Peran Indianisasi yang diangkat oleh Raffles disini menjadi salah satu daya tarik tentang keberadaan bangsa Arya yang disebut juga “penjajahan bangsa Arya” dalam artian positif dan dinamis.
Persentuhan budaya India di tanah Jawa yang meresap di kalangan masyarakat Jawa adalah legenda Raja Aji Saka yang mengisahkan putera raja keturunan Brahmana datang dari India ke Jawa dan menetap di Medangkamulan yang pada awalanya menghalau raksasa dan menyebar tata tertib dan peradaban.
Agak miris juga karena kajian lengkap tentang Jawa (Jogja dan Solo) kebanyakan ditulis oleh orang Eropa. Tetapi, berkat jasa mereka juga kita kini bisa membaca sebuah kajian komprehensif ttg Jawa lewat sudut pandang keilmuan dan objektif. Kita juga sekali lagi patut berterima kasih kepada para ilmuwan dan pencatat dari era Hindia Belanda dan Inggris karena turut mencatat dan mendata berbagai info penting tentang Jawa. Dari catatan catatan dan kajian kajian mereka inilah, kita yang lahir jauh di penghujung abad bisa memiliki catatan yang hampir lengkap tentang peradaban Jawa, terutama era setelah abad ke 15 karena era sebelumnya hanya didapat dari prasasti dan daun lontar.
Karya Lombard yg tersusun atas 3 jilid ini (saya baru punya dan kelar baca buku ke 3) menjadi salah satu rujukan terpenting bagi siapa pun yang tertarik dengan sejarah dan kebudayaan Jawa. Buku ini menjadi rujukan bagi kebanyakan (kalau tidak semua) buku sejarah yang terbit di Indonesia. Tidak mengherankan karena seri ini memang luar biasa lengkap mengupas Jawa dari dalam, sehingga kita bisa melihat Jawa dari luar meskipun pembaca sendiri seorang Jawa.
Dimulai dari era prasasti ketika sumber sejarah berasal dari ukiran batu dan lembaran lontara, lalu beralih ke era kedatangan Islam, dan diakhir dengan Jawa di masa kolonialisme Eropa. Di era terlahir inilah, ironisnya, sumber sejarah Jawa berasal. Kebiasaan orang Eropa untuk mencatat dan mendokumentaai dalam bentuk tulisan menjadi satu satunya sumber terlengkap dan terbilang objektif tentang Jawa (meskipun bias aubjektivitas itu pasti ada). Dari Jawa sendiri, naskah naskah sastra seperti Pararaton, Negarakertagama, hingga Serat Centini menjadi rujukan yang sangat berguna meskipun menurut Lombard kita baru bisa mengetahui informasi seputar aejarah Kraton sebesar 40% saja.
Buku dengan daftar buku referensi mencapai hampir 75 hlm ini akan membeberkan secara singkat tentang Jawa sebagai sebuah budaya yang muncul berkat saling silang dengan berbagai kebudayaan lain. Di sisi yang lain, Jawa itu sendiri masih berdiri kukuh dan tetap bertahan. Sebuah buku yang luar biasa penggarapannya, dan pasti akan lebih dahsyat jika kelak ada orang Jawa asli yang menyusun sebuah buku tentang Jawa selengkap ini.
Trilogi Nusa Jawa ini dipungkasi oleh bahasan tentang warisan kerajaan-kerajaan konsentris, ditulis secara diakronis namun berlawanan arus membuat triologi buku ini menjadi menarik.
Pada jilid terakhir, penulis menyibukkan dirinya untuk memberitahu pembaca bahwa kerajaan konsentris masih memiliki pengaruh pada tata laksana kiwari ini.
Ada banyak macam pengaruh namun yang paling kentara dan sangat vulgar yaitu pembahasan tentang masyarakat yang sangat hierarkis beserta birokrasi yang njelimet. Kesemuanya itu masih bisa kita rasakan dampaknya sejauh ini.
...putih adalah warna ketenangan batin (mutmainah), merah adalah warna marah (amarah), kuning adalah warna keinginan (supiah), dan hitam adalah warna kecemburuan (luwamah)...