Saya selalu beranggapan para penjelajah punya garis tangan yang berbeda dari orang biasa. Ada 'gen' khusus dalam darah mereka yang membuat semua sudut di empat penjuru dunia bisa terasa bagaikan rumah sendiri, tanpa terhalang perbedaan bahasa, adat maupun budaya.
Membaca perjalanan hidup pasangan suami istri Tony dan Maureen Wheeler, kreator buku-buku panduan perjalanan Lonely Planet, makin menegaskan keyakinan saya akan adanya 'gen khusus' tersebut.
Menikah di usia muda, kehidupan mapan yang 'normal' terbentang di depan mereka. Tony diterima di perusahaan mobil Ford sementara Maureen sudah bekerja sebagai asisten manajer pemasaran untuk perusahaan penjual anggur. Namun mereka memutuskan untuk menunda kenyamanan tersebut karena tak ingin langsung terjebak rutinitas normal: punya rumah, anak, dan bekerja 9 to 5 setiap hari. Mereka merencanakan perjalanan darat satu tahun dari London ke Australia, dengan mobil bekas yang diutak-atik sendiri oleh Tony. Dilanjutkan naik kendaraan umum dan menumpang segala jenis moda transportasi. Ingat, perjalanan ini dilakukan pada tahun 1972, ketika ledakan backpacker belum terjadi dan perjalanan murah antar negara belum menjadi aktifitas yang populer.
Berbekal uang seadanya, kenekatan serta hasrat menggebu-gebu untuk melihat dunia, mereka pun berangkat menyusuri eropa, asia, hingga sampai ke Australia dengan tubuh kurus dan sisa uang hanya 27 sen! Untunglah pada masa itu Australia masih menerima pendatang dari Inggris dengan tangan terbuka, tak perlu visa atau izin kerja. Pasangan muda ini segera bekerja serabutan untuk mengumpulkan uang agar bisa kembali ke Inggris.
Siapa nyana, orang-orang yang ditemui di sana selalu bertanya dengan penasaran tentang perjalanan nekat mereka. Bosan berulang-ulang menceritakan kisah yang sama, mereka memutuskan untuk membukukan perjalanan melintasi Asia tersebut dan lahirlah buku Lonely Planet perdana, Across Asia on the Cheap . Tentu saja dengan kemasan sangat sederhana karena dikerjakan dan diterbitkan sendiri.
Bisa ditebak, mereka akhirnya tak pernah kembali ke Inggris untuk hidup normal, meskipun surat dari Ford yang menyatakan memberi waktu satu tahun bagi Tony sebelum bekerja untuk mereka, masih disimpan sebagai kenang-kenangan. Saat buku perdana beredar, mereka kembali menelusuri Asia Tenggara dengan lebih saksama karena sebelumnya mereka terburu-buru ingin sampai ke Australia. Kali ini mereka pergi dari Australia sampai pelosok Asia Tenggara dengan...sepeda motor! Dari perjalanan itu lahirlah South East Asia on A Shoestring.
Dan dimulailah kisah sukses penerbitan Lonely Planet. Tidak langsung sukses tentu saja, karena mengerjakan buku panduan yang harus akurat dengan dana seadanya dan diburu waktu, ditambah lagi mereka harus mengerjakan semuanya sendiri tak pelak membuat mereka depresi dan kelelahan. Namun lama kelamaan, ketekunan dan kerja keras mereka mulai terbayar. Mereka bisa membayar sejumlah penulis, mempekerjakan pegawai tetap, membuka cabang di negara lain, dan menghasilkan keuntungan jutaan dolar.
Memiliki anak tetap tidak memudarkan semangat menjelajah mereka. Sejak usia baru beberapa bulan, kedua anak mereka sudah merasakan petualangan di Nepal, Amerika Selatan, Eropa dan Asia. Sebagian besar tentu saja merupakan bagian dari perjalanan kerja orang tua mereka dalam rangka menyusun buku panduan Lonely Planet. Sampai-sampai pada suatu tahun baru, setelah setengah tahun dihabiskan berkeliling dunia, Tony dan Maureen memutuskan untuk hanya bertahun baru di pantai Brisbane, Australia. Dan anak mereka pun menyeletuk, "Inikah yang orang-orang sebut liburan?" (hal.302)
Lonely Planet memang bukan satu-satunya buku panduan perjalanan yang tersedia. Sejak abad 2 Masehi pun, Pausanias telah menerbitkan buku panduan Description of Greece. Namun tak dapat dipungkiri, Lonely Planet sudah seperti kitab suci perjalanan yang dibaca dengan khusyuk oleh ratusan ribu pelancong di seluruh dunia.
Dari segi penceritaan, saya cukup pontang-panting mengikuti kisah-kisah yang mengalir dengan begitu cepat, bahkan kadang terasa terburu-buru. Mungkin karena buku ini berusaha merangkum 30 tahun perjalanan Lonely Planet yang penuh warna. Akibatnya beberapa perjalanan diceritakan dengan sangat mengebut, kadang garis waktunya juga maju-mundur sehingga agak membingungkan.
Namun, buku ini sangat saya nikmati karena bagi saya kisah pasangan Wheeler sungguh ajaib, seperti halnya kisah-kisah perjalanan 'nekat' lain yang pernah saya baca. Dan karena perjalanan mereka diawali tahun 1972, banyak hal unik yang terungkap. Misalnya Pantai Kuta yang dulu hanya diramaikan losmen sederhana dan pohon kelapa, Timor-Timor yang masih dikuasai Portugis, Afghanistan yang indah dan sangat damai, komputer dan mesin cetak periode awal yang lebih sering bikin frustasi daripada meringankan pekerjaan, hingga peta yang harus digambar tangan dan ditempel satu per satu.
Saya juga menemukan banyak hal menarik seperti suka duka menjadi penulis buku panduan (yang tidak selalu seeksotis kedengarannya), masalah politik yang menghadang penerbitan buku mereka, sampai fakta bahwa maskapai penerbangan ternyata tidak pernah mengistimewakan pemilik Lonely Planet meskipun mereka punya jutaan frequent flyer.
Sebagai hobi yang kemudian berkembang menjadi perusahaan multinasional, sisi-sisi bisnis tentu banyak dibahas dalam buku ini, sesuatu yang bagi saya (si pemimpi ini) kurang ajaib dibandingkan perjalanan-perjalanan lintas dunia mereka. Namun tetap sarat ilmu bagi mereka yang tertarik pada bisnis, misalnya ketika peristiwa 11 September memaksa mereka memangkas pengeluaran dan karyawan, karena dunia wisata memasuki masa suram. Atau ketika dunia digital menyerbu kenyamanan buku-buku konvensional.
Setelah halaman terakhir selesai dibaca, saya semakin yakin bahwa para penjelajah/ pelancong/ turis/ backpacker atau apa pun namanya, yang pergi melihat dunia dengan niat tulus untuk mengenal manusia dan budaya yang berbeda, adalah duta-duta perdamaian dunia. Karena dari kisah merekalah, penduduk dunia bisa tahu bahwa negara-negara yang sering mendapat cap buruk atau negatif, ternyata seindah surga jika kita mau mengunjunginya tanpa membawa prasangka.