Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi " Backpacker " yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun diluar negeri.
Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang "harus" dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat travelling ke sebuah negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri.
is Indonesia’s leading travel writer. In 2005, she started a travel blog at naked-traveler.com and in less than two years the blog was already nominated as Finalist in Indonesia’s Best Blog Award at Pesta Blogger. This led her to switch her corporate career to become full-time traveler and freelance travel writer.
Her debut book “The Naked Traveler” was a compilation of thoughtful but hilarious short stories from her adventure around the world. The book inspired many Indonesians, especially the youth, to travel – something that was rarely done at that time. Up to now, “The Naked Traveler” has been published in its third sequel and all are Indonesia’s best-selling travel book to date.
Together with Erastiany and illustrator Sheila Rooswitha, they created Indonesia’s first graphic travelogue “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” (The Dynamic Hippos: Lost in Byzantium) about traveling misadventure of two fat girls in Turkey. She also contributed to anthology “The Journeys” along with 11 other writers.
Between dealing in her writing deadline, she still found time to become Editor in Chief of Venture travel magazine, regular contributor of Yahoo! Travel, contributor for various magazines, radio personality of Indika FM, social media entrepreneur, and speaker in creative writing/blogging/tourism events. In 2010, Trinity won “Indonesia Travel & Tourism Awards” as Indonesia Leading Travel Writer and dubbed as “Heroine for Indonesian tourism” by The Jakarta Post.
Trinity has Bachelor Degree in Communications from Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, and awarded Asian Development Bank-Japan Scholarship to take up Master in Management in Asian Institute of Management, Manila, Philippines.
She has traveled to almost all provinces in Indonesia as well as 46 countries and counting. In any case, she thinks Indonesia is yet the best country ever.
Beruntung sekali menjadi seorang Trinity yang bisa berkesempatan (dengan modal yang *piuuuh* nekad –Gapapa ya nekad-nya pake ”d” bukan pake ”t” hehe) melalang buana ke hampir seluruh wilayah Indonesia dan dunia (lebih dari 33 negara) dan kebanyakan dilakukan seorang diri. (selain modal nekad harus punya duit juga dong ah, :P).
Perjalanannya sih bukan tipe-tipe parlente yang semuanya diukur dengan ilmu per-”bintang”-an. Naik maskapai berbintang (business class misalnya) atau menginap di hotel bintang 5. Tapi semuanya dilakukan ala bekpek. Ala pelacong yang dicap ’miskin’ karena tampilannya tidak meyakinkan. Sendal gunung (paling banter sepatu kets), celana selutut, T-Shirt, dan tentunya tanpa tentengan suitcase tapi hanya memanggul backpack (makanya disebut backpacker).
Tapi mengecap nikmatnya business class di pesawat juga pernah dirasakan oleh Mbak Trinity karena tidak sengaja. Itu terjadi ketika ia melakukan perjalanan menuju Vienna, Austria. Ia yang sempat transit di Singapura, ternyata dioper ke pesawat lain dan ditempatkan di kelas bisnis. ”Maaf, saya memang kampungan. Kalau bukan karena hoki, saya yang backpacker mana mungkin duduk di kelas bisnis pesawat karena tak sanggup bayar,” Hal.42.
Menginappun hanya bisa di hostel (ada huruf ”s” diantara ”o” dan ”t”). Hostel ini tempatnya bekpekers ngendon dan bermalam. Satu kamar bisa diisi oleh 4 sampai 5 orang. Di berbagai negara malah dicampur antara laki-laki dan perempuan. Memang kudu menyiapkan mental banget dah. Misalnya Hostel di Edinburg, Skotlanida. ”Kamarnya sempit meski khusus cewek, terdiri dari 8 bunkbed dengan kasur busa yang punya cekungan dalam di bagian tengahnya sehingga kalau merebahkan bada akan terlihat seperti sandwich –terjepit diantara kasur busa...” Hal.128.
Tapi perjalanan ala backpacker tidak selamanya buruk. Karena ’tersesat’ mbak Trinity malah pernah menemukan hostel yang mantap surantap di kota Omarama, New Zealand. Hostel murah dengan pemandangan luar biasa. Huaaah.
Banyak sekali fakta-fakta unik yang ada di dalam buku ini. Misalnya saja, siapa yang mengira bahwa pramugari dan pramugara itu cantik-cantik, langsing dan ganteng. Di Amerika Serikat, pramugara dan pramugarinya malah ada yang sudah sepuh a.k.a nenek dan kakek. Atau, kebiasaan-kebiasaan menggelikan penduduk daerah tropis ketika berada di negeri empat musim. Emang sudah kebiasaan kita sih ya kalo magrib mulai nutup pintu dan jendela. Kebiasaan itupula yang dilakukan Mbak Trinity ketika berada di Paris, ”Nanti banyak nyamuk,” Hal.187. Hehe, padahal di Paris mana ada nyamuk.
Itu hanya sekelumit kecil pengalaman-pengalaman seru Mbak Trinity lho. Banyak sekali fakta-fakta unik bin ajaib yang ada di buku ini (Makan rendang 2 kilo di airport, ngelabrak pejabat di Filipina, Ngangkang di Porter, Satu pesawat dengan TKI dll). Gak asyik kalo aku bocorkan terlalu banyak. Satu lagi yang penting, ada banyak cerita yang hanya spesial ada di buku ini (tidak terdapat di blog-nya). Lagian, aku aja yang sudah baca di blog, tetap merasa takjub ketika membaca ulang cerita-cerita seru menjelajahi dunia tersebut.
Semenjak berpetualang ke Belitong tahun 2013, saya jadi semakin teruja dengan kembara. Alasan biasa, batasan wang dan waktu menjadikan aktiviti ini sukar untuk terlaksana.
Tetapi membaca juga ibarat kembara. Apatah lagi buku itu sememangnya tentang kembara. Dan buku The Naked Traveler (antaranya) sudah saya nekadkan untuk dimiliki.
Bagus. Lucu. Kadang-kadang turut terbahak membayangkan situasi Trinity dalam penceritaannya.
Cuma bahasanya sahaja sukar sedikit untuk saya hadamkan. Kalau rajin, saya google translate kan. Kalau tidak, saya buat-buat faham ikut terjemahan sendiri.
Cerita ala solo travelling backpacker keliling dunia. Suka-duka, serunya, hebohnya, semuanya. Ada beberapa tips dan trik juga. Cukup menarik dan jadi inspirasi buat semakin banyak jalan-jalan jadi solo traveller juga.
Cukup menarik dan kaya informasi printil-printil yang mungkin sulit diperoleh mengenai bertualang dan berwisata di beberapa daerah dan negara. Tapi peran penyunting seharusnya bisa lebih kuat untuk merapikan kumpulan kisah ini.
Sayang, meski Trinity amat menyayangkan rasisme yang masih berlaku di Inggris, dari tulisannya sendiri tersirat betapa ia masih menerapkan stereotipe dan pandangan berbau rasisme pada sejumlah orang yang ia temui. Dan sejumlah perbuatannya yang ia akui sendiri, tak bisa saya tepuk tangani.
sembari berserius ria baca 20.000 mil di bawah laut, nyambi bacaan yang enteng dulu ah...sambil nyanyi:
"mendaki gunung lewati lembah...sungai mengalir indah ke samudra...bersama teman bertualaaannggg"
---
*masih sambil nyanyi*
Menurut The Naked Traveller,
Bandara paling unik: El Nido, Filipina. Pesawat, becak, dan pejalan kaki menggunakan jalur yang sama :D
Pilot paling baik (kind): pilot yang tidak cukup dengan hanya menyetir pesawat, tapi juga memanggil penumpang yang keasikan makan hingga telat boarding
Yang pertama kali dicari oleh backpacker perokok saat tiba di bandara tujuan: smoking room
Barengan paling ngga enak di satu pesawat: TKI (karena jorok, sampe pipis aja musti di lantai toilet pesawat)
Negara paling nyaman buat travelling sambil nyetir: Selandia Baru
Yang membuat orang Indonesia malas jalan kaki: matahari
Daerah paling spooky: Pulau Moyo di Sumbawa
Mau hemat biaya buat makan: ngaku di restoran kalo lagi ulang tahun hari ini
Teman paling yang menyebalkan buat travelling: yang punya fobia sama ketinggian (acrophobia), yang punya fobia naik pesawat ( avi-phobia), yang fobia sama ruangan tertutup (claustrophobia). *Kalo yang fobia sama bulu ayam namanya apa ya…yang jelas masih asik buat diajak naik tebing, naik pesawat, atau diving..asal ga diajak ke peternakan ayam aja…hehehe…
Terakhir: ternyata orang Sunda punya teman. Ga cuma mereka yang melafalkan konsonan “f” dan “v” jadi “p”. Ternyata orang Filipina juga..:p
Ceritanya mengalir, spontan, lucu, bikin ketawa terpingkal-pingkal, bener-bener menghibur deh.. selain pastinya, memotivasi kita untuk jalan-jalan ke mana saja yang bisa dijangkau, dalam negeri, luar negeri
Pas baca buku ini, aku jadi inget sahabatku pas SMA, si Dini, yang secara cueknya hampir sama dengan si Trinity, pengarang buku ini, sahabatku yang selalu bisa membuatku tertawa terpingkal-pingkal (miss you, din)
Baca ini abis nonton filmnya. Jadi review ini cuma bandingin film vs. buku.
#1 Jendela yang dipasang gorden tapi ternyata tembok di film kejadiannya di Wisma Jampea (tempat gw nyaris nginep), di buku (hlm. 4) kejadiannya di hotel transit di KL.
#2 Makan di resto memang pernah dilakukan Trinity, di film dia makan di Philipines bareng sobat-sobatnya. Di sini pula kejadian makan embrio bebek (hlm. 144), tapi klo di film yang makan sepupunya Trinity (lupa namanya).
#soal Mr. X beneran disinggung, tapi ga sedramatis di film sih, dan tujuannya ga ke Maldives gitu. Mr. X cuma nawarin klo dibeliin tiket di US Trinity mau ke mana? Dia bilang ke Texas. Dan waktu di Texas ditanya mau ke mana lagi, dia bilang ke Karibia. Gw setuju banget dengan judul bab ini, You're a lucky bastard! (hlm 249-252)
#soal si Paul di film dan pantai sparkling di Maldives (gw sampai browsing abis nonton, dan ternyata emang beneran ada ya) ga ada di bukunya sih, mungkin untuk memenuhi pakem bahwa sebuah film itu kudu ada romancenya kali ya.
Dan satu lagi, kenapa Maudy sih??? Terlalu jaim menurut gw, ga Trinity banget kelakuannya. Tapi sempet terhibur liat Trinity jadi guide di Krakatau. Dan filmnya menurut gw ketolong dengan Ayu Dewi yang jadi bos dengan kelakuan kacaunya.
I know that I’m more than a decade late in reading this book. And that’s probably why there are some parts that I think ethically inappropriate to write these days. Don’t get me wrong, this book is entertaining. But the author made personal remarks (mostly about physical appearance) that I thought generalising and borderline racist. Especially for those statements, “I dont want to insult, but … (proceed with insulting comments)”. I’m all about traveling but I think traveling is about appreciating difference and challenging stereotypes.
pembawaan ceritanya menarik. buat saya pribadi, penulisnya tidak seakan2 sedang pamer, tapi sedang sharing. membuat ingin jadi backpacker lalu keliling dunia.
"The Naked Traveler (Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia)"
Traveling sepertinya menjadi bahasan terpopuler ditahun 2008, ga' gaol getoh rasanya kalo ampe ga' nge-backpacker. Ramainya lalu lintas bloging ditambah dengan kegairahan dunia penerbitan setelah booming-nya cerita konyol seperti "Jomblo" menjadi angin segar kepada orang-orang hebat yang memiliki gaya cerita keren dan gaol getoh.
The Naked Traveler terbagi menjadi tujuh bagian: 7 bagian itu adalah: * Airport * Alat Transportasi * Life Sucks! * Tips * Sok Beranalisa * Adrenaline, dan * Ups!
yang tentu aja tiap bagiannya menceritakan kisah-kisah pendek sesuai temanya. Trinity juga ngelompokin tips, hal-hal menantang yang dilakukannya (seperty bungy jumping), serta pengalaman buruk saat bertandang ke Eropa (Inggris kalo ga salah) dan diskriminasi rasial yang dialaminya (juga turis asia lainnya). Trinity menceritakannya secara blak-blakan apa yang dilihat, dirasakan dan diinginkan, mungkin karena itu pula blogspot-nya di-banded (alamatnya sekarang: http://naked-traveler.com) dan bukunya sempet ditarik sampe akhirnya beberapa bagian diedit then Jreng Jreeeenggg... everybody loves Naked uhmmm The Naked Traveler maksudnya. Buku ini sungguh tidak cocok bagi pribadi-pribadi yang ga' mau menerima hasil karya seseorang berdasarkan kualitasnya, open mind aja dengan lifestyle Trinity yang gemar dugem, alkohol dan rokoknya atau bahkan dengan khayalan nakalnya.
The Naked Traveler bukan hanya menghadirkan kisah konyol dan cerita yang mati-matian dilucu-lucuin tapi kelucuan itu hadir dengan sendirinya kadang bahkan tertawa miris, TNT membawa pengetahuan umum dan info penting yang bisa kita dapatkan dari setiap perjalanannya. Gw jadi makin pengen maen ke Padang setelah baca adanya pantai Cubadak di "Pulau Indah Terjajah" yang bercerita bahwa banyak pulau indah nan eksotis di Indonesia, tapi ternyata itu udah dimiliki pihak asing seperti Pantai Cubadak yang dimiliki orang Italy (ITALY booo... gw bisa ketemu Maldini kaleee). Dari cerita negara kecil bernama Andorra di antara Prancis dan Spanyol qt dapet info dan juga tips pengurusan visa. Kecanggihan di berbagai airport, kebersihan toilet airport (ga' termasuk Bandara International Sukarno Hatta terminal 1 dah pastinya!!), cara menunggu yang efektif dan efisien, termasuk tips tidur di Bandara juga bisa diperoleh disini.
Membaca buku ini, gw yang juga punya mimpi mendarat di Italy dan menjelajahi Eropa baru kemudian ke Mekah (wuakakakkk pantesan ga' juga direstui Tuhan) bisa ikut menikmati dunia lewat tulisannya. Yang gw suka dari buku ini Trinity ga' sok jaim, dia emang suka jalan menikmati perjalanannya sesuai dengan kepribadiannya dan menceritakannya dengan apa adanya. Buku setebal 282 ini terlalu sayang untuk dilewatkan, dijamin alur ceritanya ga' ngebosenin, nambah pengetahuan dan tentunya bagi pecinta traveling menambah motovasi jalan-jalan kere-nya.
Ka' apa ya kalo gw bisa jalan-jalan sebebas dia..... tapi mo jadi backpacker sekalipun sudah dipastikan gw ga' bakal mampu membeli tiket yang nerbangin gw keliling dunia.... hiks...
Biasanya saya rada males baca buku blogger (a.k.a. "kumpulan catatan blogger yang dibukukan"). Alasannya ada beberapa : 1. Banyak post yang mengasyikkan saat dibaca dalam format blog, tapi jadi melempem saat dibaca dalam bentuk buku. Biasanya kan di blog cerita dipasang ya berdasarkan kronologi aja; kalau saling nyambung syukur, kalau nggak juga nggak apa-apa. Dalam buku saya mengharapkan ada pertalian tema antara satu bab dengan bab lainnya, sesuatu yang seringkali absen pada kumpulan catatan blogger. 2. Rasanya nggak banyak menawarkan sesuatu yang baru. Maksudnya gini deh, ngapain kita bayar buat sebuah buku, kalau material yang hampir-hampir sama bisa kita baca di blog? Memang selalu ada materi baru, tapi nggak proporsional aja sama materi daur ulang dari blog. Saya pernah suka banget sama tulisan seorang blogger, sampai saya beli kumpulan catatannya yang dibukukan, karena toh dalam promosi sang blogger, akan ada materi baru. Taunya bab barunya cuma dua, sementara bab lainnya saya udah pernah baca di blog. Iya sih, good that we support our favorite bloggers and all, tapi tetep aja... *ogah rugi*
Jujur, saya nggak ngikutin dari awal blog Mbak Trinity. Bacanya pun baru akhir-akhir ini. Tapi sekalinya baca, langsung dari awal sampai akhir, haha. Nagih! Pengen beli bukunya, tapi saya selalu menahan diri karena alasan-alasan yang sudah saya sebut di awal. Tapi kalau dipikir-pikir, The Naked Traveler kan udah terbit berjilid-jilid ya. Masak sih dari semua jilid tersebut, semuanya daur ulang materi di blog? Berbekal perubahan pemikiran saya tersebut, akhirnya saya beli juga buku ini (dan buku kedua, yang masih menunggu diselesaikan).
Puas banget saat melihat alasan-alasan saya malas baca buku blogger dipatahkan di buku ini. Ada pengorganisasian bab; bab yang bertema sama/memiliki keterkaitan ditempatkan berdekatan. Terus rasanya banyak materi baru yang belum pernah saya baca di blog Mbak Trinity (atau mungkin karena saya bukan pengunjung setia-setia amat, jadi seandainya banyak pun saya nggak langsung sadar...hehehe). Dan seperti saat saya baca posting blog Mbak Trinity, tetep nagih!
In general, it is so addictive and it makes me want to pack my suitcase (or perhaps backpack...but I'm always a bit of the suitcase-y type...), pick a destination, and just go! Mungkin ke sebuah lokasi yang bakal terasa cupu kalau dibandingkan dengan yang sudah dikunjungi Mbak Trinity, tapi buat orang yang hobinya kalau liburan cuma leyeh-leyeh di rumah, nggak ke mana-mana, itu kemajuan banget.
Favorite chapter : tentang bungee jumping di Selandia Baru. OMG itu mimpi saya banget gitu lho, meski mungkin saya pengen coba yang di Kawarau Bridge dulu aja (tempat bungee jumping komersial pertama di dunia, meskipun ketinggiannya terasa cupu kalau dibandingin sama di Nevis yang dicoba Mbak Trinity). Makasih Mbak Trinity, now I know what to expect :)
Bisa dilihat sekarang, banyak sekali buku-buku yang mengambil aliran travelling sedang memenuhi pasar penerbitan di Indonesia. Semua ini tidak lepas dari sebuah buku yang menurut saya merupakan pionir fenomena tersebut, yaitu The Naked Traveler, Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia. Bahkan nama si penulis sendiri, Trinity telah menjadi icon travelling di mata para penggemar buku-buku ber-genre jalan-jalan.
Sebelum membaca buku ini saya sudah mengkhatamkan ‘Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium’ yang berupa novel grafis, berceritakan pengalaman Trinity berkeliaran di ranah Turki. Terasa sekali perbedaan karakter Trinity yang tergambar pada buku DHH dan TNT. Saat membaca DHH saya tidak terlalu menangkap kegilaan dari karakter Trinity. Sosoknya cenderung kalem, santai, dan so sweet *huhuy!*.
Namun, sangat berbeda ketika saya ‘bersentuhan’ dengan Trinity dalam versi TNT. Kegilaan dan kecuekan si penulis terasa meledak-ledak. Orangnya yang ceplas-ceplos dan gokil lebih terasa kuat ketika saya mengikuti setiap artikel perjalanan yang ditulisnya di buku yang telah cetak ulang berkali-kali ini.
Mengapa disebut backpackers? Karena para traveler membawa ransel (backpack), bukannya koper (Suitcase) [h. 154] Tak dipungkiri kalau seorang backpacker selalu identik dengan tas ransel yang tak jarang besarnya mengalahkan si pemakainya. Bahkan ransel bisa menjadi soulmate yang tak terpisahkan, seperti ransel Trinity yang telah “mengabdi selama 15 tahun, terhitung sejak dibeli tahun 1995. Dan berhati-hatilah dalam membawa ransel, jika tidak, siap-siaplah mendapat sindiran yang menohok.
Selain para backpacker selalu bersanding dengan backpack, mereka juga identik dengan jalan-jalan berkantong mepet alias dana seadanya. Di sinilah dibutuhkan kehebatan mereka dalam menyelaraskan keuangan dengan obsesi untuk menjelajah negeri sasaran. Trinity banyak membagikan tips untuk poin yang satu itu, mulai dari masalah harga tiket bandara, penginapan, sampai masalah isi perut.
Banyak bagian yang membuat saya tertawa dalam buku ini. Hal itu tidak lepas dari gaya Trinity yang kocak dan blak-blakan dalam menceritakan berbagai pengalamannya menjelajah berbagai tempat, baik di dalam dan luar negeri. Selain itu, dia juga berbagi tempat yang menurutnya memiliki fasilitas dan pemandangan paling keren, hingga lokasi yang terkesan biasa-biasa saja. Seru dan banyak hal yang bisa dijadikan pegangan jika pembaca termasuk orang yang sangat berminat untuk menjadi backpacker.
Kisah perjalanan backpacker yang enak dibaca dan lucu. Dia menulisnya tidak dengan model menceritakan perjalanannya satu-satu dari berangkat sampai pulang, melainkan dengan mengelompokkannya dalam topik-topik yang menarik, misalnya tentang airport, dugem, pijat, sasana hiburan yang memacu adrenalin, "ayam", penginapan, dan sebagainya, yang dilihat dari pengalamannya di berbagai negara. Kelihatan banget Trinity sudah melanglang buana ke berbagai tempat sampai ke tempat-tempat paling terpencil. Keren. Dan bikin iri.
Kisah-kisah perjalanan seorang Trinity keberbagai negara (33 negara !!) dan hampir seluruh wilayah Indonesia. Dengan perjalanan ala backpacker,modal nekat,perjalanan yang dilakukan sangat seru,unik, banyak cerita lucu dan juga menegangkan.
Ngirilah pokoknya membaca cerita perjalanan ibu ini. Modal nya emang kudu berani campur nekad.
Bukunya keren banget, lucu, katrok, nyeleneh, nyentrik pokoknya Funkeee abisss....( sangat informatif ) Wajib dibaca oleh teman-teman yang hobi jalan-jalan dengan uang pas-pasan. Infonya akan sangat-sangat berguna.
Buku ini asyik banget dibacanya. Gaya bercerita yang lugas membuat kita seolah-olah mendengarkan cerita ini langsung dari Trinity, sang penulis. Ringan dan sangat menghibur.
Udah lama aku memasukan buku ini ke dalam wishlist tapi belum kesampaian untuk baca sampai akhirnya nemu audiobooknya di aplikasi Storytel yang dinarasikan oleh penulisnya sendiri! Asli! Ngedengerin audiobooknya asik banget macam ngedengerin seorang teman yang ceritain pengalaman traveling ala backpackernya ke banyak negara selama bertahun-tahun. Mulai dari nyeritain tentang pesawat dan bandara di banyak negara, cerita tentang hostel-hostel yang ia tempati bersama dengan oran-orang asing yang ia temui, cerita tentang tempat-tempat dugem juga, cerita tentang cara ia berhemat saat traveling, dll. Dari pengalaman-pengalamannya itu pun banyak kejadian yang unik, aneh, bikin geleng-geleng kepala, bikin cekikikan sampai ketawa ngakak, dan juga bikin bergidik karena ngeri. Yang paling aku ingat adalah saat ia bercerita tentang bandara yang ada becaknya wkwkwk [Iya, jadi waktu dia naik pesawat kecil dan tiba di Elmindo Airport Filipina yang bentuknya macam garasi dan harus menunggu tricycle atau becak ala Filipina datang setelah pesawat lepas landas karena pesawat dan bcaknya menggunakan landasan yang sama 🤣🤣 Lalu ada juga pengalamannya nyobain bungee jumping langsung di negara pertama yang bikin bungee jumping, New Zealand. Aku ngedenger dia diangkut ke atas bukit dan dipasangi peralatan bungee jumping aja udah ngeri, lalu abis itu dia didorong jatuh lalu terlempar lagi ke atas lalu ke bawah lagi sampai 3-4x. Ya ampun! Aku bisa pingsan! Abis itu pengalamannya nyobain saunda di Finlandia (yang ternyata negara asal sauna) juga nampak seru. Di Finlandia, sauna tuh sama umumnya sama kamar mandi, katanya banyak orang yang punya sauna di rumahnya. Dan waktu dia nyobain sauna di sana gak lama dia disuruh pergi ke luar yang saat itu bersalju dan nyebur ke kolam es, habis itu pindah lagi ke tempat sauna trus nyebur lagi ke kolam. Jadi panas, dingin, panas, dingin. Kalu aku bisa jadi panas dingin beneran 🤣🤣 (hide spoiler)] Pengalamannya yang paling bikin geleng-geleng adalah ceritanya waktu sepesawat dengan TKI yang naik pesawat macam naik bus kopaja.
Pengalamannya jalan-jalan makin terdengar mengasyikan karena gaya traveling Kak Trinity yang berbeda 180 derajat denganku. Kak Trinity jalan-jalan ala bakpacker tulen dengan barang bawaan seadanya (cuma bawa 5 baju buat 2 minggu!), nginep di hostel sama stranger, menghemat pengeluaran yang jadinya bikin dia makan makanan yang itu-itu aja, sampai nyobain aktivitas-aktivitas ekstrem macam bungee jumping dan paragliding. Sementara aku orangnya picky, parnoan, dan takut ketinggian 🤣🤣 Jadi kalau aku jalan-jalan gak bisa tuh bawa backpack doang, minimal tas fitnes segede gaban atau koper kabin untuk perjalanan 3-4 hari (apalagi kalau 2 minggu!), lalu seperti mustahil nginep di hostel sama stranger apalagi kalau aku pergi sendirian, dan pastinya aku akan mencari aktivitas yang menenangkan seperti duduk-duduk di pinggir pantai atau pergi ke festival budaya bukannya mencari aktivitas yang bikin jantung berpindah dari tempatnya 😂😂 Jadinya, pengalaman Kak Trinity bikin aku bisa tau gitu hal-hal yang gak akan aku coba wkwk Cuma memang untuk jalan-jalan ala backpacker tuh butuh keberanian dan rasa percaya diri, apalagi kalau nemu kejadian-kejadian gak terduga saat traveling.
Secara keseluruhan buku ini seru banget sih untuk diikuti. Bikin pingin jalan-jalan juga 😆😆
The Naked Traveler: Panduan Traveling Hemat dan Penuh Petualangan Bagi para pecinta traveling, buku "The Naked Traveler" karya Trinity merupakan bacaan wajib yang tak boleh dilewatkan. Buku ini bukan hanya panduan wisata biasa, tetapi juga kisah inspiratif tentang seorang wanita yang menjelajahi dunia dengan budget terbatas. Gaya bahasa Trinity yang kocak dan lugas membuat buku ini begitu menarik untuk dibaca. Dia menceritakan pengalamannya dengan detail yang hidup, mulai dari tips mencari tiket pesawat murah, akomodasi budget-friendly, hingga trik menghemat biaya makan dan transportasi. Salah satu hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah kejujuran Trinity. Dia tidak hanya menceritakan sisi glamor dari traveling, tetapi juga berbagi tentang momen-momen sulit dan menantang yang dia alami selama perjalanannya. Buku ini juga membuka mata saya tentang berbagai budaya dan tradisi di berbagai negara. Trinity menceritakan tentang interaksi dengan penduduk lokal yang ramah dan inspiratif, yang membuat saya semakin ingin menjelajahi dunia. Bagi kamu yang ingin traveling dengan budget terbatas, "The Naked Traveler" adalah buku yang tepat untuk kamu. Buku ini akan memberikan kamu banyak tips dan trik untuk menghemat biaya dan membuat perjalanan kamu lebih menyenangkan. Selain itu, buku ini juga akan menginspirasi kamu untuk berani keluar dari zona nyaman dan menjelajahi dunia dengan penuh petualangan. Jika kamu ingin membaca lebih lanjut tentang tips traveling hemat, kamu bisa mengunjungi artikel berikut ini: Rahasia Hemat ke Luar Negeri Naik Pesawat Kelas Bisnis: https://www.jenius.com/highlight/deta... Saya sangat merekomendasikan buku "The Naked Traveler" untuk semua orang yang ingin traveling dengan budget terbatas dan penuh petualangan.
jujur mungkin saya 'terlambat' menikmati keseruan petualangan Trinity dengan The Naked Traveler-nya. tapi lebih baik terlambat bukan daripada tidak sama sekali? 😤 awalnya yang membuat saya penasaran adalah judulnya.. kenapa naked?? apakah trinity jalan-jalan tanpa busana? tapi yasudahlah akhirnya saya pinjam juga bukunya dan saya baca. . . lembar demi lembar. kenapa buku ini jujur sekali?? saya pikir buku ini hanya akan membahas tempat2 wisata yang oke-oke aja. nyatanya trinity membawa pembacanya untuk menengok sisi lain dari belahan dunia yang ia singgahi. dan bagi saya itu cukup informatif dan menghibur dalam satu waktu bersamaan. bahasa yang tulisan yang terkesan apa adanya justru membuat trinity serasa ingin mengakrabkan diri dengan para pembacanya. . . dan perlu diketahui bahwa semakin bertambah halaman yang saya baca. omaigatt trinity membuat membuat saya seperti orang gila karena cengar-cengir baca part ketika dia KKN di pulau Kalimantan. . . oke saya langsung lanjut The Naked Traveler 2
Naked traveller series adalah sebuah travelling book yang poinnya bukan di tempat mana yang telah dikunjungi tapi lebih ke perjalanan jiwa seorang adventurir. Trinity adalah motto hidupnya, pantang menyesal saat mati karena tidak pernah mencoba dunia ini.
Saya sudah membaca naked traveller 1-4. Sebenarnya cerita di dalam buku ini tidak bersambung (bahkan antar partnya saja tidak bersambung, lebih seperti membaca cerpen) sehingga tidak masalah jika tidak berurutan membacanya, toh latar belakang pembuatan buku ini selalu ada di setiap epilognya.
Hal yang khas dari Trinity adalah kenekatan dan kecuekannya dalam hal travelling. Dia bahkan bisa mencoba negara-negara atau tempat aneh yang namanya belum pernah terdengar sebelumnya. Makan, minum, melakukan aktivitas unik, saya rasa dia 180 derajat dengan Greer Gardiner si luxury traveller.
Trinity menginspirasi bahwa semua orang dapat travelling asal mereka mau berusaha. Menabung, pergi, coba hal baru, dan tulis sebagai pengalaman berharga!
Buku tentang perjalanan selalu seru sih. Mau jalan kemana kek. Mau ala tradisional sampe borju juga selalu seru. Karena yang namanya perjalanan selalu ada kisah-kisah yang unpredictable gitu. Walaupun selalu seru, nulis tentang perjalanan gak selalu gampang. Gw cukup suka cara bertuturnya mba trinity, walaupun kadang ngerasa flat. Ya mungkin karena hanya potongan-potongan kecil tiap perjalanan ya, bukan sebuah perjalanan utuh.
Setiap selesai baca buku tentang travelling, pasti jadi pengen jalan-jalan. Dan tiba-tiba keinget beberapa draft tulsian di blog tentang traveling yang gak kelar-kelar. Bukan karena gak ada cerita seru, tapi karena susah banget milah-milah yang mau ditulis dan yang gak. Dan pas nulsi ujung-ujungnya malah ketawa atau melow sendiri. Jiaah, kapan kelarnya kalo gitu?
3 bintang buat The Naked Traveler pertama. Next buku kedua.
Iseng baca nih buku soalnya capek diledek sepupu yang bilang katanya sayasuka sama buku menye-menye (alias novel romantis). Kirain berisi rekap perjalanan si travelernya ternyata lebih seperti panduan. Entahlah. Boleh dibaca buat yang mau traveling ke luar negeri. (saya? Aamiin:") Si penulis ga perlu diragukan lagi kenekadan nya. Bab yang saya suka pas di pulau terpencil itu lohh.. Di pulau seram HIIIIIIIIIIII gabisa mbayangin deh kalo saya di posisi seperti itu. Yg kemudian membuat saya search kisah nyata seram yang dialami traveler. Kekurangannya ada sih, saya kurang sreg aja saat si penulis menulis opininya tentang orang lain yang menurut saya lebih seperti menghina. Overall, saya akan melahap The Naked Traveler volume 2 dan seterusnya (sampai saya puas lah xD)
Buku ini punya sisi lain yang membuat kita berdecak "Wah seru juga" . Tapi sepertinya Mba Trinity orang yang ekstrovert deh. Kemana-mana selalu ketemu teman baru dan bahkan langsung 'akrab', jadi mungkin beberapa faktor 'wah' sulit untuk diterapkan dengan kemampuan sosialisi yang ga terlalu tinggi seperti saya, terlebih saya bukan 'beach girl' dan ini buku melulu isinya laut dan pantai. Tapi saya senang baca daya juang beliau menjadi backpacker. Saya juga lahir dari keluarga pejalan, jadi saya tau serunya travelling dan bagaimana cepatnya saya merasa bosan tinggal lama di satu tempat. Buku ini membuat saya 'keliling' dan jadi ingin cepet-cepet nabung biar bisa ambil cuti kerja dan ciao seperti mba Trinity.
Awalnya penasaran ketemu buku ini di Gramedia, kok ada ya orang traveling sambil 'Naked' atau Telanjang, ternyata maksudnya Nekad tapi entah kenapa menjadi Naked makanya banyak yang ke jebak masuk ke situs Blog-nya Naked Traveller. Mungkin banyak cari yang aneh-aneh di web tapi pas ngebuka blognya malah ketagihan baca perjalanannya Trinity ya hehe.
Sebuah catatan perjalanan dari Trinity yang dikemas menarik dan ketika membacanya seperti merasa kita sedang ikut travelling, banyak hal-hal menarik dan tips-tips travelling solo juga didalam buku ini.
Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi “backpacker” yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar negeri. Melalui buku ini, ada berbagai macam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang “harus” dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat traveling. Bisa jadi, setelah menamatkan buku ini, kita justru semakin mencintai negeri sendiri.
"kalau mau baca tren pariwisata sekarang ini, coba kamu baca satu saja bukunya (Trinity). Dia bisa dibilang travel blogger yang mempopulerkan traveling kepada publik Indonesia," Kata aura kekasih padaku saat menonton Trinity diwawancarai di satu stasiun televisi.
Setelah membaca satu bukunya, akankah muncul aura Christopher Columbus yang berkali kali berpetualang dan menjadi delusional telah sampai ke jazirah India? Semoga tidak.