Novel ini menceritakan tentang keluarga gerilya yaitu Amilah, seorang janda dan anak-anaknya yang hidup di zaman revolusi. Saaman, adalah seorang tukang becak yang menjadi tulang punggung keluarganya namun dulunya Saaman adalah seorang pegawai Kementerian Kemakmuran. Saaman mempunyai enam saudara, dua di antaranya, Tjanimin dan Kartimin adalah prajurit gerilya. Ibu Saaman dikenal sebagai perempuan simpanan di tangsi KNIL lalu ia kehilangan akalnya saat Saaman tiba-tiba ditangkap oleh militer Belanda. Setiap hari dia marah-marah, mencaci, histeris juga melamun, mencari-cari anaknya. Karena pada saat itu tidak hanya Saaman yang diharapkan untuk memenukhi kebutuhan keluarganya yang miskin.
Amilah semakin terpuruk dengan keadaan tatkala anaknya yang bernama Tjanimin dan Kartimin gugur dalam medan perang revolusi, Saaman sendiri pada akhirnya gugur di depan regu tembak. Adik perempuannya, Salamah, diperdaya dan diperkosa oleh seorang sersan. Tragedi keluarga Amilah terus berlanjut. Rumah mereka kebakaran karena dibakar oleh Amilah dan Amilah sendiri kemudian menjadi gila lalu meninggal.
Cerita ini berakhir dengan penyesalan Salamah di pekuburan kakaknya dengan bersama Darsono yang seorang tunangannya. Darsono tetap mencintai Salamah meskipun ia sudah tidak perawan lagi. Darsono juga meyakinkan Salamah untuk kembali dan pulang dari pekuburan kakaknya, Saman. Setelah Salamah mau dibujuk oleh tunangannya, mereka berjalan pulang.
Pramoedya lahir di Blora pada 6 Februari 1925 dan meninggal pada 30 April 2006. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Pada sejarah hidupnya ia banyak menghabiskannya di penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun pemerintahan Soeharto. Pramoedya telah menikmati berbagai pengalaman seperti perampasan hak dan kebebasan. Sehingga hal ini mempengaruhi terhadap novel dan cerpen yang ia hasilkan.
Pramoedya menyukai karya sastrawan lain seperti Leo Tolstoy, Anton Chekov, atau John Steinbeck. Kekagumannya pada gaya bercerita Steinbeck yang detail juga mempengaruhinya dalam menulis. Namun, Pramoedya tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, yang dianggapnya tidak manusiawi.
Ibunya juga memberikan pengaruh kuat, karena semua yang tertulis dalam bukunya teinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, “seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun’. Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.
Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool, di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2 di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis.
Ketika tentara Indonesia berperang melawan koloni Belanda, tahun 1945 ia bergabung dengan para nasionalis, bekerja di sebuah radio dan membuat sebuah majalah berbahasa Indonesia sebelum ia akhirnya ditangkap dan ditahan oleh Belanda tahun 1947. Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949). Pada tahun yang sama ia menikah dengan wanita yang sering datang ke penjara ketika ia berada di penjara, yang masih keluarga dekat, Husni Thamrin. Lalu setelah itu ia menghasilkan beberapa karya dan salah satu antaranya yaitu novel Keluarga Gerilya.
Novel ini ditulis saat Pram berada di penjara Bukit Duri pada tahun 1949. Keluarga Gerilya terbit pada 1950, sesaat setelah Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) dibebaskan dari penjara Belanda. Konflik batin para tokohnya, terutama yang dialami oleh Saaman digambarkan dengan baik oleh Pram. Cerita yang digambarkan dalam tiga hari tiga malam ini membuat novel ini begitu padat dalam setiap fragmennya.
Karakteristik novel ini kaitannya dengan angkatan 45’ yaitu bahwa bahasa yang digunakan sederhana (menggunakan bahasa sehari-hari), tidak memperhatikan aturan-aturan dalam bahasa bahkan bentuk bahasa harus tunduk pada isi, kalimat-kalimatnya pekat, padat dan penuh isi. Namun pada novel Keluarga Gerilya ini sulit dicermati karena bahasa yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia lama, seperti saat ini kita biasa menulis kata “kadang” nah di novel tersebut, pengarang menuliskannya “kadjang” dan hampir seluruh kata menggunakan penulisan yang jika dibaca pada saat ini akan menjadi hal yang membingungkan. Meskipun begitu, novel ini menarik unuk dibaca karena pembaca dapat mengerti bagaimana keadaan zaman revolusi pada saat dahulu. Tema dalam novel ini yaitu roman dan pengorbanan keluarga yang ditinggal dalam perang, baik secara lahir maupun batin.
Dalam novel Keluarga Gerilya ini, Pramoedya memberikan penuh pelajaran tentang hidup melalui tulisannya yaitu tentang perjuangan anak bangsa, nasionalisme, kehidupan rakyat kecil dan prinsip-prinsip yang dipegang teguh meskipun dalam kondisi sangat sulit dan terpuruk. Sehingga dalam meneladani hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dari novel ini yaitu kita sebagai bangsa Indonesia harus membela dan cinta pada tanah air kita, jangan mudah tertipu daya oleh ajakan orang asing, dan selalu optimis dan semangat dalam menegakkan keadilan.