Sejak kecil Sarah berteman dengan Igi. Hingga mereka dewasa, persahabatan itu tidak luntur, malah semakin erat. Namun tak pernah ada kata cinta yang terucap di antara mereka.
Akhirnya Sarah bertemu Jans, fotografer baru di majalah Women’s Style, tempatnya bekerja. Kesan pertama Sarah tentang Jans adalah pria itu terlalu annoying. Tetapi Jans tidak menyerah untuk mendekati Sarah yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali mereka berjumpa. Sarah akhirnya luluh dan jatuh cinta.
Sarah terkejut luar biasa saat mendengar kabar bahwa Igi akan berangkat ke Inggris. Meski kecewa, ia tidak bisa melarang, dan mereka berjanji akan tetap menjaga persahabatan mereka.
Tetapi beberapa tahun kemudian saat pulang ke Indonesia, Igi tak sendiri. Ia pulang bersama Andien, pacarnya.
Apakah persahabatan Sarah dan Igi murni, ataukah ada percik-percik lain di antara mereka?
Actual 1.5⭐ The stars said it all! Gue engga menikmati baca buku ini, padahal belakangan ini gue lagi mood baca love triangle trope, dan bagi gue buku ini totally failed.
Well, ok gue engga bisa ngomong mengenai Sarah berakhir dengan siapa endingnya. Tapi, menurut gue karakter Jans di sini kurang banget porsinya, jadi kaya kurang terasa cinta segitiganya.
Buku debut metropop Christina Juzwar sekaligus karya pertamanya yang saya baca.
Sebenarnya dari awal saya gak berekspektasi terlalu tinggi dari metropop ini karena temanya sahabat jadi cinta. Biasanya ceritanya ya gitu-gitu aja kan ya? Hal itu juga terlihat dari kisah Sarah dan Igi ini. Awalnya terasa benar persahabatan yang sudah dipupuk sejak kecil ini, ya cerita sahabat yang emang kenal dari kecil lah, gak malu-malu, udah kayak keluarga, busuk-busuknya udah tau semua. Sampe salah satunya ketemu seseorang, Sarah bertemu Jans.
Konfliknya pun sudah bisa ditebak, saya dari awal sudah punya penilaian bintang berapa yang mau saya kasih ke buku ini bila kali endingnya seperti yang saya perkirakan. Ternyata endingnya apik dan saya cukup suka bagaimana Sarah menghadapi perasaan Igi. Sosok Jans punya porsinya sendiri, tidak banyak ikut campur dan mengganggu kedua tokoh utama, jadi gak berakhir kayak di ftv gitu.
Namun, yang cukup menjadi perhatian gua, endingnya jauh dari expetasi gua. Expetasi gua mengatakan kalau konflik ini bisa diselesaikan dan mereka jadi pacaran lagi, kayak buku The Friendzone. Namun, di buku It takes, di endingnya terdapat pernikahan Sara dengan Jans. Lalu bagaimana dengan Igi? Akhirnya mereka saling memaklumi dan lebih memilih persahabatan kembali.
Secara total, novel karangan Christina Juzwar kali ini berhasil membuat emosi gua teraduk-aduk. Buku yang pas buat mengisi liburan gua di Jakarta kali ini.
Untuk mengisi penasarannya, kalian bisa baca sendiri, kok. Dan rasakan, gimana emosi kalian teraduk-aduk udah kayak adonan donat.
Kalo baca novel ini, kalian emang harus siap-siap patah hati. Sesuai dengan cover novel yang kalian liat, cowo nya telat menyatakan cinta ketika cewe dan pacar barunya sudah bahagia. Disini, konflik ceritanya dibangun cukup apik sehingga kalian akan merasakan perasaaan Igi yang seperti roller coaster.
"Sometimes you have to take, sometimes you have to give, and there’s a time you have to let go, karena hidup ini memang tidak sendiri, melibatkan banyak sekali orang di sekeliling kita. Itulah hidup."
Sarah memiliki sahabat laki-laki yang sangat ia sayangi. Namanya Igi. Sama halnya dengan Sarah, Igi juga sangat menyayangi sahabatnya itu. Di setiap kesempatan, Igi selalu mampir kerumah Sarah untuk hanya sekedar berbicara, main games, atau sesekali menginap. Hubungan persahabatan mereka sudah terjalin begitu lama sehingga mereka berdua sudah merasa sangat nyaman satu sama lain.
Namun hal itu sedikit berubah ketika ada laki-laki lain yang datang dalam kehidupan Sarah. Sudah empat tahun lamanya Sarah tidak berpacaran. Sudah terlalu banyak kekecewaan yang dia terima dari mantan pacarnya. Tapi Jans, photographer baru tempatnya bekerja terlihat berbeda. Jans begitu sabar dan pengertian meskipun Sarah bersikap acuh tak acuh padanya.
Disisi lain, Igi yang selalu ceria tiba-tiba terlihat murung. Bisa ditebakkan kira-kira penyebab kemurungan Igi karena apa? Iya, Igi murung karena temannya Jans menaruh hati pada sahabat baik yang diam-diam ia sukai, Sarah.
Adalah hal yang sangat wajar jika kita bersahabat dengan laki-laki atau sebaliknya kemudian memiliki perasaan lebih kepada mereka, yaitu cinta. Tapi haruslah kita sadari bahwa It Takes Two to Love. Jika kita mengungkapkan perasaan cinta pada sahabat kita, segala sesuatu takkan terasa sama lagi. Kalau sahabat kita juga memiliki perasaan yang sama, then fine, itu tandanya ada step selanjutnya yang bisa dijalani. Tapi kita juga harus mempertimbangkan dampak apa yang akan terjadi jika sang sahabat tidak memiliki rasa yang sama dengan kita? You don't want to ruin your friendship because of one-sided love, right?
Ada yang harus kita pegang teguh dalam hati dan ada yang harus kita lepaskan demi kebaikan kita dan semua orang. Sometimes you have to take, sometimes you have to give, and there's a time you have to let go, karena hidup ini memang tidak sendiri, melibatkan banyak sekali orang di sekeliling kita. Itulah hidup.
Penulis menyuguhkan cerita yang fun untuk dibaca. Buku ini juga bisa dijadikan panduan bagi para sahabat-sahabat dilluar sana yang ingin mengungkap perasaan mereka tetapi masih ragu atau tidak berani. Well, setiap keputusan yang dijalani pastilah ada konsekuensinya. Begitu juga dengan pernyataan cinta. Siap mencintai, maka siap pulalah untuk ditolak atau sakit hati.
Sometimes you have to take, sometimes you have to give, and there's a time you have to let go. Itulah hidup. - hlm 170
Sarah sudah lama berteman dengan Igi. Sejak pria itu menolongnya dari pemalakan Sarah semakin terikat dengan Igi dan sulit untuk lepas darinya. Igi tidak mang erasa keberatan membantu Sarah dalam kondisi apapun, ia hanya ingin menjaga gadis itu tetap aman bersamanya. Bahkan setelah mereka beranjak dewasa Igi sellau meluangkan waktunya khusus untuk Sarah.
Walaupun bersahabat Sarah dan Igi nyaris tidak pernah akur. Sarah yang cuek, kekanak-kanakan dan seenaknya selalu membuat Igi gemas melihat tingkahnya. Igi yang lebih dewasa lebih banyak mengalah dan bersabar pada gadis itu.Igi juga tidak menampik kedekatan mereka sudah membuat dirinya nyaman berada di dekat Sarah. Namun ia tak pernah mengakui secuil perasaannya pada Sarah selama ini.
Sarah sempat berutang kebaikan pada Igi karena dulu Igi sudah membantu mencarikan pekerjaan untuknya. Igi yang bekerja sebagai fotografer di majalah Men Style mendaftarkan Sarah bekerja di Women's Style yang masih satu ikatan dengan tempat ia bekerja. Posisi Sarah sebagai beauty editor menuntutnya untuk bekerja dengan team dan deadline yang menguasai hari-harinya. Tidak jarang ia harus pulang dengan lelah dan sifatnya sering berubah ketus pada orang yang baru ditemuinya.
Malam itu saat hendak pulang kerja ia bersinggungan dengan pria di pintu masuk lift. Dialah Jans, fotografer yang baru saja diterima bekerja di Women's style. Sifat ramah dan terbuka yang ditunjukan Jans malah di salah artikan sebagai sikap sok kenal yang Sarah anggap itu sangat menganggunya. Bahkan saat Sarah sempat berpikir Jans hendak menguntit dirinya saat hendak pulang. Agak kurang ajar sikapnya waktu itu yang membuat Sarah tidak bisa melupakan pertemuan dengan Jans.
Hmm, novel ini saya baca kilat doang. Mgkn berusaha g mainstream dgn bikin Sarah dan Igi g bersatu, tp g tahulah, novel ini bener2 g menarik minat saya. Terutama, saya terganggu dengan adegan waktu Igi maksa2 Sarah, trus nyium dia dengan cara kasar n sedekit tindak kekerasan. Kok karakter Igi jd begitu? Dia kenal Sarah seumur hidup loh, kok dia bisa2nya bersikap kasar ky gt? Dan saya jg g nyaman dengan penggunaan bahasa yg campur baur, antara gaul dan baku. Gaul y gaul aja, baku y baku aja. Jatohnya jd aneh bgt. Misal, "Sudah lama gue nggak ke sini." Seharusnya, "Udah lama gue nggak ke sini." Jadinya jomplang n g enak dibaca. Tp emg dasarnya saya g sreg aja ama novelnya dr awal, jd niat buat baca jg kurang n berakhir dengan bolak-balik doang.
Temanya pasaran: dua sahabat, cewek-cowok, yang satu punya pacar, yang lain baru ngerasa kalo selama ini dia cinta sahabatnya. Untungnya penulis berani memilih ending yang berbeda dari novel-novel kebanyakan yang bertema sejenis.
Jenis novel yang cocok dibaca sepintas lalu. Paling 2 bulan lagi saya sudah lupa ceritanya tentang apa. Hehe. Bukan berarti tidak menghibur lhoo.. Yaah sejenis FTV lah kalo disamain sama tayangan televisi.
Huaaaa... tears flowing from my eyes. Triple galau kuadrat. Awal baca, gada sangkaan bakal punya efek negatif gini. Igiii. Kasian banget lu... walau I'm in love with Jans, so sweet and such a gentlemen.
Tapi kan tetep aja kasian Igi. Dilematis banget hubungan 2 tokoh utama di novel ini.
Pokoknya tetep ga rela. Igi main ngilang gitu aja, walau cowok kan pasti sakit hati juga. Ahhh, jadi sewot ga jelas ni gua. 5 stars for this book which make me overwhelming ga jelas kaya sekarang.
agak agak gimana sih ini sebenernya ya. nggak tau apa kepengaruh sama reviwer yg lain, cuma ya aku juga ngerasa aneh baca novel ini. kenapa? karena kok aku ngerasa kok kayanya tulisan mbak Tina ini kaya campuran gaya bahasa baku dan gaul. baik di percakapannya maupun cerita dari sudut pandang orang pertamanya. jadi aneh gitu lah. nggak cocok.
buku yang sangat bagus untuk seseorang yg tdk menyukai novel sama sekali tp baru mulai menyukai novel spt saya..hehe..ceritanya ngalir bgt ke nadi gue, sampe2 gw ga nyadar udh jam 12, but then i finished the book. it was awesome, sampe kebayang bayang wktu mw tdr
Flow ceritanya biasa aja, tapi gue suka semua scene Sarah pas dia canda candaan sama si Igi, bahasanya santai banget dan chemistry mereka berdua sebagai sahabat jelas terliat.
Kalimat favorit gue di buku ini: "Otak gue sudah jadi jenazah dan belum gue semayamkan. Hati gue juga lagi koma."
Yah.. Aku agak sedih juga novel ini nggak sesuai harapanku. 2.5 bintang menurutku nggak jelek-jelek banget kok, hehe.. Resensi lengkapnya klik di sini http://thecloudsinautumn.tumblr.com/p... :)
Bukan termasuk novel favorit si~ sekali baca aja cukup. Well, mungkin ending nya yg bikin...... Huh. Hhahhaaaaa. Tapi sinopsis novelnya bikin pembaca penasaran, aku salah satunya gak pake ragu-ragu langsung comot beli aja. Hihihiii.
It was good like my rating that i give to you author! Sebenernya ini novel lumayan asik buat anak teenagers kayak aku gini.. cuman kayaknya bagus deh kalau dua duanya dikasih happy ending..