Jump to ratings and reviews
Rate this book

Najczarniejszy miesiąc w życiu Magi Dieli

Rate this book
Poruszająca opowieść o walce o wolność i godność w obliczu opresyjnych tradycji.

Magi Diela, młoda kobieta mieszkająca na indonezyjskiej wyspie Sumba, marzy o rozwoju swojej społeczności. Jej plany zostają brutalnie przerwane, gdy staje się ofiarą tradycji przymusowego małżeństwa poprzez porwanie. Magi zostaje uprowadzona i zmuszona do małżeństwa z dużo starszym mężczyzną, co prowadzi do jej izolacji społecznej i psychicznej traumy. W obliczu braku wsparcia ze strony rodziny i społeczności, musi podjąć dramatyczną decyzję: podporządkować się, uciec lub walczyć o swoje prawa.

Kreśląc powieść opartą o prawdziwe wydarzenia, Dian Purnomo oddaje głos tym, których cierpienie często pozostaje niezauważone.

"Najczarniejszy miesiąc w życiu Magi Dieli" to nie tylko dzieło literackie, ale także ważny głos w dyskusji o prawach kobiet i potrzebie zmian społecznych. To lektura, która porusza serca i skłania do refleksji nad miejscem tradycji w nowoczesnym świecie oraz siłą jednostki w walce o sprawiedliwość.

275 pages, Paperback

First published November 1, 2020

306 people are currently reading
5063 people want to read

About the author

Dian Purnomo

11 books173 followers
Dian Purnomo lahir di Salatiga tanggal 19 Juli 1976. Dia menyukai membaca dan menulis sejak bisa membaca, mengasah kemampuan menulis dengan berbalas surat dengan kawan-kawan SD dan SMP-nya.
Mantan pekerja radio yang dibesarkan oleh grup Prambors dan FeMale radio ini, telah menulis 12 novel dan antologi cerita pendek.
Belajar tentang kriminologi khususnya perlindungan anak dan perempuan, juga keadilan lingkungan, membuatnya banyak merenung kembali tentang karya.

Kerja-kerja penelitian di isu-isu sosial, dari mulai perempuan dan anak yang dipenjarakan di Puska PA dan Kriminologi UI, kekerasan berbasis gender di Yayasan Gemilang Sehat Indonesia, perlindungan anak dan krisis iklim di Save the Children, migrasi aman, kesehatan seksual reproduksi di OnTrack Media Indonesia membuatnya banyak belajar dan mengubah tema-tema karyanya.

Setelah vakum menulis selama enam tahun, dia akhirnya menemukan warna baru tema-tema karyanya. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam menandai metamorfosanya. Novel yang ditulis setelah mendapatkan grant Residensi Penulis Indonesia 2019 selama enam minggu tinggal di Sumba tentang kawin tangkap ini, menandai perjuangannya dalam bentuk novel.

Novel ini akan diterbitkan dalam bahasa Polandia pada musim gugur 2025.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2,482 (65%)
4 stars
1,120 (29%)
3 stars
134 (3%)
2 stars
11 (<1%)
1 star
30 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 1,013 reviews
Profile Image for Dian Purnomo.
Author 11 books173 followers
March 25, 2024
Sebentar sebentar..
Ada yang lucu dari rating ini. Semalam di tengah mata udah segaris, saya cek Goodreads dan tanpa sadar kepencet bintang satu. Pagi ini baru panik, no way.. masa' saya kasih bintang satu buat novel yang saya tulis dengan air mata berderai ini? No Way! Padahal sebetulnya sudah janji sama diri sendiri untuk tidak memberi rating pada karya saya, karena pasti sulit untuk obyektif.
Tapi saya juga nggak rela kepencet rating bintang satu. Maka di sinilah saya, membintangi diri saya lima. Hahaha..

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca Magi Diela (demikian judul originalnya) perjuangan Magi belum selesai. As we speak, saat ini mungkin masih ada Magi lain yang hidup di dunia yang tidak aman, bukan hanya di Sumba, tapi juga di Afganistan, Meksiko, Kyrgystan, Jakarta, Kalimantan, bahkan di samping tembok rumah kita. Jadi mari kita buka telinga dan buka mata lebar-lebar. Jika tidak sekarang kita berusaha melakukan sesuatu, maka dunia yang busuklah yang akan kita wariskan pada anak cucu kita.

Sekali lagi, terima kasih sekali. Salam dari Tana Humba.
Profile Image for lexi.
155 reviews36 followers
January 24, 2021
Pukul 10 malam, setelah nyicil skripsian & ngepel rumah, gak sengaja ngeliat buku ini di meja dan mikir: “Baca dikit kali ya, 5 chapter awal terus tidur.” Akhirnya, tanpa update Goodreads ataupun bikin cr thread di twitter, mulai lah kubaca buku ini.

Nope. Aku malah ngabisin 1 buku ini dalam 3 jam dan ended up baru bisa tidur jam setengah 2 pagi. Surprised? No.. not really.

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam menceritakan tentang nasib Magi, seorang wanita di Sumba yang menjadi korban kawin tangkap. Semua mimpi, cita-cita, dan passion Magi terancam musnah cuma gara-gara seorang mata keranjang.

(jujur susah bgt nahan diri buat ga ngasih sebutan macem2 ke tu org hhHhH)

Sebagai seorang perempuan yang lahir dan hidup di kota besar di P. Jawa, membaca kisah Magi berasa “ditampar”. Jadi sadar seberapa sedikitnya pengetahuanku tentang kehidupan di luar P. Jawa, dan juga bikin sadar seberapa besar privilege yang kupunya karena lahir di P. Jawa. Dengar istilah kawin tangkap aja belum pernah sama sekali. Kebayangkan culture shock nya pas tau bahwa ini adalah budaya yang masih dilakukan sampai sekarang di Sumba? Ga kebayang gimana kalo aku hidup di lingkungan dimana hidup perempuan ditekan sebegitu besarnya...

Buku ini pace nya sangat cepat (yaiyalah, mana bisa langsung nyelesain kalo ngga), nilai budayanya sangat kental dengan bahasa yang bercampur-campur. Foto-foto suasana di Sumba yang diselipkan juga menarik, namun sepertinya akan lebih baik kalau mereka diletakkan secara kolektif di awal / akhir buku, karena gak jarang foto yang diselipkan itu out-of-context dari bab yang baru saja dibaca. They took me out of the story sometimes. But maybe it’s just me.

Selesai baca buku ini ada kali 5 menit bengong ngeliatin plafon. Sedih. Sedih banget. Fakta bahwa masih sangat banyak Magi-Magi di luar sana yang mengalami hal yang sama karena sebuah budaya... it’s unthinkable. Benar kata buku ini, memang ada budaya yang patut dilestarikan, ada juga yang harusnya diberhentikan saja karena merugikan banyak orang.

This book will haunt me for days to come.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,971 followers
September 6, 2021
Kenapa kalau seorang perempuan menuntut haknya untuk merdeka, selalu ada saja yang harus dipertaruhkan?

Berkenalan dengan Magi Diela dari Sumba membuatku sakit kepala. Bukan karena dia menyebalkan. Melainkan karena dia berani melawan. Mulai dari mencurangi kematian hingga bermain cantik dalam menuruti adat & perkawinan.

Magi adalah korban kawin tangkap. Di Sumba, adat seperti itu dianggap wajar dilakukan apabila pihak laki-laki & perempuan tidak menemukan kesepakatan. Dengan kata lain, merenggut hak bersuara perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Alih-alih meminta pertimbangan yang akan disunting, pelamarnya malah main hakim sendiri. Bayangkan saja, Magi dipaksa menikah dengan Leba Ali, si Mata Keranjang. Meski Magi meronta & memohon pada sang Ayah, perkawinan harus dilakukan. Katanya, menolak "lamaran" adalah pelanggaran. Mencoreng adat. Menghina leluhur.

Yang dihadapi Magi membuatku berpikir, apakah memang adat kerap melemahkan perempuan? Bak bola ping-pong, ketika sudah dianggap dewasa, perempuan menjadi milik lelaki lain yg melamar & menikahinya. Suaranya tidak terdengar karena sudah keburu direnggut. Harus mengikuti aturan sana-sini seperti robot.

Selain itu, pikiran bahwa Magi disekolahkan hingga menjadi sarjana di tanah Jawa hanya untuk membuat maharnya menjadi lebih mahal tentu membuat murka. Kalau mencoba memberitahu mana adat yg baiknya dijaga & mana yg tidak, langsung dicap sebagai kacang lupa kulitnya. Dimaki sebagai anak tidak tahu diri.

Apa yang dihadapi Magi menyadarkanku akan banyak hal. Salah satunya permainan kata "kodrat" yang selama ini dipolitisasi kalangan patriarki. Sekalinya perempuan berotonomi penuh terhadap dirinya, langsung dihujani ucapan yang merendahkan bertopeng "aturan adat" atau bahkan "agama."

Membaca Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam perlu mental tersendiri atau akan marah-marah pada kenyataan bahwa praktik kawin tangkap masih saja berlangsung hingga kini.

TW: rape // sexual abuse // violance
Profile Image for yun with books.
723 reviews244 followers
June 27, 2021
"Dua kali sa lolos dari maut. Tapi leluhur terus kasih sa pung air mata jatuh. Sampai kapan sa dan perempuan lain di sa pung tanah ini akan terus menangis?"


[TW: rape, self-harm, kidnapping]

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam menjadi buku yang menurut saya sangat mudah untuk diberikan bintang 5. Bercerita tentang perjuangan Magi Dela Talo untuk memperjuangkan hak kemerdekaan atas dirinya dan untuk melawan budaya praktek kawin tangkap atau yappa mawine yang terjadi di Sumba. Buku ini berisi tentang kisah-kisah perjuangan Magi Diela Talo, yang mana di dalamnya tidak semua ceritanya indah. Justru banyak sekali kepedihan, kesedihan dan penyesalan.


LET ME SHOW YOU! PEMBERIAN BINTANG 5 TERMUDAH TAHUN INI, JATUH KEPADA CERITA MAGI DIELA TALO

Ketika membaca buku ini, saya hanya punya 3 moods , yaitu:
1. Rage
2. Pain
3. Sadness

Not really pleasant feelings, tapi buku ini sepadan. Sepadan dengan ceritanya yang inspiratif dan sangat amat membuka mata saya bahwa masih banyak keadaan perempuan di luar Jawa yang tertindas, dan lebih parah lagi adalah bahwa adat dan budaya mewariskan hal tersebut secara turun temurun. Buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam dibuka dengan adegan yang menurut saya cukup menohok, yaitu berdarah-darah di rumah sakit. Jujur saat membaca halaman pertama, saya agak takut, takut dengan ceritanya yang tidak membawa kebahagiaan dan "kenikmatan" untuk saya tamatkan. TAPI, buku ini ternyata... WOW!

Jika dilihat dari segi penulisan, Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam tidak pernah gagal untuk membuat saya terus ingin membalik-balik ke halaman berikutnya. Gampang banget dibaca, apalagi dengan diselipkan bahasa Sumba, tidak membuat saya "keder" bacanya, karena emang semudah itu dimengerti.
Lalu, dari sisi karakter yang muncul di buku ini, begitu detil, begitu powerful pesan yang dibawa oleh setiap karakter-karakternya, misalnya Dangu Toda, Ina Bobo, Ama Bobo, bahkan perempuan-perempuan dari Gema Perempuan.
Vibes yang dibawakan oleh buku ini juga "manjur" banget bikin pembaca jadi terbawa. Contohnya, ketika Magi dan Dangu berdua di mata air, saya merasakan dua manusia yang terperangkap, sama sekali ga bisa keluar dari keadaan, suasana frustasi dan sedihnya dapet banget.


100 halaman pertama, Anda akan disuguhkan dengan adegan-adegan yang bisa bikin kalian kepengen misuh, marah, kesel, banting buku, dan lain-lain, dan sebagainya.
Namun, memasuki halaman ke >150, ritme cerita agak "kalem" sedikit, perjuangan Magi Diela dalam memperjuangkan kemerdekaannya karena telah direnggut secara paksa oleh Leba Ali, sangat amat sepadan untuk dibaca. Saya pribadi jadi ikutan dapet vibes semangat Magi untuk terus berjuang. Ada keinginan bertemu dengan tokoh di balik "Magi Diela Talo" ini, karena saya yakin begitu banyak Magi-Magi lain di Sumba sana.
Begitu banyak ajaran adat dan budaya yang masih menempatkan perempuan di level terendah, hingga hampir sama dengan binatang. And I was like.... so fucking lost it!

TAPI, satu hal yang membuat saya dikecewakan oleh "ekspektasi", saya pikir Magi Diela akan membunuh Leba Ali. Karena suasana yang dibangun oleh karakter Magi ini "kuat dan gila" banget. Eh, taunya agak anti klimaks, but it's not a big deal karena yaaa.... realitanya memang lebih masuk akal jika jalan cerita seperti ini.


"Kita ini sama-sama manusia, bukan kerbau, bukan kuda, bukan babi, Baru kenapa sesama manusia kasih pukul kita seperti hewan?


Magi Diela Talo, I don't know what to say karakter yang gak akan gampang saya lupakan, pemikirannya, keberaniannya, selalu jadi inspirasi. *geleng-geleng kepala* I LOVE YOU, MAGI! I WORSHIP YOU!

DAH LAH, KALIAN HARUS BACA BUKU INI. GA USAH PAKE PIKIR PANJANG!
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews242 followers
April 9, 2021
Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Baca ini ngilu, sedih, nyesek, pengen marahin Ama Bobo gregetan bangettttt rasanya 😔. Baru kali ini baca ketemu tokoh yang seperti Magi Diela 🤩👏🏼👏🏼. Wajib baca menurutku 👌🏼 apalagi.... 👋🏼
Profile Image for Syifa Zakiah.
44 reviews12 followers
July 6, 2021
Saya gak tau saya harus bilang apa ;(

Saya gak berani membayangkan betapa hancurnya Magi, dan gimana sakitnya perasaan Dangu Toda.

Saya gak paham lagi. Novel ini menghancurkan sekaligus menguatkan saya. Novel ini, adalah suara-suara dari perempuan yang tubuhnya menjadi aset para laki-laki.

Dan ya, pertanyaan yang terus berputar di kepala saya adalah, "apakah pantas, kita mempertahankan adat istiadat yang bahkan tidak menjunjung tinggi kemanusiaan? Yang bahkan mengesampingkan hak asasi manusia? Apakah pantas?"
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews125 followers
January 7, 2021
• Judul : Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
• Penulis : Dian Purnomo
• Penyunting : Ruth Priscilia Angelina
• Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
• Terbit : 9 November 2020
• Harga : Rp 93.000
• Tebal : 300 halaman
• Ukuran : 14 × 21 cm
• Cover : Softcover
• ISBN : 9786020648453

"𝑺𝒆𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒅𝒆𝒌𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂, 𝒋𝒖𝒔𝒕𝒓𝒖 𝒔𝒆𝒓𝒊𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒋𝒂𝒖𝒉 𝒉𝒂𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂." (hal. 130)

Awalnya hidup Magi Diela berjalan dengan lancar dan bahagia. Pekerjaannya sebagai tenaga honorer di Dinas Pertanian Sumba mengharuskannya bekerja di lapangan. Saat itu Magi ditugaskan untuk memberikan penyuluhan di sebuah desa kecil. Namun, saat memacu sepeda motornya di perjalanan menuju desa tersebut, Magi dihadang oleh sekelompok pria. Pada awalnya ada satu pria yang mengendarai sepeda motor memberitahu Magi jika ransel yang dia bawa ritsleting ranselnya terbuka. Sontak karena tidak mau barang-barang yang dia bawa berceceran di jalanan Magi pun memberhentikan motornya. Nyatanya ritsleting ransel Magi masih tertutup rapat. Tak lama setelah menyadari kejanggalan tersebut secara tiba-tiba muncul sebuah mobil pikap muncul di sampingnya. Dalam sekejap mata Magi diseret dan diangkut oleh segerombolan pria ke atas mobil pikap tersebut. Magi menjadi korban dari tradisi yang mulai melenceng dan melecehkan perempuan, yaitu tradisi kawin tangkap. Tradisi yang hingga kini masih kerap terjadi di Sumba.

Benar saja kini hidup Magi seperti berputar 360 derajat. Dalam sekejap kehidupan Magi yang bebas dan bahagia berubah menjadi terpenjara layaknya tawanan. Tidak ternyana bahwa pelaku yang menculik Magi adalah sosok Leba Ali. Pria paruh baya yang memang sedari Magi SD sudah mengincar dirinya. Magi ingat betul jika Leba Ali kerap mencari-cari kesempatan untuk menyentuh tubuhnya saat masih kecil. Apalagi Leba Ali pun terkenal dengan sifatnya yang mata keranjang. Kini keinginan Leba Ali untuk memuaskan nafsu birahinya terhadap Magi terlaksana sudah. Dengan dalih tradisi Leba Ali berhasil memerangkap Magi dalam genggamannya. Magi sendiri rasanya ingin mati saja karena apa bedanya dia hidup jika harus menjadi istri Leba Ali. Fakta lain yang tidak kalah mengejutkan adalah bahwa keterlibatan Ama Bobo (ayah Magi) dalam kejadian ini menambah luka dan derita pada diri Magi. Padahal sebelumnya Magi yakin jika ayahnya sangat menyayanginya. Buktinya Ama Bobo rela membayar biaya kuliah Magi di Yogyakarta. Apa gunanya kini ilmu dan pendidikan Magi jika pada akhirnya ia hanya berakhir menjadi istri Leba Ali. Bisakah Magi memperjuangkan haknya? Bagaimana cara Magi dalam menghadapi Leba Ali dan Ama Bobo?

"𝑨𝒅𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒅𝒊𝒑𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒓𝒂, 𝒂𝒅𝒂 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒍𝒂𝒏𝒋𝒖𝒕𝒌𝒂𝒏." (hal. 161)

Membaca karya sastra yang sarat akan budaya Indonesia selalu menjadi hal yang menarik. Bagaimana tidak, Indonesia sendiri memiliki budaya yang teramat sangat banyak. Maka tidak heran jika cerita berlatar budaya Indonesia tidak akan pernah habis. Salah satunya adalah Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. Novel karya Dian Purnomo ini mengangkat isu tentang adat istiadat kawin tangkap yang terjadi di Sumba. Adat istiadat yang sudah turun temurun ini kini bisa dibilang telah melenceng dan mungkin sudah tidak etis lagi untuk dilaksanakan di zaman sekarang. Bagaimana banyak perempuan yang alih-alih bahagia, tapi malah menderita akibat menjadi korban pelecehan seksual. Selain tema ceritanya yang menarik, Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam juga mempunyai cover buku yang artistik. Mungkin dalam sekilas pandang cover bukunya hanya terlihat seperti beberapa coretan warna yang membentuk selendang. Namun, jika diperhatikan secara saksama terdapat ilustrasi seorang perempuan yang sedang menangis. Ilustrasi tersebut seakan-akan dililit oleh tumpukan warna-warna yang ada. Cover bukunya sangat merepresentasikan penderitaan kaum perempuan yang menjadi korban dari kawin tangkap dengan cara yang artistik serta menyentuh.

Tradisi kawin tangkap yang terjadi di Sumba menjadi latar cerita dalam novel ini. Bagaimana warisan budaya tidak semuanya dapat terus dipertahankan seiring perkembangan zaman. Magi Diela adalah seorang perempuan yang terlahir dalam lingkungan yang teramat sangat menghormati warisan leluhur. Namun, Magi sendiri adalah perempuan berpendidikan yang mengenyam bangku kuliah di Pulau Jawa. Magi sendiri memiliki mimpi dan cita-cita dibalik pendidikan yang dia tuntaskan. Namun, akibat adat istiadat kawin tangkap yang mendera dirinya, Magi melihat jika masa depannya menjadi gelap seketika. Pelecehan, kekerasan fisik dan mental, serta penghinaan secara verbal tak luput Magi rasakan saat prosesi kawin tangkap berlangsung. Akan tetapi Magi tidak ingin berdiam diri, dia ingin melawan ketidakadilan yang dirasakan perempuan dalam tradisi ini. Ceritanya sebetulnya tidak berbelit-belit dan rumit. Justru terlihat sederhana, tapi terasa kuat dan penuh akan makna. Penulis dapat menyampaikan keresahannya akan tradisi kawin tangkap yang banyak merugikan kaum perempuan. Budaya patriarki sangat erlihat jelas di sini. Bagaimana perempuan kerap kali hanya dianggap "objek" alih-alih "MANUSIA".

Magi Diela menjadi pemeran utama dalam Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. Magi Diela adalah sosok perempuan yang pintar, tangguh, keras kepala, dan pemberani. Magi sendiri walaupun terlahir dalam keluarga yang sangat tradisional, tapi pemikirannya dapat lebih mudah menerima perubahan. Magi bukan sosok perempuan desa yang polos dan menerima begitu saja nasibnya. Magi rela melakukan apapun demi harkat dan martabatnya sebagai perempuan. Selain Magi ada dua tokoh sahabat Magi yang selalu membantu dan mendukung Magi, yaitu Dangu Toda dan Tara. Dangu adalah sosok pria yang selalu melindungi dan membantu Magi termasuk saat Magi menjadi korban kawin tangkap. Dangu memiliki karakter yang keras, setia kawan, dan berani. Sementara Tara adalah sahabat Magi yang kini telah menjadi kakak iparnya. Tara sendiri lebih condong mendukung Magi secara verbal ketimbang aksi. Sementara itu ada dua tokoh antagonis yang cukup bikin emosi, yaitu Leba Ali dan Ama Bobo. Leba Ali digambarkan sebagai laki-laki hidung belang yang hobinya mencari perempuan untuk memuaskan nafsu birahinya. Pokoknya Leba Ali ini sosok yang brengsek. Selanjutnya ada Ama Bobo yang mungkin adalah sosok orangtua bagi Magi, tapi keras kepala dan egonya sangat tinggi. Sosok seperti Ama Bobo ini memang sering kita temukan. Bagaiamana status sebagai orangtua kerap kali tindakan mereka selalu dianggap benar. Nyatanya yang tahu yang terbaik bagi anak bukan orangtua, tapi adalah anak itu sendiri.

Alur ceritanya berjalan dengan cukup cepat, tapi makna dari setiap bagian ceritanya tersampaikan dengan baik. Bagaimana perasaan dan emosi Magi, langkah-langkah yang ia pilih, hingga aktivitas Magi sehari-hari. Penulis dengan cermat dapat menuliskan itu semua dengan sederhana. Sudut pandang orang ketiga dipilih agar pembaca dapat menilai sendiri bagaimana masing-masing tokohnya berkontribusi dalam jalan ceritanya. Namun, uniknya ada sedikit sudut pandang orang pertama yang akan menambah dinamika cerita. Satu hal yang teramat sangat saya suka dan nikmati dari Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam adalah penggunaan logat khas orang timur dalam setiap dialog antar tokohnya. Bagaimana pemakaian logat ini menambah kekuatan dan keindahan dalam setiap jalinan ceritanya. Penulis juga tidak lupa menambahkan catatan kaki pada beberapa kata, istilah, dan kebudayaan Sumba yang masih terasa asing. Mungkin di awal-awal akan terasa sulit untuk beradaptasi dengan dialognya, tapi percayalah kalian akan sangat menikmatinya seiring berjalannya cerita. Latar tempat berjalannya cerita juga terbilang kuat dan hidup. Nuansa kampung Karang tempat Magi tinggal digambarkan dengan detail mulai dari rumah adat, jalanan, hingga kebiasaan masyarakatnya. Pokoknya nuansa Indonesia Timurnya terasa sangat kuat.

Permasalahan yang tercipta berawal dari Magi yang menjadi korban budaya kawin tangkap. Hidup Magi yang awalnya berjalan normal jadi berubah penuh siksa dan derita. Di sini Magi diperlakukan bak seperti binatang. Bagaimana ia ditangkap lalu dijinakkan hanya untuk nafsu birahi seorang Leba Ali. Dinamika permasalahan Magi tidak cukup sampai di situ. Selain konfliknya dengan Leba Ali, Magi pun harus menghadapi konflik dengan Ama Bobo. Status Ama Bobo sebagai orangtua Magi membuat dirinya bersikap seenaknya akan masa depan Magi. Tekanan adat dan budaya menggelapkan mata Ama Bobo hanya karena takut dicap buruk oleh masyarakat sekitar. Status dan pandangan orang lain dianggap lebih penting ketimbang nasib anak perempuannya. Konflik yang terjadi sudah dihadirkan di awal cerita. Penulis tidak ingin bertele-tele dalam menyampaikan inti dari permasalahan Magi. Konfliknya tercipta dengan dinamika yang naik turun. Magi seakan menghadapi takdir yang ia sendiri tidak tahu kenapa harus menimpa dirinya. Apakah benar ini hukuman yang Magi terima karena mengecewakan leluhurnya karena menolak budaya yang sudah tidak lagi relevan. Permasalahan antara Magi dengan Leba Ali dan Ama Bobo menjadi konflik yang dapat memicu emosi pembaca, khususnya rasa pedih dan amarah.

Pada dasarnya tidak semua warisan budaya yang ada di Indonesia bisa terus dipertahankan. Salah satunya seperti kawin tangkap yang malah banyak merugikan kaum perempuan. Bagaimana kaum perempuan dieksploitasi dengan dalih adat istiadat. Perjuangan Magi Diela untuk mendapatkan haknya tersampaikan dengan baik. Saya suka dengan cara penulis menggambarkan sosok Magi yang kuat dan cerdas. Di mana Magi tidak hanya mengandalkan emosi, tapi juga logika. Selain itu nuansa etnik yang mengeksplorasi kebudayaan Sumba dituangkan dengan apik. Dialek khas orang timur, kuliner, rumah adat, dan tradisi yang ada terlihat hidup dan terasa. Ditambah lagi dengan kehadiran beberapa foto yang turut serta menguatkan unsur budaya Sumba di dalamnya. Namun, sayangnya foto-foto berwarna hitam putih yang ada gambarnya sedikit buram sehingga mengaburkan beberapa detail yang ada. Tapi, ini bisa dimaklumi karena memang biaya cetak buku sendiri tidaklah murah. Secara keseluruhan Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam merupakan potret nyata tentang masih adanya budaya patriarki yang kerap kali merugikan kaum perempuan. Sebuah kisah yang menyampaikan pesan jika hingga saat ini masih banyak kaum perempuan yang haknya dirampas dari mereka.
Profile Image for Akaigita.
Author 7 books240 followers
April 13, 2021
Rate: 6/5🌟

Cek Goodreads waktu sahur dan ternyata ulasan rombeng ini dilike Bu Authornya. Malu dong. Mari kita bikin ulasan yang benar.

Ini mungkin cerita paling pedih dan menggugah yang saya baca tahun ini. Pedih, karena sebagai orang yang menikah dengan orang baik-baik dan cara baik-baik, saya masih merasa pernikahan itu tidak mudah. Sekarang saya jadi membayangkan seperti apa rasanya dipaksa menikah dengan orang berperangai buruk, dengan cara yang benar-benar di luar batas kelaziman. Buku ini masih senapas dengan buku yang saya selesaikan sebelumnya, yaitu tentang isu menikah dengan si pemerkosa, juga tentang suicide. Bacaan berat yang kalau nggak kuat bener-bener bisa bikin tumbang.

Tapi saya penasaran bagaimana akhir perjuangan Magi Diela, jadi dalam sehari pun dilibas. Page-turner juga sih bukunya. Setelah kehormatannya direnggut dengan cara kehewanan, dipaksa menikah dengan orang yang memerkosanya, keluarganya dipermalukan, bahkan keputusannya untuk lari dari pernikahan itu malah ditentang oleh ayahnya sendiri, lalu apa?

Saya nggak habis pikir dengan toxic positivity yang ditebarkan tokoh-tokoh di buku ini. "Menyerah sa su," kata mereka setelah Magi diperkosa. Menyerah pegimane mpok? Gile aje lu pade. Malah sang rato bisa-bisanya ngasih penghiburan seolah yang akan dijalani Magi itu adalah pernikahan pada umumnya, yang romantis, sakinah mawaddah warohmah. Nggak, Om. Ini Magi punya kasus berbeda. Hih gerem sa.

Meskipun saya belum pernah di posisi Magi (amit-amitlah), saya bisa merasakan kemarahannya berkat narasi yang memang mengompori. Celetukan Magi dalam hati benar-benar pedas, dan rasanya pengen teriak saat itu juga untuk dukung dia. Aslilah, kalau ada orang yang nggak marah setelah baca buku ini, berarti sarafnya nggak bener. Atau jangan-jangan malah pendukungnya Leba Ali.

Saya suka buku ini dilengkapi potret-potret Sumba, jadi makin kebayang kehidupan di sana seperti apa. Baru mengerti ternyata saudara-saudara di sana harus mencantumkan salah satu dari 5 agama yang diakui pemerintah di KTP mereka, padahal mereka masih menggenggam teguh kepercayaan dari leluhur, termasuk adat-istiadat yang lebih banyak nyusahin daripada membantu kehidupan mereka. Orang-orang ini lebih milih putus sekolah daripada ngelanggar adat. Lebih milih ngorbanin hak-hak anaknya daripada melawan leluhur. Magi disekolahin jauh-jauh ke Yogyakarta buat apa? Buat naikin harga belis waktu nikah nanti. Biar bapaknya bangga.

Saya rasa adat-istiadat yang lebih banyak mudaratnya daripada bagusnya itu dipertahankan karena... em... menguntungkan bagi kaum laki-laki. Lihat aja setiap peraturan adatnya, selalu kaum laki-laki yang ditinggikan, perempuan dijadikan keset. Bahkan si Leba Ali menyalahkan statusnya sebagai laki-laki karena ngebet pengen ngawinin si Magi. Gila emang. Tapi Magi lebih gila. Saya rasa salah satu buku yang dibaca Magi sebelum pulang ke kampungnya adalah Gone Girl hahaha. Atau yang sejenis itu. Soalnya caranya mirip.

Nggak nyangka kita sebagai perempuan memang harus main pasif-agresif segila itu baru orang melihat bahwa kita nggak baik-baik saja. Sedih. Sedih banget baca cerita ini. Rasanya pengen nangis di kamar mandi juga kayak Dangu Toda.
Profile Image for Patrycja.
663 reviews77 followers
January 25, 2026
Sama historia była bardzo smutna i bolesna.

Niestety ja nie jestem fanem tak prowadzonej, poszatkowanej fabuły, w której na kilkuset stronach mamy przestawione wydarzenia z wielu lat. Przez to zupełnie nie zależy mi na bohaterach, a ich ból nie wybrzmiewa tak mocno, jakby mógł. Historia przerażająca, ale jak dla mnie za bardzo o zjawisku i wydarzeniach, a za malo o samych uczuciach bohaterów.

Najmocniejszym punktem była sama kultura indonezyjska, o której wiedziałam wcześniej bardzo malo. Można się było prawdziwie zanurzyć w życie mieszkańców wyspy Sumba.
Profile Image for Nathania.
118 reviews20 followers
March 16, 2021
Mengerikan tetapi bagus banget. Berkisahkan seorang wanita bernama Magi Diela yang secara tidak langsung dijual oleh Ayahnya sendiri ke Pemerkosa bejad.

Sungguh budaya kawin tangkap ini tidak masuk di akal sehat, demi mempersingkat urusan adat sistem ini dijalankan. Bahkan perjanjian telah dilakukan oleh pihak lelaki kepada keluarga pihak perempuan dengan memberi hewan2 dan ditukar dengan harga diri seorang perempuan😡

Mengerikan seakan wanita adalah barang penukaran bahkan budak seks bagi pelaku pelecehan seksual.

Baca ini jujur dipenuhi rasa amarah dikarenakan isinya benar2 menceritakan apa yg dialami Magi, bagaimana sang pemerkosa menangkap & mengincarnya, bagaimana perseteruan panjang Magi & Ayahnya bahkan pelariannya ke Kupang. Sungguh Magi benar2 tokoh perempuan heroik yg langsung saya idolakan. Perjuangannya mengingatkan saya untuk tidak memberi ruang bagi pelaku pelecehan utk berbuat sekalipun harus ditukar dengan nyawa. Plot twistnya gak disangka sih.
Profile Image for nadinosaurus.
274 reviews6 followers
August 18, 2021
Memilukan.

Sempat gegar bahasa ketika mulai membaca, harus balik lagi ke halaman-halaman awal karena lupa artinya apa. Lama-lama paham dan terbiasa, waahh padahal menurut saya struktur bahasanya agak rumit.
Well, hebat sekali buku ini, penulisnya luar biasa!!! Saya tidak hanya diajak menyelami sebuah kisah, tapi juga adat dan budaya.

Buku ini berkisah tentang Magi Diela yang harus menghadapi Yappa Mawine atau kawin tangkap. Pilu sekali, kisahnya menyedihkan dan gila tapi Magi Diela lebih kuaatt dan gila!!! Banyak-banyak atur nafas selama baca buku ini. Apalagi cerita dimulai dengan adegan berdarah-darah, sesekali saya harus berhenti membaca komik agar jantung saya tetap sehat *lho.

Saya saluuut bagaimana penulis menghidupkan nyala semangat pada karakter Magi Diela dan perjuangannya menyembuhkan trauma, menghadapi adat dengan tegar dan pintar tanpa perlu melawannya. Pertemuan Magi dengan perempuan-perempuan senasib bahkan lebih parah, sangaat mengiris hati saya, terlebih pertemuannya dengan para Mama setelah ia pulang ke Sumba dan menyadari bahwa Magi memang ditakdirkan pulang, untuk mensejahterakan dan mengangkat derajat serta hak-hak perempuan yang sering dilindas dan diabaikan adat ;(
Betul, kata buku ini, ada adat yang baik dan harus dipertahankan, tapi ada juga yang harus dihapuskan karena merugikan.

Saya suka cara penulis menempatkan adat-adat Sumba yg akhirnya menambah nilai edukasi dan literasi. Yang unik dan bikin terngiang adalah Mana'a yaitu melihat ramalan dengan usus ayam. Lalu Wulla Podu yang diterjemahkan bebas sebagai Bulan Hitam, yaitu adat di Marapu dimana seelama sebulan orang harus prihatin, tidak boleh mengadakan pesta perkawinan, kubur batu, bangun rumah dan menanam di kebun, jadi selama ini lingkungan sepii banget. Ini jugaa, aturan tidak boleh memanggil nama saat sedang berburu di hutan dan harus menggunakan bahasa khusus. Aaaahh, pokonya buku ini KEREN BANGET!!!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
87 reviews3 followers
October 20, 2021
I think the writing style is not my cup of tea because the author didnt show Magi's character in an interesting way

The naration is more like telling rather than showing. A lot of informations are being told in paragraph rather than showing informatons in movie-like scenes

I guess there is no backstory for each characters... I dont know what kind of person Magi is? What kind of personality she has outside of this story? I know she is frustated because she get raped and stuff, but it is hard for me to give sympathy to her because I don't feel personal connection to her. If the author show us more about her character as a person outside all these scenarios: what was she like when she was a kid, what is her dream, her feelings to the boy she likes, her bad attitude that will develop in the end of the stories. I didn't feel her fear and anxiety when she was caught by Leba Ali that much because to me she is just a "mere" person and not "my friend". If it is a good story, I will be able to feel what she feels, understand her characters, understand what type of personality she has, basically seeing her as an actual human that I know. Feeling like she is my friend, she is me, I am rooting for her.

But I didn't feel this way with Magi. To me she is just a mere person. I don't care what will happen to her. I don't see anything intriguing from her character, because the author didn't write her the way I would usually like.

10/10/2021-19/10/2021
Profile Image for h.
375 reviews148 followers
October 30, 2023
Edited: this is the best rating i could ever give
Profile Image for cealiterary☕️.
37 reviews17 followers
June 27, 2025
⚠️ rape, kidnapping, sexual violence, suicidal thoughts, suicide attempt, self harm, domestic abuse, misogyny. Untuk teman-teman yang ingin membaca buku ini, please make sure you're in the right headspace. Buku ini sangat triggering, so take care of yourself first!

I lost for words to describe how powerful this book. Rate: 5/5🥹😥❤️‍🔥

At the first place we should give a compliment to Magi Diela the bravest woman yang sangat menjunjung tinggi hak dan kebebasan para perempuan. Magi Diela, you are the woman that you are!! You really did inspire me. Hidup perempuan yang melawan‼️🌻

Buku ini memberikan tamparan untuk kultur patriarki yang sudah mendarah daging dan menjadikan budaya sebagai tameng untuk merendahkan perempuan. It's giving me a new sight, sebab perjuangan kita untuk membela hak-hak perempuan dan menghilangkan stigma tentang korban kekerasan seksual ternyata masih sangat panjang.

"ada budaya baik yang tetep dijaga, tapi ada budaya lain yang sebaiknya dihapus karena merugikan pihak tertentu"
Profile Image for Tylkotrocheczytam.
163 reviews28 followers
December 2, 2025
Czy uważacie, że wszystkie tradycje warto pielęgnować? Że jeśli odejdziemy od nich to bezpowrotnie utracimy coś, co stanowiło filar danej kultury?

Przekaz, który wybrzmiewa w tej opartej na prawdziwej historii powieści, jest jednoznaczny – nie wszystkie zwyczaje należy podtrzymywać, niektóre powinny zniknąć. Zwłaszcza, jeśli odbierają godność jednej z płci.

Jak się zapewne domyślacie, to kobiety są ofiarami systemu. Po ślubie pewne części domów są dla nich zakazane, a jako 𝘥𝘰𝘣𝘳𝘦 żony oczywiście muszą spełniać oczekiwania otoczenia. Jednakże to, co pewnego dnia spotyka Magi Dielę, jest jeszcze bardziej przerażające. W drodze do pracy zostaje uprowadzona.

Jej oprawcy nie wstydzą się swojego czynu, wręcz przeciwnie. Gdy ją wypuszczają, dookoła słychać wesołe śpiewy i widać szerokie uśmiechy na twarzach zebranych. W końcu zostaje doprowadzona jako przyszła panna młoda. Spotka ją bowiem 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱, czyli małżeństwo przez porwanie.

Kobieta jest tym wzburzona, lecz wszyscy utrzymują, że 𝘢𝘥𝘢𝘵 został ustalony i tym samym została „sprzedana” starszemu mężczyźnie, który czuł wobec niej żądzę od kiedy była dzieckiem, i czekał, aż będzie mógł ją posiąść. Takim właśnie językiem posługują się mężczyźni w tej książce; zwroty takie jak ujarzmić, zmusić do posłuszeństwa, złamać, są kierowane do żon, matek, córek.

Przy tej lekturze wielokrotnie ściskał mi się żołądek i kręciłam głową z niedowierzaniem. Ogrom przemocy i braku empatii jest tu zatrważający. Zdarzenia opisywane są dla mnie samej największym koszmarem, jaki mogłabym sobie wyobrazić, dlatego z ciężkim sercem czytałam o niesprawiedliwości świata.

Podczas lektury możecie więc być wzburzeni, smutni, zrezygnowani, wkurzeni. Dowiecie się więcej o zwyczajach na Sumbie i w Indonezji, od specyficznych zwrotów do siebie po ustalenia związane z życiem rodzinnym. Tłumaczka dokonała niesamowitej pracy, próbując ułatwić polskiemu czytelnikowi zrozumienie tych zawiłości. Jest to na pewno pozycja warta uwagi, ale musicie być gotowi się z nią zmierzyć.
Profile Image for hans.
1,165 reviews152 followers
February 3, 2023
⚠️ tw: pemerkosaan, pelecehan seksual, penganiayaan diri sendiri, culik, bunuh diri

Cukup merinding baca naskhah yang terhasil daripada kasus sebenar begini. Plotnya berdasarkan tradisi dan budaya kahwin tangkap di Sumba; budaya yang sepatutnya mempersingkatkan urusan adat namun telah berubah mengikut peredaran dan kini ia lebih kepada praktik pemaksaan. Magi telah diculik, dipukul, diperkosa dan dipaksa nikah oleh ayahnya yang telah membuat perjanjian dengan keluarga si lelaki. Aku jadi marah fikirkan bagaimana seorang ayah yang seharusnya paling boleh melarang dan menentang, yang sepatutnya melindungi seorang anak sanggup biarkan Magi menghadap trauma dan menderita.

Penceritaannya sangat intens (banyak baca hal bunuh diri tapi tak pernah terfikir akan ada yang sanggup gigit nadi sendiri) dengan perspektif cerita daripada Magi dan diselang beberapa bab daripada Dangu, sahabat Magi. Laras bahasanya kemas dan senang nak faham walau ada diselit beberapa loghat daerah di dalam dialog tapi diserta info makna yang membantu. Suka dengan binaan karakter Magi-- sosok yang kuat dan berpendidikan namun ditindas dengan sistem patriarki yang menekan nasibnya. Kali kedua dia dipaksa nikah demi adiknya dapat masuk kuliah, Magi nekad balas dendam.

Naskhah yang sangat bagus dalam mengangkat masalah moraliti dan empati serta salahguna budaya dalam masyarakat setempat. Isu psikologinya menggugah emosi dan cukup membuka mata tentang bagaimana kesan memuliakan adat boleh merosakkan emosi dan fizikal korban pemaksaan.

"Dua kali saya lolos dari maut. Tapi leluhur terus kasih saya punya air mata jatuh. Sampai kapan saya dan perempuan lain di saya punya tanah ini akan terus menangis?"
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
February 27, 2022
Kekerasan seksual menjadi bahasan yang begitu sensitif dan subjektif. Tidak semua orang bisa menceritakannya secara gamblang, apalagi para perempuan, dan apalagi para perempuan yang mengalaminya. Menulis ulasan singkat dari kacamata seorang laki-laki di sini pun terasa kurang relevan. Tapi, aku tetap akan menuliskan opiniku.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa buku ini diceritakan oleh seorang penulis dari "luar" yang singgah ke sebuah komunitas adat yang memiliki sistem adat yang mungkin sudah ribuan tahun dianut oleh komunitas tersebut. Nilai plusnya, sang penulis diberi kesempatan untuk tinggal selama beberapa bulan di komunitas adat tersebut sehingga bisa mengetahui lebih banyak hal. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah tradisi yappa mawine atau kawin tangkap.

Pada ulasan lain, kita mungkin sudah mengetahui garis besar yang terjadi pada buku ini: seorang perempuan bernama Magi ditangkap untuk dikawini. Namun, secara berlebihan, Magi juga mengalami pelecehan seksual. Cerita bergulir pada bagaimana Magi menghadapi trauma yang akan terbawa selama hidupnya dan bagaimana dia melawan dengan caranya.

Buku ini sangat kuat dan penting, aku sungguh mengakuinya. Betapa penulis bisa membuat manuver-manuver tidak terduga yang direpresentasikannya dalam tokoh Magi dengan deskripsi yang eksplisit serta bikin meringis dan menyayat hati. Ini jadi modal utama dalam sebuah kisah berbasis teks, sehingga pembaca bisa merasakan apa yang terjadi pada Magi dan berempati (atau bersimpati ya?) kepadanya.

Terlepas modal kepenulisan penulis yang matang dan kesempatannya untuk residensi di komunitas adat dengan tradisi yang perlu digugat, ada satu hal yang mengganjal. Aku masih kurang sreg dengan fakta bahwa kisah Magi dituliskan oleh seorang "liyan" yang bukan dari komunitas adatnya sendiri.

Pada Catatan Penulis, penulis menerangkan, "Novel ini adalah perlawanan saya dengan meminjam energi yang dimiliki Magi...." Di sini yang aku gagal paham: Kenapa seseorang di luar sebuah komunitas adat ingin sekali melawan adat tersebut?

Mengingat, buku ini berlabel novel/fiksi yang membuat keakuratan dalam buku ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dan aku terganggu dengan stigma negatif yang disematkan penulis terhadap komunitas adat, seperti orang kampung adat yang suka cerita tentang rahasia, aib, pamali (halaman 188) serta para tokoh yang digambarkan begitu mengutuk adat (salah satunya halaman 264).

Mungkin kutipan dari buku ini di bawah bisa menjawabnya. Namun, seorang "liyan" menceritakan kisah sensitif dan subjektif dari komunitas adat yang bukan miliknya dengan tendensi melawan tradisi adat tersebut masih terasa sulit untuk masuk ke pemahamanku.

Kisah perempuan lain masih mungkin akan diukir dengan tinta darah, selama pendewaan terhadap adat mengalahkan logika dan kemanusiaan.


Terlepas dari satu hal yang mengganjalku itu, buku ini amat powerful dan patut untuk dibaca dan dikawal.
Profile Image for Paula.
217 reviews6 followers
October 28, 2025
4.5⭐️

oh my, that was painful
Profile Image for Alya Putri.
78 reviews142 followers
February 21, 2021
Akhirnya selesai juga baca buku ini.

Sungguh pedih sekali, namun novel ini berusaha mengcapture tradisi yang bener bener bikin speechless. Perempuan bukanlah obyek, itu tepat sekali, namun sayangnya masih banyak pihak yang masih memiliki pandangan seperti ini 😭
Profile Image for Nika ✨.
82 reviews5 followers
October 8, 2025
Okrutnie frustrująca, smutna, bolesna, a przede wszystkim - prawdziwa.

"Najczarniejszy miesiąc w życiu Magi Dieli" to historia o walce o sprawiedliwość, prawa kobiet i o siebie samą, zwłaszcza, gdy nawet własna rodzina odwraca się plecami do doznanej krzywdy i stawia kulturę oraz tradycje powyżej członka rodziny.

Nie mam słów, żeby opisać jak bardzo byłam wściekła i smutna czytając tą książkę. Nie jestem w stanie uwierzyć, że takie rzeczy dalej mają miejsce - jest to odrażające, tragiczne i przerażające.

Chyba na więcej mnie nie stać, ale mam nadzieję, że kobiety Sumby zaznają spokoju.

[współpraca barterowa z wydawnictwem Yumeka]
Profile Image for ikram.
241 reviews642 followers
November 30, 2021
jam 11 malam, emosiku bercampur aduk setelah selesai membaca salah satu buku karya Mba Dian Purnomo. seluruh emosi negatif aku rasakan; frustasi, sedih, marah. tapi aku sangat bersyukur karena diajak berkenalan dengan Magi Diela. akhirnya aku memutuskan untuk membaca buku ini sebagai salah satu bentuk memperingati 16 Hari Anti Kekeresan Terhadap Perempuan.

kita diajak mengunjungi Sumba di buku Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam. bertemu dengan seorang perempuan bernama Magi Diela yang menjadi korban kawin tangkap dan diperkosa atas nama adat. ia mencoba mengakhiri hidupnya ketimbang harus menikah dengan orang yang sudah memperkosanya. percobaan bunuh diri gagal, namun alih-alih Leba Ali diadili, Magi Diela tetap dituntut untuk menikahi laki-laki itu. kita dibawa ke kampung-kampung kecil di Sumba, menyusuri perjalanan Magi Diela melarikan dari kampungnya, mendengarkan betapa putus asanya Magi Diela dan trauma yang ia punya, serta perlawanan Magi Diela untuk mencapai keadilan. "Kegilaan" Magi Diela ketika melakukan perlawanan, membuat saya menggigit jari dan takut—saya sangat takut dengan apa yang akan terjadi dengan Magi Diela selanjutnya.

buku ini bagaikan tamparan untuk kultur patriarki yang sudah mendarah daging dan menjadikan budaya sebagai tameng untuk merendahkan perempuan. mataku juga dibukakan dengan kehadiran buku ini, sebab perjuangan kita untuk membela hak-hak perempuan dan menghilangkan stigma tentang korban kekerasan seksual ternyata masih sangat panjang. Magi Diela tidak cukup hanya mengatakan "tidak" untuk melawan, tetapi harus menjadi "gila" dulu agar perlawanannya didengar.

meskipun memiliki topik yang cukup berat dan triggering buatku, aku cukup cepat menyelesaikan buku ini. Mba Dian membuatku penasaran dengan apa yang akan terjadi di halaman berikutnya.

peringatan isi konten: percobaan bunuh diri, kekerasan seksual, verbal, dan fisik. untuk teman-teman yang ingin membaca buku ini, please make sure you're in the right headspace. buku ini sangat triggering, so take care of yourself first!
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
February 22, 2021
Buku ini membuat perasaan kesal, marah, sedih, muak, dan jijik berlomba-lomba menyeruak keluar, membuatku sakit kepala sampai terbawa mimpi! Aku menemukan buku ini dari insta story salah satu bookstagram yang mengatakan bahwa ia emosi baca buku ini, akhirnya pas baca pun aku ikutan emosi. Huft..

Buku ini berisi tentang kisah Magi Diela seorang perempuan Sumba yang mempunyai mimpi untuk memajukan pertanian di kampungnya, hasil dari gelar sarjana yang ia dapatkan saat kuliah di Jogja. Selepas lulus, Magi kembali ke kampung halamannya di Sumba dan bekerja sebagai pekerja honorer sambil menunggu lowongan kerja PNS dibuka. Suatu hari, saat Magi berkendara dengan motornya menuju desa sebelah untuk memberikan penyuluhan, ia diculik untuk dikawinkan secara paksa. Iya, kalian gak salah baca. Di Sumba ada tradisi yang disebuh Yappa Mawine atau kawin tangkap. Prosesi tersebut bertujuan untuk mempercepat prosesi adat dan memangkas biaya yang dikeluarkan untuk belis/mahar, prosesi tersebut juga dilakukan jika pihak perempuan menolak belis yang ditawarkan oleh pihak laki-laki. Jadi, kalau dua hal itu tidak menjadi alasan, prosesi kawin tangkap tersebut biasanya tidak dilakukan. Maka, Magi heran sekali karena gak ada angin gak ada hujan tau-tau dia dibawa secara paksa oleh 4-5 pria ke dalam mobil, di dalam mobil pun Magi sudah mendapat pelecehan seksual dari orang-orang yang menangkapnya.

Beberapa halaman pertama buku ini sukses membuat aku syok! Baru kali ini aku mendengar istilah kawin tangkap dan lagi hal tersebut dilegalkan dengan alasan adat. Ironisnya aku jadi sadar bahwa kesenjangan gender di negara ini ternyata jauh lebih besar daripada yang aku kira. Kalau di kota besar seperti Jakarta, diculik untuk dikawinkan secara paksa sudah pasti adalah tindakan kriminal. Lalu, yang terjadi kepada Magi setelah ia diculik, ia pun diperkosa, dalam keadaan tidak sadar, oleh penculiknya yang tidak lain adalah Leba Ali, lelaki mata keranjang yang sudah mengincar Magi sejak Magi masih SD! Aku langsung bergidik membayangkan situasi Magi saat itu, Duh.. aku benar-benar dibuat sakit kepala mengikuti kisah Magi yang sungguh pilu itu.



Dari kisah Magi pun aku merasa nelangsa namun tak berdaya. Ada satu hal yang membuat hatiku terasa tersayat-sayat, saat Om Vincen mengatakan bahwa Magi adalah wanita yang kuat dan pemberani, walau ia sudah mengalami hal yang sangat mengguncang dan membuat frustasi tapi ia masih mau melawan, saat itu Magi berkata, "Ini hanya tampak dari luar, Om. Om tidak tahu bagaimana rasanya diperkosa." Membaca kalimat itu aku hanya bisa menghela napas berat. Kisah Magi ini fiksi tapi nyata, ada berapa banyak perempuan yang mengalami kekerasan seksual seperti itu. Baik mereka yang diam ataupun melawan mereka sama-sama terguncang dan mengalami trauma yang gak bisa dibayangkan oleh siapa pun.

Secara keseluruhan, aku suka dengan buku ini. Actual rating: 4.5 bintang. Ada beberapa bagian yang terkesan diulang-ulang tapi sangat bisa dinikmati. Dialog antar tokoh yang menggunakan bahasa lokal pun membuatku lebih bisa membayangkan situasi mereka di kampung sana. Dan walau banyak bahasa dan istilah-istilah yang digunakan, Mbak Dian Purnomo tetap menyelipkan penjelasan lebih lanjut di catatan kaki agar pembaca tidak bingung. Aku berharap ada penjelasan dibalik keputusan Ama Bobo menyerahkan Magi kepada Leba Ali, tapi ternyata tidak ada. Tapi, yah aku pun tidak yakin bahwa penjelasan apa pun yang terlontar dari Ama Bobo bisa meredakan kemarahanku padanya. Aku harap buku ini bisa dibaca oleh lebih banyak orang, lebih banyak perempuan, karena melalui buku ini aku merasa bahwa perempuan itu harus bisa mandiri, harus bisa membela dirinya sendiri, dan percaya bahwa apa pun bisa dilakukan bukan "walaupun kita perempuan" tapi "karena kita perempuan".

p.s.: review versi lebih panjang bisa kalian baca di sini
Profile Image for Sandra || Tabibito no hon.
678 reviews71 followers
December 30, 2025
wstrząsająca historia poprowadzona we wstrząsający sposób. Otwiera oczy na to, że nie wszystkie tradycje są warte pielęgnowania.

Jednak nie podobał mi się styl napisania. Bardzo prosty, krótkie zdania, narracja nie miała w sobie ducha, biła od niej nijakość. Samo poprowadzenie historii, hm, też nie do końca to wszystko do mnie przemówiło, bo jej celem było przede wszystkim to by wstrząsnąć. Bądź co bądź TA KONKRETNA historia to fikcja i rozumiem, że autorka chciała ukazać te negatywne aspekty, ale nie do końca mi się to wszystko zgrywało, z drugiej strony, może po prostu ciężko mi zrozumieć nielogiczne decyzje, które faktycznie mogą mieć miejsce na tym świecie...

Napisanie napisanie, a historia historią. Ma swoje mankamenty, muszę przyznać, że mnie drażnią. I przez to chcę dać niżej, ale czy za swoją moc nie powinna dostać więcej? jak żyć. Coś między 6, a 7...

Dam więcej, a co się będę wstrzymywać.
Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
October 8, 2022
Membaca buku ini bikin sedih. Aku pun bertanya-tanya, apakah memang dunia bekerja seperti ini? Magi Diela dikhianati, bukan hanya oleh tradisi, tapi juga famili.

*Dengar di Storytel
Profile Image for Kezia Nadira.
60 reviews6 followers
May 22, 2023
"...berhenti membuat kami merasa seperti barang, yang bisa ditukar dengan hewan, yang dihargai hanya karena kami punya rahim."

(Setelah mengetik kutipan di atas, saya termenung begitu lama memandang layar laptop - dengan jemari tangan menggantung di atas keyboard - berpikir bagaimana sebaiknya saya menuangkan perasaan saya setelah menamatkan buku ini)

Ini mungkin akan menjadi review buku terpanjang yang pernah saya tulis. Begitu banyak pandangan dan pendapat yang ingin saya kemukakan.

Saya membaca buku ini cukup singkat. Sebegitu tertariknya saya akan kisah Magi. Sebegitu lihainya penulis dalam menuangkan pengamatannya. Sebegitu trenyuhnya hati saya terhadap apa yang terjadi pada Magi, sehingga saya ingin mengetahui lebih lanjut ceritanya....

Saya menyesal sekali setelah membaca buku ini. Pertama, menyesal karena saya baru membacanya sekarang. Kedua, menyesal karena saya harus menamatkan buku yang sangat page-turning ini - di saat saya ingin mengetahui lebih dalam perjuangan dan kisah Magi Diela. Ketiga, saya menyesal karena kini hati saya begitu berat, seakan-akan empati saya terhadap Magi Diela sangat besar hingga membebani pikiran dan sanubari saya, dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk Magi Diela - atau perempuan lainnya di luar sana yang juga tengah merebut kembali kebebasan dan hak yang terampas.

Tidak bermaksud menghina atau memandang rendah adat istiadat, kepercayaan, tradisi, budaya dan peraturan seluruh suku di Indonesia, saya memiliki beberapa pertanyaan, yang juga diutarakan oleh penulis melalui buku ini:

Mengapa masih ada yang mempertahankan adat, tradisi, dan budaya yang merugikan bagi pihak tertentu? Mengapa adat tersebut masih dipelihara, diyakini, dan diterapkan - padahal sangat merugikan dan tidak manusiawi?

Seperti kata Bu Agustin, "Ada adat yang masih bisa dipelihara, ada juga yang sebaiknya tidak kita lanjutkan....saya punya bapa ajarkan untuk junjung tinggi harga diri, bukan dengan pesta dan hewan tetapi dengan menghormati orang lain."

Bagi saya, itulah Yappa Mawine, Piti Rambang, atau kawin tangkap.

Mengutip dari buku, di dalam kepercayaan adat Sumba memang dikenal adanya kawin culik yang memang sudah terjadi sejak jaman nenek moyang. Kawin tangkap ini dulu menjadi salah satu upaya untuk mempersingkat urusan adat agar tidak memakan biaya dan waktu untuk menyiapkan belis (mahar yang berupa hewan) atau bagi keluarga lelaki apabila gagal mencapai kesepakatan adat.

Dengan hal tersebut yang sangat merugikan pihak perempuan, mengapa masih ada yang menormalisasi adat istiadat seperti ini? Akibatnya, adalah cerita dari Magi Diela - yang dikawin tangkap oleh lelaki brengsek macam Leba Ali, yang kemudian memperkosanya, dan merenggut kehidupannya, kebebasannya, dan hak-haknya.

Kisah di buku ini sangat menyuarakan kesetaraan gender, khususnya hak-hak perempuan. Banyak hal yang saya dapat pelajari dari buku ini, karena penulis sangat lihai dalam menjelaskan budaya dan adat istiadat Sumba. Namun, banyak hal yang juga membuat saya termenung. Hal-hal yang tidak pernah saya pikirkan ada di dunia nyata, hal-hal yang bagi saya tidak terdengar masuk akal....

Unsur patriarki sangat kuat ternyata. Terbukti dengan banyaknya area pamali bagi seorang perempuan yang sudah menikah. Perbedaan pintu keluar bagi laki-laki dan perempuan, yang dikenal dengan bali katunga (pintu utama untuk laki-laki). Suara perempuan, terutama sebagai menantu, yang sangat tidak didengar dalam keluarga.

Perempuan, yang rasanya hanya berfungsi sebagai alat pembawa rahim dan pemuas hasrat seksual saja, barang yang bisa ditukar. Perempuan, yang apabila kehilangan kesuciannya, menjadi hina dan pantas untuk dikatai kotor. Perempuan, yang haknya sangat terbatas dengan kewajiban yang sangat berat. Perempuan, yang harus mengabdi kepada keluarga dan melepas impian serta cita-citanya. Perempuan, yang wajib menikah. Perempuan, yang sudah selayaknya panik apabila tidak mendapatkan lamaran, sehingga siapapun yang melamar sudah keharusannya diterima - tanpa bisa perempuan itu memilih, atau ditanyakan, mau menikah atau tidak? Mau mengabdikan hidupnya untuk seorang laki, atau tidak?

Saya sangat membenci karakter Ama Bobo (ayah Magi). Lebih dari Leba Ali, saya lebih membenci Ama Bobo. Sepanjang halaman membaca konflik Ama Bobo, saya bertanya-tanya benarkah Magi adalah anak gadis kesayangannya?

Demi menjunjung tinggi ego dan harga diri di atas segalanya, menjaga nama baik keluarga, menjaga adat istiadat yang dipercayainya, Ama Bobo rela menyerahkan Magi Diela kepada pemerkosanya (bahkan memaksa Magi Diela untuk menikahi Leba Ali). Bukankah seharusnya seorang ayah hatinya hancur dan terluka, saat mengetahui anak perempuannya diculik, dikawin paksa, dan diperkosa oleh laki-laki brengsek? Mengapa malah memaksa menikahi anak perempuannya dengan lelaki itu, dengan dalih Magi telah mencoreng nama baik keluarga dan menorehkan aib? Seakan-akan diperkosa adalah keinginan Magi. Dan ketakutannya terhadap Magi menjadi "diam-diam ubi berisi" membutakan matanya. Ia bahkan menukar Magi hanya demi puluhan ekor hewan sebagai belis dari lelaki brengsek yang telah merenggut sinar cahaya kehidupan Magi. Apakah seperti itu disebut sebagai ayah, yang menyayangi anak perempuannya?

Saya tidak mengerti mengapa ada yang mengaitkan dosa atau utang leluhur dengan kewajiban orang-orang seperti Magi untuk menerima hal buruk yang terajdi padanya sebagai bayaran atas utang tersebut. Rasanya orang-orang lebih peduli untuk bergunjing tentang aib keluarga dan masa depan Magi yang mana tidak akan ada lelaki yang mau dengannya, dibandingkan memberikan Magi dukungan untuk melawan apa yang baik untuknya. Sungguh ironis dan menyayat hati.

Bahkan setelah Magi pulang kembali ke kampungnya, setelah berhasil merebut kembali kemerdekaannya dengan harga yang sangat mahal, setelah berhasil keluar dari penjara yang mengurungnya tanpa alasan, orang-orang di kampungnya berkata....

"Mana bisa suami memerkosa istri? Dong su dibelis lunas. Su jadi milik suami, terserah dong mau bikin apa deng itu perempuan," begitu kata beberapa laki.

(Artinya: "Mana bisa suami memerkosa istri? Dia sudah dibelis [diberi mahar sesuai permintaan dari pihak perempuan] lunas [artinya, kalau sudah lunas, pihak lelaki tidak lagi "berutang". Mengingat belis bisa dicicil, dan kalau dicicil, pihak lelaki harus menunjukkan itikad baik pada pihak perempuan]. Sudah jadi milik suami, terserah dia mau bikin apa dengan itu perempuan.")

Bahkan sesama perempuan berkata, "Mawinne tudu loko!"

(Artinya: "Perempuan pembawa sial")

Terlepas dari rasa patah hati saya terhadap kisah Magi, saya sangat menyukai buku ini. Saya berterimakasih sekali kepada penulis karena telah memperkenalkan saya dengan Sumba, selain keindahan alamnya, sekarang saya tahu sedikit-banyak tentang adat istiadat, kepercayaan, dan bahasa Sumba.

Seperti, noba ayam yang merupakan sembahyang menggunakan usus ayam sebagai media untuk melihat kondisi seseorang atau sesuatu, dengan membaca buku perut ayam. Lalu, aturan berburu bahwa adanya aturan yang diterapkan ketika di hutan - untuk tidak menyebut nama sesama pemburu dan untuk menggunakan bahasa yang berbeda saat berburu untuk mencegah penjelmaan oleh roh jahat di hutan. Lalu, patriarki yang melarang perempuan ini-itu dengan dalih pamali. Kepercayaan Marapu dan berbagai ajarannya. Adanya aturan bahwa sesama Kabisu (satu suku) tidak boleh menikah. Upacara adat dan tradisi saat pernikahan dan ritualnya. Pakalak dan payawau. Mana'a sebagai ritual Wulla Poddu. Wulla Poddu (bulan hitam, atau bulan suci) itu sendiri sebagai ritual adat Marapu di mana selama sebulan penuh orang tidak boleh mengadakan pesta perkawinan, kubur batu, dll. Kalangngo, sebagai ritual puncak Wulla Poddu dengan menari di Kampung Tarung. Perbedaan pemakaman di kubur batu dan kubur tanam berdasarkan cara kematiannya. Bahasa Sumba yang sekarang sedikit bisa memahami....dan masih banyak lagi.

Selain Magi Diela, saya memikirkan Anjelin - yang diperkosa dan dihamili oleh gurunya, lalu dibuang oleh keluarganya karena dianggap aib. Lalu Lawe, yang hatinya pedih karena merasa namanya yang kini berganti menjadi Ina Dani (nama anaknya, Dani, dan Ina yang artinya ibu) membuatnya merasa seperti sosok Lawe (dirinya) sudah hilang entah kemana. Atau, Mama Bernadet yang dipukuli suaminya saat pagi dan siang, lalu menjadi pelacur bagi suaminya di malam hari dengan rasa sakit akibat pukulan-pukulan yang masih menggerayanginya.

Saya sangat mengagumi keberanian, perjuangan, dan perlawanan Magi Diela. Sumpah serapah yang saya ucapkan selama membaca buku kepada Leba Ali tidak membuat saya lebih baik. Namun mengetahui akhir hayat Leba Ali yang sepertinya merupakan hukuman dari 'leluhur' (tentunya, Tuhan) membuat saya menghela napas puas. Tapi, dengan begini, apakah berarti ceritanya selesai? Tentu tidak.

Kisah Magi adalah sebuah kisah di antara begitu banyaknya kisah dari perempuan lain di seluruh Indonesia yang masih terikat adat, terbelenggu harga diri keluarga yang begitu dijunjung tinggi, yang menempati peringkat teratas dibandingkan kemanusiaan itu sendiri. Perempuan yang hanya berfungsi sebagai alat produksi dan pemuas nafsu seksual. Perempuan yang dinilai seperti barang, yang bisa dibeli dan ditukarkan lalu dipulangkan jika sudah bosan. Perempuan yang bisa disiksa, digunakan dengan bebas, dipukuli, tanpa melihat bahwa sesungguhnya perempuan atau laki-laki adalah sama-sama manusia di mata Tuhan. Apa yang membedakan perempuan dan lelaki, selain alat vitalnya, selain lelaki yang tidak bisa menyusui dan melahirkan? Mengapa dari satu saja perbedaan perempuan dan lelaki, yaitu perbedaan alat produksi, menjadikan perempuan sebagai korban patriarki yang lama-lama dilihat tidak manusiawi?

Terimakasih kepada Magi Diela (dan tentunya penulis yang sudah tergedor hatinya untuk menyebarkan kisah ini ke seluruh Indonesia, menyadarkan dan menyuarakan kesetaraan gender dan penghapusan adat/budaya yang dinilai merugikan perempuan) atas perjuangannya. Perlawananmu mewakili penderitaan banyak perempuan di luar sana yang tidak memiliki keberanian dan dukungan dari sekitar untuk sekadar membuka mulut untuk menyuarakan penolakan atas ketidakadilan yang dialaminya. Keberanianmu melawan adat yang sudah ratusan tahun mendarah daging membuat perempuan di luar sana banyak yang kembali tersadar dan berani untuk merebut kembali hak dan kebebasannya. Walau, untukmu Magi, sangat mahal harga kebebasan yang harus kau rampas kembali. Hal ini membuat saya tersadar, bahwa kebebasan dalam menentukan hidup kita sendiri adalah hal yang paling berharga.

Perjuangan Magi tidak hanya sebatas memberi impas Leba Ali. Magi akan terus melawan, berjuang, menyelamatkan ratusan perempuan lain di Indonesia yang masih mengalami hal serupa (atau lebih buruk) darinya. Magi pernah berkata dalam catatan jurnalnya, bahwa rasanya seluruh nasib perempuan yang mirip dengannya ia pikul dan maka dari itu ia semangat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

(Buku ini banyak foto-foto yang sepertinya adalah dokumentasi penulis saat di Sumba, menambah visualisasi kita tentang Sumba, saya sangat menyukainya!)

Ulasan ini sudah terlalu panjang, bahkan saya masih memiliki banyak hal untuk saya sampaikan. Saya jadi ingin mengunjungi Sumba dan mempelajarinya lebih dalam. Buku ini akan menjadi buku favorit saya, buku yang membuat saya termenung dan tertegun saat menutup lembar terakhir. Buku yang membuat saya tersadar akan banyak hal dengan saya sebagai seorang perempuan. Buku yang membuka wawasan saya lebih luas, yang membuat saya semakin lapar dalam melahap buku-buku lain yang menyuarakan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan.....
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
January 2, 2022
** Books 87 - 2021 **

4 dari 5 bintang!

CONTAINS WARNINGS : RAPE , NON CONSENSUAL SEX, SUICIDE ATTEMPT !!

Salah satu buku yang aku nobatkan menjadi buku favoritku yang aku baca di bulan November 2021! Betapa tidak masih jarang penulis lokal yang mengambil kisah tentang tradisi budaya Indonesia yang dianggap tabu atau tidak jarang merendahkan perempuan sehingga ketika membaca buku ini aku langsung suka!

Buku ini mengisahkan tentang Magi seorang Perempuan Sumba yang menjadi korban adat tradisi Sumba yaitu Kawin tangkap dimana laki-laki berhak menculik perempuan yang menjadi idaman hatinya. Hal yang membuat saya salut perjuangan Magi yang tidak menyerah akan keadaan meski dia sudah dirampas kebebasannya oleh Pria mata keranjang itu tetapi ia tidak menyerah untuk memperjuangkan nasib perempuan lain yang serupa dengan dirinya. Meski hal ini membuatnya harus meninggalkan kampung halamannya dan berseteru dengan keluarganya sendiri.

Kalian yang ingin membaca buku ini harus hati-hati yah karena sejujurnya di bab pertama saja sudah ada adegan percobaan bunuh diri dan di sampul depan bukunya juga tercantum trigger warning sehingga kalau kalian memiliki riwayat mudah ketrigger akan hal-hal tersebut harap membaca buku ini ketika kondisi mental pikiran kalian dalam keadaan baik yah!

Terimakasih Gramedia Digital Premium atas peminjaman bukunya!
Profile Image for Rere.
48 reviews
May 3, 2021
"Coba sa ko lapor polisi. Belum pernah orang kena hukum karena menegakkan adat."

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam tidak hanya menceritakan bagaimana penderitaan Magi Diela karena kawin tangkap yang menimpanya, tetapi juga menceritakan perjuangan Magi untuk merebut kembali kemerdekaannya sebagai perempuan. Pengembangan karakter Magi sangat luar biasa. Magi yang dulunya melawan menggunakan emosi, kini bisa melawan menggunakan kecerdasannya.

Buku ini berhasil membuat saya berlinang air mata sepanjang membacanya, seakan saya bisa ikut merasakan apa yang Magi Diela rasakan. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa foto yang memiliki kaitan dengan topik yang diangkat di setiap chapternya.
Profile Image for Tata.
20 reviews
December 7, 2025
buku yg penting utk dibaca, merinding mual kalau keingat kekerasan thdp perempuan seperti ini masih prevalent.

topik yg sangat berat utk diceritakan berhasil ditulis dengan lugas dan tidak bertele-tele (just the right pace) sehingga tetap bisa dibaca dalam sekali duduk.

hidup magi diela magi diela di luar sana dan kegilaannya dalam menyuarakan hak perempuan 🥺
Profile Image for v i v i n.
139 reviews7 followers
March 16, 2022
Thanks buat yang uda rekom buku ini!
Dan Thanks banget buat audiobook yang SANGAT membantu krn klo gak ada audiobook, ini buku sudah pasti bakal aku tinggalin. ✌🏻😬
Displaying 1 - 30 of 1,013 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.