MOJOKUTO
CERITA kali ini dari catatan harian seseorang di suatu kota kecil di Jawa. Siapa saja, katanya, akan mudah mengenal tipikal kota kecil itu: “pohon beringin, dengan patung Hindu di bawah naungannya, tumbuh di tengah alun-alun; sekelompok kantor pemerintahan di sekitar rumah wedana dengan pendapa dan halamannya yang luas; sederetan gudang-gudang dan toko-toko Cina yang terbuka bagian depannya dan berkain tenda; pasar terbuka yang luas dengan bangsal-bangsal seng yang karatan dan kedai-kedai kayu..”.
Lebih dari 50 tahun yang lalu catatan harian itu dianalisis, dan dibukukan. Mungkin kita bisa menyebut catatan ini sebagai catatan tentang konflik, antara santri, abangan, dan priyayi—di dalamnya ada percekcokan, ketegangan, pertentangan dalam suatu kehidupan sosial.
Abangan: “kalau kita tidak punya apa pun buat makan, kalau kita mencuri dan melakukan kejahatan, kalau kita terganggu perasaan, maka kita ada dalam neraka saat ini…kaum santri memeluk agama Arab tapi kami tidak setuju dengan itu. Yang penting bukanlah mengaji dan sebangsanya, tetapi berlaku baik, tidak mencuri, dan sebagainya…”
Priyayi: “mereka pergi bersembahyang di Tanah Suci, lalu pulang lagi ke sini, dan sangat dihormati. Tetapi nyatanya mereka tidak melakukan sesuatu yang pantas dihormati, karena tempat suci yang sebenarnya adalah di dalam batin. Saya naik haji ke situ. Tak ada perlunya kita naik haji ke kota Mekah kalau kita bisa menemani Tuhan di dalam batin sendiri.”
Dalam The Religion of Java itu, permusuhan abangan dan priyayi yang keras ditujukan ke arah “moralisme santri lebih-suci-daripadamu”. Tapi kaum santri pun tak kalah keras: mereka menuduh kaum abangan sebagai “penyembah berhala” dan priyayi yang takabur dengan “tak bisa membedakan dirinya dengan Tuhan”.
Antagonisme seperti itu, seperti telah di-introduksi sang penulis dengan mengutip Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies (The Hague and Bandung, 1955), telah ada sejak masa pertikaian antara kerajaan Mataram di Jawa Tengah dan kerajaan-kerajaan pantai utara, paling tidak sejak abad keenam belas dan ketujuh belas. Priyayi dan santri tak sepakat dalam banyak hal dan petani memendam benci terhadap aristokrat yang eksploitatif serta kaum pedagang santri.
Seseorang itu, Clifford Geertz, yang meneliti ‘Mojokuto’—sebagai nama samara kota Pare di Jawa Timur—toh menemukan hal-hal yang mampu meredakan konflik. Keseluruhan cerita dalam bukunya tak hanya tentang “kekuatan yang memecah” yang bisa menjadikan perang “semua melawan semua”. Di antara yang meredakan konflik adalah suatu rasa satu budaya—baik dalam kosakata agama tradisional atau nasionalisme modern—, toleransi yang berdasar “relativisme kontekstual”, pertumbuhan mekanisme sosial bagi bentuk integrasi sosial nonsinkretik yang pluralistic, serta tipe campuran sebagai mediator.
Mengenai campuran ini Dr. Geertz melihat: “seorang santri yang berkedudukan tinggi seringkali lebih mirip dengan seorang priyayi daripada seorang santri yang rendah kedudukannya. Seorang abangan yang, kalau kiita baurkan kemungkinan, berhasil di bidang usaha, sangat mungkin memandang segala sesuatu menurut cara santri sampai suatu tingkat tertentu, meskipun mereka tidak sembahyang. Dan bagi seorang santri, sebagaimana halnya semua orang Jawa, tetangga adalah tetangga, walaupun ia membakar kemenyan untuk para dewa”.
Pada akhirnya istilah-istilah santri, abangan, priyayi, ‘bukan kategori-kategori absolut’, meskipun Dr. Geertz sendiri memberi kesan kategori-kategori yang tegas dalam memberi judul tiap-tiap istilah tersebut dan membahasnya secara keseluruhan dalam konflik maupun integrasinya.
Hal lain adalah bahwa tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori-kategori dari satu tipe klasifikasi: antara abangan dan santri lebih kepada perilaku keagamaan, dan priyayi adalah suatu kelas sosial tertentu—seorang priyayi, maka dari itu, adalah seorang santri bila taat agama, dan abangan bila sebaliknya.
Tentu masa kini telah berbeda dengan 50 tahun yang lalu. Kini seorang anak petani, yang lekat dengan abangan ala Geertz, yang pintar, dapat saja kemudian menjadi seorang pejabat tinggi BUMN atau menteri, seorang priyayi, bahkan santri yang taat agama sekaligus. Kita membaca tetralogi Laskar Pelangi dan takjub bahwa seorang anak pendulang timah miskin yang tak bisa aksara mampu menamatkan studi sampai ke Paris. “Variasi kebudayaan” berkembang dan berganti dengan cepat.
Masa depan makin tak bisa ditebak. Tapi dari yang “tak bisa ditebak” itu orang-orang juga percaya bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi secara kebetulan. Dan hidup dan nasib, kata seorang ilmuwan, kadang tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis. Yeah.