Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cerpen Pilihan KOMPAS #1

Dua Kelamin bagi Midin: Cerpen KOMPAS Pilihan 1970-1980

Rate this book
Sebanyak 53 cerpen yang terbit di Kompas dalam rentang waktu 1970-1980 terhimpun dalam antologi ini. Dengan menggunakan pendekatan spectrum oriented, lewat ke-53 cerpen yang terpilih dalam antologi ini, Seno Gumira Ajidarma selaku editornya ingin menjawab pertanyaan: bagaimana cerpen-cerpen ini menggambarkan perbincangan budaya yang berlaku di masa itu, dengan membuka kemungkinan untuk melibatkannya dalam perbincangan sepanjang masa. Di sini, ia bukan lagi hanya sebagai cerpen dalam kanon sastra, yang sibuk dengan teknikalitas dan virtuoisitasnya, melainkan dalam konteksnya dengan pertarungan ideologi dekade 1970-1980. Oleh karenanya kehadiran antologi ini tidak saja penting dibaca guna memperluas pengetahuan kita tentang khazanah sastra Indonesia, tetapi juga berguna sebagai bahan kajian bagi kalangan akademisi.

400 pages, Paperback

First published June 1, 2003

24 people are currently reading
425 people want to read

About the author

Seno Gumira Ajidarma

98 books838 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
30 (18%)
4 stars
66 (41%)
3 stars
52 (32%)
2 stars
9 (5%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
April 19, 2014
Ada sebuah pertanyaan ketika membaca ulang “Dua Kelamin Untuk Midin: Cerpen KOMPAS Pilihan 1970-1980” dimana Seno Gumira Ajidarma menjadi editornya. Pertanyaan saya adalah bagaimana seorang Seno Gumira Ajidarma melakukan tugas editorialnya. Saya penasaran bagaimana cara SGA untuk menentukan cerpen mana saja yang layak masuk kumpulan terbaik periode 1970-1980. Pada rentang waktu tersebut sudah tentu banyak sekali cerpen yang dimuat oleh KOMPAS. Namun, bagaimana SGA mampu menentukan hanya 50 cerpen terbaik saja yang masuk kumpulan ini tentu dibutuhkan satu siasat tertentu.

SGA sendiri mengajukan sebuah pertanyaan agar cerpen pilihannya tidak didasari spektrum estetik dengan formasi diskursif yang terbatas. Bagaimana cerpen-cerpen ini menggambarkan perbincangan budaya yang berlaku di masa itu, dengan membuka kemungkinan untuk melibatkannya dalam perbincangan sepanjang masa, adalah satu pertanyaan SGA yang kemudian ia gunakan dalam tugasnya sebagai editor. SGA menggunakan pendekatan spectrum oriented dalam memilih karya penulis yang sudah dikenalnya. Untuk urusan ini, ia sengaja mengesampingkan terlebih dahulu cerpen-cerpen yang ditulis atas namanya.

SGA menganggap antologi cerpen adalah juga sebentuk kritik. Memilih dan tidak memilih sudah merupakan kerja kritik, artinya sebuah antologi memperlihatkan juga formasi diskursif tertentu. SGA cenderung memberi keseimbangan antara yang mainstream dan sidestream, antara yang stereotip dan yang kreatif, antara yang “umum” dan yang “ajaib”, antara yang teknik menulisnya “masih jujur” dan yang “sudah bisa ngibul”.

Terlepas dari segenap pro dan kontra yang timbul atas penerbitan buku ini, baik menyangkut pendekatan maupun karya-karya yang terpilih, penerbitan kembali cerpen-cerpen ini tetap bertujuan untuk meramaikan khazanah sastra Indonesia. Karya-karya yang mungkin sudah terlupakan, atau nama-nama pengarang yang belum pernah dikenal oleh khalayak penikmat sastra Indonesia masa kini, rasanya masih pantas untuk diketengahkan disini.

Sebagai catatan personal, saya tambahkan disini bahwa SGA turut memasukkan cerpen berjudul “Perasaan Yang Sangat Ajaib Kosongnya” dari Muhammad Diponegoro. Bila pembaca catatan ini adalah Pembaca SGA, saya yakin tuan dan puan masih ingat kalimat yang disitir SGA dari cerpen tertanggal 3 Februari 1976 itu. SGA menuliskan kembali judul cerpen itu sebagai kalimat akhir dari cerpennya yang berjudul “ Seorang Wanita Dengan Tato Kupu-Kupu di Dadanya” dalam kumpulan cerpen “Negeri Kabut” (Grasindo, 2003).

Dalam kesempatan lain, pada sebuah talkshow dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival di TIM, bulan Maret lalu, secara personal saya pun menyampaikan kesan atas pembacaan saya terhadap cerpen tulisan Arswendo Atmowiloto yang juga jadi judul buku ini “Dua Kelamin Untuk Midin”.

Pharmindo, 19 April 2014.
Profile Image for Wicak Hidayat.
Author 6 books9 followers
July 20, 2007
The amazing thing about reading this collection is finding many famous names such as Marga T. (if i remember correctly) and Arswendo. Some stories felt a little 'slow' though.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
October 31, 2013
Klasik, epik dan mengenal nama-nama sastrawan yang dahulu meramaikan dunia sastra koran KOMPAS.
Profile Image for Denmas.
6 reviews
January 23, 2011
Entah karena sudah lama nggak baca cerpen2 'kompas' atau memang isinya bener-bener bagus, cerpen-cerpen di dalam buku ini benar2 hipnotic. Banyak cerita-cerita dengan setting masa lalu, yang, mungkin, tidak masuk akal dalam nalar kita. Misalnya, pas cerita tentang kemiskinan, ceritanya benar-benar semiskin-miskinnya, sampai bayi yang sakit pun dijadikan komoditas untuk mengemis.
Profile Image for gonk bukan pahlawan berwajah tampan.
58 reviews43 followers
October 1, 2007
nah ni dia nech,buat yg pengen cerpen pilihan kompas lintas generasi-gak juga ding soale yg nulis juga banyak yg sliweran-
dijamin bakalan nemuin something new dech...sampai terkadang beberapa temen cm naruh ini buku di something (baca:samping) tempat tidurnya.....
kompas bnget dech....il saluto
Profile Image for Wiji Suprayogi.
28 reviews1 follower
February 27, 2011
Saya jadi paham kalau kata memang bisa mewakili jaman dan karya sastra atau tulisan apapun itu amat terkait dengan jamannya
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.