Jump to ratings and reviews

Modjokuto #1

The Religion of Java

Written with a rare combination of analysis and speculation, this comprehensive study of Javanese religion is one of the few books on the religion of a non-Western people which emphasizes variation and conflict in belief as well as similarity and harmony. The reader becomes aware of the intricacy and depth of Javanese spiritual life and the problems of political and social integration reflected in the religion.

The Religion of Java will interest specialists in Southeast Asia, anthropologists and sociologists concerned with the social analysis of religious belief and ideology, students of comparative religion, and civil servants dealing with governmental policy toward Indonesia and Southeast Asia.

412 pages, Paperback

First published January 1, 1960

Loading...
Loading...

About the author

Clifford Geertz

88 books252 followers
Clifford James Geertz was an American anthropologist and served until his death as professor emeritus at the Institute for Advanced Study, Princeton, New Jersey.

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
117 (39%)
4 stars
113 (37%)
3 stars
54 (18%)
2 stars
9 (3%)
1 star
5 (1%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
137 reviews90 followers
July 17, 2014
MOJOKUTO

CERITA kali ini dari catatan harian seseorang di suatu kota kecil di Jawa. Siapa saja, katanya, akan mudah mengenal tipikal kota kecil itu: “pohon beringin, dengan patung Hindu di bawah naungannya, tumbuh di tengah alun-alun; sekelompok kantor pemerintahan di sekitar rumah wedana dengan pendapa dan halamannya yang luas; sederetan gudang-gudang dan toko-toko Cina yang terbuka bagian depannya dan berkain tenda; pasar terbuka yang luas dengan bangsal-bangsal seng yang karatan dan kedai-kedai kayu..”.

Lebih dari 50 tahun yang lalu catatan harian itu dianalisis, dan dibukukan. Mungkin kita bisa menyebut catatan ini sebagai catatan tentang konflik, antara santri, abangan, dan priyayi—di dalamnya ada percekcokan, ketegangan, pertentangan dalam suatu kehidupan sosial.

Abangan: “kalau kita tidak punya apa pun buat makan, kalau kita mencuri dan melakukan kejahatan, kalau kita terganggu perasaan, maka kita ada dalam neraka saat ini…kaum santri memeluk agama Arab tapi kami tidak setuju dengan itu. Yang penting bukanlah mengaji dan sebangsanya, tetapi berlaku baik, tidak mencuri, dan sebagainya…”

Priyayi: “mereka pergi bersembahyang di Tanah Suci, lalu pulang lagi ke sini, dan sangat dihormati. Tetapi nyatanya mereka tidak melakukan sesuatu yang pantas dihormati, karena tempat suci yang sebenarnya adalah di dalam batin. Saya naik haji ke situ. Tak ada perlunya kita naik haji ke kota Mekah kalau kita bisa menemani Tuhan di dalam batin sendiri.”

Dalam The Religion of Java itu, permusuhan abangan dan priyayi yang keras ditujukan ke arah “moralisme santri lebih-suci-daripadamu”. Tapi kaum santri pun tak kalah keras: mereka menuduh kaum abangan sebagai “penyembah berhala” dan priyayi yang takabur dengan “tak bisa membedakan dirinya dengan Tuhan”.

Antagonisme seperti itu, seperti telah di-introduksi sang penulis dengan mengutip Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies (The Hague and Bandung, 1955), telah ada sejak masa pertikaian antara kerajaan Mataram di Jawa Tengah dan kerajaan-kerajaan pantai utara, paling tidak sejak abad keenam belas dan ketujuh belas. Priyayi dan santri tak sepakat dalam banyak hal dan petani memendam benci terhadap aristokrat yang eksploitatif serta kaum pedagang santri.

Seseorang itu, Clifford Geertz, yang meneliti ‘Mojokuto’—sebagai nama samara kota Pare di Jawa Timur—toh menemukan hal-hal yang mampu meredakan konflik. Keseluruhan cerita dalam bukunya tak hanya tentang “kekuatan yang memecah” yang bisa menjadikan perang “semua melawan semua”. Di antara yang meredakan konflik adalah suatu rasa satu budaya—baik dalam kosakata agama tradisional atau nasionalisme modern—, toleransi yang berdasar “relativisme kontekstual”, pertumbuhan mekanisme sosial bagi bentuk integrasi sosial nonsinkretik yang pluralistic, serta tipe campuran sebagai mediator.

Mengenai campuran ini Dr. Geertz melihat: “seorang santri yang berkedudukan tinggi seringkali lebih mirip dengan seorang priyayi daripada seorang santri yang rendah kedudukannya. Seorang abangan yang, kalau kiita baurkan kemungkinan, berhasil di bidang usaha, sangat mungkin memandang segala sesuatu menurut cara santri sampai suatu tingkat tertentu, meskipun mereka tidak sembahyang. Dan bagi seorang santri, sebagaimana halnya semua orang Jawa, tetangga adalah tetangga, walaupun ia membakar kemenyan untuk para dewa”.

Pada akhirnya istilah-istilah santri, abangan, priyayi, ‘bukan kategori-kategori absolut’, meskipun Dr. Geertz sendiri memberi kesan kategori-kategori yang tegas dalam memberi judul tiap-tiap istilah tersebut dan membahasnya secara keseluruhan dalam konflik maupun integrasinya.

Hal lain adalah bahwa tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori-kategori dari satu tipe klasifikasi: antara abangan dan santri lebih kepada perilaku keagamaan, dan priyayi adalah suatu kelas sosial tertentu—seorang priyayi, maka dari itu, adalah seorang santri bila taat agama, dan abangan bila sebaliknya.

Tentu masa kini telah berbeda dengan 50 tahun yang lalu. Kini seorang anak petani, yang lekat dengan abangan ala Geertz, yang pintar, dapat saja kemudian menjadi seorang pejabat tinggi BUMN atau menteri, seorang priyayi, bahkan santri yang taat agama sekaligus. Kita membaca tetralogi Laskar Pelangi dan takjub bahwa seorang anak pendulang timah miskin yang tak bisa aksara mampu menamatkan studi sampai ke Paris. “Variasi kebudayaan” berkembang dan berganti dengan cepat.

Masa depan makin tak bisa ditebak. Tapi dari yang “tak bisa ditebak” itu orang-orang juga percaya bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi secara kebetulan. Dan hidup dan nasib, kata seorang ilmuwan, kadang tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis. Yeah.
Profile Image for Δάσκαλος.
146 reviews
February 12, 2021
Buku ini menarik, tetapi bahasanya cukup sulit dicerna. Selain memaparkan apa yang ditemui oleh penulis di Modjokuto, buku ini juga dilengkapi dengan dua esei kritik yang dilampirkan di bagian belakang buku.

Beberapa pembahasan yang saya anggap menarik selama membaca buku ini meliputi: danyang (hlm. 23) yang juga membahas tentang pulung (hlm. 24), jenis slametan kelahiran (hlm 42), tiga jenis nama anak (hlm. 55), larangan berhutang untuk menggelar slametan (hlm. 83), Satu Sura sebagai hari raya Buddha daripada Islam (hlm. 103), jenis-jenis dukun (hlm. 117), jenis-jenis sihir (hlm. 149), sihir biasanya dipraktikkan pada orang dekat (hlm. 153), konflik NU dan Muhammadiyah (hlm. 239), NU mendistribusikan daging kurban untuk pertama kalinya pada 1954 (hlm. 253), mistik Islam empat tahap (hlm. 263), konsep "rasa" (hlm. 343), orang yang tercerahkan rohaninya menjaga keseimbangan psikologisnya dan stabilitas ketenangannya (hlm. 345), andap-asor untuk persaingan menjadi yang paling rendah (hlm. 351), etiket berbahasa (hlm. 358), tingkat bahasa tinggi memunculkan kesan kemegahan kenegaraan (hlm. 363), melek huruf dikaitkan dengan bahasa Indonesia saja (hlm. 372), sléndro untuk wayang Mahabarata dan Ramayana dan pélog untuk kisah kerajaan Hindu Jawa (hlm. 402), tembang (hlm. 403), jogèd vs dangsah (hlm. 407), Yogyakarta vs Solo (hlm. 408), tidak ditekankannya lagi seni Jawa pada mata pelajaran menandai berakhirnya masa "sekolah pribumi" (hlm. 413), seni alus semakin menjadi milik kaum ningrat dengan menguatnya hiburan Barat (hlm. 415), ludruk dianggap banyak merusak rumah tangga (hlm. 426), amuk sebagai penyakit jiwa karena agama (hlm. 463), Sunan Kalijaga sebagai tokoh mitologis (hlm. 469), penyempurnaan emosi pribadi adalah sebuah usaha sosial (hlm. 482), Kejawen atau Jawaisme (hlm. 508), persoalan keagamaan menjadi persoalan politis (hlm. 523), aboge (hlm. 548), pluralisme peranan agama (hlm. 579), Sosrokartono adalah saudara Kartini yang merupakan dukun terkenal di Bandung (hlm. 600). Sebetulnya banyak pembahasan yang lain, tetapi kurang atau tidak menarik bagi saya.

Kutipan yang saya anggap menarik.
Pulau [Jawa] itu lebih lama mengalami peradaban daripada Inggris yang selama lebih dari 1500 tahun telah menyaksikan orang-orang India, Arab, Cina, Portugis serta Belanda, datang dan pergi.
(hlm. xxxiii)

Buku bacaan yang mungkin menarik.
* Seno-Sastroamidjojo, R.A. 1948. Tentang Obat Asli Indonesia. Jakarta.
Profile Image for anis Ahmad.
47 reviews13 followers
January 22, 2008
santri, abangan, dan priyati, adalah tipologi yang dikenalkanoleh geertz tentang bagaimana perkembangan masyarakat islam di jawa. konsepnnya ini bukan lah satu stratifikasi, melainkan diferensiasi, artinya bahwa itu merupakan satu hal yang bukan dilakukan untuk memasukkan manusia ke dalam klas dan memiliki status yang vertikal, melainkan lebih cenderung ke arah horisontal. akan teapi perlu dipahami bahwa tipologi tersebut tidaklah bersifat ajeg kepada satu orang, buktinya ada semacam pergeseran pandangan dan mind-set tentang sebagian ornag, ketika ia muda menjadi abangan atau priyayai,teetapiketika tua menjadi santri. tapi yang jelas buku ini sungguh menambah khazanah pemikiran saya sebagai pendidik dan pegnamat masalah sosial dan budaya
thanks geerz
Profile Image for rekasakti.
25 reviews10 followers
December 11, 2018
Penelitian Geertz dimulai sekitar tahun 1950. Lalu, diterbitkan menjadi buku pada tahun 1985. Konon, karya ini menjadi populer pada waktu itu. Buku yang tebalnya bisa menggantikan bantal ini memang memberi kontribusi yang perlu. Namun, lebih perlu lagi dilakukan penelitian yang serupa pada zaman ini. Orang-orang berubah, demikian budaya.
Profile Image for Nanas Firmansyah.
74 reviews11 followers
March 20, 2020
Selama dua semester, buku ini menjadi bacaan acuan yg disarankan. Terutama mata kuliah pengantar antropologi. Merasa sudah mabuk, namun puja puji dosen saya tetap tertuju pada buku ini. Menurut saya pribadi dalam sudut pandang antropologi, buku ini memang membantu.
101 reviews2 followers
July 4, 2020
Buku yang menurut saya menggambarkan realitas masyarakat jawa pada umumnya. Walapun dalam penelitiaanya Geertz memiliki keterbatasan dalam metodologi, proses maupun hasilnya namun review dari Prof. Harsja Bachtiar telah melengkapinya melalui kritik dengan baik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Repa Kustipia.
27 reviews1 follower
April 2, 2022
Buku etnografi kritis yang mudah diikuti alurnya, santri, abangan, dan priyayi yang tercipta sebutannya memberikan pengaruh besar bagi status sosial masyarakat jawa.
Karakteristik dari setiap golongannya sangat detil dijelaskan berikut kejadiannya.
Profile Image for Lutfi Retno.
Author 2 books13 followers
July 22, 2007
aku suka cara dia nulis. tapi aku engga setuju sama caranya menginterpretasikan orang jawa. seenaknya aja ngebagi-bagi orang jawa dalam tiga golongan. trus, kayaknya aneh aja kalo dia neliti tentang priyayi di pare.
Profile Image for Musrifah Arfiati.
86 reviews16 followers
April 24, 2017
Buku yang saya baca adalah versi terjemahan, di mana judulnya juga sedikit agak berbeda yaitu; Abangan, Santri, Priyayi, dalam Masyarakat Jawa. Buku terjemahan ini terbitan tahun 1980-an, tapi untung saja susunan gramatika bahasa Indonesianya masih mirip-mirip dengan bahasa Indonesia masa kini. Halah.

Buku ini adalah hasil penelitian program doktoral Dr. Clifford Geertz yang mengambil tempat di sebuah kota kecil dengan nama samaran Mojokuto. Di Mojokuto inilah, Dr. Clifford Geertz mengklaim bahwa terdapat tiga bentuk 'agama' yang dianut oleh orang Jawa yaitu, abangan, santri, dan priyayi.

Namun, terminologi 'bentuk agama' yang dipakai Dr. Geertz ini agak kurang tepat, menurut saya. Saya menganggap bahwa abangan, santri, dan priyayi adalah bentuk kebudayaan dari masyarakat Jawa sendiri. Lebih tepatnya mungkin, jenis kelompok kultural. Saya lebih meyakini bahwa abangan, santri, dan priyayi adalah tiga kelompok kultural yang membagi masyarakat Jawa.

Ketiga kelompok kultural yang dijabarkan Dr. Geertz, menurut saya sebagai orang Jawa, hampir mendekati dengan cara pandang orang Jawa. Namun, tentu saja hasil laporan Dr. Geertz ini juga masih memiliki kekurangan di sana-sini. Ada hal-hal yang dikemukakan oleh Dr. Geertz keliru dan tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Saya mafhum, karena mungkin saja dalam pemilihan informan sebagai narasumber kurang representatif. Bisa saja, narasumber tersebut memberikan informasi yang cenderung subjektif sehingga bisa ditafsirkan lain oleh Dr. Geertz sendiri.

Secara umum, saya senang dengan deskripsi detail mengenai variasi kultural dari masing-masing kelompok tersebut. Saya jadi lebih memahami apa yang sebelumnya saya tidak pernah ketahui. Misalnya, kandungan nilai filosofi yang tinggi dalam bentuk-bentuk kesenian 'alus' Jawa seperti; wayang, gamelan, tembang, dan batik. Ada pula penjelasan mengenai aliran kejawen yang muatan filsafat Jawa-nya kental sekali. Ketika saya mendapat mata kuliah Psikologi Budaya Jawa saat kuliah dulu, saya pernah membaca mengenai teori psikologi dari seorang filsuf Jawa, Ki Ageng Suryomentaram. Beliau pulalah yang mencetuskan aliran mistik Kawruh Beja yang kelompoknya banyak tersebar di Pulau Jawa.

Satu lagi, di buku versi terjemahan yang saya baca juga terdapat lampiran komentar dari Harsja W. Bachtiar mengenai buku The Religion of Java ini. Saya hampir setuju dengan komentar beliau. Saya menyetujui komentar beliau yang menyatakan bahwa, jika dilihat dari sistem kepercayaan, masyarakat Jawa hanya ada dua jenis yaitu santri dan abangan. Santri adalah orang yang taat dalam menjalankan agama sesuai kitab suci, sedangkan abangan adalah kebalikannya. Sedangkan priyayi, bisa saja disebut priyayi-santri jika ia adalah seorang yang taat agama dan mau menjalankan perintah agama dengan baik, dan bisa saja menjadi priyayi-abangan jika kurang peduli masalah kehidupan beragama.
Profile Image for Hakam N.
29 reviews1 follower
October 26, 2017
Terlepas dari segala kritiknya, aku suka buku ini
Displaying 1 - 11 of 11 reviews