Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacau-balauan ketika keshogunan tercerai-berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.
Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh kharisma, namun brutal. Ieyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini. Ia lahir sebagai anak petani, menghadapu dunia tanpa bekal apapun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.
Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, penulis bestseller internasional, yang berisi pawai sejarah dan kekerasan, pengkhianatan dan pengorbanan diri, kelembutan dan kekejaman. Sebuah epik yang menggambarkan kebangkitan feodal Jepang secara nyata.
Pen-name of Yoshikawa Hidetsugu. Yoshikawa is well-known for his work as a Japanese historical fiction novelist, and a number of re-makes have been spawned off his work.
In 1960, he received the Order of Cultural Merit. Eiji Yoshikawa (吉川 英治, August 11, 1892 – September 7, 1962) was a Japanese historical novelist. Among his best-known novels, most are revisions of older classics. He was mainly influenced by classics such as The Tale of the Heike, Tale of Genji, Outlaws of the Marsh, and Romance of the Three Kingdoms, many of which he retold in his own style. As an example, the original manuscript of Taiko is 15 volumes; Yoshikawa took up to retell it in a more accessible tone, and reduced it to only two volumes. His other books also serve similar purposes and, although most of his novels are not original works, he created a huge amount of work and a renewed interest in the past. He was awarded the Cultural Order of Merit in 1960 (the highest award for a man of letters in Japan), the Order of the Sacred Treasure and the Mainichi Art Award just before his death from cancer in 1962. He is cited as one of the best historical novelists in Japan.
Pertama kali dibeli dan dibaca pada bulan Januari 1994.
"Sambil mengembara dan mengamati golongan pendekar--jenderal-jenderal yang baik, jenderal-jenderal yang buruk, para penguasa provinsi besar dan kecil--hamba mencapai kesimpulan bahwa tak ada yang lebih penting daripada pandai memilih majikan."
Terlalu sombongkah pemikiran seorang pemuda miskin tanpa keahlian apa-apa, di saat kebanyakan orang sudah merasa bersyukur asal punya pekerjaan sekadar untuk menyambung hidup?
Terlahir sebagai anak Kinoshita Yaemon, anak seorang mantan prajurit infanteri yang menjadi petani setelah invalid, Hiyoshi kecil tidak bermimpi menjadi seorang samurai. Tapi setelah beranjak besar dan bekerja pada majikan yang berbeda-beda, ia sampai pada kesimpulan, bahwa tak ada yang lebih penting daripada pandai memilih majikan.
Bukan masalah baik tidaknya perlakuan seorang majikan, tapi apakah sang majikan dapat membuatnya rela berbuat apa saja, bahkan menyerahkan nyawa.
Hiyoshi pernah bekerja sebagai pelayan pada saudagar tembikar, ronin dari marga Hachisuka, dan terakhir pada Matsushita Kahei, seorang pengikut marga Imagawa.
Hidup di dunia pelayan memberikan kesempatan bagi Hiyoshi untuk mempelajari sifat-sifat manusia. Dan tidak seperti pelayan lainnya yang hanya bekerja untuk makan, pikiran Hiyoshi selalu terbuka untuk mempelajari situasi dan kondisi negerinya. Sayangnya, pelayan biasa yang terlalu cerdas dan terlalu disukai majikan mudah menimbulkan banyak musuh, dan pada akhirnya Hiyoshi terpaksa kembali ke kampung halamannya di Owari.
Di sanalah Hiyoshi terpikat pada Oda Nobunaga dan literally memohon di bawah kakinya untuk mengabdi. Mengapa demikian? Ia dapat melihat karakter asli Nobunaga di balik semua topeng kepandiran yang dipasang Nobunaga untuk mengelabui musuh-musuh terdekatnya, keluarganya sendiri. Untunglah Nobunaga tertarik pada semangat dan tekadnya, dan menerimanya sebagai pengikut.
Dengan nama baru Kinoshita Tokichiro, karirnya sebagai pengikut Nobunaga mulai berkembang. Awalnya hanya sebagai pembawa sandal, namun kesigapannya dalam perang melawan pemberontakan dari pengikut Nobunaga, Shibata Katsuie dan Hayashi Mimasaka, membuatnya mendapat perhatian khusus.
Tokichiro naik pangkat sebagai petugas dapur, dan membuat perubahan signifikan di dapur benteng Kiyosu. Setahun kemudian, ia ditugaskan menjadi pengawas arang dan kayu bakar untuk efisiensi. Taktiknya melonggarkan aturan pemakaian arang dan pendekatannya dengan para saudagar pemasok membuat tugasnya berhasil dengan gemilang. Ia juga mencanangkan reboisasi, penanaman lima ribu bibit untuk setiap seribu pohon yang ditebang! Atas jasanya sebagai problem solver, ia pun mendapat tugas baru untuk mengurus kandang.
Kenaikan gaji tidak ada apa-apanya dibandingkan kata-kata Nobunaga: "Kau telah bekerja dengan baik. Orang seperti kau di tempat seperti itu adalah sia-sia." Pengikut mana yang tidak bahagia mendapat pengakuan seperti itu?
Kesimpulannya adalah: Oda Nobunaga seorang pemimpin yang sangat memahami talent management.
Tokichiro Hideyosi, sosok pembelajar, walaupun tanpa setatus pelajar. sosok yang kaya, tanpa warisan kekayaan. Kecerdikan, semangat, serta kerja kerasnya mampu menciptakan paradigma baru pada sosok samurai.hidupnya memberikan pesan bahwa lingkaran kemiskinan bukan penghalang untuk berkembang dan mencapai puncak! "seorang samurai tidak bekerja hanya untuk mengisi perut. Dia hidup untuk memenuhi pangilannya, untuk kewajiban dan pengabdian. Makanan hanyalah tambahan, sebuah berkah dari Tuhannya. jangan menjadi lelaki, yang hanya karena terlalu mengejar makanan mengahabiskan hidupnya dalam kebimbangan" #kutipan favorit.
Saya teringat beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih di MAK, saya membaca jilid pertama dari novel Musashi. Karena waktu itu saya belum begitu gemar membaca, kesanggupan saya hanya sampai di jilid pertama saja. Baru beberapa tahun kemudian, seorang teman membantu saya mendapatkan novel itu dalam bentuk lux, jadi tiap jilid sudah disatukan dan tidak dipisah-pisah dalam satu buku. Memang saat itu saya sudah amat menyukai buku, sehingga buku setebal 1000-an halaman itu saya lahap dalam seminggu. Betul-betul menyenangkan. . . !
Pengarangnya adalah Eiji Yoshikawa, seorang novelis Jepang yang mendapat penghargaan Mainichi Art pada tahun 1962. Waktu itu, di tengah-tengah saya membaca Musashi, saya sempat berpikir betapa pengarangnya punya cakrawala imajinasi yang sangat luas. Dia mampu menceritakan sosok Musashi dalam sekian halaman, dengan gaya bertutur yang sangat menarik dan mengesankan. Novel ini mestinya tidak sekitar 1000-an halaman, karena yang saya baca adalah terjemahan dari versi ringkasan dari novel aslinya. Seakan-akan, dia tidak pernah kehabisan bahan untuk dituturkan kepada pembaca.
Tapi ini belum semuanya. Di hadapan saya sudah ada karangan Eiji Yoshikawa yang lain yang juga tidak kalah tebal dari Musashi tadi, yaitu Taiko. Novel ini, mirip dengan Musashi, adalah sebuah novel sejarah yang mengisahkan Jepang abad ke-16. Saya betul-betul awam tentang sejarang Jepang. Tapi, dengan novel ini kita akan diperkenalkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jepang pada masa itu, tentunya dengan cara bercerita ala Eiji Yoshikawa.Tokoh utama dalam novel ini berkisar pada tiga orang: Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya tentu tidak asing bagi masyarakat Jepang karena anak-anak sekolah mereka diajari tentang tiga kepribadian yang mewakili ketiga orang itu. Ketiga kepribadian itu terangkum dalam tiga senryū:
· Nakanunara, koroshiteshimae, hototogisu (jika burung tekukur tidak mau bernyanyi, bunuh saja dia!)
· Nakanunara, nakashitemiseyou, hototogisu (jika burung tekukur itu tidak mau bernyanyi, bujuk dia!)
· Nakanunara, nakumadematou, hototogisu (jika burung tekukur itu tidak mau bernyanyi, tunggu!)
Nobunaga yang terkenal sangat kejam adalah yang pertama; Hideyoshi yang terkenal sangat cerdik adalah yang kedua; sementara Ieyasu yang terkenal sangat gigih adalah yang ketiga. Dan ketiga orang inilah yang telah berperan besar dalam menyatukan Jepang dari ketercerai-beraian pada abad ke-16.
Namun, yang paling ditonjolkan dalam novel ini adalah Toyotomi Hideoshi, karena ia adalah anak seorang petani miskin yang berhasil menjadi seorang samurai yang disegani, bahkan mampu mengusai seluruh kepulauan Jepang ke dalam genggamannya. Ini tentu sangat luar biasa!
Ceritanya berawal dengan Hayoshi (nama kecil Hideyoshi), putra seorang samurai rendahan yang cacat akibat perang. Bapaknya, Kinoshita Yaemon, mengabdi pada Oda Nobuhide, penguasa provinsi Owari, bapak Oda Nobunaga yang terkenal. Karena cacat yang dideritanya, tulang punggung keluarga Kinoshita ditanggung oleh istrinya sebagai petani miskin yang bahkan untuk makan saja mereka sangat kekuarang. Namun, meskipun menjadi petani, Kinoshita selalu menyemangati Hayoshi, yang waktu itu masih berumur 6 tahun, agar suatu saat bisa menjadi seorang samurai yang gagah.
Setahun kemudian, ayah Hayoshi jatuh sakit dan meninggal. Ini membawa perubahan besar bagi keluarga Hayoshi. Ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Kesukaannya berjudi dan mabuk-mabukan membuat kehidupan keluarga semakin melarat. Sedangkan Hayoshi selalu dipukuli olehnya karena dianggap terlalu nakal dan liar.
Karena itu, Hayoshi kemudian dikirim ke sebuah kuil agar bisa menjalani seorang biksu. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena ulahnya yang tak termaafkan, Hayoshi terpaksa dipulangkan kembali kerumahnya. Dari sini kemudian diceritakan bagaimana Hayoshi berusaha mencari pekerjaan kesana-kemari, namun semua itu tidak bertahan lama karena Hayoshi pasti membuat ulah yang membuatnya terusir dari pekerjaannya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bekerja kepada seorang samurai saja dan berkarir di sana sebagai sebuah kelas pejuang.
Maka mulailah perjalanan Hayoshi mencari seorang tuan yang akan mempekerjakannya. Dia beralih dari satu tuan ke tuan yang lain, dari satu provinsi ke provinsi yang lain, sekedar untuk menentukan seseorang yang cocok dan akan dia layani seumur hidup. Mulai dari Matsushita Kahei dari klan Imagawa hingga Imagawa Yoshimoto, penguasa provinsi Suruga. Dan akhirnya, bertemulah dia dengan Oda Nubunaga, seorang samurai muda penguasa provinsi Owari yang baru saja menggantikan bapaknya. Dialah penguasa yang bapaknya adalah junjungan ayah Hayoshi. Meskipun Hayoshi pergi kemanapun, toh akhirnya dia harus menjalani takdirnya. Dari sini, maka perjalanan dan karir Hayoshi yang sebenarnya dimulai.
Karirnya sebagai seorang samurai tentu tidaklah serta-merta. Pertama-tama dia menjadi pelayan bawahan, kemudian menjadi pembawa sandal Nobunaga. Selanjutnya, dia berhasil menjadi kepala mandor untuk memperbaiki dinding benteng Kiyosu yang roboh, menjadi pengawas dapur, pengawas kayu arang dan pengawas kandang kuda. Semuanya dilaluinya dengan sungguh-sungguh serta penuh pengabdian, dan tentunya gajinya juga semakin besar. Hingga jabatannya sebagai pengawas kandang kuda inilah namanya diganti menjadi Kinoshita Tōkichirō.
Ini tidak sekedar mengganti nama Hayoshi menjadi Kinoshita Tōkichirō saja. Dengan jabatannya yang baru ini, dia mendapat tempat tinggal baru seperti halnya para pejabat lainnya. Dia juga mulai memakai pakaian kebesarannya yang berlambang bunga paulownia. Dan dia juga berhasil menikahi seorang perempuan putri seorang kepala pasukan pemanah: Nene.
Dari bakatnya yang sangat menonjol ini, Tōkichirō dianugerahi jabatan yang membawahi 30 prajurit. Dengan jabatannya yang baru ini, dia mengikuti Nobunaga berperang melawan penguasa provinsi Mino, Saito Totsuoki, yang bermarkas di benteng Inabayama. Di dalam perang inilah kemampuan Kinoshita Tōkichirō bernegosiasi yang luar biasa teruji dan ini tentunya menguntungkan Nobunaga. Kinoshita Tōkichirō berhasil membujuk Hachisuka Koroku, ketua gerombolan ronin yang bersekutu dengan klan Saito, dan Takenaka Hanbei, seorang ahli strategi marga Saito, ke dalam barisannya dan mendukung Nobunaga. Dengan demikian, Nobunaga bisa memenangkan peperangan di benteng Inabayama, dan karena itulah Kinoshita Tōkichirō menjadi salah satu jenderal Nobunaga. Dan nama Kinoshita Tōkichirō diganti oleh Nobunaga menjadi Toyotomi Hideyoshi.
Sampai di sini, kisahnya berlanjut menjadi ke arah perluasan kekuasaan Nobunaga lebih lanjut dengan Hideyoshi sebagai salah satu Jendralnya yang paling berjasa. Kali ini Hideyoshi memimpin pasukan dalam Perang Anegawa, di mana Oda Nobunaga bersekutu dengan Tokugawa Ieyasu untuk menundukkan Benteng Asai Nagamasa, penguasa provinsi Omi dan saudara ipar Nobunaga, dan Asakura Yoshikage, penguasa Echizen. Perang ini berlangsung selama tiga tahun dan, tentu saja, dimenangkan oleh Oda Nobunaga.
Hideyoshi kemudian ditetapkan sebagai penguasa Odani, markas besar Asai Nagamasa, dan kemudian pindah ke Kunimoto dan mengganti namanya menjadi Nahagama sebagai penghormatan terhadap Nobunaga. Inilah untuk pertama kali Hideyoshi mengepalai sebuah benteng, dan selanjutnya membawa istrinya dan ibunya, yang sekarang sudah tinggal di rumah istrinya, ke tempat ini. Dan dari tempat itu pula Hideyoshi berhasil memegang kendali terhadap pabrik senjata api di Kunimoto yang dibangun Asai dan Asakura. Di bawah kendali Hideyoshi, pembuatan senjata api meningkat secara drastis.
Tugas Hideyoshi yang sangat berat adalah ketika dia diserahkan tugas untuk menaklukkan penguasa provinsi-provinsi bagian barat, karena peperangan ini ditempuh selama bertahun-tahun. Namun, di tengah-tengah eksedisi yang belum rampung, Hideyoshi sudah mendengar bahwa Nobunaga meninggal. Nobunaga dibunuh di kuil Honno (oleh karenanya peristiwa ini dikenal dengan Pembunuhan di Honnō-ji) oleh Akechi Mitsuhide, salah satu pengikut Nobunaga sendiri.
Inilah titik balik yang dihadapi oleh Hideyoshi. Kematian Nobunaga tidak sekedar menghilangnya sesosok penguasa dalam suatu kekuasaan, melainkan juga menjadi bom waktu yang akan meledakkan kekuatan-kekuatan kecil yang selama ini mengintip di belakangnya. Hideyoshi menyadari ini. Namun dia harus bertindak cepat agar sumbu bom waktu itu bisa dia padamkan dan bisa dia lemparkan kepada lawan-lawannya. Pertama-tama dia harus mengalahkan Akechi Mitsuhide dulu. Dan Hideyoshi memang bisa mengalahkannya di Yamazaki, 13 hari setelah dia membunuh Nobunaga.
Setelah itu, ditetapkan akan diadakan sebuah pertemuan akbar di benteng Kiyosu, tempat Nobunaga bertolak untuk melebarkan kekuasaannya, untuk membicarakan suksesi. Saat itu, Hideyoshi mematahkan usulan Sibata Katsue, salah satu pengikut senior klan Oda, yang menjadikan Oda Nobutaka sebagai penguasa selanjutnya, dan berhasil mengangkat Samboshi (atau Oda Hidenobu) sebagai pengganti Nobunaga yang didukung oleh Niwa Nagahide dan Ikeda Tsuneoki, dua pengikut senior klan Oda yang lain. Dengan demikian, kartu kunci sudah di tangan Hideyoshi dan dia melebarkan pengaruhnya di dalam keluarga klan Oda. Namun, terjadi tegangan antara Hideyoshi dan Katsue, dan pada perang Shizugatake di tahun berikutnya Hideyoshi menghancurkan kekuasaan Katsue. Dari sini kemudian dia terus mengonsolidasikan kekuasaannya.
Tinggal satu batu sandungan yang masih mengganggu jalannya Hideyoshi menuju kursi kekuasaan tertinggi di seluruh Jepang: Tokugawa Ieyasu. Karena masih menyimpan amarah terhadap Hideyoshi, Oda Nobukatsu (atau Nobuo) bersekutu dengan Tokugawa Ieyasu untuk melawannya. Peperangan ini dikenal dengan perang Komaki dan Nagakute yang akhirnya dimenangkan oleh Hideyoshi, meskipun dia mengalami kerugian yang tidak sedikit. Oda Nobukatsu setuju berdamai dengan Hideyoshi, dan karena Hideyoshi mengirim adik perempuan dan ibunya ke Ieyasu sebagai tawanan, Ieyasu akhirnya sepakat menjadi pengikut Hideyoshi.
Dengan demikian, seluruh kekuasaan yang dahulu dipegang Nobunaga sekarang sudah beralih ke tangan Hideyoshi. Lebih dari itu, Hideyoshi malah sudah merayakan penghargaan gelar baru dari kekaisaran, sebagai bukti bahwa sepak terjangnya telah direstui oleh pihak kaisar. Dengan kekuasaannya ini, dia kemudian membangun benteng Osaka di daerah bekas Kuil Honganji yang dahulu dihancurkan oleh Nobunaga.
Demikianlah, pengarang menuntun kita, peristiwa demi peristiwa, seakan-akan seluruh jalannya peristiwa adalah miliki Hayoshi alias Tōkichirō alias Hideyoshi saja. Dari usia 4 tahun hingga berhasil menjadi penguasa seluruh Jepang pada umurnya yang ke lima puluh, cerita Hideyoshi mengalir tanpa terbendung oleh kisah lain. Padahal, di sela-sela menanjaknya karir Toyotomi Hideyoshi, sebuah kisah lain yang tak kalah menarik mengajak kita mengintip peristiwa yang terjadi dengan Tokugawa Ieyasu, yang setelah masa karir Hideyoshi sudah tamat dia mengambil alih kekuasaan seluruh Jepang sampai 250 tahun kemudian. Dan novel ini tidak bercerita lebih lanjut.[look also at curusetra.wordpress.com]
This is one of the few books that I liked to read that was in my mother tongue.
Ketika membaca buku ini, gw langsung jatuh cinta sama Hideyoshi. Being a fan of Japan, I had come to know of the 3 major figures in the Sengoku period that eventually unifies Japan under 1 rule: Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi and Ieyasu Tokugawa.
Nobunaga and Tokugawa is clearly famous, one is famous due to his violence and the incident at Honnouji, while the other is famous for 'closing up' Japan from foreigners.
So, that leaves Hideyoshi, who isn't that famous compared to the other 2. Yet this book made me realize that I actually prefer him over the rest of the unifiers.
It's a very nice book, and I had read it in Indonesian, so I guess the original Japanese version must have been even nicer (though the main plot doesn't really change, I suppose....)
Menarik untuk setrategi suatu pemerintahan di jaman peperangan. Cukup menarik ulasannya, tetapi bagiku yang terbaik tetap buku-nya eiji yang fenomental. mushasi.
kehidupan masa kecil toyotomi hideyoshi seperti penganalis, though, anak anak kecil seperti itu pasti merasa ingin tahu apa yang ia lihat di depanya. tetapi toyotomi ialah anak yang special.
Mengangkat latar era Sengoku (abad ke-15 dan ke-16) di Jepang, kisah yang panjang (banget) ini menyorot situasi perang sipil saat para penguasa feodal alias daimyo sibuk rebutan tahta, lahan, dan pengaruh. Yang paling banyak dapat panggung adalah trio bersejarah: Oda Nobunaga, Ieyasu Tokugawa, dan Hideyoshi Toyotomi. Dalam judul ini, Hideyoshi pada khususnya diposisikan sebagai jagoan utama: anak bertampang monyet dari keluarga melarat yang pelan-pelan merintis karier sebagai pengikut samurai, sebelum menjelma jadi panglima yang disegani.
Gaya penuturannya padat dan lugas, sementara penerjemahannya juga bagus sehingga mudah diikuti. Ini sangat membantu, mengingat panjang dan cakupan narasinya yang tidak tanggung-tanggung (untung saya dapatnya yang edisi serial 10 volume, jadi tidak perlu sampai bawa-bawa satu buku seberat dosa). Biarpun, ujungnya kewalahan juga mengingat-ingat nama-nama para tokoh pendukung, yang biasanya langsung diperkenalkan berbondong-bondong di tiap volume dan bikin keder kalau muncul kembali (‘orang ini siapa ya? Kapan nongolnya?’). Jadi terkenang komentar saya bertahun-tahun lalu buat sobat sesama penikmat buku ini, si Guguk, kalau bagusnya nama-nama tokoh di cerita macam begini harus kita catat secara manual—saran yang saya sendiri ujungnya lupa terapkan, haha.
Karena awal tahun ini saya juga kelar baca serial Shogun-nya James Clavell, yang berfokus pada periode sama dan fokus utamanya pada Tokugawa, mau tidak mau jadi ingin membandingkan. Taiko ini terasa lebih membumi dan ‘patuh’ sejarah, menggunakan nama-nama tokoh yang sebenarnya dan mengikuti urutan peristiwa nyata. Di sisi lain, Shogun lebih punya kedalaman cerita dan zona moralitas abu-abu tanpa benar-benar ada tokoh jagoan, dibandingkan Taiko yang penokohannya lebih konvensional dan mengikuti alur plot (plot-driven… atau bisa dibilang battle-driven di paruh kedua cerita pada khususnya, saat plotnya berkisar si A menyerang si B, si B memutuskan persekutuan dengan si C, dan sejenisnya).
Kalau ditanya seru atau tidak, ya jelas seru. Bagian paling berkesan buat saya di antaranya: keputusan penting Mitsuhide Akechi , yang bertolak belakang dengan kesetiaan Takenaka Hanbei, seorang berotak cemerlang yang sayangnya berpenyakit keras, kepada Hideyoshi. Hideyoshi sendiri tipe protagonis yang cukup saya suka: tidak pernah menonjol dari segi fisik ataupun daya tempur, tetapi punya kecerdikan sendiri yang membuatnya terus menanjak. Di tengah-tengah para samurai yang otaknya prestise melulu dan terobsesi jaga imej, dia justru kelihatan beda sendiri dan bisa tertawa-tawa kalem saat dipermalukan… malu-maluin sekarang, menang belakangan, mungkin begitu semboyannya.
Di sisi lain, narasinya terkesan masih malu-malu kucing memperlihatkan sisi gelapnya Hideyoshi, mungkin karena sudah kadung keasyikan menampilkan sisi heroiknya sebagai orang murah hati dan sayang ibu. Meskipun samar-samar sudah terlihat dari caranya memandang perempuan (baca: hidung belang yang punya tendensi mencurigakan terhadap gadis-gadis muda), masih banyak yang tidak diceritakan dan novelnya pun dituntaskan sebelum momen-momen bersejarah penting seperti invasi ke Korea.
Secara garis besar, penggambaran gaya hidup samurai di sini memang banyak diromantisasi dan disusun untuk membuat kita terkagum-kagum dengan semangat berani mati, kesetiaan, dan pengorbanan diri—sambil mengesampingkan aspek sudut pandang penderitaan rakyat selagi orang-orang yang punya kekuasaan sibuk perang dan membuang-buang nyawa prajurit seperti koruptor bakar duit. Bagaimanapun, memang begitulah realita masyarakat Jepang tempo doeloe yang amat berorientasi kasta. Paling tidak, novel ini cukup memuaskan rasa ingin tahu saya terhadap dinamika geopolitik dan strategi pertempuran pada era penuh pergolakan ini. Jadi pengin lanjut ke (serial game) Nobunaga’s Ambitions nih, hehe.
Wah tidak menyesal minjem ini di perpusnas. Awalnya emang karena Touken Ranbu gue kepo sama sejarah jepang di masa keshogunan. Alhasil dapet ini di jajaran rak perpusnas. Gue sempet bertanya2 ini buku isinya apaan tebel banget setara ama Harry Potter Deathly Hallows tapi ternyata isinya ada 10 buku dijadiin satu.
Buku pertama berhasil diselesaikan, tapi nangis terus setiap baca bab perbab. Hiyoshi perjuangannya benar-benar diacungin 10 jempol. Dari anak kecil nakal yang hobinya ngunyah lebah, yang ngebantuin temennya yang dikatain, penderitaan-penderitaan yang selalu dialamin pasca ayahnya wafat. Hiyoshi jadi anak yang bener2 berbakti dan sayang banget sama ibu dan kakaknya. Setiap perjalanan buat menuhin ambisi (buat bahagian ibu dan kakak), mulai dari penjual tembikar, penjual jarum, berpindah tuan dari ngelayanin seorang ronin klan Hachisuka, ngelayanin klan Imagawa sampe akhirnya ke klan Oda. Perjuangan Hiyoshi sangat-sangat bikin terharu.
Sedih sewaktu Hiyoshi ditangkap sama Mitsuhide sewaktu klan Hachisuka pengen bakar desa, Hiyoshi lagi-lagi jual jarum, dan gak pulang ke rumah sampe dia jadi 'orang'. Gak kebayang anak sekecil itu teriak-teriak buat jual jarum.... Dia gigih banget buat kerja demi ngebahagiain keluarga dan masa depan. Setelah jadi orang terpercaya Nobunaga akhirnya sifat alaminya keluar. Oh dia ganti nama jadi Kinoshita Tokichiro! Tokichiro ternyata orang yang pintar! Perlahan-lahan dia mulai naik jabatan dan disenangi Nobunaga tapi hal itu justru bikin orang lain sewot tapi Tokichiro gak peduli, dia terus ngelayanin Nobunaga sepenuh hati.
Karakter Tokichiro ini bener2 bikin gue jatuh cinta pandangan pertama. Kelebihannya banyak, kekurangannya juga banyak. Pas. Dan terlebih gue ngeliat nasib gue sama kayak Tokichiro. Emang sifatnya itu yang bikin dia jadi penguasa Jepang. Paling suka sewaktu Tokichiro negur adanya kecurangan sewaktu beli arang. Sama dia nyuruh orang-orang buat nanam lagi bukit-bukit yang pohonnya ditebang supaya daerah di kaki bukit gak kena imbas sewaktu banjir. Berkat kegigihannya dia bisa punya rumah yang diidam-idamkan di kota. Bener-bener pribadi yang kuat dan punya kemauan buat berubah.
Abis ini baca buku keduanya. Kayaknya bakal lebih dalam lagu nih soal asmaranya sama Nene. Buku yang sangat-sangat rekomended untuk dibaca!
Şapte sau opt băieţi alergau peste câmpii ca o vijelie, agitând beţe printre mugurii galbeni de muştar şi florile de ridiche albe, imaculate, căutând albine cu saci de miere, numite albine coreene. Fiul lui Yaemon, Hiyoshi, avea şase ani, dar chipul său zbârcit arăta ca o prună uscată. Era mai scund decât ceilalţi băieţi, dar, la farse şi la pozne, nu-l întrecea nici un copil din sat.
― Prostule! răcni el când un băiat mai mare îl trânti, în timp ce se băteau pentru o albină.
Înainte de a apuca să se ridice în picioare, alt băiat călcă peste el. Hiyoshi îi puse piedică.
― Albina-i a celui care-a prins-o! Dacă o prinzi, e albina ta! spuse el, sărind agil în picioare şi înhăţând o albină din aer. Ia uite-aici! Asta-i a mea!
Strângând în mână albina, Hiyoshi mai făcu zece paşi înainte de a desface pumnul. Rupându-i capul şi aripile, şi-o aruncă în gură. Abdomenul albinei era un săculeţ cu miere dulce. Pentru aceşti copii, care nu cunoşteau gustul zahărului, era o minune că putea exista ceva atât de dulce. Mijind ochii, Hiyoshi lăsă mierea să i se prelingă pe gât şi plescăi din buze. Ceilalţi copii îl priveau, lăsându-le gura apă.
― Maimuţoiule! strigă un băiat mai mare, poreclit Ni’o, singurul căruia Hiyoshi nu-i putea ţine piept.
Ştiind acest lucru, i se alăturară şi ceilalţi.
― Babuinule!
― Maimuţoiule!
― Maimuţă, maimuţă, maimuţă! Începură să scandeze în cor. Până şi Ofuku, cel mai mic băiat, li se alătură. Se spunea că avea opt ani, dar nu era cu mult mai înalt decât Hiyoshi, care avea şase. Arăta, însă, mult mai bine: avea tenul deschis, iar ochii şi nasul erau frumos armonizate cu faţa. Fiind fiul unui sătean bogat, Ofuku era singurul care purta kimono de mătase. Probabil că adevăratul său nume era Fukutaro sau Fukumatsu, dar fusese prescurtat şi i se adăugase litera o în faţă, imitând o practică răspândită printre fiii familiilor bogate.
Awal terbit buku ini terdiri dari 10 jilid. Saat cetak ulang buku ini disatukan menjadi buku babon yg tebalnya hingga 1000hlm lebih. Salah satu mahakarya Eiji sensei (setelah Musashi mungkin)
Taiko jilid 1 menceritakan masa kecil Toyotomi Hideyoshi "Sang Taiko". Sebelumnya nama masa kecil Hideyoshi adalah Hiyoshi. Hiyoshi lahir dari keluarga samurai, ayahnya meninggal karena luka bekas pertempuran yg tak kunjung sembuh.
Ibunya tidak ingin Hiyoshi mengikuti jejak ayahnya, ibunya menginginkan Hiyoshi menjadi petani. Hidup dalam kemiskinan dan sikap kasar ayah angkatnya menempa diri Hiyoshi dan membuat Hiyoshi menetapkan hatinya utk menjadi seorang samurai.
Hiyoshi muda kerja serabutan dari satu majikan lari ke majikan lainnya. Sangat jauh dr sikap setia seorang samurai. Namun pengalamannya itu membuatnya memiliki kelebihan dalam menilai pribadi orang lain.
Hingga akhirnya Hiyoshi muda menemukan majikan yg sangat diseganinya, Oda Nobunaga muda, yg mana marga tempat bernaung ayahnya dahulu sebagai samurai. Hiyoshi sangat percaya akan Oda Nobunaga di luar sikap tuannya yg bodoh, brutal namun penuh karisma.
Buku ini temponya sangat lambat, menceritakan perjalanan pengembaraan Hiyoshi dari tahun ke tahun hingga akhirnya menjadi Taiko. Namun gaya bercerita Eiji yg lihai membuat kita akan menikmati cerita kehidupan dari Hiyoshi
Kisah2 samurai memang menarik, banyak pelajaran hidup yg bisa diambil darinya. Eiji tidak lupa menuliskan petuah2 bijak ala samurai dalam buku ini. Bahkan di buku Eiji sebelumnya, Musashi, tokoh utamanya memilih hidup dgn "Jalan Pedang", pergulatan hidup yg sangat terkenal bahkan bisa diterapkan dlm bidang apapun.
Ada kisah terkenal yg selalu dituturkan oleh orang tua di Jepang. Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau? Nobunaga : "bunuh saja" Hideyoshi: "buat burung itu ingin berkicau" Ieyasu : "tunggu" Kisah itu menggambarkan karakter ketiga orang yg menyatukan Jepang.
Setelah membaca Taiko mungkin bisa dibarengi dgn menonton Age of Samurai: Battle of Japan di Netflix.
Buku yg sangat bagus untuk anda yg menyukai kisah2 jaman sengoku. penuh dengan intrik2 politik dan peperangan pada era itu. banyak hal2 yg bisa kita ambil sebagai pelajaran. disini kita juga dapat mengetahui sisi lain dari seorang oda nobunaga. walau ada sedikit kesan terlalu mengagungkan hideyoshi, tapi benar2 menarik mengikuti perjalanan seorang anak petani miskin hingga menjadi seorang pemersatu jepang.. dari nothing menjadi something. Bila ada burung yg tidak mau berkicau.. Nobunaga berkata " bunuh saja ". Hideyoshi berkata " buat burung itu berkicau". Ieayu berkata "tunggu burung itu berkicau".
Buku tentang kegigihan bocah kampung menjadi seorang panglima perang... Pertama liat buku ini kayaknya cocok untuk batal tidur karena tebel banget... Namun setelah memulai membaca, semakin hari semakin penasara..
taiko...cerita tentang perang dan jaman jepang...hideyoshi seorang pria berwajah monyet tapi dengan kepintaran berkata-kata menjadikan dia mempunyai jabatan tertinggi di pemerintahan pada saat itu...
If you are into the history of Japanese feudal lord, this book will bring you to that era. To learn about nobunaga oda (his rise and fall), toyotomi hideyoshi and the birth of Tokugawa shogunate. The story is clearly told and beautifully written.
The tale of a poor farmer's son who became the mightiest man on Japan. The way he conquer without shedding blood. He turned an enemy into a most faithfull friends...