Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ziarah: Sebuah Novel

Rate this book
dahsyat. wajib baca. novel yang sarat hikmah kehidupan.

Paperback

First published January 1, 1969

65 people are currently reading
801 people want to read

About the author

Iwan Simatupang

21 books65 followers
Iwan Simatupang dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970.

Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian. Ia dikenal dengan novel-novelnya yang mengusung semangat eksistensialisme: Merahnya Merah (1968), Kooong (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1975), Ziarah (1969), Kering (1972). Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris.

Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982), sedangkan puisi-puisinya dalam Ziarah Malam (1993).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
288 (40%)
4 stars
223 (31%)
3 stars
155 (21%)
2 stars
29 (4%)
1 star
16 (2%)
Displaying 1 - 30 of 145 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
June 12, 2017
Saya sudah membaca Kooong, novel yang sederhana secara konflik namun kemudian menyeret pembaca pada banyak persoalan. Pun dengan novel kanonik Iwan Simatupang yang satu ini. Persoalannya tampak sekadar lara hati seorang suami yang ditinggal mati istri, yang kemudian merasakan kesedihan dan memutuskan untuk berziarah mengunjungi makam istri. Namun Iwan Simatupang mengajak pembaca menyusuri lebih dari itu.

Mulai dikisahkan bagaimana dia menjadi pelukis yang kemudian menjadi pengapur tembok kuburan, yang kemudian membuat heboh suasana kota, kemudian memaksa seorang Opseter diganti dan juga Walikota resah. Semua kacau karena kepolosan dan ruang kesendirian yang diam-diam menjalar ke seluruh kota. Meski makna berlapis, sebenarnya point-point permenungan yang hendak dihadirkan Iwan Simatupang terlihat gamblang. Apalagi kalau teliti mencermati keindahan kata-kata Iwan.

Saya menggarisbawahi satu frasa yang menurut saya begitu dalam: Tiap orang mati adalah sarjana kehidupan.
Juga kalimat pungkasan Iwan di novel ini yang ajaib sekali.

Namun kalau dibandingkan novel-novel mileneal, keberanian Iwan adalah tidak menancapkan tokoh pada sumbu yang tebal. Tokoh seperti mengawang tanpa kejelasan latar yang menjadi fondasi tokoh. Iwan tak peduli latar dan tempat, Tokoh lebih banyak bergerak mengawang tanpa based. Kalau dalam wayang, bisa diandaikan kalau wayang di tangan Iwan semuanya sedang bertanding di udara. Tak butuh debog untuk menancapkannya. Toh semua maksud Iwan sudah terwakili oleh keliaran dan kemajemukan kalimat dan pola pikir serta tindakan tokoh dalam novel ini.

Mungkin penulis sekarang belum ada yang berani menulis dengan gaya Iwan. karena apa? Kebanyakan penulis sekarang genit ingin menunjukkan kepiawaiannya membangun situasi dan latar.

Novel yang ajaib dan kudu dibaca lintas generasi.
Profile Image for Vetri.
13 reviews6 followers
July 31, 2008
Sebuah novel dengan tokoh-tokoh tanpa nama.

Ada pelukis
Ada istri pelukis
Ada walikota
Ada opseter penjaga kuburan

Indah. Absurd. Menembus batas-batas imajinasi. Menembus batas rasio.

Review:
Buku ini dimulai dengan gambaran sosok pelukis yang istrinya sudah mati. Pelukis tersebut tak pernah ziarah atau datang ke pemakaman. Ia hanya mabuk-mabukan tiap hari. Lalu bekerja serabutan maksimal 5 jam sehari.

Lalu datanglah opseter pekuburan yang menyewa tenaganya untuk mengapur dinding luar pekuburan, padahal sang pelukis tak mau dekat-dekat ke kuburan.

Pelukis ini lalu mau menerima pekerjaan itu.
Profile Image for Ageng Indra.
119 reviews24 followers
November 4, 2019
Ziarah sebetulnya menawarkan cerita yang meriah, dengan runtutan penyampaian yang melompat dan menukik tajam. Pola utamanya adalah bagaimana masalah atau pencapaian seorang individu bisa membikin ribut seluruh masyarakat. Seperti pelukis yang, saking terkenalnya, ketika menikah mendapat banyak karangan bunga sehingga satu kota penuh bunga selama seminggu lebih. Penjual bunga kelapa karena tak bisa mendapat nafkah, sedang yang muak terhadap bunga berdemonstrasi untuk mengusir si pelukis dari kota.

Kelemahan Iwan Simatupang adalah sering terburu-buru pada konklusi tanpa sempat membangun setting yang meyakinkan. Maka, pada bagian ketika "efisiensi kerja di pekuburan kotapraja" menjadi konflik nasional, ceritanya tak meyakinkan. Bayangkan saja: walikota tak punya solusi, lalu masalah diteruskan ke gubernur; gubernur juga sama, lalu diteruskan ke mentri, lalu ke atas lagi hingga jadi konflik nasional. Pembaca yang mengerti berbelitnya birokrasi tentu paham, laporan tak akan naik dan mendapat tanggapan selancar itu. Terlebih di beberapa bab berikutnya, Iwan menyinggung bahwa birokrasi sebagai hal yang berbelit.

(Ketidakkonsistenan paling fatal adalah saat istri pelukis disebut tak pernah sekali pun menyebut "kau" pada suaminya, padahal pada bab sebelumnya mereka berdialog langsung dan si istri bilang "kau penasaran ya?")

Amin Maalouf dalam Cadas Tanios adalah contoh terbaik yang bisa saya tunjuk: bagaimana masalah keluarga (yakni kelahiran) dikembangkan dengan matang, hingga kemudian begitu meyakinkan ketika hal tersebut mengakibatkan dua kota berkonflik. Dalam ranah yang lebih sureal, cerpen "Rahim" Etgar Keret pun lebih matang: penggambaran singkat indahnya bentuk rahim cukup membuat dimuseumkannya rahim itu sebagai kekayaan nasional tampak masuk akal.

Karena terlalu terbatasnya informasi, bagian-bagian yang dimaksudkan sebagai absurd (seperti jatuhnya pelukis menimpa si calon istri, serta beberapa bagian di mana tokoh-tokoh mengambil keputusan tak masuk akal) bukanlah menemukan celah di antara logika realis sepert dilakukan Albert Camus atau Haruki Murakami. Buat saya, absurdisme Ziarah lebih seperti kegagalan memenuhi logika realis.

Bagian terbaik Ziarah bagi saya malah nyaris di penghujung, ketika keajaiban tidak lagi dirayakan, fokus narasi bergeser pada dialog. Wanita Tua dengan "suami abstraksi" dan "anak hipotetis"nya, buat saya adalah harta karun sesungguhnya Ziarah. Metafora-meraforanya sederhana tapi terngiang, dan bahasanya kuat: padat tanpa pengulangan-pengulangan diksi yang sebenarnya tak perlu,seperti banyak dijumpai di bab-bab sebelumnya.

Bagian ini, sebetulnya, sangat khas cara bertutur Haruki Murakami dalam Kronik Burung Pegas, dan Ziarah yang ditulis 1977 jelas lebih dulu ketimbang Murakami. Nelayan itu Berhenti Melaut-nya Safar Banggai dan Aku Doakan Kamu Mati dengan Sepenuh Hati-nya Prima Hidayah, jelas mewarisi tradisi bertutur Iwan dalam Ziarah. Namun, kedua kumcer itu lebih berkiblat pada bagian awal, lengkap beserta lubang-lubangnya, dan bukan bagian akhir ini.
Profile Image for Melancholythron.
8 reviews11 followers
February 7, 2017
Saya menemukan novel ini tergeletak diantara tumpukan buku-buku pelajaran sekolah di rumah saya.

Walikota:
Hidupnya sehari-hari terlalu penuh dengan pekerjaan merobek enpelop-enpelop dinas, membaca surat-surat dinas berstempel, dengan gaya bahasa yang kelu dan sekejang-kejangnya. Hidupnya penuh dengan catatan-catatan, dengan kattebelleces, dengan sebentar-sebentar melihat kepada arlojinya, dengan tilpon berdering-dering, dengan kartu nama dari tamu-tamu yang semuanya datang dengan tampang pintar dan penting. Hidupnya dimuakkan oleh terlalu banyak senyum dan ramah tamah palsu, oleh terlalu banyak resepsi yang telah merusak untuk selama-lamanya sistem pencernaan makanannya, oleh pidato-pidato pakai teks yang tak pernah diyakininya sendiri, oleh praktek-praktek menjilat atasannya dan menindas bawahannya.

"Pimpinan universitas telah lama menyediakan gelar summa cum laude baginya. Gelar ini belum pernah diberikan pada siapapun. Akan tetapi dia ingin keluar saat itu juga. Saya menyukai keindahan dari sesuatu yang pada detik terakhir justru tak menjadi sempurna, katanya. Keindahan dari ketaksempurnaan. Tiap yang tidak sempurna adalah indah. Indah adalah ketaksempurnaaan. Sejak itu dia bekerja sebagai opseter kuburan."

Opseter Kuburan:
Penglihatan saya sehari-hari dilapangan pekerjaan saya yang kini mengatakan kepada saya, bahwa harta dan kekayaan berhenti mempunyai arti persis pada tembok-tembok luar dari setiap pekuburan. Selanjutnya, filsafat murni hanya didapat pada suasana di sebelah dalam dari tembok-tembok itu. Janganlah usik-usik saya lagi di masa yang datang. Sayalah kekayaan, sayalah kebajikan.

Pelukis:
Agaknya beginilah makna dari setiap jiwa yang besar. Manusia besar, yang bakal tak pernah dicetak namanya dalam buku-buku pelajaran, dan dikuliahkan mahaguru-mahaguru. Sebab dia tak pernah mengendalikan pena. Dia tak pernah menulis artikel dalam majalah, apalagi dalam surat kabar. Manusia besar ini, filsuf ini, akan berlalu dari dunia ini tanpa apa-apa. Dia tak meninggalkan apa-apa, selain sejemput kesan-kesan tak beraturan pada sejemput orang lain tentang dia. Hanya itu.

Novel ini dicetak pertama kali tahun 1969. Bagi saya cover-nya terus terang kurang menarik, dengan jenis font yang biasa saja. Tetapi gaya penokohannya tidak biasa karena tidak ada satu nama pun dalam cerita ini. Agak susah untuk dicerna pada awalnya, tetapi setelah kita bisa mengikuti alur dan gaya bahasanya, kita bisa tahu mengapa novel ini dicetak sampai cetakan ketujuh. Setelah beberapa lembar ketengah, timbul satu kecurigaan kalau sang penulis pastilah seseorang yang pernah belajar filsafat…


Kecurigaan pun terbukti ketika dihalaman belakang tertulis:
Iwan Simatupang, mendapatkan pendidikan HBS di medan, sekolah dokter di surabaya (tidak selesai), lalu belajar antropologi dan filsafat di Rijk-Universiteit Leiden dan Paris. Dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Dan "Ziarah" dalam terjemahan bahasa inggris mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977.

Ternyata saya menemukan harta karun.
Profile Image for Ikra Amesta.
149 reviews29 followers
February 11, 2019
Gila. Dan saking gilanya jadi menjurus hebat.

Maaf kalau kesannya meremehkan, tapi saya nggak nyangka kalau ada novel Indonesia yang seribet ini. Ribet dalam arti sebagai perkawinan antara imajinasi dan intelektualitas yang diolah menjadi fiksi berbalut filsafat, semiotika, dan psikologi. Atau mudahnya, buku ini mengandung: tokoh utama ciptaan Albert Camus yang hidup dalam situasi bikinan Franz Kafka dan menjalani plot yang dirancang Samuel Beckett. Atau ringkasnya, absurd maksimal!

Ceritanya adalah tentang seorang pelukis yang melakukan proses dan perjalanan menziarahi makam istrinya. Proses dan perjalanan ini mempertemukannya dengan beberapa orang, momen, dan episode yang dijamin bakal membuat logika pembaca mampus seketika. Bayangkan, si pelukis yang biasa mampir di kedai arak dalam kondisi sedih dan hancur lalu suatu hari tampak sangat berseri-seri. Perubahan emosi yang tanpa sebab itu justru membuat orang-orang di sekitarnya terserang kegelisahan akut yang ujung-ujungnya membuat satu negara terjangkit paranoia. Satir tersebut terasa relevan mengolok-olok era media sosial zaman sekarang yang memfasilitasi orang untuk membagi dan mencampuri urusan orang lain demi mengenyangkan nafsu narsistik pribadi.

“Saya ingin menanyakan kuburan seseorang yang semasa hidupnya adalah istri saya.”

“Siapa nama istri Saudara?”

“Saudara boleh percaya atau tidak, tapi saya sendiri tidak tahu.”

Si pelukis itu tidak bernama, Iwan Simatupang tidak memberinya nama, begitu pula dengan tokoh-tokoh lain di buku. Mereka diidentifikasi dari pekerjaan dan status sosialnya saja. Negeri yang mereka tinggali juga tidak bernama, mungkin inilah caranya si penulis membiasakan pembaca dengan rangkaian absurditas tak bernama yang terjadi. Ada kesan surealisme juga di sini, terutama ketika pembaca diajak masuk ke alam pikiran tokoh-tokohnya ─ yang diawali oleh sebuah gagasan lalu berubah jadi imaji dan kemudian tak jarang membuahkan kegilaan berujung bunuh diri.

Ziarah, tidak diragukan lagi, adalah novel yang mengganggu. Sulit dipahami, sulit juga dijelaskan. Mengakhiri novel ini bukan perkara yang gampang, bukan pula solusi yang tepat untuk memahaminya. Pembaca mungkin susah bersimpati kepada tokoh-tokohnya karena tidak punya pengalaman riil yang serupa abstraknya. Namun rasanya juga sulit untuk tidak terjerat ke dalam pusaran irasionalitas cerita tanpa mengakui bahwa itu adalah kebingungan yang orgasmik, yang memantik pikiran untuk menjelajah area yang tak terpikirkan sebelumnya, dan di ujungnya kita bakal terganggu oleh bagaimana novel ini selesai sementara kita masih belum selesai. Saya nggak nyangka ada novel Indonesia yang semengganggu ini.

“Kalau begitu apa yang saudara ketahui?!”

“Saudara bertanya apa yang saya ketahui, hah? Yang saya ketahui adalah, dan hanyalah: SAYA MENCINTAI ISTRI SAYA-A-A-A…!!!”

Novel ini terbit pertama kali pada 1969, dan 50 tahun kemudian novel ini masih tetap menampilkan dirinya sebagai masa depan sastra Indonesia.
Profile Image for ana.
244 reviews41 followers
March 26, 2012

Apakah hidup? Bertanya opseter, meneruskan renungannya. Pelan-pelassn dia menyusuri tembok-tembok pekuburan. Hari telah larut malam. Bahkan malam hampir habis. Dia tinggal menantikan pijar fajar, yang bakal menjadi alasan baginya nanti untuk segera masuk ke dalam rumah dinasnya.

Apakah hidup? Jawab yang dipetiknya malam kemarin dari burung pungguk yang memanggil-manggil kepada bulan sabit, tak membuat dia puas. Jawab itu, yang baginya kurang lebih berbunyi: kehidupan adalah suasana, adalah iklim, dari maut -- tak sebegitu meyakinkannya sendiri, betapapun besar pengaruh perkataan "iklim" itu dalam seluruh filsafat dan sastra modern sekarang ini. Lagi pula, ada sesuatu pada jawab itu yang terasa (tjemplang) baginya. (hlm. 62)

Siapakah dia? Hal apa yang membuat dia menyisipkan dirinya dalam episode kehidupan sang opseter?
Ah. opseter kita tak tahu. orang itu bisa siapa saja, punya peranan apa saja. Mungkin dia reserse, mungkin manusia halus, mungkin petualang, mungkin pengarang yang lagi iseng atau menyaru-nyaru entah sebagai dan untuk apa saja. Sebegitu banyak kemungkinan! dan apakah dia membawa tanda seru atau justru tanda tanya dalam episode hidupnya yang kini. Apakah dia membawa koma, titik koma, atau titik, opseter kita benar-benar tak tahu. Manusia adalah sebakul tanda tanya dan lainnya sekaligus, dan kita bertemu dengannya pada setiap momen yang dikehendaki kehidupan. Kenalkah kita dengan yang berpapasan dengan kita di jembatan sana tadi? Siapa tahu, dalam sakunyalah justru terletak kunci kehidupan kita, yang kini maupun yang akan datang. (hlm. 74)

Bunuh diri --- lebih-lebih dia tak dapat melakukannya! Kepegawainan yang sudah berpuluh-puluh tahun itu telah membuat dari dirinya, tanpa semaunya sendiri, manusia susila. Sedang bunuh diri adalah tindak yang tak susila. Negara bahkan menganggap bunuh diri sebagai juga pembunuhan biasa. Bedanya cuma, si pembunuh tak dapat didakwa dan dihukum lagi. Dia telah mendakwa sekaligus menghukum dirinya sendiri. Dia adalah si pembunuh sekaligus dan yang terbunuh. matinya adalah kematian yang rangkap dua. Yang pertama, kematian sang korban yang dibunuh. Yang kedua, kematian sang terdakwa yang dihukum sendiri oleh sang korban.

Pada tiap bunuh diri terdapat dua kali perkataan "korban" dan dua kali perkataan "terdakwa". Si korban sekaligus membalas pembunuhan atas dirinya pada saat itu juga, dimana dia jadinya bertindak sebagai pembunuh. Tegasnya, sebagai sang terdakwa baru. Sedang si terdakwa sekaligus mengalami pembunuhan atas dirinya pada saat itu juga, dimana dia jadinya adalah sang korban. Tegasnya, sebagai sang korban baru.

Jadi, bunuh diri tak memebawa penyelesaian. Dia adalah persis layar penutup babak terakhir sandiwara. TAMAT, tapi hanya untuk lakonnya saja. Sesudah layar turun, tiap tokoh meneruskan kisahnya sendiri-sendiri, dalam sekian lakon yang tidak, atau masih bakal, dikisahkan. (hlm. 100)



Banyak lagi narasi yang saya sukai, tapi untuk spoiler, cukup segini saja.
Profile Image for Missy J.
629 reviews107 followers
April 24, 2022
3.5*

A very original and unique novel. I have never read anything like this before. This novel sparked my interest because the author belongs to the same clan group like my family. Iwan Simatupang was born in North Sumatra in 1928, fought in the Indonesian Revolution against the Dutch, then went on to study in Indonesia, Netherlands and France. When he returned to Indonesia in the early 60s, he worked as a teacher and wrote articles and poems too. "The Pilgrim" is his first novel, which was published in 1969. Unfortunately, he only wrote two other novels, because he died in 1970.

A GR reviewer recommended that the best way to approach this novel is to not have any realist expectations. Many have hinted how the absurdity of the plot makes "The Pilgrim" very different from the novels written before. One review even labeled this book as the first modern, contemporary Indonesian novel. To start off, the novel is about a painter who recently became a widower. He lives a very peculiar life and has given up painting despite his incredible talent. He takes on random day jobs. The overseer of a cemetery wants the painter to whitewash the walls of the cemetery, because he wants to spy on the painter and see how he behaves at a place where his wife is buried. To his surprise, the painter comes in everyday for work, gets the job done and even abandons his quirky behavior traits that were known throughout the town. Everybody goes insane. A plague of absent-mindedness befalls the town and the national government is alarmed and has to intervene. All hell breaks loose!

I honestly didn't get the philosophical ideas. In the synopsis, it is stated that the painter represents the emotional side of humans, while the overseer of the cemetery represents rationality. We delve into the past of both characters and the novel flows between the present and the past very smoothly. While I was reading this book, I wondered if this can also be considered "magical realism" (realisme gaib/magis) because so many incredible things were happening (how he met his wife, how the flowers of their wedding made the entire town sick of the couple, how the painter made so much money even though he tried to gamble it away, how the government would freak out over the most irrelevant thing and declare national emergency, how the painter's wife only loved him when he was poor, how nobody in the town wanted to be an overseer of the cemetery despite high unemployment rates...). Everything is upside down. I read the English translation of this book, but from articles that I read regarding this novel, the translator has made quite a few mistakes, which is why I'm rating this 3.5 stars. Nevertheless, this novel has a very unique plot and it is unlike any other book I read in Indonesian literature.
Profile Image for Aziz.
Author 5 books27 followers
December 16, 2015
Saya beli novel ini dengan harga RM6 di satu jualan murah buku-buku. Tapi seusai membacanya saya tahu saya telah membaca sebuah novel yang tidak ternilai harganya.

Sangat dasyat. Sangat bijak. Sangat memikat.

Mungkin inilah apa yang dikatakan sebuah novel 'avant-garde'.

Saya juga cuba mencari novel-novel lain pengarang ini 'merahnya-merah' & 'kering'. Masih belum ketemu. Insyaallah satu hari nanti.

5 bintang untuk novel yang sangat bijak.
Profile Image for Firda.
51 reviews19 followers
October 1, 2014
selama membaca novel ini sering sekali saya cekikikan XD. memang novel surealis Indonesia yang wajib baca :D
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
December 28, 2025
Sama halnya dengan novel perdananya, Merahnya Merah (1968), Iwan Simatupang kembali mengenalkan tokoh utama tanpa nama yang disebut “tokoh kita” dalam Ziarah (1969). Bedanya, tokoh kita di sini juga dikenalkan sebagai mantan pelukis, yang kemudian menjadi pengapur. Lalu, muncul tokoh-tokoh lain yang turut berkelindan seperti istri si pelukis, opseter, dan juga walikota di kotapraja.

Mungkin bukan Iwan Simatupang namanya jika menulis novel dengan narasi yang lurus-lurus saja. Novel ini bukan hanya tidak lurus, melainkan juga ditulis tanpa koherensi antar-plot ceritanya. Dipenuhi makna semiotik, dan sangat kental akan pengaruh filsafat eksistensialisme dan absurdisme ala Camus. Maka, tidaklah heran kalau Ziarah (dan juga Merahnya Merah) sering disebut-sebut pelopor gaya sastra baru—pada masanya—karena berhasil keluar dari pakem realisme yang sempat dominan dalam peta kesusastraan Indonesia.

Novel ini bermula dari kisah seorang pelukis yang merasa depresi setelah kematian istrinya, kemudian ia beralih profesi menjadi pengapur di sebuah pemakaman umum. Pada mulanya, pelukis di sini digambarkan layaknya antitesis dari tokoh Meursault dalam The Stranger–nya Albert Camus. Tokoh kita menghadapi kematian orang terdekatnya dengan meraung-raung di tepi jalan seperti orang pesakitan, sangat berbanding terbalik dengan Meursault yang melewati duka dengan sikap dingin dan cenderung bodo amat. Hanya menyibukkan diri dengan mengapur tembok luar perkuburan, yang membuat tokoh kita sejenak melupakan kesedihan. Lalu, apa yang aneh? Warga kota justru menganggap sikap normalnya sebagai situasi tidak normal.

“Kini dia jadi perhatian umum, perbincangan seluruh kota. Dengan waswas mereka mengamati tingkahnya yang sudah tak aneh lagi itu. Seolah-olah ketidakanehan sendiri adalah keanehan!”

Di tempat kerja barunya itu, sang pelukis (kini pengapur) diawasi oleh seorang opseter—pegawai yang tugasnya mengawasi pekerjaan bangunan. Belum beres dengan konflik batin yang dialami oleh tokoh pelukis, narasi cerita pun tiba-tiba saja bergeser ke tokoh opseter sebagai sentral. Tak lama berselang, lantas tiba-tiba saja diceritakan kalau sang opseter mati, lalu tugasnya digantikan oleh opseter muda yang kerjanya bagus, cekatan, dan punya metode dan sistematika kerja yang juara. Opseter muda juga (calon) lulusan mahasiswa filsafat terbaik di kampusnya. Kenapa calon? Karena ia rela meninggalkan studi doktoralnya demi memilih jadi opseter di perkuburan, sampai-sampai harus didatangi oleh ayah dan dosennya di kampus yang ia panggil mahaguru. Lalu, apa yang aneh lagi? Sang opseter muda justru dimusuhi karena kerjanya kelewat bagus, tidak sesuai standar minimal kinerja rata-rata opseter lain.

Memang cukup sulit mencerna maksud dari tulisan Iwan Simatupang dalam novel ini, kecuali jika kita mau pura-pura menjelma jadi filsuf gadungan dengan mengaitkan seluruh gagasannya sebagai sebuah hidangan filsafat. Atau, sekalipun ditafsir dengan basis keilmuan lain, itu sah-sah saja; sebab terlalu banyak kejadian absurd serta dialog—atau lebih tepatnya monolog antara dua orang—yang membelot dari kerangka plot konvensional pada lazimnya.

Dari semuanya, tentu saja bagian paling absurd adalah peristiwa ketika tokoh kita berniat bunuh diri dengan loncat dari jendela hotel lantai empat, tetapi entah kenapa ia tak lekas mendarat di permukaan aspal karena malah jatuh di atas tubuh seorang perempuan cantik yang sedang berjalan; dan karena pertumbukan dua tubuh itu, mereka berdua pun dianggap sudah kawin dan harus didaftarkan segera ke pencatatan sipil untuk dibuatkan kartu keluarga. Benar-benar alur yang di luar nalar.

Lantas, sampai di sini, sebetulnya apa hubungan novel Ziarah dengan konsep tradisional ziarah per se? Dalam deskripsi Iwan, secara literal ziarah merujuk pada langkah-langkah yang dijalani oleh tokoh kita; sebagai ziarah pada kemanusiaan, pun ziarah pada dirinya sendiri.

“[...] Dia telah tamat, telah mencapai gelar sarjana yang dikehendakinya sendiri. Tiap orang mati, adalah sarjana kehidupan.”
Profile Image for Widia Kharis.
47 reviews
December 28, 2019
jujur, saya nggak tahu harus nulis apa. saya belum pernah menemukan novel yang seperti ini sebelumnya. dan tentu saja, bagi saya ini bukan bacaan yang ringan.

mulanya, saya kira ini akan banyak bercerita tentang kesedihan seorang pelukis yang ditinggal mati istri tercinta, tetapi menolak untuk menziarahi makamnya. dan ya, lebih dari itu, ternyata isinya membuat saya kehabisan pikir.

absurditas yang disajikan oleh Iwan Simatupang dalam pemikiran tokoh-tokohnya memang memerlukan pemahaman lebih. tokoh-tokoh tanpa nama itu antara lain sang pelukis dan istrinya, opseter perkuburan, walikota, kepala negara, dan centeng makam. saya benar-benar kesulitan mengikuti jalan pikir mereka, apalagi alurnya—potongan-potongan cerita yang tak bisa saya bayangkan bakal seperti apa ujungnya. namun ending-nya cukup memberi penjelasan.

saya juga mendapati banyak satire yang disampaikan di sini, terutama mengenai kematian.

"... tiap orang mati, adalah sarjana kehidupan." (hal. 215)

sebenarnya bintang-bintang yang saya berikan itu tidak ada artinya, sebab bagi saya ini bukan bacaan yang patut diapresiasi dengan nilai belaka. saya memang tidak bisa benar-benar memahami keseluruhan cerita, tetapi saya senang menemukan karya sastra yang lain dari yang pernah saya baca.
Profile Image for Seno Guntur Pambudi.
75 reviews30 followers
October 2, 2021
Novel yg terbit tahun 1969 ini disebut naskahnya telah rampung sembilan tahun sebelumnya. Novel yg disebut membawa jalan baru kesusastraan Indonesia. Gaya bercerita yg tak masuk akal, alur yg aneh, dan plot yg lompat2 membuat novel ini mendapat penghargaan SEA Write Award pada 1977.

Absurditas yg dibawakan Iwan merupakan hal baru dlm kesusastraan Indonesia, yg diikuti oleh sastrawan generasi selanjutnya, semisal Danarto. Gaya penulisannya melabrak format baku. Karakter2 di dlm novel ini tdk bernama, tokoh2nya pun tdk saling memanngil nama.

Membaca novel ini kita mesti mencampakkan logika dlm membaca suatu cerita. Plot yg lompat2 terkadang saling tindih, dan menghasilkan sesuatu yg baru. Logika mana bisa menerima orang yang menjatuhkan diri dari lantai empat sebuah hotel tidak terluka sedikit pun atau bahkan mati. Dia malah menimpa seorang gadis untuk kemudian keduanya bercinta di tengah jalan.

Novel ini jg menghadirkan cara berpikir Iwan yg filosofis. Banyak permainan kalimat yg bila dicermati seperti membaca pikiran seorang filsuf. Iwan lebih memilih gaya surrealis ketimbang realis yang digunakan Sartre. Pilihan ini membuat pikiran-pikiran filosofisnya mengendap-endap dalam penceritaan tak masuk akal. Dengan kata lain, filsafat tentang absurditas disampaikan Iwan dengan gaya absurd.
Profile Image for Limya.
97 reviews6 followers
September 13, 2020
Khas Iwan, seperti biasa: absurd, magis, dan penuh simbol-simbol. Permainan kata berima seperti mantra. Karakterisasi yang kuat dan kokoh. Bagi Iwan, nama takpernah penting. Yang penting adalah makna.

Ajaib. Benar kata Teguh Afandi, novel ini ajaib. Awal-awal memang banyak hal yang tidak bisa kita mengerti, seperti Iwan sekali lagi, absurd, namun Iwan mengajak kita berusaha memahami keadaan absurd tersebut. Sebab absurdisme nyatanya memang akan selalu hadir dalam realitas.

Saya merasakan kelegaan yang mendalam setelah di akhir cerita, mengikuti perasaan tokoh kita, Bekas Pelukis, Bekas Pengapur, dan yang Bakal Jadi Opseter Pemakaman. Tetapi kelegaan tersebut membawa sebuah perenungan panjang menuju ziarah. Sudahkah kita menziarahi diri sendiri? Bisa jadi dengan Ziarah, kita dapat menghidupkan kembali jiwa yang kita anggap sudah mati itu.

Akhir kata, benar pula Ziggy, novel ini cocok untuk siapa saja yang mengapresiasi hal-hal hebat yang tidak dapat dimengerti.

Buku bintang lima pertama yang saya baca di tahun 2020. Suatu hari saya berniat membacanya kembali. Terima kasih untuk seseorang yang meminta saya membaca novel ini, padahal dia sendiri belum selesai membaca.😌
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
February 22, 2019
Baca ini karena mendadak ingat nama Iwan Simatupang, dan saya belum pernah baca bukunya.

Ziarah kubur, apakah lebih pada urusan mengingat mereka yg sudah pergi ketimbang mengingatkan diri akan kepergian itu sendiri? Ada rasa2 perih sedikit melihat kehidupan para opseter pemakaman yang sebenarnya penuh dedikasi mengurus mereka yg mati. Cuma cara cerita yg absurd belum bisa saya pahami.

Dan entah kenapa, ada bagian buku ini ttg juara maraton yg ambruk di garis finish bikin saya merinding. Jadi ingat buku Stephen King yg terakhir saya baca, The Long Walk. Apakah jangan2 Pak King pernah membaca buku Pak Iwan yg pertama terbit tahun 1969 ini?
Profile Image for Ann.
87 reviews17 followers
July 18, 2020
Surealisme dan absurditas yang kuat. Bukan novel yang mudah. Pembaca selalu diajak berpikir reflektif. Berpikir berpikir berpikir. Merasa merasa merasa. Menyoal tentang bagaimana manusia ditinggal oleh keluarga, kerabat, dan rekannya dalam kebersamaan selama hidup di dunia. 


"Minuskan kenangan ini perihal manusia, maka kita mendapatkan kemanusiaan yang tandus. Tanpa seluruh nilai dan kekuatan dari kenangan ini dari perihal manusia, maka kita mendapatkan kemanusiaan yang tandus.  Tanpa seluruh nilai dan kekuatan dari kenangan, maka mati akan kehilangan sentimennya yang justru membuat kita, umat manusia, begitu gandrung kepadanya." (hal 100-101).
Profile Image for Galuh  Ratri Suwanti.
20 reviews18 followers
November 18, 2017
"Istri saya telah mati, kata orang. Itu saya terima sejauh mati berarti tak ada, tiada. Yang sendiri berarti ada. Yaitu, adanya tiada itu."

Keindahan yang membingungkan. Membuat saya pusing, geleng-geleng, angguk-angguk, sedih, gelisah, senyum-senyum, cekikikan, bertanya-tanya. Pada dasarnya saya ga ngerti apa yang barusan saya baca. Tapi suka!

Pasti dibaca lagi lain kali. Mudah-mudahan jadi ngerti.
Profile Image for Tirani Membaca.
126 reviews2 followers
March 6, 2023
Sebuah perjalanan reflektif yang entah kenapa indah. Saya salut dengan Pak Iwan Simatupang yang berhasil membungkus banyak sekali renungan dan isu ke dalam satu cerita absurd yang mampu membuat pembacanya betah untuk tinggal di dalamnya.

Saya kira, novel ini akan memiliki makna yang berbeda-beda pada tiap titik perjalanan pembacanya. Saya berencana membaca ini lagi dalam beberapa tahun mendatang.
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
May 12, 2019
106 - 2019

Ini kali pertama saya baca bukunya Iwan Simatupang. Jelas ini bukan buku yang mudah untuk dicerna, tapi bahasanya mengesankan. Sungguh menarik mengikuti cerita Bekas Pelukis yang dituturkan.

Tidak ada nama tokoh dengan cara bercerita yang 'aneh', membaca bukunya ini gak perlu cepat-cepat, biar bisa dilumat dengan nikmat.

Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan.
Profile Image for Harry Lesmana.
10 reviews3 followers
January 1, 2019
Karya monumental Iwan Simatupang. Ceritanya absurd tapi menarik, ditambah pergantian penceritaan tokoh yang unik.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
November 22, 2017
Aku suka penutupnya. Setiap langkah adalah ziarah. Pada kemanusiaan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for nidatama.
42 reviews
March 8, 2021
Sebelum baca, sudah sering dengar soal kehebatan buku ini. Tapi setelah baca, barangkali memang bukan tipe buku yang bisa saya nikmati. Kemudian saya jadi tertekan. Besar kemungkinan bukan bukunya yang kurang, tapi saya yang gagal. Makanya, mesti saya akui, saya yang kurang cakap menangkap makna. Dan harus saya akui pula, terlalu banyak kutipan cantik yang sukses bikin saya senyum-senyum, bingung bengong, sampai merenungi hidup sendiri.


Yaitu, membasmi manusia-manusia yang terkena wabah demam makan dan pakaian saja. Dengan manusia-manusia primer seperti ini, Bumi ini tidak berkesempatan sedikit pun melaraskan dirinya dengan bentuk kebudayaan angkasa luar, yang penemuannya cuma soal waktu sepele saja lagi.

(tidakkah kutipan di atas mengingatkan kita akan suatu? memurnikan alasan mengabdi memang kadang serumit itu)


Yang hilang di sini adalah hanya satu abstraksi belaka, yakni seseorang yang pernah konkret ada. Abstraksi ini adalah juga ingatan, kenangan, tentang manusia yang pernah konkret ada itu. Kenang-kenangan pada seseorang, tapi oleh sebab itu tak menjadi kurang artinya dan pentingnya bagi manusia. Minuskan kenangan ini dari perihal manusia, maka kita mendapatkan kemanusiaan yang tandus.

(ah, iya, diri kita bukanlah suatu kejadian tertentu. kita adalah sosok yang mengalami serangkaian kejadian itu)


"Semua yang tak biasa pada hakikatnya biasa saja."

(sepakat.)


Jejerkan kedua jenis perasaan ini--rasa bistik dan rasa ikan asin--maka pada hakikatnya mereka adalah sama saja. Sama-sama rasa. Sama-sama hanya satu kesan bagi pancaindra. Bagi alam semesta.

(tidakkah menenangkan sekaligus menakutkan, mengetahui bahwa 'selamanya' adalah sebuah kemustahilan?)


Keindahan dan ketidaksempurnaan. Tiap yang tidak sempurna adalah indah. Indah adalah ketidaksempurnaan.

(belum pernah saya pikirkan ini sebelumnya. bahwa sesungguhnya tiap-tiap yang indah, sesuatu yang kita anggap paling hebat, pun ternyata tidaklah sempurna. tapi toh pada akhirnya, itu bukan berarti kita harus berhenti menjadi 'berlebihan' karena bahagia atas hal-hal kecil. justru, terus dan semakinlah merasa diberkati. sungguh, merasa beruntung bukanlah perihal memiliki/menjadi sesuatu yang hanya kita satu-satunya, tapi adalah tentang mensyukuri apa-apa pun tiap kali sempat. maka sempatkanlah)


"Sekarang dia sudah tak ada lagi."
"Ya, tak ada lagi. Dia telah tamat, telah mencapai gelar sarjana yang dikehendakinya sendiri. Tiap orang mati, adalah sarjana kehidupan."

(sejauh masih hidup, berarti belum layak mati. semangat kuliah. semoga lulus sarjana summa cumlaude!)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Desca Ang.
705 reviews36 followers
Read
November 22, 2020
Once upon a time, there was a painter who led a successful career. One of his paintings was bought by a foreigner. He became very rich. He could buy everything he wanted with his money. But he was not not happy. He lived a depressive life. He even committed suicide by jumping from the high floor only to bump himself to a lady who later became his wife.

The marriage did not last long with the death of the wife. The painter then lived a reckless life again. He stopped painting and took casual random day job and spent the night drinking heavily. He did not even want to ziarah - make a visit (which Aveling translates as the pilgrim) to his wife graveyard until the overseer of the cemetery wanted him to paint the walls of the cemetery. Surprisingly the painter took the job and came in everyday for a work.

Apart of the overseer and the painter, the readers will be presented with the Mayor of the city. I know... I know... it is quite a little bit hard to understand what Simatupang wants to deliver to the readers. The plot is so jumping around but the book is captivating for me. Each character makes me want to recite Shakespeare

"All the world's a stage,
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances,
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages."

I interpreted those characters differently. The Mayor for instance represents those people who are successful at work but living an unhappy life. He is surrounded by people who are insincere. The painter represents people who are lost in the middle of their life. While the overseer of the cemetery reminds me of the ultimate goal of our life.

Iwan Simatupang won Asean Write Awards in 1977 for this book - 7 years after his death.
Profile Image for Senja Dewi.
1 review1 follower
January 20, 2016
Pertama saya membaca karya Iwan Simatupang adalah Ziarah. Dan ini adalah novel paling berkesan bagi saya hingga saat ini. Waktu itu saya menemukan buku ini di perpustakaan sekolah. Novel Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana dll sering sekali saya ulang dan saya pinjam di perpustakaan SMA waktu itu, namun saya akhirnya memilih novel ini untuk dibawakan di depan kelas dalam sesi monolog novel pelajaran Bahasa Indonesia kelas satu SMA. Butuh waktu hampir empat hari bagi saya untuk mengerti novel ini karena tulisan Iwan begitu padat, rapat dan isinya mengandung makna tersirat. Tokoh-tokohnya sangat sederhana, misal tokoh utama si pelukis, istrinya, penjaga makam dll. Sejak saat itu saya benar-benar mencintai karya Iwan yang lain, seperti Kering dan Merahnya Merah yang saya baca di perpustakaan juga. Waktu itu karena saya di kota kabupaten yang jauh dari Ibukota dan toko-toko buku pun masih sedikit, maka perpustakaan sekolah dan daerah merupakan solusi yang tepat untuk bisa membaca buku. Sekarang, saya mencari-cari lagi buku Iwan yang sudah diterbitkan ulang. Sastrawan besar beraliran surealis seperti Iwan memang tidak biasa dan saya sangat menyenangi semua karya-karyanya.
Profile Image for Fadia Alaidrus.
16 reviews23 followers
February 11, 2017
Buku ini sudah membuat saya jatuh cinta mulai dari pembukaan yang dihadirkannya,

"Djuga pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia bakal bertemu istrinha disalah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang istrinya telah mati entah berapa lama."

Saya menemukan buku ini di salah satu pojok perpustakaan favorit saya. Judulnya yang mengingatkan saya pada film karya Mas BW Purbo Negara langsung perhatian saya. Judul dengan satu kata yang kuat selalu memiliki daya tarik tersendiri. Penulis mampu mengemas begitu banyak hal absurd dengan penekanan bahwa segalanya begitu biasa saja. Ia menghadirkan sebuah konflik dan kekacauan luar biasa yang justru dimulai dari hal kecil yang tiba-tiba menjadi normal. Kenormalan yang tidak normal.

Hingga sebuah kutipan dari buku ini yang turut menyimpulkannya,

"Seluruh peristiwa ini adalah biasa sadja. Semua jang tidak biasa, adalah pada halekatnya biasa sadja."

Entah berapa kali buku ini berhasil membuat senyum-senyum ataupun heran sendiri.
Profile Image for Diego Christian.
Author 5 books127 followers
March 25, 2013
Absurditas adalah realitas, begitu kata dosen sastra bandingan saya, Mas Ibnu Wahyudi. Dalam ziarah kita diajak berkontemplasi kepada semiotik kehidupan yang akan terus berulang di dalam kehidupan kita. Meski muse ini diambil dari novel Orang Asing karya Albert Camus, kita dapat mengetahui dan memperluas khazanah asastra Indonesia dalam absurditas yang disediakan oleh Iwan Simatupang. Filsafat dan psikologi manusia yang serba absurd dapat Anda baca dalam novel, yang menurut saya, sedap untuk dibaca secara terus menerus.

Tiap langkahnja mengindjak pekuburan tertentu dari majat-majat tertentu di bumi jang bersedjarah telah djutaan tahun. Tiap langkahnja adalah dia jang ziarah pada kemanusiaan.

Pada dirinja sendiri.
Profile Image for Mochammad Yusni.
78 reviews5 followers
October 8, 2018
Reading this truly was a delightful surprise! I never heard of the novel, writer (yes, sorry for my limited knowledge on Indonesian literature and writers), even more its story. So, as more I turned the pages everything became more and more interesting. I didn't expect it to be so absurd, yet so funny and philosophical at the same time! I love the subtle criticism in many parts, the contradiction (one of the main characters really hates snobbism, but the novel story is a bit snob in itself i think lol), the unique plot structure and how it uses very mundane things to tackle larger picture. If you love some philosophical fun journey, then this might be your cup of tea.
Profile Image for Dinda.
118 reviews6 followers
December 7, 2018
The last few pages makes me cry. Semacam menahan-nahan perasaan sejak awal membaca, lalu merasa absurd di tengah-tengah, dan lalu pertahanan ambrol di bagian terakhir. It’s absurdly beautiful read. Way ahead of its time.
Profile Image for Zoe.
88 reviews9 followers
April 17, 2024
This book humbles me. Sastra indonesia sangat indah, filosofi yang diangkat sangat menakjubkan. Mungkin harus membaca buku ini sekali atau dua kali atau beberapa kali lagi untuk benar-benar menyatu dengan semua jalan pikir yang sangat baru untuk saya.
Profile Image for Hadiwinata.
49 reviews1 follower
August 24, 2023
Kapan terakhir kali saya membaca buku lalu memberinya rating 5 stars di Goodreads? Huh, saya telah tak ingat.

Dan Ziarah--sebuah novel karangan Iwan Simatupang? Siapa pula orang ini, penulis ini? Dari zaman mana pula ia hidup? Pada halaman terakhir buku ini, edisi Noura Books, tertulis bahwa beliau dilahirkan di Sibolga, tahun 1928, sebelum kemudian meninggal di Jakarta pada tahun 1970 di usia 42 tahun. Nama lengkapnya: IWAN MARTUA LOKOT DONGAN SIMATUPANG. Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Leiden, Paris. Dan berkarir sebagai warawan juga sastrawan. Ia menulis empat novel dan naskah drama.

Tentang Ziarah, novel ini, saya merasa kagum. Benr-benar kagum! Dan oleh karena itu saya menganggapnya Saudara-saudara sekalian perlu sekali membacanya. Sangat-sangat perlu.

Ziarah diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Djembatan pada tahun 1969--satu tahun sebelum sang penulis wafat. Saya tak tahu pada tahun berapa sang penulis memulai mengarang novel ini. Dan entah berapa lama pula beliau memerlukan waktu demi menuliskannya. Hanya saja, menurut informasi, pada tahun 1969, novel ini dicetak sebanyak delapan kali. Cukup fantastis.

Ziarah, novel ini, ditulis dengan perhitungan yang kuat. Saya terpanah dengan narasi-narasi pembuka, lanjut terus masuk ke ceritanya, bahkan sampai akhir. Setiap kata seperti ditimbang dengan matang. Penulis seperti meluangkan waktu hanya sekadar untuk memilih menggunakan kata "dituangi" atau "diisi", "nona" atau "gadis", dan lain-lain sehingga setiap kalimat, paragraf, bab, dan sebagainya terasa indah dan memukau. Sang penulis membenturkan antara bahasa sehari-hari dengan bahasa filsafat/ akademik. Nuansa yang tercipta menjadi tidak menye-menye, kaku, atau menjemukan. Tetapi justru memikat.

Novel Ziarah membahas hal-hal yang sangat kecil, fundamental, seperti misalnya hidup dan mati, cinta, pekerjaan, atau pernikahan, sampai hal-hal besar seperti jawatan walikota, perdana menteri, negara, pers, bahkan dunia internasional.

Novel Ziarah ditulis dengan melompat-lompat, dari satu karakter ke karakter lain, dari satu topik ke topik lain, sampai saya kebingungan yang mana topik utama, bahkan karakter utama? Bagi saya, ini adalah sesuatu yang baru, unik, berbeda, dan sang penulis membawa cerita (baca: dunia yang ia cipta) dengan begitu lihainya.

Saya kagum dengan penulis ini, Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang. Benar-benar kagum. Ternyata Indonesia memiliki cukup banyak intelektual yang luar biasa. Dan beliau merupakan satu di antaranya. Membaca Ziarah membuat saya merasa pasti jika beliau memiliki tingkat intelektualitas yang sangat baik, penuh sabar, kedewasaan--tercermin dari penerbitan buku-bukunya yang tidak terburu-buru, melainkan ketika karya-karya itu telah siap benar untuk disiarkan, atau dilayarkan menuju siapa entah yang ditakdirkan juga dihormati sehingga dapat memeroleh sari pati kehidupan darinya. Sebab, sungguh, adalah sebuah kehormatan untuk membacanya, memaknainya, secara terus-menerus. []

Indralaya
HW, 24/8/2023
Profile Image for Ptiyeah.
34 reviews
July 12, 2024
Ziarah memiliki 4 tokoh di dalamnya yang tidak bernama. Tokoh pertama adalah mantan pelukis/pengapur, opseter pekuburan, walikota kotapraja, dan istri mantan pelukis/pengapur. Dalam novel ini juga memakai bahasa "tokoh saya" untuk menggantikan nama "mantan pelukis/pengapur".

Dikisahkan seorang pelukis tersohor yang membuang semua lukisan dan alat lukisnya ke laut setelah istrinya meninggal. Ia tak pernah ziarah ke kuburan istrinya. Jangankan ziarah, ia juga tak ikut menguburkan sang istri. Semenjak istrinya meninggal, hidupnya sangat berantakan. Hingga ia bertemu dengan opseter pekuburan yang menawarinya untuk bekerja sebagai pengapur. Kegiatan aneh yang biasa dilakukan, berhenti dan membuat masyarakat merasa aneh. Cerita ini juga menyisipkan kisah dari opseter pekuburan, istri dari mantan pelukis/pengapur, dan walikota. Jadi novel ini memiliki alur campuran.

Menurutku, perlu ada konsentrasi yang lebih dalam membaca novel ini. Karena novel ini berisi sastra dan juga filsafat. Kemudian, banyak kalimat yang memang harus dibaca berkali-kali untuk memahami artinya. Oleh karena itu, aku menyarankan tidak membaca buku ini sekali saja melainkan 2 atau 3 kali agar bisa menangkap maknanya. Namun, kalimat yang disajikan sangat bagus, deskripsi lengkap, dan penuh akan kiasan.

"Saya menyukai keindahan dari sesuatu yang pada detik yang terakhir justru tak menjadi sempurna. Keindahan dan ketidaksempurnaan. Tiap yang tidak sempurna adalah indah. Indah adalah ketidaksempurnaan." – 213
Displaying 1 - 30 of 145 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.