“Mencintai adalah pekerjaan abadi yang tak pernah selesai, dan cinta adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Cintalah yang mesti kamu rawat, Anakku, bukan dendam.”
Rewa terlahir dari keluarga kaya. Ayahnya, Daeng Sambang, pengusaha sukses berwatak keras. Ibunya, Naura Shabrina, perempuan jelita keturunan Makassar-Pakistan yang lembut lagi penurut. Bencana bermula ketika ibunya jatuh dari tangga dan sejak itu tak kuasa melayani berahi suaminya. Sepanjang waktu ayahnya membawa gadis-gadis muda ke rumah dan mencumbunya di mana saja. Anehnya, semua nama gadis itu berinisial “N”: Nia, Nadya, Nindya, Nayla, Nisrina, Nadira. Rewa menyaksikan pengkhianatan dan kesetiaan berjalan beriringan, hingga akhirnya ibunya meninggal dunia. Dari sanalah dendam kepada sang ayah bermula.
Tetapi pada suatu hari, ketika Rewa melihat tubuh molek “ibu” barunya tergolek di ranjang, dia seakan dirasuki roh ayahnya. Gairahnya bangkit seketika. Secara instingtif dia langsung menggaulinya, lalu menjadi kecanduan sesudahnya. Hampir semua “ibunya” pernah dia kawini. Rewa terjebak dalam permainan berbahaya. Dia tersekap di antara nafsu titisan ayahnya dan cinta kasih ibunya yang penuh kesabaran dan permaafan.
Inilah sebuah buku yang membabar makna dan hakikat cinta, kesetiaan, kerinduan, kebencian, juga angkara murka. Sebuah senarai kisah yang digali dari khazanah tradisi, diramu dalam narasi-narasi tak terperi, seakan hendak menyadarkan kita betapa dekatnya cinta dan benci, tak henti-henti bertarung di ruang yang sangat sempit bernama hati.
Khrisna Pabichara lahir di Borongtammatea—sebuah kampung di Jeneponto, Sulawesi Selatan—pada 10 November 1975. Kumpulan cerpen debutnya, Mengawini Ibu, terbit pada 2010. Novel debutnya, Sepatu Dahlan, terbit pada 2012. Sedangkan kumpulan puisi pertamanya, Pohon Duka Tumbuh di Matamu, terbit pada 2014. Penyair yang kerap diundang sebagai pembicara dan pembaca puisi ini memulai karier kepengarangannya di dunia buku-buku seputar neurologi. Penyuka FC Barcelona ini sekarang bekerja sebagai penyunting lepas dan aktif dalam kegiatan literasi. Bisa diajak berbincang berbagai hal, terutama #bahasaIndonesia, lewat akun twitter @1bichara dan instagramnya @khrisna_marewa.
Sebagaimana buku-buku sastra lainnya, buku ini tidak bisa ditangkap mentah-mentah maksudnya. Saya kurang paham hikmah yang bisa saya ambil di setiap cerita, tapi saya suka dengan beberapa flash poem di dalamnya...
Daeng atau andi Khrisna, kapan terakhir ke Makassar ? Patung Ramang tidak lagi eksis di Lapangan Karebosi tercinta. Lokasi Patung Sang Legenda, sekarang sudah ditempati dengan Pak Satpam. Karebosi yang dulu adalah ruang publik semua lapisan masyarakat, setengahnya sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan. Cerita-cerita dalam buku kumpulan cerpen ini dan fakta kecil tadi, membuat saya bertanya-tanya, sebenarnya senarai kisah ini terjadi di sekitar tahun berapa, Cika ?
“Sebaiknya kamu tahu, tradisi di kampung kelahiranku memperlakukan kaum perempuan sewenang-wenang; mereka ditukar lewat setumpuk rupiah berdasarkan kecantikan, derajat, atau ilmunya. Semakin cantik, semakin mahal; semakin tinggi derajatnya, semakin sulit mahar yang harus ditebus untuk meminangnya.” –Silariang--
Khrisna Pabhicara memang selalu menelurkan karya-karya berlatar kedaerahan yang menarik. Ia mampu mengolah adat dan budaya daerah menjadi sesuatu yang menarik untuk dikisahkan. Membelajarkan. Mencerahkan pembacanya. Saya sebagai seorang pembaca yang awam tentang khasanah daerah Bugis diberikan pengertian tanpa perlu digurui.
Buku yang ditulisnya, Mengawini Ibu, merupakan kumpulan 12 cerpen terpisah. Tak heran, saya langsung tergerak hendak membacanya lantaran bisa dibaca sekali duduk. Selain itu, nama Khrisna Pabhicara sudah lama familiar di telinga saya, semenjak ia menelurkan novel trilogi kisah hidup Dahlan Iskan. Ditambah lagi ia adalah salah satu penulis asli dari tanah Bugis-Makassar. Saya langsung saja mengambil buku ini dari rak seorang teman sesaat melihat sampul bukunya yang cenderung “gelap”.
Cerpen-cerpen di dalam buku tersebut ditulis dengan gaya khas seorang Khrisna Pabhicara dalam menguliti budaya Bugis-Makassar. Setiap cerpen mengangkat tema tertentu yang tak jauh-jauh dari Makassar. Latar tempat, kejadian, hingga percakapan pun digiring dalam khasanah tradisi Bugis-Makassar.
Dimulai dari kisah "Gadis Pakarena", tentang penantian seorang lelaki Gowa kepada kekasihnya yang merupakan keturunan Tionghoa. "Arajang", tentang pergulatan batin seorang Bissu (lebih dikenal sebagai waria yang punya kekuatan magis khusus dan dihormati). "Haji Baso", tentang batu hitam bertuah kulau bassi. "Mengawini Ibu", tentang kisah seorang anak yang menyayangi ibunya sekaligus membenci ayahnya. Hingga "Silariang", yang dalam keseharian dikenal sebagai “kawin lari”.
Setiap kisah dituturkan secara lembut oleh penulis. Sebagaimana bahasa seorang penyair, Khrisna menuangkan kata-katanya sedemikian sendu. Saya bisa merasakan bagaimana bahasa yang dituturkannya terkesan mendayu-dayu dan mempunyai makna yang sangat dalam. Terkadang, terkesan “gelap”. Mungkin di beberapa sisi cerita memang mengusung tema seperti itu.
Ini merupakan karya sastra yang berbicara adat. Melantunkan kerinduan, kebencian, hakikat cinta, kemarahan, hingga harga diri. Menghaturkan tradisi turun-temurun yang dipegang kuat masyarakat Bugis-Makassar. Diceritakan tanpa muara dalam buku setebal 167 halaman ini.
Pun, saya memperoleh beberapa pengetahuan baru tentang budaya Bugis-Makassar lewat buku ini. Lantaran saya berasal dari masyarakat adat yang sungguh sama sekali berbeda. Meskipun tak lengkap. Setidaknya, ada pengetahuan dasar untuk melengkapi pengetahuan di waktu mendatang. Selalu ada yang unik dari setiap adat dan tradisi masyarakat Indonesia.
“Jangan ragu, Kana. Tunggu aku pulang. Biar aku penuhi semua ketentuan adat. Baru kita tunaikan mimpi: rumah panggung di kaki bukit dengan palataran laut Makassar dan pemandangan menawan setiap senja.” –Rumah Panggung di Kaki Bukit--
Pas pertama liat buku ini, wah covernya menarik nih, liat judulnya tambah penasaran deh tuh ceritanya kayak apa. Berpikirlah saya, apa ceritanya kayak cerita Sangkuriang gitu ya, kan ngawinin ibu sendiri. Ternyata saya keliru.
Sejak buku ini sampe, saya langsung mengagumi covernya. Keren, saya suka. Gambarnya aja kerasa 'hot' banget, cocok banget deh tuh sama judulnya. Perpaduan warna coklat dan hitam covernya terlihat lux gitu. Kesan pertama yang begitu menggoda.
Dan saya benar-benar tergoda setelah membaca buku ini. Mas Khrisna, si penulis buku atau kumcer ini begitu dahsyat. Saking dahsyatnya sampe membuat saya merasa pantas memberikan 4 bintang hannya dengan membaca 2 cerita awal buku ini. Semakin jauh membaca buku ini, saya merasa 4 bintang itu wajar kok :)
Buku ini terdiri dari 12 cerita pendek yang sangat kental dengan budaya Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan. Keseluruhan buku bisa dibilang berbau Sulawesi. Kita jadi ga hanya sekedar larut dalam tulisan dan ceritanya tapi juga sedikit banyak tau tentang panggilan-panggilan dan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh penduduk Sulawesi.
Jujur saja, saya blom pernah menjejakkan kaki ke tanah Sulawesi, jadi semua foot note yang ada tidak lupa saya baca untuk kemudian bisa mengerti apa yang dimaksud dalam ceritanya. Keterangan yang diberikan di foot note dalam buku ini pun jelas sekali.
Judul dalam kumcer ini : 1. Gadis Pakarena 2. Arajang 3. Mengawini Ibu 4. Rumah Panggung di Kaki Bukit 5. Haji Baso 6. Silariang 7. Ulu Badik Ulu Hati 8. Selasar 9. Lebang dan Hatinya 10. Hati Perempuan Sunyi 11. Riwayat Tiga Layar 12. Dilarang Mengarang Cerita di Hari Minggu
Diantara ke 12 judul diatas, favorit saya tentunya Mengawini Ibu dan Rumah panggung di Kaki Bukit. Wajar saja kalo Mengawini Ibu menjadi judul buku ini, itu ceritanya beneran sadis :D
Gimana ga? Di awal kisah tertulis : Kenapa semua nama perempuan yang digandrungi Ayah selalu berinisial huruf "N"? Apakah nama kamu juga berawalan huruf "N"? Jika ya, dan kamu perempuan, sejelek apa pun wajahmu, kamu patutu berhati-hati jika bertemua Ayah.
Secara ya nama saya, Nike, huruf N kan itu. Awalnya bikin deg-degan plus penasaran :p Ah... andai saja cerita ini diperpanjang, dibikin satu novel gitu ya, pasti jadi tambah seru. Kalo cerpen gini bawaannya nanggung.....
Mas Khrisna menulis dengan sangat baik, kayaknya ini wajar karna Mas Khris udah mengeluarkan beberapa buku sebelumnya. Saya hampir tidak menemukan typo dan saya rasa kita butuh penulis seperti Mas Khrisna karena turut membangun budaya daerah sendiri.
Tertarik dengan judulnya yang agak aneh.. "mengawini Ibu", dan setelah membuka halaman pertama, tertulis sebuah judul cerpen "Gadis Pakarena", wah.. aku jadi tambah tertambat pada buku ini. Kumpulan cerpen karya krisnha pabicara ini sangat kental dengan budaya Bugis Makassar, sesuatu yang lekat dengan diriku. Budaya Bugis Makassar yang selalu melingkar diantara Siri'na Pacce, tentang tradisi, harta dan wanita mendominasi hampir dalam semua cerpen Krisna. Seperti dalam Silariang, karena kedudukan keluarga yang berbeda, dua anak manusia harus menantang nasib demi keinginan hidup berumah tangga. Cerita seperti ini bukan hal baru dalam masyarakat Bugis Makassar, ada yang berakhir damai namun tak jarang harus berakhir diujung badik. Miris dan kelam bukan?
Cerpen favoritku adalah Riwayat Tiga Layar, bercerita tentang keberhasilan seorang pria karena ada wanita cemerlang yang berada disampingnya.
"Bersama Tiga latar itu kutaklukan amuk badai. Bersama tiga layar itu kutantang gelombang nasib. Tiga layar itu dapat kubedakan, tetapi tidak dapat ditiadakan. Akulah layar keempat, kunamai api. Aku bukann pemusnah karena tanah melemahkanku. Aku berguna karena air mencukupiku. Aku tak pernah mati karena angin menghidupiku"
Tiga layar itu adalah, Ibu, Istri dan Putrinya.. Semangat penggerak dalam kehidupan Krisna Pabicahara.
Awalnya saya pikir Mengawini Ibu adalah novel, ternyata saya tak begitu teliti melihat tagline senarai kisah pada sampul depan. Tapi, tak apa-apa. Terdapat 12 cerpen dengan tutur cerita yang sangat baik. Sebagian besar berkisah tragedi dengan tema unsur lokalitas kultur Bugis-Makassar. Hanya dua cerpen terakhir yang bukan, yang sepertinya merupakan curcol penulis. Tapi justru salah satunya adalah favorit saya. Selebihnya, ya tragedi biasalah. Tak berharap cerita dengan ide yang luar biasa. Pemikat setiap cerpen adalah storytelling yang tak membosankan. Penulis ini boleh saya bilang adalah narator yang ulung.
Ini kutipan favorit dari cerpen favorit saya di senarai kisah ini, "Riwayat Tiga Layar":
"Bersama tiga layar itu kutaklukkan amuk badai, bersama ketiga layar itu kutantang gelombang nasib. Tiga layar itu hanya dapat kubedakan, tetapi tidak ditiadakan. Akulah layar keempat, kunamai api. Aku bukan pemusnah karena tanah melemahkanku. Aku berguna karena air mencukupiku. Aku tak pernah mati karena angin menghidupiku."
Banyak yang baca di goodreads, tapi ga pernah "serius" liat reviewnya. Hunting buku di Gramedia Book Fair kemaren, banyak yang beli. Jadi penasaraaaan....
Pas pertama baca2: oohh... kumpulan cerpen.
Selanjutnya: boleh juga ni buku, cerpen2nya ngebuat aku jadi mikir, ini kisah2nya diambil dari kisah nyata apa ga ya? Koq kayak kisah2 yang kadang aku denger di keseharian.
Berapa banyak penulis sekarang yang mengangkat tema atau setting budaya daerah asalnya? Dan memerkaya khazanah kesusastraan Indonesia? Mungkin banyak yang punya kerinduan untuk itu. Mengawini Ibu memberitahu dan memberi contoh, bahwa untuk menyajikan cerita berakar budaya-ibu yang solid, budaya itu sendiri perlu berakar terlebih dahulu pada diri kita. Agar yang akan tersaji bukan kripik kulit, melainkan menu utama yang kaya-rasa.
Menarik ternyata membaca adat Makassar yang kental dalam kumcer ini. Meski cerita-cerita yang dimuat sangat miskin dialog (bukan tipikal cerita favorit saya), bahasanya yang indah cukup menyenangkan hati meski kadang terasa terlalu berlebih. Ceritanya rata-rata suram dan kelam, juga menuntut adat yang dirasa terlalu mengekang. Jadi, kalau kamu mau cari cerita yang menyenangkan, buku ini bukan pilihan yang tepat. Hehe
saya suka dengan cerita yang bernuansa lokalitas, jadi tidak sekadar membaca saja tapi saya jadi sedikit tahu dengan latar budaya suatu daerah dari sebuah cerita. tapi cerita-cerita di buku ini menurut saya terlalu "dramatis", berkutat dengan kesedihan dan kekecewaan. dan gaya penceritaan yang hampir sama dari 12 cerpen yang ada jadi terasa membosankan.
Penulis sepertinya ingin mendongeng lebih jauh lagi ke tempat kelahirannya. Saya suka bagian-bagian dimana unsur kebudayaannya kuat. Karakternya natural dan tidak seperti di setting oleh penulisnya. Pokoknya keren deh.....
awalnya sempat kecewa karena saya kira ini novel, ternyata kumpulan cerpen. Tapi, setelah dibaca lebih lanjut ternyata bagus *ga nyesel belinya* bahasa sastranya mudah dipahami dan ceritanya mengalir ringan, bagus buat pembaca pemula yang menganggap bahasa sastra itu sulit =) selamat membaca =)