Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Rate this book
Seorang primadona yang memiliki suara emas, sampai-sampai para pria sekampung baik tua maupun muda, tergoda oleh alunan merdu suaranya saat menyanyi di kamar mandi.

Tentu saja, aksi itu menuai protes para perempuan kampung hingga ketua RT terpaksa mengeluarkan peraturan baru: DILARANG MENYANYI DIKAMAR MANDI!

Daftar Isi :

1. “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (2005), ditulis pertama kali sebagai skenario untuk film televisi tahun 2001, belum pernah difilmkan; dituliskan kembali sebagai prosa pada November 2005, dipublikasikan pertama kali dalam buku Dilarang menyanyi di Kamar Mandi Edisi Kedua ini.
2. “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (1991), harian Suara Pembaruan, 1991, sebagai Kamar Mandi. Dimuat kembali dalam Lembaran Mastera, sisipan Horison, Dewan Sastera (Malaysia) dan Bahana (Brunei Darussalam) untuk Majlis Sastera Asia Tenggara, dokumentasi dari Horison No.2/Januari 2000.
3. “Duduk di Tepi Sungai”, harian Kompas, 4 September 1988.
4. “Bibir yang Merah, Basah, dan Setengah Terbuka…”, harian Kompas, 25 Juni 1989.
5. “Bayang-Bayang Elektra”, harian Kompas, 25 Juni 1989.
6. “Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh”, harian Suara Pembaruan, 1989, sebagai Gombal.
7. “Duduk di Depan Jendela”, harian Kompas, 10 September 1989.
8. “Kriiiingng!!!”, harian Kompas, 11 Maret 1990.
9. “Lambada!”, majalah Mode, 1990.
10. “Guru Sufi Lewat”, harian Kompas, 13 Mei 1990.
11. “Midnight Express”, harian Kompas, 1990.
12. “Segitiga Emas”, harian Suara Pembaruan, 1991.
13. “Seorang Wanita di Sebuah Loteng”, majalah Mode, 1991.

132 pages, Paperback

First published January 1, 1995

62 people are currently reading
2193 people want to read

About the author

Seno Gumira Ajidarma

98 books838 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
214 (24%)
4 stars
301 (34%)
3 stars
279 (32%)
2 stars
48 (5%)
1 star
21 (2%)
Displaying 1 - 30 of 78 reviews
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
April 30, 2017
Bagaimana caranya menertibkan imajinasi?

Buku ini mau tidak mau harus dianggap sebagai satu dari sekian masterpiece Seno Gumira Ajidarma. Bukan karena muatan isinya ataupun permainan antara fiksi dan fakta seperti di Trilogi Insiden. "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" adalah sebuah kumpulan cerita pendek ringan nan menghibur. Menurut catatan pembuka penulisnya, ia mendapatkan inspirasi dari judul sebuah komposisi musik berjudul 'Jangan Bertepuk dalam Toilet' karya Franki Raden dekade 80-an.

"Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" diterbitkan kembali sebagai Edisi Kedua, artinya terdapat perubahan dan tambahan, yaitu sebuah prosa berjudul sama yang berasal dari skenario film televisi berjudul sama pula. Dalam buku ini, pembaca disuguhi dua cerita "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi". Pertama, prosa yang selesai tahun 2005. Kedua, cerita asli dari tahun 1990 pada penerbitan pertamanya.

Ceritanya masih sama. Tentang Sophie yang senang bernyanyi di kamar mandi dan membuat geger sebuah perkampungan di Jakarta. Tentu saja tidak ada yang salah dengan Sophie ketika ia memutuskan untuk indekost di kampung itu. Namun, justru imajinasi pada Bapak-bapak penghuni kampung ditambah kekhawatiran tidak beralasan dari para istri mereka membuat cerita ini semakin asyik diikuti. Konteks kehidupan sehari-hari di gang yang kumuh dengan segenap problematika khas kaum pinggiran Jakarta jadi bumbu yang menarik sebagai pelengkap cerita.

Lebih jauh, buku ini juga mengajarkan pembaca tentang keabsahan sebuah kebenaran. Suatu hal bisa dianggap sebagai kebenaran bila diakui oleh banyak orang. Artinya, sesuatu hal yang belum tentu benar bisa menjadi sebuah kebenaran tak terbantahkan hanya bila sudah jadi kehendak umum, bukan melalui hipotesis yang teruji. Kebenaran para istri yang merasa suaminya semakin dingin setelah kedatangan Sophie yang sering menyanyi di kamar mandi itu kemudian menjadi sebuah pembenaran untuk 'pengusiran' Sophie.

Realitas seperti inilah yang justru akhir-akhir ini sering kita alami. Betapa nasib kita seringkali ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal. Kalau menyanyi di kamar mandi saja yang notabene ruang privat kita sudah dilarang lalu bagaimana dengan hak-hak kita yang lain? Perlukah juga dibatasi oleh sebuah kehendak umum?

Cerpen lain yang dimuat dalam buku ini masih tergolong dalam cerita yang ringan dan kadang absurd. Tentang seorang kakek yang duduk di tepi sungai bersama cucunya, tentang Sukab yang dipipinya ada jejak bibir yang merah basah, cerita satir soal urusan hari seperti dimuat dalam 'Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh'. Absurditas Seno nampak dalam cerpen 'Kriiiiiiiinngngngng!', 'Lambada', Guru Sufi Lewat', dan 'Segi Tiga Emas' yang lebih terlihat sebagai cerita pewayangan. Cerpen yang justru agak realis adalah 'Duduk di Depan Jendela', 'Midnight Express', dan ' Seorang Wanita di Sebuah Loteng'.
Profile Image for winda.
357 reviews14 followers
August 4, 2013
Segala sesuatu bisa disebut kebenaran, hanya jika dianut banyak orang.
Cerita pendek dilarang menyanyi di kamar mandi menceritakan seorang perempuan yang mempunyai kebiasaan menyanyi di kamar mandi namun karena kebiasaaanya itu meresahkan masyarakat karena telah menimbulkan imajinasi yang tidak-tidak pada sebagian besar laki-laki di daerah tersebut. Oleh karena itu, perempuan tersebut diminta berhenti menyanyi. Tetapi ternyata imajinasi negatif masih juga mewabah, sampai akhirnya perempuan itu diminta pindah imajinasi negatif itu tak kunjung hilang. Dari cerita pendek ini, menggambarkan bagaimana seorang yang tidak bersalah dipersalahkan oleh banyak orang, yang padahal masalah itu adanya di banyak orang tersebut bukan berada di satu orang yang dipersalahkan. Prolog di buku ini menceritakan latar belakang penulisan naskah cerpen dan prosa Dilarang Menyanyi di k
Kamar Mandi
. Menarik karena cerpen tersebut ketika diterbitkan dalam sebuah harian judulnya hanya Kamar Mandi. Betapa Dilarang Menyanyi pada zaman itu merupakan isu yang sangat sensitif. Saya menjadi membayangkan betapa sulitnya dulu menyuarakan kebenaran dan menuangkan apa yang ada di dalam pikiran dengan bebas.
Membaca cerita pendeknya Seno, seperti membaca sesuatu yang samar dan tersirat di balik ceritanya.
Saya suka cerita Kriiiiingngngng! dan Bayang-Bayang Elektra . Cerita pendek Kriiiiingngngng! tentang telepon yang terus berdering, tanpa ada yang peduli untuk mengangkatnya... sampai dari ke beberapa generasi terus berdering dan berbunyi. Sampai dua ratus kemudian, ketika diangkatpun “telepon yang menuntut keadilan”, tak digubris dan diacuhkan, kemudian ditutup kembali, dan telepon pun kembali berdering. Cerpen ini ditutup dengan kalimat ‘Apakah Tuhan mendengarnya’.
Sedangkan Bayang-Bayang Elektra, bercerita tentang Elektra yang kehilangan bayang-bayangnya, kemudian berlari mengejar bayang-bayangnya, sampai kemudian bayang-bayang meninggalkan seluruh penduduk kota... apa ruginya kehilangan bayangan? Tapi penduduk kota histeris kehilangan bayangan yang pergi karena mereka meninggalkan hati nurani.
Sebenarnya, saya kurang faham apa hubungannya bayang-bayang dengan hati nurani? Namun saya suka idenya, imajinasi kehilangan bayang-bayang itu sungguh keren! :D
Selain Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Kriiiiingngngng dan Bayang-Bayang Elektra, buku ini memuat cerita pendek lainnya seperti Duduk di tepi Sungai; Bibir yang Merah Basah dan Setengah Terbuka; Mestikah Kuiris Telingaku seperti Van Gogh; Duduk di depan Jendela; Lambada; Guru Sufi Lewat; Midnight Express; Segi Tiga Emas; Seorang Wanita di Loteng.
Saya selalu suka karya cerita pendeknya Seno yang memang akhirnya sukar ditebak, juga menceritakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Harusnya lebih keren lagi kalau saya bisa menangkap apa maksud dari cerita pendek yang disampaikan oleh SGA.
oiyaaa... dalam buku ini di cerpen Guru Sufi Lewat, Seno mengutip sajak Sutarji Calzoum Bachri yang saya suka ^^
....
berapa banyak abad yang lewat
berapa banyak arloji pergi
berapa banyak isyarat dapat
berapa banyak jejak menapak
agar sampai pada-Mu?
......

Dan saya suka beberapa kalimat di dalam Midnight Express. Berikut saya kutipkan:

Adakah yang lebih indah dari impian?
....
"Tidak ada yang lebih memabukkan dari impian"
"Aku ingin mimpiku jadi kenyataan sayang"
"Kenyataan juga bisa memabukkan sayang"


"Sudah sampai dimana sayang, aku ingin pulang?"
"Kita tidak akan sampai dimana-mana sayang, kita hanya akan sampai di suatu tempat entah di mana suatu saat entah kapan dan entah pula untuk apa. Tidak usah bertanya-tanya sayang, nikmati saja perjalanannya


Bersama kelam bersama mimpi bersama malam kusetir kesendirianku perlahan-lahan. Kuserahkan diriku pada malam yang tergenang kedukaan. Kupasrahkan kegelisahanku pada sungai cahaya yang gemerlapan




Profile Image for Ais Fahira.
50 reviews1 follower
June 13, 2020
Walaupun judulnya dilarang menyanyi di kamar mandi, tapi yang paling saya suka adalah "Segitiga Emas" dan "Kriiingng!!"

Mulanya saya agak bosan dengan gaya bercerita di dalam buku ini, yang menurut saya agak boros kata. Dan sedikit sulit bagi saya memisahkan alam nyata dan tidak nyata, terutama pada "Duduk di Depan Jendela" dan "Midnight Express"

Tetapi Saya suka pesan implisit yang disampaikan penulis melalui setiap cerita, mulai dari sindiran terhadap maha benar mayoritas, ironi kehidupan rakyat jalanan, pemerintahan hingga cerita berjudul "Gadis di Loteng" yang membuat saya bertanya-tanya siapakah ia gerangan.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
October 3, 2025
Bagaimana jadinya jika kegiatan paling pribadi saja diatur dan direcoki sistem sosial? Itulah pertanyaan yang muncul setelah sy selesai membaca kumcer Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi karya Seno Gumira Ajidama. Buku berisi beragam cerita satir tentang potret kehidupan masyarakat perkotaan di tahun 1990-an, namun cerita ini masih juga relevan jika dibaca di jaman sekarang. Entah memang persoalannya yang begitu rumit sehingga masih juga belum terselesaikan, atau memang tidak adanya solusi penyelesaian yang efektif. Sehingga bertahun-tahun sudah terlewati namun belum juga kelar perkara-perkara yang diceritakan di kumcer ini.
Profile Image for Saad Fajrul.
120 reviews2 followers
April 27, 2018
Kalau anda punya suara serak - serak basah dan anda wanita, janganlah menyanyi di kamar mandi bila tidak ingin diusir dari kos.
Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
February 22, 2013
Yang Minor, Yang Kalah

Bagaimana jika Anda dilarang menyanyi di kamar mandi dengan alasan suara Anda akan menimbulkan imajinasi yang meresahkan masyrakat di republik ini?

Relakah Anda dilarang menyanyi di kamar mandi hanya karena imajinasi telah membuat banyak orang tidak tahu diri?

Sudikah nasib Anda ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan masuk akal tentang suara nyanyian Anda setiap kali mandi?

Mungkinkah Anda hidup dalam masyarakat yang mungkin saja suatu ketika melarang Anda menyanyi di kamar mandi?

***

Buku ini merupakan kumcer. Berisi 14 cerita pendek yang cukup ringan, lucu, tapi sarat makna. Ditulis dengan gaya bahasa yang khas Seno sekali. Kadang terlalu gamblang membicarakan hal-hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat. Tapi, itulah Seno.

Semua cerpen di sini asyiknya menggunakan bahasa yang tidak terlalu nyastra. Sehingga saya bisa membacanya di bus,tanpa perlu konsentrasi berlebih seperti yang biasanya saya lakukan kalau membaca karya Seno yang lain.

Salah satu cerpen di buku ini berjudul “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” yang juga merupakan judul utama dari kumcer ini. Berisi cerita tentang seorang gadis, Sophie namanya, pendatang di sebuah gang sempit yang dilarang menyanyi oleh ibu-ibu di sekitar kosan tempat dia tinggal. Ibu-ibu itu protes lantaran para suami mereka menjadi dingin di atas ranjang. Kenapa para bapak menjadi dingin? Tentu saja karena setiap sore, para bapak itu dengan setia menikmati suara-suara yang dibunyikan Sophie saat ia mandi. Bunyi ritsluiting celana yang dibuka, bunyi air yang menyiram tubuh Sophie, bunyi gesekan handuk, semua bunyi itu ternyata menimbulkan fantasi berlebihan bagi para bapak di gang itu. Apalagi bila Sophie bernyanyi, wah, makin liar imajinasi bapak-bapak itu, karena Sophie memiliki suara yang sexy.

Hal ini tentu membuat ibu-ibu gang merasa cemas. Para suami enggan bercinta. Mereka sudah lebih dulu melepaskan hasratnya saat mendengar Sophie mandi. Ibu-ibu akhirnya melaporkan kejadian ini kepada Pak RT. Mendengar hal tsb, Pak RT tentu tidak begitu saja percaya. Mana mungkin ada orang mandi yang bisa sampai menimbulkan imajinasi mesum seperti itu? Apalagi kalau ia bernyanyi? Tapi, yah, namanya juga Pak RT, akhirnya toh beliau manut saja waktu para ibu mendesak Pak RT untuk mengusir Sophie dari kampong itu karena dianggap merusak keharmonisan rumah tangga warga sekitar.

Sebagai orang bijak, Pak RT bukannya mengusir Sophie, tapi hanya menyuruh Sophie untuk tidak boleh menyanyi lagi di kamar mandi. Oke. Sophie menurut. Sebagai pendatang baru di gang itu, ia manut saja. Meskipun sebenarnya dia heran kenaoa menyanyi saja dilarang? Kalau pikiran bapak-bapak itu mesum, memang salah dirinya?

Sore besoknya, ia mandi tanpa menyanyi. Tapi bapak-bapak tetap masih begitu-begitu saja. Ibu-ibu tidak tahan lagi. Mereka kembali mendatangi Pak RT. Kali ini, ibu-ibu ingin Pak RT benar-benar mengusir Sophie. Duh, ruwet sekali permasalahan ini. Sophie, si kaum minoritas di tempat itu, merasa terjajah dengan tindakan para ibu-ibu yang mengatur-atur hidupnya.

Akankah Sophie diam saja? Atau malah membalas semua kekesalannya pad aibu-ibu gang?

***

Tidak terlalu lama saya menyelesaikan buku ini. Seperti yang saya bilang, bahasa di buku ini tidak terlalu berat dan nyastra. Kalau boleh saya bandingkan dengan buku-buku Seno seperti “Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian” tentu buku ini jauh dari kata “berat”.

Mengusung tema di kehidupan sehari-hari. Ada yang menceritakan tentang kehidupan pencopet yang ingin membahagiakan pacarnya yang seorang biduan. Ada pula cerita tentang laki-laki kaya yang ingin menikahi seorang pelacur yang dulu pernah ditidurinya sejak ia masih remaja dan belum punya apa-apa. Atau cerita sesederhana dering telepon yang tidak kunjung diangkat karena semua orang sibuk.

Tema-tema simple seperti itu bisa dikemas oleh Seno dengan sangat apik. Melihat reputasinya di dunia jurnalistik, tentu sudah tidak perlu diragukan lagi bagaimana kualitas tulisannya. Tapi menurut saya, tulisan Seno sebenarnya tidak sesimpel kelihatannya. Banyak sindiran halus yang disisipkan dalam setiap ceritanya. Kalau kita jeli, kita bisa tahu maksud dari cerita ini, berbicara tentang hal besar apa. Seno hanya menganalogikan dengan hal-hal lain karena mungkin pada tahun itu, 1995, kebebasan berbicara masih terbatas. Cerdas!

Akhir kata, 4 dari 5 bintang untuk kumcer cerdas seperti ini. Bravo, Seno!
Profile Image for Iwan.
15 reviews6 followers
July 21, 2012
Ketika mandi, sambil gosok gosok badan pakai sabun, ditambah ngunyel nguyel rambut pakai sampo , tentunya sangat asik kalau disambi menyanyikan sebuah lagu, tak peduli apakah suaranya jelek kaya tikus nying nying, atau semerdu penyanyi penyanyi di atas panggung Broadway. Menyanyi di kamar mandi, mempunyai kenikmatan tersendiri sebab kau bisa menyanyi lagu apa pun, dan kalau kau cukup kreatif dan punya imajinasi yang tingi, maka kau bisa berpura pura menjadikan sikat WC menjadi mik, dan gemericik air keran ialah suara gemuruh ribuan penonton. Masuklah ke dunia impian tanpa batas, ketika dinding dinding kamar mandi menjadi hilang, dan kau serasa di atas panggung yang megah. Kau menyanyi sedemikian khidmat, meliuk liuk, geol kanan geol kiri, dan lupa belaka kalau sebenarnya sedang mandi, telanjang bulat pula. Begitulah sensasi menyanyi di kamar mandi. Semua orang pernah melakukannya.

Tak terkecuali Sophie. Ia gemar menyanyi di kamar mandi. Seharusnya hal itu tidak menjadi masalah besar, seandainya tidak ada bapak bapak mesum penghuni kompleks tempat ia mengontrak. Bapak bapak itu sering mencuri dengar nyanyian Sophie ketika ia mandi. Hal itu juga sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seandainya istri istri bapak bapak mesum tersebut tidak meradang, lantas lapor ketua RT minta agar Sophie diusir. Ketua RT jadi lumayan bingung. Apakah ia harus menuruti permintaan ibu ibu pencemburu itu, atau sebaliknya?
Carilah jawabannya dalam cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, yang ada dalam buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama karangan Seno Gumira Ajidarma. Ada dua pelajaran yang bisa saya tangkap setelah membaca cerita ini, yaitu pertama bahwasanya pornografi itu tidak berhubungan dengan panca indra, melainkan dengan otak. Kalau ditanggapi dengan biasa saja, denger orang mendesah Oh Yes Oh No, tidak akan jadi horny. Tapi kalau sudah mesum, kambing tetangga lagi berjemur pun, langsung main tindih aja pastinya.
Pelajaran yang kedua ialah, seorang istri harus bisa menjaga kondisi tubuhnya agar tetap bahenol dan seksi sehingga suaminya tidak gampang tergoda kambing tetangga.

Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi merupakan cerita terpanjang yang ada di dalam buku, dan ada dua versi pula. Versi pertama merupakan adaptasi dari naskah film, sedang yang kedua dalam bentuk cerpen sebagaimana biasa.
Kemudian ada pula cerpen cerpen lainnya yang tidak kalah ajaibnya sebagai sebuah cerita yang kaya akan pesan pesan dan kritik sosial, dan tak lupa; cinta. Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh misalnya, bercerita tentang seorang laki laki yang cinta mati kepada seorang pelacur, dan ingin menjadikannya seorang istri. Atau cerita Duduk Di Depan Jendela, kisah tentang seorang perempuan yang terkenang masa lalunya ketika sedang duduk di depan jendela. Saya harus menunggu sampai ending untuk kemudian mengetahui betapa dahsyatnya kisah cinta ini, meski tidak dituliskan dengan gamblang. Saya harus menebak nebak sendiri. Itu juga kalau tebakan saya betul. :D
Segitiga Emas ialah sebuah kisah tentang pagelaran wayang yang ternyata berubah menjadi bencana. Sebuah kritik sosial yang disampaikan dengan gaya surealis dan cenderung tidak masuk akal.
Dan masih banyak lagi cerpen cerpen yang layak untuk dibaca.

Pada akhirnya buku Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi ialah sebuah kendaraan untuk menyinggahi permasalahan permasalahan yang terjadi di sekeliling kita. Barangkali buku ini ditulis bertahun tahun yang lalu, tapi nyatanya ada beberapa isu sosial yang masih relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Bangsa ini, dalam beberapa hal, belum banyak berubah ternyata.
Profile Image for Arystha.
323 reviews11 followers
November 22, 2021
13 cerpen SGA di dalam kumpulan cerpen ini (termasuk 2 versi cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi) sangat mempesonakan saya. Semua cerpen saya sukaaaa! Cerpen pembuka tentu saja adalah Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi versi tahun 2017 sebagai skenario film TV, yang lalu ditulis sebagai prosa. Cerpen berikutnya masih dengan judul yang sama, tetapi versi aslinya yang terbit tahun 1991. Inti cerpennya sama, hanya saja yang versi 2017 lebih panjang sedikit dan lebih diperjelas. Perbedaan lain yang saya simak adalah penggantian penggunaan kata 'wanita' pada versi asli menjadi 'perempuan' pada versi 2017. Dari kedua versi tersebut, saya suka versi tahun 2017, karena terasa lebih detil saja.

Cerpen-cerpen setelahnya tidak kalah seru. Sangat mengena dan bisa jadi sebagai kritik halus dari SGA. 'Bayang-Bayang Elektra', 'Kriiiingngngng!!!', 'Guru Sufi Lewat', dan 'Segitiga Emas' adalah cerpen-cerpen favorit saya :D

Btw, baik sampul maupun ilustrasi pembuka di setiap judul cerpen menarik semua. Vintage!
Profile Image for Kerlip Bintang.
167 reviews32 followers
March 11, 2009
Dalam buku kumpulan cerpen ini, aku justru lebih menyukai cerpen "Bayang-bayang Elektra" dan "Kring", meskipun "Dilarang Mandi Di Kamar Mandi" juga bukan berarti saya gak suka.

Hanya, menurutku sih, karena gaya penulisannya yang sama, akhirnya udah agak terasa bosan ketika membaca cerpen yang kelima dan seterusnya.
Mungkin baiknya baca kumpulan cerpen kang seno gumira mah harus cek-clok.

Intinya Kang Seno teh pinter kalo harus mengetengahkan sebuah ide cerita yang sederhana sekali di mata orang lain, namun bisa mantulin sisi menarik yang gak kepikiran.
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
March 6, 2017
Duh, sempat terhenti krn saya tiba2 merasa sudah sampai di titik margin dlm membaca fiksi, lalu saya beralih baca Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain. Baru lanjut baca kumcer ini lagi kemarin. Selain Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, favorit saya adalah Kriiiingngngng! dan Segi Tiga Emas.
Profile Image for Fairynee.
82 reviews
July 7, 2012
Cerpen yang menarik adalah cerpen Segi Tiga Emas, karena menggabungkan antara unsur pewayangan dan peristiwa yang faktual. Sementara cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi sendiri sungguh mengecewakan. Judulnya sangat potensial tetapi isinya di luar ekpetasi saya.
Profile Image for Nonna.
137 reviews2 followers
June 24, 2010
bayang-bayang elektra..
Profile Image for Noep.
49 reviews28 followers
April 2, 2018
Saya berhasil menyelesaikan buku kumpulan cerita pendek ini dalam waktu kurang dari dua jam! Dan saya suka bagaimana cara SGA menyinyiri kehidupan masyarakat sehari- hari dengan sangat sederhana dan tidak bikin saya puyeng (seperti kumpulan cerpen Saksi Mata misalnya). Buku ini berisi 13 cerpen (edisi 2017) yang kesemua ceritanya sangat menarik, alegoris sekaligus nyinyir. Bagaimana pesan- pesan tentang hak- hak privat, kekuatan kolektif dan lain- lain tergambarkan dengan diksi- diksi yang ringan tetapi begitu imajinatif.

Dari sekian cerpen tersebut, tentu saya menyukai Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. Cerpen tersebut bercerita tentang Sophie, seorang pegawai kantoran yang indekos di rumah milik Ibu Saleha. Sophie dikenal memiliki kebiasaan yang pasti kapan masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual menyanyi dengan suaranya serak seksi. Namun, tak dinyana, kebiasaan tersebut menimbulkan keresahan ibu- ibu satu gang karena suami- suami mereka ternyata selalu menunggu di luar kamar mandi; mendengarkan suara Sophie bernyanyi sekaligus berimajinasi liar tentang berhubungan secara seksual dengan Sophie bahkan sampai orgasme. Keresahan itu membuat Pak RT harus pusing mengambil keputusan seperti apa yang dirasa menguntungkan satu gang dan tidak menimbulkan keresahan. Setelah membicarakan kepada Sophie, akhirnya Sophie mengalah untuk hengkang dari kampung agar suami- suami tidak lagi berimajinasi. Sekelumit cerita itu lucu sekaligus nyinyir mempersoalkan ruang privat yang diterobos oleh keresahan kolektif akibat imajinasi (yang siapa bisa kontrol?).

Banyak cerpen lain yang juga menarik saya, seperti Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh yang bercerita tentang kekuatan cinta seorang PSK kepada tukang obat yang tidak bakal mengawininya. Cintanya tersebut bahkan harus menolak seorang lulusan master Harvard yang kaya raya sekaligus mempertanyakan apakah perempuan itu bodoh atau mulia?

Saya suka sekali kumpulan cerpen ini :)
Good job, SGA!
Profile Image for Limya.
97 reviews6 followers
December 23, 2020
Akhirnya! Buku bintang lima lainnya yang saya tuntaskan pada tahun 2020, sebab entah mengapa susah sekali rasanya mencari buku bagus yang tidak overrated pada tahun ini. Awalnya minjem karena penasaran aja sama cerpen yang menjadi judul: Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, laku sekali diubah menjadi pementasan teater dan direkam menjadi film. Dan sempat unfinished selama berbulan-bulan karena malas melanjutkan, berpikir cerita ke depannya akan membosankan.

Ternyata, tidak sama sekali! Paling-paling yang cukup membosankan sampai bacanya agak di-skimming itu, "Lambada!" dan "Duduk di Depan Jendela" karena tidak terlalu mengerti dengan arah alurnya. Sisanya sungguh seru, apalagi cerpen "Kriiiingng!!!" dan "Segitiga Emas".

Setiap membaca cerpen Seno, saya selalu terkesima, berpikir, "Bagaimana bisa Seno selalu menciptakan dunia yang sebegitu ajaibnya?" Semua yang mustahil terasa mudah dalam cerpen-cerpen Seno. Tidak bisa dibilang fantasi, tetapi juga tentu tidak realis. Mungkin sureal, ya? Atau absurdis?

Tetapi intinya selalu kagum dengan penulisan Seno. Kadang, dunia-dunia yang baru itu tetap jadi refleksi pada dunia yang ada, pada kesempatan lain menjadi sebuah alternate universe. Seno menciptakan semua dengan ajaib dalam alur yang seru. Oiya, humor! Beberapa kali terkekeh ketika membaca halaman-halaman tertentu dalam buku ini karena lelucon yang digambarkan dalam cerpen-cerpen Seno selalu renyah seperti biasanya.

NB: Saempat bosan mengapa nama yang dipakai, "Sukab" lagi dan "Sukab" lagi, tetapi lama kelamaan menjadi tidak masalah karena mereka semua adalah orang yang berbeda.
Profile Image for Bindiya Indira (Ayni).
5 reviews1 follower
Read
March 13, 2022
Buku ini berisi kumcer. Cerita pendek berjumlah 14 yang dikemas dengan apik. Cukup ringan namun sarat makna. Tentu saja dengan ciri khas penulis.

Judul buku ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’ juga merupakan judul dari salah satu cerpen di dalamnya. Bercerita tentang seorag gadis pendatang di sebuah gang sempit. Dia dilarang menyanyi oleh ibu-ibu di sekitar kosan tempat tinggalnya. Mengapa demikian? Silakan baca bukunya :-)

Fenomena dan kritik yang mengatasnamakan mayoritas terlampau sering dianggap lumrah. Asal hal tersebut diakui masyarakat maka akan dibenarkan. Realitas miris yang menjadikan nasib seringkali ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal. Yah, tema-tema yang diangkat Seno tidak terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Meski kadang kala absurd, namun selalu ada maksud tersembunyi di dalamnya.

Cerpen ini disajikan dengan rasa yang tak asing. Tidak perlu waktu lama untuk menuntaskannya. Cocok dibaca saat luang ataupun dalam perjalanan seperti bus dan kereta. Kau akan memahami cara SGA menyentil kehidupan sosial dengan sangat halus.
Profile Image for Nurhanifah Tampubolon.
30 reviews
June 12, 2020
Khasnya SGA "menyanyi" selalu menyentil kehidupan sosial
Cerpen yang dijadikan judul buku ini benar-benar menggambarkan kehidupan kita, bagaimana mayoritas sebagai penentu benar salah atas hidup manusia
Sintingnya, cerita tersebut benar adanya, orang berimajinasi kok dilarang-larang

cerita kedua yang paling menarik dan buat saya jengah adalah cerpen dengan judul "kriiiingggg"
Sungguh sangat sulit meluangkan sedikit waktu untuk orang lain, yang padahal berdampak pada kesehariannya, apalagi hal tersebut untuk perkara keadilan, lebih banyak orang untuk bungkam atau apatis. Sungguh apatis adalah penyakit yang perlu dibasmi hingga ke akar-akar. Tapi perlu ditelusuri juga kenapa bisa orang-orang menjadi sangat apatis. Tentu ada sebab musababnya.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,089 reviews17 followers
February 4, 2020
Membaca kumpulan cerita dari SGA ini membuat saya merenungi tentang keadaan sosial yang terjadi di sekitar. Dua favorit saya berjudul 'Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi' yang bercerita tentang pelarangan yang dilakukan oleh kebanyakan orang, padahal larangan tersebut bersifat subjektif dan hal yang dilakukan tidak melanggar hukum; kedua berjudul 'Kriiiingng' yang bercerita tentang suara telepon yang tak dijawab oleh para pegawai di kantor karena mereka merasa panggilan telepon tersebut bukanlah untuknya. Betapa ketidakpedulian dan individualisme ditunjukkan di cerita ini karena mereka hanya meladeni hal-hal yang hanya berkaitan tentang dirinya sendiri.
Profile Image for Li.
102 reviews1 follower
June 11, 2020
Baca cerpen-cerpennya sih ngga sampai satu hari juga selesai, tapi memikirkan makna dari masing-masing cerpennya bisa berhari-hari atau mungkin entah sampai kapan. Selalu suka cerpen Pak SGA, cerdas, cerdik, mengalir, tapi di saat yang bersamaan memacu otak. Kadang ceritanya absurd, tapi selalu ada maksud tersembunyi di dalamnya, dan itu yang bikin cerpen-cerpen Pak SGA selalu menarik buat saya pikirkan di waktu senggang. Saya beri 4 bintang, soalnya masih pusing memahami berberapa cerpennya.

Favorit :
1. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
2. Bayang-Bayang Elektra
3. Kriiingngngng!!
4. Segitiga Emas
Profile Image for Farhad.
2 reviews
May 11, 2025
Awalnya kelihatan konyol—masa nyanyi di kamar mandi dilarang? Tapi semakin gua baca, semakin gua merasa kalau ini bukan sekadar bernyanyi. Ini soal suara. Soal hal-hal kecil yang pelan-pelan dibungkam sampai kita ngerasa wajar untuk nggak bersuara. Soal dilucutinya hak untuk bersuara. The story doesn’t shout in anger, nor does it cry in sorrow—it just gives a subtle smile, as if to say, “This is how freedom is buried with politeness.” And after reading, you’ll find yourself asking: berapa banyak hal yang kamu hentikan, bukan karena kamu salah, tapi karena kamu telah lama diajari untuk diam, seakan diam adalah bentuk kepatuhan paling sempurna?
Profile Image for Muhammad Irhan.
8 reviews
January 23, 2018
buku ke 4 di tahun ini :D
semua cerpennya menarik, daya khayal kang seno itu luar biasa, malah dibeberapa cerpen kita dibawa berimajinasi jauuuuuuh tak terhingga :D
saya suka "bayang-bayang elektra" yang melawan hukum alam pergi meninggalkannya, atau "kriiingngng!!!!" suara telepon yang tidak diangkat selama 200 tahun, "guru sufi lewat" ingin bertemu gus dur untuk menanyakan bolehkah orang amerika menggati kata assalamualaikum dengan good morning, dan "segitiga Emas" haha wayangnya malah melawan kehendak dalang :D
pokoknya semuanya keren.
Profile Image for Nike Andaru.
1,638 reviews111 followers
August 25, 2019
166 - 2019

Kalo diliat dari data Goodreads, ini buku kedua Seno Gumira Ajidarma yang saya baca, tapi rasanya saya sudah pernah membaca cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi ini sebelumnya, entah edisi lain atau mungkin di mana gitu.

Saya suka dengan tulisan SGA, kumpulan cerpen ini pun rasanya enak banget dibaca dan dihabiskan, tak perlu waktu lama. Sindiran sosialnya pun mudah dipahami tapi tetap dengan gaya tulisannya yang menarik.

Favorit saya :
- Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
- Kriiing
- Segitiga Emas
Profile Image for Abu Ikbal.
3 reviews
November 18, 2018
Dilarang menyanyi di kamar mandi berisi kumpulan cerpen-cerpen bercerita tentang kejadian yang sering terjadi di lingkungan kita. Cerita dikemas dengan begitu apik, sehingga membuat saya tidak bosan untuk membacanya. Dalam cerpen-cerpenya Kang Seno banyak "menyetil" masyarakat Indonesia, salah satu cerpen nya "Kriiiing" mewujudkan sentilan terhadap pemerintah Indonesia yang suka mengabaikan hak-hak orang kecil, maka tidak heran pula buku ini sempat dicekal pada zaman orde baru
Profile Image for Mutia Senja.
75 reviews9 followers
March 15, 2022
kritik sosial yang unik! kumcer seno tahun 90-an ini memutar kembali memori perihal kondisi di era tersebut. 'kesulitan gerak' sebagai seniman (penulis) untuk berekspresi sangat terasa di cerpennya yang pertama—sekaligus sebagai judul buku ini. menurut saya, "kriiiingngngng!" adalah ter-satire dibandingkan 12 cerpennya yang lain. sedangkan "duduk di depan jendela" punya aura sendunya sendiri. begitulah.
Profile Image for Rika Anastasya.
18 reviews1 follower
July 23, 2019
Ini buku kedua SGA yang kubaca setelah Drupadi. Buku ini adalah kumcer beberapa cerpen SGA, lumayan semua karena bahasa yang digunakan oleh SGA sederhana, ga mengawang-awang jadi pembaca bisa menebak, dalam keadaan seperti apa dan kritik sosial terhadap fenomena apa masing-masing cerpen tersebut ditulis.
Profile Image for Nura.
1,056 reviews30 followers
September 3, 2019
Indonesia adalah negeri tempat mayoritas punya kuasa. Memiliki musuh bersama tentu lebih mudah dalam hidup komunal. Tak ada tempat bagi Sophie, yang suaranya menimbulkan fantasi erotis pria sekampung. Semodern apa pun, selalu ada suara-suara nyinyir di gang-gang kecil kampung. Pilihannya: jadi apatis atau tergerus dan membiarkan mereka menang.
Profile Image for if.
64 reviews
July 2, 2021
Di antara semua cerpen yang ada di buku ini yang palimg favorit adalah cerpen berjudul "Kringngng" (maaf kalo penulisannya salah, saya nggak ingat ada berapa 'ng'). Cerpen ini yang bikin greget dan ngena sama kehidupan bernegara saat ini.

Cerpen-cerpen lainnya jujur bikin saya pusing karena nggak tau maksudnya gimana, pemahaman saya belum sampai, hiks.
14 reviews
August 22, 2025
Berlalu sudah kata-kata yang menjadi pop pada buku ini. Karya Seno menunjukkan adanya peralihan penggunaan bahasa dalam pembabakan sastra. Walau begitu, kita tetap bisa melihat indahnya. Makna penghidupan disembunyikan dalam cerita absurd. Di antara semua judul, pembaca ini menjadikan "Bayang-bayang Elektra" sebagai cerita yang paling menghibur.
Profile Image for Panca Erlangga.
116 reviews1 follower
November 15, 2017
Sangat senang ketika saya menemukan buku ini di Perpusnas. "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" adalah buku pertama karya SGA yang saya baca, dan, ini buku yang sangat menarik.
Dari keseluruhan, menurut saya, cerita yang menjadi judul buku inilah yang terbaik!
9 reviews
February 9, 2018
Kumpulan cerpen yang sangat menarik untul dibaca. "Dilarang menyanyi di kamar mandi" menyuguhkan kisah-kisah kehidupan sosial masyarakat yang dikemas dengan suatu kemustahilan dan khayalan. Menarik, karena secara mendalam, menyentil realita keganjilan kehidupan sosial manusia dari masa ke masa
Displaying 1 - 30 of 78 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.