Kaget jg waktu ada temen pecinta baca yg bilang belom pernah baca buku ini. Gw akan share ke dia deh. Ini adalah kumpulan cerpen yang sangat sangat sangat sangat dahsyat.. Simak sample berikut :
Paragraf pertama di Godlob.
Gagak-gagak hitam bertebahan dari angkasa, sebagai gumpalan-gumpalan batu yang dilemparkan, kemudian mereka berpusar-pusar, tiap-tiap gerombolan membentuk lingkaran sendiri-sendiri, besar dan kecil, tidak keruan sebagai benang kusut. Laksana setan maut yang compang-camping mereka buas dan tidak mempunyai ukuran hingga mereka loncat ke sana loncat kemari, terbang ke sana terbang kemari, dari bangkai atau mayat yang satu ke gumpalan daging yang lain. Dan burung-burung ini jelas kurang tekun dan tidak memiliki kesetiaan. Matahari sudah condong, bulat-bulat membara dan membakar padang gundul yang luas itu, yang di atasnya berkaparan tubuh-tubuh yang gugur, prajurit-prajurit yang baik, yang sudah mengorbankan satu-satunya milik yang tidak bisa dibeli: nyawa! Ibarat sumber yang mati mata airnya, hingga tamatlah segala kegiatan, perahu-perahu mandek dan kandas pada dasar sungainya dan bayi menangis karena habisnya susu ibu.
Buat gw, Danarto ibarat Salvador Dali di dunia cerpen, kalo boleh mengibaratkan AA Navis sebagai sang Rembrandt.
Di bagian pengantar, pak SDD -ya, SDD yang itu, yang bukunya lagi dikupas di puisi bulan ini-, menulis : dalam cerita-cerita ini, Danarto sebenarnya meledek kecenderungan kita untuk mati-matian berpegang teguh pada nalar.
Ada 9 cerpen, termasuk cerpen yang pernah bikin heboh karena judulnya adalah gambar "hati yang terpanah". Favorit gw adalah Asmaradana, tentang Salome putri Herodes yang menantang Tuhan. Danarto mengakhiri dengan ringan... tapi menyadarkan.
Cerpen penutup, judulnya seperti ini :
A B R A C A D A B R A
A B R A C A D A B R
A B R A C A D A B
A B R A C A D A
A B R A C A D
A B R A C A
A B R A C
A B R A
A B R
A B
A
Aneh ? iseng ? sok aneh ? mistis ?.. itulah Danarto.
-andri-