MEMOTRET
ZAMAN Jepang bukan zaman yang menggembirakan. Sejarah bergerak lambat, gelap, dan lesu—terasa amat lama, terutama bagi rakyat Indonesia yang mengalaminya. Padahal sebelumnya orang mengira melihat sebuah cahaya dan pagi yang nampak cerah: pemerintah kolonial Belanda menyerah dengan cepat kepada tentara Jepang, yang dengan cepat pula menyebut diri mereka “saudara” kepada bangsa Indonesia.
Tapi saya hanya pernah mendengar hal itu dari buku-buku akademis yang bertebaran, dan tidak pernah rinci. Hanya sering disebutkan demikian: zaman Jepang lebih sengsara ketimbang zaman Belanda. Dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, di halaman 410, M.C. Ricklefs menulis tentang adanya “kekacauan ekonomi, teror Polisi Militer (Kenpeitai), kerja paksa, penyerahan wajib beras, kesombongan dan kekejaman orang-orang Jepang pada umumnya, pemukulan dan pemerkosaan, serta kewajiban memberi hormat kepada setiap orang Jepang”. Kata-kata semacam itu tidak memberi gambaran yang detail, kurang membuat suasana hati yang penuh haru dan menderita, apalagi bagi yang membacanya tanpa imajinasi seperti pelajaran-pelajaran sejarah umumnya di sekolah.
Maka ketika saya menemukan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma yang kembali diterbitkan Balai Pustaka, mata saya membulat besar: cerita-cerita pendek Idrus memotret situasi zaman Jepang itu dengan hidup. Kita bisa merasakan horornya. Juga “dasar yang lebih teguh” di jiwa tokoh-tokohnya—dengan itulah Seno Gumira Ajidarma dan H.B. Jassin memberi pengakuan sebagai pembaharu kepada Idrus dan cerpen-cerpennya sama dengan pengakuan kepada Chairil Anwar dan puisi-puisinya.
Idrus pernah menjadi redaktur majalah Melayu di Balai Pustaka. Di sana ia mendalami sastra dengan membaca buku dan majalah dari perpustakaan Balai Pustaka. Ia gabungkan dirinya dalam diskusi dengan sastrawan terkenal di zamannya macam Sutan Takdir Alisyahbana, H.B. Jassin, sampai Nur Sutan Iskandar. Tapi karena gaji yang dianggap terlalu kecil, ia pindah ke Poesat Oesaha Sandiwara Djepang (POSD) yang ada di bawah dinas propaganda Jepang. Ia kembali ke Balai Pustaka tahun 1945 sampai 1947 ketika Balai Pustaka diserbu militer Belanda dalam Agresi Militer I.
Bila sejarah lebih banyak menyebut tentang pergerakan-pergerakan pemimpin Indonesia dalam tiga setengah tahun tekanan Jepang, dua belas cerita pendek dalam Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma tidak membahas peristiwa-peristiwa yang dialami “para pemimpin” Indonesia itu. Idrus memperkaya potret sejarah dengan menceritakan “kehidupan sehari-hari rakyat”. Dalam Jawa Baru Idrus memulai intro situasi Jepang pada umumnya: Jepang merampas beras dari tanah Jawa, juga besi-besi. Jepang “sama saja dengan Belanda” dalam hal “menghapuskan harta benda”. Pemikiran seperti itu hampir-hampir tidak dipedulikan orang lagi karena dianggap “sudah biasa”. Itulah sebabnya rakyat tak pernah lagi menangis dan cukup terus mengeluh—ya, karena sudah biasa.
Propaganda-propaganda bikinan Jepang akan kita temukan prakteknya di masyarakat dalam Fujinkai: seorang tokoh bernama Nyonya Sastra berpidato memuji-muji “kemenangan gilang-gemilang” Angkatan Laut Nippon dan berterima kasih pada kemerdekaan yang akan diberikan kelak oleh Nippon. Nyonya Sastra memuji pembagian beras yang diatur rapi oleh Jepang, meski rakyat hanya menerima seperlima liter—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk hidup sederhana. Menyambung dengan itu, kita menjadi tahu setelah membaca Jawa Baru, bagaimana kata-kata resmi pemerintahan Nippon yang “terharu sekali dengan ketulusan seluruh rakyat Pulau Jawa” perihal beras. Propaganda menipu muncul di mana-mana: cerita pendek Pasar Malam Zaman Jepang menyebut bahwa kata-kata, sponsor, dan simbol bersahabat dari Jepang ada di pasar malam, di pertandingan bola, di pertunjukan sandiwara, dan tak luput ada di perkumpulan musik. Juga menyangkut pula profesi heiho, pekerjaan yang diidam-idamkan pemuda Indonesia, yang sebenarnya dianggap sebagai jongos Jepang. Heiho adalah taktik Nippon untuk mengambil hati para udik agar mereka berpartisipasi dalam membela tanah air. Orang Jepang dengan cermat melihat bahwa para “udik mudah diberi semangat”.
Apa lagi yang sudah biasa? Di masa itu Idrus melaporkan dunia tragis rakyat Indonesia lapisan bawah: orang yang setengah telanjang dan setengah mati yang “tergelimpang di tengah jalan”; perempuan-perempuan, juga yang Indo, menjalangkan diri untuk mencari makan (dalam Jawa Baru); anak muda yang kurus, orang Indonesia yang pakaiannya compang-camping, anak muda yang tidak berbaju (dalam Oh… Oh… Oh!); tukang es yang tidak berbaju dan celananya robek-robek (dalam Sanyo); orang-orang yang memakai baju tipis-tipis dan pudar, pemuda yang kaosnya bolong-bolong dan “kuning-kuning seperti kunyit” (dalam Pasar Malam Zaman Jepang); anak muda yang hanya makan daun-daun kayu (dalam Kisah Sebuah Celana Pendek); sampai orang-orang telanjang bulat yang berebutan bangkai anjing di tepi Kali Ciliwung (dalam Jalan Lain ke Roma). Rakyat telah begitu melarat, sehingga beli celana pendek kepar 1001 yang made in Itali saja rasanya sudah sangat gembira (dalam Kisah Sebuah Celana Pendek). Begitu horor penindasan Jepang, sehingga digambarkan rakyat hanya ingin “hidup bebas dari ketakutan esok hari tidak mempunyai celana”.
Potret itu sulit untuk dibasmi. Malah ada ralat-memperalat di antara orang Indonesia sendiri: keibodan menipu rakyat, agen polisi menipu seorang perempuan bungkuk yang menyimpan beras di kutang, seseorang yang mencuri beras seliter dari rumah tuannya dan kehilangan tangannya sebagai hukuman, juga adalah hal biasa orang mencatut di kantor.
Idrus, melalui cerita pendeknya, turut mempertegas suatu jarak dan garis: di mana-mana budaya negeri penjajah, dan orang-orangnya, mesti lebih terhormat ketimbang budaya negeri terjajah, dan orang-orangnya. Tulisan surat penghargaan dari Nippon, dalam aksara Nippon, lebih dihargai tinggi—lebih tinggi dari pohon kelapa. Dalam Oh… Oh… Oh! ada kisah apartheid: karcis kelas dua hanya diberikan kepada Nippon dan “orang-orang yang mendapat keterangan dari sikuco”—sebutan untuk lurah pada zaman Jepang. Dalam Sanyo, seorang tukang kacang digiring ke kantor polisi oleh mata-mata Jepang karena dituduh menghina Dai Nippon hanya karena ketidaktahuannya tentang apa itu sanyo. Dalam Kota-Harmoni, seorang Nippon preman, yang tidak tertib, yang naik dari jendela trem, malah merasa berhak marah-marah karena ditegur orang Indonesia.
Cerita-cerita itu membuat kita risau, dan membayangkan: zaman Jepang bukan zaman yang tepat untuk mencipta puisi cinta terbata-bata seorang pemuda tanggung kepada seorang gadis teman sekolah. Bukan waktu yang tepat untuk membaca bait-bait cinta Agus Noor.
Tapi manusia adalah makhluk yang coba meneliti faedah baiknya: hal-hal yang buruk itu seperti “tai kebo” yang bisa dipakai sebagai pupuk untuk menyuburkan “pohon-pohon”. Pohon-pohon itu adalah bangsa Indonesia yang tengah tertidur lelap. Seperti ditulis M.C. Ricklefs, strategi Jepang yang menggunakan taktik mobilisasi, terutama di Jawa dan Sumatera, ketimbang memaksa suatu “ketenangan yang tertib” telah membuat dasar revolusi penting: peneguhan bahasa Indonesia karena kerap dipakai dalam propaganda, serta perasaan satu, perasaan tertindas, di antara rakyat sampai ke desa-desa. Revolusi mulai tumbuh dengan “mengguncangkan yang melamun” dari akar yang dalam. Dan tanah Indonesia akhirnya merdeka, dan bertahan untuk merdeka, oleh upaya dan pikiran orang-orangnya sendiri.