This scathingly satirical and hilarious novel, first published in Indonesia in 1991, affords both a blithely irreverent overview of Indonesian history in the Sukarno and Suharto eras and brilliant insights into the postcolonial condition.
The story begins in the 1930s, before Indonesia's independence from Dutch rule, and follows the fortunes of a poor Javanese village woman who becomes a servant in the household of President Sukarno. In a world where speaking truth to power really has no point, she learns the arts of accommodation and does very well for herself. The price she pays is the loss of her identity, her connection to her kin and origins, and her moral standing. Framed by the world of ritual shadow plays - the realm of witches like Durga and the goddess Umayi - Mangunwijaya’s novel gives an unblinking but remarkably compassionate account of people caught up in the great nationalist maelstrom of Indonesia’s recent history.
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya was an architect, writer, Catholic priest, and activist. Romo Mangun (Father Mangun) was publicly known by his novel "Burung-Burung Manyar" which was awarded Ramon Magsaysay Award for South-East Asia Writings on 1996.
Not only active in the fiction genre, Romo Mangun also wrote many non-fiction and architectural works such as "Sastra dan Religiositas" [tr.: Literature and Religiosity] which won The Best Non-Fiction prize in 1982.
Bibliography: * Balada Becak, novel, 1985 * Balada dara-dara Mendut, novel, 1993 * Burung-Burung Rantau, novel, 1992 * Burung-Burung Manyar, novel, 1981 * Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987 * Durga Umayi, novel, 1985 * Esei-esei orang Republik, 1987 * Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980 * Gereja Diaspora, 1999 * Gerundelan Orang Republik, 1995 * Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983 * Impian Dari Yogyakarta, 2003 * Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000 * Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999 * Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999 * Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999 * Menuju Indonesia Serba Baru, 1998 * Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998 * Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999 * Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999 * Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986 * Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999 * Politik Hati Nurani * Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978 * Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern * Ragawidya, 1986 * Romo Rahadi, novel, 1981 (he used alias as Y. Wastu Wijaya) * Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri, novel trilogi, 1983-1987 * Rumah Bambu, 2000 * Sastra dan Religiositas, 1982 * Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999 * Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001 * Spiritualitas Baru * Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999 * Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994 * Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988
Durga Umayi adalah sebuah roman yang bercerita tentang hidup seorang wanita bernama Iin Sulinda (yang nanti akan bertambah panjang jadi Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida Charlotte Eugenie de Progueleaux nee du Bois de la Montagne Angelin Ruth Portier Tukinah Senik). Ia biasa dipanggil dengan Nyonya Nusamusbida, Iin atau Linda atau Tiwi atau Madame Nussy, Bik Ci atau Tante Wi. Pokoknya, "..tergantung situasi dan suasana," kata penulisnya.
Lahir sebagai putri bungsu dari pasangan Obrus, seorang eks Kopral KNIL dan Heiho zaman Jepang dan gerilyawan zaman revolusi bersenjata dulu, dan Legimah, seorang penjual gethuk cothot di depan Klenteng, Iin tumbuh sebagai gadis cantik yang sering dikagumi para pemuda setempat, di mana pun beradanya. Kehidupan yang dijalaninya itu berlangsung dari sejak zaman Belanda sampai zaman Orde Baru.
Kunci untuk menerangkan garis besar Durga Umayi sebenarnya kembali ke judulnya itu, "Durga Umayi."
Durga Umayi berasal dari dua nama "Dewi Umayi" dan "Batari Durga." Dewi Umayi adalah sesosok dewi yang cantik jelita istri Batara Guru, penguasa kayangan. Namun sang dewi akhirnya dikutuk-jadi Batari Durga yang berupa wanita gembrot dan raksasi hitam-aspal-mengerikan dan disuruh tinggal di kuburan ngeri yang berbau mayat, Sentragandamayit. Dalam cerita selanjutnya, akhirnya, sang dewi itu dikenal sebagai dwi-sosok: Umayi yang cantik jelita tapi sakti sekaligus sayangnya Durga yang jahat pembunuh dan pembawa malapetaka. Singkat kata, semua itu terjadi akibat ulah suaminya (sekali lagi: akibat ulah laki-laki!), Batara Guru, atas dirinya.
Begitu pula dengan Iin Sulinda. Ia adalah wanita menawan. Selain wajahnya yang cantik, ia memiliki tubuh yang mengagumkan. Sebaliknya, ia sering membawa petaka bagi berbagai pihak, termasuk orang-orang yang dikasihinya.
Sebenarnya, Iin Sulinda dikenal sebagai call girl di kalangan diplomat dan negarawan dunia, pengusaha papan atas, dan sudah tentu para jenderal berbintang. Semua itu dilakukannya dengan dalih tugas negara demi lancarnya diplomasi-diplomasi, lobi-lobi penting tingkat internasional. Kelakuannya ini sering semata-mata untuk melihat bagaimana banyak laki-laki yang konon tokoh-tokoh gagah, agung, serba mentereng di depan publik, nyatanya tak berdaya oleh seorang wanita (maaf) di atas ranjang.
Patut dicatat, Iin adalah korban laki-laki. Hal ini dialaminya sedari kecil. Terasa sekali bagaimana kakak laki-lakinya begitu bebas keluar-main ke mana saja tanpa beban, sedangkan dirinya, Iin maksudnya, cuma pelampiasan kesal sang kakak. Misalnya saja Iin-lah yang menjahit baju-celana kakaknya yang sobek, atau Iin-lah yang ditendang kakaknya ketika sedang datang kesal.
Dalam sosok Iin yang Durga dan Umayi itu, penulis melontarkan kritik khasnya atas peran kaum laki-laki yang seenaknya. Ia meminjam sosok Iin untuk mengkritik. "Mentang-mentang para nabi laki-laki semua," begitu pikir Iin suatu ketika, "seenaknya saja laki-laki berbuat, tabrak sini tabrak sana seakan dunia punya sendiri." Padahal yang sering jadi korban adalah kaum hawa.
Dalam berbagai tulisannya, memang sering penulis mengangkat sembari mengingatkan tentang peran wanita yang sering disalah-artikan. Adalah umum bahwa kaum wanita adalah kaum dapur-sumur-kasur. Penulis pun tak tanggung-tanggung menuding Sigmund Freud atas pendapatnya bahwa anak perempuan sebenarnya merasa "minder" karena tak punya kelamin seperti laki-laki.
Nyatanya, kaum wanita tak begitu. Atas pendapat Freud itu, penulis menuduh justru kaum laki-lakilah yang "minder" tak memiliki dada seperti wanita, tak bisa menyusui seperti wanita. Bahkan para nabi yang semuanya laki-laki, toh pernah menyusui pada seorang ibu, pada seorang wanita. Meski sering di dapur-sumur-kasur, belanya, nyata sekali bahwa kaum wanita memiliki peran penting nan mulia bagi kehidupan manusia.
Selain itu, laki-laki bahkan sering tidak nalar, tolol tapi pongah, serba 'hantam kromo.' "Padahal cuma gumpalan daging koyor bukan malaikat bukan binatang dengan dada-dada kempes kerempeng tidak punya susu atau air setetes pun yang dapat memberi kehidupan kepada makhluk mungil (hal. 77)", demikian penulis meminjam Iin untuk berkata.
Sebagai contoh yang menunjukkan salah satu kebebalan kaum laki-laki itu adalah peristiwa penculikan Bung Karno dan Bung Hatta. Dalam peristiwa itu, para pemuda yang mendesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bukan saja menculik kedua bung itu, tapi juga menculik ibu Fatmawati beserta bayinya, Guntur. Padahal, alih-alih politikus, Guntur manusia dewasa juga bukan! Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada si bayi, apalagi kalau sampai merenggut nyawanya, begitu tanya Iin.
Namun yang patut dicatat, Durga Umayi adalah sebuah usaha penulis untuk memahami kedudukan dan keadaan kaum wanita yang terjadi selama ini. Karya ini adalah sebuah usaha untuk berempati. Meski demikian, karya ini tetaplah bersifat "kelaki-lakian," atau pengungkapan yang lahir dari sudut pandang laki-laki. Karenanya, di dalamnya penulis bisa saja gagal sama sekali.
Sebagai sebuah roman, penulis memberikan kesan aneh dengan eksperimen-eksperimen kalimat di dalamnya. Bahkan ada satu kalimat yang sampai mencakup dua halaman! Menurut Mohamad Sobary, membaca tulisan-tulisan Romo Mangun tidak bisa sambil menunggu giliran-periksa di ruang praktek dokter gigi. Karena itu, pernah dalam sebuah wawancara, penulis menegaskan bahwa tulisan-tulisannya bukan untuk pembaca-pembaca yang mau serba mudah mencerna dan memikirkan.
This is a novel of daunting complexity, reminiscent in its pulsing energy and linguistic bravado (in translation, at least) to "Finnegan's Wake" or Sadegh Hayedat's "The Blind Owl." That is probably appropriate in a novel by a Catholic priest that uses Hindu myth to comment on the history of a country that is majority-Muslim. Indonesia is also a country where more than 700 languages are spoken and when the time came to adopt a national one, it was decided to adapt Malay. The title is from Hindu myth: incensed at his wife Umayi's rejection of his desire, the god Guru (Siva) cursed her so that she became the monster Durga. The Umayi/Durga of the title is a woman whose name is Iin but who takes on many others in her journey through Indonesian history, changing her life and even her appearance as the country grows from colony to independence to flirtation with Communism to corrupt faux capitalism. It is often an unpleasant journey, as Iin becomes, in turn, guerrilla, assistant to the country's political elite, courtesan, and extremely wealth businesswoman, and when she returns to her village to meet her long-estranged twin brother Brojol, he does not recognize her. But the author's sympathy is clearly with his heroine, even in her darkest moments. The prose is really not all that quotable because trying to pull a few pungent words out of it is like trying to take a branch out of a raging river. Here is a brief description of Iin's clients as a high-class courtesan: "... they're really laughable those peacocks who think they have Don Juan's looks, peacocks showing off their fan tails with the shiny imitation mirrors on their fraudulent eyes,... they strut around clumsily clunkily for hours looking ridiculous but finding themselves fascinating and thinking that they're impressing the females...". There are also choice, devastating and explicit passages on the comparative men's work versus women's in the village, sex roles, and sex itself. So part of the author's anger is about how women are treated. But Iin is also a symbol of the author's people and how they are perpetually manipulated out of their heritage. Her last project is "a sort of Disneyland only featuring high points of indigenous culture from the whole archipelago complete with 1945 five-star hotels and motels including restaurants, discos (and it's still being kept secret sex-shops) 17 banks plus 8 casinos... of course all of this will be in an attractive composite architectural style and layout with artificial lakes, artificial basins and dams, artificial rivers streams and canals, gardens for leisure and romance both artificial and natural, with facilities for golf, tennis,... car racing and formula this and that motorcycles, holidays on ice..." That kind of incessant pace can make a short novel feel long. But the linguistic excess is not purely stylistic, and while the author's prose can seem like endless rapids it is not a matter of showing off, it is instead a way of channeling his rage at the exploitation of the women of his country, and of the people as a whole.
Durga Umayi sosok lain Dewi Uma, personifikasi dari Pertiwi tokoh utama dalam novel ini. I think, Pertiwi wanita besi yang pandai bersiasat. Paham bgt dalam seni menaklukan lawan dan menguasai keadaan. Srikandi yang kerap di plesetkan menjadi "Si Kendi" saat era perjuangan. Menjadi agen ganda, melapangkan lobi sekaligus memuaskan pelobi. Beberapa kali mengkadali para agen di Indonesia termasuk "Presiden". Novel yang cukup tipis namun sangat kenyang untuk dibaca. Padat, to the point ke konflik.
Novel Romo Mangun yang ini terasa cukup unik. Beliau, saat ditanya mengenai novel ini, menyebutnya sebagai "pada hakikatnya bersifat epik, namun dalam bentuk sastra mungkin boleh disebut anti-epik..." Dari pembacaan saya, rasanya ini cukup tepat. Ada kualitas2 unik yang agak berbeda dari novel2 Romo Mangun lainnya, tapi juga tak kehilangan ciri khas beliau.
Pertama2, beliau begitu menggemari tema fiksi sejarah dengan latar Indonesia dari zaman pra-kemerdekaan sampai masa Orde Baru. Kedua, permainan kosakatanya pun khas Romo Mangun, hangat mengalir tapi juga terselop satir, seperti mendongengkan wayang. Di sini aspek pendongengan wayang dan satirnya lebih dominan, bahkan menggunakan Dewi Uma dan Batari Durga sebagai kisah mitologi Jawa yang menjadi dasar filsafat untuk penggambaran sang tokoh utama.
Tokoh utama di sini bernama Iin Linda Pertiwi Nusamusbida, atau apalah segala perubahan nama dari nama asli sampai nama samaran, seorang perempuan yang hidup dari zaman perjuangan Hindia Belanda, menuju era awal kemerdekaan, aktivisme "komunisme", sampai menjadi agen rahasia zaman Orde Baru yang larut dalam "pembangunan" yang menindas. Perjalanan hidup Iin adalah kaleidoskop tentang Indonesia dengan segala naik turunnya. Dari menjadi jajahan Belanda-Jepang, merdeka, berusaha mandiri, bergerak maju, sampai dikuasai Orde Baru yang serba pembangunan.
Iin adalah saksi hidup sekaligus perumpamaan Indonesia. Negara yang berjuang bebas dari jajahan tapi kemudian menjual diri & kemerdekaannya. Indonesia adalah paduan Dewi Uma & Batari Durga. Tak pelak saya pun menemukan pengaruh2 khas Jawa maupun tendensi tradisi Yahudi-Kristen yang suka menggunakan perempuan sebagai penggambaran bangsa & umat pilihan Allah.
Durga Umayi pun dapat disebut sebagai anti-epik Indonesia oleh sentuhan khas seorang Romo Katolik Jawa berpendidikan Barat dengan kepekaan masyarakat jelata. Tuturan ala wayang & sindiran sana-sini tak pelak membuat saya senyum2 sendiri membacanya, walau memang rentetan kalimat sambung-menyambung minim titik & ganti paragraf agak membuat butuh waktu membacanya.
Ronduit meeslepend vertelde saga over postkoloniaal Indonesië. Het Nederlandse koloniale verleden, de Japanse bezetting, de Proklamasi van de onafhankelijkheid, de Revolusi en de oorlog tegen Nederland, de opbouw van het land in de jaren vijftig met al haar politieke, militaire en diplomatieke crises, de gewelddadige afrekening met de communisten in 1965/1966 en de vestiging van de dictatoriale Nieuwe Orde door Soeharto, waarin ruim werd gegeven aan buitenlandse kapitaal in het land: het komt op iets meer dan 200 pagina's allemaal aan de orde, zonder dat het verhaal ook maar een moment aan vaart of complexiteit verliest.
Al die gebeurtenissen zijn verweven met de lotgevallen van één vrouw, die het hart van de roman vormt: Iin, later Vrouwe de Nussy. Dat is niet haar enige naam, want in steeds wisselende gedaante en onder steeds andere namen en identiteiten raakt zij betrokken bij alle sleutelmomenten van het jonge land waarin zij - door haar vrouwelijkheid in te zetten - tot de hoogste echelons weet door te dringen. De enige twee mannen van wie zij werkelijk houdt stort zij in het ongeluk. Het boek laat zich lezen als een parabel over macht, die de levens van mensen verwoest en het land de vernieling in geholpen. En over moraal: welke keuzes maak je als mens? Kun je ontsnappen aan het noodlot, dat als een zwaard boven het lot der mensen zweeft?
De auteur was een bekende verteller in Indonesië en het boek sluit aan bij populaire verteltradities, die hier met veel lichtvoetigheid worden gecombineerd: elementen van de oude wayangtraditie, boven alle politiek verheven maar onmiskenbaar een manier om kritiek te uiten, mar ook moderne genres krijgen een plek: mysterie, spionage en her en der wat melodrama, al blijft de ontknoping dubbelzinnig. Noch Iin, Noch Indonesië zomaar schoongewassen uit deze geschiedenis tevoorschijn zullen komen. Het boek vonnist daarmee ook de Indonesische historische amnesie over het geweld waarmee ze ter wereld is gekomen.
Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida aka Charlotte Eugenie de Progueleaux nee du Bois de la Montagne aka Angelin Ruth Portier aka Tukinah Senik, tapi biasa dipanggil Ponyo Nusamusbida atau Iin atau Linda atau Tiwi atau Madame Nussy alias Bik Ci atau Tante Wi. Dia inilah tokoh utama cerita ini. Anak bekas tentara KNIL lalu Heiho lalu TNI, beribu penjual gethuk cothot di pinggir klenteng kota Magelang, menjalani kehidupan dengan sangat berwarna. Dari tukang cuci baju jaman penjajahan, pejuang wanita yang sangar, call girl papan atas yang membantu tugas negara dengan melancarkan diplomasi, sampai tukang lobi bisnis senjata dan obat terlarang tingkat dunia. Pokoknya gak kalah deh sama Mata Hari.
Membaca buku ini terasa intens dan tanpa jeda. Penulisnya serasa menumpahkan air bah berkelanjutan, penuh dengan gugatan Mbak Iin terhadap makhluk yang namanya laki-laki. Segala kejadian buruk yang menimpanya, selalu tak pernah alpa adalah akibat perbuatan lelaki. Ponyo Nusamusbida adalah Dewi Umayi, yang cantik molek tak bercela, yang berusaha mempertahankan nilai moralnya di hadapan Batara Guru hanya untuk dikutuk menjadi Betari Durga, raksesi gembrot hitam legam buruk rupa berbau mayit. Dan roda karma tak berhenti, kelak Madame Nussy juga membawa petaka bagi orang-orang yang dicintainya, Rohadi si pelukis dan Kang Brojo kakak kembar dhampitnya.
Ini kisah tragis. Tapi orang-orang seperti Tiwi tampaknya selalu punya kemampuan untuk bertahan. Penyintas. Sampai akhir.
Nb. kusudah bbrp lama mencari baca buku ini karena unsur magical realism yang ada di ceritanya. Tapi syusyah sekali menemukannya. Untung saja Buku Kompas mencetak ulang dan menerbitkan kembali. Dengan ilustrasi sampul yang lebih soft dan modern pula. Kerreeen dah.
Deze roman werd reeds in 1991 geschreven en dat maakt hem net zo speciaal. Op dat ogenblik was Suharto nog aan de macht. De auteur spuit kritiek op het ontstaan van het immense land. Hij kan dat alleen maar door een soort wayangvoorstelling als locomotief voor zijn verhaal te gebruiken. Bij een wayangvoorstelling kan er - net zoals bij de Antwerpse poesje - wel kritiek worden gespuid. Het is een soort uitlaatklep. En Mangunwijaya doet dat schitteren door de veeltalige Iin Sulinde als een metafoor voor de vrijheidsstrijd van Indonesia te gebruiken. Sterk werk.
Apakah Rama Mangun ini juga punya profesi sebagai dalang? Membaca buku ini terasa seperti menonton pertunjukan wayang dengan cerita yang intens dan bikin susah bernafas. Semuanya mengalir dengan rumit namun menggebu-gebu.
Tapi entah kenapa bikin teringat kisah K’tut Tantri di Revolt in Paradise sih.
I love this book. I picked it up along with Beauty is a Wound and an Indonesian grammar when I started studying the language. It's hard to express what's so great about Durga/Umayi, but I think it has something to do with it's narrative style which seems ironic or sarcastic at first, but is sustained so thoroughly throughout the novel that one begins to wonder if all the absurdities the narrator has explained to us have been sincere after all. Also, the main character is one of my favorites in literature. It's a female tragedy of epic proportion, which we don't get enough of in books.
Overall, it's highly underrated and I highly recommend it!
Really, really hard read. There's alot of symbolism in this book. The story is definitely NOT literal. The novel is actually about political unrest in Indonesia, told in a fantastical story by the author so the book wouldn't get banned.
Durga Umayi berisi sari-sari sejarah RI dari sudut pandang Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida, anak prajurit KNIL-heiho dengan bakul entho cothot di sudut lapangan dekat klentheng Cina kota tangsi. Iin adalah kembar dampit mas Brojol, petani gurem di desa yang bertanah tandus. Kontras hidup mereka karena Iin sukses luar biasa, jika sukses diukur dari besaran dolar, yen, dsb, serta ukuran waktu tempuh New York - Europa dgn Concorde. Namun kembar dampit tetep kembar, manusia2 yg dikaruniai ikatan batiniah yg sgt kuat. Lalu mungkinkan Brojol tak mengenali adik yg udah oplas pol2an agar selamat dari akibat sangkut paut kegiatannya menjadi kader tanaman bunga & interior design organisasi yang itu? Sangat mungkin. Batari Umayi yang cantik lagi baik bisa berubah jadi Batari Durga yang buruk rupa serba bau mayit. Begitulah perempuan yg jadi korban NEFIS, dan lain-lain dari sejarah bangsanya. Suara hatinya yg bening mulia semula, tak bisa lagi menghayati agungnya proklamasi.
Butuh waktu lama buatku namatin novel ini. Bukan karena sekadar tulisan beliau itu susah dibaca, tapi karena alurnya juga padat. Novel ini tentang transformasi Iin Sulinda yang dikaitkan dengan Durga Umayi. Iin Sulinda pernah bekerja sebagai tukang cuci di Pegangsaan Timur dengan Soekarno, mata-mata, sampai call girl untuk urusan banyak laki-laki pemuka negara. Intinya dia mulai berubah-ubah dan itu semua mengharuskannya untuk berganti rupa layaknya Durga Umayi. Seperti biasa juga, novel Romo Mangun selalu sangat "mencela laki-laki" dan terkesan sangat menonjolkan feminisme. Overall, ini buku yang nggak bisa dibaca dengan mudah. Tulisan Romo Mangun sarat dengan peristiwa sejarah dan manuver kalimat-kalimat yang aneh. Tapi sangat worth it, udah baca roman beliau ini menurutku udah termasuk hebat karena novel ini bikin aku slump!
"... so the text of the Proclamation would read In the Name of Villagers and the Poor, or maybe In the name of all the people of Indonesia but with the added note: except for members of the elite and officials and scholars slanderers-collaborators who need to be tested or bludgeoned into some self-awareness, but granted that's not elevated international-type language, so you can't say it but obviously that's the way things are, it's sad but true but like everybody knows in the tropical forests you don't only find wild buffalos or mouse deer but also a lot of scorpions and snails and other creatures that only know how to eat and sleep, they don't have ideals as high as stars in the sky like Bung Karno constantly thunders on about."
Absolutely hilarious and witty. The whole book reads like a schizophrenic-Tourrete's syndrome mess that is not simply crazy but a master piece. The literary style is the most unique one I've ever seen and not only takes a while to get used to but is aggravating, aggressive and confusing in a loveable way that leaves you wondering if you truly understand yet also exhumes the fine detail of this masterfully written web entangled mess that is Durga/Umayi with each word being not only carefully but purposefully chosen.
It takes a while to get used to the writing style as it is very different to how we usually construct our sentences. Other than that, it is a very good read. The introduction and afterword by the translator really helped in understanding the story itself.
Karya Romo Mangun yang unik karena permainan kosa-kata yang beliau gunakan dalam bercerita sama uniknya dengan sang Tokoh. Kali ini Romo Mangun lebih keras dalam menyuarakan feminisme dengan karyanya.
I really liked the page-long sentences and very poetic language. But I didn't understand enough of the story to fully enjoy it, and I don't know enough of the political backgrounds to understand the metaphors.
Javanese puppet theater is an interesting narrative form to introduce into the toolkit of the novel. But the irreverence seems mismatched to the subject matter of Indonesia's 20th century history, over which the tragedy of 1965 casts a pall.
Op een zwierige en directe verteltoon verhaalt deze roman over de idealen, interne verdeeldheid, sociale verhoudingen en politieke strubbelingen tijdens de Revolusi in Indonesië. Maar nu eens vanuit het vrouwelijke perspectief, waarbij we de belevenissen en levensloop van de jonge vrouw Pertiwi volgen. Zij ondersteunt, vecht, moordt en heeft lief in deze intense tijd in onze geschiedenis. Zij neemt meerdere identiteiten aan, ontwikkelt zich tot een invloedrijk persoon in de politiek en de internationale jetset van de tweede helft van de twintigste eeuw. De verteltrant is onomwonden, (zelf)kritisch op de revolutionairen, soms onderhuids ironisch, dan weer licht absurd en regelmatig ronduit hilarisch. Een verrassende, oosterse literaire stem!
seperti yang ditulis di belakang buku, tulisan romo mangun dalam durga umayi ini, memang memaksa kita untuk tersenyum. banyak pelajaran yang dapat saya terima dari buku ini. ciri khas membaca buku2 sastra lawas. bisa belajar banyak hal skaligus.
guyon yang berbobot. endingnya gantung, dan bikin mikir. oya ada tulisan yang menarik ttg para founding father. bung hatta yang jadi puntodewo dan bung karno yang jadi janoko, tapi bung karno juga ada sisi adipati karna juga loh, seperti namanya..
This is a great book, though somewhat hard reading as every sentence is a run-on--often hundreds of words long. You have to get used to that, and the fact that some things get repeated quite a bit, and that, if you aren't Indonesian, the context is hard to get/understand. Still, if you keep going it begins to come together and the various twists and turns take you through a unique, slightly jaundiced, view of modern Indonesian history.