What do you think?


Unfriend You: Masihkah Kau Temanku?
Aku adalah noda untuk dosa yang tak kulakukan.
Aku mencoba bertahan, berusaha mengerti;
mungkin ada bagian dari dirimu yang tak bisa kuraih.
Namun, yang tak kunjung kupahami,
mengapa ada persahabatan yang menyakiti?
Aku mencoba bertahan, berusaha mengerti;
mungkin ada bagian dari dirimu yang tak bisa kuraih.
Namun, yang tak kunjung kupahami,
mengapa ada persahabatan yang menyakiti?
286 pages, Paperback
First published June 1, 2013
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 66 reviews
June 8, 2013
Kenapa Goodreads nggak kayak Multiply sih, yang punya fitur half-star untuk review? Saya jadi nggak bisa ngasih 4.5, deh. >_<
Berapa banyak teenlit yang bisa bikin saya terpukau? Obviously, not much. But this one ....
Novel Unfriend You ini membuat saya larut, terhanyut, tenggelam, terseret--entah apa lagi istilahnya--sejak awal-awal halaman. Ceritanya padat--mungkin itu yang bikin buku ini unputdownable bagi saya, yang pada dasarnya menyukai cerita-cerita yang butuh mikir. Kebanyakan teenlit kan ringan banget, menye-menye pula ... wajar saya jadi nggak terlalu suka. Tapi, novel ini beda. Sangat beda. Banyak sisi psikologis karakter yang dikupas sehingga novel ini punya tingkat kompleksitas sendiri yang patut dipuji, karena sama sekali nggak bikin bosan. Sebaliknya, malah mendorong rasa penasaran untuk terus dan terus membaca sampai akhir.
Mengisahkan tentang Katrissa (suka banget sama nama ini, bagus :D), cewek yang "dulunya itik tapi bertransformasi menjadi angsa". Dia cewek yang biasa aja, nggak terlalu menarik, sering pindah-pindah sekolah karena pekerjaan papanya sehingga sering nggak punya teman. Pernah mengalami luka dalam persahabatan, makanya jadi sulit percaya sama orang. Di SMA-nya, Eglantine High School, dia tadinya juga seperti itu, sebelum dia menjadi bagian dari clique--geng--cewek paling populer se-sekolah, yang terdiri dari Aura dan Milani.
Mungkin dari uraian singkat di atas orang bakal ngira ide ceritanya pasaran. Well, barangkali ide besarnya memang umum ... tapi suwer, pengemasan novel ini bagus banget. Nggak ada kesan klise, apalagi tema spesifik yang diangkat adalah tentang bullying. Saya pernah membaca sebuah novel tentang bullying sebelumnya, walaupun penekanan tema novel tersebut bukan pada bullying-nya melainkan pada pembalasan dendamnya. Nah, kalo Unfriend You ini, penekanannya benar-benar pada bullying di sekolah, selain tentang persahabatan.
Novel ini kebanyakan ditulis dari sudut pandang Katrissa. Bukan sebagai orang pertama, melainkan sebagai orang ketiga. Jadi, pengupasan cerita novel ini kebanyakan dari segi dia--pikiran-pikirannya, perasaannya, dll. Nggak selalu Katrissa sih, pernah juga dari segi Langit dan segi Priska. Tapi hampir seluruh novel diulas dari pemikiran-pemikiran Katrissa.
Dan saya suka itu karena penggambaran karakter Katrissa ini jadi matang banget. Kita, pembaca, jadi bisa memahami betapa kompleks dilema psikologis yang dihadapinya. Hal itu membuat pembaca benar-benar bisa mengerti dan bersimpati pada Katrissa dengan berbagai persoalan yang dialaminya dengan menjadi teman Aura dan Milani: bagaimana dia harus membohongi diri sendiri, bagaimana dia harus mengikuti ritme kehidupan mereka yang bukan dirinya banget, bagaimana dia berusaha sekuat tenaga menjadi morale compass bagi kelompok kecil mereka tapi selalu kalah oleh beberapa patah kata dari Aura, bagaimana dia ingin menolong Priska tapi nggak punya keberanian untuk itu, bagaimana dia terombang-ambing dengan perasaannya sendiri, bagaimana dia berusaha menjadi seperti mereka tapi nggak bisa menyembunyikan sifat baiknya yang alami .... Kompleks banget deh pokoknya, dan itu menjadikan dia manusiawi sekali, apalagi dengan gejolak emosinya yang naik turun. Dari semua teenlit yang saya baca, Katrissa ini adalah heroine paling berkesan yang pernah saya temukan.
Untuk karakter pem-bully-nya sendiri, Aura, saya juga cukup terkesan. Di depan banyak orang dia menampakkan diri sebagai "cewek baik-baik", tapi ternyata punya sisi yang luar biasa kejamnya. Sepanjang membaca saya terus bertanya-tanya, "Kok latar belakang Aura nggak dijelasin, ya? Biar pembaca tahu alasan dia jadi pem-bully." Lalu, ketika saya sudah maklum karena novel ini kebanyakan dikisahkan dari sudut pandang Katrissa, eh ternyata pas sampai akhir-akhir, latar belakang itu diungkapkan. Saya jadi puas, nggak penasaran lagi dari mana asal-usul kekejaman Aura itu.
Dan Langit! Cowok geek yang pengin banget berteman sama Katrissa. Ya ampun, saya--entah gimana--suka banget the complex relationship of him and Katrissa. Mereka berdua dapet banget chemistry-nya (pertemuan pertama mereka manis bangeeet >_<), tapi hubungan mereka amat sangat kompleks. Sedikit-banyak bikin gregetan. Saya Ah, pokoknya saya suka banget pairing ini dan gemes sendiri karena Katrissa tarik-ulur sama dia; terombang-ambing terus antara pengin menyambut uluran pertemanannya sekaligus nggak pengin membantah Aura yang melarang dia temenan sama geek (halooo Aura, brainy is new sexy you know, and geeks are cool. Haha). Suka juga dengan sebutan Pangeran Gigi Kelinci~<3 (meskipun saya gak kebayang tuh gimana sih poni yang diikat ke belakang pake karet gelang. :P)
Untuk alur novelnya sendiri campuran; maju dan banyak diseling flashback di awal-awal. Plotnya rapi, padat, tapi mengalir meskipun cerita ini kompleks. Setting-nya sendiri oke--jelas Egan adalah sekolah elite (mungkin juga berstandar internasional) yang penuh anak-anak tajir. Mirip sekolah yang akan jadi pilihan untuk latar sinetron atau FTV sih, tapi saya rasa pilihan itu memang yang paling tepat untuk tema bullying, apalagi dengan karakter cewek populer bergaya hidup ala sosialita. Secara umum, latar dan kehidupan tokoh-tokoh di cerita ini terasa realistis dan dekat dengan keseharian sehingga mudah diikuti.
Gaya bahasanya ringan dan meremaja, sama sekali nggak sulit dicerna dan enak dibaca. Tetap ada beberapa kesalahan ketik, dan sejujurnya saya agak risih dengan penggunaan kata sapaan yang hurufnya nggak besar (mis: tante Julia, kak Gavin, dsb). ^^a Sepanjang pengetahuan saya, kata sapaan yang diikuti nama seharusnya ditulis dengan awalan kapital. Di novel ini ada sedikit inkonsistensi; terkadang tulisannya benar pakai kapital dan terkadang ada yang tidak.
Tampilan bukunya sendiri oke punya. Sejak pertama kali lihat sampulnya, saya langsung jatuh cinta, berhubung saya pecinta sesuatu yang warna-warni. Di sampulnya itu ada hasil papercraft--hobi Katrissa--berbentuk matahari yang dibuat dari kertas warna-warni. Cantik banget deh. Pewajahan isinya juga bagus banget; saya suka halaman buram dengan gambar papercraft yang ada di setiap pergantian bab~<3.
Sayang sungguh sayang, begitu buka novelnya ....
Sempat mengeluh sih awalnya, gegara font yang aduh buat mata saya kekecilan. ><;; Saya sih senang banget dengan terobosan jenis font yang beda, tapi sayang ukurannya agak terlalu kecil ... mana saya lagi dalam kondisi nggak bisa pakai kacamata pas baca. Anyway, setelah dipikir-pikir lagi, dengan font yang lebih kecil itu bukunya jadi nggak terlalu tebal dan harga pun bisa ditekan. Ya nggak? Lalu saya pun berhenti mengeluh. :P
Novel ini mengandung sangat banyak pesan moral, terutama tentang bullying dan persahabatan. Terlalu banyak sampai saya tidak mungkin mengungkapkan semuanya di sini, lebih baik Anda baca sendiri dan temukan. :D Satu hal yang jelas, setelah membaca Unfriend You, saya sangat sangat sangat bersyukur tumbuh di lingkungan sekolah yang baik, yang tidak ada bullying-nya. Walaupun saya sendiri pernah mengalami luka dalam persahabatan, saya bersyukur luka itu tidak seekstrem yang dialami Katrissa di sini. Dan terutama, untuk kedua kalinya hari ini setelah tadi nulis di blog, saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk merasakan persahabatan terindah: persahabatan berlandaskan ukhuwah. :')
Highly recommended. Bukan buat remaja saja, melainkan juga untuk para orang tua.
Berapa banyak teenlit yang bisa bikin saya terpukau? Obviously, not much. But this one ....
Novel Unfriend You ini membuat saya larut, terhanyut, tenggelam, terseret--entah apa lagi istilahnya--sejak awal-awal halaman. Ceritanya padat--mungkin itu yang bikin buku ini unputdownable bagi saya, yang pada dasarnya menyukai cerita-cerita yang butuh mikir. Kebanyakan teenlit kan ringan banget, menye-menye pula ... wajar saya jadi nggak terlalu suka. Tapi, novel ini beda. Sangat beda. Banyak sisi psikologis karakter yang dikupas sehingga novel ini punya tingkat kompleksitas sendiri yang patut dipuji, karena sama sekali nggak bikin bosan. Sebaliknya, malah mendorong rasa penasaran untuk terus dan terus membaca sampai akhir.
Mengisahkan tentang Katrissa (suka banget sama nama ini, bagus :D), cewek yang "dulunya itik tapi bertransformasi menjadi angsa". Dia cewek yang biasa aja, nggak terlalu menarik, sering pindah-pindah sekolah karena pekerjaan papanya sehingga sering nggak punya teman. Pernah mengalami luka dalam persahabatan, makanya jadi sulit percaya sama orang. Di SMA-nya, Eglantine High School, dia tadinya juga seperti itu, sebelum dia menjadi bagian dari clique--geng--cewek paling populer se-sekolah, yang terdiri dari Aura dan Milani.
Mungkin dari uraian singkat di atas orang bakal ngira ide ceritanya pasaran. Well, barangkali ide besarnya memang umum ... tapi suwer, pengemasan novel ini bagus banget. Nggak ada kesan klise, apalagi tema spesifik yang diangkat adalah tentang bullying. Saya pernah membaca sebuah novel tentang bullying sebelumnya, walaupun penekanan tema novel tersebut bukan pada bullying-nya melainkan pada pembalasan dendamnya. Nah, kalo Unfriend You ini, penekanannya benar-benar pada bullying di sekolah, selain tentang persahabatan.
Novel ini kebanyakan ditulis dari sudut pandang Katrissa. Bukan sebagai orang pertama, melainkan sebagai orang ketiga. Jadi, pengupasan cerita novel ini kebanyakan dari segi dia--pikiran-pikirannya, perasaannya, dll. Nggak selalu Katrissa sih, pernah juga dari segi Langit dan segi Priska. Tapi hampir seluruh novel diulas dari pemikiran-pemikiran Katrissa.
Dan saya suka itu karena penggambaran karakter Katrissa ini jadi matang banget. Kita, pembaca, jadi bisa memahami betapa kompleks dilema psikologis yang dihadapinya. Hal itu membuat pembaca benar-benar bisa mengerti dan bersimpati pada Katrissa dengan berbagai persoalan yang dialaminya dengan menjadi teman Aura dan Milani: bagaimana dia harus membohongi diri sendiri, bagaimana dia harus mengikuti ritme kehidupan mereka yang bukan dirinya banget, bagaimana dia berusaha sekuat tenaga menjadi morale compass bagi kelompok kecil mereka tapi selalu kalah oleh beberapa patah kata dari Aura, bagaimana dia ingin menolong Priska tapi nggak punya keberanian untuk itu, bagaimana dia terombang-ambing dengan perasaannya sendiri, bagaimana dia berusaha menjadi seperti mereka tapi nggak bisa menyembunyikan sifat baiknya yang alami .... Kompleks banget deh pokoknya, dan itu menjadikan dia manusiawi sekali, apalagi dengan gejolak emosinya yang naik turun. Dari semua teenlit yang saya baca, Katrissa ini adalah heroine paling berkesan yang pernah saya temukan.
Untuk karakter pem-bully-nya sendiri, Aura, saya juga cukup terkesan. Di depan banyak orang dia menampakkan diri sebagai "cewek baik-baik", tapi ternyata punya sisi yang luar biasa kejamnya. Sepanjang membaca saya terus bertanya-tanya, "Kok latar belakang Aura nggak dijelasin, ya? Biar pembaca tahu alasan dia jadi pem-bully." Lalu, ketika saya sudah maklum karena novel ini kebanyakan dikisahkan dari sudut pandang Katrissa, eh ternyata pas sampai akhir-akhir, latar belakang itu diungkapkan. Saya jadi puas, nggak penasaran lagi dari mana asal-usul kekejaman Aura itu.
Dan Langit! Cowok geek yang pengin banget berteman sama Katrissa. Ya ampun, saya--entah gimana--suka banget the complex relationship of him and Katrissa. Mereka berdua dapet banget chemistry-nya (pertemuan pertama mereka manis bangeeet >_<), tapi hubungan mereka amat sangat kompleks. Sedikit-banyak bikin gregetan. Saya Ah, pokoknya saya suka banget pairing ini dan gemes sendiri karena Katrissa tarik-ulur sama dia; terombang-ambing terus antara pengin menyambut uluran pertemanannya sekaligus nggak pengin membantah Aura yang melarang dia temenan sama geek (halooo Aura, brainy is new sexy you know, and geeks are cool. Haha). Suka juga dengan sebutan Pangeran Gigi Kelinci~<3 (meskipun saya gak kebayang tuh gimana sih poni yang diikat ke belakang pake karet gelang. :P)
Untuk alur novelnya sendiri campuran; maju dan banyak diseling flashback di awal-awal. Plotnya rapi, padat, tapi mengalir meskipun cerita ini kompleks. Setting-nya sendiri oke--jelas Egan adalah sekolah elite (mungkin juga berstandar internasional) yang penuh anak-anak tajir. Mirip sekolah yang akan jadi pilihan untuk latar sinetron atau FTV sih, tapi saya rasa pilihan itu memang yang paling tepat untuk tema bullying, apalagi dengan karakter cewek populer bergaya hidup ala sosialita. Secara umum, latar dan kehidupan tokoh-tokoh di cerita ini terasa realistis dan dekat dengan keseharian sehingga mudah diikuti.
Gaya bahasanya ringan dan meremaja, sama sekali nggak sulit dicerna dan enak dibaca. Tetap ada beberapa kesalahan ketik, dan sejujurnya saya agak risih dengan penggunaan kata sapaan yang hurufnya nggak besar (mis: tante Julia, kak Gavin, dsb). ^^a Sepanjang pengetahuan saya, kata sapaan yang diikuti nama seharusnya ditulis dengan awalan kapital. Di novel ini ada sedikit inkonsistensi; terkadang tulisannya benar pakai kapital dan terkadang ada yang tidak.
Tampilan bukunya sendiri oke punya. Sejak pertama kali lihat sampulnya, saya langsung jatuh cinta, berhubung saya pecinta sesuatu yang warna-warni. Di sampulnya itu ada hasil papercraft--hobi Katrissa--berbentuk matahari yang dibuat dari kertas warna-warni. Cantik banget deh. Pewajahan isinya juga bagus banget; saya suka halaman buram dengan gambar papercraft yang ada di setiap pergantian bab~<3.
Sayang sungguh sayang, begitu buka novelnya ....
Sempat mengeluh sih awalnya, gegara font yang aduh buat mata saya kekecilan. ><;; Saya sih senang banget dengan terobosan jenis font yang beda, tapi sayang ukurannya agak terlalu kecil ... mana saya lagi dalam kondisi nggak bisa pakai kacamata pas baca. Anyway, setelah dipikir-pikir lagi, dengan font yang lebih kecil itu bukunya jadi nggak terlalu tebal dan harga pun bisa ditekan. Ya nggak? Lalu saya pun berhenti mengeluh. :P
Novel ini mengandung sangat banyak pesan moral, terutama tentang bullying dan persahabatan. Terlalu banyak sampai saya tidak mungkin mengungkapkan semuanya di sini, lebih baik Anda baca sendiri dan temukan. :D Satu hal yang jelas, setelah membaca Unfriend You, saya sangat sangat sangat bersyukur tumbuh di lingkungan sekolah yang baik, yang tidak ada bullying-nya. Walaupun saya sendiri pernah mengalami luka dalam persahabatan, saya bersyukur luka itu tidak seekstrem yang dialami Katrissa di sini. Dan terutama, untuk kedua kalinya hari ini setelah tadi nulis di blog, saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk merasakan persahabatan terindah: persahabatan berlandaskan ukhuwah. :')
Highly recommended. Bukan buat remaja saja, melainkan juga untuk para orang tua.
June 25, 2013
Woaaa. 5 bintang. Aku suka ide ceritanya. Tentang kisah anak-anak sekolah dan kisah bullying. Jaman sekarang kayaknya kasus itu emang sering terjadi, walaupun memang enggak se-ekstrem itu sih.
Tentang Katrissa yang berteman dengan Aura Amanda dan Milani. Kedua teman Katrissa itu bisa dibilang cewek yang paling populer di sekolah. Namun attitude mereka ....... jangan ditanya deh.
Suatu hari sekolah mereka kedatangan murid baru bernama Priska. Aura merasa kalau Priska ingin merebut pacarnya yang bernama Jonas. Di sisi lain ternyata Katrissa menyukai Jonas. Namun karena tidak mau mengecewakan sahabatnya, Katrissa malah memutuskan untuk melupakan Jonas.
Aura bertekad untuk membuat Priska hancur. Di sisi lain Katrissa enggak tega dengan perbuatan jahat Aura, tapi Katrissa juga enggak mau kalau Aura dan Milani memusuhi dirinya.
Kelanjutan ceritanya? Baca sendiri lebih seru :p
Baca buku ini bener-bener nguras emosi banget dan kerasa banget 'kekejaman' Aura dan Milani. Aku sendiri bisa merasakan apa yang dirasakan Katrissa. Mau menolong teman yang tertindas tapi apa daya takut dimusuhin sahabatnya yang populer itu.
Seperti yang tadi aku bilang, kejadian ini sering terjadi dalam hidupku (juga teman-temanku). Dan buku ini banyak mengajarkan hal (kecuali tindakan bullying yang sangat-sangat-sangat enggak boleh ditiru).
Aku sendiri sebenernya mengharapkan ending yang benar-benar 'damai'. Tapi karena ceritanya diselesaikan begitu saja tanpa balasan dendam atau yang sejenisnya, jadi begitu deh, walaupun enggak mengurangi nilai buku ini di mataku sih :)
Oh iya poin plus-nya, covernya cakep banget. Aku suka! :)
Tentang Katrissa yang berteman dengan Aura Amanda dan Milani. Kedua teman Katrissa itu bisa dibilang cewek yang paling populer di sekolah. Namun attitude mereka ....... jangan ditanya deh.
Suatu hari sekolah mereka kedatangan murid baru bernama Priska. Aura merasa kalau Priska ingin merebut pacarnya yang bernama Jonas. Di sisi lain ternyata Katrissa menyukai Jonas. Namun karena tidak mau mengecewakan sahabatnya, Katrissa malah memutuskan untuk melupakan Jonas.
Aura bertekad untuk membuat Priska hancur. Di sisi lain Katrissa enggak tega dengan perbuatan jahat Aura, tapi Katrissa juga enggak mau kalau Aura dan Milani memusuhi dirinya.
Kelanjutan ceritanya? Baca sendiri lebih seru :p
Baca buku ini bener-bener nguras emosi banget dan kerasa banget 'kekejaman' Aura dan Milani. Aku sendiri bisa merasakan apa yang dirasakan Katrissa. Mau menolong teman yang tertindas tapi apa daya takut dimusuhin sahabatnya yang populer itu.
Seperti yang tadi aku bilang, kejadian ini sering terjadi dalam hidupku (juga teman-temanku). Dan buku ini banyak mengajarkan hal (kecuali tindakan bullying yang sangat-sangat-sangat enggak boleh ditiru).
Aku sendiri sebenernya mengharapkan ending yang benar-benar 'damai'. Tapi karena ceritanya diselesaikan begitu saja tanpa balasan dendam atau yang sejenisnya, jadi begitu deh, walaupun enggak mengurangi nilai buku ini di mataku sih :)
Oh iya poin plus-nya, covernya cakep banget. Aku suka! :)
July 8, 2013
Novel Unfriend You membawa ingatan saya pada masa kecil, ketika saya merasa sangat ciut pernah dikatain sangat buruk oleh seorang anak laki-laki yang menjadi teman sebangku saya. Hal itu masih membekas jelas dalam ingatan, meskipun tidak menimbulkan perasaan apa-apa lagi. Tapi sedikit banyak kemungkinan itu memberikan efek agak berkepanjangan bagi saya, yang kemudian menderita sindrom laten “itik buruk rupa”. Tentu itu sama halnya dengan mengalami kerugian atas hidup dengan rasa rendah diri atau kurang percaya diri (baca: tidak PeDe).
****
Kembali ke buku Unfriend You!
Begitu saya mendengar kabar bahwa penulis favorit saya melahirkan buku baru ini, saya segera ingin membacanya. Saya antusias sekali karena sebelumnya saya dibuat ketagihan dengan pengalaman membaca buku-buku yang Dyah sebelumnya, yang menurut saya keren dan cerdas. Maka saya penasaran apakah Unfriend You juga sesukses buku Dyah lainnya, membuat saya tidak bisa menaruh buku itu sebelum menuntaskan isinya. Mari kita simak..
****
Cerita berlatar belakang kehidupan pelajar SLA eksklusif di Eglantine High School atau Egan HS. Tokohnya adalah Aura Amanda yang dianggap sebagai matahari kehidupan Eglantine HS, yang dikelilingi oleh anggota lingkaran BFF (persahabatan) yang disebut clique: Milani (gadis yang orang tuanya super duper kaya), Katrissa – si itik yang ‘diubah’ menjadi angsa sejak diterima sebagai BFF oleh Aura, dan Priska – si anak baru di Eglantine HS yang dipaksa Aura melakukan test yang mengakibatkan gadis PeDe tapi disebut “bernyali tikus” melakukan percobaan bunuh diri. Ada juga Jonas – pacar Aura, yang diam-diam jadi cowok impian Katrissa dan Milani.
Aura yang mengagumkan dan anggun ternyata menyimpan dan melakukan hal luar biasa menakutkan bagi Katrissa, Milani dan Priska. Aura yang berkuasa ternyata pernah mengalami penderitaan dan siksaan dibully oleh kompetitornya di Eglantine High bernama Nevi.
****
Buku ini sarat konflik yang menegangkan, termasuk sub-konflik yang dengan rapi terjalin dan tak terpisahkan dari plot utamanya, meskipun menguraikan kisah tersendiri dalam konteksnya. Ini bisa disimak dari Bab yang berjudul “Demi Langit”, “Dahulu, Dia di Tempat Ini” dan … sebaiknya Anda baca sendiri deh!
Tokoh pendukung dalam cerita ini adalah Pangeran (ber)Gigi (seperi) kelinci a.k.a cowok geek bernama asli Langit Lazuardi. Langit inginmenjadi teman dekat Katrissa. Karena beberapa kejadian, Katrissa sebenarnya juga mau menyambut pertemanan Langit. Aura yang dengan tidak sengaja melihat gelagat ini wanti-wanti dan mengancam Katrissa agar tidak berinteraksi dengan Langit. Walhasil sikap Katrissa menjadi ambigu antara “mau berteman” dengan Langit dan “takut dipecat” Aura dari lingkaran kecil Angsa Egan HS. Sepintas ada nama Sachita (teman Katrissa saat menjadi itik), teman Katrissa yang merasa ditinggalkan demi beralih ke lingkungan Angsa.
****
Bullying yang lebih dikenal dengan istilah Bully, saat ini memang sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga.
Karakter Kuat dalam jalinan tema yang padu dan cerdas
Kekuatan utama buku Unfriend You adalah jalinan tema yang sangat padu, rapi dan pas. Alur berjalan sangat dinamis, dan ini membuat novel ini tidak memberikan kesempatan pembaca untuk mengambil jeda barang sebentar. Layaknya menonton film thriller yang setiap potongan adegannya padat makna dan cerita, begitu pula yang saya dapatkan pada novel ini.
Novel ini menggunakan Point of View — POV (baca: sudut pandang penceritaan) orang ketiga mata elang. Namun sungguh keren bahwa setiap membaca karakter yang sedang diceritakan penulis, saya seperti merasa menjadi karakter tersebut. Atau lebih tepatnya dari sudut mana pun POV dimainkan penulisnya, saya merasa menjadi karakter total dari si A, si B dan si C yang sedang dituturkannya. Selain itu, karakterisasi yang kuat membuat saya dengan persis bisa memvisualisasikan setiap tokohnya di benak saya dengan jelas. Tentu ini semakin melibatkan saya dalam setiap pergerakan kisahnya.
****
Berikut yang bisa saya catat sebagai kelebihan buku ini.
Membaca buku ini membuat saya seperti sedang mengikuti bagian kehidupan sendiri (mendadak menjadi figuran alias bagian dari skenario saking terkesannya saya pada tokohnya.
Dialognya natural sekali, mengalir seperti pembicaraan keseharian, dan ini menggambarkan cerita yang intens dan menegangkan. Sulit bagi saya menemukan kalimat terfavorit atau yang paling berkesan. Semua penting. Semua ungkapan sangat kuat menggambarkan kejadian demi kejadiannya. Gile bener.
****
Akhir kata, novel ini “penggarapannya” matang sekali. saya mulai berkhayal untuk mulai mencolek salah seorang sutradara yang mungkin berminat mengangkat kisah Unfriend You ke layar lebar.
Deskripsi detilnya pas banget. Tidak lebih, tidak kurang.
Alur ceritanya dinamis dan hidup, penuturannya disajikan bergantian dalam format kombinasi antara narasi progresif dan kilas balik (flash back).
Ini juga pujian sekaligus kejengkelan saya. Membaca sampai Bab 18 saya masih penasaran tentang apa yang akan saya temukan di Bab 19. Saat hampir selesai Bab 19, saya belum ikhlas menyadari Bab 20 adalah yag terakhir.
****
Untuk sebagian pembaca, mungkin masalah hubungan Sachita-Katrissa sepertinya kurang gambling penjelasannya. Hubungan mereka seakan gampang sekali dipulihkan karena kurangnya penggambaran tentang pertikaian antara Sachita dan Katrissa. Sebaliknya bagi saya hal itu tidak terlalu mengganggu, karena namanya juga hubungan pertemanan, tidak semua terungkapkan dengan sebab-akibat yang jelas, entah kenapa. Hal ini juga berlaku dalam konteks penggambaran mudahnya Aura menerima Katrissa sebagai BFFnya.
Saya senang buku ini tidak bernada normatif ataupun menggurui. Tidak ada adegan penyesalan dari tokoh antagonisnya (Aura). Menurut saya justru ini yang pas. Kalau ada ending Aura “bertobat” itu malah akan kedengaran klise. Alasan saya, cirikhas remaja ya sikap dan perilakunya yang serba kurang bisa ditebak.
****
Bagaimana penampilan/ kemasan Unfriend You?
Ilustrasi covernya menggoda. Saat melihatnya di antara deretan rak “Buku Baru” di toko buku, buku ini terkesan menarik dan mengundang minat saya untuk mengintip isinya. Tata letak, jenis dan warna kertas buku ini juga sesuai dengan kriteria saya dalam memilih novel: handy, apik, dan ringan dibawa-bawa meskipun halamannya cukup tebal.
Oh ya, kutipan-kutipannya juga keren, “The ones that you love the most are usually the one that hurt you the most. “-Unkown
Saya yakin buku ini akan membuat penasaran banyak pembaca remaja karena secara keseluruhan soal bullying bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Saya yang (sudah bukan) remaja sangat terbawa dengan cerita yang dikisahkan di buku ini. Saya merasa menjadi salah satu remaja yang perlu tahu bagaimana dan apa itu bully sehingga bisa menghadapinya dengan percaya diri.
****
Kebetulan anak-anak di rumah serta keponakan saya adalah remaja yang tampaknya masih perlu sekali memiliki referensi tentang hal bully dan kehidupan sosial dan di sekolah mereka. Dyah sungguh sangat pandai mewakili perasaan tokoh-tokoh remaja (urban dan kelas menengah) masa kini. Saya bahkan curiga bahwa buku ini akan cukup membuat penasaran bagi pembaca yang tingkat usianya lebih dari remaja, yaitu pemuda pada awal-awal masa kuliah (sekitar 15-20 tahunan).
Namun begitu kalau saya jadi pembaca remaja, buku ini agak “berat” karena substansi dan dialog serta plotnya serius. Maka saya akan memberi bonus rating kalau porsi humor atau hal yang membuat pembaca bisa tertawa agak lebih banyak.
Hal yang mengurangi kepuasan saya tentang kemasan buku ini adalah pemakaian huruf (font size) yang membuat mata saya bekerja keras dan berakomodasi penuh. Seandainya fontnya lebih besar sedikit saja, maka saya rasa tampilan fisik novel ini akan lebih sempurna.
Anyway, bravo Dy -- kukasih bonus satu bintang kalau ini novelmu berhasil difilmkan. :-)
Note: Resensi ini saya posting berdasarkan resensi lengkap saya di www.kompasiana.com/indriasalim
****
Kembali ke buku Unfriend You!
Begitu saya mendengar kabar bahwa penulis favorit saya melahirkan buku baru ini, saya segera ingin membacanya. Saya antusias sekali karena sebelumnya saya dibuat ketagihan dengan pengalaman membaca buku-buku yang Dyah sebelumnya, yang menurut saya keren dan cerdas. Maka saya penasaran apakah Unfriend You juga sesukses buku Dyah lainnya, membuat saya tidak bisa menaruh buku itu sebelum menuntaskan isinya. Mari kita simak..
****
Cerita berlatar belakang kehidupan pelajar SLA eksklusif di Eglantine High School atau Egan HS. Tokohnya adalah Aura Amanda yang dianggap sebagai matahari kehidupan Eglantine HS, yang dikelilingi oleh anggota lingkaran BFF (persahabatan) yang disebut clique: Milani (gadis yang orang tuanya super duper kaya), Katrissa – si itik yang ‘diubah’ menjadi angsa sejak diterima sebagai BFF oleh Aura, dan Priska – si anak baru di Eglantine HS yang dipaksa Aura melakukan test yang mengakibatkan gadis PeDe tapi disebut “bernyali tikus” melakukan percobaan bunuh diri. Ada juga Jonas – pacar Aura, yang diam-diam jadi cowok impian Katrissa dan Milani.
Aura yang mengagumkan dan anggun ternyata menyimpan dan melakukan hal luar biasa menakutkan bagi Katrissa, Milani dan Priska. Aura yang berkuasa ternyata pernah mengalami penderitaan dan siksaan dibully oleh kompetitornya di Eglantine High bernama Nevi.
****
Buku ini sarat konflik yang menegangkan, termasuk sub-konflik yang dengan rapi terjalin dan tak terpisahkan dari plot utamanya, meskipun menguraikan kisah tersendiri dalam konteksnya. Ini bisa disimak dari Bab yang berjudul “Demi Langit”, “Dahulu, Dia di Tempat Ini” dan … sebaiknya Anda baca sendiri deh!
Tokoh pendukung dalam cerita ini adalah Pangeran (ber)Gigi (seperi) kelinci a.k.a cowok geek bernama asli Langit Lazuardi. Langit inginmenjadi teman dekat Katrissa. Karena beberapa kejadian, Katrissa sebenarnya juga mau menyambut pertemanan Langit. Aura yang dengan tidak sengaja melihat gelagat ini wanti-wanti dan mengancam Katrissa agar tidak berinteraksi dengan Langit. Walhasil sikap Katrissa menjadi ambigu antara “mau berteman” dengan Langit dan “takut dipecat” Aura dari lingkaran kecil Angsa Egan HS. Sepintas ada nama Sachita (teman Katrissa saat menjadi itik), teman Katrissa yang merasa ditinggalkan demi beralih ke lingkungan Angsa.
****
Bullying yang lebih dikenal dengan istilah Bully, saat ini memang sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga.
Karakter Kuat dalam jalinan tema yang padu dan cerdas
Kekuatan utama buku Unfriend You adalah jalinan tema yang sangat padu, rapi dan pas. Alur berjalan sangat dinamis, dan ini membuat novel ini tidak memberikan kesempatan pembaca untuk mengambil jeda barang sebentar. Layaknya menonton film thriller yang setiap potongan adegannya padat makna dan cerita, begitu pula yang saya dapatkan pada novel ini.
Novel ini menggunakan Point of View — POV (baca: sudut pandang penceritaan) orang ketiga mata elang. Namun sungguh keren bahwa setiap membaca karakter yang sedang diceritakan penulis, saya seperti merasa menjadi karakter tersebut. Atau lebih tepatnya dari sudut mana pun POV dimainkan penulisnya, saya merasa menjadi karakter total dari si A, si B dan si C yang sedang dituturkannya. Selain itu, karakterisasi yang kuat membuat saya dengan persis bisa memvisualisasikan setiap tokohnya di benak saya dengan jelas. Tentu ini semakin melibatkan saya dalam setiap pergerakan kisahnya.
****
Berikut yang bisa saya catat sebagai kelebihan buku ini.
Membaca buku ini membuat saya seperti sedang mengikuti bagian kehidupan sendiri (mendadak menjadi figuran alias bagian dari skenario saking terkesannya saya pada tokohnya.
Dialognya natural sekali, mengalir seperti pembicaraan keseharian, dan ini menggambarkan cerita yang intens dan menegangkan. Sulit bagi saya menemukan kalimat terfavorit atau yang paling berkesan. Semua penting. Semua ungkapan sangat kuat menggambarkan kejadian demi kejadiannya. Gile bener.
****
Akhir kata, novel ini “penggarapannya” matang sekali. saya mulai berkhayal untuk mulai mencolek salah seorang sutradara yang mungkin berminat mengangkat kisah Unfriend You ke layar lebar.
Deskripsi detilnya pas banget. Tidak lebih, tidak kurang.
Alur ceritanya dinamis dan hidup, penuturannya disajikan bergantian dalam format kombinasi antara narasi progresif dan kilas balik (flash back).
Ini juga pujian sekaligus kejengkelan saya. Membaca sampai Bab 18 saya masih penasaran tentang apa yang akan saya temukan di Bab 19. Saat hampir selesai Bab 19, saya belum ikhlas menyadari Bab 20 adalah yag terakhir.
****
Untuk sebagian pembaca, mungkin masalah hubungan Sachita-Katrissa sepertinya kurang gambling penjelasannya. Hubungan mereka seakan gampang sekali dipulihkan karena kurangnya penggambaran tentang pertikaian antara Sachita dan Katrissa. Sebaliknya bagi saya hal itu tidak terlalu mengganggu, karena namanya juga hubungan pertemanan, tidak semua terungkapkan dengan sebab-akibat yang jelas, entah kenapa. Hal ini juga berlaku dalam konteks penggambaran mudahnya Aura menerima Katrissa sebagai BFFnya.
Saya senang buku ini tidak bernada normatif ataupun menggurui. Tidak ada adegan penyesalan dari tokoh antagonisnya (Aura). Menurut saya justru ini yang pas. Kalau ada ending Aura “bertobat” itu malah akan kedengaran klise. Alasan saya, cirikhas remaja ya sikap dan perilakunya yang serba kurang bisa ditebak.
****
Bagaimana penampilan/ kemasan Unfriend You?
Ilustrasi covernya menggoda. Saat melihatnya di antara deretan rak “Buku Baru” di toko buku, buku ini terkesan menarik dan mengundang minat saya untuk mengintip isinya. Tata letak, jenis dan warna kertas buku ini juga sesuai dengan kriteria saya dalam memilih novel: handy, apik, dan ringan dibawa-bawa meskipun halamannya cukup tebal.
Oh ya, kutipan-kutipannya juga keren, “The ones that you love the most are usually the one that hurt you the most. “-Unkown
Saya yakin buku ini akan membuat penasaran banyak pembaca remaja karena secara keseluruhan soal bullying bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Saya yang (sudah bukan) remaja sangat terbawa dengan cerita yang dikisahkan di buku ini. Saya merasa menjadi salah satu remaja yang perlu tahu bagaimana dan apa itu bully sehingga bisa menghadapinya dengan percaya diri.
****
Kebetulan anak-anak di rumah serta keponakan saya adalah remaja yang tampaknya masih perlu sekali memiliki referensi tentang hal bully dan kehidupan sosial dan di sekolah mereka. Dyah sungguh sangat pandai mewakili perasaan tokoh-tokoh remaja (urban dan kelas menengah) masa kini. Saya bahkan curiga bahwa buku ini akan cukup membuat penasaran bagi pembaca yang tingkat usianya lebih dari remaja, yaitu pemuda pada awal-awal masa kuliah (sekitar 15-20 tahunan).
Namun begitu kalau saya jadi pembaca remaja, buku ini agak “berat” karena substansi dan dialog serta plotnya serius. Maka saya akan memberi bonus rating kalau porsi humor atau hal yang membuat pembaca bisa tertawa agak lebih banyak.
Hal yang mengurangi kepuasan saya tentang kemasan buku ini adalah pemakaian huruf (font size) yang membuat mata saya bekerja keras dan berakomodasi penuh. Seandainya fontnya lebih besar sedikit saja, maka saya rasa tampilan fisik novel ini akan lebih sempurna.
Anyway, bravo Dy -- kukasih bonus satu bintang kalau ini novelmu berhasil difilmkan. :-)
Note: Resensi ini saya posting berdasarkan resensi lengkap saya di www.kompasiana.com/indriasalim
January 16, 2014
A really, really good teenager book.
Bullying adalah kasus yang sering terjadi di sekolah-sekolah. Nama yang dulu terkenal adalah 'gencet'. Kalau ada senior yang nggak suka sama adik kelas, mereka akan 'ngegencet' adik kelas tersebut, memberinya pelajaran agar hormat pada kakak kelas. Terkadang tidak ada alasan yang jelas kenapa gencet-menggencet ini terjadi. Mungkin saja hanya karena si kakak kelas iri melihat kelebihan si adik kelas. No reason, just happen.
Di novel ini, Katrissa yang adalah anak pindahan, tidak punya teman, menyukai paper craft, yang diajak bergabung dengan clique keren oleh Aura dan Milani. Awalnya Katrissa tentu merasa bangga diajak bergabung. Meskipun dia tidak mengetahui alasan Aura mengangkatnya menjadi 'dayang-dayang'nya, Katrissa tidak mempertanyakannya. Dia cukup merasa bangga dan berusaha mempertahankan posisinya dengan melakukan apapun. Karena tak ada satu pun orang yang tak ingin memiliki teman, kan?
Termasuk ketika harus mengetest kesetiaan seorang anggota baru, dengan cara mengutil di toko. Katrissa merasakan pertarungan batin saat itu, namun dia tidak bisa melawan Aura. Aura terlalu kuat, dan apa yang dilakukannya pada Priska, anggota baru clique mereka yang ingin mereka singkirkan karena Aura merasa cemburu, sungguh menakutkan. Priska bahkan sampai mencoba untuk bunuh diri karena tak tahan dengan perlakuan Aura dan Milani.
Katrissa mengambil sikap diam. Saat Aura dan Milani melancarkan aksi-aksi bullying mereka, dia hanya diam. Ketika Priska meminta bantuannya, dia hanya diam. Katrissa diam bahkan ketika Langit, cowok yang baik hati dan agak geeky itu memintanya untuk stand up and speak. Tapi Katrissa diam. Dia tak menyadari, bahwa diam saat melihat bullying adalah termasuk bullying juga. Yang diam sama buruknya dengan pelaku.
Hingga pada satu titik, Katrissa mengalami sendiri apa yang dulu dia lakukan. Semua orang diam, kala dirinya ganti menjadi korban bullying Aura. Aura yang tampak manis dari luar, berubah 100% menjadi gadis yang tak lagi dikenalnya. Aura yang dulu dia kira sahabat, berubah sadis, jahat, dan tak berprikemanusiaan, saat menuduh Katrissa mencoba merebut Jonas pacarnya. Seolah tak ada yang bisa menghentikannya untuk berbuat jahat.
Novel ini sungguh luar biasa. Saya mengangkat dua jempol untuk Dyah Rinni. Jalan ceritanya bikin penasaran, dan konfliknya terbangun dengan sangat rapi. Beberapa masih ditemukan typo (cuma sedikit sih) tapi masih bisa dimaafkan kok :) 'Coz this book is crazily good! (maksudnya Bagus gilak!) and I will definitely recommend it to my teenagers to read :)
Good job, Dee!
Bullying adalah kasus yang sering terjadi di sekolah-sekolah. Nama yang dulu terkenal adalah 'gencet'. Kalau ada senior yang nggak suka sama adik kelas, mereka akan 'ngegencet' adik kelas tersebut, memberinya pelajaran agar hormat pada kakak kelas. Terkadang tidak ada alasan yang jelas kenapa gencet-menggencet ini terjadi. Mungkin saja hanya karena si kakak kelas iri melihat kelebihan si adik kelas. No reason, just happen.
Di novel ini, Katrissa yang adalah anak pindahan, tidak punya teman, menyukai paper craft, yang diajak bergabung dengan clique keren oleh Aura dan Milani. Awalnya Katrissa tentu merasa bangga diajak bergabung. Meskipun dia tidak mengetahui alasan Aura mengangkatnya menjadi 'dayang-dayang'nya, Katrissa tidak mempertanyakannya. Dia cukup merasa bangga dan berusaha mempertahankan posisinya dengan melakukan apapun. Karena tak ada satu pun orang yang tak ingin memiliki teman, kan?
Termasuk ketika harus mengetest kesetiaan seorang anggota baru, dengan cara mengutil di toko. Katrissa merasakan pertarungan batin saat itu, namun dia tidak bisa melawan Aura. Aura terlalu kuat, dan apa yang dilakukannya pada Priska, anggota baru clique mereka yang ingin mereka singkirkan karena Aura merasa cemburu, sungguh menakutkan. Priska bahkan sampai mencoba untuk bunuh diri karena tak tahan dengan perlakuan Aura dan Milani.
Katrissa mengambil sikap diam. Saat Aura dan Milani melancarkan aksi-aksi bullying mereka, dia hanya diam. Ketika Priska meminta bantuannya, dia hanya diam. Katrissa diam bahkan ketika Langit, cowok yang baik hati dan agak geeky itu memintanya untuk stand up and speak. Tapi Katrissa diam. Dia tak menyadari, bahwa diam saat melihat bullying adalah termasuk bullying juga. Yang diam sama buruknya dengan pelaku.
Hingga pada satu titik, Katrissa mengalami sendiri apa yang dulu dia lakukan. Semua orang diam, kala dirinya ganti menjadi korban bullying Aura. Aura yang tampak manis dari luar, berubah 100% menjadi gadis yang tak lagi dikenalnya. Aura yang dulu dia kira sahabat, berubah sadis, jahat, dan tak berprikemanusiaan, saat menuduh Katrissa mencoba merebut Jonas pacarnya. Seolah tak ada yang bisa menghentikannya untuk berbuat jahat.
Novel ini sungguh luar biasa. Saya mengangkat dua jempol untuk Dyah Rinni. Jalan ceritanya bikin penasaran, dan konfliknya terbangun dengan sangat rapi. Beberapa masih ditemukan typo (cuma sedikit sih) tapi masih bisa dimaafkan kok :) 'Coz this book is crazily good! (maksudnya Bagus gilak!) and I will definitely recommend it to my teenagers to read :)
Good job, Dee!
June 29, 2014
Tentang seorang gadis yang biasa pindah-pindah sekolah gara-gara orang tuanya yang sering dipindahtugaskan ke berbagai kota sehingga membuatnya sulit memiliki teman. Disekolah barunya jadilah dia sebagai salah satu clique yang sangat populer seantero sekolah bareng Aura dan Milani. Yang tadinya dia hanya itik kemudian dirubah menjadi angsa oleh Aura. Yang belakangan diketahui ternyata Katrissa pernah menyelamatkan Aura di 'Pojok Derita' dulunya makanya dia baik dan menjadikan Katrissa sebagai salah satu gengnya, disini gak tau sih ya Aura itu udah jadi angsa terkenal atau belum, gak dijelasin juga.
Ah ya perumpamaan itik dan angsanya menarik, khas sekolah" fiksi banget sih ya, ada yang populer banget, setengah populer(?) dan gak populer sama sekali *bahasa halusnya* Tentang Aura ini saya gak terlalu ngerti apa dia orangnya setengah baik atau memang jahat banget.
Alur ceritanya maju mundur gitu, agak ribet sih ya menurutku kayak muncul tokoh sachita trus flashback ke awal pertemuan sampai kenapa hubungan mereka jadi memburuk, kemudian muncul Priska yang mirip Winda yang awalnya menjadi ketakutan bagi Katrissa ternyata gak bahaya(?) sama sekali. diceritakanlah winda yang dulu pernah jadi sahabat Katrissa kemudian nusuk dari belakang ini gak terlalu dibahas juga. Maksudnya, kita gak tau kenapa Winda mau jadi temennya Katrissa trus ujungnya malah nusuk dari belakang. Motifnya gak jelas gitu apakah dendam atau apa #eh
Tapi dibandingkan Katrissa entah kenapa Langit yang lebih menarik perhatianku. Dari pertama kemunculannya! Langit Lazuardi, ah mungkin karena ketulusan yang sudah dia tunjukkan bahkan di very first page? atau mungkin karena saya lebih tertarik sama namanya ya, entahlah. Tapi kita bisa lihat memang hampir semua tokoh dalam buku ini menggunakan nama yang kebarat-baratan.
Saya juga lebih suka memvisualisasikan tokoh Langit daripada yang lainnya, cowok geek yang memakai kacamata, tapi memiliki tubuh yang tinggi dan senyuman manis, ah apalagi saat dia mengikat poninya kebelakang haha keren! *dasar cewek* Sifatnya yang tulus dan selalu ada untuk Katrissa disaat dia masih menjadi itik dulunya sampai menjadi angsa aah pokoknya Langit ini yang paling mencuri perhatianku!
Seneng sih mbak Dyan ngambil tema bullying yang udah gak asing lagi, seengaknya semoga para teenagers yang ngebaca bisa lihat apa untung rugi dari bullying ini *tapi keknya gak ada untungnya deh*
Terkahir saya kasih bintang tiga aja ya :)
Ah ya perumpamaan itik dan angsanya menarik, khas sekolah" fiksi banget sih ya, ada yang populer banget, setengah populer(?) dan gak populer sama sekali *bahasa halusnya* Tentang Aura ini saya gak terlalu ngerti apa dia orangnya setengah baik atau memang jahat banget.
Alur ceritanya maju mundur gitu, agak ribet sih ya menurutku kayak muncul tokoh sachita trus flashback ke awal pertemuan sampai kenapa hubungan mereka jadi memburuk, kemudian muncul Priska yang mirip Winda yang awalnya menjadi ketakutan bagi Katrissa ternyata gak bahaya(?) sama sekali. diceritakanlah winda yang dulu pernah jadi sahabat Katrissa kemudian nusuk dari belakang ini gak terlalu dibahas juga. Maksudnya, kita gak tau kenapa Winda mau jadi temennya Katrissa trus ujungnya malah nusuk dari belakang. Motifnya gak jelas gitu apakah dendam atau apa #eh
Tapi dibandingkan Katrissa entah kenapa Langit yang lebih menarik perhatianku. Dari pertama kemunculannya! Langit Lazuardi, ah mungkin karena ketulusan yang sudah dia tunjukkan bahkan di very first page? atau mungkin karena saya lebih tertarik sama namanya ya, entahlah. Tapi kita bisa lihat memang hampir semua tokoh dalam buku ini menggunakan nama yang kebarat-baratan.
Saya juga lebih suka memvisualisasikan tokoh Langit daripada yang lainnya, cowok geek yang memakai kacamata, tapi memiliki tubuh yang tinggi dan senyuman manis, ah apalagi saat dia mengikat poninya kebelakang haha keren! *dasar cewek* Sifatnya yang tulus dan selalu ada untuk Katrissa disaat dia masih menjadi itik dulunya sampai menjadi angsa aah pokoknya Langit ini yang paling mencuri perhatianku!
Seneng sih mbak Dyan ngambil tema bullying yang udah gak asing lagi, seengaknya semoga para teenagers yang ngebaca bisa lihat apa untung rugi dari bullying ini *tapi keknya gak ada untungnya deh*
Terkahir saya kasih bintang tiga aja ya :)
August 19, 2013
BULLYING! Yap, bullying jadi tema novel ini. Berkisah tentang kehidupan pertemanan di Eglantine High School (EHS). Tersebutlah sang tokoh utama, Katrissa Satin, yang berteman dengan Aura Amanda, gadis populer di EHS dan Milani. Saya sebagai pembaca memandang pertemanan mereka tidaklah sehat. Kenapa? Ada sejumlah intrik di dalamnya. Kedatangan Priska, anak baru di EHS menjadi masalah besar. Awalnya Aura mengajak Priska bergabung. Namun Aura marah besar saat melihat bahwa Priska tampaknya menaruh hati pada Jonas, kekasihnya. Maka dimulailah segala bullying terhadap Priska. Katrissa yang pada dasarnya gadis yang baik sudah berkali-kali memperingatkan Aura, namun ia tidak cukup kuat melawan Aura. Hasilnya? Priska berusaha bunuh diri! Untung masih dapat diselamatkan.
Langit, salah seorang anggota klub komputer di EHS membantu menguatkan Katrissa, bahwa ia tidak boleh tinggal diam melihat apa yang dilakukan Aura. Pelan-pelan Katrissa mulai melakukan perlawanan. Namun apa yang terjadi? Katrissa menjadi korban bullying selanjutnya.
Aku merinding membaca novel ini. Bullying itu benar-benar mengerikan! Walaupun ini sebuah novel, tapi saya yakin pasti di suatu tempat hal ini benar-benar terjadi. Bullying akhir-akhir ini marak dilakukan. Aku heran, entah dari mana mereka mendapatkan kekuatan untuk bisa bertindak kejam terhadap orang lain, padahal masih pelajar.
Aku rasa novel ini harusnya dibaca banyak pelajar. Atau pihak yg berwenang di sekolah mestinya membawa novel ini ke sekolah mereka, dan membagi pengalaman Katrissa kepada pelajar. Biar mereka tahu bullying itu benar-benar tidak manusiawi dan bisa membunuh. Supaya pelajar-pelajar tahu bahwa perkataan kasar yang ditujukan untuk menyakiti sesama temannya itu juga termasuk bullying.
Baca novel ini saya merasa ikut geram pada Aura. Namun pada akhirnya justru merasa kasihan padanya. Ternyata kelakuan Aura seperti itu ada latar belakangnya. Ibunya. Ibunya sering bertindak kasar pada Aura. Perbuatan yang dilakukan Aura tak lain adalah cerminan dari perlakuan ibunya kepada Aura. Nah, poinnya penting lainnya lagi, keluarga itu berperan besar membentuk karakter anak.
Kak Dyah Rinni keren! :)
Langit, salah seorang anggota klub komputer di EHS membantu menguatkan Katrissa, bahwa ia tidak boleh tinggal diam melihat apa yang dilakukan Aura. Pelan-pelan Katrissa mulai melakukan perlawanan. Namun apa yang terjadi? Katrissa menjadi korban bullying selanjutnya.
Aku merinding membaca novel ini. Bullying itu benar-benar mengerikan! Walaupun ini sebuah novel, tapi saya yakin pasti di suatu tempat hal ini benar-benar terjadi. Bullying akhir-akhir ini marak dilakukan. Aku heran, entah dari mana mereka mendapatkan kekuatan untuk bisa bertindak kejam terhadap orang lain, padahal masih pelajar.
Aku rasa novel ini harusnya dibaca banyak pelajar. Atau pihak yg berwenang di sekolah mestinya membawa novel ini ke sekolah mereka, dan membagi pengalaman Katrissa kepada pelajar. Biar mereka tahu bullying itu benar-benar tidak manusiawi dan bisa membunuh. Supaya pelajar-pelajar tahu bahwa perkataan kasar yang ditujukan untuk menyakiti sesama temannya itu juga termasuk bullying.
Baca novel ini saya merasa ikut geram pada Aura. Namun pada akhirnya justru merasa kasihan padanya. Ternyata kelakuan Aura seperti itu ada latar belakangnya. Ibunya. Ibunya sering bertindak kasar pada Aura. Perbuatan yang dilakukan Aura tak lain adalah cerminan dari perlakuan ibunya kepada Aura. Nah, poinnya penting lainnya lagi, keluarga itu berperan besar membentuk karakter anak.
Kak Dyah Rinni keren! :)
August 20, 2013
Tadinya sama sekali gk mau beli ini,tapi berhubung gue buka web @bukabuku gtiu dan bingung mau order novel apaan lagi ya *biar sekalian gitu* jadi jatohlah pilihan gue sama novel ini..
Tentang bullying gitu di sekolah.. Ada 2 anak bernama Aura dan Melanie,bias dibilang mereka ini penguasa sekolah, ditambah Melani ini anak orang kaya yang bias berbuat seenaknya.. Mereka berteman dengan seorang anak bernama Katrissa. Awalnya pertemanan mereka biasa aja,sampai ada suatu masalah yang membuat Katrissa dibully habis-habisan oleh mereka berdua. Dari yang diteror,sampai membuat Katrissa malu. Hhhmm ya akhirnya gitu deh,kelakuan jahat mereka berdua terbongkar. Setelah itu nasib Aura dan Melani ini gk jelas. Ada yang bilang Aura pindah ke luar kota blab la bla.. Sedangkan Melani sendiri gk jelas kemana karena memang gk diceritain..
Bahasa yang dipake mengalir lancer,gk bosenin juga. Suka duka dapet dicerita ini. Senang,sedih campur jadi 1.. Tapi gk tau kenapa,ada beberapa kejadian yang jatuhnya kaya ‘sinetron’ gitu. Jadi inget sama Nia Ramadhani yang kalo main film selalu jahat gitu. Nah iya,yang gue liat Aura and Melani kaya gitu. Gue juga gk ngeliat banyak pelajaran yang bias diambil di dalam cerita ini,padahal ini tentang bullying gitu ya.. Tapi ya,gue tetep suka juga sama alur ceritanya ^^
Mungkin yang biasa suka bullying dan ‘sok’ penguasa di sekolahan gitu bias baca ini deh ya..
Tentang bullying gitu di sekolah.. Ada 2 anak bernama Aura dan Melanie,bias dibilang mereka ini penguasa sekolah, ditambah Melani ini anak orang kaya yang bias berbuat seenaknya.. Mereka berteman dengan seorang anak bernama Katrissa. Awalnya pertemanan mereka biasa aja,sampai ada suatu masalah yang membuat Katrissa dibully habis-habisan oleh mereka berdua. Dari yang diteror,sampai membuat Katrissa malu. Hhhmm ya akhirnya gitu deh,kelakuan jahat mereka berdua terbongkar. Setelah itu nasib Aura dan Melani ini gk jelas. Ada yang bilang Aura pindah ke luar kota blab la bla.. Sedangkan Melani sendiri gk jelas kemana karena memang gk diceritain..
Bahasa yang dipake mengalir lancer,gk bosenin juga. Suka duka dapet dicerita ini. Senang,sedih campur jadi 1.. Tapi gk tau kenapa,ada beberapa kejadian yang jatuhnya kaya ‘sinetron’ gitu. Jadi inget sama Nia Ramadhani yang kalo main film selalu jahat gitu. Nah iya,yang gue liat Aura and Melani kaya gitu. Gue juga gk ngeliat banyak pelajaran yang bias diambil di dalam cerita ini,padahal ini tentang bullying gitu ya.. Tapi ya,gue tetep suka juga sama alur ceritanya ^^
Mungkin yang biasa suka bullying dan ‘sok’ penguasa di sekolahan gitu bias baca ini deh ya..
July 21, 2013
Novel teenlit ini menceritakan tentang persahabatan dan issue bullying yang kental banget. Topiknya memang mengacu pada realita sih. Saya ngga tau gimana apakah memang begitu rasanya sekolah di sekolah superwaw dan mewah dengan banyak anak orang kaya di sana, yang saya tau, perbedaan kubu itu sudah pasti ada. Dan lumrah.
Hal yang menarik dari novel ini adalah penggambaran karakter Katrisa. Dari itik-angsa-itik angsa (?). Maksudnya, di akhir dia menikmati menjadi dirinya sendiri. She's still the 'it' girl i think.
Untuk Aura sendiri... gimana ya. Dia digambarkannya misterius dan bisa berubah sifat gitu. Dia terlihat baik sama Katrisa dan mau dengerin omongan Katrisa tapi di satu sisi she doesnt even give a care to her. Melihat masa lalunya malah makin aneh. Dia punya hutang budi sama Katrisa, tapi pada akhirnya dia kayak kacang lupa kulitnya gitu. (Maksudnya dia lupa dulu dia seperti apa)
Yah, tapi karena semua permasalahan ini berawal dari cowok... mungkin masih ada penjelasan.
Seandainya karakter Aura bisa dijelaskan lebih rinci lagi, khususnya bagian masa lalunya.
Terlepas dari itu, buku ini bagus banget dalam memberikan pesan moral. Apalagi tentang persahabatan :)
Satu lagi, kehadiran Langit semakin mempermanis keseluruhan buku ini.
Hal yang menarik dari novel ini adalah penggambaran karakter Katrisa. Dari itik-angsa-itik angsa (?). Maksudnya, di akhir dia menikmati menjadi dirinya sendiri. She's still the 'it' girl i think.
Untuk Aura sendiri... gimana ya. Dia digambarkannya misterius dan bisa berubah sifat gitu. Dia terlihat baik sama Katrisa dan mau dengerin omongan Katrisa tapi di satu sisi she doesnt even give a care to her. Melihat masa lalunya malah makin aneh. Dia punya hutang budi sama Katrisa, tapi pada akhirnya dia kayak kacang lupa kulitnya gitu. (Maksudnya dia lupa dulu dia seperti apa)
Yah, tapi karena semua permasalahan ini berawal dari cowok... mungkin masih ada penjelasan.
Seandainya karakter Aura bisa dijelaskan lebih rinci lagi, khususnya bagian masa lalunya.
Terlepas dari itu, buku ini bagus banget dalam memberikan pesan moral. Apalagi tentang persahabatan :)
Satu lagi, kehadiran Langit semakin mempermanis keseluruhan buku ini.
January 5, 2014
Unfriend You, saya dapat buku ini gratisan dari even #unforgetTEN nya GagasMedia :D alhamdulillah! Udah beberapa bulan lalu dan baru tamat beberapa hari belakangan.
Dari segi setting, tokoh dan semua-muanya, pembaca diajak untuk merasakan atmosfer Eglantin High, sekolah internasional yang you-know-what penuh aksi pembully-an. Dari segi cara pembully-an, buku ini mengingatkan saya pada sinetron-sinetron Indonesia di TV sebelah.
Tapi, pada dasarnya buku ini mempunyai pesan yaitu aksi kita terhadap pembully-an yang mungkin marak terjadi.
Penulis cukup bisa membuat saya penasaran dengan jalan cerita selanjutnya, bisa dibilang dengan membaca buku ini seperti saya sedang menyaksikan serial TV luar negeri.
Yeah, I liked it mbak Dyah Rinni. 3/5 stars! and 10 thumbs up buat pesan inspiratif mengenai pembully-an. Membuat kita sadar kalau melihat dan diam saja juga nggak akan menghentikan aksi bully. Jadi, stop bullying! We all are equal, right?
Dari segi setting, tokoh dan semua-muanya, pembaca diajak untuk merasakan atmosfer Eglantin High, sekolah internasional yang you-know-what penuh aksi pembully-an. Dari segi cara pembully-an, buku ini mengingatkan saya pada sinetron-sinetron Indonesia di TV sebelah.
Tapi, pada dasarnya buku ini mempunyai pesan yaitu aksi kita terhadap pembully-an yang mungkin marak terjadi.
Penulis cukup bisa membuat saya penasaran dengan jalan cerita selanjutnya, bisa dibilang dengan membaca buku ini seperti saya sedang menyaksikan serial TV luar negeri.
Yeah, I liked it mbak Dyah Rinni. 3/5 stars! and 10 thumbs up buat pesan inspiratif mengenai pembully-an. Membuat kita sadar kalau melihat dan diam saja juga nggak akan menghentikan aksi bully. Jadi, stop bullying! We all are equal, right?
August 18, 2013
Dua kata deh buat novel ini. Suka. Keren. Mb Dyah berhasil meramu konflik yang utuh, klimaks dan penyelesaian yang oke. Pesannya nyampe banget, ada tentang persahabatan, keluarga, cinta, pokoknya cocok banget buat bacaan remaja. Aku sempat terharu pas menjelang akhir. Tokoh-tokohnya punya karakter yang kuat dan alasan yang logis kenapa dia ngelakuin hal-hal itu.
Meskipun ada beberapa bagian yang sempat bikin aku bertanya, seperti: kenapa Aura bisa menjadi populer dan bebas dari Nevi. Dan Milani yang sangat mengerti Fashion tapi malah tidak tahu memadu-padankan dress dengan bentuk tubuhnya. Tapi itu semua nggak ganggu kenyamanan baca dan nggak terlalu penting.
5/5 stars untuk bacaan menyenangkan ini. Aku jadi nungguin banget karya Mb Dyah Rinni yang bakal terbit lagi di Gagas, yang menang kompetisi kalau gak salah judulnya 'Hello Liar.' :)
Meskipun ada beberapa bagian yang sempat bikin aku bertanya, seperti: kenapa Aura bisa menjadi populer dan bebas dari Nevi. Dan Milani yang sangat mengerti Fashion tapi malah tidak tahu memadu-padankan dress dengan bentuk tubuhnya. Tapi itu semua nggak ganggu kenyamanan baca dan nggak terlalu penting.
5/5 stars untuk bacaan menyenangkan ini. Aku jadi nungguin banget karya Mb Dyah Rinni yang bakal terbit lagi di Gagas, yang menang kompetisi kalau gak salah judulnya 'Hello Liar.' :)
February 5, 2014
Saya kasih bintang empat karena beberapa hal
1. Saya ga suka sama blurbnya huhuhu tidak ada penjelasan untuk isi certa untungnya saya kenal sama yang nulis dan pernah baca buku pertaa kisah Dru dan Aruna jadi yakin aja sama buku ini.
2. Nama sekolah yang kebarat-baratan, enggak ada alasan khusus cuma ga suka aja.
Novel ini sendiri istimewa kenapa? Karena di tengah maraknya teenlith yang penuh cinta-cinta novel tema bullying yang tampaknya lagi marak-maraknya di dunia pergaulan remaja. Semoga diantara kita ga ada Priska yang lemah dan Aura yang memanfaatkan kelemahan Priska yah..
Yang pasti kalau punya anak remaja saya pasti suruhh baca novel ini karena yah terkadang yang remaja butuhkan bukan hanya soal cinta dan cinta saja tetapi bagaimana bergaul dengan teman-temannya tanpa bullying..
Sukses buat penulisnya
1. Saya ga suka sama blurbnya huhuhu tidak ada penjelasan untuk isi certa untungnya saya kenal sama yang nulis dan pernah baca buku pertaa kisah Dru dan Aruna jadi yakin aja sama buku ini.
2. Nama sekolah yang kebarat-baratan, enggak ada alasan khusus cuma ga suka aja.
Novel ini sendiri istimewa kenapa? Karena di tengah maraknya teenlith yang penuh cinta-cinta novel tema bullying yang tampaknya lagi marak-maraknya di dunia pergaulan remaja. Semoga diantara kita ga ada Priska yang lemah dan Aura yang memanfaatkan kelemahan Priska yah..
Yang pasti kalau punya anak remaja saya pasti suruhh baca novel ini karena yah terkadang yang remaja butuhkan bukan hanya soal cinta dan cinta saja tetapi bagaimana bergaul dengan teman-temannya tanpa bullying..
Sukses buat penulisnya
January 1, 2014
*setelah after rain yang gue rusak, giliran cover buku ini yang kena basah* -sungkem sama seseorang- abis gue baca secara mendalam, terinci, fokus *padahal wkt itu lg galau* #alah dan hasilnya..... KEREN !!! dengan satu kata itu aja gue dah bisa mendeskripsikan novel ini. Jujur sebenernya di awal cerita gue mikir kalo "hadeuhhhh... Another school dramatic story, basi !!!" Diawal emang agak flat si dengan bayangan cerita satu FTV indonesia yang lebay tapi karena si penulis pake gaya bahasa yang nyantai dan alur yang bisa ditangkep sama pembaca bikin novel satu ini pantes bngt buat dibaca semua orang khususnya teenagers. Tema yang diangkat jadi inti klimaks cerita. Good job mba dyah *keep writing* :)
August 1, 2013
Secara garis besar, pihak-pihak dalam bullying terbagi jadi 3: Pelaku, Korban, dan Penonton. Penonton adalah orang yang tahu terjadinya bullying namun tidak berbuat apa-apa. Dan penonton ini yang jumlahnya paling banyak. Nah, cerita ini mengangkat peristiwa bullying dari sisi Penonton, berusaha mengajak agar pembaca tidak hanya menjadi penonton namun berani bertindak untuk menjadi Penghenti.
Such a nice story.
Walau masih ada pertanyaan di otak gue: "Emang anak-anak sekolah jaman sekarang segitu begonya ya?"
Full review:
http://readinginthemorning.blogspot.c...
Such a nice story.
Walau masih ada pertanyaan di otak gue: "Emang anak-anak sekolah jaman sekarang segitu begonya ya?"
Full review:
http://readinginthemorning.blogspot.c...
August 13, 2013
Satu lagi novel terbitan Gagas yang menjadi favorite saya yaitu novel ini. XD Ah bingung mau ngeriview apa yang jelas benar-benar suka sama tema yang diangkat kedalam novel ini. Tidak melulu soal cinta. Sangat suka saat membayangkan "Pangeran gigi kelinci (Langit Lazuardi)" benar-benar suka sama karakternya. XD kerenlah novelnya. Nggak nyesal baca. X) ditunggu novel selanjutnya~
December 31, 2015
"Aku adalah noda untuk dosa yang tak kulakukan.
Aku mencoba bertahan, berusaha mengerti;
mungkin ada bagian dari dirimu yang tak bisa kuraih.
Namun, yang tak kunjung kupahami,
mengapa ada persahabatan yang menyakiti?" seenggaknya secuil part yang agak bapering
Aku mencoba bertahan, berusaha mengerti;
mungkin ada bagian dari dirimu yang tak bisa kuraih.
Namun, yang tak kunjung kupahami,
mengapa ada persahabatan yang menyakiti?" seenggaknya secuil part yang agak bapering
July 15, 2016
Well this one hit close to home.
June 8, 2013
review lengkap http://kubikelromance.blogspot.com/20...
Akhir-akhir ini saya kerap mendengar dan melihat berita tentang bullying, bahkan sampai memakan korban. Walau nggak melihat langsung, ada teman yang bercerita kalau ada pasien anak kecil yang wajahnya dibakar sama teman sekolahnya, miris banget dengernya, gimana dengan masa depannya? Lalu berita yang sedang hangat kemarin, kakak kelas memukul adik kelasnya sampai meninggal, padahal hanya melakukan kesalahan kecil yaitu menjatuhkan makanannya, itu pun sudah minta maaf dan mengantinya. Dan semua itu dilakukan oleh anak SD, gimana besarnya nanti? Saya merasa anak jaman sekarang berbeda sekali dengan anak jaman dulu, dewasa sebelum waktunya, kasar dan tak berperasaan, saya setuju kalau pendidikan SD harusnya lebih menguatkan nilai moral dan pendidikan agama, itu pondasi penting untuk membentuk sifat anak, bukannya dijejali dengan mata pelajaran yang sangat rumit.
Bukan sekali ini saya membaca buku bertema tentang bullying namun tetap saja menarik untuk dibaca, memahami dan mengenal lebih dalam akan isu yang kerap menyerang kaum remaja ini, bahkan bisa siapa saja. Bedanya, penulis memilih menceritakan dari segi penonton, cukup jarang karena biasanya dari si korban.
Tokoh utama buku ini adalah Katrissa, dia bagian clique-nya Aura dan Milani, dua orang paling ngetop di Eglantine High. Dulunya Katrissa adalah murid cupu, nggak ngetop sama sekali dan nggak punya teman, makanya dia seneng banget ketika Aura mengajaknya bergabung dan bermetamorfosis menjadi gadis jelita, dia mulai meninggalkan hobby papercraft dan teman-teman lamanya, Katrissa merasa dianggap, dan Aura nggak suka kalau Katrissa berteman dengan orang-orang geek. Sampai Priska datang. Priska yang sangat pede, cantik membuat Katrissa takut kalau posisinya nanti digantikan oleh dia. Priska menginggatkannya pada seorang teman yang dulu menghianatinya, merebut apa yang dia sayang, dia tidak ingin keluar dari cliquenya Aura, kalau dia terdepak artinya dia tidak akan punya teman.
Priska sendiri anak pindahan, orangtuanya bercerai dan di Jakarta dia diasuh oleh bibinya. Perangainya yang ceria dan penampilan yang menarik memudahkannya akrab dengan orang lain, tidak susah untuk masuk ke cliquenya Aura. Milani pun sebenarnya tidak suka dengan Priska, dia terlalu menonjol, Aura baru menyadari ketika Priska flirting dengan Jonas, pacarnya, membuat dia gerah dan harus menguji apakah dia pantas ikut dengan clique mereka. Memakai pakaian yang tidak pantas ke sekolah, membuatkan tugas bahkan sampai mengutil adalah ujian yang harus dijalani oleh Priska. Dan yang paling parah, Aura menyuruhnya untuk mati saja.
Katrissa tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Priska, dia sudah membujuk Aura agar jangan diteruskan tapi ancaman dialah target berikutnya membuat nyali Katrissa mengecil, dia memilih mundur, terpaksa membantu Aura melancarkan perbuatannya, mencari selamat, dan menjadi penonton. Hal yang sangat disayangkan oleh Langit, teman Katrissa yang juga pernah menjadi korban bullying. Membuat Katrissa berulang kali memikirkan langkah apa yang akan dia ambil, apakah menjadi penonton yang tega melihat penderitaan orang lain? atau menjadi penyelamat yang bisa menjadikan dia korban bullying selanjutnya?
Kata-kata bisa menyakitkan. Kata-kata bisa menghancurkan sahabat kita. Gosip, ejekan, panggilan nama jelek, pengucilan bisa mengirimkan sahabatmu ke palung derita yang paling dalam. Kita tidak pernah menyadarinya. dan saat sadar, kita telah kehilangan sahabat kita dan berteman dengan penyesalan.
Tetapi kata-kata juga bisa menyembuhkan. Kata-kata bisa menghentikan semua bullying ini. Pelukan bisa menguatkan dan senyum bisa membuat hidup semua orang menjadi lebih baik.
Poin plus untuk penulis adalah dia cukup detail menggambarkan isu bullying dan terkesan realistis, baik dari segi pelaku, korban dan penonton. Kenapa seseorang bisa menjadi pembully? Orang seperti apa yang biasanya dibully? Kenapa orang yang melihat perbuatan seperti itu berdiam diri saja? Kita bisa melihatnya dari background karakter Aura, Katrissa, Priska dan Langit.
Aura yang merasa superior, begitu disentil sedikit saja langsung ingin melenyapkan pelakunya. Saya belum pernah menemui orang seperti Aura secara langsung, keren sih ada tapi yang mempunyai sifat seperti dia belum pernah. Apakah orang seperti Aura ini sering ditemui di sekolah-sekolah bertaraf Internasional yang kalau makan di kantin punya meja pribadi dan di sekolah yang tiap jumat pakai baju bebas? Karena saya sering menemui di kebanyakan novel yang bersetting di sekolah beken, bahwa orang seperti Aura inilah yang sering muncul jadi si jahat atau si kakak kelas yang merasa berkuasa. Yah, mungkin sifat superior inilah yang menjadikan mereka tanpa kenal rasa takut dan tega berbuat keji pada yang lemah, tentunya ditambah tidak adanya rasa empati dan latar belakang kehidupan pribadi si pelaku juga, penulis tidak semata-mata menunjukkan sisi gelap Aura tapi juga sebab kenapa dia bisa seperti itu.
Untuk Katrissa, saya rasa penulis cukup sukses menggambarkan dirinya, peralihan dari si penonton menjadi si korban juga tidak tergesa-gesa, saya bisa merasakan kenapa dia sangat takut tidak punya teman yang menjadi dasar dia tidak ingin lepas dari clique-nya Aura sampai merasa kalau Aura berubah dan tindakannya sudah kelewat batas. Perasaan galau pasti ada, ada akibat yang perlu dipertimbangkan Katrissa untuk mengambil keputusan yang tepat. Langkah yang dipilih Langit pun saya rasa juga realistis, yang hanya bisa dilakukannya adalah selalu menemani dan memberi dukungan, menguatkan, membuat si korban berani mengadukan perbuatan kepada pihak yang seharusnya menjadi pengawas, dalam hal ini para guru dan orangtua.
Endingnya juga memuaskan bagi saya, semua masalah terselesaiakan sebagaiamana mestinya, walau banyak tokoh yang bermunculan fokus penulis tetap pada Katrissa, porsi para pemeran pendukung tidak berlebihan. Pengennya porsi Langit di perbanyak, ahahaha. Tapi kalau ditanya siapa karakter yang paling nyebelin maka saya menjawab, Jonas! Plin plan banget orangnya, entah penulis kecolongan atau emang dibuat seperti itu rasanya Jonas menaruh perhatian pada Katrissa tapi di bagian lain dia tertarik pada Priska, padahal dia tahu Priska orangnya seperti apa, yah intinya nggak konsisten dan nggak gentle, begitu Priska dan Katrissa di bully dia malah diam saja dan tidak mau terlibat padahal masalah kan munculnya dari dia. Kekurangan lain menurut saya adalah ketika flashback ke masa lalu Katrissa, penulis melakukannya kurang mulus, saya sempat bingung dengan alur cerita dan bahkan mengulangi membaca karena bingung, ceritanya kok tiba-tiba berubah, dan inginnya penulis lebih detail membahas tentang papercraft, keren loh keahlian itu :)
Teman tidak saling melukai. Teman saling menghormati, mencintai, menghargai. Hentikan sebelum terlambat. Tidak ada yang berhak hidup dalam luka. Tidak juga kamu atau pun kita semua.
Mengadukan perbuatan jahat bukanlah tindakan pengecut, kita bisa mencegah munculnya penjahat baru, bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Bullying adalah salah satu kejahatan yang cukup serius, sama halnya dengan pelecehan seksual terhadap anak kecil atau bahkan pembunuhan. Bullying menyakiti dari segi fisik dan psikis, bisa menyebabkan trauma yang mendalam, bisa merusak masa depan seseorang. Menurut saya, pesan inilah yang ingin disampaikan oleh penulis.
Buku ini saya rekomendasikan untuk siapa saya, khususnya bagi remaja dan Stop Bullying!
3.5 sayap untuk papercraft.
Akhir-akhir ini saya kerap mendengar dan melihat berita tentang bullying, bahkan sampai memakan korban. Walau nggak melihat langsung, ada teman yang bercerita kalau ada pasien anak kecil yang wajahnya dibakar sama teman sekolahnya, miris banget dengernya, gimana dengan masa depannya? Lalu berita yang sedang hangat kemarin, kakak kelas memukul adik kelasnya sampai meninggal, padahal hanya melakukan kesalahan kecil yaitu menjatuhkan makanannya, itu pun sudah minta maaf dan mengantinya. Dan semua itu dilakukan oleh anak SD, gimana besarnya nanti? Saya merasa anak jaman sekarang berbeda sekali dengan anak jaman dulu, dewasa sebelum waktunya, kasar dan tak berperasaan, saya setuju kalau pendidikan SD harusnya lebih menguatkan nilai moral dan pendidikan agama, itu pondasi penting untuk membentuk sifat anak, bukannya dijejali dengan mata pelajaran yang sangat rumit.
Bukan sekali ini saya membaca buku bertema tentang bullying namun tetap saja menarik untuk dibaca, memahami dan mengenal lebih dalam akan isu yang kerap menyerang kaum remaja ini, bahkan bisa siapa saja. Bedanya, penulis memilih menceritakan dari segi penonton, cukup jarang karena biasanya dari si korban.
Tokoh utama buku ini adalah Katrissa, dia bagian clique-nya Aura dan Milani, dua orang paling ngetop di Eglantine High. Dulunya Katrissa adalah murid cupu, nggak ngetop sama sekali dan nggak punya teman, makanya dia seneng banget ketika Aura mengajaknya bergabung dan bermetamorfosis menjadi gadis jelita, dia mulai meninggalkan hobby papercraft dan teman-teman lamanya, Katrissa merasa dianggap, dan Aura nggak suka kalau Katrissa berteman dengan orang-orang geek. Sampai Priska datang. Priska yang sangat pede, cantik membuat Katrissa takut kalau posisinya nanti digantikan oleh dia. Priska menginggatkannya pada seorang teman yang dulu menghianatinya, merebut apa yang dia sayang, dia tidak ingin keluar dari cliquenya Aura, kalau dia terdepak artinya dia tidak akan punya teman.
Priska sendiri anak pindahan, orangtuanya bercerai dan di Jakarta dia diasuh oleh bibinya. Perangainya yang ceria dan penampilan yang menarik memudahkannya akrab dengan orang lain, tidak susah untuk masuk ke cliquenya Aura. Milani pun sebenarnya tidak suka dengan Priska, dia terlalu menonjol, Aura baru menyadari ketika Priska flirting dengan Jonas, pacarnya, membuat dia gerah dan harus menguji apakah dia pantas ikut dengan clique mereka. Memakai pakaian yang tidak pantas ke sekolah, membuatkan tugas bahkan sampai mengutil adalah ujian yang harus dijalani oleh Priska. Dan yang paling parah, Aura menyuruhnya untuk mati saja.
Katrissa tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Priska, dia sudah membujuk Aura agar jangan diteruskan tapi ancaman dialah target berikutnya membuat nyali Katrissa mengecil, dia memilih mundur, terpaksa membantu Aura melancarkan perbuatannya, mencari selamat, dan menjadi penonton. Hal yang sangat disayangkan oleh Langit, teman Katrissa yang juga pernah menjadi korban bullying. Membuat Katrissa berulang kali memikirkan langkah apa yang akan dia ambil, apakah menjadi penonton yang tega melihat penderitaan orang lain? atau menjadi penyelamat yang bisa menjadikan dia korban bullying selanjutnya?
Kata-kata bisa menyakitkan. Kata-kata bisa menghancurkan sahabat kita. Gosip, ejekan, panggilan nama jelek, pengucilan bisa mengirimkan sahabatmu ke palung derita yang paling dalam. Kita tidak pernah menyadarinya. dan saat sadar, kita telah kehilangan sahabat kita dan berteman dengan penyesalan.
Tetapi kata-kata juga bisa menyembuhkan. Kata-kata bisa menghentikan semua bullying ini. Pelukan bisa menguatkan dan senyum bisa membuat hidup semua orang menjadi lebih baik.
Poin plus untuk penulis adalah dia cukup detail menggambarkan isu bullying dan terkesan realistis, baik dari segi pelaku, korban dan penonton. Kenapa seseorang bisa menjadi pembully? Orang seperti apa yang biasanya dibully? Kenapa orang yang melihat perbuatan seperti itu berdiam diri saja? Kita bisa melihatnya dari background karakter Aura, Katrissa, Priska dan Langit.
Aura yang merasa superior, begitu disentil sedikit saja langsung ingin melenyapkan pelakunya. Saya belum pernah menemui orang seperti Aura secara langsung, keren sih ada tapi yang mempunyai sifat seperti dia belum pernah. Apakah orang seperti Aura ini sering ditemui di sekolah-sekolah bertaraf Internasional yang kalau makan di kantin punya meja pribadi dan di sekolah yang tiap jumat pakai baju bebas? Karena saya sering menemui di kebanyakan novel yang bersetting di sekolah beken, bahwa orang seperti Aura inilah yang sering muncul jadi si jahat atau si kakak kelas yang merasa berkuasa. Yah, mungkin sifat superior inilah yang menjadikan mereka tanpa kenal rasa takut dan tega berbuat keji pada yang lemah, tentunya ditambah tidak adanya rasa empati dan latar belakang kehidupan pribadi si pelaku juga, penulis tidak semata-mata menunjukkan sisi gelap Aura tapi juga sebab kenapa dia bisa seperti itu.
Untuk Katrissa, saya rasa penulis cukup sukses menggambarkan dirinya, peralihan dari si penonton menjadi si korban juga tidak tergesa-gesa, saya bisa merasakan kenapa dia sangat takut tidak punya teman yang menjadi dasar dia tidak ingin lepas dari clique-nya Aura sampai merasa kalau Aura berubah dan tindakannya sudah kelewat batas. Perasaan galau pasti ada, ada akibat yang perlu dipertimbangkan Katrissa untuk mengambil keputusan yang tepat. Langkah yang dipilih Langit pun saya rasa juga realistis, yang hanya bisa dilakukannya adalah selalu menemani dan memberi dukungan, menguatkan, membuat si korban berani mengadukan perbuatan kepada pihak yang seharusnya menjadi pengawas, dalam hal ini para guru dan orangtua.
Endingnya juga memuaskan bagi saya, semua masalah terselesaiakan sebagaiamana mestinya, walau banyak tokoh yang bermunculan fokus penulis tetap pada Katrissa, porsi para pemeran pendukung tidak berlebihan. Pengennya porsi Langit di perbanyak, ahahaha. Tapi kalau ditanya siapa karakter yang paling nyebelin maka saya menjawab, Jonas! Plin plan banget orangnya, entah penulis kecolongan atau emang dibuat seperti itu rasanya Jonas menaruh perhatian pada Katrissa tapi di bagian lain dia tertarik pada Priska, padahal dia tahu Priska orangnya seperti apa, yah intinya nggak konsisten dan nggak gentle, begitu Priska dan Katrissa di bully dia malah diam saja dan tidak mau terlibat padahal masalah kan munculnya dari dia. Kekurangan lain menurut saya adalah ketika flashback ke masa lalu Katrissa, penulis melakukannya kurang mulus, saya sempat bingung dengan alur cerita dan bahkan mengulangi membaca karena bingung, ceritanya kok tiba-tiba berubah, dan inginnya penulis lebih detail membahas tentang papercraft, keren loh keahlian itu :)
Teman tidak saling melukai. Teman saling menghormati, mencintai, menghargai. Hentikan sebelum terlambat. Tidak ada yang berhak hidup dalam luka. Tidak juga kamu atau pun kita semua.
Mengadukan perbuatan jahat bukanlah tindakan pengecut, kita bisa mencegah munculnya penjahat baru, bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Bullying adalah salah satu kejahatan yang cukup serius, sama halnya dengan pelecehan seksual terhadap anak kecil atau bahkan pembunuhan. Bullying menyakiti dari segi fisik dan psikis, bisa menyebabkan trauma yang mendalam, bisa merusak masa depan seseorang. Menurut saya, pesan inilah yang ingin disampaikan oleh penulis.
Buku ini saya rekomendasikan untuk siapa saya, khususnya bagi remaja dan Stop Bullying!
3.5 sayap untuk papercraft.
March 5, 2014
4/5 stars.
~~~~~~~~
Kovernya unyu gilak yaa ehm.__. Cukup susah untuk beli buku ini, karena kota tempat tinggalku Gramed-nya udah gak jual buku ini lagi, jadi waktu ketemu buku ini langsung kusamber aja :) Apalagi setelah ngeliat review review bagus di Goodreads. :D
~~~~~~~~
Katrissa adalah itik yang tiba-tiba saja dijadikan angsa oleh cewek terpopuler di Egan High School, Aura. Bertiga, Katrissa, Aura, dan Melani menjalankan hari-hari mereka sebagai geng populer di Egan. Hingga pada suatu hari datanglah murid baru bernama Priska yang berusaha berteman dengan Aura dkk.
Dari awal pun Katrissa merasa kedatangan Priska sebagai sesuatu yang salah. Priska mengingatkannya kepada salah seorang sahabatnya yang dulu pernah mengkhianatinya. Sampai sekarang pun ia tidak pernah mempercayai orang. Banyak orang yang dianggapnya teman, namun balik memusuhinya. Tidak, dia tidak ingin itu terjadi.
Hingga tiba saatnya ketika Aura melihat Priska mendekati Jonas, pacar Aura. Akhirnya, Aura meminta Priska 'memetik bunga' yaitu mengutil di sebuah toko yang baru buka tanpa CCTV. Katrissa cukup shock mendengar Aura berminat melakukannya lagi, dan berdasarkan pengalaman Katrissa, ia harus mengutil lagi. Di toko itu, tugas Katrissa adalah mengalihkan perhatian sang penjaga toko, sementara teman-temannya akan melakukan aksi mereka. Sayangnya, sang penjaga toko adalah Langit, cowok itik di kalangan Egan, yang pernah menyelamatkan Katrissa dulu, dan hampir saja Katrissa melupakan dan mengacaukan aksi memetik bunga mereka. Setelah situasinya diselamatkan oleh Aura, mereka segera mengutil. Namun ternyata Priska tidak mengutil. Dan malah Priska makin dekat dengan Jonas.
Dimulailah hari-hari Priska ditindas besar-besaran oleh satu sekolah, yang didalangi oleh Aura, tentunya. Semua orang merasa itu hal yang pantas didapatkan oleh Priska. Kata-kata ejekkan, makian, dan semuanya adalah makanan sehari-hari Priska.
Sedangkan Katrissa hanya berdiam saja. Dia berada di tengah-tengahnya, dan ia harus bisa memutuskan sisi mana yang akan ia ambil. Membela Priska, dan menjadi bahan olok-olokkan satu sekolah, dengan konsekuensi ia tidak lagi memiliki teman, sendirian melawan geng Aura. Atau sebaliknya, ia bisa saja diam dibelakang Aura dan tidak melakukan apapun.
Katrissa memutuskan untuk diam saja. Untuk menjadi penonton saja. Namun, gimana cara menjelaskan perasaan bersalah yang menumpuk di hatinya?
~~~~~~~~
*Merinding* brr.. ini buku keren banget deh! :D Buku yang bertemakan friendship dan bullying itu jarangg banget. Apalagi kalo liat novel romance Indo yang sukanya lebaii beut. *hufft. Temanya adalah tentang bullying di kalangan remaja. Jaman sekarang sih bullyingnya udah engga fisik, tapi lebih ke verbal ya, jadinya lebih ke omongan, kayak gosip, fitnah, de el el.
Alur ceritanya agak maju mundur. Awalnya diceritakan dia 'tiba-tiba' masuk ke geng Aura tanpa ba-bi-bu. Ternyata ada cerita kelam yang membuat Aura memasukkan Katrissa ke geng-nya. Lalu konfliknya adalah ketika Priska udah main mata ama si Jonas, padahal si Katrissa sendiri pun suka ama Jonas, walaupun Katrissa terpaksa membunuh perasaannya demi persahabatannya dengan Aura. Lalu ditutup dengan ending yang membuatku puas sekali. :)
Aku suka banget cara Dyah Rinni menuliskan cerita ini. Mengalir dengan lancar, begitu meyayat emosi. Sampe aku pun bisa merasakan betapa frustasinya menjadi korban bullying. Karakternya pun digambarkan dengan sangat baik, semuanya ada dalam porsi yang pas sekali. Walaupun agak kurang simpati ketika Katrissa yang jadi korban bullying. Hemm, gatau deh, kurang ngena aja waktu Katrissa yang jadi mangsa Aura dkk.
Bukunya bagus banget untuk para remaja diluar sana. Mengajarkan kita untuk menjadari bahwa bullying itu tidak hanya berdampak pada korbannya, namun juga pelakunya. Dan pelakunya pun melakukan hal tersebut karena biasanya adalah dendam, karena perlakuan sama yang telah ia dapat. :) Kamu pun pasti simpati terhadap Aura kalau melihat dari sudut pandang Aura :D
~~~~~~~~
Raisaaputri<3
~~~~~~~~
Kovernya unyu gilak yaa ehm.__. Cukup susah untuk beli buku ini, karena kota tempat tinggalku Gramed-nya udah gak jual buku ini lagi, jadi waktu ketemu buku ini langsung kusamber aja :) Apalagi setelah ngeliat review review bagus di Goodreads. :D
~~~~~~~~
Sekilas fakta, tahun lalu Katrinssa adalah si Itik Nerdy: berkacamata, yaris tidak punya teman. Kemudian, karena satu dan lain hal, dia bertemu dengan angsa yang menaikkan derajatnya menjadi seekor angsa. Cukup menyenangkan, sampai akhirnya dia harus bertemu dengan masa lalunya, kaum itik. Itik-itik itu akan memandang si Angsa dengan perasaan tidak rela salah satu dari mereka telah berubah menjadi angsa. Di lain pihak, kaum angsa merasa seharusnya semua itik itu ditangkap saja dan dijadikan bebek goreng. - hlm 10 s/d 11.
Katrissa adalah itik yang tiba-tiba saja dijadikan angsa oleh cewek terpopuler di Egan High School, Aura. Bertiga, Katrissa, Aura, dan Melani menjalankan hari-hari mereka sebagai geng populer di Egan. Hingga pada suatu hari datanglah murid baru bernama Priska yang berusaha berteman dengan Aura dkk.
Dari awal pun Katrissa merasa kedatangan Priska sebagai sesuatu yang salah. Priska mengingatkannya kepada salah seorang sahabatnya yang dulu pernah mengkhianatinya. Sampai sekarang pun ia tidak pernah mempercayai orang. Banyak orang yang dianggapnya teman, namun balik memusuhinya. Tidak, dia tidak ingin itu terjadi.
Hingga tiba saatnya ketika Aura melihat Priska mendekati Jonas, pacar Aura. Akhirnya, Aura meminta Priska 'memetik bunga' yaitu mengutil di sebuah toko yang baru buka tanpa CCTV. Katrissa cukup shock mendengar Aura berminat melakukannya lagi, dan berdasarkan pengalaman Katrissa, ia harus mengutil lagi. Di toko itu, tugas Katrissa adalah mengalihkan perhatian sang penjaga toko, sementara teman-temannya akan melakukan aksi mereka. Sayangnya, sang penjaga toko adalah Langit, cowok itik di kalangan Egan, yang pernah menyelamatkan Katrissa dulu, dan hampir saja Katrissa melupakan dan mengacaukan aksi memetik bunga mereka. Setelah situasinya diselamatkan oleh Aura, mereka segera mengutil. Namun ternyata Priska tidak mengutil. Dan malah Priska makin dekat dengan Jonas.
Dimulailah hari-hari Priska ditindas besar-besaran oleh satu sekolah, yang didalangi oleh Aura, tentunya. Semua orang merasa itu hal yang pantas didapatkan oleh Priska. Kata-kata ejekkan, makian, dan semuanya adalah makanan sehari-hari Priska.
Katrissa memandang tepat ke mata Aura. Mata itu begitu indah, namun juga begitu tegas dan selalu membagi dunia dalam dua kutub: hitam dan putih, benar dan salah, populer dan tidak populer, itik dan angsa. - hlm 124.
Sedangkan Katrissa hanya berdiam saja. Dia berada di tengah-tengahnya, dan ia harus bisa memutuskan sisi mana yang akan ia ambil. Membela Priska, dan menjadi bahan olok-olokkan satu sekolah, dengan konsekuensi ia tidak lagi memiliki teman, sendirian melawan geng Aura. Atau sebaliknya, ia bisa saja diam dibelakang Aura dan tidak melakukan apapun.
Katrissa memutuskan untuk diam saja. Untuk menjadi penonton saja. Namun, gimana cara menjelaskan perasaan bersalah yang menumpuk di hatinya?
"Tetapi yang lebih utama, aku diam, karena aku hanya mencari selamat. Aku tidak lebih dari seorang pengecut. Hatiku terasa sakit. Hidupku terasa tidak nyaman. Aku hidup dalam sebuah kebohongan. Kebohongan atas nama persahabatan dan kesetiaan. Seperti sebuah bola salju, kebohongan itu terus membesar hingga aku tak tahu lagi beda kebenaran dan kebohongan. Hingga di satu titik, aku tahu bahwa hanya ada satu hal yang bisa menghentikan rasa sakit itu. Kebenaran. Kebenaran bahwa kita tidak bisa diam lagi." - hlm 264 s/d 265.
~~~~~~~~
"Lo tuh kelamaan melihat matahari sampai mata lo buta kalau ada matahari lain yang lebih bagus dari Aura."
"Siapa?"
"Ya elo sendiri."
... "Dan kita semua. Di setiap diri kita ada matahari. Cuma tiap orang sibuk ngeliatin matahari yang lain." - hlm 255.
*Merinding* brr.. ini buku keren banget deh! :D Buku yang bertemakan friendship dan bullying itu jarangg banget. Apalagi kalo liat novel romance Indo yang sukanya lebaii beut. *hufft. Temanya adalah tentang bullying di kalangan remaja. Jaman sekarang sih bullyingnya udah engga fisik, tapi lebih ke verbal ya, jadinya lebih ke omongan, kayak gosip, fitnah, de el el.
Alur ceritanya agak maju mundur. Awalnya diceritakan dia 'tiba-tiba' masuk ke geng Aura tanpa ba-bi-bu. Ternyata ada cerita kelam yang membuat Aura memasukkan Katrissa ke geng-nya. Lalu konfliknya adalah ketika Priska udah main mata ama si Jonas, padahal si Katrissa sendiri pun suka ama Jonas, walaupun Katrissa terpaksa membunuh perasaannya demi persahabatannya dengan Aura. Lalu ditutup dengan ending yang membuatku puas sekali. :)
Aku suka banget cara Dyah Rinni menuliskan cerita ini. Mengalir dengan lancar, begitu meyayat emosi. Sampe aku pun bisa merasakan betapa frustasinya menjadi korban bullying. Karakternya pun digambarkan dengan sangat baik, semuanya ada dalam porsi yang pas sekali. Walaupun agak kurang simpati ketika Katrissa yang jadi korban bullying. Hemm, gatau deh, kurang ngena aja waktu Katrissa yang jadi mangsa Aura dkk.
"... Bullying itu kayak gitu, Rissa. Dia ngehancurin hidup siapa aja. Pelakunya. Korbannya. Orang-orang yang diam saja dan menyesal mengapa mereka tidak melakukan sesuatu. Nggak ada yang diutungkan." - hlm 184.
Bukunya bagus banget untuk para remaja diluar sana. Mengajarkan kita untuk menjadari bahwa bullying itu tidak hanya berdampak pada korbannya, namun juga pelakunya. Dan pelakunya pun melakukan hal tersebut karena biasanya adalah dendam, karena perlakuan sama yang telah ia dapat. :) Kamu pun pasti simpati terhadap Aura kalau melihat dari sudut pandang Aura :D
"Teman tidak saling melukai. Teman saling menghormati, mencintai, menghargai. Hentikan sebelum terlambat. Tidak ada yang berhak hidup dalam luka. Tidak juga kamu atau pun kita semua." - hlm 265.
~~~~~~~~
Raisaaputri<3
July 16, 2013
Phew, this is longer than I expected :D
Sudah lama sebenarnya ingin membuat review buku ini, tetapi baru kali ini kesampean bisa duduk dan mengetik ni ripiu. Kebetulan bukunya juga masi ada di meja :D
Buku Unfriend You mengangkat tema yang sangat menarik, yaitu bullying di kalangan remaja. Sapa sih yang nggak kenal bullying? Walopun ga jadi korban, tapi mungkin kita pernah tahu/dengar/liat ada teman atau kenalan atau saudara kita yang jadi korban atau pelaku bullying. Untungnya saya nggak pernah jadi korban apalagi pelaku. Cuma pernah diancam doang sama kakak kelas, itu pun lewat surat, walaupun sempet bikin ga bisa tidur juga sih, tapi mungkin alasannya karena saya nyolot nuduh dia nyolong tempat pensil saya yang ketinggalan. Iya emang saya kurang ajar jaman SMP :P tapi emang bener sih tempat pensil saya dia bawa pulang (apa coba namanya kalo bukan nyolong???!!) trus setelah saya tuduh dia nyolong baru deh tu tempat pensil kembali. Kenapa jadi curcol gini? :P
Anyway, tokoh utama cerita ini adalah Katrissa. Setahun yang lalu Katrissa bukan apa-apa, atau menurut istilah Kat sendiri 'itik'. Lalu si angsa Egan Highschool, Aura, mengangkat derajatnya menjadi angsa juga. Masalahnya, Aura sangat strict terhadap pergaulan mereka. Grup angsa ini gak boleh lah yaw bergaul dengan kaum itik buruk rupa alias manusia2 ga penting di luar circle mereka. Balada Katrissa dimulai ketika si anak baru, Priska, yang merupakan anggota baru geng mereka dituduh Aura main mata dengan pacarnya, Jonas. Apakah Katrissa harus diam saja melihat Priska dibully habis-habisan oleh Aura??! Baca sendiri ya :P
Berbeda dengan pendapat saya tentang novel2 Dyah sebelumnya, menurut saya kekuatan novel ini adalah plot dan alur penceritaannya, sedangkan karakter2nya (yang biasanya membuat saya kesengsem berat sama novelnya Dyah) terasa agak gak sesuai pakem saya. Karakter yang paling bagus penggambarannya mungkin Aura.
Saya bingung dengan karakter si Katrissa ini. Sebenarnya dia gak pingin2 banget jadi anggota geng populer. Tapi dia ingin menjadi teman Aura karena baginya Aura itu baik hati.
hlm. 11
Namun, sementara gadis-gadis yang lain memanfaatkan kecantikannya untuk merengek pada cowok, bersikap seperti drama queen dan merasa dirinya supermodel, Aura tetap lembut dan rendah hati seperti Lady Di.
Berdasarkan kalimat itu tentu saja saya mengangguk2 paham kenapa Katrissa mau berteman dengan Aura. Tetapi hal itu berlawanan dengan deskripsi berikut:
hlm. 12
Aura mungkin baik hati, tetapi ia juga menarik tegas batas pergaulan. Baginya, itik dan angsa tidak boleh bertemu--kecuali terpaksa dan Aura punya daftar situasi terpaksa itu--atau dunia akan kiamat.
Uhm... okay.
hlm. 191
"Mungkin emang Aura yang lo kenal selama ini bukan Aura yang sebenarnya."
"Maksud lo justru Aura yang sebenarnya itu yang ngegencet Priska?"
Bukan, Kat, Aura yang sebenarnya adalah yang ngelarang lo bergaul sama anak-anak itik yang gak sederajat. Aura yang sebenarnya adalah yang ngajak lo ngutil sebagai inisiasi masuk gengnya. Aura yang sebenarnya adalah yang ngamuk-ngamuk saat Priska nggak berhasil ngutil. Aura yang sebenarnya adalah yang menghukum Priska memakai baju gembel and norak sebagai hukuman.
Jadi, entah si Katrissa ini dicuci otaknya sama Aura, dibutakan oleh pengidolaan terhadap Aura (kalo dari deskripsinya sih kayanya nggak juga),atau memang dia nggak bisa bedain mana orang yang rendah hati dan mana yang arogan.
Ada hal lain yang bikin saya ga sreg dengan karakter Katrissa. Entah disengaja apa nggak, Katrissa tersirat sangat nyinyir pada Milani, nah yang kedua ini yang nggak saya suka, karena nyinyirnya sekitar ukuran badan (sensi berat ane XD) dan juga kecerdasan.
contohnya:
- Akibatnya, segala sesuatu yang seharusnya terlihat cantik di wajah Milani jadi terlihat besar: matanya, hidungnya, dan juga bibirnya. (hlm. 12)
- Milani boleh saja menjadi putri bungsu salah satu keluarga terkaya di Eglantine High. Tetapi kekayaan tidak berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan (hlm. 28)
- Apakah begitu mudah berbohong pada Milani atau memang Milani sebodoh itu? (hlm. 45)
- Air mata Milani mulai berderai. Sekarang wajah Milani lebih jelek daripada kuda nil sungguhan. (hlm. 62)
Sungguh saya merasa Milani ini dibully oleh kenyinyiran Katrissa.
Langit Lazuardi. Ah, where to begin...
Oke, pertama kali dia muncul, saya menduga tipe-tipe geek gini biasanya yang bakalan jadian sama tokoh utamanya XD dan oke, saya gak ada masalah dengan Langit. Tersirat bahwa dia memang naksir Katrissa sedangkan Katrissa sih cuek bebek aja. Karena suatu sebab, Katrissa memberikan nomor hapenya pada Langit, dan di sinilah Langit mulai menjadi stalker, saudara2... aaarghh!! I used to like you, Langit!!!
hlm. 96
sms-sms Langit untuk Katrissa:
Hi Katrissa, apa kabar?
Hi Katrissa, kita ketemuan, yuk. Ada yang ingin gue omongin.
Katrissa, lo nggak marah sama gue, kan?
Katrissa, kenapa SMS gue nggak dibalas? Lo sakit?
*creeps*
hlm. 111
Katrissa tidak tahu bahwa Langit berdiri tak jauh darinya, menatapnya dalam kegelapan.
LANGIT PLEASE.
Dan saat Katrissa mengkonfrontasi Langit soal dia stalking Kat malam itu, begini jawaban Langit: "Gue cuma pengin ngomong sama elo, tetapi SMS gue nggak dibalas. Telepon gak diangkat. Gue nggak punya pilihan lain selain ke tempat lo malam itu.
LANGIT PLEASE.
Overall, soal bullying-nya dapet. Kisah tentang Priska yang dibully juga ngena banget. Sediiih bacanya sampai hampir menguraikan air mata (padahal bacanya di ruang tunggu rumah sakit, ihik, untung ga nangis). Rangkaian hubungan antarkarakternya dapet juga walopun ada deh yang aneh2 kaya Langit yang agak stalker itu, Katrissa yang agak labil dan buta kalau sudah tentang Aura, Jonas yang super loser ternyatah, Milani yang menjadi token anak populer tapi bego. Mungkin karakter yang mengalami character destruction terbaik adalah Aura. Kalau ini film, mungkin yang mendapat award untuk best actress-nya adalah Aura.
Sudah lama sebenarnya ingin membuat review buku ini, tetapi baru kali ini kesampean bisa duduk dan mengetik ni ripiu. Kebetulan bukunya juga masi ada di meja :D
Buku Unfriend You mengangkat tema yang sangat menarik, yaitu bullying di kalangan remaja. Sapa sih yang nggak kenal bullying? Walopun ga jadi korban, tapi mungkin kita pernah tahu/dengar/liat ada teman atau kenalan atau saudara kita yang jadi korban atau pelaku bullying. Untungnya saya nggak pernah jadi korban apalagi pelaku. Cuma pernah diancam doang sama kakak kelas, itu pun lewat surat, walaupun sempet bikin ga bisa tidur juga sih, tapi mungkin alasannya karena saya nyolot nuduh dia nyolong tempat pensil saya yang ketinggalan. Iya emang saya kurang ajar jaman SMP :P tapi emang bener sih tempat pensil saya dia bawa pulang (apa coba namanya kalo bukan nyolong???!!) trus setelah saya tuduh dia nyolong baru deh tu tempat pensil kembali. Kenapa jadi curcol gini? :P
Anyway, tokoh utama cerita ini adalah Katrissa. Setahun yang lalu Katrissa bukan apa-apa, atau menurut istilah Kat sendiri 'itik'. Lalu si angsa Egan Highschool, Aura, mengangkat derajatnya menjadi angsa juga. Masalahnya, Aura sangat strict terhadap pergaulan mereka. Grup angsa ini gak boleh lah yaw bergaul dengan kaum itik buruk rupa alias manusia2 ga penting di luar circle mereka. Balada Katrissa dimulai ketika si anak baru, Priska, yang merupakan anggota baru geng mereka dituduh Aura main mata dengan pacarnya, Jonas. Apakah Katrissa harus diam saja melihat Priska dibully habis-habisan oleh Aura??! Baca sendiri ya :P
Berbeda dengan pendapat saya tentang novel2 Dyah sebelumnya, menurut saya kekuatan novel ini adalah plot dan alur penceritaannya, sedangkan karakter2nya (yang biasanya membuat saya kesengsem berat sama novelnya Dyah) terasa agak gak sesuai pakem saya. Karakter yang paling bagus penggambarannya mungkin Aura.
Saya bingung dengan karakter si Katrissa ini. Sebenarnya dia gak pingin2 banget jadi anggota geng populer. Tapi dia ingin menjadi teman Aura karena baginya Aura itu baik hati.
hlm. 11
Namun, sementara gadis-gadis yang lain memanfaatkan kecantikannya untuk merengek pada cowok, bersikap seperti drama queen dan merasa dirinya supermodel, Aura tetap lembut dan rendah hati seperti Lady Di.
Berdasarkan kalimat itu tentu saja saya mengangguk2 paham kenapa Katrissa mau berteman dengan Aura. Tetapi hal itu berlawanan dengan deskripsi berikut:
hlm. 12
Aura mungkin baik hati, tetapi ia juga menarik tegas batas pergaulan. Baginya, itik dan angsa tidak boleh bertemu--kecuali terpaksa dan Aura punya daftar situasi terpaksa itu--atau dunia akan kiamat.
Uhm... okay.
hlm. 191
"Mungkin emang Aura yang lo kenal selama ini bukan Aura yang sebenarnya."
"Maksud lo justru Aura yang sebenarnya itu yang ngegencet Priska?"
Bukan, Kat, Aura yang sebenarnya adalah yang ngelarang lo bergaul sama anak-anak itik yang gak sederajat. Aura yang sebenarnya adalah yang ngajak lo ngutil sebagai inisiasi masuk gengnya. Aura yang sebenarnya adalah yang ngamuk-ngamuk saat Priska nggak berhasil ngutil. Aura yang sebenarnya adalah yang menghukum Priska memakai baju gembel and norak sebagai hukuman.
Jadi, entah si Katrissa ini dicuci otaknya sama Aura, dibutakan oleh pengidolaan terhadap Aura (kalo dari deskripsinya sih kayanya nggak juga),atau memang dia nggak bisa bedain mana orang yang rendah hati dan mana yang arogan.
Ada hal lain yang bikin saya ga sreg dengan karakter Katrissa. Entah disengaja apa nggak, Katrissa tersirat sangat nyinyir pada Milani, nah yang kedua ini yang nggak saya suka, karena nyinyirnya sekitar ukuran badan (sensi berat ane XD) dan juga kecerdasan.
contohnya:
- Akibatnya, segala sesuatu yang seharusnya terlihat cantik di wajah Milani jadi terlihat besar: matanya, hidungnya, dan juga bibirnya. (hlm. 12)
- Milani boleh saja menjadi putri bungsu salah satu keluarga terkaya di Eglantine High. Tetapi kekayaan tidak berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan (hlm. 28)
- Apakah begitu mudah berbohong pada Milani atau memang Milani sebodoh itu? (hlm. 45)
- Air mata Milani mulai berderai. Sekarang wajah Milani lebih jelek daripada kuda nil sungguhan. (hlm. 62)
Sungguh saya merasa Milani ini dibully oleh kenyinyiran Katrissa.
Langit Lazuardi. Ah, where to begin...
Oke, pertama kali dia muncul, saya menduga tipe-tipe geek gini biasanya yang bakalan jadian sama tokoh utamanya XD dan oke, saya gak ada masalah dengan Langit. Tersirat bahwa dia memang naksir Katrissa sedangkan Katrissa sih cuek bebek aja. Karena suatu sebab, Katrissa memberikan nomor hapenya pada Langit, dan di sinilah Langit mulai menjadi stalker, saudara2... aaarghh!! I used to like you, Langit!!!
hlm. 96
sms-sms Langit untuk Katrissa:
Hi Katrissa, apa kabar?
Hi Katrissa, kita ketemuan, yuk. Ada yang ingin gue omongin.
Katrissa, lo nggak marah sama gue, kan?
Katrissa, kenapa SMS gue nggak dibalas? Lo sakit?
*creeps*
hlm. 111
Katrissa tidak tahu bahwa Langit berdiri tak jauh darinya, menatapnya dalam kegelapan.
LANGIT PLEASE.
Dan saat Katrissa mengkonfrontasi Langit soal dia stalking Kat malam itu, begini jawaban Langit: "Gue cuma pengin ngomong sama elo, tetapi SMS gue nggak dibalas. Telepon gak diangkat. Gue nggak punya pilihan lain selain ke tempat lo malam itu.
LANGIT PLEASE.
Overall, soal bullying-nya dapet. Kisah tentang Priska yang dibully juga ngena banget. Sediiih bacanya sampai hampir menguraikan air mata (padahal bacanya di ruang tunggu rumah sakit, ihik, untung ga nangis). Rangkaian hubungan antarkarakternya dapet juga walopun ada deh yang aneh2 kaya Langit yang agak stalker itu, Katrissa yang agak labil dan buta kalau sudah tentang Aura, Jonas yang super loser ternyatah, Milani yang menjadi token anak populer tapi bego. Mungkin karakter yang mengalami character destruction terbaik adalah Aura. Kalau ini film, mungkin yang mendapat award untuk best actress-nya adalah Aura.
November 14, 2013
Katrissa terjebak dalam persahabatan yang awalnya manis bareng Aura dan Milani yang akhirnya berakhir bahaya. Apalagi sejak kemunculan Priska, murid baru yang langsung berhasil masuk ke clique itu. Dan, diam-diam akrab dengan Jonas, pacar Aura. Aura yang enggak terima pun mulai mem-bully Priska. Begitu juga dengan semua murid di Eglantine High yang terpengaruh oleh Aura. Hingga akhirnya Priska enggak berani datang ke sekolah dan melakukan percobaan bunuh diri.
Di lain pihak, Langit, cowok geek anggota klub komputer di sekolah, membujuk Katrissa untuk menghentikan tindakan Aura. Soalnya, Langit berpikir Katrissa akan lebih mudah menghentikannya karena dia juga ada di clique itu. Katrissa sebenarnya mau, tapi dia takut. Ketika akhirnya dia berani, semua sudah terlambat.
Dan, Katrissa pun menjadi Priska selanjutnya.
Bullying menjadi tema utama buku Unfriend You ini. Sebuah tema yang sangat ‘seksi’ sekarang, terutama di kalangan remaja karena isu bullying ini sering banget ditemukan. Ini pertama kalinya gue baca buku full tentang bullying dan speechless. Apalagi ketika baca gue juga sedang ngerjain edisi say no to bullying di majalah gue, jadi efek kombonya dapet banget.
Selama baca ini, mau enggak mau gue ingat semua bahan artikel yang gue baca dan juga hasil wawancara gue tentang bullying ini. Dan, gue merasa kalau buku ini realistis banget.
Oke, dari segi buku dulu, ya.
I love this book. Really really really love this book. Gue suka Dyah mengangkat cerita dari segi penonton, sesuatu yang jarang disorot padahal penonton inilah yang jumlahnya paling banyak dan punya potensi untuk melawan tindakan bullying. Tapi seperti Katrissa, mereka memilih diam karena takut. Ini real banget. Banyak anak SMA yang gue wawancara bilang kalau alasan mereka enggak mau menolong adalah karena takut akan jadi korban selanjutnya.
Hal kedua yang gue suka adalah penggambaran sekolahnya. Eglantine High atau Egan itu jelas banget visualisasinya di otak gue. Two thumbs up buat Dyah Rinni dan kemampuan deskripsinya yang oke banget.
Gaya menulisnya juga keren banget. Engaging. Yang ada gue susah lepas dari buku ini. Meski memakai PoV 3, fokus cerita terjaga di Katrissa. Kalaupun pengin menggambarkan tokoh lain, kamera tetap berada di Katrissa. Oh, hanya sekali aja kecele. Pas, bagian Priska. Tapi, tetap saja dihubung-hubungkan dengan Katrissa. Me likey.
Tokoh. Yup, ini dia kekuatan cerita ini. Dyah enggak bikin tokoh yang too good to be true. Selalu ada alasan di balik setiap tindakannya. Katrissa yang senang banget dengan ajakan berteman oleh Aura ditunjang oleh masa lalunya yang enggak punya teman. Priska yang senang dapat teman juga karena keadaan keluarganya. Langit yang selalu mendorong Katrissa untuk speak up juga karena ada pengalaman bully. Milani yang akhirnya ember pun ada alasannya, meski simpel, cetek, dan Milani banget, he-he-he. Bahkan tindakan Aura. Selain sebab, setiap tokoh juga mendapat akibat dari tindakan mereka.
Gue suka bab akhir, penjelasan alasan di balik sikap Aura. Cuma sayang banget. Terlalu sedikit. Kalau boleh dibilang, gue paling suka Aura. Karakternya complicated banget. Gue sampai berkaca-kaca waktu Katrissa menemukan alasan di balik ajakan berteman oleh Aura. Aura ini tipikal mean girl yang enggak bisa lo benci. So, Dyah Riini, I owe you to make a side story about Aura, he-he-he.
Tapi, kesempurnaan buku ini ternoda oleh sebuah kesalahan kecil. Kecil banget, malah. Sebenarnya enggak ngaruh juga, sih. Salahin aja otak gue yang terlalu fokus sama cerita ini sampai kesalahan sekecil itu kelihatan. Jadi, di bagian tengah, waktu Aura menjemput Katrissa demi membicarakan ‘pelajaran’ untuk Priska, dibilang rumah Aura dan Katrissa jauh banget sampai-sampai Aura harus memutar arah karena menjemput Katrissa. Tapi bab akhir dibilang rumah mereka dekat. Saking dekatnya Katrissa tinggal naik sepeda aja. he-he-he.
Konfliknya sendiri juara banget. Gue juga suka Dyah memasukkan unsur shoplifted di sini. Baru kali ini gue baca novel lokal bawa isu ini. Kebetulan aja gue lagi baca My Life Next Door juga dan salah satu subkonfliknya adalah shoplifted ini. Jadi, gue salut sama pilihan subkonflik ini.
Ending. Gue puas, kok. Dramanya gue rasa sudah cukup. Tindakan bully-nya juga pas jahatnya.
Oke, sekarang tentang bullying sendiri.
Teman gue yang udah baca buku ini punya complain, kenapa Langit enggak ngadu sendiri aja, sih? Kenapa maksa Katrissa buat buka mulut dan nolong Priska? Kalau baca buku ini, let’s say, minggu lalu, mungkin gue akan berpemikiran sama. Tapi, beberapa hari lalu gue baru aja interview psikolog tentang bully ini dan salah satu ucapan dia adalah, “sebagai teman cukup membujuk korban agar mau speak up dan temani dia ketika speak up. Jangan kita yang jadi tukang ngadu. Yang ada hanya akan membuat korban makin rendah diri. Dengan membiarkan dia speak up sendiri, dan ditemani, itu akan membuat dia sadar ada yang percaya padanya dan tentunya membangkitkan lagi rasa percaya dirinya.” So, gue setuju dengan tindakan Langit.
Gue rasa, buku ini baiknya dibaca oleh semua remaja sekarang, juga guru. Malah, guru harus banget baca. Kenapa? Pertama, biar remaja ini makin punya rasa empati dan enggak hanya menyelamatkan diri sendiri dengan diam dan nontonin aja. Sekarang, rasa empati di kalangan remaja tuh dikit banget. Sayang aja, sih. Kedua, guru seringkali menganggap enteng masalah ini. Mungkin mereka enggak bermaksud, sih, tapi mereka bertindak selama ada bukti. Sedang bukti sendiri jarang ada karena penonton yang hanya diam. So, butuh kerjasama antara penonton dan guru ini. That’s why I love Ms. Lana.
Oh satu lagi yang bikin gue suka sama buku ini adalah adanya tempat yang berada di luar jangkauan pengawasan guru. Di setiap sekolah tempat ini selalu ada dan sering jadi lokasi pem-bully-an. Biar makin banyak sekolah yang sadar dan meningkatkan pengawasan sampai ke ‘sudut terjauh’ ini atau sekalian saja menghilangkannya.
Intinya, I love this book. Enggak hanya untuk remaja, dewasa pun harus baca buku ini. banget.
Thank you Dyah Rinni and Gagas Media for this awesome book.
Di lain pihak, Langit, cowok geek anggota klub komputer di sekolah, membujuk Katrissa untuk menghentikan tindakan Aura. Soalnya, Langit berpikir Katrissa akan lebih mudah menghentikannya karena dia juga ada di clique itu. Katrissa sebenarnya mau, tapi dia takut. Ketika akhirnya dia berani, semua sudah terlambat.
Dan, Katrissa pun menjadi Priska selanjutnya.
Bullying menjadi tema utama buku Unfriend You ini. Sebuah tema yang sangat ‘seksi’ sekarang, terutama di kalangan remaja karena isu bullying ini sering banget ditemukan. Ini pertama kalinya gue baca buku full tentang bullying dan speechless. Apalagi ketika baca gue juga sedang ngerjain edisi say no to bullying di majalah gue, jadi efek kombonya dapet banget.
Selama baca ini, mau enggak mau gue ingat semua bahan artikel yang gue baca dan juga hasil wawancara gue tentang bullying ini. Dan, gue merasa kalau buku ini realistis banget.
Oke, dari segi buku dulu, ya.
I love this book. Really really really love this book. Gue suka Dyah mengangkat cerita dari segi penonton, sesuatu yang jarang disorot padahal penonton inilah yang jumlahnya paling banyak dan punya potensi untuk melawan tindakan bullying. Tapi seperti Katrissa, mereka memilih diam karena takut. Ini real banget. Banyak anak SMA yang gue wawancara bilang kalau alasan mereka enggak mau menolong adalah karena takut akan jadi korban selanjutnya.
Hal kedua yang gue suka adalah penggambaran sekolahnya. Eglantine High atau Egan itu jelas banget visualisasinya di otak gue. Two thumbs up buat Dyah Rinni dan kemampuan deskripsinya yang oke banget.
Gaya menulisnya juga keren banget. Engaging. Yang ada gue susah lepas dari buku ini. Meski memakai PoV 3, fokus cerita terjaga di Katrissa. Kalaupun pengin menggambarkan tokoh lain, kamera tetap berada di Katrissa. Oh, hanya sekali aja kecele. Pas, bagian Priska. Tapi, tetap saja dihubung-hubungkan dengan Katrissa. Me likey.
Tokoh. Yup, ini dia kekuatan cerita ini. Dyah enggak bikin tokoh yang too good to be true. Selalu ada alasan di balik setiap tindakannya. Katrissa yang senang banget dengan ajakan berteman oleh Aura ditunjang oleh masa lalunya yang enggak punya teman. Priska yang senang dapat teman juga karena keadaan keluarganya. Langit yang selalu mendorong Katrissa untuk speak up juga karena ada pengalaman bully. Milani yang akhirnya ember pun ada alasannya, meski simpel, cetek, dan Milani banget, he-he-he. Bahkan tindakan Aura. Selain sebab, setiap tokoh juga mendapat akibat dari tindakan mereka.
Gue suka bab akhir, penjelasan alasan di balik sikap Aura. Cuma sayang banget. Terlalu sedikit. Kalau boleh dibilang, gue paling suka Aura. Karakternya complicated banget. Gue sampai berkaca-kaca waktu Katrissa menemukan alasan di balik ajakan berteman oleh Aura. Aura ini tipikal mean girl yang enggak bisa lo benci. So, Dyah Riini, I owe you to make a side story about Aura, he-he-he.
Tapi, kesempurnaan buku ini ternoda oleh sebuah kesalahan kecil. Kecil banget, malah. Sebenarnya enggak ngaruh juga, sih. Salahin aja otak gue yang terlalu fokus sama cerita ini sampai kesalahan sekecil itu kelihatan. Jadi, di bagian tengah, waktu Aura menjemput Katrissa demi membicarakan ‘pelajaran’ untuk Priska, dibilang rumah Aura dan Katrissa jauh banget sampai-sampai Aura harus memutar arah karena menjemput Katrissa. Tapi bab akhir dibilang rumah mereka dekat. Saking dekatnya Katrissa tinggal naik sepeda aja. he-he-he.
Konfliknya sendiri juara banget. Gue juga suka Dyah memasukkan unsur shoplifted di sini. Baru kali ini gue baca novel lokal bawa isu ini. Kebetulan aja gue lagi baca My Life Next Door juga dan salah satu subkonfliknya adalah shoplifted ini. Jadi, gue salut sama pilihan subkonflik ini.
Ending. Gue puas, kok. Dramanya gue rasa sudah cukup. Tindakan bully-nya juga pas jahatnya.
Oke, sekarang tentang bullying sendiri.
Teman gue yang udah baca buku ini punya complain, kenapa Langit enggak ngadu sendiri aja, sih? Kenapa maksa Katrissa buat buka mulut dan nolong Priska? Kalau baca buku ini, let’s say, minggu lalu, mungkin gue akan berpemikiran sama. Tapi, beberapa hari lalu gue baru aja interview psikolog tentang bully ini dan salah satu ucapan dia adalah, “sebagai teman cukup membujuk korban agar mau speak up dan temani dia ketika speak up. Jangan kita yang jadi tukang ngadu. Yang ada hanya akan membuat korban makin rendah diri. Dengan membiarkan dia speak up sendiri, dan ditemani, itu akan membuat dia sadar ada yang percaya padanya dan tentunya membangkitkan lagi rasa percaya dirinya.” So, gue setuju dengan tindakan Langit.
Gue rasa, buku ini baiknya dibaca oleh semua remaja sekarang, juga guru. Malah, guru harus banget baca. Kenapa? Pertama, biar remaja ini makin punya rasa empati dan enggak hanya menyelamatkan diri sendiri dengan diam dan nontonin aja. Sekarang, rasa empati di kalangan remaja tuh dikit banget. Sayang aja, sih. Kedua, guru seringkali menganggap enteng masalah ini. Mungkin mereka enggak bermaksud, sih, tapi mereka bertindak selama ada bukti. Sedang bukti sendiri jarang ada karena penonton yang hanya diam. So, butuh kerjasama antara penonton dan guru ini. That’s why I love Ms. Lana.
Oh satu lagi yang bikin gue suka sama buku ini adalah adanya tempat yang berada di luar jangkauan pengawasan guru. Di setiap sekolah tempat ini selalu ada dan sering jadi lokasi pem-bully-an. Biar makin banyak sekolah yang sadar dan meningkatkan pengawasan sampai ke ‘sudut terjauh’ ini atau sekalian saja menghilangkannya.
Intinya, I love this book. Enggak hanya untuk remaja, dewasa pun harus baca buku ini. banget.
Thank you Dyah Rinni and Gagas Media for this awesome book.
June 3, 2020
Best teenlit. Jujur novel bocah SMA jaman sekarang ya gitu-gitu doang, soal cinta mulu, seolah-olah kehidupan SMA itu cuma soal suka sama senior pacaran aw so suit, padahal enggak, gak cuma itu doang, dan di novel ini temen toxic dan pembulian antar anak sekolah bener-bener disibak. Seneng rasanya ada novel yang ngangkat tema kaya gini. Penulisannya juga apik, suka sama cara nulisnya yang enak banget dibaca.
January 27, 2019
Whoa. Cerita menyeramkan pertemanan cewek-cewek. Cukup membuat pembaca bergidik ngeri dan terheran dengan pergaulan yang... toxic? Quote favorit dari Langit Lazuardi, "nggak ada yang menguntungkan dari bullying. Mulai dari pelaku, korban, sampai orang-orang yang hanya diam menonton, semua larut dalam penyesalan." Besyukurlah saya dengan segala kemakmuran hidup di masa sekolah:')
December 19, 2016
Awalnya sih nggak berekspektasi tinggi, eh malah suka! Mungkin cara penceritaannya yang bagus sampe bikin aku nangis. (Oke, mungkin aku aja yang terlalu cengeng)
January 21, 2021
3/5
Yang saya suka, tema bullying yang dibaca kali ini, mengambil sudut pandang sebagai pelaku dan korban.
Yang saya suka, tema bullying yang dibaca kali ini, mengambil sudut pandang sebagai pelaku dan korban.
November 28, 2022
Ternyata saya udah baca buku ini dulu, dulu sekali dan lupa ngga review dan kasih rating di goodreads.
November 19, 2024
kerenn
January 7, 2025
Bagus
This entire review has been hidden because of spoilers.
October 5, 2013
"...Bullying itu kayak gitu, Rissa. Dia ngancurin hidup siapa aja. Pelakunya. Korbannya. Orang-orang yang diam saja dan menyesal mengapa mereka tidak pernah melakukan sesuatu. Nggak ada yang diuntungkan." (hal. 184)
Rasanya senang menemukan buku Gagas yang begini. :p *lalu dikeplak penerbit* Dan rasanya senang karena buku ini worth my money (sebenarnya beli buku ini iseng doang, tanpa ekspektasi apa-apa). Beginilah yang aku suka, asal beli buku tanpa ekspektasi apa-apa dan berujung suka sama bukunya, daripada ekspektasi udah tinggi tapi ternyata bukunya biasa aja. *reviewnya ngelantur*
Katrissa, seorang cewek kelas XI di Eglantine High School yang karena satu hal berhasil berubah dari itik menjadi seekor angsa. Ia menjadi clique-nya Aura dan Milani, dua cewek populer di sekolah yang terkenal dengan perilaku bullying. Katrissa yang tadinya cewek cupu, sekarang malah ikut-ikutan menjadi pelaku bullying.
Menjadi dayang-dayang Aura butuh pengorbanan. Belajar 'Memetik Bunga' (baca: mengutil di toko) sebagai tes untuk menjadi clique-nya Aura dan Milani. Tidak bergaul dengan para geeks; termasuk yang baik dan pernah menyelamatkan dirinya, Langit. Ia juga harus menahan perasaannya kepada Jonas, pacarnya Aura. Titik puncak terjadi ketika Prisca menjadi korban Aura, sedangkan Katrissa tidak punya pilihan lain selain membiarkan itu terjadi atau dirinya sendiri yang akan menjadi korban selanjutnya.
Dengan kata lain, buku ini dikisahkan melalui sudut pandang seorang pelaku bully. Di buku-buku lain, mungkin kita akan menemukan beberapa karakter utama yang menjadi korban. Tapi berbeda dengan buku ini, pelaku bully-nya lah yang menjadi peran utama. Ini yang mendapatkan poin plus dariku. Kita tidak harus selalu melihat dari kacamata sang korban. Sekali-sekali kita juga harus melihat dari sudut pandang pelaku bully, dan mereka yang hanya menyaksikan dari jauh, tak bisa melakukan apa-apa. We cannot fully blame the one who do bullying. Terkadang pelaku bullying itu tidak benar-benar jahat, malah mereka sebenarnya menderita. Kalau ditanya aku lebih kasihan sama pelaku atau korban bullying, aku akan jawab: pelaku bullying. Mereka memang menyiksa dan menghancurkan orang lain, tapi aku yakin secara tidak langsung mereka juga menghancurkan diri mereka sendiri.
Aku suka penulisan Mbak Dyah, menurutku Mbak Dyah berhasil menciptkan karakter pelaku bullying yang bikin muak sekaligus bikin kasihan. Mbak Dyah juga menurutku cukup berhasil menciptakan dunia bullying-nya. A worth Indonesian book to read. Aku berharap ada banyak remaja dan dewasa yang membaca buku ini. Remaja: agar mereka tidak menjadikan perbuatan bullying sebagai pertahan mereka (I read from magazine that people who do bullying actually feels insecure, that's why they do bullying.. to prove that they're strong and people won't despise them). Dewasa (terutama guru dan orangtua): agar mereka menaruh perhatian lebih pada siswa dan anak. Tidak memandang keanehan yang tiba-tiba terjadi pada mereka dengan sebelah mata. Dan menaruh perhatian apabila mereka ingin membicarakan sesuatu.
Makasih Mbak Dyah, untuk pelajaran tentang bullying-nya. Aku berharap tidak ada lagi yang namanya bullying, meskipun rasanya sulit untuk mengusir bullying. :')
Recommended book!
Rasanya senang menemukan buku Gagas yang begini. :p *lalu dikeplak penerbit* Dan rasanya senang karena buku ini worth my money (sebenarnya beli buku ini iseng doang, tanpa ekspektasi apa-apa). Beginilah yang aku suka, asal beli buku tanpa ekspektasi apa-apa dan berujung suka sama bukunya, daripada ekspektasi udah tinggi tapi ternyata bukunya biasa aja. *reviewnya ngelantur*
Katrissa, seorang cewek kelas XI di Eglantine High School yang karena satu hal berhasil berubah dari itik menjadi seekor angsa. Ia menjadi clique-nya Aura dan Milani, dua cewek populer di sekolah yang terkenal dengan perilaku bullying. Katrissa yang tadinya cewek cupu, sekarang malah ikut-ikutan menjadi pelaku bullying.
Menjadi dayang-dayang Aura butuh pengorbanan. Belajar 'Memetik Bunga' (baca: mengutil di toko) sebagai tes untuk menjadi clique-nya Aura dan Milani. Tidak bergaul dengan para geeks; termasuk yang baik dan pernah menyelamatkan dirinya, Langit. Ia juga harus menahan perasaannya kepada Jonas, pacarnya Aura. Titik puncak terjadi ketika Prisca menjadi korban Aura, sedangkan Katrissa tidak punya pilihan lain selain membiarkan itu terjadi atau dirinya sendiri yang akan menjadi korban selanjutnya.
Dengan kata lain, buku ini dikisahkan melalui sudut pandang seorang pelaku bully. Di buku-buku lain, mungkin kita akan menemukan beberapa karakter utama yang menjadi korban. Tapi berbeda dengan buku ini, pelaku bully-nya lah yang menjadi peran utama. Ini yang mendapatkan poin plus dariku. Kita tidak harus selalu melihat dari kacamata sang korban. Sekali-sekali kita juga harus melihat dari sudut pandang pelaku bully, dan mereka yang hanya menyaksikan dari jauh, tak bisa melakukan apa-apa. We cannot fully blame the one who do bullying. Terkadang pelaku bullying itu tidak benar-benar jahat, malah mereka sebenarnya menderita. Kalau ditanya aku lebih kasihan sama pelaku atau korban bullying, aku akan jawab: pelaku bullying. Mereka memang menyiksa dan menghancurkan orang lain, tapi aku yakin secara tidak langsung mereka juga menghancurkan diri mereka sendiri.
Aku suka penulisan Mbak Dyah, menurutku Mbak Dyah berhasil menciptkan karakter pelaku bullying yang bikin muak sekaligus bikin kasihan. Mbak Dyah juga menurutku cukup berhasil menciptakan dunia bullying-nya. A worth Indonesian book to read. Aku berharap ada banyak remaja dan dewasa yang membaca buku ini. Remaja: agar mereka tidak menjadikan perbuatan bullying sebagai pertahan mereka (I read from magazine that people who do bullying actually feels insecure, that's why they do bullying.. to prove that they're strong and people won't despise them). Dewasa (terutama guru dan orangtua): agar mereka menaruh perhatian lebih pada siswa dan anak. Tidak memandang keanehan yang tiba-tiba terjadi pada mereka dengan sebelah mata. Dan menaruh perhatian apabila mereka ingin membicarakan sesuatu.
Makasih Mbak Dyah, untuk pelajaran tentang bullying-nya. Aku berharap tidak ada lagi yang namanya bullying, meskipun rasanya sulit untuk mengusir bullying. :')
Recommended book!
May 9, 2014
3,5 bintang sebenernyaaaaaa.
tokoh yang menarik itumenurutku ya Aura. Dia baik banget sama Katrissa dan kayaknya emang baik. Sampai Priska datang dan bikin Aura jealous dan Aura berubah jadi monster mengerikan yang siap membunuh alias membully.
Jonas (pacar Aura) ini sebenernya cool, sama kayak Katrissa atau Priska, aku juga naksir dia, sampe Jonas memalingkan wajahnya ketika Katrissa melihatnya, ugh! so uncool. Hancur sudah reputasi Jonas di mataku.apa hubungannya sama elo tiw?
Oya, ngomong-ngomong karakter utama, Katrissa ini awalnya nobody yang jadi somebody. Berkat Aura, Katrissa yang itik berubah jadi Angsa. Ditemani Milani,yang dari awal aku juga gak suka type anak orang kaya menyebalkan banget. Mereka bertiga udah paling populer banget sekaligus mengerikan banget soalnya murid-murid sampe takut bermasalah sama Aura.
Nah, si Priska ini, yang kalo kata si Katrissa sih Winda masa lalunya, capeeeeeerrrrrrrr bangetdan jujur aku juga gak suka *digampar. Dan gak tau itu perbuatan Aura atau emang bener Priska pas bagian dia dibully yang masalah twitter itu, dia membela diri dengan menyalahkan Katrissa. Ih, jadi gak simpati sama si korban bully ini deh! Tapi pas kesana sebenernya kasian juga, ckck. Gak nyangka bakal ada orang kayak Aura.
Si Katrissa ini bertindak sebagai penonton, alias orang yang ngeliatin tukang bully sedang membully korban bully, heheheh. Tapi selang berapa waktu Oya aku suka papercraft Katrissa, unik.
Aku mikir di kehidupan nyata ada gak ya? aku ambil contoh di sekolahku, tapi sekolahku adem ayem aja nggak ada yang sampe nyiksa begitu. Ini terlalu keterlaluan tapi mungkin aja terjadi. Cuma entah di mana bukan wilayahku, and yes! aku juga mendukung anti Bully!!!!!
Langit Lazuardi, tokoh cowok satu ini sebenernya baik, baik banget. Tapi nggak ada sisi menarik-menariknya. Dia terkesan biasa aja. Malah seruan Jonas*digebukin massa
Ceritanya sih, tersirat dan tersurat. Bagian akhir yang tersurat. Dan dikagetkan oleh Aura! Tuhkan emang Aura menarik, aku pengen tau kehidupannya tau gak seeehhh???? Kenapa gak ada kabar? Penulis mau buat kisah Aura gak ya?macem-macem kan kamu tiw!
Ngomong-ngomong soal cover, itu bunga ya? kenapa gak papercraft matahari aja sih? lebih nyambung sama cerita padahal loh, tapi ini juga bagus sih gambarnya, setidaknya sam-sama papercraft dan warnanya matahari, hehe.
Gaya bahasanya lumayan tapi masih ada beberapa yang kaku tapi cukup okelah.
review here: http://yustieamanda.blogspot.com/2014/05/unfriend-you.html
tokoh yang menarik itu
Jonas (pacar Aura) ini sebenernya cool, sama kayak Katrissa atau Priska, aku juga naksir dia, sampe Jonas memalingkan wajahnya ketika Katrissa melihatnya, ugh! so uncool. Hancur sudah reputasi Jonas di mataku.
Oya, ngomong-ngomong karakter utama, Katrissa ini awalnya nobody yang jadi somebody. Berkat Aura, Katrissa yang itik berubah jadi Angsa. Ditemani Milani,
Nah, si Priska ini, yang kalo kata si Katrissa sih Winda masa lalunya, capeeeeeerrrrrrrr banget
Si Katrissa ini bertindak sebagai penonton, alias orang yang ngeliatin tukang bully sedang membully korban bully, heheheh. Tapi selang berapa waktu Oya aku suka papercraft Katrissa, unik.
Aku mikir di kehidupan nyata ada gak ya? aku ambil contoh di sekolahku, tapi sekolahku adem ayem aja nggak ada yang sampe nyiksa begitu. Ini terlalu keterlaluan tapi mungkin aja terjadi. Cuma entah di mana bukan wilayahku, and yes! aku juga mendukung anti Bully!!!!!
Langit Lazuardi, tokoh cowok satu ini sebenernya baik, baik banget. Tapi nggak ada sisi menarik-menariknya. Dia terkesan biasa aja. Malah seruan Jonas
Ceritanya sih, tersirat dan tersurat. Bagian akhir yang tersurat. Dan dikagetkan oleh Aura! Tuhkan emang Aura menarik, aku pengen tau kehidupannya tau gak seeehhh???? Kenapa gak ada kabar? Penulis mau buat kisah Aura gak ya?
Ngomong-ngomong soal cover, itu bunga ya? kenapa gak papercraft matahari aja sih? lebih nyambung sama cerita padahal loh, tapi ini juga bagus sih gambarnya, setidaknya sam-sama papercraft dan warnanya matahari, hehe.
Gaya bahasanya lumayan tapi masih ada beberapa yang kaku tapi cukup okelah.
review here: http://yustieamanda.blogspot.com/2014/05/unfriend-you.html
June 7, 2014
Meski terlambat baru membaca buku ini sekarang, saya tak terlalu memusingkan bahwa saya termasuk dalam golongan orang yang merugi dan ketinggalan. Sebagai novel remaja, isu yang diangkat menarik dan jarang digarap.
Selama ini kisah-kisah bullying cenderung digambarkan di sekolah-sekolah swasta yang dalam persepsi banyak orang aturan sekolah tersebut cenderung longgar, sehingga bentuk bully macam apapun tak terendus, padahal di sekolah negeri, juga berpotensi terjadi.
Saya hanya meyakini Aura benar-benar ada di sekitar kita. Boleh jadi sebagaimana yang digambarkan novel ini, ia muncul ke permukaan atas kekelaman yang terjadi pada dirinya di masa lalu --mengingatkan kita pada bentuk bullying Masa Orientasi Siswa/MOS, simpel saja, kenapa MOS yang menyiksa adik kelas selalu bertahan dari tahun ke tahun, karena secara laten ada hasrat untuk memperlakukan anak baru sebagaimana dulu ia diperlakukan --dipermalukan, ditindas, relasi kuasa senior dan junior--- hanya saja, gambaran bahwa Aura sebagai pembully nomor wahid di sekolah yang adalah karena bentuk pembangkangan atas masa lalu, hanya mendapat porsi sedikit di akhir cerita, seolah itu keistimewaan yang tak perlu diceritakan berpanjang lebar. Padahal, saya pikir itu menarik, dan meninggalkan pertanyaan. Apakah ada siklus lingkaran setan pembully-dan yang dulu pernah dibully (saya jadi teringat tokoh si bisu dalam film Serigala Terakhir, orang yang dihina, dianggap lemah, tidak berarti, bisa saja suatu hari muncul sebagai pembunuh berdarah dingin dan balas dendam pun terjadi melalui cara-cara yang tak pernah kita pikirkan).
Ya, saya tahu cerita ini berlatar sebuah SMA swasta elite di Jakarta, namun penggambaran kehidupan remajanya sangat Jakarta sentris (atau memang semua tipikal anak SMA Swasta Jakarta begini?) atau dosa fiksi kita yang selalu memberikan image buruk untuk sekolah swasta, seolah di sana tidak ada simpatik, tidak ada rasa kasihan, hanya segelintir orang seperti Langit dan Sachita yang mau peduli. Dosa fiksi kita juga yang selalu menggambarkan bahwa umumnya geng-geng kaya yang populer, disukai banyak cowok di sekolah, serta hidup konsumtif, adalah mereka yang selalu menjadi perhatian di sekolah. Untungnya, penulis tidak mengatakan bahwa sekolah ini adalah sekolah dimana orangtua Aura adalah donatur dari yayasan sekolah, sehingga sekolah tutup mulut atas apa yang terjadi para korban bully.
Adanya bullying adalah bukti ketidakhadiran pihak sekolah dalam mengontrol muridnya. Apalagi di sekolah swasta yang aturannya cenderung longgar sehingga kejadian seperti yang dialami Priska dan Katrissa dengan mudah terjadi dan tak terendus. Sayang sekali, endingnya terburu-buru, sehingga penyelesaiannya tidak begitu seru, apa kabar Milani? Apa kabar Aura? Apakah siklus bullying, berhenti sampai di Katrissa karena ia telah memutus mata rantai bullying di sekolahnya?
Novel ini bagus dan saya bahkan menyelesaikannya tanpa perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan. Urusan bintang goodreads, saya pikir bukanlah urusan yang perlu menjadi perhatian benar oleh penulisnya. Kenapa saya beri dua, karena saya tahu, cerita ini menjanjikan lebih... ada kekosongan yang menyisakan pertanyaan.
Selama ini kisah-kisah bullying cenderung digambarkan di sekolah-sekolah swasta yang dalam persepsi banyak orang aturan sekolah tersebut cenderung longgar, sehingga bentuk bully macam apapun tak terendus, padahal di sekolah negeri, juga berpotensi terjadi.
Saya hanya meyakini Aura benar-benar ada di sekitar kita. Boleh jadi sebagaimana yang digambarkan novel ini, ia muncul ke permukaan atas kekelaman yang terjadi pada dirinya di masa lalu --mengingatkan kita pada bentuk bullying Masa Orientasi Siswa/MOS, simpel saja, kenapa MOS yang menyiksa adik kelas selalu bertahan dari tahun ke tahun, karena secara laten ada hasrat untuk memperlakukan anak baru sebagaimana dulu ia diperlakukan --dipermalukan, ditindas, relasi kuasa senior dan junior--- hanya saja, gambaran bahwa Aura sebagai pembully nomor wahid di sekolah yang adalah karena bentuk pembangkangan atas masa lalu, hanya mendapat porsi sedikit di akhir cerita, seolah itu keistimewaan yang tak perlu diceritakan berpanjang lebar. Padahal, saya pikir itu menarik, dan meninggalkan pertanyaan. Apakah ada siklus lingkaran setan pembully-dan yang dulu pernah dibully (saya jadi teringat tokoh si bisu dalam film Serigala Terakhir, orang yang dihina, dianggap lemah, tidak berarti, bisa saja suatu hari muncul sebagai pembunuh berdarah dingin dan balas dendam pun terjadi melalui cara-cara yang tak pernah kita pikirkan).
Ya, saya tahu cerita ini berlatar sebuah SMA swasta elite di Jakarta, namun penggambaran kehidupan remajanya sangat Jakarta sentris (atau memang semua tipikal anak SMA Swasta Jakarta begini?) atau dosa fiksi kita yang selalu memberikan image buruk untuk sekolah swasta, seolah di sana tidak ada simpatik, tidak ada rasa kasihan, hanya segelintir orang seperti Langit dan Sachita yang mau peduli. Dosa fiksi kita juga yang selalu menggambarkan bahwa umumnya geng-geng kaya yang populer, disukai banyak cowok di sekolah, serta hidup konsumtif, adalah mereka yang selalu menjadi perhatian di sekolah. Untungnya, penulis tidak mengatakan bahwa sekolah ini adalah sekolah dimana orangtua Aura adalah donatur dari yayasan sekolah, sehingga sekolah tutup mulut atas apa yang terjadi para korban bully.
Adanya bullying adalah bukti ketidakhadiran pihak sekolah dalam mengontrol muridnya. Apalagi di sekolah swasta yang aturannya cenderung longgar sehingga kejadian seperti yang dialami Priska dan Katrissa dengan mudah terjadi dan tak terendus. Sayang sekali, endingnya terburu-buru, sehingga penyelesaiannya tidak begitu seru, apa kabar Milani? Apa kabar Aura? Apakah siklus bullying, berhenti sampai di Katrissa karena ia telah memutus mata rantai bullying di sekolahnya?
Novel ini bagus dan saya bahkan menyelesaikannya tanpa perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan. Urusan bintang goodreads, saya pikir bukanlah urusan yang perlu menjadi perhatian benar oleh penulisnya. Kenapa saya beri dua, karena saya tahu, cerita ini menjanjikan lebih... ada kekosongan yang menyisakan pertanyaan.
Displaying 1 - 30 of 66 reviews




























