Timur Tengah antara tahun 1050 dan 1250M menghadapi berbagai tantangan, antara lain serangan Pasukan Salib Eropa dari barat dan Mongol dari timur, juga perebutan kekuasaan antara berbagai negara Islam dan berbagai suku. Zaman konflik itu membuat budaya militer Timur Tengah berkembang, menghasilkan kelas prajurit profesional yang dikenal dengan sebutan faris, yang berarti "penunggang kuda". Namun seorang faris bukan sekadar prajurit berkuda. Keahlian faris juga mencakup penggunaan berbagai senjata, taktik, hingga kode kehormatan. Dalam banyak hal tradisi militer dunia Islam masa itu lebih maju daripada Eropa.
Dalam buku ini, tersaji profil prajurit dan pasukan elite Muslim zaman pertengahan, berikut rincian persenjataan, siasat, organisasi, pelatihan, hingga kehidupan sehari-hari mereka. Ditunjukkan pula bagaimana beraneka keahlian militer dari berbagai suku - Arab, Turki, Kurdi, dan lainnya - saling melengkapi sehingga menghasilkan laskar yang mendukung keberhasilan militer para panglima Muslim terkemuka zaman itu, misalnya Shalahuddin Ayyubi.
Buku ini tidaklah menerangkan peran Pahlawan Muslim dalam Perang Salib dengan begitu terperinci. Namun, sisi yang boleh dilihat dari buku ini adalah bagaimana penulis ini bersikap tidak bias dan jujur dalam penulisannya berkenaan figur figur penting dan keadaan kem tentera islam semasa melawan tentera Salib. Bagi saya, penulis jujur dengan penulisannya.
In keeping with the title of the series, "Saracen Faris" takes a more in-depth look at the period which Nicolle covers in "Saladin and the Saracens," with more emphasis on what the training, career, and experience of a Middle Eastern cavalryman might have looked like. The way these soldiers fought and were recruited varied drastically over the time period covered, whether recruited as tribal elites, or interwoven into the cities in which they were based. Really a fascinating look at this important arm of Middle Eastern armies.
Membaca buku tentang bagaimana barat memandang islam memang menarik dan buku ini merupakan salah satu bagian itu. Buku ini mengupas dengan cukup (bisa dibilang kurang) mendetail tentang seluk beluk pasukan muslim kala perang salib, tema yang umat islam sendiri banyak melupakannya. Lumayan.... tapi seandainya saja lebih lengkap tentu akan lebih baik. Satu hal, buku ini JUJUR menilai bahwa pasukan muslim ketika itu lebih BERETIKA dan MODERN dibandingkan pasukan salib.