Jump to ratings and reviews
Rate this book

Orang-Orang Bloomington

Rate this book
Orang-orang Bloomington adalah karya penting Budi Darma. Kumpulan cerita ini merupakan salah satu karya Sang Maestro yang, berbeda dengan kebanyakan karyanya, tidak bertemakan hal-hal abstrak. Melalui cerita-cerita yang ditulis pada periode akhir 1970an ini, pembaca tidak hanya diajak menelanjangi pergolakan emosional para tokoh di dalamnya, tetapi juga menyelami berbagai permasalahan humanistik mereka dalam berhubungan dengan lingkungan dan sesama.

246 pages, Paperback

First published January 1, 1980

199 people are currently reading
4387 people want to read

About the author

Budi Darma

44 books179 followers
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.

Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).

Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).

Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu. Cerpennya, "Laki-laki Pemanggul Goni," merupakan cerpen terbaik Kompas 2012.

Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
662 (28%)
4 stars
1,013 (43%)
3 stars
534 (23%)
2 stars
79 (3%)
1 star
22 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 485 reviews
Profile Image for raafi.
927 reviews449 followers
February 15, 2018
"Hati-hati dengan prasangka." Mungkin hal sederhana itulah yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam buku ini.

Hanya ada 7 cerita dalam buku setebal 296 halaman lebih sedikit. Cerita paling pendek minimal setebal 20 halaman, paling panjang mungkin ada 70 halaman. Silakan bayangkan sendiri bagaimana cara menikmati cerita tidak-pendek-tapi-juga-tidak-panjang ini.

Walaupun memang melelahkan, buku ini indah sekaligus bikin miris melalui diksinya. Favorit saya adalah "Laki-Laki Tua Tanpa Nama".

Beberapa kutipan jawara yang sedikit depresif, menurut saya:

"Saya tahu bahwa Joshua suka menulis puisi, tapi saya juga tahu bahwa dia hanyalah seorang yang bodoh, tidak seperti Cathy, kakaknya, yang sudah berdiri sendiri setelah lepas dari SMP, dan sanggup membantu saya setelah lepas dari SMA." ('Joshua Karabish', hlm. 62)

"Meskipun saya sudah lama tidak langganan koran, saya tahu bagaimana sikap orang membaca berita kematian." ('Ny. Elberhart', hlm. 212)

"Yang merisaukan saya adalah setiap kali saya melihat wajah saya, saya merasakan bahwa semua yang saya kerjakan tidak pernah selesai, seolah saya ditakdirkan selalu sibuk, tapi tidak mempunyai arah." ('Charles Lebourne', hlm. 242)
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
March 21, 2010
#2010-25#

SINTING!!

Tokoh 'saya' yang ada di sini semuanya benar-benar seseorang yang mau tahu saja urusan orang lain. Aku sendiri berusaha menghubung-hubungkan bahwa tokoh 'saya' ini benar-benar ada, dan semua cerita ini bertaut satu sama lain.

Pertama, sesudah ia mengamat-amati lelaki yang membawa senjata itu, lalu ribut mempertanyakannya, bahkan mencari tahu ke lingkungan sekitarnya, tanpa ia bertanya langsung pada si laki-laki ini. Kedua, dengan Joshua Karabish, yang meninggal dan meninggalkan barang-barangnya untuknya, dengan sengaja ia menelusuri kehidupannya. Ketiga, dendam tidak jelas pada keluarga M, yang membuatnya berpikir untuk mencelakakan anggota keluarga tersebut. Keempat, kehidupan Orez yang aneh, yang membuatnya ingin menyingkirkannya, dan pikiran-pikiran yang merasukinya. Keenam, kecemburuannya pada Yorrick, yang membuatnya berwajah palsu, sebenarnya kesal luar biasa tapi tetap berwajah tak bersalah. Ketujuh, ketertarikan anehnya pada ny. Elberhart, yang membuatnya masuk dalam perangkap kehidupannya. Kedelapan, perjumpaan dengan Charles Lebourne, berusaha menyingkap kesalahan di masa lalu.

Aku yakin si 'saya' ini berwajah poker face, seseorang dengan air muka yang tak terlihat apabila ia senang, gembira, dendam, atau cemburu. Semua dilakukannya begitu saja. Dengan perasaan tentunya, bukannya tanpa perasaan, buktinya kadang-kadang ia merasa bersalah atas perbuatannya.

Aku khawatir apabila ada orang seperti si 'saya' ini di lingkunganku. Apa yang ia pikirkan ketika mengempeskan ban hanya karena iri sama Yorrick, cemburu yang hebat namun didukung oleh wajah yang tetap tersenyum. Apa yang ia pikirkan sewaktu saking kesalnya ia berdoa tidak melihat keluarga M lagi. Kenapa sih dengan si saya ini? Kesepiankah dia? Isengkah dia? Atau hanya gejolak hati saja yang butuh penyaluran. Gemes rasanya pengen berteriak di kupingnya,'Duuhh.. please deehhh!!!'

Tapi terkadang yang tokoh 'saya' rasakan iya juga, ini adalah sindroma 'cari perhatian' akut, sampai dia merasa perlu untuk memperhatikan keadaan dan mencari penyebab kesalahan yang merugikan dirinya, lalu mencari cara untuk balas dendam sehingga perasaannya lebih tenang.
Tapi ini agak kurang waras menurutku, karena sesudah membalaskan dendamnya ia agak dikejar-kejar rasa bersalah. Tapi yang jelas sih tokoh 'saya' ini pasti sedikit punya bakat depresi.

Menakjubkan, membaca jalan pikiran seseorang yang tampaknya biasa-biasa saja, seolah menelanjangi pikiran-pikiran yang terkadang terselubung dalam pikiran kita sendiri. Pikiran yang seringkali sebenarnya ada, namun sering kita sangkal dengan menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Sisi aneh dalam diri masing-masing yang dicoba untuk ditutup-tutupi dengan wajah bahagia.

Profile Image for Ikra Amesta.
149 reviews29 followers
April 15, 2024
Lebih cocok kalau buku ini disebut kumpulan novel pendek. Atau, lebih tepat lagi, kalau buku ini disebut memoar pendek Budi Darma selama beliau tinggal di Bloomington, Amerika Serikat. Ada pola-pola yang tertangkap dari ketujuh cerita di sini dan secara amatir bisa saya isyaratkan sebagai petunjuk tentang kondisi riil sang pengarang. Maka kalau boleh saya sok tahu, saya menyimpulkan bahwa selama hidup di Bloomington kira-kira Budi Darma itu seperti berikut:

1. Mau tahu urusan orang. Entah itu si induk semang yang sudah uzur, atau bocah dekil tetangga apartemen, atau pemilik kamar di apartemen seberang yang lampunya selalu menyala. Setiap urusan orang pokoknya akan dicari tahu dan ditekuni secara detil untuk memastikan bahwa orang-orang ini bukan sekadar orang-orang yang biasa memenuhi kota.

2. Kena penyakit. Entah tertular teman sekamar yang penyakitan atau terkena dampak kelelahan mengurusi masalah orang, yang jelas selama di sana ia sempat berobat ke dokter spesialis.

3. Benci tetangga. Siapa pun itu. Dari anak-anak sampai nenek-nenek. Pikirannya dihabiskan untuk menjelaskan bagaimana ia membenci makhluk bernama tetangga ini, makhluk yang selalu menarik perhatiannya. Tapi seringkali ia gagal menarik simpati pembaca atas kebenciannya itu karena tidak semua pembaca bisa dengan gampangnya membenci tetangganya sendiri.

4. Kesepian. Ini yang paling kentara. Karena ia adalah sosok yang tidak begitu menarik buat didekati. Karena ia lebih suka meladeni kesepiannya dengan mencampuri urusan orang. Karena bahkan kalau ia beristri sekalipun ia percaya anaknya pasti bakal cacat mental, dan dinamai Orez, kebalikan dari zero. Karena tidak ada yang bisa ditawarkan kota sekecil Bloomington kepadanya selain rasa kesepian.

Tidak akan ada Orang-Orang Bloomington tanpa Budi Darma, yang kepikiran buat menuturkan kisah dari tempat yang terlalu biasa-biasa saja dalam menghadapi absurditas, atau banalitas, yang terjadi di sana. Dalam hal ini, kejeliannya menangkap aroma sastra dari sekitar adalah sebuah keunggulan yang jarang. Karena kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya tidak ada yang istimewa dari tokoh-tokoh yang namanya dijadikan judul di setiap cerpen. Mereka hanya orang-orang yang biasa ditemui di jalan dengan masalah hidupnya masing-masing. Justru jari-jari usil si pengaranglah yang membuat orang-orang biasa itu jadi sebuah kisah, dan kisah itu kemudian menjelma jadi semacam tontonan realistis.

Jujur, sebenarnya saya tidak begitu peduli dengan Ny. Elberhart, Joshua Karabish, atau Charles Lebourne. Saya tidak mau direpotkan dengan kehadiran mereka. Saya hanya khawatir bagaimana sekarang orang-orang Bloomington menjalani kehidupannya tanpa kehadiran Budi Darma di sana -- kehidupan standar dan tawar yang selayaknya membutuhkan amatan dari seorang penulis andal untuk membuat semuanya jadi seperti punya percikan.
Profile Image for Melos Han-Tani.
231 reviews45 followers
May 22, 2022
A cleverly caricatured portrait of the 1970s Midwest, portrayed as a paranoia, distrust, isolated and loneliness-laden landscape. In some ways the protagonists of these stories - often messed up, sad or lonely men (who sometimes experience some kind of moral redemption) - they almost feel like ghosts, or malevolent spirits haunting the Indiana landscape. Popping tires, manipulating buildings into installing Coke machines, pushing old women to overexert themselves through yard work. Birthday parties and dating rituals are depicted in a way that reminds me of exoticized caricatures of non-"Western" cultures - the hooping and hollering, drinking, dancing. Characters try to do simple things like check in on elderly people or veterans with PTSD but they find themselves at a loss, blockaded by the apathy of other Americans. The narrators in these stories are exaggeratedly psychopathic, cruel, in a way that I think, would remind any American had a roommate - of the passing desire to punish someone who was making noise at the wrong time or leaving dishes out.
Profile Image for icih.
28 reviews13 followers
September 11, 2021
Ini buku kumpulan cerpen terapik, tergila, termindblowing yang pernah kubaca.

Cerpen-cerpennya termasuk panjang untuk ukuran cerita pendek, tapi justru itu, kita diajak buat menyelami pikiran dan kepribadian tokoh utama di setiap cerpennya. Kita dipaksa melihat dan merasa apa yang si tokoh alami, yang buat kita akhirnya mengerti bahwa manusia memang kompleks dan penuh twist, dan karenanya menjadi tidak sempurna.

Pernah berangan-angan bagaimana rasanya jadi hero di sebuah cerita di mana semua tindakan kita diekspektasikan untuk selalu membawa kebahagiaan bagi tokoh-tokoh di sekitarnya? Well, di buku ini, kamu akan jadi sejahat-jahatnya manusia. Bahwa sekalipun pikiran manusia merupakan sesuatu yang sepenuhnya di bawah kontrol pemiliknya, rupanya, ada rute menuju kegelapan yang sulit dihindari.

Intinya kalo mau ditelanjangi, kalo takut mengakui bahwa kerak di hati benar nyatanya, baca buku ini. Siapa tahu jadi sadar, jangan-jangan selama ini ada banyak orang yang kita susahkan karena keegoisan kita.
Profile Image for Nur.
137 reviews
June 7, 2016
Wow. Ini pertama kalinya aku baca karya sastra punya Indonesia. Maksudku, yang bener-bener sastra. Ah begitulah. Selama ini aku cuma baca novel-novel yang ditulis orang Indonesia, dan sisanya adalah novel terjemahan. Aku tidak menyangka, pengalaman membaca karya sastra Indonesia pertamaku akan seperti ini. Seperti : wow, aku ngga nyangka bisa membaca sesuatu yang "keren" kayak gini.

Kenapa aku tiba-tiba penasaran? Sempet lihat sekilas seseorang baca buku ini di beranda Goodreads milikku. Dan entah kenapa, si kovernya ngga bisa lepas dari pikiran. Dan tepat ketika Padjadjaran Book Fair diadakan di depan kampusku, aku menemukan buku ini! Dan diskon pula! Kebetulan macam apa ini? :"D Langsung saja aku beli buku ini, karena kovernya yang selalu membayang-bayangi pikiranku. Selain itu, aku pikir akan mudah membacanya, karena buku ini adalah kumpulan cerita pendek. Akhir-akhir ini mood membacaku sedang menurun, untuk menaikkannya kembali aku butuh membaca sesuatu yang ringan dan cepet selesai. Dan jadilah aku memilih buku ini :)

Awalnya aku ngga menaruh ekspektasi tinggi sama buku ini. Ini pengalaman membaca sastra yang bener-bener sastra (apaan ini?) pertama untukku. Aku membacanya tanpa berharap apapun (selain penasaran sama karakter Orez yang dimaksud oleh Agus Noor di halaman-halaman awal buku ini) Dan ternyata oh ternyata... Aku terhanyut pada semua cerita pendek yang ditulis oleh Budi Darma ini. Aku tidak menyangka... Aku tidak menyangka.... Bahwa cerita pendek punya kekuatan semacam ini; kekuatan untuk membuatku tertegun dalam waktu singkat.

Apalagi karakter-karakter dalam cerita pendek yang ada pada buku ini, semuanya benar-benar berkesan dalam pikiranku. Dan mungkin dalam beberapa waktu, aku tidak akan bisa mengenyahkan karakter-karakter tersebut dari dalam pikiranku. Mereka begitu... Apa ya? Aneh, hidup, dan... Menyeramkan. Menyeramkan dalam artian... kok bisa sih mereka mikir kayak gitu?

Semua cerpen yang ada dalam buku ini meninggalkan begitu banyak perasaan dalam diriku. Tapi cerpen yang berjudul "Orez" dan "Keluarga M" juga "Charles Lebourne" bener-bener sesuatu untukku. Terutama cerpen "Charles Lebourne" Ya Tuhan, ada beberapa deskripsi karakternya yang membuat aku tertegun cukup lama. Dan aku terhanyut. Deskripsi itu seperti sengaja ditulis oleh Budi Darma untukku. Aku... Aku... Kehilangan kata-kata.

Oleh karena aku membaca buku Orang-Orang Bloomington ini, aku jadi ingin membaca karya sastra Indonesia yang lainnya. Aku mulai tertarik untuk membaca buku-buku yang ditulis oleh Eka Kurniawan, dan Aan Mansyur. Tapi sejauh ini, aku sudah membeli buku kumpulan puisi Aan Mansyur yang berjudul Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi :) Lalu, aku penasaran ingin membaca buku Sepotong Senja untuk Pacarku: Sebuah Komposisi Dalam 13 Bagian dari Seno Gumira Ajidarma. Buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas juga mulai menarik perhatianku ^^

Kesimpulannya, aku jadi ingin membaca buku kumpulan cerpen yang seperti ini lagi. Aku ingin merasakan perasaan "tertegun" itu lagi; semacam perasaan bahwa kamu mendapati sesuatu yang jauh diluar pikiran kamu, yang tidak pernah terbayangkan oleh kamu sebelumnya. Buku kumpulan cerpen "Orang-orang Bloomington" ini, jelas sudah membawaku ke sebuah perasaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya melalui para karakter-karakternya yang sangat jdhsdhahas itu. Pokoknya susah dijelaskan! Tapi aku suka! []
Profile Image for &#x1f434; &#x1f356;.
496 reviews40 followers
Read
October 19, 2022
what we've got here is effectively the same story 7x. not in a bad way. think of it as a prose sestina maybe. or imagine each story as being a fictionalized version of the events of the previous one, written by that story's narrator. you can expect one or more elderly landladies; curiosity about a neighbor; mysterious illness; almost-plausible american names (dr. coonrod; mrs. kaymart); & ultimately, thru simmering resentments and/or hoosier anomie, the narrator doing sth unforgivable. "lynchian" is always a suspect term to go throwing around but you can truly hear the same machinery humming in the bkg here. nails that midwestern college-town ambience; takes me straight back to selling plasma @ the place across from little caesars. recommended soundtrack: liquorette - when you work i sleep (1996, mud).
Profile Image for Eva Femia.
66 reviews
November 12, 2025
4.5

new goal: read more books translated from indonesian
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
March 21, 2022
Kisah-kisah dalam buku ini ditulis pengarang berdasarkan pengalaman dan pengamatannya pada orang-orang di perkotaan menengah Amerika Serikat. Judul-judul cerpennya sendiri, seperti judul bukunya, adalah nama atau orang yang tinggal di sekitaran kota Bloomington, Indiana. Kebanyakan adalah orang tua, atau orang dengan penyakit baik fisik maupun mental. Tapi bisa dipastikan semua orang itu nyentrik. Tokoh aku sebagai pencerita mengisahkan interaksinya dengan orang-orang unik ini. Awalnya, saya mengira yang aneh adalah orang-orang di Bloomington ini. Tetapi semakin ke belakang, malah tokoh si 'aku' itulah yang sebenarnya oranf aneh, dan orang-orang lain yang unik itu bukan aneh, tapi realitis. Kita sering memandang orang lain aneh, tanpa menyadari justru yang aneh sebenarnya adalah kita sendiri.

Keanehan si aku ada pada sifat-sifat tercelanya yang tersembunyi di balik ke-akuan. Si aku ini kepo banget asli, suka ikut campur, rasa ingin tahu pada orang lain yang sudah sampai pada taraf kebablasan, juga punya kecenderungan suka membantu karena ada alasan di balik bantuan itu. Sementara orang-orang yang dipandang aneh oleh si "aku" malah tampak lebih realistis. Mereka mungkin berlaku aneh atau nyentrik, tapi sebenarnya itu hanya sikap realistis. Realistisnya orang Barat di tahun 1970an inilah yang mungkin keliru dipahami oleh orang timur dengan menuduhnya sebagai sikap individualistis atau materialistis. Dia mau berbuat kalau ada maunya. Yang kalau dipikir-pikir, bukankan semua perbuatan yang kita lakukan juga didorong karena kita ada maunya?

Menarik sekali membaca kisah yang terbalik-balik dalam buku ini. Awalnya si Aku yang waras, tetapi ternyata dalam banyak hal malah orang-orang Bloomington ini yang jauh lebih waras. Sebuah kutipan di cerpen terakhir menggambarkan watak manusia yang sering tersiksa dengan kemanusiaannya di buku ini:

"Inilah yang menambah keyakinan saya bahwa saya tidak sempurna dan bahwa saya harus menderita karena kekurangan ini."

great.
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
September 11, 2021
Orang yang tidak pernah menghasilkan apa-apa, kesepian, tapi mencurigai orang lain sebagai sumber malapetaka, dan karena itu tidak pernah bersentuhan dengan orang lain, pantaskah kalau namanya dikenang?

Buku ini adalah kumpulan cerita pendek mengenai orang-orang yang hidup di daerah Bloomington, salah satu kota di Indiana, USA. Menggunakan sudut pandang orang pertama, tokoh "saya" dapat diidentifikasikan sebagai mereka yang kesepian dan sangat ingin tahu dengan kehidupan orang-orang disekitarnya. Kejadian-kejadian kelam dan naas serta rumit menimpa tokoh "saya" saat dia mulai mencapuri urusan orang lain dan berusaha untuk memperbaiki atau masuk kedalam hidup orang tersebut.

Yang merisaukan saya adalah setiap kali saya melihat wajah saya, saya merasakan bahwa semua yang saya kerjakan tidak pernah selesai, seolah saya ditakdirkan selalu sibuk, tapi tidak mempunyai arah.

Kalo ingin dibilang saya sama sekali tidak mempunyai favorite karakter "saya" di tiap cerita, saking abu-abunya karakter mereka masing-masing, susah mengidentifikasikan maksud mereka yang sebenarnya karna kita sebagai pembaca hanya hidup di kepala karakter utama tersebut menerima informasi dan deskripsi hanya dari pandangannya sendiri. Mungkin yang paling enjoy ku baca adalah Cerpen pertama dan Orez.

Buku ini sebenarnya sangat menarik karna seperti mengupas sisi kelam manusia yang berusaha dia (dan kita semua) tolak dan sangkalkan. Membuat ngeri disaat yang bersamaan juga, saat aku sadar ternyata kekuatan pikiran manusia bisa segila itu
Profile Image for Kursi Seimbang.
175 reviews22 followers
April 20, 2022
Aku paling suka Laki-Laki Tua Tanpa Nama dan Orez.

Laki-Laki Tua Tanpa Nama adalah cerpen pertama di karya Budi Darma ini. Ia disampaikan melalui sudut pandang orang pertama milik seorang pemuda (saya) yang tinggal di loteng Ny. MacMillan dan senang memperhatikan laki-laki tua itu. Analogi yang cocok kira-kira seperti ini: saya pernah lihat dan mendengar seseorang berkata dia suka makan ayam kampung. Lalu, tetangga orang tersebut kehilangan seekor ayam kampungnya. Maka, saya pun berasumsi bahwa orang itulah yang mencuri ayam kampung tetangganya hanya karena ia suka makan ayam kampung.

Kalau Orez, sedikit lebih gelap. Soalnya cerpen itu membahas disabilitas, keluarga, dan rasa malu akan disabilitas yang dimiliki anggota keluarga. Sisi keji manusia juga disampaikan dengan lantang. Menyeramkan.

Tokoh-tokoh 'saya' di Orang-Orang Bloomington mengekspos pola pikir manusia. Dengan dualitas yang bermakna, mereka seakan-akan melawan diri mereka sendiri untuk menjustifikasi atau menjatuhkan sisi lain dari persona mereka.

Orang-Orang Bloomington adalah kumpulan cerpen yang mind-blowing.
36 reviews1 follower
May 23, 2022
Evocative of Carver, particularly his dark melancholy college towns full of despondent and pathetic characters unaware of their own inhumanity. Budi Darma isn’t overly familiar to most American readers, but he should be, in the same way that Haruki Murakami is. His prose is terse yet firm and doesn’t distract from those characters as they either evolve or fail to evolve, and part of the darkness Darma paints is in the utter realism of the situations, despite the sometimes seemingly random pathology they exhibit. Although Darma himself points out that the theme of his stories is in the humanity explored, and thus that these could as easily be set in Paris or Dublin as Bloomington, I used to live in Indiana and could recognize it at times from his descriptions, especially the way he was able to often capture the state’s gloomy flatness and climate. At times he’s heavy handed with his literary references, but it may just seem that way from reading the collection straight through, instead of each story on its own as it might appear in a literary magazine or anthology. Not heavy handed at all, and in fact quite deft, is the way Darma at times seems to channel the voices of particular authors he admires. In addition to Carver, there’s the pathological enmity of Faulkner in Barn Burning and Sound & Fury, and the lucid insanity of Gogol’s Diary of a Madman. I didn’t pick up much Austen (one of his self-ascribed favorites) but at times it felt like Darma lightly mocked the social scenes that Austen too sometimes mocked, though in a different way and for different reasons.

Bottomline, this is a very solid collection of short fiction. Some of the stories are very strongly similar in theme and plot points (lots of hospital visits, lots of car accidents occurring to people the protagonist doesnt like, lots of lonely young men creepily inserting themselves into the lives of complete strangers) to the point that some feel repetitive, but there really isn’t a bad story in the bunch.
Profile Image for Marina.
2,036 reviews359 followers
September 25, 2016
** Books 246 - 2016 **

3,2 dari 5 bintang!

Buku ini merupakan hasil dari para kekepoan (knowing Every Particular Object) si narator yang merupakan sudut pandang pertama terhadap orang-orang disekitarnya. Saya suka sekali penggambaran detail suasana latar dan setting yang dibangun didalam buku ini :D

Ada beberapa kisah yang menyedihkan untuk dibaca seperti Kisah Joshua Karabish dan Orez. Tetapi favorit saya dibuku ini adalah kisah Keluarga M yang memukau untuk dibaca. Apa ya mungkin karena si narator ini begitu dendamnya dengan Keluarga M sampai tidak ia sadari memantau hal-hal kecil dari keluarga ini. Endingnya juga suram dan terlihat hampa. Entah kenapa sekilas bagian kisah itu mengingatkan saya akan buku A Man Called Ove dengan kisah lelaki pemberangnya yang suka menggerutu akan segala hal :D

Terimakasih Perpustakaan Kemendikbud atas peminjaman bukunya
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
August 10, 2017
Saat baca ini, saya juga sedang baca As I Lay Dying-nya Faulkner. Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam cerita emang lebih mengasyikan, apalagi jika si tokohnya culas. Tokoh-tokoh utama dalam cerpen Budi Darma ini, selain punya inferior complex, pada kepo bahkan mengarah psikopat. Meski tokoh utamanya hampir serupa, tapi tiap cerita punya keenakan tersendiri.
Profile Image for Naim al-Kalantani.
283 reviews17 followers
July 17, 2021
Sebelum ini, Budi Darma adalah nama asing dalam kamus hidup aku. Beberapa tahun lepas Hazman Baharom mengulas buku Kritikus Adinan. Dari situ, aku mula kenal namanya. Dan aku beli buku tu dan baca. Dia tulis magis — ada aku suka dan kurang suka. Tapi memang powerlah.

Lepas tu, aku perlu buat kumpulan cerpen untuk FYP. Masa di Twitter Spaces, sempat berbual dengan Wan Nor Azriq dan aku minta saranan dia buku mana untuk aku baca sebagai panduan untuk (1) cerpen panjang dan (2) realisme. Azriq seperti tidak ragu-ragu memetik, “Orang-orang Bloomington, Budi Darma”. Tak berlengah, aku dapatkan bukunya.

Buku ini ada 7 cerpen yang panjang. Ambil 20-60 halaman untuk sesebuah cerpen.

Apa yang menarik ialah watak diatur seperti tidak ada pengarang. Pengarang tidak masuk campur dalam pergerakan watak. Watak dan perwatakan digerakkan dengan ‘sebegitulah ia’. 3 act structure tidak terpakai dalam cerpen-cerpen ini sebab aku rasa ia hanyalah sebuah cerita yang memuaskan. Tidak perlu klimaks dan peleraian, kita perlu konflik. Budi Darma berjaya membawa kita masuk ke Bloomington ini menjadikan kita ‘saya’ dan duduk bersama-sama Joshua Karabish, Orez, Yorrick, Elberhart, Charles Lebourn dan lain-lain.

Bagi yang tak berupaya untuk membaca dalam Indonesia, buku ini akan diterjemahkan oleh Penguin Classics tahun 2022 nanti. Dan melalui buku ini jugalah Budi Darma dapat merangkul SEA Write Award 1984.

Sah! Budi Darma sang maestro sastera Indonesia.

Hanya ada satu kata: luarbiasa!
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
October 13, 2022
Actual rating 4.5⭐

Buku ini adalah kumpulan cerpen yang memuat kisah dari orang-orang Bloomington (seperti judulnya) yang memberiku sensasi aneh sehabis mendengarkan setiap ceritanya (karena aku "baca" versi audiobook). Ada beberapa cerita yang membuat keningku mengernyit karena ngeri atau jijik (meski gak sejiji cerita tentang kecoak di Filosofi Kopi 😂😂), ada juga cerita yang membuatku merenung lama, ada yang memberiku rasa hangat, dan ada juga yang membuatku bingung dan bergumam, "ini maksud ceritanya apa, sih?" 😂😂

Biasanya aku perlu usaha ekstra untuk bisa menamatkan buku kumpulan cerpen (karena sejauh ini cerita dalam bentuk cerpen bukan (atu setidaknya belum) menjadi favoritku) tapi tidak dengan buku ini. Sejak dibuat merenung setelah selesai mendengarkan cerita pertama, timbul hasrat untuk cepat-cepat tiba pada cerita-cerita selanjutnya. Karena, selain menimbulkan sensasi aneh, cerita pertama yang berjudul Laki-Laki Tua Tanpa Nama pun membuatku banyak merenung sampai akhirnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan retorik tentang kehidupan.

Cerita kedua yang berjudul Joshua Kabarish pun membuatku merenung lama karena cerita itu benar-benar menggali pergulatan batin dan penyesalan si tokoh "saya" yang membuatku bertanya-tanya, "apakah aku pernah berada di posisi si tokoh "saya" itu?" Cerita ketiga yang berjudul Keluarga M membuatku membatin sambil menggeleng-geleng kesal karena ulah si tokoh "saya". Di cerita ini, alm. Budi Darma seolah ingin menunjukkan seberapa bahaya dan seberapa mengerikannya rasa benci itu dan hal yang kita lakukan bisa sangat berdampak pada orang lain dan diri kita sendiri tergantung dari apa yang kita rasakan.

Cerita keempat, Orez, adalah favoritku. Cerita ini memberikan banyak sensasi ganjil saat aku mendengarkannya tapi lambat laun aku makin tenggelam dalam cerita yang rasanya agak absurd itu. Orez memuat kisah keluarga kecil yang mencoba bertahan dengan cara mereka masing-masing dalam kondisi keluarga yang akan membut banyak orang prihatin. Aku bisa merasakan rasa frustasi dan rasa cemas berlebihan dari si tokoh perempuan yang menanggung beban moral akibat hal-hal buruk yang menimpa keluarganya. Aku pun bisa merasakan keteguhan hati si tokoh "saya" yang meski tak banyak bertanya tapi ia bisa menunjukkan bahwa ia berpendirian kuat dan bersedia berada di samping istrinya dalam kedukaan seberat apa pun. Dari cerita ini pun aku mendapat gambaran tentang apa yang dirasakan si tokoh "saya", baik sebelum ataupun sesudah ia menjadi seorang ayah. Aku sempat bingung dengan ending ceritanya yang terkesan "begitu saja" tapi aku suka dengan closure yang didapatkan tokoh-tokohnya.

Cerita kelima dan keenam, yang berjudul Yorrick dan Ny. Elberhart membuatku bingung. Di Yorrick aku merasa ceritanya agak bertele-tele dan hanya bisa menangkap cemburu buta yang dirasakan oleh si tokoh "saya". Dan di cerita Ny. Elberhart.. aku bingung si Ny. Elberhart ini sebenarnya itu baik atau menyebalkan 😂😂 Cerita terakhir, Charles Leborne, menjadi penutup yang cukup apik. Aku lupa bagaimana akhir hidupnya Charle Lebourne tapi aku merasa cukup relate dengan si tokoh "saya", terutama saat ia menceritakan kehidupan yang ia jalani dengan biasa saja, yang penting memenuhi standar, dan meski ia selalu bisa merasa melakukan setiap hal dengan lebih baik (atau istilahnya doing extra miles), ia tidak pernah melakukannya. Bukankah ini sungguh aku banget? 😂😂

Secara keseluruhan, buku ini sungguh menarik untuk dibaca sampai tamat (meski perlu aku jeda karena lama-lama rasanya bikin gloomy 😂😂). Kisah-kisahnya terasa jauh sekaligus dekat dan karena semua cerita ditulis dengan sudut pandang orang pertama, aku jadi bisa benar-benar "melihat" apa-apa saja yang dipikirkan dan dirasakan oleh para tokohnya dengan sangat jelas. Dan setelah "membaca" sampai tamat, aku pun mengomeli diri sendiri, "ke mana aja kamu Mei sampai baru sadar kalau ada karya sastra yang sebagus ini dari negeri sendiri?" Ku akui, bacaanku memang didominasi oleh penulis-penulis luar yang tak jarang bikin aku merasa relate dengan kehidupan tokohnya, padahal ada karya dari negeri sendiri yang pasti membuatku merasa lebih familiar lagi dengan tokoh-tokohnya. Habis "baca" buku ini, aku mau berburu karya sastra lokal lainnya, ah.
Profile Image for Muhamad Tegar Pratama Putra.
46 reviews1 follower
July 24, 2024
Budi Darma membawa kita ke antologi kisah orang-orang yang hidup di Bloomington, tempat dimana ia pernah menetap. Dengan karakter-karakter yang dingin, sok tau, culas dan penuh cela, kumcer ini membawa kita ke benak orang-orang penggerutu yang memandang hidup dan dunia dengan suram seperti kota Bloomington sendiri yang digambarkan dingin, muram dan tak menarik. Penuh dengan intip-intip tetangga dan kedengkian hati, menariknya OOB ini justru terasa relevan secara pribadi. Di usia jelang akhir 30an dan memandang dunia dengan sinis, semoga kita tak berakhir pahit seperti Orang-Orang Bloomington Budi Darma ini.
Profile Image for Khai.
69 reviews7 followers
June 1, 2022
Baca ini tercengang hah heh hoh mulu bawannya, keren abis. Tulisannya jujur, detail sekali, setiap cerpennya punya pesan tentang tabiat manusia yang sering diremehkan karena terlampau kecil dan sering kita lakukan tanpa sengaja.

Semua cerpennya menggunakan sudut pandang orang pertama hanya saja berbeda tokoh.

Favoritku cerpen berjudul Keluarga M, Orez, dan Ny. Elberhart.
Profile Image for Hadi Muss.
147 reviews20 followers
September 12, 2021
Rasanya aku perlu cari komentar dan diskusi lanjut berkenaan buku ini sebab banyak perkara yang tak 'make sense' bagi aku. Tak nak review lebih, sebab aku rasa aku bukanlah orang yang tepat untuk cerita lanjut apa yang aku rasa selepas baca buku ni.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,355 reviews43 followers
January 15, 2009
Buku yang judulnya lumayan keren buat bekal ngantri di ruang tunggu dokter.

Konyolnya, sampe buku ini selesai dibaca, tidak satu pun dari dua dokter yang harusnya hadir menampakkan batang hidungnya! Artinya, setelah 3 jam, setelah berkenalan dengan semua orang di Bloomington, saya akhirnya pulang dengan kecewa pada petugas rumahsakit. Mbok ya petugas pendaftaran pasien woro2 gitu, jam berapa dokternya dateng, atau apa iya mereka bakal dateng, daripada kami dianggurin tanpa kabar, tanpa kue, tanpa tehbotol... Sampai akhirnya membuat review buku ini saja jadi terpinggirkan.

*curhat, bukan review*
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books62 followers
September 4, 2024
"Ternyata tangan kanan dan kaki kanannya sulit digerakkan. Katanya sakit, seperti tulang-tulangnya patah, tapi sekaligus kaku. Wajahnya dibanjiri keringat dingin, kesombongannya hilang menjadi kekalahan." Hal.290.

Idealnya, kesombongan memang dapat dikalahkan ketika raga menua, penyakit mulai berdatangan dan kemampuan untuk "ngar-ngar" berkurang. Tapi apa benar begitu? oh tentu saja tidak berlaku ke semua orang. Charles Lebourne misalnya, walaupun sudah renta, banyak dosa pula ketika muda, tempo-tempo sadar, tapi dasar otak karatan ya masih aja bisa semena-mena walaupun mau gerak aja susah.

Charles Lebourne tak sengaja bertemu dengan si tokoh aku, salah satu anak dari wanita-wanita yang ia buahi. Si anak ini tak sengaja berjumpa dengan bapak kandungnya ketika kepo (dan juga kesal, sih) karena Charles memasang lampu sorot di apartemen seberang yang mengganggu kenyamanan hidupnya.

Siapa sangka, pemilik unit apartemen dengan lampu batman itu ternyata pria yang mencampakkan ibunya puluhan tahun silam. Tapi, bukannya sebal atau marah, dia malah masuk ke kehidupan bapaknya, mencoba jadi anak yang baik. Ia bahkan memilih menyewa sebuah rumah dan pindah bersama bapak yang culas, problematik dan gashlighter itu.

Buat apa sebenarnya? apa si tokoh aku/si anak ini emang sebaik itu? oh belum tentu, itu dia yang bikin cerpen berjudul Charles Lebourne ini jadi menarik.

Di cerita pendek lain berjudul Yorrick, tokoh si aku-nya lagi-lagi kepo dengan kehidupan tetangga, yang kebetulan cantik dan dia naksir sehingga pindah ke kediaman Ny.Ellison demi memperbesar kemungkinan ketemu dan ngobrol (syukur-syukur bisa pacaran) dengan si gadis incaran. Sialnya, si tetangga ini malah dekat dengan Yorrick si penyewa lain di loteng Ny.Ellison.

"Dia memperkenalkan diri, namanya Yorrick. Bagi saya dia lebih menyerupai tengkorak daripada manusia. Kurus kering, seolah tak mempunyai daging. Dan, setiap kali bergerak seolah ada suara gemeretak tulang beradu dengan tulang." Hal 150.

Dari sudut pandang si tokoh aku, Yorrick ini juga menyebalkan. Orangnya berkeringat berlebihan, suka tarok pakaian kotor seenaknya, kadang ngembat makanan dan minuman di kulkas, yang lebih sebal lagi, semua orang suka kepada Yorrick! Lagi-lagi cerita pendek dengan ending yang mengejutkan.

Saya gak akan banyak bahas kumcer ini selain 2 cerpen di atas. Dengan tebal hampir 300 halaman, hanya ada 8 cerita pendek di buku ini. Kebayang ya, masing-masing cerpen bahkan bisa disebut novelet kayaknya. Dan untungnya, om Budi Darma menuliskannya dengan.... sederhana. Ya, kayak melihat kehidupan orang bertetangga pada umumnya. Beda dengan cerpen-cerpen beliau di Kumcer Pilihan Kompas yang kadang susah dimengerti hehe.

Semua cerpen ditulis di Bloomington ketika Budi Darma sempat tinggal di sana. Jadi, judulnya memang sesuai dan sangat menggambarkan isi kumcer ini walau kalau boleh secara jenaka saya kasih sub judul "Orang-orang Bloomington: Kehidupan si Tetangga Kepo" haha, sebab sebagian besar ceritanya bermula ketika si tokoh aku ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan para tetangganya. Ibaratnya, hidupnya kurang sibuk kali ya jadi bikin pening kepala sendiri hehe.

Skor 8,6/10
Profile Image for Iyas Utomo.
555 reviews10 followers
February 22, 2018
"Di seberang sana selalu ada surga, itulah kesepakatan yang tidak pernah kami ikat dengan kata-kata, tapi kami teguhkan dengan perbuatan." (Halaman 123, dalam Orez)

Ini adalah kali pertama saya membaca karya Budi Darma, memutuskan untuk membacanya pertama karena tertarik dengan judulnya.

Terdapat 7 cerita pendek di sini, dan yang menjadi favorit saya adalah Orez dan Ny.Elberhart, karena hanya di kedua cerita inilah tokoh 'saya' tidak terlalu berkelakuan nyeleneh menurut saya. Hahahaha

Di ketujuh cerita ini mempunyai satu benang merah yang saling menghubungkan, yakni kesepian, dan hampir pada setiap cerita terdapat tokoh orang tua yang menjelaskan keadaan mereka begitu terasing dan mungkin terabai dari lingkungan mereka. Dan setiap cerita selalu saja bermula dari rasa keingintahuan si tokoh 'saya', yang berujung hal itu membuatnya susah sendiri.

Selama membaca buku ini dibuatnya gemas, segemas-gemasnya. Apalagi di cerita Keluarga M, kenapa ada orang seusil itu untuk mengurusi urusan orang lain? Dan bagaimana tokoh 'saya' memperlakukan anak-anak dari Keluarga M ini sangat membuat saya tak habis pikir, bagaimana seorang dewasa berkelakuan sangat kanak-kanak seperti itu. Beda lagi dengan cerita Yorrick, di cerita ini tokoh 'saya' mengundang simpati karena dicurangi oleh teman serumahnya. Tapi memang, masing-masing cerita sangat kuat, berhasil membuat emosi ini naik-turun, sebal, gemas, prihatin, dan ngeri.

"Yang merisaukan saya adalah setiap kali saya melihat wajah saya, saya merasakan bahwa semua yang saya kerjakan tidak pernah selesai, seolah saya ditakdirkan selalu sibuk, tapi tidak mempunyai arah." (Halaman 257, dalam Charles Lebourne)
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
July 8, 2017
"Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain. Hanya dengan jalan demikiam, kita dapat tenang".

Buku yang menggugah pemikiran, menyadarkan bahwa rasa keingintahuan dari dalam diri kita sendiri itulah yang terkadang membuat menyulitkan kita sendiri. Ketujuh cerpen yang disajikan dalam Orang-orang Bloomington ini amat menggelitik dan memiliki kekhasan tersendiri menurut saya. Sebagaimana yang dikatakan oleh SGA dalam bukunya Tiada Ojek Di Paris, bahwa memang Budi Darma sungguh apik dalam menelisik bagaimana pikiran, kebiasaan, hingga hal-hal detail lainnya yang menjadikan Orang-Orang Bloomington sebagai satu dari 100 buku sastra Indonesia yang direkomendasikan Tempo untuk dibaca.

Dari Tujuh cerpen yang disajikan, saya benar-benar berkesan pada Orez dan Charles Lebourne. Orez melalui pemikiran ayahnya yang begitu menyadarkan tentang perasaan-keinginan alamiah yang pasti ada dalam diri setiap manusia, dan Charles Lebourne yang sungguh menjijikan; entah kenapa ketika saya membaca ceritanya malah teringat kisah hidup saya sendiri. Halah!

Sekali lagi, sungguh buku ini saya rekomendasikan bagi ia (yang menjadi netizen di Indonesia) yang tengah ingin belajar-merefleksi diri untuk mengurangi perilaku keponya yang tentu menurut saya akan menyusahkan diri sendiri pada akhirnya. Haha.

Oh ya, saya menyukai gaya satire-nya Budi Darma di beberapa cerita yang disuguhkannya. Menarik! Dan saya malah teringat pada Eka Kurniawan pada akhirnya wkwk.
Profile Image for George.
3,267 reviews
July 22, 2023
3.5 stars. A seven short story collection set in Bloomington, Indiana, during the 1970s, where the author, an Indonesian, lived as a graduate student.

A pleasant, easy to read, sometimes eerie, alienating, weird, sometimes comic, sympathetic, realist fiction.

In ‘Mrs. Elberhart’, an old woman and young male narrator form a friendship only to be plagued with mutual suspicion that the other harbours an infectious disease.

‘The old Man with no Name’ is about an old man who lives alone in an apartment. The young student narrator attempts to communicate with the old man, but the old man continually avoids the narrator. The narrator is curious as he saw the old man brandishing a gun.

In ‘Joshua Karabish’, the narrator struggles with he death of his housemate, a young poet.

“Charles Lebourne’ describes how the narrator seeks out an older man he saw in another building, believing the man to be his estranged father.

‘The Family M’ is about a narrator who is enraged by the suspected mischief of a pair of children living in his apartment building.

Each story was an intriguing read.

This book was first published in 1980. This book was recently newly translated, winning the 2023 NSW Premier Translation Prize.
Profile Image for Dhik.
97 reviews18 followers
September 28, 2022
Kumpulan cerpen karya Budi Darma yang satu ini berhasil membuat saya berpikir tentang banyak sekali hal. Persetan dengan karakter serba baik yang tingkah lakunya mengikuti tatanan moral, karakter pada cerpen-cerpen di Orang-orang Bloomington ini disajikan dengan emosi yang benar-benar mentah tanpa filter.

Membaca kumpulan cerpen ini terasa seperti sedang menguliti tiap-tiap bagian dari jati diri sebagai manusia. Perlahan-lahan, cerpen demi cerpen, perilaku "aku" yang tentunya sangat (redacted) di setiap cerpennya jadi terasa beralasan dan masuk akal. Melalui POV karakter "aku" yang tinggal di daerah Bloomington, Indiana, masing-masing cerita disajikan secara unik. Seringkali sebagai pembaca, saya merasa bersalah karena bisa bersimpati dengan karakter A, B, atau C.

Dari ke-7 cerpen yang ada, salah satu yang menjadi cerpen favorit saya pribadi adalah Ny. Elberhart. Cerpen tersebut bagi saya pribadi sukses menggambarkan sisi manusia yang pada akhirnya akan menuhankan ego dirinya sendiri di atas segala hal. Selain itu juga, cerpen Ny. Elberhart juga menunjukkan bahwa dibalik ego manusia yang meledak-ledak, manusia sejatinya adalah makhluk individu yang signifikansi kehadirannya di dunia ini tidak berdampak yang "gimana-gimana". Perlahan-lahan, saat waktunya telah tiba, tiap-tiap individu manusia akan dilupakan.

Buku ini melebihi ekspektasi saya. Bisa-bisanya saya secara tidak sadar "terekspos" oleh sebuah buku kumpulan cerpen yang ditulis di tahun 80-an.
Profile Image for Hobart Mariner.
440 reviews14 followers
July 11, 2024
Handful of lengthy short stories set in Bloomington where the author, an Indonesian absurdist writer, did his graduate work on Jane Austen. The essays introducing the collection seem to view its translation and publication in English as a referendum on the ability of “Westerners” to accept external literary rendering by non-Westerners but if anything I think it does much more to destabilize the dichotomy (a greater epistemic threat!). There are a few references to classical Indonesian literature but mostly it’s steeped in English, American, and Russian sources. The absurdity and evil that seeping through the narrators bring to mind Kafka but I think Darma deserves credit for a uniquely mild flavor of sinister. In such a short space he sets up powerful resonances: disease and disfigurement, old men and old women, loneliness and marriage. The prose style is often flat and simple but the strangest emotional configurations emerge. Great stuff.
Profile Image for Nadine K.
285 reviews25 followers
May 26, 2025
Does this book really “unsettle the traditional compartmentalisations of literature according to national, continental, and linguistic lines” as claimed by Tiffany Tsao in her Introduction to the book or is it that suburban American culture has become so prevalent globally and/or sanitized domestically that even “outsiders” can write about it to a level of fidelity indistinguishable from that of it’s natives?

Regardless, I do think that this is a good step into exposing insular Western readers to authors outside of their culture.


The above were my notes as I was reading the numerous introductions before diving into the short stories. Below is my review.

The book I read previous to this, The Shadow of the Wind, really highlighted to me the loss of community in the modern age; and there isn’t a single place more symptomatic of this loss than a US midwestern suburb. A wholly artificial creation of capitalism, a sterile imitation of a village without the roots and the warmth.

Budi Darma stated “Fundamentally, the narrator figure in People from Bloomington is a portrait of torment" and after reading the stories I have to add to this. They are not just a portrait of torment but most of them are also despicable, sad, lonely, and pathetic in the casual way that is very human.

I really feel his influences through this book and his absurdist roots constantly peak through, there is a sadness and despair that can usually be found in Russian literature. Though much later to the scene than Darma, his writing reminds me of the way I felt reading Junji Ito without the supernatural and alien elements.

I think that I did myself a disservice, reading this in English. The reading experience would have been wholly more novel and interesting had I read it in it's original Indonesian. In such case there would be no hiding the foreignness of the author which I feel adds a layer of charm to the writing that is lost in English.

Displaying 1 - 30 of 485 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.