Teenlit
Samantha’s Secret
Gramedia 2010
Sebenarnya hari ini janji pada diri sendiri mau puasa buka laptop krn mau baca buku. Tapi krn banyak uneg uneg setelah baca buku Samantha’s Secret ini, maka batallah puasaku. Nggak pengen bahas kalo uneg-unegku ini nggak terlalu besar, tapi krn ini udah nyinggung sesuatu yang penting-bagiku-aku jadi pengen share.
Temanya tentang seorang cewek 16 an tahun, Samantha, yang sejak jatuh dari tangga di rumahnya, tiba-tiba memiliki kekuatan indigo, alias bisa liat roh orang mati.
IMHO :
1. Terganggu dengan banyaknya tanda kurung ( ), ini subyektif aku nggak suka pake tanda ini kalo nulis.
2. Settingan di Medan tapi nggak berasa, sekali lagi, ini selera, aku suka novel yang kadang di dialog tokohnya mencerminkan kultur daerah yg jadi settingan tempat.
3. Penggunaan tanda koma setelah ellipsis, ada beberapa. Entah kelewat atau aturan dari sononya begitu.
4. Ada adegan yang agak aneh, ngobrol di perpus, beberapa kali ditegor petugas perpus yg super disiplin keliatannya karna ngomong sekalimat dua kalimat, tapi lama kelamaan ngobrol panjang lebar kok nggak ada teguran. Biarpun digambarkan suaranya sangat rendah, tapi namanya perpus sekolah, hening, di awal ucapan sekalimat aja di tegor, kok panjang lebar malah nggak dipermasalahkan.
5. Si Raka, hantu cowok 16 an tahun cerita, dia produk keluarga kaya di mana ortunya manjain dia dengan harta, termasuk ngasi credit card dan ngabisin begitu byk uang. Rasanya kelewatan, nggak masuk di pikiranku, atau emang ini kerap terjadi? Apakah merchant yg nerima pembayaran itu nggak bisa ngeliat bhw yg pake CC itu seorang remaja ingusan? Mungkin aku yang kudet?
6. Ada kalimat yang memprovokasi pembaca (dan sialnya yg baca byk nya remaja pasti… ) : halaman 73 :
Namun di bawah pengaruh shabu, prestasi Raka justru terlihat semakin cemerlang. “Shabu bikin aku pintar, terus gembira, bebas dari depresi, selalu siap menghadapi tantangan apa pun,” aku Raka. “Malah bisa dibilang aku nggak takut mati.”
“Tapi akhirnya kamu mati juga!” celetuk Tobi seenak perut.
Samantha dan Hana tercekat mendengar ucapan Tobi, takut Raka tersinggung bahkan marah. Untunglah cowok itu kelihatan tidak peduli.
“Bagaimana kamu ketemu Gayatri?”
“Kami kenalan di diskotek. Dia ngeganja untuk menghilangkan stres dan sedih gara-gara orangtuanya rebut tiap hari. Karena merasa senasib, kami pun dekat. Saking dekatnya, tiga bulan yang lalu kami memutuskan bunuh diri bareng pake shabu.”
Dst dst dst….
“Yang kujalani sebenarnya masa depan orangtuaku. Aku kasih tahu ya, sebenarnya aku agak senang mati muda. Soalnya dengan kejadian memalukan yang kulakukan ini, aku sukses menampar kesombongan orangtuaku dst dst dst …
Biarpun di sana diceritakan tokoh Raka akhirnya mati, tapi cara penyampaian di atas bagiku sangat tidak mendidik. Di dalam tulisan itu,seorang remaja yang cenderung menelan apa yg dibaca/diliat nya mentah-mentah, akan punya pikiran bahwa : memakai shabu akan menyelesaikan masalah, menjadi alat balas dendam atau protes pada orangtua, bisa menjadi alat kalo mau bunung diri.
Andai di sana disampaikan juga rasa penyesalan sang tokoh karena telah pake shabu dgn tujuan yg nggak benar, maka lain masalahnya, pembaca akan langsung tahu bhw itu semua adalah nggak benar.
Cerita ini adalah fiksi, biarpun mungkin nggak pengen ada nilai moral, tapi paling nggak, tidak menyampaikan hal-hal yg memprovokasi ke hal negatif.
Remaja boleh aja baca buku ini, tp bagiku, perlu bimbingan orang tua utk menjelaskan mana yg benar mana yang salah. Untuk anakku, aku akan biarin dibaca, tapi nanti aku akan ajak dia utk diskusi.
7. Yang lainnya, Raka ini asumsi, umur 16 ketemu Gayatri, pacarnya, di diskotek. Umur 16 boleh masuk ke diskotek? Mau pake alesan duit sogokan atau pake KTP palsu? Bukan itu yg aku liat, tp ini ngasi contoh diskotek adalah tempat asik bagi remaja sbg tempat melarikan diri dari masalah, yang tanpa mereka sadari sebenarnya mereka mendatangi salah satu sarang dari masalah itu sendiri. Ok, ini kenyataan, aku tahu, semoga ini nggak bawa inspirasi bagi pembaca remajanya.
8. Baru denger tentang overdosis lalu mati karena Shabu. Kalo ada yg mau jelasin monggo. Penasaran, jadi buka Google, OD Shabu jarang terjadi.
9. Lanjut ttg point 7, ada dialog berikutnya : “Supaya orangtuamu tahu kenapa kamu bertindak goblok begitu, dan nggak mengulangi kesalahan mereka pada saudaramu.” Ini omongan tokoh lainnya menanggapi cerita si Raka yang bunuh diri itu. Kalo mau pakai ini sebagai pembenaran/koreksi point 7 tadi, aku ngerasa kurang kuat, dan tokohnya sendiri nggak menyesali apa yang telah dilakukannya.
10. Halaman 76 : “Ada sisi baiknya juga aku mati muda,” cetus Tobi mengagetkan Samantha. Emang di bagian bawah ucapan tobi itu mendapat protes. Tapi baca kalimat ini dari remaja umur 15 than, rasanya miris. Karena ngerasa ortunya nggak mampu biaya sekolah, maka lebih baik mati. Aduh.
11. Halaman 77 : Hana : “Aku bunuh diri, minum racun serangga gara-gara dilarang orangtuaku pacaran sama tetangga depan rumah. Padahal mereka melarang karena cowok itu pengedar ganja.” Dst dst… Duh. Di bagian bawah emang disebutin bhw itu adalah fakta mengerikan yg membuktikan betap raph dan dangkal opemikiran remaja-remaja seusiannya. Ok, penulis ingin ngasi contoh, tp bagiku kurang tepat krn nggak disertai rasa sesal dan solusi yng seharusnya mereka dapatkan untuk meyelesaikan apapun masalah di dunia ini.
12. Hal 163 : ada kesalahan fatal penyebutan tokoh saat Samantha nelpon rumah sakit :
Tangis ketakutan Samantha segera pecah ketika berbicara melalui ponsel. Suaranya…dst dst… Resepsionis kemudian meyakinkan Angela bahwa ambulans akan segera meluncur ke alamat tersebut begitu telepon ditutup.
Setelah mengakhiri pembicaraan, dengan susah payah Samantha berhasil dst dst dst….
Seharusnya meyakinkan Samantha, bukan Angela.
13. Tindakan menelepon rumah sakit tentang Angela yg berusaha bunuh diri emang dramatis, tapi kenapa nggak nelpon orangtua/orang rumah Angela ya? Emang mereka ada masalah juga, tapi nggak diceritakan bhw di rumahnya itu Angela benar-benar tinggal sendirian. Mungkin krn nggak tau nomer telepon rumah Angela? Tapi mrk ternyata udah temenan 4 tahun. Harusnya dijelaskan biar kuat alasannya.
14. Hal 173 : beban ba-tin. Knp pake tanda min ya? Ada arti tersendirikah?
15. Hal 185 : ceritanya tuh Samantha jenguk Angela di RS, lalu pulang, sebelumnya pamit ke 3 kawan hantunya dan minta tolong ke 3 hantu itu utk jagain Angela. Trus ceritanya Samantha nyampe kerumahnya, makan , kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya ternyata udah ada 3 teman hantunya itu. Katanya tugas menjaga Angela mereka delegasikan ke hantu baru di rumah sakit. Dalam kamar itu tiba tiba salah satu hantu tanya gini ke Samantha : “Bagaimana kabar Angela?” tanya Hana. Dialah yang paling cemas dst dst ….
Bukannya yg lebih uptodate itu mereka para hantu? Kok malah si hantu tanya ke Samantha yg jelas jelas pulang duluan.
Diluar semua itu, ceritanya lumayan menghibur, lumayan dapet ilmu nulis teenlit, hehehhe.
Sekian reviewku, agak panjang, biar sekalian jadi catatan pas aku jelasin ke anakku, takut lupa ^^