Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mati, Bertahun yang Lalu

Rate this book
Seorang karyawan klinik bedah plastik yang rajin tiba-tiba mati di meja kerjanya. Namun energi jiwanya tidak padam sehingga ia bangkit kembali dan berusaha menjalani hidup seperti manusia normal. Ternyata sulit sekali berpura-pura menjadi hidup. Ia tidak boleh lupa bernapas dan mengedip-ngedipkan mata agar orang-orang yang berada di dekatnya tidak curiga.

Dalam keletihan menjadi mayat hidup, ia memutuskan untuk meninggal saja dengan cara bunuh diri. Tapi sial, rencananya juga tak berjalan lancar. Saat berusaha mencari mati yang sesungguhnya, ia kemudian dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dan anehnya “menghidupkan”.

Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

Setiap halamannya mencengangkan. Soe Tjen melakukan defamiliarisasi radikal atas berbagai aspek hakiki dalam mati dan hidup kita. Humornya berpaut dengan satir, membuat kita tertawa dalam rasa sakit yang ditimbulkan oleh kesadaran akan betapa lucunya–sekaligus tragisnya–eksistensi kita ini… Belum pernah saya menjumpai novel yang daya guncangnya sebesar Mati, Bertahun yang Lalu ini.
—Manneke Budiman

Gaya penulisan seperti ini sudah jarang kita temukan dalam khazanah kesusasteraan sekarang. Mungkin karena penulis-penulis kita lebih terpukau oleh permainan bentuk dan kata sehingga mereka telah kehilangan kemampuan untuk membidik langsung ke jantung sebuah eksistensiale.
—Richard Oh

Dalam novel Mati, Bertahun yang Lalu, Soe Tjen mencatat bahwa kematian tak sesederhana konsep surga-neraka yang selama ini dikenal di beberapa ajaran agama.
—Ratih Kumala

153 pages, Paperback

First published October 1, 2010

22 people are currently reading
195 people want to read

About the author

Soe Tjen Marching

18 books57 followers
Soe Tjen Marching (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1971; umur 39 tahun) adalah seorang Indonesianis, penulis, dan feminis. Ia memperoleh gelar Ph.D.nya dari Universitas Monash, Australia dengan menulis disertasi tentang otobiografi dan buku harian perempuan-perempuan Indonesia. Ia telah diundang sebagai dosen tamu di berbagai Universitas di Australia, Britania dan Eropa.

Soe Tjen banyak menulis artikel di berbagai suratkabar Indonesia maupun asing, cerita pendek, dan juga membuat komposisi musik. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne - Australia. Salah satu cerita pendeknya telah diterbitkan oleh Antipodes, sebuah jurnal sastra terkemuka di Amerika Serikat. Selain itu, ia juga seorang komponis penting di Indonesia, yang karya-karyanya telah dipagelarkan di Asia, Australia, Eropa dan Amerika. Sebagai seorang komponis, ia pernah memenangi kompetisi tingkat nasional di Indonesia pada 1998. Sebuah komposisinya, "Kenang" (2001) diterbitkan sebagai bagian dari sebuah CD, "Asia Piano Avantgarde: Indonesia" yang dimainkan oleh pianis tersohor dari Jerman, Steffen Schleiermacher. CD ini telah beredar di Amerika dan Eropa. Pada Juni 2010, karya musiknya memenangkan kompetisi Internasional avant-garde yang diadakan di Singapura.

Novel Soe Tjen, berjudul Mati Bertahun yang Lalu, diterbitkan oleh Gramedia pada akhir tahun 2010. Novel ini diilhami oleh pengalaman pribadi Soe Tjen terjangkit kanker 3 kali.

Soe Tjen Marching juga sering bekerja sama dengan suaminya, Angus Nicholls, seorang peneliti sastra Jerman di Queen Mary University of London.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
53 (20%)
4 stars
95 (36%)
3 stars
89 (34%)
2 stars
19 (7%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 73 reviews
Profile Image for Salza Puspitasari.
75 reviews5 followers
May 28, 2016
Bukankah Pesta Ulang Tahun adalah hal yang menggelikan? Kenapa yang telah dilahirkan yang harus diselamati? Bukankah sang ibu, yang melahirkan, yang telah bersusah payah dan terkadang harus mempertaruhkan nyawa, sebenarnya lebih pantas mendapat selamat? Dan bagaimana mungkin umur bisa berubah angka begitu saja dalam satu hari? Ketuaan adalah sebuah proses, bukan lompat tinggi. Dan kalau kita bertambah tua, dan bertambah dekat dengan liang lahat, mengapa harus dirayakan dengan menyanyi panjang umurnya?

AKHIRNYAAA! Ada juga orang yang sepikiran dengan saya mengenai ulang tahun hahaha. Pertama kali melihat judul "Mati, bertahun yang lalu" dengan cover bergambar kue ulang tahun, saya tahu buku ini akan sangat menarik untuk dibaca.

Siapakah Aku?
Pertanyaan ini tak henti-hentinya saya tanyakan sepanjang membaca buku ini.
Apa yang membuat seseorang mempunyai identitas? Apa yang membuat seseorang dapat menjawab pertanyaan "siapa kamu?".

Selain menghujani pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai jati diri, bagian yang juga menarik adalah ketika penulis mengibaratkan hubungan "jiwa manusia" dengan "hidup" layaknya Stockholm Syndrome, yang pada akhirnya, seberapapun "kejam" nya hidup, manusia tetap mencintainya dan takut untuk kehilangan. Thumbs up! Me loved it!
Profile Image for Aro~.
241 reviews9 followers
June 23, 2022
Tokoh utama dalam buku ini, digambarkan sebagai sosok yang telah mati. Tapi, tubuhnya terus bergerak seirama dengan kebiasaannya semasa hidup. Meski mati, tubuhnya terus bergerak. Seolah menolak kematian yang menghanpirinya.

Sebagai orang mati, ia digambarkan melakukan "pengembaraan". Suatu usaha untuk menemukan dirinya sendiri di antara kematian yang terasa begitu lekat pada dirinya. Ia bahkan mengunjungi orang-orang yang diliputi kematian.

Kematian yang digambarkan di buku ini jauh berbeda dengan kematian yang kita kenal. Kematian yang dijalani seolah kehidupan. Kematian yang berubah bentuk menjadi bentu kehidupan lain. Kematian yang menyadarkan akan betapa kehidupan tak dapat diremehkan.
Profile Image for Elsita F..
120 reviews6 followers
August 19, 2017
****

Lewat sinopsis, buku ini menawarkan petualangan seru. Tapi, setelah baca, sayang sekali saya harus mengatakan bahwa nyaris tidak ada yang dapat saya ambil darinya. Memang, untuk gaya penulisan, bukunya keren. Terlihat sekali kecerdasan penulisnya dalam bidang filsafat dan bahasa sastra. Tapi, selain itu, buku ini terbaca hanya seperti tuangan monolog panjang dari seseorang yang amat pesimis dengan kehidupn. Lewat tulisan ini, pembaca seolah 'dipermainkan oleh kata-kata yang nyaris sama tapi memiliki makna berbeda'. Namun, lagi-lagi yang menjadi sama dengan dari setiap teori dan kisah hidup yang ada adalah kepesimisan.

Saya tidak menemui pengulasan tentang bagaimana pekerjaan karyawan klinik bedah plastik, kecuali penjelasan bahwa bos sang tokoh dapat memalsukan banyak hal.

Kemudian, sang tokoh aku disini tidak membahas hidupnya, melainkan hidup orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya. Dengan kata lain, tokoh utama dalam buku ini seolah tidak mendapatkan perannya sebagai tokoh melainkan sebagai pencerita. Saya juga tidak menemukan adanya korelasi pembahasan tentang peristiwa Mei Kelabu saat Presiden Soeharto masih memimpin Indonesia dengan kisah yang ada dalam buku ini. Rasanya aneh, ketika membaca buku yang hanya menampilkan lebih banyak 'kebobrokan' yang diakhiri dengan kepesimisan.

Konsep hidup dan mati memang dijelaskan tidak sesederhana kata hidup dan mati itu sendiri. Tapi, yah itu saja. Sorry to say.
Profile Image for le..
42 reviews9 followers
June 4, 2022
4.5/5!!

'apakah aku mati karena aku begitu tidak bahagia dalam hidup? atau hidup yang sudah tak bahagia denganku?'

dari baca halaman pertama langsung naksir sama narasi dan penulisan, cantikk! rasanya merinding tiap kali lembar per lembar. alurnya lumayan loncat-loncat dan berharap banget dapet cerita dari sudut pandang 'aku'. abis baca buku ini rasanya jadi bertanya-tanya alasan buat (dan masih) bertahan hidup hahahaha.
Profile Image for Aura.
82 reviews1 follower
March 12, 2025
i picked up this book out of curiousity cause the title instantly caught my attention, so i decided to give it a read. buku ini bagus banget, it started off strong, but the more i went deeper and deeper, the more confused i became. eksekusi di akhir terasa banget buru-buru, which it was the biggest letdown for me :(
62 reviews2 followers
July 19, 2023
Apakah Rahma ataukah Sarah yang dimaksudkan si aku sebagai cerminan dirinya semasa hidup?
Profile Image for Callista Marsyah.
34 reviews1 follower
November 10, 2024
banyak trigger warningnya gais... overwhelmed dikit bacanya harus banyak-banyak AMBIL NAPAS ._. isinya agak jauh dari ekspektasi awal, pas baca bingung sendiri soalnya malah lebih banyak nyeritain orang lain daripada si 'aku' ini? bahkan sampe habis juga masih nggak nangkep inti dari permasalahan dia tuh apa, dan cara dia mati pertama kali tuh gimana? lebih kayak monolog si 'aku' nyeritain orang-orang di sekitarnya.
Profile Image for Teresia Belawati Sugiarto.
4 reviews
March 29, 2021
"Mungkin aku sudah mati sebelum mati. Aku sudah tiada sebelum tiada. Bila hidup adalah guru, aku seperti murid yang tak mampu menjawab pertanyaan di depan kelas. Yang kuinginkan adalah menghilang, menghilang dari tatapan murid lain yang mengejek."

"Sedang Eneas adalah murid populer. Hidup dapat menyelamatkannya, bak guru yang selalu membenarkan murid kesayangannya."

"Eneas dapat menghindari segala masalah dengan gampang. Semua tindakannya terasa tepat. Walau dia terperosok sedikit, ada sesuatu yang mengentasnya. Bahkan akhirnya keterpurukan itu menjadi hal yang menguntungkan."

"Sebagai anak emas hidup, ialah yang kehujanan rejeki dari semua keapesan orang lain."

...

"Para manusia itu berkerumun di hadapan Mbah Feisal yang melarang mereka memanggil arwah-arwah itu. Ia menceritakan kisah tentang surga, di mana para manusia yang saleh dapat hidup dengan nikmat, senikmat-nikmatnya. Mereka bisa mendapat makanan dan minuman berlimpah, bidadari yang cantik-cantik (jadi para bidadari tidak bisa menikmati surga karena mereka cuma jadi budak seks di sana)."

...

"Mereka, yang begitu suka mengobral kata-kata mutiara seperti pedagang jamu: Jangan mengingat kesedihanmu, tapi ingatlah kebahagiaanmu. Sukses bukanlah kunci kebahagiaan, tapi kebahagiaan adalah kunci sukses. Betapa menggelikan segala usaha mereka untuk menghibur diri, dan mengagungkan kebahagiaan. Tidak tahukah mereka, begitu bahagia si penjagal ketika berhasil menjerat Rahma? ... Apa yang menjamin kebahagiaan sebagai kunci sukses? Sukses membunuh, sukses menganiaya mungkin?"
Profile Image for ichan  .
41 reviews
April 28, 2022
buku ini cuma 153 halaman tapi aku nyelesainnya lamaaaaa banget, kayaknya sebulan deh. selain karna minjem di ipusnas, di tiap lembarannya selalu ada yang buat aku berhenti dan bertanya-tanya, jujur di pertengahan bikin bosen dan bingung tapi menuju akhir makin seru. pada akhirnya aku udah ga peduli lagi siapa tokoh 'aku' karna ini jadinya kayak buku harian tokoh utama, dia nyeritain Eneas, Sara, Rahma, Ibu dan Ayahnya, jadi pemerhati orang-orang di sekitarnya gitu. Seriusan aku bingung banget soal Sara sama Rahma. alurnya yang cepet dan loncat-loncat. aku cuma mau menikmati bacaan ini karna narasinya cantikkk bangeeeeeeeet, banyak satire, dan wow aku bisa masuk ke humor tokoh utama! buku ini diluar ekspetasiku sih, ternyata isinya penuh filosofi.
Profile Image for Heru Prasetio.
210 reviews2 followers
September 30, 2020
"Ketiadaan adalah ada. Karena bila ketiadaan adalah tiada, maka ia tak perlu lagi disebutkan, dikatakan, atau digambarkan." -Hal. 57-

"Buku ini menguarkan bau satire di setiap bagian. Gelap yang meronta namun relate dengan kehidupan sehari-hari. Dari judulnya saja sudah begitu menarik. Secara halus namun nyelekit si tokoh utama memberi peringatan bahwa janganlah kita 'mati' sebelum mati yang sebenarnya terjadi. Aku menikmati jalan cerita di novel ini, penuh kritik tajam dan mawas diri. Meski plotnya seakan dipercepat, tapi tema surealis yang diusung begitu menawan dan membuatku terbuai dalam lamunan."
Profile Image for tea.
37 reviews
May 18, 2022
— apakah aku yang menolak hidup atau hidup yang menolakku?

my mentally unstable suicidal self is shaking. after read dari dalam kubur i shouldnt be shocked with her writing style, but i still afterall. it filled with satire and questioning whats the meaning of the mc life. the last chapter (kebangkitan 1-4) makes the stars full, hehe.

5/5 ⭐ even tho i wanna throw up everytime a chapter ends.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 10, 2011
Bagus bgt...aku suka,walaupun kadang2 agak ngeri membaca deskripsinya yang gamblang..penuh satire,nonjok sana sini tapi tetap menerbitkan senyum campur miris.Cerita nya juga tidak biasa,berhasil diselesaikan dalam 1 hari disela2 kesibukan rutin pekerjaan,ga ingin berhenti rasanya sebelum selesai..
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
December 29, 2025
Setelah memperoleh piagam penghargaan sebagai karyawan terbaik, seorang perempuan yang bekerja di klinik bedah plastik mengalami kematian secara tiba-tiba di meja kerjanya. Namun, jiwanya enggan pergi dari tubuhnya yang sudah jadi jenazah, dan orang-orang yang hidup tak ada yang menyadari bahwa ia sudah mati. Ia pun memutuskan untuk mengalami kematian yang sesungguhnya, tetapi gagal. Apakah itu berarti ia mati dua kali?

“Kebanyakan orang dapat bertahan hidup hanya jika mereka dapat melupakan realitas ini dan memusatkan diri ke yang lain: ke karier mereka, ke investasi, gelar, anak atau apa saja yang terlihat bertambah banyak. Percayalah, bila kamu tidak dapat mengalihkan perhatian pada hal lain yang fana ini, dan hanya memikirkan kehidupan itu sendiri, kamu akan gila: karena ia akan mengalahkan dan merendahkanmu secara perlahan. Seperti aku sekarang.”

Ialah mayat yang tersasar di dunia kehidupan. Apakah ia yang menolak hidup atau hidup yang menolaknya? Sebetulnya novel ini tidak menawarkan konklusi yang jelas perihal nasib sang tokoh utama. Akan tetapi, tak bisa dimungkiri perjalanannya sebagai mayat hidup sangatlah menarik, terutama ketika ia menuangkan segala keresahan terhadap orang-orang di sekelilingnya; juga tentang hal-hal remeh temeh, seperti perayaan ulang tahun yang paradoksikal atau tentang toilet umum yang dikapitalisasi oleh empunya.

Tak jarang, Soe Tjen Marching juga menyampaikan kritik tersirat mengenai isu-isu sosial-politik. Mulai dari isu korup instansi pemerintah, kerusuhan Mei '98, rasisme terhadap Tionghoa, sampai kritik terhadap tema kematian itu sendiri.

Ada cerita menarik saat Papa sang tokoh utama meninggal dunia. Sebagai Jawa-Katolik semasa hidup, jenazahnya menjadi rebutan untuk dimakamkan dengan adat seperti apa; mengikuti saran keluarga besar istrinya yang Tionghoa-Islam, atau secara Katolik dengan melibatkan Pastor, atau justru digelar sesuai dengan keinginan keluarga yang membayar segala keperluan upacara pemakaman—yang kebetulan beraliran Konghucu. Belum lagi, sebelum mayat sang Papa dimasukkan ke liang kubur, wajahnya harus lebih dulu dibenahi dan dirias, sampai tokoh Aku berujar: “Begitu cintanya mereka pada hidup. Hingga orang mati pun tidak diperkenankan tampil sebagai mayat.”

Selain itu, yang membuat narasi novel ini makin menarik, adalah cara Soe Tjen Marching menggunakan pendekatan eksistensialisme dalam memaparkan kondisi tokoh utama yang terombang-ambing di antara kehidupan dan kematian. Apa yang dialami oleh tokoh Aku memang tak ubahnya kisah The Myth of Sisyphus–nya Albert Camus. Jika Tuhan mengutuk Sisyphus untuk mendorong batu ke puncak gunung secara terus menerus, maka tokoh Aku harus menghidupi kematiannya yang tak berkesudahan. Ia pun dikutuk untuk melihat kematian-kematian ganjil orang-orang terdekatnya.

Pertanyaan “Siapa Aku?” di babak akhir rasanya sudah tak penting lagi, sebab itu bukanlah pertanyaan yang diajukan tokoh utama kepada dirinya saja, tetapi juga pertanyaan refleksi kita kepada diri kita sendiri. Memangnya kita menjalani hidup untuk menyiapkan kematian? Atau jangan-jangan... sebetulnya kita sudah mati bertahun yang lalu, dan sekarang sedang belajar untuk menjalani kehidupan kembali.
Profile Image for WidhiKasih.
23 reviews
March 27, 2024
Menyelesaikan novel ini dalam sehari, selain hanya dengan seratusan halaman, yang membuat saya senang adalah bahasan yang disajikan begitu nikmat. Disepanjang novel dibuat penasaran dengan tokoh "aku'" sekaligus dibawa masuk dalam pemilikirannya mengenai kehidupan, kematian dan peradaban manusia. Seperti yang di tuturkan dalam novel, Untuk apa? Apa gunanya hidup? Ya, pertanyaan tersebut menyadarkan banyak hal dan kritik yang ada pada novel ini menghibur sekali, mengenai tahayul, dongeng, pernikahan, sekaligus mengenai cara bunuh diri, tak lupa puisi Kahlil Gibran, yap terlebih lagi kritik mengenai harapan-harapan yang kita ciptakan adalah ganja yang kita konsumsi terus menerus(sialnya fakta bukan? hahah)

Selain diajak mengerti sudut padang sebagai hantu :) yang menceritakan orang terdekatnya, atau orang yang dijumpainya novel ini terang-terangan membuka pandangan mengenai manusia yang hidup saat ini, seperti beberapa vidio dilaman media sosial yang saya jumpai bahwa "everyone is just trying to survive". Seluruh tokoh dalam novel inipun telah berusaha bertahan, meski pada akhirnya berjalan menuju kematian layaknya Sara. Begitu menikmati cerita ini, dengan alur yang campur aduk tetap saja sedap dibaca sampai akhir.

Berikut beberapa kalimat yang saya highlights:

"Kita adalah milyaran makhluk yang seringkali tak tahu mengapa kita ada, dari mana kita datang, dan ke mana kita pergi"

"Kematian adalah sebuah tujuan yang paling pasti bagi semua orang. Manusia mendamba kematian tanpa disadarinya."

"Karena menunda kematian jauh lebih sukar daripada mendatangkannya, manusia menjadi tertantang oleh-nya: mereka lalu mengusahakan bagaimana kematian dapat semakin ditunda."

"Hidup dan mati adalah pasangan yang tak pernah dapat terceraikan. Mereka telah dipaksa untuk seia-sekata. Untuk tak berpisah. Namun juga tak bertemu"

Profile Image for Pearl.
12 reviews2 followers
January 4, 2022
"Apakah aku mati karena aku begitu tidak bahagia dengan hidup? atau hidup yang sudah tak bahagia lagi denganku? Apakah aku yang menolak hidup ataukah hidup yang menolakku?"

Seperti ada beratus-ratus pertanyaan yang terbersit di benak saya ketika menyelesaikan buku ini. Tentang siapakah tokoh 'aku' dalam buku ini? Sara? Atau siapa? Sepanjang membaca buku ini pertanyaan yang paling sering muncul adalah ini. Namun keseruan dari buku ini memang seperti pembaca akan dibikin menebak-nebak tokoh utamanya.

Plot dalam buku ini terbilang cukup cepat dan lompat-lompat. Cerita si 'aku' tokoh utama cenderung tidak menonjol, si 'aku' malah menjadi seorang pencerita atau pengamat kisah orang lain. Seperti kisah Eneas, Sara, Rahma, Papa dan Mamanya. Tapi tak masalah, karena semua yang 'aku' ceritakan cukup mudah diterima dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Mati, bertahun yang lalu menjadi buku surealis pertama yang saya baca tahun ini. Buku ini penuh dengan filosofi hidup dan kematian. Ada beberapa kalimat yang kadang bikin saya mikir apa artinya, tapi yasudah, karena menurut saya keseluruhan cerita dan gaya bahasanya sangat apik dan saya cukup menikmatinya. Banyak sekali ungkapan dan kalimat-kalimat satir seperti yang sudah tertulis di blurb nya.

Buku yang menarik dan sepertinya saya akan membacanya lagi nanti. 153 halaman tidak terlalu tebal dan bisa dihabiskan sekali duduk kalau memang ada niat, tapi saya bisa menyelesaikan buku ini 3 hari lamanya disela-sela kegiatan sehari-hari. Dan setelah membaca karya pertama Soe Tjen Marching yang ini, saya jadi tertarik untuk membaca karyanya yang lain.
Profile Image for Aira.
4 reviews1 follower
July 29, 2022
Pada awalnya, bagi saya buku ini terkesan sedikit monoton, mungkin karena ceritanya yang hanya terpusat pada tokoh Aku dan kesehariannya sebagai orang mati yang hidup, saya jadi merasa ceritanya hanya itu-itu saja. Namun, saat tokoh Sara mulai muncul ke permukaan, saya mendapati diri saya terbawa dalam cerita. Saya juga ikut penasaran dengan sosok Sara, sebagaimana tokoh Aku di dalam buku. Saya pun membaca dan membaca hingga tanpa sadar saya sudah berada di penghujung buku.

Buku ini magis dan mampu memberikan perspektif baru dalam memandang kematian. Saya sangat suka bagaimana dalam buku ini, kematian tidak dilihat sebagai sesuatu yang harus dikaitkan dengan agama, surga dan negara, atau dengan penghitungan amal perbuatan. Buku ini menempatkan kematian sebagai kematian. Tidak kurang dan tidak lebih. 

Buku ini juga begitu menggelitik. Karena bagi saya yang mencintai hidup dan kehidupan, tokoh Aku yang memandang hidup adalah sebuah kemunduran, tokoh Aku yang menganggap bahwa manusia hidup tidak lebih dari sekadar manusia yang berada dalam ilusi dan berada di bawah pengaruh 'obat' bernama harapan yang tak henti dipupuk setiap harinya, tak ayal menggelitik idealisme saya mengenai kehidupan.

Ditambah lagi banyak satire yang disisipkan disepanjang buku. Satire-satire yang juga membuat saya bahagia karena bisa menertawakan kehidupan dan segala anomali di dalamnya.

Meskipun tipis (hanya sekitar 151 halaman), buku ini unik, absurd, dan menyimpan banyak pelajaran berharga mengenai hidup dan mati.
Profile Image for Poppy Aristanti.
40 reviews1 follower
August 8, 2025
Saya menemukan buku ini di iPusnas. Rasa penasaran akan tulisan Bu Soe Tjen Marching mengarahkan saya untuk membaca buku ini. Seperti buku beliau yang sebelumnya saya baca—Dari Dalam Kubur—buku ini mengajak pembaca untuk berpikir cukup dalam karena memuat satir sosial, kritik gender, dan renungan ekistensial. Penulis juga menyelipkan sedikit sejarah Indonesia saat kepemimpinan Orde Baru.

Mati, Bertahun yang Lalu diceritakan melalui sudut pandang “Aku”—tokoh yang secara fisik sebenarnya sudah mati, tetapi jiwanya masih berjalan di antara orang-orang hidup. Namun, tokoh “Aku” lebih banyak mengamati dan menceritakan kehidupan orang-orang di sekitarnya: mulai dari bosnya di kantor, orang-orang di kampungnya, Eneas, Sara, Rahma, dan lainnya.

Penulis beberapa kali mengutip tokoh Sisyphus dalam buku ini—sebuah tokoh dari mitologi Yunani yang konon dihukum untuk terus-menerus mendorong batu ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya jatuh lagi. Saya pribadi belum pernah membaca kisah lengkapnya, tapi kutipan ini cukup menggambarkan rasa lelah dan absurditas hidup yang dialami tokoh “Aku”. Rasanya seperti hidup sekadar mengulang, tanpa tahu ujung atau makna yang sebenarnya.

Membaca buku ini membuat saya banyak berpikir. Kematian digambarkan tidak sesederhana Surga dan Neraka seperti yang sering kita bayangkan. Meskipun plotnya terasa agak kabur dan bagian ending tampak terlalu cepat, saya tetap mengagumi cara Bu Soe Tjen Marching menulis dan mengajak pembaca berpikir—dengan cara yang tak biasa.
Profile Image for shaf.
126 reviews
February 1, 2022
Para hamba kehidupan, buku ini banyak membahas kematian, bercerita dengan pandangan yang rasanya amat pesimis terhadap kehidupan. Tapi biarlah ia menjadi bentuk nyata pada suatu pemikiran dan menyadarkan yang lain.

'Jika kamu mengalihkan dari hal yang fana ini, dan hanya memikirkan kehidupan itu sendiri, kamu akan gila.' dan ketika sedang ada di fase ini, barangkali buku ini bisa menjadi temanmu menyuarakan isi hati.

Banyak, banyak sekali hal yang terlintas sepanjang membaca buku ini, tapi rasanya terlalu personal kalau dicurahkan semua, intinya pengalaman pribadiku dengan buku ini benar-benar luar biasa. Selain isinya yang amat menggugah dan banyak satir yang menyinggung hal-hal dalam kehidupan (operasi plastik, perayaan ulang tahun, anak sebagai alasan pernikahan, rias mayat, kurangnya edukasi seksual, tindak hukum terhadap kasus pemerkosaan, kematian, lain-lainnya, dan kehidupan itu sendiri), hal yang membuatku merasa nyaman membaca buku ini, adalah latarnya yang amat familiar secara pribadi.
Lastly, 'I will think of this world as a fiction. A world of death, world of dream. People say you must pursue your dream. I’m already on my dream, so I will live for it, at least.'
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ❦ ivy.
196 reviews7 followers
September 6, 2024
Mungkin aku sudah mati sebelum mati. Aku sudah tiada sebelum tiada. Bila hidup adalah guru, aku seperti murid yang tak mampu menjawab pertanyaannya di depan kelas. Yang kuinginkan adalah menghilang, menghilang dari tatapan murid lain yang mengejek. Lenyap dari segala pandangan mereka.

So beautifully written (๑♡⌓♡๑)!

Melalui novel ini, aku merasakan berbagai macam perasaan, campur aduk. Mengisahkan tentang konsep kematian, kebahagiaan, dan tujuan hidup yang dikemas menggunakan bahasa yang indah serta penuh dengan unsur satir dan sarkasme, membuatku semakin betah untuk menyelesaikan membaca novel ini :>

Perjalanan tokoh utama "Aku" mengingat kembali kenangan-kenangan lama dan bagaimana peristiwa itu memengaruhi hubungan lain dalam hidupnya, novel ini mengeksplorasi bagaimana seseorang dapat menemukan kekuatan dan makna melalui kenangan dan kehilangan.

Novel yang mengesankan dan reflektif, singkat namun mencakup banyak pembahasan, cocok dibaca untuk kalian yang tertarik pada tema-tema psikologis dan emosional dalam kehidupan manusia. Terutama tentang eksistensialisme dan kehidupan setelah kematian.
Profile Image for rosie.
59 reviews
November 24, 2024
3,8/5⭐

this book is sooo dark & untuk aku yang lagi merasa nggak 'fit', isi bukunya bikin aku feel seen tapi juga nggak nyaman at some point... but i love this book. pertanyaan-pertanyaan soal kehidupan dan kematian, pesimisme & optimisme di dalamnya, bikin aku merenungi apa arti hidup dan mati sebenernya.

"tapi hidup ini seringkali dipenuhi dengan orang-orang yang berjalan dalam tidur, yang sebenarnya sudah tak mengiginkan hidup itu lagi, namun mereka tidak tahu pilihan yang lain."

buku ini juga penuh dengan sentilan dan satire, mengangkat retakan-retakan sosial seperti peristiwa kelam 98, perselingkuhan, anti-lgbtq, suicide, dan hal2 kacau lainnya.

yang agak kurang mungkin di struktur ceritanya. aku ga masalah si Aku lebih cerita soal orang2 di sekitarnya, tapi di transisi dari cerita Aku ke cerita Sara kerasa kurang smooth aja. selama baca bagian cerita Sara, aku terus wondering gimana kelanjutan kehidupan si Aku. nggak ada interaksi lagi antara si Aku—Sara, terus tiba2 selesai dan begitu balik ke si Aku lagi, kayak gantung dan di bab2 tsb aku sulit paham maksud ceritanya sampe akhir (kenapa tiba2 jadi bahas penderitaannya sama ibu????) T__T
Profile Image for joan☆.
311 reviews28 followers
October 10, 2023
it has a really great premise. seseorang yang sudah "mati" dan membiarkan tubuhnya 'digeret' (entah oleh kuasa siapa, dia atau tuhan?) untuk menceritakan kisah kehidupannya. ini adalah salah satu buku yang membuat aku jadi bertanya-tanya tentang dunia.

"kenapa kita hidup? kenapa kita takut mati, padahal hidup sudah sekejam itu terhadap kita?" kita dibuai oleh berbagai euforia yang dijanjikan oleh hidup seperti seekor anjing yang sedang mengais-ngais mengharapkan makanan.

cukup menyenangkan membaca buku ini, sampai akhirnya aku tiba di beberapa bab terakhirnya. cerita pun terkesan diburu-buru, dibuat singkat agar kisah tokoh utama cepat berakhir (atau memang aku terlalu bodoh dan ga bisa ngerti maksud dari authornya apa). ending nya membuat aku ???? bingung setengah mampus

jadi, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh tokoh utama dan author lewat buku ini? mati berkali-kali dan bangkit berkali-kali meski sudah membenci kehidupan berlarut-larut?
Profile Image for hllreka.
122 reviews7 followers
May 19, 2024
Menohok dan satir. Novela ini dengan lugas dan lihai memberi banyak pertanyaan2 "nyindir" atas kehidupan, sikap, pemikiran, dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Jujur, saya sama sekali gak bisa menikmati alurnya dan gak paham plot utama buku ini mau diarahkan kemana. Namun, yg bisa saya rasakan adl, pesimistik akut yg dialami oleh tokoh utama akan kehidupan, yg menurutnya adalah kebobrokan yg terlihat, dan dirasakannya berkali-kali. Ironisnya, saya bisa memahami mengapa tokoh utama bisa se-pesimis itu dgn hidup, ya.....singkatnya dia gak pernah sampai merasakan "bahagia" hidup di dunia, makanya knp sosok tokoh Aku ini serasa jadi mati rasa dan pesimis.

Sepanjang membaca ini saya merasa spt sedang membaca novelnya Albert Camus. Keterlibatan tokoh utama dengan kehidupannya ibarat "hidup segan mati tak mau". Terpaksa mau hidup krn masih dikasih kesempatan untuk hidup😶😶


I don't think....saya akan kasih rating 4, kayaknya 3,5 aja cukup.
Profile Image for Rio Edrigo.
24 reviews
August 17, 2025
Sebab saya membaca buku ini, saya menjadi tahu kalau pernah ada masa saat judi itu legal di negara ini. Judi itu dikenal dengan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Saat itu, judi dibicarakan dengan begitu santai seolah sedang berbicara tentang menu makan siang. Kuponnya dijual oleh pemerintah dan undiannya disiarkan melalui radio nasional. Dalam "Mati, Bertahun yang Lalu" kamu akan menmbaca kisah mayat hidup yang justru bertemu dengan peristiwa yang 'menghidupkan'.
Kamu akan bertemu sejarah kelam yang tidak pernah diceritakan dalam buku sejarah sekolah kita karena terasa 'haram' untuk didengar. Terima kasih kepada Soe Tjen Marching dengan buku-bukunya yang pemberani dan membawa kita tidak hanya membaca, tetapi ikut bernalar. Sastranya seperti tuntutan yang meminta diadili dan diusut. Selain judi, kamu juga akan bertemu kisah peristiwa '65 yang telah menjadi ingatan buruk bagi peranakan Tionghoa di Indonesia.
9 reviews
May 12, 2023
Dia -perempuan- yang tidak menyebutkan namanya hingga akhir ini adalah seorang tokoh utama, yang merasa bahwa dirinya sudah mati tetapi terjebak pada energi kehidupan di dunia nyata. Lalu sebuah perjalanan dengan menggunakan bemo, membuatnya bertemu sosok Sara yang namanya seperti si almarhumah kakak kedua. Seolah dia memiliki obsesi dengan Sara, si gadis cantik, aktivis yang rela melakukan apa saja untuk menyekolahkan adiknya, Rahma.

Gaya penulisan di novel ini sangat penuh misteri, karena sudah jarang ditemui alur yang maju mundur atau sesekali melompat. Dibungkus dengan bahasa yang satir, sekaligus sarkas perihal kematian dan kehidupan membuat novel ini sangat cocok untuk bacaan sekali duduk.

Novel yang tidak masuk dalam list bacaan ku namun tandas di waktu singkat. Sangat menarik. Selamat mencoba👀.
Profile Image for Riska (lovunakim).
230 reviews35 followers
June 24, 2022
Buku ini sulit aku deskripsikan, absurd, aneh, dark, kocak juga. Tapi intinya banyak sarkas didalam ceritanya.

Aku gatau mau kisahin atau ngasi sekilas isi tentang buku ini, intinya tuh tokoh dalam buku ini hidup seperti mati, entah mati beneran atau gimana, atau malah reinkarnasi? Tau ah! Pokoknya isinya tuh dia sangat membenci hidup nya, dan kematian adalah tujuan dari hidup itu sendiri.
Ada banyak TW disini, ada cerita tentang kerusuhan mei 1998 anti-chinese juga dibuku ini. Ada cerita tentang pembunuhan, bunuh diri, dan perselingkuhan.

Pokoknya aku sangat merekomendasikan buku ini deh. Kalian coba deh baca, terus deskripsiin sendiri isinya :D

Oiya, di ipusnas juga ada loh! Ini aku beli bukunya cuma 35k (yeay).

Rate: 4.5 Of 5 Stars ⭐️⭐️⭐️⭐️
Profile Image for Maya.
206 reviews8 followers
August 23, 2023
Temanya menarik, si aku berdialektika dengan dirinya sendiri tentang makna hidup dan mati. Banyak kalimat menarik yang bisa dijadikan kutipan. Namun, buku ini juga terasa scatterbrained. No plot, vibes only. Saya tidak merasakan closure yang mantap dari buku ini. Bukan karena saya berpendapat bahwa setiap buku tidak boleh punya akhir yang menggantung, tetapi karena saya tidak merasakan suspense dari kegelisahan eksistensial si aku, ataupun payoff yang memuaskan ketika si aku mendapat "jawaban" dari kegelisahan itu.

Saya rasa, buku ini baiknya memang dibaca secara perlahan.
Profile Image for Mor.
210 reviews7 followers
March 2, 2022
•[⭐ 4.75/5 ⭐]•



[ Apakah aku mati karena aku begitu tidak bahagia dalam hidup?

atau

Hidup yang sudah tak lagi bahagia denganku?

Apakah aku yang menolak hidup atau hidup yang menolakku? ]



Kalau mau jujur, saya benar-benar kehabisan kata-kata. Tidak ada kalimat yang pas untuk menggambarkan buku ini. Hati saya dibuat porak-porandak dan banyak sekali kutipan yang patut direnungi. Dan ya tuhan. . . gaya penulisan dan permainan katanya indah TwT
Profile Image for Cassini.
75 reviews3 followers
April 7, 2022
• bagus, bagus bgt pokoknya.
• buku ini seperti diary sang tokoh utama yang isinya keluh-kesah perihal kehidupannya.
• sudut pandang sang tokoh utama membuatku ketawa.
• intinya sih si tokoh utama gagal mati alias disuruh memainkan game kehidupan meski tampak jelas dia tidak menyukai hal tersebut.
• terima kasih kepada sang penulis yang menuliskan buku seindah ini.
• selera humor si tokoh utama 🤝🏻 aku
Profile Image for june.
56 reviews1 follower
August 6, 2022
Buku ini nyeritain konsep kematian dan setelah kematian dari sudut pandang penulis. Karena aku punya keyakinan tersendiri ttg konsep tsb, this book is so entertaining. Lumayan triggering juga... i read on my own risk. 😅

Di buku ini juga menyelipkan isu-isu ttg perempuan... kayak tentang pernikahan dan filosofi dari make up an. Keren!! all in one yaa buku ini, i got new perspective. Suspense, thrill, horor, drama, gore.. mungkin itu ya genrenya hahaha
Profile Image for ndaeyy_.
25 reviews
January 19, 2023
Buku ini sebenarnya hanya terdapat sedikit halaman, tapi saya butuh waktu yang lama untuk menyelasaikan buku yang tidak lebih dari 200 halaman ini.
Awal-awal terasa membosankan dan terus menebak siapakah sosok 'aku' ini? Di pertengahan cerita sudah bisa menikmati buku ini karena saya sudah tidak terpaku lagi dengan siapakah sosok 'aku' ini? Tapi saya menikmati cerita tentang kehidupan Eneas, Sara, dan Rahma.
Penulis membuat kalimat dengan permainan kata dan satir yang cantik.
Displaying 1 - 30 of 73 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.