Jump to ratings and reviews
Rate this book

Biola Tak Berdawai

Rate this book
Hati adalah sebuah ladang harapan yang tak terbatas, dimana keajaiban terkadang bersemi...

Tanpa dawai bagaimana biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya - tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuat bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai...

demi anak-anak tunadaksa

Berdasarkan skenarion film karya Sekar Ayu Asmara

198 pages, Paperback

First published January 1, 2004

Loading...
Loading...

About the author

Seno Gumira Ajidarma

99 books840 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
102 (24%)
4 stars
150 (36%)
3 stars
117 (28%)
2 stars
37 (8%)
1 star
9 (2%)
Displaying 1 - 30 of 45 reviews
5 reviews
September 25, 2007
You know what...?, I got this book as a gift/present. I got it from the distributor/marketer who tried to draw people's interrest by creating some quiz in one mailing list named "PASAR BUKU", in wich I was attached. Along with the book, I also got the CD contains movie version of this Indonesian original book. Well then, I concluded that the book itself is much..much better the the movie.

It is the story of a physically/mentally retarded boy/kid from his own point of view. The book is full of imagination and sad feelings. I like the book but hate it's movie.
Profile Image for Miy.
3 reviews1 follower
August 6, 2007
It was written very beautifully.. simply irresistible!
Profile Image for Dewi Michellia.
Author 12 books106 followers
September 10, 2016
Biola Tak Berdawai bercerita dari sudut pandang seorang anak tunadaksa yang dari awal sampai akhir novel membuat saya berpikir berulang-ulang kali mengapa SGA memilih bocah cilik tunadaksa itu untuk menarasikan keseluruhan jalan cerita? Keadaan tunadaksa bocah tersebut diakibatkan kelainan pada sistem serebral (cerebral system). Apa SGA memilihnya karena seorang bocah cilik akan selalu bisa mengantarkan pesan macam-macam yang polos? Apa hal tersebut ditujukan untuk menggelitik hati pembaca? Apa untuk memberi kesadaran/pemahaman tentang kejadian di lingkungan bocah cilik kepada pembaca? Karena, ada banyak sekali saya temukan semacam petuah-petuah dari bocah tunadaksa tersebut di dalam cerita ini yang terlihat jelas seperti bertujuan untuk membuat kita sebagai orang-orang yang beruntung terlahir normal agar sadar terhadap keberadaan sesama kita. Bahwa bagaimanapun, kita semua memiliki kesempatan yang sama dalam apapun. Namun tentu narasi dengan "suara" semacam itu terkesan terlalu dipaksakan.

Secara keseluruhan, novel ini seperti mengkritisi keadaan zaman saat ini di mana ada banyak bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya bahkan meskipun bayi-bayi tersebut berwujud cantik. Pesan yang diusung untuk hal tersebut adalah, 'Apa yang salah dengan memiliki anak dalam kondisi miskin? Tidakkah keluarga miskin bisa bertahan untuk membesarkan bayi mereka dalam kemiskinannya?' atau kalau bayi cantik tersebut dibuang oleh seorang ibu yang merasa belum cukup umur untuk merawat bayinya, 'Kenapa mesti membuang bayi? Seorang perempuan saja memiliki gerakan feminisme dimana mereka terus menerus menuntut emansipasi, lalu ke mana hak seorang bayi untuk hidup?'

Entahlah, saya suka dengan SGA yang meriset tentang Kisah Mahabrata untuk novelnya ini. Saya tak tahu apakah ini berkat diskusi beliau dengan penulis skenario cerita ini sebelumnya, Sekar Ayu Asmara, atau bukan. Pada bagian-bagian tertentu SGA banyak memasukkan tentang kisah Dewi Drupadi yang dimadu oleh Panca Pandawa dan dinyatakan oleh sang bocah tunadaksa kisah tersebut mirip dengan kisah ibu angkatnya. Dimana ibu angkatnya untuk tetap mempertahankan panti asuhannya (yang merawat dan membesarkan bayi-bayi yang dibuang) menghalalkan segala cara bahkan dengan jalan menjual tubuhnya kepada pria-pria yang sanggup membayar mahal kemolekan tubuhnya. Well, saya engga tahu apakah Diva di Supernova yang mirip-mirip kisah ini atau justru vice versa.

Saya tertegun ketika mengetahui bahwa setiap harinya ada banyak bayi yang dibuang di Indonesia (terutama di Yogyakarta di sebuah panti). Selain itu, saya suka dengan setting-setting yang digunakan di dalam cerita ini. Ada makam-makam dan Pantai Krakal. Bocah tunadaksa mengunjungi tempat-tempat tersebut sewaktu-waktu dengan ibu angkatnya. Suasana yang didapat dari tempat-tempat seperti itu sangat match dengan bocah tunadaksa agar mendapatkan kesempatan menarasikan pemikirannya tentang alam di sekitarnya. Bagaimana meskipun mereka selalu diam saja sepanjang waktu, mereka juga memiliki kepekaan yang sama seperti manusia normal untuk mengelaborasi pemikiran tentang alam sekitarnya.

Novel ini juga mengangkat nilai moral tentang seorang ibu yang sangat beruntung menjadi 'perantara' kelahiran kembali seorang anak di dunia. Mungkin karena cerita ini mengangkat Kisah Mahabrata utamanya tentang Dewi Ganggawati dan bagaimana dia membuang delapan wasu, kepercayaan akan reinkarnasi dari bocah tunadaksa tersebut jadi agaknya nampak menonjol.

Overall, kisah ini bagus dibaca sebelum hari ibu 22 Desember ini. Atau justru dijadikan hadiah oleh-oleh untuk ibu masing-masing.
Profile Image for dini sagara.
15 reviews1 follower
October 12, 2007
pertama baca sih, cuma karena penasaran..kok bisa seno gumira bikin novel dari film?? biasanya kan film yang diangkat dari novel..
dan setelah baca,ga perlu waktu lama buat jatuh cinta...
bagus banget..
terutama cara berceritanya..setiap satu bab diselingi dengan kisah wayang yang ceritanya punya kesamaan dengan tokoh di novel..
karya yang hebat!!!
Profile Image for Muchtar Sholikhin.
17 reviews
August 10, 2016
Udah kayak di dunia baru aja. Pikiran kita langsung fresh dikasih pandangan yang bener-bener seperti dari mereka yang kurang sempurna. Tapi hati kita juga seperti ditambah ruang lagi, yaitu ruang bagi mereka yang tak seperti kita dan kita yang tak seperti mereka.
Profile Image for Ena.
2 reviews
April 3, 2011
Tanpa dawai akankah biola dapat bersuara? Biola bagaikan tubuh, suara itulah jiwanya dan dawai bagaikan organ tubuhnya. Seperti inilah anak-anak tunadaksa diperumpamakan. Dia punya tubuh,punya alat indra, dan punya otak. Tetapi alat-alat tersebut tidak dapat berfungsi layaknya manusia normal.
Anak itu adalah Dewa. Sebagai anak tunadaksa yang memiliki lebih dari satu cacat, dan salah satunya adalah tunawicara. Dewa dilahirkan dengan kelainan sistem peredaran darah yang membuatnya tidak berkembang. Dia juga mempunyai kecenderungan austik, matanya terbuka tetapi tidak melihat, telinganya mendengar tapi tidak mendengar, itu karena jaringan otaknya rusak. Tapi meski demikian, dia bisa merasakan perasaan orang lain dan juga dapat mengerti bahasa manusia biasa.Ketika berusia 2 hari, Dewa diserahkan oleh orangtuanya ke Panti Asuhan "Rumah Asuh Ibu Sejati" yang terletak di daerah pinggiran Yogyakarta. Di tempat inilah para anak-anak tunadaksa diRawat dan dibesarkan. Setiap hari hampir selalu ada anak tak berdosa yang diserahkan ke panti asuhan ini. Untunglah, Renjani, pengelola rumah asuh ini dengan senang hati mau merawat anak-anak tersebut. Kebanyakan mereka tidak berusia lama,ada yang hanya berusia 5hari sudah meninggal dan adapula yang masih mampu untuk bertahan hidup lama dengan penderitaan seperti itu. Salah satunya adalah Dewa. Di usia 8 tahun, dia masih mampu bertahan hidup.
Ibu Renjani sangat menyayangi Dewa, Bahkan dia sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Di tempat itulah dia di temani oleh beberapa perawat dan seorang dokter anak yang biasa dipanggil mbak Wid. Kehidupan mbak Wid antara pagi dan siang berlawanan, ketika pagi hari mbak Wid berpakaian putih layaknya seorang dokter. Namun di malam hari, dia berpakaian hitam-hitam layaknya seorang peramal. Kehidupan malamnya di selimuti oleh teka-teki. Di ruangan penuh dengan lilin, dia sibuk membaca masa depan seseorang yang penuh dengan misteri. Dihadapannya setiap malam, boleh dipastikan, hanya akan ada dua orang tamu tetapnya, yakni Dewa dan Ibunya. Kali itu, Renjani meminta Mbak Wid meramal nasib Dewa. Ia memintanya untuk mengambil 7 kartu. 3 Kartu pertama yang keluar itu adalah The Sun, Wheel of Fortune, dan The Lovers. Kartu-kartu tersebut ternyta mempunyai arti keberuntungan baginya.
Keesokan harinya,Renjani mengajaknya untuk menonton Resital Kuartet biola di Prambanan. Di sinilah awal mula bertemunya Renjani, Dewa, dan Bhisma. Bhisma adalah seorang pemain biola yang usianya masih 20 tahun. Meski usianya bebeda jauh dengan Renjani, tapi hal itu tidak akan pernah menghalangi rasa cintanya pada Renjani. Setelah pertemuannya di tempat itu, hampir setiap hari Bhisma mengunjungi panti asuhan itu. Disanalah mereka semakin akrab. Hingga pada suatu hari tanpa disadari Bhisma dan Renjani berpelukan, Namun tiba-tiba Renjani melepaskannya dan mengusirnya dari tempat itu. Karena Pada saat itu Renjani ingat tentang masa lalunya yang kelam, masa lalu ketika dimana dia masih menjadi seorang balerina yang ia diperkosa oleh Guru baletnya sendiri. Setiap Hari ia merasa sakit perut, hingga suatu saat rasa sakit itu semakin lama semakin memuncak hingga membawanya pada kematian.
Bhisma sangat menyesali kematian Renjani, karena impiannya untuk hidup bersamanya kini telah sirna, impian untuk membesarkan dan merawat Dewa bersama-sama. Kini, yang tertinggal hanyalah kenangan pahit yang terkubur bersama Renjani.
Profile Image for Ria.
113 reviews
October 15, 2011
Saya tidak tahu apakah saya cukup objektif menulai buku ini. Dari sudut pandang perasaan saya pribadi buku ini benar-benar sukses mengocok, mengaduk-aduk hati dan pikiran saya. Lalu, patah hati berulang kali. Tapi kemudian membuat saya mendadak bangkit mencari kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya.

Well, saya baru kali ini membaca tulisan beliau yang berupa novel, karena sebelumnya saya lebih sering membaca cerpen-cerpen Mas SGA lewat media koran, ataupun elektronik. Dan saya sangat suka. Memang novel ini bagus, meski awalnya (sampai pada akhirnya) saya tidak menemukan kekaguman yang "waw" seperti ketika saya membaca cerpen-cerpen beliau. Mungkin ini karena diambil dari skenario film Sekar Ayu Asmara.

Saya menyukai betapa novel ini juga kembali mengingatkan saya akan kisah Mahabarata yang dulu sangat saya sukai ketika SMP. Dan saya mulai mengingat2 bagaimana keseluruhan cerita tersebut setelah membaca novel ini. Novel ini, menyampaikan banyak pesan, mungkin (menurut saya) bagi kita yang tumbuh sempurna, bahwa disana, di kalin sisi ada anak-anak yang tumbuh dalam ketidaksempurnaan yang punya hak yang sama untuk dicintai, dirawat dan tidak dibuang dalam ketidak berdayaannya. Saya penganut quotes "everything happened for a reason" jadi sebagian besar saya sependapat dengan pemikiran-pemikiran dalam buku ini tentunya.

Di samping itu, mungkin karena dalam keluarga saya ada dua orang tumbuh dengan masalah yang sama seperti tokoh Dewa yang ada dalam buku ini. Jadi itu sangat sangat membuat pandangan saya terhadap buku ini akan lebih tidak objektif lagi.

Tapi sejujurnya, sebagai perempuan. tentu saya menyarankan para perempuan lain membaca buku ini. Bacalah, dan kalian akan menemukan ruang di mana mungkin kalian akan menemukan peti-peti masa lalu, dan belajar mengobatinya lewat buku ini.

ovel all, i like it.
Profile Image for Agustin.
42 reviews5 followers
July 2, 2011
Buku Biola Tak Berdawai bercerita dari sudut pandang Dewa, seorang anak kecil penderita cacat mental yang ditampung Rinjani di rumah yang berfungsi sebagai panti asuhan. Mereka saling menyayangi bagai Ibu dan Anak. Rinjani dan Dewa kemudian bertemu dengan seorang pemain biola bernama Bhisma. Sang pemain biola jatuh cinta pada Rinjani. Meskipun ingin, Rinjani tak dapat membalas cinta Bhisma karena traumanya di masa lalu dan penyakit rahim yang dideritanya. Akhirnya Rinjani meninggal sebelum Bhisma sempat mengucapkan perpisahan padanya.

Seno berhasil membawa pembaca buku ini untuk menikmati alam magis penuh keindahan yang tak terlihat dari kacamata orang normal, namun dari sudut pandang anak cacat mental sebagai pencerita. Kisah Rinjani dan Bhisma dirangkai melalui lakon-lakon wayang seperti Dursasana yang melecehkan Drupadi, Bhisma yang dapat memilih waktu kematiannya sendiri, dan seterusnya. Sebuah karya yang begitu berbeda dengan filmnya.

Saat penulis buku berlomba-lomba memvisualisasikan karyanya di layar lebar, yang terjadi pada Biola Tak Berdawai justru sebaliknya. Biola Tak Berdawai adalah sebuah film besutan sutradara Sekar Ayu Asmara yang diproduksi pada tahun 2003. Tak lama setelahnya, film ini diterbitkan ke dalam bentuk buku yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Namun sayangnya saya sendiri belum melihat filmnya :(


20 reviews1 follower
November 21, 2019
Novel ini mencerminkan perilaku baik yang sudah sangat langka ditemukan pada zaman ini. Di zaman yang semakin maju dan semakin hilang tentang penghayatan nilai-nilai luhur pancasila. Disini peran Renjani seorang perempuan berumur 30 tahun semacam menjadi bius penghilang rasa sakit atau sebagai peri penolong pengantar tidur. Yaitu ia membangun sebuah panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati untuk merawat anak tunadaksa yang telah dibuang oleh orang tuanya. Renjani merawat anak tunadaksa dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Hal ini tampak pada tindakan Renjani yang menyediakan tempat untuk menampung dan merawat anak-anak tunadaksa. Selain itu, Renjani juga menyediakan tanah untuk makam bayi-bayi tunadaksa yang meninggal. Pengabdian Renjani kepada anak yang memiliki kekurang seperti anak tunadaksa ini membuat dirinya rela untuk tidak menikah. Peran Dewa disini adalah seorang anak yang menderita tunadaksa secara fisik yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengerti bahasa komunikasi manusia yang normal. Namun dalam keadaan seperti itu, Renjani yang menjadi ibu asuh Dewa tetap memperlakukan Dewa sebagai manusia yang normal. Renjani memberikan kasih sayang yang tulus dan besar terhadap anak-anak yang menderita tunadaksa. Hal itu membawa sebuah inspirasi dan pengharapan bagi orang-orang yang tak berdaya.
Profile Image for Haryo Sasongko.
4 reviews
January 24, 2020
Sempat bosan dan stuck di setengah cerita awal tapi entah kenapa menjadi candu di setengah sisanya. Pada akhirnya, kisah ini memberikan pengalaman tidak hanya untuk melihat para tuna dengan cara pandang yang berbeda, namun lebih jauh dari itu yaitu melihat dari raga mereka dan sedikit mencicipi bagaimana rasanya ada di dalam segala keterbatasan namun tetap menemukan keindahan rasa, pikiran, imajinasi bahkan cinta.
2 reviews
Read
April 2, 2011
judul:biola tak berdawai
karya:seno gumira ajidarma
Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa. Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.

Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.

Renjani bersama Dewa mengarungi pergiliran waktu dengan menyaksikan kedatangan para bayi tunadaksa yang cepat pula meninggalkan mereka karena kematian, meninggalkan mereka menuju ke pekuburan bayi. Begitu pula dengan Mbak Wid, seorang dokter kepala, yang di siang harinya mengenakan pakaian putih-putih, tapi di saat malam tiba, ia berubah menjadi perempuan berbaju hitam-hitam yang begitu percaya ramalan kartu Tarot dan menyepi di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan seratus lilin. Selalu, Renjani menemani Mbak Wid dalam permainan kartu itu, tentu dengan Dewa yang tetap terdiam membisu, dengan leher yang selalu miring, dan kepala yang selalu tertunduk.

Sampai suatu ketika saat Dewa mendengar alunan biola dari sebuah CD, sebuah kekuatan mampu membuat kepalanya terangkat—hanya sepersekian detik, dan Renjani—ibunya yang mantan penari balet—melihat itu! Renjani menghambur memeluknya. “ Dewa, Dewa—Dewa suka ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”

Sepersekian detik itulah yang kemudian membawa Renjani dan Dewa melihat Ballet Ramayana yang dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan. Lalu berkenalan dengan pemuda yang lebih muda usia daripadanya. Bhisma, salah seorang pemain biola dari pertunjukan itu selalu memperhatikan Renjani saat pertunjukan berlangsung. Singkat cerita, Bhisma semakin akrab dengan Renjani, pun dengan Dewa yang ia sebut sebut sebagai biola tak berdawai.

Tapi keakraban dan benih cinta yang mulai tumbuh itu rusak saat Bhisma memaksa Renjani menerima dirinya karena itu berarti mengusik masa lalu Renjani yang gelap, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia pindah dari Jakarta ke tempat sepi ini. Ia belum sanggup berdamai dengan masa lalunya. Masa lalu yang merusak kehormatannya sebagai seorang perempuan. Ia diperkosa oleh guru baletnya.

Jejak-jejak gelap itu menjelma menjadi segumpal daging yang Renjani secara ceroboh menggugurkannya. Lalu menjadi kanker yang membuatnya koma selama seminggu dan akhirnya berkumpul bersama bayi-bayi tunadaksa yang tidak sanggup bertahan hidup di dunia. Bhisma menyesal atas pemaksaannya itu.

Penyesalan yang hanya bisa membuatnya melakukan sebuah konser tunggal. Di kuburan Renjani. Di kuburan para tunadaksa itu. Memainkan resital gubahannya yang baru terselesaikan dan tak sempat tertunaikan untuk dimainkan di hadapan Renjani.

Tapi walaupun terlambat konser itu bagi Dewa adalah konser dari seribu biola, seribu harpa, seribu seruling, seribu piano, seribu timpani, seribu cello, seribu bas betot, seribu harmonica, seribu gitar listrik, dan seribu anggota paduan suara malaikat dari sorga. Membuat langit ini penuh dengan cahaya dan lapisan-lapisan emas berkilauan. Dan yang mampu membuat Bhisma tertegun, mampu membuat biola itu berhenti sejenak, mampu membuat Dewa berkata: “D..de….f….faa…shaa…shaa…aang…iii…buuu.”

Dewa sayang kamu Renjani.

Secara keseluruhan roman ini bercerita dengan sederhana sekali. Sekali lagi, sederhana sekali. Ada yang membuatnya beda dan menjadikan novel ini berciri khas unik yaitu penyelipan kisah-kisah pewayangan, kakawin Bharata-Yuddha beserta para tokoh-tokohnya, Drupadi, Pandawa, Kurawa, Bhisma, Sengkuni, Dorna, dan yang lainnya. Kisah-kisah yang terlupakan oleh saya. Namun sempat membangkitkan memori bahwa saya sempat membaca komiknya waktu masih SD dulu.

Filmnya meraih berbagai penghargaan internasional namun roman adaptasi dengan judul sama ini bagi saya biasa-biasa saja. Belum menggugah rasa kebahasaan saya walaupun ditulis oleh seorang yang bernama Seno Gumira Ajidarma. Penulis serba bisa Indonesia yang paling produktif—sebagaimana ditulis dalam kata pengantar buku itu—yang piawai sekali memainkan kata-kata dan sekali lagi menurut penulis kata pengantar tersebut mampu menangkap echo cinta dari film itu. Bagi saya Seno tidak sepiawai saat memainkan kata dan cinta tentunya dalam “Sepotong senja untuk Pacarku.” Karena ia terkungkung dalam sebuah skenario? Entah. Buku ini cukup dibaca saat waktu senggang saja.

Namun kavernya bagi saya mampu untuk “menutupi” kekurangan ini. Indah. Biola tak berdawai, kupu-kupu jingga, warna hitam yang dominan adalah sebuah citra tepat dari sebuah sampul yang menggambarkan isi buku ini. Sebuah asa akan asmara, yang hilang terampas oleh duka dan waktu.
Profile Image for Truly.
2,801 reviews13 followers
December 2, 2025
Selain buku dengan judul "Klop", buku ini nyaris terlupakan. Tanpa sadar saya meletakan buku ini di bagian buku untuk diperbaiki, baru Jumat lalu saya menemukan dan mulai membaca.

Disarankan menyiapkan handuk, karena tisu tidak cukup untuk menyeka butiran air mata yang keluar tanpa izin.

Beberapa bagian kisah,membuat saya merasa.kedekatan emosial. SGA memang cetar! Bagian yang mengisahkan sebuah peristiwa dengan ilustrasi penggalan kisah Mahabharata sangat menyentuh.

Beginilah keunikan hobi membaca, tak ada sebutan ketinggalan zaman, kuno, dan sejenis bagi mereka yang baru mulai menikmati. sebuah buku.

Jadi pingin cari filmnya.
Profile Image for dedeh  handayani.
129 reviews
June 7, 2013
cerita tentang satu sisi kehidupan yg mungkin tidak banyak dipikirkan orang: tentang anak2 tunadaksa, yg terbuang/sengaja dibuang. yg mungkin, entah mmg karena ketidakpedulian kita, atau karena keadaan mereka yg tidak bisa menunjukkan keberadaannya, menjadi seringnya diabaikan/terabaikan.

(29) "Aku hanya tdk bs menunjukkan diriku, karena tubuhku tdk berada utk membahasakan jiwaku. Mereka yg merasa tubuhnya sempurna berjuang sepanjang sejarah manusia utk memahami jiwa, namun jiwa hanya terbaca melalui tubuh yg membhasakannya, sdgkan tubuh kami tidak menjelmakan penanda apapun yg mungkin ditafsir sbg bahasa---sehingga jiwa kami tidak bisa dibaca."

suka cara bertuturnya SGA. ini buku SGA pertama yg saya baca, hehe (selama ini kemana aja? ada aja, tapi baru ini kali ada yg bs dipinjam :P)

hanya saja, dari awal sampe akhir, merasa kurang nyaman dg sudut pandang Dewa sbg narator. di awal disebutkan bahwa, aku, Dewa, berusia 8 tahun. di epilog jg dibilang, aku, Dewa, masih hidup, dan usiaku masih 8 tahun. jadi yg sedang berkisah itu Dewa, yg usianya 8 tahun. padahal isi ceritanya, dalam dan luas.

selang-seling bab cerita wayangnya, sebetulnya sangat menarik. saya malah lebih hanyut baca cerita wayangnya ini. pake analisa jaman sekarang, bukan analisa jaman wayang :D tapi saya tidak melihat hubungan kuat antara kisah yg dinarasikan Dewa dg cerita wayang ini. entah sayanya yg kurang jeli.. ada sedikit2 yg bisa disamakan, tapi ga banyak lah.. heran juga, kenapa cerita wayangnya dibuat lengkap seperti itu.. tapi, jd baca cerita wayang versi modern kritis :)
Profile Image for Bivisyani Questibrilia.
Author 1 book24 followers
September 3, 2015
Pertama kalinya saya membaca buku yang diadaptasi dari film, bukan sebaliknya. Awalnya, buku ini adalah salah satu bacaan wajib pelajaran Bhs. Indonesia ketika saya masih duduk di bangku SMP. Namun waktu itu saya tidak berhasil menamatkan buku ini karena merasa isinya ada yang terlalu vulgar untuk saya waktu itu. Sepuluh tahun kemudian, setelah membaca ulang, kesan saya terhadap buku ini sungguh berubah. Jujur saja, saya tidak pernah menonton filmnya jadi tidak dapat membandingkan. Namun, menurut saya, buku ini tidak seindah yang diharapkan baik oleh pihak penulis skenario maupun penonton filmnya. Plotnya sih sangat orisinil dan menawan, namun alur ceritanya tidak menentu. Terkadang terlalu cepat, terkadang terlalu lambat, namun bagaimana pun tidak berkembang dengan baik. Karakterisasi semua tokoh yang ada dalam buku ini, selain Dewa yang kebetulan juga adalah narator, sungguh sangat jelek, terutama terhadap karakter Bhisma. Buku ini dipenuhi dengan kata-kata kiasan yang tidak menggambarkan apa-apa, melainkan boros kertas saja. Dari satu adegan ke adegan lainnya, tidak ada benang merah penghubung yang jelas. Namun saya bisa membayangkan bagaimana jika buku ini diangkat menjadi film, mungkin akan tampak lebih indah. Sayangnya, sebagai novel, buku ini kurang memuaskan dan seperti terburu-buru, tidak ada prosesnya. Sangat disayangkan.
Profile Image for Memy Jedo.
43 reviews22 followers
Read
April 8, 2012
Akhirnya aku tahu, seperti apa saudara/i yang tundaksa.
Karena Dewa (tokoh utama Biola Tak Berdawai).
Tokoh utama yang berusaha membahasakan seperti apa kurang lebih tunadaksa itu.
Memakai pembahasaan yang mudah dipahami, membuat setiap orang yang tak tahu seluk beluk tunadaksa menjadi lebih paham dan dekat dengan apa saja yang dialaminya.
Yang terpenting, (pembaca) menjadi tahu bahwa meski tunadaksa, jiwanya tetap hidup.

Penceritaan yang dibaurkan dengan kisah-kisah pewayangan membuat cerita Dewa semakin menarik ketika ditarik dan direfleksikan dalam kehidupan (nya dan pembaca).

Dari Renjani, aku belajar untuk terus memberi dan memberi. Juga melarung.
Dari Dewa, aku belajar bersyukur untuk mereka yang ada.
Dari Mbak Wid, aku belajar tentang misteri.
Dari Bhisma, aku belajar menerima.
Dan dari bayi-bayi tunadaksa yang pernah hidup, masih hidup dan akan terus ada aku belajar tentang persinggahan.
Profile Image for Laily Darinxseorank.
2 reviews1 follower
Want to Read
April 3, 2011
Judul : Biola Tak Berdawai
Pengarang : Seno Gumira Ajidarma
ISBN : 9789799822901
Penerbit :

Buku yang menyadarkan kita bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Buku yang memotivasi kita untuk bangun dari tidur kita yang panjang. Anak-anak tunadaksa yang mempunyai semangat juang tinggi untuk menggapai cita-cita. Yang tidak menghiraukan dia mempunyai banyak kekurangan yang sangat mustahil bagi orang untuk meraih cita-cita yang tinggi.

Tiada kata menyerah yang diucapkan oleh anak-anak tunadaksa itu. Justru dengan kekurangan merekalah, mereka berpikir "Aku pasti bisa. Semua orang sama dan tiada berbeda". Keajaibanlah yang mengubah mereka. Tapi mereka tidak menanti keajaiban datang dan menyentuh mereka. Tekatlah yang membuat mereka berjuang mati-matian. Hingga akhirnya, mereka dapat meraih apa yang mereka inginkan.
Profile Image for NisaChepmunk.
3 reviews
May 23, 2011
novel yang ada di perpus sekolah dan akhirnya aku baca juga hehe.... :D
Pas awal baca novel ini, enggak tahu kenapa aku ngerasa ngantuk dengan prolognya. Konfliknya sebenernya sih biasa aja dan enggak begitu heboh /ngebuming. Tapi nilai plus pada novel ini, terletak pada kepiawaian sang penulis meramu kata-kata sehingga menjadi komposisi yang sangat indah dan cantik ^_^
penggunaan sudut pandangnya pun sangat pas dan begitu menjiwai selain kisahnya juga yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan.

Yang bikin menarik lagi yaitu adanya kisah-kisah pewayangan. Tapi justru disinilah, entah kenapa justru aku lebih respect dengan kisah pewayangannya ketimbang kisah sang pemegang sudut pandang.

But, tetep ok kok ^_^
Profile Image for Q'.
10 reviews
September 20, 2014
Sempat berdarah-darah menganalisis novel ini menjadi sebentuk skripsi.. ha..ha..
Gaya penceritaan Seno sangat indah di novel ini, saat pertama kita baca, kita tidak perlu bertanya, "Mengapa Dewa bisa sejenius itu, padahal ia tunadaksa?"
Dan sekali lagi, gaya penceritaan dari Seno-lah yang membuat pembaca awam tidak menanyakan hal itu. Semuanya mengalir tanpa paksaan.
Ini adalah novel adaptasi film yang terbaik di Indonesia!
Profile Image for Taibah.
12 reviews1 follower
August 20, 2007
Ada buku, ada filmnya...
Tidak seperti karya film yang kemudian sekedar dituangkan dalam transkripsi, atau dibuat novel dengan bahasa seadanya, Biola Tak Berdawai dikemas secara luar biasa.
It really is much more satisfying than watching the movie!
Profile Image for Fibrina  Damayanthi.
121 reviews2 followers
April 17, 2008
satu-satunya karya SGA yang tidak menarik minatku untuk membacanya. entah kenapa ya? mungkin karena gue terlalu terpaku pada karya-karya SGA yang selalu unik, tidak diduga-duga. Jadi membaca yang satu ini, hati gue nggak tergelitik.
Profile Image for Lalu Fatah.
Author 12 books35 followers
November 13, 2010
bacanya sudah lama sih, waktu SMA. baru sekarang ini ingat untuk masukinnya ke GR.
ceritanya sih, berjalan amat lambat. tentang bocah autis. tentang perempuan2 yang main kartu tarot.
hmmm...apalagi ya, yang bisa saya ingat dari novel adaptasi ini?
Profile Image for Calvin.
Author 4 books153 followers
March 17, 2012
berhubung ga nonton movienya, saya melihat novel adaptasi ini sebagai literatur, jadi mungkin impressionnya berbeda dengan orang2 lain yang sudah pernah menonton. menurut saya novel ini bagus dan cukup menyentuh. tapi mungkin review ini jadi berbeda kalau saya bisa akses movienya.
57 reviews4 followers
June 28, 2012
buku ini buku-berdasarkan-skenario-film pertama yang saya baca. buku ini Menjadi menarik karena menceritakan kisah hidup dari sudut pandang anak tunadaksa, diselingi dengan cerita Mahabharata. Omong-omong, jadi pengen baca Mahabharata nih.
Profile Image for ana.
244 reviews42 followers
December 6, 2012
banyak sekali kutipan yang saya sukai di buku ini, tapi karena tak ditandai, jadi lupa di halaman berapa aja. ah!

suatu saat akan saya baca ulang untuk mnulis kutipan dari buku ini! *tekad membara*
Profile Image for Sally Anggraeni.
22 reviews1 follower
November 3, 2017
Never get bored to re-read this book over and over and over. I have a habit to underline any deep and beautiful words on my book. But i just can't do that, simply every words are beautiful and deep. Really :)
Or i'd underline almost 90% 😂
Profile Image for Wikupedia.
65 reviews29 followers
July 22, 2007
lebih bagus bukunya saya rasa...mungkin karena seno yang nulis....walah!!!
Profile Image for Pipa.
235 reviews3 followers
September 4, 2007
gw malah lebih suka sama cerita tentang perang baratayuda yg disisipin di novel ini
Displaying 1 - 30 of 45 reviews