Adrienne Hanjaya, novelis muda berbakat yang buku-bukunya selalu bestseller, mempunyai satu Tak boleh ada patah hati yang tak menghasilkan royalti.
Setiap kisah cintanya yang berantakan selalu dituangkan Adrienne dalam naskah. Semuanya. Dengan nama tokoh pria yang sering kali menggunakan nama sebenarnya, dengan ending buruk bagi si tokoh pria dan kebahagiaan bagi si tokoh wanita. Adrienne berpendapat, para pria itu layak mendapatkannya karena telah menyia-nyiakan cintanya.
Sampai akhirnya, Adrienne bertemu Danny Husein, calon dokter muda yang bahkan sempat dikiranya too good to be true. Kali ini Adrienne mengira akhirnya ia bisa menulis novel roman yang berakhir dengan tokoh pria dan wanita bahagia bersama.
Tapi perkiraan Adrienne salah. Salah satu cowok yang pernah dijadikan tokoh novelnya memberitahu Danny tentang prinsip menulis Adrienne. Bagaimana reaksi Danny mendengar itu? Apakah ia memilih meninggalkan Adrienne? Dan berhasilkah Adrienne membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Danny?
Stephanie Zen has been passionate about writing since elementary school, crafting stories that resonate with humor, heart, and inspiration. Influenced by authors like Sophie Kinsella and JK Rowling, her writing blends wit with deeper reflections on life and love.
Beyond books, music plays a huge role in her creative process—especially the songs of Daughtry, which have inspired many of her stories. When she’s not writing, Stephanie shares her thoughts and inspirations on her blog: https://smoothzensations.wordpress.com/
Adrienne Hanjaya, seoranga novelis muda berbakat dan terkenal. Dan naskahnya selalu berasal dari kisah nyata Adrienne dengan tokoh laki-laki dengan nama yang sama dan endingnya tokoh lelaki tertindas, dan perempuan menang. Sampai suatu ketika Adrienne bertemu dengan Danny Hussein, seorang Coass yang segera lulus. Adrienne berharap bisa membuat kisah cinta yang Happy Ending dengan Danny. Tetapi apa daya Danny diberitahu kebiasaan Adrienne oleh teman lamanya Gerry yang menjadi korban Adrienne. Mau tahu kelanjutan ceritanya Beli dan Baca novel ini. Sebelum ke review, aku ingin bertanya, "Ini TeenLit atau MetroPop?”. Di belakang bukunya tertulis Metropop, tetapi isi cerita amat sangat Teenlit. Kalau buku ini dikategorikan TeenLit, mungkin teenlit terbagus yang pernah saya baca, tetapi ini Metropop. Isi novel ini terlalu remaja, in my opinion yah. Jalan cerita terlalu biasa, ending gampang di tebak, terlalu banyak dialog yang tidak terlalu penting. Kisah Romantis yang biasa aku temukan di Metropop lainnya tidak aku temukan di kisah novel ini. Sempet kecewa ketika membaca novel ini, karena terlanjur sudah beli. :) Kalau aku bandingkan dengan novel Metropop dengan pengarang lainnya, kisah cintanya terlalu remaja banget. Mungkin dikarenakan tokoh-tokoh dalam novel ini anak kuliahan yang mau lulus maka dari itu novel ini dikategorikan Metropop. Novel ini cocok lah dibaca remaja usia 12-21 tahun karena banyak hikmah yang bisa diambil. Sempat get bored pas baca novel ini, padahal ide cerita sungguh menarik. Cuma Stephanie Zen kurang bisa membawa cerita ini sehingga bisa menarik pembaca dewasa. Kalau aku bandingkan dengan novel sebelumnya yang berjudul Perhaps You terbitan Gagas Media tahun 2011, novel ini masih lebih baik. Kenapa? Ketika aku membaca Perhaps You, terlalu banyak halaman, banyak konflik kecil yang tidak penting, banyak sudut pandang tokoh, dan tulisannya yang sangat kecil, sampai-sampai mataku sakit membaca novel tersebut. Dalam novel ini aku tidak menemukan hal yang bertele-tele seperti itu, ada sih sesutu yang miss yang aku temukan dalam novel ini. Seperti penggunaan kata "Cowok", apakah Metropop masih menggunakan kata "Cowok", "lelaki" masih lebih baik dan terkesan dewasa, karena kita tahu Metropop di tujukkan untuk usia Dewasa. Tapi aku salut dengan ide-ide Stephanie Zen, dan semangatnya untuk menulis. Semoga karya berikutnya lebih baik. Semangat dan terus berkarya ya...
Jarang banget ngasih lima bintang buat novel... kalau pun ada yg bintangnya lima, they're usually big masterpieces. Tapi yang satu ini, gatau kenapa pengen banget kasih rating 5 stars.
This book gave me a wonderful emotional roller coaster ride. It made me burst to tears several times. Especially when Gerry&Danny became really angry and the ending where Danny & Adrienne decided to forgive each other. I really like the way Adri & Danny flirt with each other. They're cute, madly in love, and remind me of myself ;) Klimaksnya pas, bener-bener sudah jatuh tertimpa tangga dan bikin simpati. Kerasa banget konflik batin tokoh-tokohnya. Beberapa bagian emang too good to be true tapi secara keseluruhan novel ini worth banget (y)
and the funny part is, it's like reading a novel in a novel ;;)
Opini gue nih yah, sebelumnya gue udah baca buku Stepanie Zen yang Thalita, itu bagus banget!
Nah pas baca buku baru ini, One Last Chance, apalagi yang dimasukkin kedalam kategori metropop, kayaknya kurang cocok deh. Pertama, gak ada romance nya kurang ditonjolin kayak di metropop-metropop lainnya ( maklum yah, beda penulis beda cerita ) Tapi disini ceritanya udah bisa ketebak dari awal
So? Gue berusaha membaca novel ini sampe tuntas karena sayang udah dibeli dan walaupun sempet nge-skip beberapa halaman juga. Tapi inti dari cerita sebenernya sih oke yaitu, biar kita harus selalu rendah hati dan gak mentingin ego meskipun orang itu udah nyakitin hati kita.
Adrienne adalah penulis muda yang karya-karyanya selalu masuk jajaran buku laris. Dia memunyai satu kunci kesuksesan untuk setiap cerita dalam novelnya: Tidak boleh ada patah hati yang tidak menghasilkan royalti. Iya, cerita-cerita di novel yang ditulis Adrienne selalu berdasarkan kisah nyatanya saat mengalami patah hati karena dikecewakan oleh beberapa pria yang dekat dengannya. Termasuk nama tokoh pria yang digunakan, juga diambil dari dunia nyata. Adrienne tidak perlu repot-repot mengganti nama mereka, nama lengkap pria-pria tersebut pun dipakainya. Sebuah hal yang dianggap sebagai kegilaan oleh Keyla, sahabatnya. Tapi toh selama ini tidak pernah ada yang mengungkapkan keberatannya, bahkan novel terakhirnya memenangi penghargaan bergengsi di bidang penulisan. Hingga suatu hari Gery Atmadinata muncul. Nama mantan pacarnya yang dijadikan inspirasi cerita di Reasonable Love, novel terakhir Adrienne, datang untuk menyatakan keberatannya dan tak tanggung-tanggung, menggugat Adrienne.
Secara keseluruhan saya senang membaca novel ini. Hanya dibaca seharian, karena memang penceritaannya yang mengalir dan membuat penasaran sampai tuntas. Good job, Stephanie! ^^
"Balas dendam, no matter how sweet it is, nggak akan pernah membuatmu bahagia, Dri. Just forgive. Let go, and let God do the rest. You'll be much happier." Kalau ia menuruti nasihat Aidan, nanti patah hatinya tak akan bisa menghasilkan royalti lagi dong?
Adrienne Vanessa Hanjaya. Seorang novelis yang cukup terkenal karena buku yang ia tuliskan selalu menjadi best seller. Rahasianya selama ini, Adri selalu menuliskan kisah nyata pengalaman patah hatinya bersama pria-pria yang sudah mengecewakannya. Sejauh ini sudah tiga buku best seller yang berhasil ia terbitkan, dan sudah tiga lelaki yang membuatnya patah hati luar biasa. Dalam kisah-kisah yang ia tuliskan, Adri tidak sungkan-sungkan menggunakan nama asli lelaki yang telah melukainya; dan dalam novel-novelnya, karakter lelaki itu selalu berakhir nahas, sedangkan karakter perempuannya berakhir dengan bahagia. Dengan semua pengalaman yang sudah ia lalui, Adri mempunyai prinsip hidup yang selalu ia pegang baik-baik: "Tak boleh ada patah hati yang tak menghasilkan royalti"....
Alasan utama aku beli buku ini adalah sinopsisnya yang menarik. Tapi, begitu aku mulai baca, ada perasaan nyesel beli buku ini.
Buatku, yang udah sering baca Metropop, buku ini sama sekali nggak bernyawa Metropop. Kalimat2 bahasa Inggris yang biasanya bertebaran dalam novel Metropop dan mengalir begitu enak, dalam buku ini terasa dipaksakan. Ide besarnya sebenarnya sangat menarik, mungkin penulis terinspirasi dari albumnya Adele 21 yang bercerita tentang patah hati? Karena baca buku ini nggak bisa lepas dari 21. Ada terlalu banyak adegan yang menurutku dipaksakan yang bikin novel ini terasa begitu datar. Nggak ada emosi yang bikin aku terhanyut. Bahkan ketika tokoh utama dihadapkan pada masalah yang pelik, aku nggak bisa bersimpati. Just....plain and flat.
Salah satu buku yang bikin aku pengen balikin ke Gramedia. Once is enough for me to read this book. Semoga penulis bisa bikin karya yang lebih 'nendang' selanjutnya.
Sempat ngrasa bosan juga sih pas baca bab awalnya, karena ceritanya agak datar. Tapi semakin masuk ke konflik malah semakin seru. Endingnya nggak nanggung dan pesan moralnya dapet banget! Cuma kalo menurut saya sih, novel ini kalo dikategorikan sebagai metropop kayaknya belum deh. Lebih cocok teenlit sepertinya.
Sebenarnya saya cuma mau kasih 3 bintang aja, tapi berhubung Stephanie Zen adalah penulis favorite, yaudahdeh tambah 1! :D
Adrienne, selfishly menuliskan kisah patah hatinya dengan menggunakan nama tokoh pria yang sebenarnya, yang selalu dibuatnya menderita di endingnya. Hingga pertama kalinya dia menulis novel saat sedang jatuh cinta, tetapi pria tersebut telah mengetahui bahwa Adrienne selalu menulis kisah patah hatinya untuk mendapatkan royalti dari novel-novelnya.
Adrienne, memang terlihat selalu merasa benar sendiri, sehingga tidak memikirkan apa yang mungkin terjadi saat dia menggunakan nama orang yang sebenarnya, sedangkan Danny, menerima mentah-mentah perkataan temannya, dan sama sekali tidak sedikitpun memberikan kesempatan pada Adrienne untuk menjelaskan dari sudut pandangnya.
Wah... Wah... Wah..... Sukaaaaa bangeeetttt... 😍😍 Another page turner novel..
Semua alurnya, konflik, kisah, karakter, dll.. Banyak pelajaran yg bs diambil, terutama tentang 'sorry' dan 'forgive'.. Can't take my eyes away from this novel, even just a bit.. Finish it in just about 4 hours, hehe.. WOW deh pokonya.. ❤️
From me: Awal-awal bagus. Kesana nya rada meh 😭 but still enjoy able sih. Harusnya hubungan Danny-Adrie bisa lebih diperdalam lagi. Bisa lebih agak "drama" lagi. Bagi aku ya omongan si Danny tuh jahat banget. Gak seharusnya masalah di antara mereka se-simple itu selesainya. Danny harus suffer juga arghhhh!!!!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bagi Adrienne Hanjaya, tak boleh ada patah hati yang tak menghasilkan royalti. Itulah prinsip menulisnya. Setiap kisah patah hatinya di dunia nyata dituliskannya kembali ke dalam novel, dan sering kali menggunakan nama asli sang tokoh pria, dengan ending yang buruk bagi tokoh pria dan ending bahagia bagi tokoh wanita. Hal tersebut semacam wujud balas dendam kepada cowok-cowok yang telah menyia-nyiakan cintanya. Dan ketika novel-novel yang ditulisnya ternyata menjadi bestseller, Adrienne merasa semakin puas.
Dulu, Adrienne hanya menuliskan pengalaman patah hatinya ke dalam diary. Kemudian gadis itu membaca sebuah artikel di majalah remaja yang membahas tentang penulis idolanya. Ketika ditanya darimana sumber inspirasi sang penulis, sang penulis menjawab bahwa ia terinspirasi dari pengalaman pribadinya ketika masih SMA yang ditulisnya dalam diary. Ia kemudian mengetik ulang diary-nya, menambahkan bumbu di sana-sini, dan mengirim naskahnya ke penerbit. Adrienne melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan penulis idolanya itu. Dewi Fortuna menaungi Adrienne, karena naskah yang berasal dari diary pribadinya menjadi novel laris.
Keyla, sahabat karib Adrienne, sudah mengingatkan Adrienne agar sebaiknya tidak menggunakan nama asli bagi tokoh lelaki dalam novel-novelnya. Tapi peringatan Keyla tidak digubris oleh Adrienne. Ia merasa kurang puas jika tidak menggunakan nama asli.
Suatu ketika, saat sedang mengikuti kegiatan baksos berupa pengobatan gratis di Tosari, dekat kawasan Gunung Bromo, Adrienne bertemu dengan Danny Husein, seorang calon dokter berparas tampan. Bahkan gadis itu sendiri sempat beranggapan bahwa Danny adalah sosok yang too good to be true. Adrienne jatuh hati pada Danny. Sebaliknya, Danny pun menyimpan hasrat yang sama kepada Adrienne. Dan untuk pertama kalinya Adrienne ingin menulis kisah romantis, sebuah novel roman yang berakhir dengan tokoh pria dan wanita bahagia bersama.
Tapi apa yang diangankan Adrienne tidak berjalan sesuai harapan. Salah satu cowok yang pernah dijadikan tokoh dalam novelnya (yang berarti, mantan Adrienne) datang mengacau. Cowok itu memberi tahu Danny tentang prinsip menulis Adrienne, yang berujung pada kesalahpahaman dari Danny. Pemuda itu terlanjur menganggap Adrienne hanya memanfaatkan dirinya untuk menghasilkan novel terbaru dan mengeruk keuntungan.
Seolah masalahnya dengan Danny saja tidak cukup, Andrienne terpaksa harus berhadapan dengan hukum, sebab seseorang menggugat Adrienne atas novel terbarunya yang saat itu sedang laris-larisnya.
Bagaimana Adrienne menghadapi semua masalahnya? Temukan jawabannya dalam One Last Chance.
---o---
Saya tertarik membeli novel ini, pertama, karena covernya menarik (sosok cewek yang duduk bersimpuh dengan laptop di atas pangkuannya). Kedua, karena sinopsis di sampul belakangnya cukup menjanjikan. Lalu, bagaimana dengan isi novelnya sendiri?
Bagian awal cerita novel ini mungkin terasa biasa. Adegan pertemuan Adrienne dan Danny di mana Adrienne malu-malu kucing saat ingin berkenalan dengan Danny membuat novel ini sempat terasa seperti teenlit dan bukannya metropop. Saya merasa chemistry Adrienne-Danny kurang kuat, sehingga saya sulit berempati kepada mereka ketika mereka menghadapi konflik. Memang diceritakan bahwa mereka berdua sering kencan, namun pada bagian tersebut penulis seperti bercerita dengan terburu-buru.
Untungnya, Stephanie Zen menambahkan konflik lain yang lebih serius dalam novel ini, yaitu ketika Adrienne terjerat kasus hukum terkait gugatan terhadap novelnya yang saat itu sedang digandrungi pembaca. Saya dibuat berharap-harap cemas menanti langkah apa saja yang harus diambil Adrienne dalam menghadapi masalahnya tersebut. Walau terkesan agak berlebihan, saya cukup kagum terhadap keberanian dan keteguhan hati Andrienne dalam menghadapi masalah hukumnya tersebut. Apalagi ia berusaha menyembunyikan masalah hukum tersebut dari keluarganya dengan alasan “tidak ingin membuat khawatir” dan berusaha mencari pengacara sendiri. Ah, harusnya ia bertindak seberani ini dalam menyikapi kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dengan Danny.
Banyak pesan moral bisa kita ambil dari kisah ini. Bagaimanapun, balas dendam tak akan pernah benar-benar membuat kita puas.Orang yang kita jadikan sasaran balas dendam besar kemungkinan tidak akan tinggal diam kan? Mereka pasti akan membalas. Lalu, mau sampai kapan balas-membalas ini akan berlanjut?
“Kita diajarkan bukan hanya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi juga untuk membalasnya dengan kasih. Ya, ya… saya tahu, lebih mudah bicara dibanding melakukan, memang. Tapi kita memang diperintahkan untuk berbuat begitu, dan yang terbaik memang seperti itu.” (hlm 233)
Oh ya, satu lagi nilai positif dari novel ini: meski bergenre metropop, buku ini aman dari adegan ranjang dan tidak menjual barang-barang branded seperti umumnya novel metropop yang beredar saat ini. Uhm, bukan berarti saya nggak suka dengan adegan ranjang dan merk-merk mahal lho. Hahaha. *apasih*
Saya suka ide cerita novel ini, tentang penulis yang menuangkan kisah cintanya yang berantakan ke dalam novel. Secara keseluruhan novel ini cukup menghibur, walau sebenarnya masih bisa dieksplorasi lebih dalam lagi oleh penulis.
Di antara semua novel Stephanie Zen, ini favorit gw,
Alasan nya : - alur relatable - karakternya nggak mengada2 SPT PD judul2 lainnya - endingnya memang ketebak dari awal tapi penyelesaian konfliknya cukup oke - biarpun bukan Chrom, tetap menyelipkan unsur ajaran kasih
Baru baca sekarang emang rada telat ya... tapi ga pernah kecewa sih sama karya-karya dari Stephanie Zen. Cara penulisan yang mudah banget dibaca dan ga berat trus setiap cerita dalam buku yang membahas sesuatu yang simple tapi moral nya benar-benar ada.
seru sih, dibanding fokus sama kisah percintaan danny dan adri, menurutku ini lebih fokus ke karir adri sebagai penulis sih, dan bikin aku penasaran, apakah ini juga cerita asli penulisnya?:v
Sebenarnya sebagai bacaan ringan, buku ini lumayan menghibur. Tapi sayangnya ada banyak perintilan yang cukup mengganggu, seperti:
1. Terlalu banyak penggunaan campuran kata-kata berbahasa Inggris dengan bahasa Indonesia, serasa denger orang Singapore lagi ngomong Singlish, gak enak banget bacanya. Yang paling mengagetkan...saat acara talkshow, moderator bertanya dengan bahasa Indonesia namun dijawab oleh Adrienne yang seorang penulis dengan bahasa Inggris. Bukankah seharusnya sebagai penulis, Adrienne lebih khatam dengan etika berbahasa?
2. Adrienne yang diawal cerita digambarkan sebagai wanita cerdas dan tangguh, ternyata terlalu bodoh dan emosional...gak sesuai dengan penggambaran yang ingin penulis sampaikan. Kok bisa2nya dia tidak mengerti etika dalam penggunaan karakter di buku? Kok bisa2nya dia se-kegeeran itu? dan kenapa kesalahannya dalam membaca pria, membuat dia melampiaskan kemarahannya dengan merusak hidup pria-pria itu? Diantara 3 mantan Adrienne, bagi saya yang bermasalah cuma Gerry. 2 pria lainnya memang tidak pernah pacaran dengan Adrienne, dan Dirga malah jelas-jelas sudah punya tunangan...kenapa Adrienne malah bermaksud merusak hubungan mereka? ah...gak suka banget sama Adrienne ini...terlalu egois, tidak bermoral dan menganggap semua permasalahan dihidupnya adalah kesalahan orang lain, walau akhirnya dia berubah sih...
3. Kok roman picisan bisa menang literature award?? sebegitu tidak bermutunya kah karya sastra di Indonesia??
4. 300jt untuk royalti sebuah novel roman yang baru diterbitkan di Indonesia? hahahaha....coba lebih realistis lah dalam menulis.
Untung saya secara pribadi suka tokoh2 prianya. Danny yang pintar, sederhana, baik, tulus, sensitif dan setia (walau di zaman sekarang memang masih ada pria seperti itu?). Aidan yang dewasa dan sangat peduli terhadap keluarga dan kekasihnya, dan yang namanya mengingatkan saya dengan pria idaman di Sex & the City...uugghh, jadi gak fokus :D
Sebagai penutup, ada 2 quote yang saya suka dari novel ini:
"Everyone says forgiveness is a lovely idea, until they have something to forgive - C.S. Lewis"
"The best thing of the worst point is...you know that it can't be worse"
sepi rasanya nggak ada metropop baru yang bisa dibeli. So di akhir Mei waktu jalan ke TB, gak sengaja pengen beli buku ini. Yep bukan buku baru, but I just want to try
senang rasanya bisa membaca sebuah karya yang berlatar belakang di kota yang sudah lama ku tinggali. Yeah novel ini berlatar di surabaya, dan baru nyadar kalo Stepanie zen ini memang dari Sby. Padahal aku dulu juga sempat baca novel teenitnya Dylan itu. Berasa imajinasinya pas banget, univ yang sama, mall yang sama, cafe yang sama, perfecto, he he
Berkisah tentang adriene, seorang penulis novel muda, yang selalu mengambil cerita pribadinya untuk dijadikan sumber inspirasinya. Mottonya adalah tidak ada patah hati yang tidak menghasilkan royalti. Ide nya mengalir lancar ketika nama tokoh dalam novelnya itu memang mencomot nama pribadi para pria yang pernah membuatnya patah hati. So....dari pemakaian nama asli itu, muncullah berbagai konflik, bersamaan saat adriene mulai menemukan seseorang yang dikiranya bisa menjadi satu-satunya sumber inspirasi cerita yang lain dari biasanya, ehmm happy end mungkin. Lagi-lagi dia harus kecewa, namun kekecewaannya yang terakhir ini sungguh merenggut semua kebahagiaannya secara bersamaan, karena sakit hati dari masa lalunya.
Membaca buku ini memang berasa membaca real life. Author bisa membawa pembaca mampu terhanyut dalm situasi yang dialami adriene (versiku sih begitu). Porsi happy dan sedihnya pas. Nggak merasa rugi sih sudah mkembeli buku ini gak sengaja, randomly. But, finishing touch nya kurang. happy ending sih, cuman kalo ditambah sedikit biar lebih panjang tuh epilognya, mungkin akan lebih manis. tapi ya begitulah, banyak author yang suka membuat akhir yang 70%, menurutku.
Adrienne Hanjaya dan diarynya adalah satu jiwa. Segala keluh kesah yang tak terungkapkan pun dituangkannya dalam rangkaian tulisan di diary pribadinya. Tak jarang, Adrienne yang lebih dikenal dengan nama Adri menuliskan kisah percintaannya yang sayangnya tidak sebaik karirnya sekarang sebagai penulis novel best seller. Ya, Adri adalah seorang penulis drama romance modern berbakat yang sudah menetaskan karya-karya yang sangat laku di pasaran.
Adri sendiri punya prinsip,"Tak boleh ada patah hati yang tak menghasilkan royalti."
Kisah-kisah yang ditulis dalam novel terbitannya adalah berdasarkan pengalaman pribadinya. Dan dalam setiap bukunya, dengan berani ia selalu mencantumkan nama asli dari pria yang dulu pernah membuatnya patah hati dan kecewa. Mungkin karna berdasarkan pengalaman pribadi, maka kisahnya terasa begitu hidup dan nyata. Namun tak satupun dari para penggemarnya tahu bahwa isi dari setiap buku yang ditulis Adri pernah terjadi dalam kehidupannya.
Adri merasa setiap patah hati yang dirasakannya akan terbalas jika ia sudah menulis dan menerbitkan kisah dimana sang pria akan berakhir mengenaskan karena telah menyia-nyiakan cintanya. Dan dari beberapa pengalaman pahit tsb, Adri merasa begitu terhina dengan cemoohan Gerry(mantan pacarnya)terhadap dirinya. Oleh karena itu, Adri memutuskan untuk membalas Gerry dengan cara yang sama, dan lebih ekstrim pula.
"Balas dendam, no matter how sweet it is, nggak akan pernah membuatmu bahagia, Dri. Just forgive. Let go, and let God do the rest. You'll be much happier."
Just finished it in 1,5 hours. Such a record for me. 3 stars for this book. It would be perfect if the epilog is not just their emails. want more want more!!
Entah knapa, saya lebih suka sama Perhaps You daripada One Last Chance. Kesannya, membaca One Last Chance ini seperti diburu "cepet cepet, udah disini nih, kamu kok masih stuck disitu." saya ngga bisa mengikuti alurnya yg cepat. Tapi mulai melambat menjelang konflik dan penyelesaian. Suka dengan tema yg diangkat karena baru kali ini membaca yg seperti ini (penulis yg menceritakan seorang penulis). Hoho.
Btw, Danny itu keras kepala ya. Pengen digetok. Oh ya, di bagian Danny ini saya agak ngga ngeh pas dia hilang tanpa kabar gtu. Penjelasan mengenai alasan Danny menghilang agak bertele-tele. Well, itu sih menurut saya. Tapi perkembangan karakter para tokoh tak terduga (but still, too fast. pengennya dy sadar scara alami gtu, yah wlopun ada nasihat ga smua orang cepet banget brubahnya sperti Adrienne), dan saya suka nasihat-nasihat di dalam novel ini. Njleb abisss. Novel yang ringan untuk mengisi waktu luang.
O ya, kok gramedia masukin ini sbagai metropop yaa?? Although there are some words like materialistic and popularity, i still don't get it why. Merasa ini novel romance aja. Ga ada unsur metropolitannya. Hehe. *no offense, just my opinion*
Karakter favorit saya? Wepe. Haha. Pak Pendeta yang wise bangett dan gaol abisss. Hihi. Sometimes, some old people dont get along with teenagers, so sometimes it feels awkward for us to get along and share ideas. *lupakan curcol saya*
PS: banyak quotes bagus di novel ini yang sayangnya saya lupa buat tempelin post-it. :((
Nafsu membaca gua sebenernya udah menguap entah kemana, sebab musababnya krn pas baca novel yg gua ambil di sebuah pameran itu membosankan. akhirnya kedapatan beli novel.. tapi yg ini malah nggak bisa berhenti baca!!
Andrienne Hanjaya seorang novelis muda berbakat yang bukunya selalu bestseller. Dan novel-novel karyanya itu merupakan pengalaman kisah cintanya bahkan nama tokoh yang ada di dalam novel itu adalah nama sebenarnya.
Awalnya ia bertemu dengan seorang bintang kampus yang juga seniornya bernama Jaden Danarto, komunikasi mereka yang semakin intens membuat Andrienne yakin bahwa ia mempunyai hubungan yang di anggapnya special dengan Jaden. Namun, semua itu runtuh ketika ia melihat Jaden bersama seorang perempuan di dalam mobil jaden sedang bermesraan.
Luka itu di lupakannya, lalu ia bertemu dengan Dirgantara Sutowo yang mengaku bahwa ia hanya di jodohkan dengan perempuan pilihan orang tuanya ternyata tak selang berapa lama justru undangan pernikahan yang datang padanya. Namun,mottonya sekarang “tidak ada patah hati yang menghasilkan royalty” dan di setiap novel yang ia terbitkan selalu membuat happy untuk wanitanya dan sengsara untuk si prianya.
Danny husein seorang calon dokter yang kembali memikat hati andri itu hampir salah paham dan terhasut oleh salah seorang yang sempat dekat dengan andrie, akankah danny percaya bahwa andrie benar2 mencintainya? cuus beli ke toko buku terdekat. ceritanya menarik dan NGGAK PASARAN!! suer!! :) konfliknya keren dan jadi pengen ke Tosari...:)
ide ceritanya sebenarnya unik, yaitu mengenai seorang penulis bernama Adriene yang memiliki motto "tidak ada patah hati yang tidak mendatangkan royalti. oleh karenanya, dalam setiap bukunya selalu menceritakan patah hati yang dialami oleh Adriene. bahkan Adri sama sekali tidak mengubah nama tokoh lelaki yang telah membuatnya patah hati! sampai suatu hari ia bertemu dengan Danny. sejak bertemu dengan Danny, Adri bertekad untuk membuat novel dengan ending yang bahagia. tetapi tiba-tiba saja Gerry, salah satu lelaki yang telah menyakiti dan namanya ada dalam novel Adri, memberitahu Danny tentang motto Adri. selain itu, Gerry juga menuntut Adri atas perkara pencemaran nama baik. Dapatkah Adri membuat novel tentang kisahnya bersama Danny yang berakhir bahagia? apakah Danny dapat memahami motto Adri? Baca kisahnya dalam buku ini.
Hmm.. untuk kisahnya sendiri saya merasa tidak ada magnet yang membuat saya untuk tetap memegang buku tersebut hingga buku tersebut saya selesaikan. beberapa kali saya sempat menutup buku tersebut karena konflik di dalamnya terasa kurang greget. dan saya merasa kalau buku ini kok ya beda sama kayak buku-buku metropop lainnya yang pernah saya baca. sepertinya buku ini terlalu ringan sebagai novel metropop tapi juga tidak pas dimasukkan dalam kategori teenlit. yang jelas sih, ceritanya nggak 'nyantol' ke kepala saya. meski begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. contohnya tentang memaafkan, kepercayaan, dan berserah diri. cocoklah untuk dijadikan teman saat santai.
Sinopsis One Last Chance diatas sangat menarik dan bikin penasaran. Karena itu lah aku masukin novel ini ke dalam daftar Books of the Month bulan Mei 2012. Beberapa bulan kemudian, aku membeli novel ini dalam keadaan stress karena magang (thank God, the discount really heal me :p). Tapi entah kenapa aku selalu menunda-nunda membacanya. Aku lebih memilih untuk membaca novel lain yang lebih tipis atau malah yang lebih tebel lah (weird, eh?). Akhirnya aku melirik kembali novel ini dan kasihan juga udah dianggurin beberapa minggu. Tak disangka aku bisa menyelesaikannya dalam lima jam! :D
Sinopsis One Last Chance sudah sangat jelas menceritakan isi ceritanya, jadi nggak usah ditulis ulang dalam kata-kata aku ya hehehe. Premisnya menarik dan mungkin bisa menjawab pertanyaan dari pembaca tentang bagaimana penulis mendapatkan inspirasi sampe-sampe katakternya kerasa nyata banget. Tapi sebenrnya yang bikin aku penasaran adalah gimana cerita itu berakhir, bagaimana penulis membuat sebuah solusi untuk konflik yang tampaknya sangat rumit itu. It turned out, she did very well! Ceritanya mengalir, apa adanya, tidak menggurui dan gak ada hal-hal aneh atau lebay yang bikin alis aku terangkat. Bahkan bagian romantis yang melibatkan the love birds terasa pas dan lucu, mengingatkan betapa bego dan lugunya kita kalo sedang jatuh cinta hehehehe.
Adrienne, selalu menulis novel sesuai dengan kisah cintanya. Setiap kali ia patah hati, selalu dibuatkan novel tentang itu. Prinsipnya: tidak ada patah hati yang tidak menghasilkan royalti. Tapi dodolnya, si Adrienne selalu memasukkan nama asli (lengkap) cowok yang membuatnya patah hati, plus diberi ending sang cowok yang menderita, sementara ceweknya happily ever after. :)
Hingga suatu saat, Adrienne ketemu sama Danny. Saat semuanya baik-baik saja, ternyata dibalik 'baik-baik' itu, seorang cowok yang dimasukkan namanya di buku best-seller Adrienne, menuntut cewek itu hingga jalur hukum. Tentu saja Adrienne kewalahan, apalagi Danny mengetahui prinsip itu. Serentak, semua kebahagiaan Adrienne pun terputus. Saat mengetahui prinsip itu, Danny langsung menghilang. Saat Adrienne mencarinya pun, Adrienne tau bahwa tidak ada apapun lagi diantara mereka.
Apakah Danny akan memberikan kesempatan pada Adrienne? One last chance.
~~~ Sebuah buku Metropop yang bagus, oleh karna itu kuberi 4/5 bintang. Banyak banget hikmah dari ceritanya, aku sama sekali tidak menyesal sudah membeli buku ini. Dari konflik dan alur ceritanya aja udah keren, apalagi ditambah dengan amanat yang keren-keren itu. :)
Pokoknya udah deh ya, kerenlahh intinya. :D Kalo ada buku Stephanie Zen lagi aku pasti belilah. Hehehe ;)
"Tak boleh ada patah hati yang tak menghasilkan royalti"
Kalimat diatas merupakan prinsip seorang perempuan bernama Adrienne. Adrienne seorang penulis yang tiap bukunya berasal dari kisah nyata hidupnya sendiri. Tiap Adrinne patah hati, dia akan sangat mudah menyalurkan pikiran dan perasaan dalam suatu novel. Sampai saat Adrienne bertemu dengan Danny, Adrinne berharap bahwa kisahnya kali ini tidak akan berujung patah hati. Namun harapan Adrienne tidak terkabul karena mantan Adrinne yang bernama Gerry memberitahu Danny bahwa tiap kisah novel yang Adrienne buat yaitu nyata dan nama laki-laki dalam novel juga nyata. Dannypun salah paham dan mengira bahwa ia diperalat oleh Adrinne. Bukan hanya dibenci dan dijauhi oleh Danny tapi Adrienne juga dituntut karena pencemaran nama baik oleh Gerry. Lalu bagaimana nasib karir dan percintaan Adrienne selanjutnya? Nah, monggo baca sendiri ya.. :)
Hem, jujur novel ini sempet gue balikin ke lemari dan nggak gue lanjutin baca sampai satu bulan lebih. hehe. Diawal cerita novel ini sangat datar dan itulah yang buat gue malas baca. Tapi waktu gue mau lanjutin baca ternyata hal ke 120an klo nggak salah, novel ini udah mulai seru dan yang pasti nggak datar seperti yang diawal. Dan ada pesan yang bisa diambil dari novel ini. Jadi untuk One Last Chance gue beri 4 bintang. :)
rasanya it's been a while since aku nemu metropop yang menarik lagi. makanya seneng banget waktu baca one last chance ini.
kali ini, diceritain tentang Adrienne Hanjaya yang merupakan seorang novelis muda dan selalu nulis novelnya berdasarkan pengalaman pribadi dia (percintaannya tentunya)dengan nama asli tokohnya. yes, you read that right. ga cuman ceritanya yang based on true story, tapi nama tokohnya pun adalah benar adanya.
namun, cerita yang dia tulis selalu dihasilkan dari rasa patah hati dia. dengan ending yang selalu buruk buat tokoh cowok dan ending yang bahgia buat sang cewe. but hey, buku-bukunya selalu laris dipasaran kok. makanya ga salah kalo Adrienne punya moto "tak ada patah hati yang tak menghasilkan royalti" toh memang bener kok.
tapi masalah timbul saat salah seorang dari mantannya menuntut Adrienne atas pencemaran nama baik. selain bikin Adrienne harus berurusan sama pengadilan, buku terbarunya dicabut dari award (yes she got an award for one of her books), hal ini juga berpengaruh sama cowok yang lagi deket sama Adrienne. the one guy that she feels she could write her happy ending with him.
sebenernya masih pingin kalo dipanjangin sedikiit aja ceritanya, di bagian ending. tp overall, aku suka sama buku Stephanie yang kali ini. semoga terus muncul metropop-metropop lain yang semakin oke! amin! :)
Baca ulang cerita ini di tahun 2015. Dulu sih udah baca dan mikir ini cerita bagus. Tapi kok pas baca ulang, aneh aja gitu. Masak iya jadi penulis di negeri ini bisa kaya raya? Apalagi novel yang dibuat tokoh utama di dalam novel ini roman picisan. Se-real apapun, perasaan nggak gitu-gitu amat sampe cetak ulang 5000 eks trus royaltinya 300 juta kalo nggak salah ya? Apalagi bayar denda buat si Gerry 300 juta dari uang royalti? Seriously? Kok terlalu ngayal banget ya penulisnya? Harga per novel berapa tuh? Royalti dapat berapa persen? Di dunia nyata aja royalti 10% udah umum. Itu aja kalau harga buku dibuat 50ribuan, 5000 buku cuma dapet 25juta dipotong pajak. Fiksi sih fiksi, tapi kalau isinya kayak gini sih bikin pembaca yang masih labil suka berangan2 jadi penulis di Indonesia bisa kaya raya dan berfoya2. Apalagi tokoh cowoknya gampang terhasut. Emang sih kedua tokoh masih sama2 kuliah, tapi perasaan kalau cowok itu mikir pake logika deh di dunia nyata. Kalau yang gampang terhasut itu cewek sih udah maklum. Lah ini si Danny malah dengan mudahnya terhasut. Yang membunuh karakter cowok di sini bukan adrienne, tapi si penulis sendiri. Membuat pola pikir Danny mirip ABG labil yang gampang terhasut, gampang menuduh, dan berpikiran sempit. Bintang 1 terlalu banyak buat buku ini. Ternyata nama penulis yang udah tenar nggak menjamin isi novel itu bagus.
Adrienne Hanjaya seorang penganut paham "nothing is sweeter than revenge" adalah penulis novel yang sedang naik daun karena memenangkan award di novel ketiganya. "tak boleh ada patah hati yan tak menghasilkan royalti" membuat Adrienne menumpahkan semua pengalaman pahitnya dalam menjalin kasih dengan pria pria ke dalam novel2 nya tanpa mengubah nama pria2 tersebut dan karakter pria akan berakhir dengan nasib buruk karena sesungguhnya Adrienne belum bisa memaafkan mereka. Dan semua berubah ketika Danny Husein hadir ke hidupnya, Adrienne tidak berharap untuk menulis novel selanjutnya dengan karakter Danny Husein yang bernasib buruk. Tapi kedatangan Gerry, mantan nya Adrienne mengusik hubungan mereka. biar ga penasaran, mending beli langsung novel ini dan baca ^^~~~
moral teaching yang saya dapat dari novel ini adalah kalau punya masa lalu yang buruk dengan seseorang tidak perlu di umbar umbar ke publik karena hanya akan merugikan kedua belah pihak pada akhirnya & Kepercayaan Itu PRICELESS
"lebih mudah untuk membuat dirimu dicintai, daripada membuat dirimu dipercaya, Cinta bisa di bangun dari kepercayaan, tetapi kepercayaan tidak bisa di bangun hanya berdasarkan cinta"
cerita yang ringan. berkisah tentang seorang novelis muda yang selalu menjadikan kisah patah hatinya menjadi sebuah novel. adrianne mempunyai moto " tak ada patah hati yang tak menghasilkan royalti" adri beranggapan dengan menuliskan kisah patah hatinya dan menggunakan nama lelaki yang menyakitinya sebagai tokoh di dalam novelnya, itu merupakan sebuah pembalasan dendamnya. dalam setiap novelnya, sang tokoh wanita selalu berakhir bahagia, sedangkan tokoh lelakinya selalu berakhir tragis. hingga akhirnya adrianne bertemu dengan seorang calon dokter muda, Danny, dan jatuh hati padanya sejak pada pandangan pertama. saat ia mengikuti baksos di sebuah desa yang berada 10 KM dari gunung Bromo. Pada Awalnya PDKT diantara ke dua nya berjalan dengan lancar. dan baru kali ini lah Adrianne ingin menulis novel pada saat ia jatuh cinta, bukan saat ia patah hati. dengan tokoh utamanya Danny. salah satu mantan Adrianne yang di jadikan sebagai tokoh di novel terakhirnya Reasonable Love, menyimpan dendam. ia merasa Adrianne melakukan pembunuhan karakternya.