Wah....buku ini adalah buku Panji Sukma pertama yang saya baca. Dan sekaligus, saya langsung menyukai gaya penulisan dan bercerita beliau. Sepertinya, buku ini akan mengawali buku-buku Panji Sukma lainnya yang akan saya beli dan baca!
Buku ini tipis, tidak sampai 100 halaman, namun isinya mampu membuat saya tenggelam dan larut hingga tidak sadar kalau bukunya sudah saya lahap habis. Sebenarnya, membaca blurb-nya juga saya tidak begitu mengerti apa yang akan diceritakan di dalam buku ini. Saya hanya mencium bau-bau orde baru dan kejadian tahun 1998 , yang mana saya gemar membaca buku tentang topik tersebut, oleh karena itu saya beli bukunya. Saya melahap halaman demi halaman tanpa tahu sinopsis ceritanya, saya mau dibawa kemana, atau apa tujuan dari tiap bagian. Terlebih lagi, alur cerita di dalam buku ini lompat-lompat, jadi harus ekstra dalam mengaitkan dan menghubungkan satu dengan yang lainnya. Tapi toh begitu, tidak lama juga saya langsung mengerti arah dan gaya bercerita penulis, dan mengapa novel ini diberi judul "Kuda".
Orang-orang bertanya mengapa Empu Manyu memberi nama Kuda untuk anaknya. Apa arti nama Kuda? Kenapa Kuda? Ternyata memang 'takdir' sudah menyisipkan cerita di balik penamaan tersebut.
Novel "Kuda" adalah cerita tentang pengkhianatan. Karakter utama, Kuda Anjampiani, adalah nama yang erat dan lekat dengan pengkhianatan. Mengutip dari buku ini, tokoh tersebut adalah nama yang jarang disinggung oleh sejarah. Ia adalah guru dari Gajah Mada pada jaman kerajaan Majapahit. Ia pertapa sakti yang menyepi dari kekuasan. Lebih penting lagi, Kuda Anjampiani adalah anak dari Ranggalawe, pengkhianat dari Majapahit. "Meski banyak yang menyebutkan bahwa pengkhianatan Ranggalawe yang berwujud pemberontakan itu didasari oleh hasutan seseorang," kutip buku ini (hlm. 80).
Nyatanya, Kuda adalah keturunan Tumenggung Tjipto, yang 'membunuh' Demang Sukayana yang sangat sakti, dengan cara mengajak istri Demang Sukayana yaitu Nyai Murni Kinasih (Nyai Pethak) untuk berkhianat. Oleh karena itu, nama Kuda sangatlah lekat dengan pengkhianatan, kan? Di saat menjelang ajalnya, Demang Sukayana mempercayakan dendamnya pada sebuah patrem beracun. Dan nyatanya, pengkhianatan itu mengalir ke keturunan ke-7 dari anak Tumenggung Tjipto dengan Nyai Pethak, yaitu Kuda. Dan hal inilah yang menjelaskan akhir dari buku ini.
Cukup menjelaskan bagaimana patrem tersebut menemukan 'jalannya' sendiri kepada Kuda. Ingat bagaimana Empu Manyu menemukan patrem tersebut (patrem itu memunculkan dirinya sendiri pada Empu Manyu) di saat ia berendam dengan Abdul Aziz di telaga 'terisolir' yang terbentuk dari darah mendidih seorang Demang sakti (yaitu Demang Sukayana, tanpa mereka ketahui kisah di balik itu). Abdul Aziz adalah penyalur dendam Demang Sukayana, dan seakan-akan bisa 'mendengar' permintaan Abdul Aziz pada Empu Manyu untuk merawat anaknya, oleh karena itu patrem tersebut memunculkan diri untuk 'dirawat' oleh Empu Manyu. Dan di akhir cerita, patrem itu berhasil menjalankan misinya - yang tanpa siapapun menyadari, adalah penyebab Marini meninggal saat melahirkan karena menyentuh patrem itu, yang selalu muncul dengan membuat kegaduhan hingga menarik orang untuk menyentuhnya.
Yang paling menggugah dari cerita ini, utamanya tentang pengkhianatan dan balas dendam dengan cara yang paling sabar. Selain membalaskan dendam pada keturunan ke-7 Tumenggung Tjipto, seakan-akan Demang Sukayana 'membalas' dendam dengan mempersulit hidup Abdul Aziz dengan runtuhnya rezim Soeharto dan orde baru.
Buku ini mengangkat cukup banyak isu sosial yang sangat dekat dengan kenyataan. Selain dampak orde baru dan bagaimana rezim ini turut mengambil peran dalam membentuk karakter masyarakat yang sekarang, dijabarkan juga bagaimana masyarakat mengalami masa transisi dari jaman penuh diktator ke demokrasi (pemilu), lalu kroni-kroni masa orba yang 'menyelinap' membuat partai-partai dengan dalih 'demokrasi' hanya untuk merajai politik lagi.
Kisah penuh trauma yang dialami Alin di sekolahnya, yaitu pencabulan, juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencabulan yang dilakukan oleh seseorang yang dipercayakan para orang tua sebagai sosok yang harusnya amanah dalam memberikan edukasi dan pendidikan karakter. Bukankah itu adalah isu yang kita sering dapati?
Yang paling saya sukai adalah kisah cinta Marini dan Empu Manyu. Saya rasa, walau novel ini berjudul "Kuda" dan karakter Kuda adalah tujuan utama dan akhir kisah novel ini, tetapi karakter utama bagi saya adalah Empu Manyu, atau Abimanyu (namanya sebelum tersohor sebagai pembuat keris). Sebagian besar, 80% kisah merupakan ksisah Empu Manyu. Bagi saya kisah cinta mereka sangat tulus, tidak menutut timbal balik, tidak melihat ada apa, tetapi mencintai apa adanya. Dan kisah cinta mereka, walau berakhir tragis, terus abadi - dapat dilihat dengan bagaimana Empu Manyu sangat menyayangi Kuda walau lambat laun ia sangat membenci ayah kandung dari anak tersebut.
Kisah penuturan Empu Manyu tentang hubungan ayam dan elang, yang saat ini bersifat predator-mangsa walau dulunya sepasang sahabat, adalah kisah yang sangat saya sukai. Dan saya pikir-pikir, bagaimana ayam 'mengkhianati' elang dengan menghilangkan jarum emasnya hanya agar ia bisa terbang seperti elang, adalah bentuk pengkhianatan lainnya dalam buku ini. Pengkhianatan Abdul Aziz kepada Empu Manyu, yang dulunya merupakan sepasang sahabat.
Saya akan terus mengingat novel ini, yang ternyata memiliki tempat spesial di hati saya. Membaca kisah-kisah di novel ini membuat saya seperti mengenal ranah baru yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya: hubungan Keris dengan runtuhnya rezim orde baru, serta bagaimana keris dijadikan 'alat transaksi' untuk mencapai kedudukan politik dan pemerintahan tertentu serta mendapatkan kekuasan tertentu.
Saya akan terus mengingat karakter-karakter di dalam novel ini, yang menciptakan cetakan-cetakan spesial di pikiran saya. Selain Kuda, Empu Manyu, Marini, Alin, Abdul Aziz, Demang Sukayana, Tumenggung Tjipto, Nyai Pethak, ada juga warga Desa Cangkol seperti Mbah Mantan, Jamari, Iwan Culeng, Ko Aho, Honggojiwo si penjual ciu, lalu Ki Anjang Cinarito - pembuat wayang dan dalang tersohor dari jaman Soekarno - dengan dua anak perempuannya yang haus harta dan serakah, Sukesi dan Handayani. Saya banyak merenung tentang bagaimana Ki Anjang Cinarito yang sudah pasrah dan membenci kehidupan, menghabiskan nyawa kedua anak perempuannya dengan cara yang masih misteri sampai sekarang, yang menjadi alasan saya terus memikirkannya. Apalagi ia menghabisi anak perempuannya dengan tembang suluk (tembang yang biasa dibawakan seorang dalam dalam pagelaran wayang).
Kutipan yang saya sukai:
"Tak boleh lagi ada seseorang yang terlalu didewakan, sebab pasti ada panu sekalipun itu di tubuh raja." (hlm. 5)