang tidak jelas betul atau tidaknya. Ehehe. Biarlah. Biar orang lain saja yang mengerti. Tidak semua hal harus saya pahami. Lol.
Overall, kumpulan cerpen ini cocok dibaca sebagai bahan perenungan. Bahwa roda kehidupan itu berputar. Yang cantik tidak selamanya selalu cantik. Yang memiliki ide segudang tidak selalu memiliki kehidupan yang sukses. Yang ditipu bukan hanya orang lain, kadang bahkan seringnya kita juga senang menipu diri. Yang dipuja belum tentu ingat dengan kita. Ya, begitulah kehidupan. Alurnya kadang tidak bisa tertebak.
Kado Istimewa: Cerpen Pilihan KOMPAS 1992 mengusung tema besar tentang ke-papa-an orang-orang kecil. Beberapa cerita mengglorifikasi tentang kisah hidup yang jauh dari mapan dan memotret tentang realita hidup yang penuh dengan kewalahan yang sedemikian rupa.
Kado Istimewa berisi 15 cerpen yang pernah terbit di Harian Kompas tahun 1991. Ke 15 cerpen tersebut ditulis oleh Abrar Yusro, Agus Vrisaba, Ahmad Tohari, B. M Syamsudin, Edi Haryono, Harrus Effendi Thahar, Hudri Hamdi, Jujur Prananto, Putu Wijaya, Ratna Indraswari Ibrahim, Santyarini, Umar Kayam, dan Yanusa Nugroho.
Dan dari cerita yang ada favorit saya adalah Kado Istimewa - Jujur Prananto & Penipu yang Keempat - Ahmad Tohari. Dua cerpen tersebut menceritakan tentang betapa orang kecil pun bukannya ingin tetap menjadi kecil, mereka juga berusaha. Hanya saja seringkali semesta belum bersedia membersamainya menjadi besar.
Tergantung pembacanya memang. Namun cerpen-cerpen macam ini, mampu menjadi alat, selain menghibur, juga untuk menggelitik ketiak pembaca yang mungkin terlalu jauh orbit kehidupannya dari pusat kesengsaraan sebagian manusia: keterpinggiran, baik ekonomi maupun sosial, maupun keduanya.
Tak selamanya kita di atas. Tak selamanya kita muda. Tak selamanya kita sehat. Bisa jadi, beberapa belas atau puluh tahun lagi, saya akan meringkuk dalam demam penyambutan ajal di tengah-tengah jderap-derap keramaian tanpa siapapun peduli kecuali seekor benalu penghisap nanah yang menyebabkan demam itu pada awalnya seperti sebagaimana dikisahkan dalam satu cerpen di sini.
Surprisingly ini bagus. Yah, bukan tipeku sih. Realisme yang begitu ngawur, tapi sangat sangat bisa menyentil kesadaran akan isu sosial di negara ini. Padahal sudah beda sekian dekade, tapi nasibnya tetap sama saja. Saking pusingnya baca ini di saat lagi slump (padahal awalnya mau baca2 ringan dulu milih kumcer) aku sampai baca bagian penutup. Dan justru bagian ini yang bikin aku syok. Ternyata ada tujuannya cerpen2 di buku ini disusun begitu aneh, menyebalkan, dan mengusik batin.
Kalian coba baca aja kalo mau tau gimana lugunya masyarakat kita menghadapi isu pelik di negeri ini ✌️
Saya menghabiskan banyak waktu bergelut dengan kumcer ini gara-gara mata kuliah Teori Prosa. Analoginya, kalau kumcer ini adalah pertandingan dan cerpenis yang kebetulan ikut berkontribusi di sini adalah pesertanya, Jujur Prananto adalah ace-nya. Kado Istimewa adalah cerpen dari segala cerpen yang endingnya membikin saya kesal dan berteriak spontan, "Bangsat!"
Seperti pulang pada tahun 1992. Kala itu masih anak-anak. Sekarang membaca potret kehidupan kala itu sebagai orang dewasa melalui cerpen-cerpennya rasanya mirip potret kehidupan hari-hari ini. Hanya telah berlalu lama. Membaca kumcer ini seperti bernostalgia, seperti belajar, seperti yang sudah saya katakan. Seperti pulang.
Saya merasa bersyukur menemukan buku ini di toko buku bekas. Cerpen2 pilihan Kompas dari masa2 awal dibuat ini begitu menginspirasi. Menegaskan bahwa cerpen yang baik berapa tahun pun umurnya akan tetap bersisian dengan keadaan masa kini.
Cerpen yang dihadirkan memiliki kesamaan. Saya bingung bagaimana menjelaskannya. Cerpen "Kado Istimewa" karya Jujur Prananto, "Sket" karya Putu Wijaya, dan "Penipu Ke Empat" karya Ahmad Tohari. Tapi, tetap sih, cerpen "Kado Istimewa" yang paling...
Buku kumpulan cerpen ini membawaku mendalami berbagai realitas yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Suka sekali dengan twist di akhir cerita di sebagian besar cerpennya. Yang menjadi favorit adalah 'Penipu yang Keempat' dan 'Mata yang Enak Dipandang' serta 'Mak dan Ikan Teri'.
Aku pribadi bukan orang yang mengikuti gimana cerpen-cerpen yang dimuat oleh kompas, tapi pola yang terlihat dari cerpen-cerpen yang dimuat adalah masalah-masalah yang menuntut observasi sedekat mungkin dari penulis-penulisnya.
Cerpen selalu menarik buat saya. dimana kita bisa membaca sebuah kisah tanpa membuang waktu. tidak seperti novel, cerpen langsung pada intinya. apalagi dengan bumbu plot twist yang menarik, bisa membuat cerpen terasa begitu hidup. bagai melihat film.
Beberapa cerpen dalam buku ini punya kisah yang bagus. apalagi yang dituliskan oleh Pak Ahmad Tohari, dengan dua cerpennya yang berjudul penipu yang keempat dan mata yang enak dipandang. Selain itu ada juga cerpen dari Pak Putu Wijaya berjudul Sket, dengan ceritanya yang sederhana khas kehidupan perkotaan. intinya semua cerpen dalam buku ini seru untuk dibaca dan sayang kalau diletakkan begitu saja di meja.
Asik. Beberapa cerpen di awal sungguh menarik perhatian, terutama kisah pertama (Kado Istimewa) yang membuat ngikik pada bagian akhirnya. Kisah favorit lain berjudul 'Sket' karya Putu Wijaya. Lucu! Namun sayang cerpen terakhir karya Ahmad Tohari kurang menarik, bahkan terkesan sangat buru-buru( :( ).
Edisi pembuka tradisi Kompas untuk membukukan tulisan cerita pendek yang dimuat tiap hari minggu. Sebenarnya buku ini tidak terlalu berkesan, hanya cerita pertama hingga ke delapan yang menarik dan memukau pembaca dengan keluwesan ceritanya yang merakyat, plus tulisan Ahmad Tohari yang tahun 2013 diterbitkan ulang dalam kumcer berjudul yang sama "Mata yang enak dipandang".
buku ini berisi tentang kumpulan cerpen dari Ahmad Tohari,Putu wijaya dan banyak lagi... tentunaya cerpen-cerpen mereka berisikan keseharian sederhana tapi mengena seperti cerpen yang berjudul Penipu ke Empat.
Kumpulan Cerpen yang sangat menarik. Rata-rata menggambarkan kehidupan kaum marjinal. Kado Istimewa memang istimewa. Cerita ini bisa jadi jamak di sekitar kita. Cerpen lain yang tak kalah menarik adalah karya Putu Wijaya, Ahmad Tohari dan lainnya.
KOMPAS masih sangat terasa menyajikan realisme yang ada di kehidupan sosial bangsa ini. Jujur Prananto sangat apik, dengan gaya khasnya yang menyajikan twist ending. Pun dengan yang lainnya.