Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kuda Terbang Maria Pinto

Rate this book
Menampilkan tema-tema kemanusiaan tanpa menyerahkan sastra ke bawah telapak kaki penindasan pesan, bukan upaya gampang. Linda Christanty mampu menaklukkan kemuskilan ini. Dalam sebagian besar cerpen-cerpennya, kelamin prosa dan kelamin puisi menyatu bersejiwa melahirkan pukauan mengasyikkan, mengatasi namun meninggikan ikhwal pesan pada tukikan kedalaman yang mencerahkan.

Sutardji Calzoum Bachri

Pada cerita pendek Linda Christanty, kita mendapatkan ampuhnya suara politik justru karena yang politis itu sekadar hadir sebagai kilas balik tipis dari laku dan wicara para tokoh. Realisme Linda mencekan justru karena ia antididaktik.

Nirwan Dewanto

Dalam cerpen-cerpen Linda Christanty, saya membayangkan perkembangan cerpen kita di masa datang.

Sapardi Djoko Damono

134 pages, Paperback

First published February 1, 2004

16 people are currently reading
334 people want to read

About the author

Linda Christanty

34 books81 followers
Linda Christanty adalah sastrawan-cum-wartawan kelahiran Bangka. Pada 1998, tulisannya berjudul “Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste” meraih penghargaan esei terbaik hak asasi manusia. Kumpulan cerita pendeknya Kuda Terbang Maria Pinto memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004. Dia sempat bekerja sebagai redaktur majalah kajian media dan jurnalisme Pantau (2000-2003), kemudian menulis drama radio bertema transformasi konflik untuk Common Ground Indonesia (2003-2005). Sejak akhir 2005, dia memimpin kantor feature Pantau Aceh di Banda Aceh.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
96 (29%)
4 stars
121 (37%)
3 stars
84 (25%)
2 stars
18 (5%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 36 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
November 3, 2018
KONTEKS UNTUK CERITA-CERITA LINDA

PEMBICARAAN tentang sastra tidak hanya berhenti pada rasa, keindahan bahasa, dan estetika. Sastra sanggup menyampaikan suatu gambaran yang bertenaga tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Seperti yang dikatakan Octavio Paz, situasi masyarakat dalam sejarah-sejarah besar dunia bisa disimpulkan dari sastra di zaman tersebut. Jika kita, misalnya, ingin mengetahui mengenai situasi masyarakat di antara dua Perang Dunia, kita tak perlu buru-buru bertanya pada ahli sejarah atau ahli hubungan internasional: baca saja novela Chess Story dari Stefan Zweig, yang dikarang di antara dua perang besar dunia. Di sana akan kita temukan Dr. B: orang Austria korban rezim Hitler yang akhirnya berhasil keluar dari penjara, mencari suaka ke Amerika, sambil membawa gejolak-gejolak masa lalunya di Eropa yang kelam. Di atas kapal yang menuju Amerika itu terasa bahwa Zweig menempatkan Dr. B, warga Austria, sebagai simbol dari Blok Barat yang rupanya kembali berhadapan dengan masa lalu melalui pertandingan catur melawan Mirko Czentovic, juara dunia catur yang berasal dari Yugoslavia, yang saya kira sebagai simbol dari Blok Timur.

Dalam kumpulan cerpen Kuda Terbang Maria Pinto, Linda Christanty beberapa kali menampilkan kembali telaah Octavio Paz pada posisi kita, orang Indonesia, sebagai korban situasi Orde Baru.

Linda memasukkan beberapa isu, momen-momen tertentu, juga perasaan-perasaan murung yang berkembang pada masa itu mengenai akhir orang-orang komunis dan insiden Timor Timur. Meski demikian, saya ingin menegaskan bahwa pengarang bukan juru bicara suatu kelas yang tertindas, atau malah juru bicara negara yang menyembah-nyembah penguasa. Ada yang tersirat lebih jauh dalam cerita. Bagaimana pun, jika kita membaca kembali Kuda Terbang Maria Pinto, sastra berada pada posisi diperlihatkan, bukan untuk menunjukkan sejarah.

Saya kira orang-orang yang tidak membuka diri terhadap sejarah (yang selama ini dikuasai satu versi cerita penguasa) akan sulit untuk memahami kedalaman pesan Linda Christanty.

Dalam cerpen Makan Malam, Linda memasukkan tokoh yang menjadi korban dari kebijakan pemerintah tahun 1965, yang membuat ribuan orang menjadi eksil. Di situ Linda menulis tentang sang ayah "yang tengah melawat ke luar negeri menjelang keributan besar", sementara pada penjelasan berikutnya kita mendapatkan informasi bahwa "luar negeri" yang dimaksud adalah Moskwa dan "keributan besar" itu adalah berita kudeta. Dengan menghubungkan titik-titik itu kita tahu: sang ayah adalah korban peristiwa pembasmian orang-orang komunis di awal masa Orde Baru. Di Pesta Terakhir, Linda menampilkan seorang juru catat yang hidup royal dari uang rezim berkuasa dengan mengkhianati para sahabatnya, yang salah satunya bernama Mursid, dalam sebuah gerakan. Kita meyakini Mursid merupakan korban dari penghancuran PKI dari kalimat "tak punya mata pencaharian tetap selama puluhan tahun" setelah keluar dari sel─ketika kita selesai membaca Pesta Terakhir, kita akan mengerti bahwa kata "tak punya" di situ lebih berarti "tak akan mungkin bisa".

Dua cerita, Kuda Terbang Maria Pinto dan Joao, mengisahkan peristiwa yang terkait dengan insiden di Timor Leste. Konflik di dalamnya berisi sekelompok orang yang tengah bergerak diam-diam melawan militer. Serupa dengan cerpen Danau, Linda menulis tentang perlawanan sekelompok pemuda terhadap seseorang yang memiliki "seragam" dan "lars sepatu"; ciri khas orang-orang militer.

Linda memang secara samar-samar bercerita melalui metafora─terkadang tak rasional seperti Kuda Terbang Maria Pinto. Agaknya hal ini tidak lepas dari gaya pengarang Indonesia yang terbiasa menghindari sensor. Cerpen-cerpen Linda di sini dibuat sekitar tahun 2001 sampai 2004, belum lama dari sejak runtuhnya Orde Baru. Hanya dua cerita yang ditulis pada masa Orde Baru, yaitu Rumput Liar yang terbit di surat kabar Media Indonesia pada tahun 1993 dan Perang di tahun 1994.

Sekali lagi, bila kita percaya pada Octavio Paz, kita bisa mengatakan di sini bahwa seorang penulis "tidak akan dan tidak dapat bicara untuk orang lain". Karangan-karangan seorang penulis adalah "suara soliter" dari kesadaran pribadi. Dengan kata lain, kumpulan cerita Kuda Terbang Maria Pinto menampilkan dunia dari satu sisi pandang Linda sebagai pengarang. Yang tidak boleh kita abaikan: para pengarang, meminjam Carlos Fuentes, tidak perlu melihat dirinya sebagai seorang penulis nasionalis. Kita tidak membaca Budi Darma dengan alasan nasionalisme Indonesia. Dari sini sastra dan imajinasinya bisa berasal dari sumber-sumber nasional, namun hal itu bukan unsur yang utama.

Sebab tiap kita tahu bahwa para penulis tak berencana mengubah nasib. Cerpen-cerpen Linda tak menyerukan sebuah pembebasan. Para penulis seperti Linda Christianty, Puthut EA (kalau kita lihat Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh), atau Seno Gumira Ajidarma (dalam Saksi Mata) tidak dituntut untuk menjadi juru bicara orang yang tertindas dan terkucil (meski Linda menulis kegelisahan seorang waria dalam Balada Hari Hujan). Namun hal itu menjadi penting dalam masyarakat sipil yang lemah di Indonesia pada masa kekuasaan Orde Baru.

Saya kira ada dalam diri para penulis tersebut satu tanggung jawab untuk menyampaikan informasi mengenai insiden di Timor Timur atau pembantaian orang-orang komunis melalui fiksi. Mungkin karena dari sana sastra dapat berbuat sesuatu: dengan tidak mendiamkan perbuatan-perbuatan kejam atas nama apa pun─mengutip kata-kata Seno, "sastra harus bicara".

Penguasa datang dan pergi. Sementara itu: cerita abadi.
Profile Image for Sadam Faisal.
125 reviews19 followers
August 19, 2017
Setelah ini akan nyari & baca buku Linda Christanty yang lain sih.
Profile Image for Hapudin.
287 reviews7 followers
April 15, 2017
resensi lengkap:
http://bukuhapudin.blogspot.co.id/201...

Buku Kuda Terbang Maria Pinto adalah buku kumpulan cerita pendek. Berisi dua belas cerita pendek dengan ragam tema. Kesemuanya memikat dengan gaya bahasa yang renyah dan sederhana.

Aku sebenarnya bukan yang suka buku kumpulan cerita pendek. Pengecualian untuk buku ini. Seperti keunggulan yang aku sebutkan di awal; gaya bahasa yang renyah dan sederhana, buku ini pun punya rasa cerita yang segar. Aku terkesima oleh tema yang diangkat penulis dan eksekusi cerita yang apik dipilih. Mengikuti judul-judul yang disajikan tidak membuatku kebosanan atau merasa ada ketidakutuhan pada ceritanya.

Ketidakutuhan yang aku maksud berupa kebiasaan dalam menyajikan cerita pendek yang memuat bagian-bagian cerita terbatas. Berbeda dengan novel yang punya kelengkapan cerita. Perbedaan di kumpulan cerita buku ini adalah pembaca sudah dibuat lena dengan gaya bercerita dan akhirnya memilih menikmati cerita tanpa pusing berpikir kenapa dan bagaimana atas ceritanya.

Tidak ada yang begitu mengganjal selama mencerna alur cerita. Kalau pun ada bagian yang terlalu fantasi, diabaikan dahulu dan keputusan itu tidak membuat cerita jadi cacat.

Dari kedua belas cerita pendek, aku pilih cerita paling menarik versi aku. Pertama adalah Makan Malam. Kisah seorang anak perempuan dan Ibunya yang hidup berdua. Kesibukan membuat keduanya menjadikan makan malam sebagai waktu ketika keduanya bisa bersinggungan. Selain waktu malam malam, rasanya keduanya susah bertemu. Percakapan suatu hari dengan sang ibu menyinggung sosok ayah.

Bagi si anak sosok ayah adalah impian. Ia memang tidak pernah tahu siapa ayahnya. Ada lelaki dewasa yang pernah ia lihat di rumah tetapi itu adalah 'pekerjaan' ibunya. Pekerjaan seperti apakah yang kumaksud? Silakan baca sendiri bagian itu.

Kata ibunya, ayahnya akan datang ke rumah. Benar saja, ayahnya datang. Mereka makan malam bertiga seperti keluarga utuh. Tetapi malam itu juga si ayah kembali pergi. Si ayah datang ke rumah itu untuk minta maaf kepada si anak dan si ibu. Sebab di kota lain si ayah sudah punya kehidupan yang lain.

Penulis mengangkat korban pria yang meninggalkan keluarga. Apalagi jika sampai si pria memulai kehidupan di tempat lain. Salah satu harus dipilih. Memilih keduanya bukan solusi yang pas. Dan kegetiran hidup sebagai korban berusaha dikenalkan penulis.
109 reviews
June 18, 2022
Aku suka membaca cerpen-cerpen Linda, sebab ia mampu menggambarkan sesuatu dengan sangat detail, tepat sasaran, tapi juga puitis yang sama sekali tidak berlebihan dalam suatu waktu. Lebih-lebih lagi, ia bisa membawaku terseret secara tak sadar dalam suatu konteks yang ternyata berkelindan dengan situasi politik di suatu waktu, tetapi juga mampu memberikan plot twist yang tak terduga. Ihwal yang lebih penting adalah, cerpen-cerpennya mampu menggambarkan suatu peristiwa besar justru dari dampak-dampak kecil yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut. Hal ini terlihat dari pemilihan tokoh-tokohnya yang kerap kali mewakilkan cerita dan suara dari orang-orang yang berada di pinggir hidup.

Aku punya banyak jagoan di kumpulan cerpen ini. Makan Malam karena ceritanya sangat dekat dengan keseharian ibu dan anak. Pesta Terakhir adalah tentang kesempatan dalam kesempitan. Lubang Hitam sebagai sisi gelap manusia. Balada Hari Hujan sebagai bentuk patah hati di kehidupan yang heteronormatif. Lelaki Beraroma Kebun mengantarkan pada sejarah dan ikatan dengan tanah kelahiran. Rumput Liar tentang memaknai cinta dari perspektif tiap anggota keluarga. Makam Keempat, favoritku, tentang rasa ngelangut yang harus dituntaskan. Semuanya secara subtil memperlihatkan bahwa ketidakadilan sistemik itu benar terjadi, sampai-sampai kita tak menyadari keberadaannya.
Profile Image for Pera.
231 reviews45 followers
December 31, 2019
Kumpulan cerpen. Salah satu judulnya Kuda Terbang Maria Pinto.
Mengenal buku ini karena kopdar Medan Membaca, mengadakan bedah buku ini.
Memaksa membaca kumpulan cerpen ini cukup ekstra energi. Bukan bacaan untuk rileksasi. Setiap kisah ada saja seting politik, terutama masa orde baru , yang buram.
Si Penulis mengambil sudut pandang dari orang yang berada di sekitar pelaku.
Aku terkaget-kaget dengan gambaran perilaku seks beberapa tokoh di buku ini. Apakah itu pula gambaran perilaku seks dimasa itu?
Entahlah.
Teknik ceritanya aku suka. Baru aku sadar kenapa buku ini direkomendasikan untuk kubaca. Kami sepertinya ada kemiripan.

mungkin :)
Profile Image for A.J. Susmana.
Author 3 books13 followers
November 29, 2009

Terbang ke Mana "Kuda Terbang Maria Pinto"?

Tak dapat disangkal, perempuan pengarang di Indonesia tak lagi dapat dihitung dengan jari. Mungkin sudah perlu disusun ensiklopedi perempuan pengarang di Indonesia untuk memudahkan mengetahui posisi perempuan pengarang dalam sejarah sastra Indonesia. Baik posisi dalam berhadapan dengan arus deras patriarkhi yang masih menjadi ciri dominan masyarakat Indonesia ataupun dalam rangka sastra itu sendiri.

Dengan menyusuri tema-tema karangan mereka, pembaca sastra Indonesia dapat mengerti sejauh mana para perempuan pengarang, sastrawati Indonesia, berbicara tentang kaumnya yang masih dibelakangkan dengan tugas-tugas domestik serta usaha melawan dominasi patriarkhi tersebut, atau justru banyak perempuan pengarang masih menjadi bagian terbesar dari tegaknya patriarkhi itu sendiri.

Tema-tema liberalisme perempuan, sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap patriarkhi, memang mendominasi dalam beberapa karya mutakhir seperti pembicaraan seks yang bebas dalam novel Ayu Utami: Saman dan Larung, termasuk cinta sejenis dalam novel Supernova. Dalam kumpulan cerpen Linda Christanty, Kuda Terbang Maria Pinto, posisi melawan patriarkhi ini masih ragu. Memang ada liberalisme seks, yang tak perlu lagi memenjarakan seks dengan berkedok etika perempuan timur, Linda memajukan Tina dalam cerpenLubang Hitam (hal 43-56) yang sanggup bercinta hanya dengan langsung berkenalan tanpa basa-basi, tak menuntut dan cengeng ketika tahu dirinya hamil bahkan juga menikmati dirinya sebagai lesbian. Seks adalah having fun di tengah pilihan lain yang masih mayoritas: ibadah.

Sayang, di balik liberalismenya ini, Linda juga menyuguhkan tragedi tokoh-tokoh perempuannya: kekalahan, putus asa, aroma bunuh diri yang justru mendominasi hampir seluruh cerpen-cerpennya. Pada Makan Malam misalnya, bertutur tentang keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi karena peristiwa G30S, maka pelacuran seakan adalah pilihan yang benar ketika lelaki (suami) tak ada (hal 21-30). Pada cerpen-cerpen lain, Lubang Hitam, Balada Hari Hujan, Perang, Rumput Liar, akan didapatkan keraguan di antara kehendak yang tegas untuk mandiri sebagai perempuan merdeka. Yang lebih menonjol adalah kegelisahan, resah, carut-marut, campur aduk perasaan, yang arahnya tak jelas: melanjutkan hidup dengan berbagai problemnya atau bunuh diri. Ketegaran cukup dikemukakan dalam cerpen Perang (hal 89-98) melalui aktivis perempuan Sulastri dalam setting Perang Dunia II dan Indonesia dalam pendudukan militer Jepang. Sebagaimana Chairil Anwar dalam Aku menegaskan Aku ingin hidup seribu tahun lagi (demi melawan fasisme?), Sulastri meyakinkan dirinya bahwa perang belum usai. Oleh sebab itu, aku meyakinkan diri untuk tetap terus hidup (hal 98).

Dalam soal melawan patriarkhi, posisi cerpen-cerpen Linda masih menggantung. Tak yakin, jauh dari bayangan Kartini yang dilahirkan dan hidup saat Indonesia masih dalam naungan gelap feodalisme, 1904. Linda berkutat dengan kegelisahan perempuan dalam rangka menjadi perempuan itu bagaimana: das sein dan das sollen-nya di ruang demokrat liberal sementara Kartini sudah menegaskan dirinya: sebagai pengarang aku akan bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citaku serta bekerja untuk menaikkan derajat dan peradaban rakyat kami. Jelas, Kartini sebagai perempuan pengarang tak hanya berbicara tentang dirinya, tapi lebih luas, yaitu tentang menaikkan derajat dan peradaban rakyatnya. Kartini pun tak ragu menganggap dan mendukung bahwa seni tak lain adalah alat untuk mewujudkan cita-cita. Namun, menurut Kartini, roman bertendens itu dalam segala hal harus lebih tinggi…. Dia harus sempurna dan sama sekali tanpa cacat (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Hastra Mitra, Jakarta 2000; hal 155-157).
Linda Christanty, seperti yang disebutkan dalam keterangan pendek tentang dirinya di halaman depan, dilahirkan di Bangka, 1970. Pernah aktif sebagai aktivis politik menentang pemerintahan Jenderal Soeharto. Tak heran bila setting politik menjadi pilihan cerpen-cerpennya. Ini pun pertanda majunya kesadaran politik kaum perempuan walau Ayu Utami dengan Saman dan Larung telah memulainya dalam bentuk novel. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa wilayah politik tak lagi tabu untuk kaum perempuan setelah 32 tahun di bawah kekuasaan Orde Baru selalu disingkirkan dan diposisikan menjadi pendamping suami dalam program Dharma Wanita dan PKK. Perempuan pengarang yang menggunakan politik sebagai setting karangannya adalah pelopor kaum perempuan untuk keluar dari tempurung penindasan patriarkhi yang masih banyak dianggap sebagai takdirnya.

Dalam soal teknis penulisan, cerpen-cerpen Linda cukup menarik. Pilihan diksinya mengalir dan sering puitis. Ungkapannya terkadang membutuhkan refleksi sejenak yang seakan hanya menjadi bagian dari masa lalunya yang politis. Lain tidak: kadang-kadang kita menjadi seseorang yang menyukai apa yang dulu kita benci (hal 90). Apakah Linda akan berhenti menjadi zoon politicon? Cukup sudah menjadi pengarang saja dengan dunia gaul sastranya yang baru dan jauh dari aktivitas-aktivitas politik yang menentang penindasan? Waktu tentu yang akan menjawabnya.

Sebagai catatan akhir yang bersifat teknis, kumpulan cerpen ini akhirnya memang tak berwatak tunggal. Oleh penerbit atau pengarangnya sendiri? Memang dimaksudkan hanya sebagai kumpulan cerpen Linda Christanty yang pertama. Ia tak disusun sebagai sebuah antologi cerpen Linda yang utuh, berwatak, yang tema-temanya saling kait mengait dalam alur tunggal.

Sebagai usulan, mungkin perlu diterbitkan antologi cerpen Linda C semasa ia menjadi penentang pemerintah, kalau ada. Tulisannya akan menjadi lain bobotnya bila dibandingkan dengan Kartini atau Ayu Utami. Kedua perempuan ini, sebagai pengarang, tak pernah secara tegas menjadi aktivis politik yang menentang pemerintahan yang menindas. Sementara Linda adalah aktivis politik dan juga pengarang sebagaimana Siti Sundari yang "digilai" Mas Marco Kartodikromo dalam zaman pergerakan menentang rezim kolonial.
Dengan begitu, terpaksa memang harus ditanyakan hendak terbang ke mana Kuda Terbang Maria Pinto? Terbang ke mana suka? Terserah sidang pembaca? Atau terserah kecamuk perasaan Linda Christanty sebagai perempuan pengarang? Bunuh diri dalam angan-angan boleh. Dalam kenyataan, juga boleh. Bertahan hidup dalam berbagai gaya juga boleh. Asalkan tak menindas eksistensi pribadi. Kamu pun harus hati-hati kalau Kuda Terbang Maria Pinto terbang kepadamu.

Kompas, 27 Juni 2004

AJ Susmana Alumnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta; Tinggal di Jakarta
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
201 reviews4 followers
July 19, 2017
Ibu, kenapa perempuan harus punya lubang ?
- Lubang Hitam, hal 44.

Tahun ini kita beruntung mendapati kumpulan cerpen ini diterbitkan ulang oleh EA Books. Dalam khasanah cerita pendek di Indonesia, karya awal Linda Christanty ini bisa jadi menu penting untuk dibaca.

Membaca kumpulan cerpen ini, beberapa kali akan menemui keterkejutan dalam kisahnya. Kadang meninggalkan perasaan tidak nyaman di hati. Cerita hubungan antar manusia dibalut dalam tema perang, politik dan kelamin.

Mendebarkan tapi membuat ketagihan.

note.
* Masih ada beberapa kesalahan tulisan di dalamnya
* Ada kesalahan penggunaan istilah baku seperti : 'bersendawa' -> seharusnya 'beserdawa' kata bakunya. (Tersadar setelah membaca terjemahan apik pak Landung Simatupang untuk novel 1984)

Profile Image for Rahman.
165 reviews22 followers
August 5, 2025
Cerpen-cerpen favorit:
- Kuda Terbang Maria Pinto
- Lubang Hitam
- Danau
- Lelaki Beraroma Kebun
- Makam Keempat
Profile Image for Rahmi Ayu Umami.
48 reviews16 followers
August 16, 2012
Buku 'sastra' pertama yang saya baca atas rekomendasi seorang teman FLP Bandung. Setelah saya tau bahwa ternyata novel yang beredar itu ada kategorinya: populer dan 'sastra asli' dan ternyata bacaan saya kebanyakan populernya. heu. ampun deh mbaah, saya akan memperbanyak bacaan 'sastra' saya..

Buku kumpulan cerpen ini menarik, karena saya kebanyakan ga ngerti isinya apa (haha), harus dijelaskan dulu sama temen latar belakang cerpen ini apa, itu apa. Paling suka yang cerpen terakhir 'Makam Keempat'. kebanyakan isinya berhubungan dengan situasi politik (khususnya orde baru)
Profile Image for Asep Sambodja.
28 reviews35 followers
October 23, 2007
Wah.... Linda pintar menulis sastra politik. Keren banget. Bahasanya sangat indah. Saya nggak tahu, Linda belajar sama siapa sehingga bisa melahirkan kata-kata yang indah seperti itu. Apakah ia belajar pada Sapardi? Mungkin saja, karena dia murid SDD di Program Studi Indonesia FIB UI. Atau dia belajar dari teman-temannya di Pantau? Mungkin juga, karena Pantau kan bagus.
Profile Image for ukuklele.
462 reviews20 followers
April 7, 2020
Rasa-rasanya, saya mengenal buku ini sejak awal diterbitkan/memenangkan Khatulistiwa Literary Award. Pada waktu itu, saya masih murid SMP/SMA dan baru mulai bersemangat dengan dunia kepengarangan. Sambutan baik terhadap buku ini membuat saya merasa seolah-olah wajib memilikinya. Tapi, entah bagaimana saya tidak pernah memilikinya; entah karena sudah tidak tersedia di toko buku, atau karena ketertarikan saya pada buku ini ternyata tidak begitu besar, atau apa(?).

Baru akhir-akhir ini saya mendapatkan akses untuk membacanya. Motivasi saya membaca tadinya karena buku ini akan dibahas di suatu forum. Yang ternyata tidak jadi, karena suatu sebab. Grrr. Apa boleh buat, sudah telanjur basah.

Kalau boleh jujur

Sebelum buku ini, satu-satunya karya penulis yang sudah saya baca yaitu kumpulan cerpen Rahasia Selma. Agaknya, karena saya kurang memiliki sensitivitas atau sensibilitas artistik (atau apa pun itu istilahnya), makanya saya kurang dapat menjiwai kualitas buku tersebut.

Sekarang saya mencoba buku yang lebih awal dari penulis yang sama, barangkali kesannya akan lain.

Ternyata.

Karena buku ini merupakan pemenang penghargaan, maka menarik untuk mempelajarinya--menggali kualitas-kualitas yang terdapat di dalamnya. Apalagi, memang, sebagian besar dari selusin cerpen yang tampil di sini telah dipublikasikan di media-media besar seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan sebagainya. Esai penutup dari penyunting cukup membantu untuk mengerti maksud dari cerpen-cerpen tersebut.

Setelah membaca semua tulisan dalam buku ini, saya menemukan bahwa sepertinya tema politik dan seksualitas lah yang mendominasi. Itu, dipadukan dan dikemas dalam bahasa yang prosais, puitis, semacam itu deh, yang kiranya menjadi formula untuk menghasilkan karya pemenang penghargaan yang berkualitas.

Meski begitu, secara perasaan, kesan yang saya dapatkan selama pembacaan tak ubahnya seperti sewaktu membaca Rahasia Selma. Akibatnya, saya merasa agak terhantam (#halah). Saya mengingat-ingat, adakah karya berlabel sastra yang dapat saya nikmati. Sepertinya saya sangat menikmati cerpen-cerpen Yusi Avianto Pareanom dan itu sastra bukan, sih? Saya juga bertanya-tanya, adakah suatu alegori, metafora, atau apalah itu yang simbolis-simbolis begitu, yang mengena buat saya, dan apakah The Long Walk dari Stephen King bisa disebut demikian?

Bukannya sama sekali tidak ada cerpen yang mengena buat saya dalam kumpulan ini. Kalau mesti mengambil satu saja yang saya sukai, saya memilih cerpen terakhir, yaitu "Makam Keempat". Kemungkinannya sih karena cerpen ini mengangkat hubungan orang tua-anak--walau pastinya dikaitkan dengan isu politik secara samar-samar. Tema ini memang biasa bikin saya baper, seperti sewaktu menonton video clip "Animal Instinct"-nya The Cranberries atau "Blurry"-nya Puddle of Mudd.

Beberapa cerpen lain seperti "Qirzar", "Perang", dan "Lelaki Beraroma Kebun" oke juga. "Perang" dan "Lelaki Beraroma Kebun" menarik karena mengungkit tentang keadaan pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia, sesuatu yang kebetulan memang lagi saya jelajahi. Adapun "Qirzar" mungkin bisa disebut sebagai full fantasy dengan amanat yang samar-samar tapi jelas (eh, gimana, gimana?). Bukannya saya penggemar fantasi, melainkan beberapa orang yang pernah bersinggungan dengan saya sehingga saya agak-agak familier.

Sebagian cerpen lain tampaknya begitu sarat aroma seksualitas, sehingga secara pribadi agak bikin jengah. Kalau bukan itu, ya, politik--yang terus terang saya kurang melek. Yang liyan dipertemukan dengan yang dominan, bagi sebagian orang mungkin seru atau sexy. Sedangkan sebagian orang yang lain mungkin "ignorant". It's kind of love/hate thing, macam durian. Apakah gunanya mencekokkan durian pada orang yang tak doyan; bisa-bisa malah bikin orang itu muntah.

Selain itu, beberapa cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama "aku" secara berturut-turut. Terus terang, yang saya rasakan, yang membedakan "aku" pada tiap-tiap cerpen itu hanyalah: 1) situasinya, 2) petunjuk jelas bahwa dia adalah laki-laki atau perempuan atau lainnya, misalkan, ada yang memanggil dia sebagai, "Nyonya".

Demikianlah kesan dan pesan (?) terhadap kumcer pemenang penghargaan prestisius dari seorang pembaca yang awam ini. Membaca cerpen ini membuat saya sadar "kelas" (politik bukan, itu?). Kalau diibaratkan dengan seni mendekorasi botol menggunakan teknik mix media (#apasih), mungkin bisa dibilang kumcer ini menggunakan botol bekas minuman keras yang di samping mahal juga berbentuk estetis ditambah pernak-pernik dan peralatan khusus, sedangkan yang saya punya hanyalah botol bekas sirup marjan dengan pernak-pernik dan peralatan yang berceceran atau sudah berdebu di rumah.
Profile Image for Widia Kharis.
47 reviews
March 23, 2019
review telat. tapi saya suka sekali. gaya bahasanya sederhana, ngalir, jadi page-turning banget.

dua belas cerpen di dalamnya punya tema berbeda-beda. tapi yang paling mencuri perhatian saya itu Makan Malam sama Makam Keempat. di cerpen Makan Malam, penulis mengangkat kisah tentang pertemuan seorang anak dengan ayah yang nggak pernah ia temui sebelumnya. ayahnya yang merupakan seorang eksil terjebak di Moskwa dan tak bisa pulang karena huru-hara 65. sedangkan Makam Keempat... sumpah, depresif sekali, kesedihan orang tua yang menanti kepulangan anaknya cukup bikin mata saya berkaca-kaca. sang anak yang merupakan seorang aktivis tak pernah pulang selama 5 Natal, pun tanpa kabar. dua cerpen tersebut sama-sama menyinggung sepenggal kenangan tentang kekacauan politik yang pernah terjadi di negeri ini.

selain dua cerpen kesukaan saya di atas, cerpen-cerpen lain seperti Kuda Terbang Maria Pinto dan Qirzar mengangkat tema surealis yang (sejujurnya) nggak benar-benar saya pahami maksudnya, tapi saya sangat menikmati bahasanya yang renyah. Balada Hari Hujan dan Lubang Hitam menyuguhkan kisah cinta yang tak terduga dan cukup bikin saya geleng-geleng kepala di akhirnya.

that's it. kayaknya saya bakal cari buku-bukunya Linda yang lain haha.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
February 21, 2020
Pertama kali membaca karya Linda Christanty ternyata seru juga. Saya merasa setiap kalimat yang dibuat begitu efektif dan tak jarang cukup quotable untuk dicuplik. Salah satu favirit cerpen saya justru di cerpen paling akhir berjudul Makam Keempat. Tetapi sesuai dengan apa yang diuraikan oleh Cep Subkhan dalam pentup buku ini bahwa cerpen-cerpen Linda begitu sarat tafsir dan puitik. Mengangkat tema seputar kekerasan negara, cinta yang tak lazim dan menyuguhkan secara pendek dalam cerita yang bisa menjadi novel me jadi daya tarik sendiri dalam karya-karya beliau. Saya jadi semangat mau baca buku-buku beliau yang lainnya yang kebetulam juga saya punya tapi belum dibaca. Berbeda dengan cerpen-cerpen SGA dalam trilogi insiden, meski tema yang diangkat cukup mirip, tetapi cerpen Linda menyuguhkan aroma surealis dibandingkan realisme yang pada awalnya tersirat.
Profile Image for Steven S.
701 reviews67 followers
March 20, 2018
Cerpen-cerpen di dalamnya hadir dengan kesan yang beda dari biasanya.

Kuda Terbang Maria Pinto baru saja kutamatkan setelah beberapa waktu lamanya, sedihnya saya jadi tidak ingat lagi bagaimana tone cerita yang ada di buku ini. Harus diakui tidak mudah untuk menghabiskan secara utuh buku ini dalam waktu sejenak.

Salah satu buku fiksi yang wajib direkomendasikan bagi penggemar sastra Indonesia. cobalah.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
January 15, 2018
Jika kau membaca dengan baik halaman 129 di kisah Makam Keempat, maka kau akan menemukan makna terdalam tentang getirnya kehilangan cinta. Kurang lebih begitulah yang bisa saya rasakan lewat buku ini.
Profile Image for midnight.
27 reviews
May 9, 2024
Ekspektasiku ketinggiaaan. But indeeed aku pengin baca ulang.
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
July 23, 2012
Buku ini menemani sahur saya di hari ke-2 puasa ^_^

Kalau melihat sosok Linda Christanty yang kalem dan sederhana, saya agak nggak percaya bahwa dia yang menulis cerpen-cerpen dalam buku ini. Betapa imajinasinya begitu lancar terolah ke dalam cerita. Ada beberapa cerpen yang menurut saya agak melenceng dari kewajaran, hubungan percintaan yang rumit. dan ending yang tak tertebak itulah yang membuat saya suka, cerpen2nya bisa menggiring saya masuk ke dalam cerita hingga saya terkaget ketika sadar ternyata endingnya nggak seperti yang saya duga sebelumnya.

jadi ingin baca tulisannya yang lain.
Profile Image for Aryo Wasisto.
54 reviews2 followers
June 5, 2008
Cerpen Politik karya Tante Linda ini mulus. Racikan bahasa dan metode cerita yang jarang dipakai oleh sastrawan perempuan. Linda sebagaimana hadirnya Ayu Utami dalam Saman, cerpen yang patut dijadikan belajar bagi menulis fiksi Anda. Coba tengok kelihaian Linda memainkan bahasa dan plot yang diam tapi kenikmatannya sama sebagaimana mendayung sampan di lautan sajak.
Profile Image for Diana Hade.
11 reviews1 follower
December 8, 2010
yang paling saya suka adalah makan malam. saya sendiri merinding saat memonologkan cerpen ini, apalagi saat itu secara langsung di depan penulisnya sendiri, Linda Christanty. lalu makam keempat, danau, sampai akhirnya buku ini tertelan abis..

excelent^^
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
November 22, 2013
kumpulan cerpen dewasa.... uhm, maksudnya bukan jenis yg butuh kipas, tp yg temanya perlu direnungkan dan disikapi dengan pemikiran bahwa manusia dan sejarah tidak selamanya hitam putih, tp banyak sekali wilayah abu2 diantaranya. *haaiisshh* :)

favoritku: Makan Malam, Pesta Terakhir dan Joao.
Profile Image for Lina Maharani.
273 reviews15 followers
January 3, 2021
Sejumlah cerita berlandas memori yg tdk runtut menandakan bhw ingatan kita selalu acak. Begitu juga cerita² disini, ada mimpi ada protes ada keputusan ada khayalan. Gak beda jauh dgn isi kepala kita...
Profile Image for gieb.
222 reviews77 followers
March 25, 2010
Setelah semalaman menyusuri halte untuk mencari tempat tidur, akhirnya malah dapat buku ini dari seorang yang tidak dikenal yang tiba-tiba menyapa di bawah lampu pukul 2 dini hari.
Profile Image for khoer jurzani.
4 reviews1 follower
January 25, 2010
Buku kumpulan cerpen yang menjungkirbalikan paradigmaku tentang cerpen. Wajib punyai...
Profile Image for Astri.
27 reviews4 followers
October 23, 2010
Kumpulan cerpen yang mantap! Jadi berangan-angan ingin bisa menulis sebagus mbak Linda Christanty :)
Displaying 1 - 30 of 36 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.