Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kuda

Rate this book
Setelah rezim Orde Baru tumbang, seorang empu kehilangan kuasa. Pamor dan tungku-tungku tempat dia memasak besi menjadi dingin. Ketenaran sebilah keris yang dianggap sebagai jimat dan media penjilat atasan mendadak redup. Tak terkecuali Kuda, anak lelaki satu-satunya si empu. Ekonomi keluarganya kacau balau, percintaannya tak kalah runyam. Satu yang tak pernah diketahuinya, rahasia keluarga dan asal-usulnya.

100 pages, Paperback

Published October 5, 2022

11 people are currently reading
107 people want to read

About the author

Panji Sukma

3 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (20%)
4 stars
108 (50%)
3 stars
57 (26%)
2 stars
4 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 63 reviews
Profile Image for Mutia Senja.
75 reviews9 followers
October 17, 2022
Membaca halaman pertama, saya dikenalkan sosok "Kuda" yang dimaksud sebagai judul buku ini. Meski tak utuh, alasan penamaan ini dapat dijumpai di halaman 80, yang sepintas mengingatkan kita pada sosok Ronggolawe.

"Mereka bakal kualat!", pernyataan Empu Manyu memamerkan konflik, memicu rasa penasaran pembaca untuk mencari tahu lebih dalam titik persoalan. Setelah sampai bab 2, saya dibuat semakin penasaran apakah cerita ini akan berbaur dengan tema politik atau justru hal-hal mistik.

Alasannya, dalam bagian ini, penulis sempat menceritakan bahwa, "Semua berawal ketika Soeharto digulingkan" (hal. 4) hingga tibanya Abdul Aziz menemui Empu Manyu beserta kegilaannya terhadap karir (hal. 21). Hal gaib pun sempat disinggung pula dalam bab ini (hal. 8). Apalagi, kepercayaan warga terhadap Mak Lampir (hal. 40) saya anggap 'menghabiskan tempat' untuk novel setebal 94 halaman.

Menyinggung "Misteri Gunung Merapi" dalam bab 6, turut diceritakan tokoh Alin beserta tragedi yang menimpanya membuat bagian ini tak cukup berarti. Saya mengira, latar belakang Alin yang pahit bakal mempengaruhi akhir novel ini. Namun dugaan saya keliru. Hal 91 membuktikan peran Alin yang sesungguhnya. Jika boleh mengira-ngira, mungkin keberadaan Alin memang dibutuhkan untuk memperkuat karakter Kuda.

Lain cerita, perseteruan Demang Sukayana dengan Tumenggung Tjipto justru lebih menarik perhatian saya. Toh, telah disinggung lebih dulu terkait pembalasan bagi anak turun Nyi Pethak: Abdul Aziz, yang dinanti-nanti. "Dan pada Abdul Aziz-lah kelak patrem itu akan datang menagih dendam" (hal. 33). Di sini, alur cerita terkesan lebih riil dan tidak mengada-ada.

Bertemu lagi kisah Alin (hal. 71), saya jadi ingin mengabaikan ketidaksengajaannya bertemu Empu Manyu saat ketahuan banting tulang mencari nafkah. Sebab setelah mengetahui asal usul Kuda, saya merasa cukup menaruh perhatian kepada Empu Manyu dan Abdul Aziz, berikut patrem yang membawanya menemui takdir.

Meski begitu, banyak keunggulan yang luput dari pengelihatan saya. Barangkali sebanyak itu pula sesungguhnya novel ini akan ditulis. Mengesampingkan ketebalan novel, sebagian pembaca mungkin akan menagih cerita yang lebih panjang, mengingat cukup banyak tokoh yang terlibat.

Saya pun, sebagai pembaca beragam genre, novel ini cukup melegakan. Selain mudah dipahami, bukul ini bisa dibaca sekali duduk. Tak banyak istilah rumit meski pembaca (mungkin) jarang mendengarnya.
Profile Image for Kezia Nadira.
60 reviews6 followers
April 18, 2023
Wah....buku ini adalah buku Panji Sukma pertama yang saya baca. Dan sekaligus, saya langsung menyukai gaya penulisan dan bercerita beliau. Sepertinya, buku ini akan mengawali buku-buku Panji Sukma lainnya yang akan saya beli dan baca!

Buku ini tipis, tidak sampai 100 halaman, namun isinya mampu membuat saya tenggelam dan larut hingga tidak sadar kalau bukunya sudah saya lahap habis. Sebenarnya, membaca blurb-nya juga saya tidak begitu mengerti apa yang akan diceritakan di dalam buku ini. Saya hanya mencium bau-bau orde baru dan kejadian tahun 1998 , yang mana saya gemar membaca buku tentang topik tersebut, oleh karena itu saya beli bukunya. Saya melahap halaman demi halaman tanpa tahu sinopsis ceritanya, saya mau dibawa kemana, atau apa tujuan dari tiap bagian. Terlebih lagi, alur cerita di dalam buku ini lompat-lompat, jadi harus ekstra dalam mengaitkan dan menghubungkan satu dengan yang lainnya. Tapi toh begitu, tidak lama juga saya langsung mengerti arah dan gaya bercerita penulis, dan mengapa novel ini diberi judul "Kuda".

Orang-orang bertanya mengapa Empu Manyu memberi nama Kuda untuk anaknya. Apa arti nama Kuda? Kenapa Kuda? Ternyata memang 'takdir' sudah menyisipkan cerita di balik penamaan tersebut.

Novel "Kuda" adalah cerita tentang pengkhianatan. Karakter utama, Kuda Anjampiani, adalah nama yang erat dan lekat dengan pengkhianatan. Mengutip dari buku ini, tokoh tersebut adalah nama yang jarang disinggung oleh sejarah. Ia adalah guru dari Gajah Mada pada jaman kerajaan Majapahit. Ia pertapa sakti yang menyepi dari kekuasan. Lebih penting lagi, Kuda Anjampiani adalah anak dari Ranggalawe, pengkhianat dari Majapahit. "Meski banyak yang menyebutkan bahwa pengkhianatan Ranggalawe yang berwujud pemberontakan itu didasari oleh hasutan seseorang," kutip buku ini (hlm. 80).

Nyatanya, Kuda adalah keturunan Tumenggung Tjipto, yang 'membunuh' Demang Sukayana yang sangat sakti, dengan cara mengajak istri Demang Sukayana yaitu Nyai Murni Kinasih (Nyai Pethak) untuk berkhianat. Oleh karena itu, nama Kuda sangatlah lekat dengan pengkhianatan, kan? Di saat menjelang ajalnya, Demang Sukayana mempercayakan dendamnya pada sebuah patrem beracun. Dan nyatanya, pengkhianatan itu mengalir ke keturunan ke-7 dari anak Tumenggung Tjipto dengan Nyai Pethak, yaitu Kuda. Dan hal inilah yang menjelaskan akhir dari buku ini.

Cukup menjelaskan bagaimana patrem tersebut menemukan 'jalannya' sendiri kepada Kuda. Ingat bagaimana Empu Manyu menemukan patrem tersebut (patrem itu memunculkan dirinya sendiri pada Empu Manyu) di saat ia berendam dengan Abdul Aziz di telaga 'terisolir' yang terbentuk dari darah mendidih seorang Demang sakti (yaitu Demang Sukayana, tanpa mereka ketahui kisah di balik itu). Abdul Aziz adalah penyalur dendam Demang Sukayana, dan seakan-akan bisa 'mendengar' permintaan Abdul Aziz pada Empu Manyu untuk merawat anaknya, oleh karena itu patrem tersebut memunculkan diri untuk 'dirawat' oleh Empu Manyu. Dan di akhir cerita, patrem itu berhasil menjalankan misinya - yang tanpa siapapun menyadari, adalah penyebab Marini meninggal saat melahirkan karena menyentuh patrem itu, yang selalu muncul dengan membuat kegaduhan hingga menarik orang untuk menyentuhnya.

Yang paling menggugah dari cerita ini, utamanya tentang pengkhianatan dan balas dendam dengan cara yang paling sabar. Selain membalaskan dendam pada keturunan ke-7 Tumenggung Tjipto, seakan-akan Demang Sukayana 'membalas' dendam dengan mempersulit hidup Abdul Aziz dengan runtuhnya rezim Soeharto dan orde baru.

Buku ini mengangkat cukup banyak isu sosial yang sangat dekat dengan kenyataan. Selain dampak orde baru dan bagaimana rezim ini turut mengambil peran dalam membentuk karakter masyarakat yang sekarang, dijabarkan juga bagaimana masyarakat mengalami masa transisi dari jaman penuh diktator ke demokrasi (pemilu), lalu kroni-kroni masa orba yang 'menyelinap' membuat partai-partai dengan dalih 'demokrasi' hanya untuk merajai politik lagi.

Kisah penuh trauma yang dialami Alin di sekolahnya, yaitu pencabulan, juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencabulan yang dilakukan oleh seseorang yang dipercayakan para orang tua sebagai sosok yang harusnya amanah dalam memberikan edukasi dan pendidikan karakter. Bukankah itu adalah isu yang kita sering dapati?

Yang paling saya sukai adalah kisah cinta Marini dan Empu Manyu. Saya rasa, walau novel ini berjudul "Kuda" dan karakter Kuda adalah tujuan utama dan akhir kisah novel ini, tetapi karakter utama bagi saya adalah Empu Manyu, atau Abimanyu (namanya sebelum tersohor sebagai pembuat keris). Sebagian besar, 80% kisah merupakan ksisah Empu Manyu. Bagi saya kisah cinta mereka sangat tulus, tidak menutut timbal balik, tidak melihat ada apa, tetapi mencintai apa adanya. Dan kisah cinta mereka, walau berakhir tragis, terus abadi - dapat dilihat dengan bagaimana Empu Manyu sangat menyayangi Kuda walau lambat laun ia sangat membenci ayah kandung dari anak tersebut.

Kisah penuturan Empu Manyu tentang hubungan ayam dan elang, yang saat ini bersifat predator-mangsa walau dulunya sepasang sahabat, adalah kisah yang sangat saya sukai. Dan saya pikir-pikir, bagaimana ayam 'mengkhianati' elang dengan menghilangkan jarum emasnya hanya agar ia bisa terbang seperti elang, adalah bentuk pengkhianatan lainnya dalam buku ini. Pengkhianatan Abdul Aziz kepada Empu Manyu, yang dulunya merupakan sepasang sahabat.

Saya akan terus mengingat novel ini, yang ternyata memiliki tempat spesial di hati saya. Membaca kisah-kisah di novel ini membuat saya seperti mengenal ranah baru yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya: hubungan Keris dengan runtuhnya rezim orde baru, serta bagaimana keris dijadikan 'alat transaksi' untuk mencapai kedudukan politik dan pemerintahan tertentu serta mendapatkan kekuasan tertentu.

Saya akan terus mengingat karakter-karakter di dalam novel ini, yang menciptakan cetakan-cetakan spesial di pikiran saya. Selain Kuda, Empu Manyu, Marini, Alin, Abdul Aziz, Demang Sukayana, Tumenggung Tjipto, Nyai Pethak, ada juga warga Desa Cangkol seperti Mbah Mantan, Jamari, Iwan Culeng, Ko Aho, Honggojiwo si penjual ciu, lalu Ki Anjang Cinarito - pembuat wayang dan dalang tersohor dari jaman Soekarno - dengan dua anak perempuannya yang haus harta dan serakah, Sukesi dan Handayani. Saya banyak merenung tentang bagaimana Ki Anjang Cinarito yang sudah pasrah dan membenci kehidupan, menghabiskan nyawa kedua anak perempuannya dengan cara yang masih misteri sampai sekarang, yang menjadi alasan saya terus memikirkannya. Apalagi ia menghabisi anak perempuannya dengan tembang suluk (tembang yang biasa dibawakan seorang dalam dalam pagelaran wayang).

Kutipan yang saya sukai:

"Tak boleh lagi ada seseorang yang terlalu didewakan, sebab pasti ada panu sekalipun itu di tubuh raja." (hlm. 5)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
October 17, 2022
Merupakan novel yang bercerita tentang rahasia keluarga dan asal-usul seorang pemuda bernama Kuda. Ia memang tumbuh dan dewasa dalam bimbingan seorang ayah yang berprofesi sebagai pembuat keris yang sempat tersohor pada masanya, namun semua itu rupanya tidak menjadikan hidup Kuda menjadi mudah. Kuda juga sama seperti remaja pada umumnya, mengalami proses perjalanan hidup yangjuga banyak halang rintang, bedanya adalah ia mempunyai asal-usul yang begitu rumit dan penuh dengan sengketa pelik diantara dua sahabat lama Empu Manyu dan Abdul Aziz.

Cerita dalam novel ini memiliki alur yang tidak beraturan namun ketika sy sampai pada halaman terakhir, cerita tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dan sangat menarik. Hal yang membuatnya semakin menarik adalah tema yang penulis angkat, padu padan antara drama keluarga, politik dan kekuasaan serta unsur budaya Jawa yang kental disampaikan dengan secukupnya dan tidak berlebihan.

Dari sekian banyak alasan,hal paling utama yang membuat sy menyukai novel ini adalah kepiawaian penulis dalam menerjemahkan ide menjadi tulisan yang berkarakter dan lugas sehingga dengan mudah dipahami oleh pembaca, terutama yang awam seperti saya.Hal lainnya adalah, meskipun novel ini bisa dibilang cukup tipis, namun cukup mampu meng-capture isu yang diangkat (walaupun berharap bisa lebih panjang lagi).
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
August 29, 2023
“Urip iku urup, hidup haruslah menyala seperti pelita yang menerangi kegelapan, yakni harus sudi menolong sesama yang kesulitan, memberi tanpa mengharap balasan, dan sebisa mungkin terus berperilaku yang mengenakkan hati sesama.”

“Sungguh, kerap kali, tahu banyak hal memang memuaskan isi kepala, tapi, sekaligus memukul-mukul hati, pikiran. Pantas saja Tuhan bersikeras meminta manusia menjaga rahasia orang lain seperti ia menjaga rahasianya sendiri.”

“Semua yang silau kegemilangan masa silam, tidak akan mendapat masa depan.”

“Manusia kalah dengan kehendak semesta. Hukum kehidupan berlaku, yakni tak ada kekuasaan yang abadi.”

Pertama kali lihat cover, aku sudah tahu kalau Kuda adalah nama orang. Cuma dalam pikiranku—tanpa membaca blurb—mungkin si Kuda ini sejenis manusia jelmaan atau manusia keturunan kuda—ghoib. Tapi ternyata salah... hehehe.

Ini kedua kalinya aku baca karya Panji Sukma. Di buku kali ini pun ceritanya tak jauh dari bahasan tentang keris. Hanya saja kalau di buku ‘Sang Keris’ terdiri beberapa cerita berbeda tetapi masih besangkut paut karena perjalanan sebilah keris: ‘Kyai Kanjeng Karonsih’ yang berpindah kepemilikan dari masa lampau ke masa sekarang.

Nah, kalau di buku ‘Kuda’ ini, sudah berbentuk novel. Tidak berisi beberapa cerita berbeda seperti buku ‘Sang Keris’. Jadi hanya berisi satu cerita, tentang asal usul anak bernama Kuda—Kuda Anjampiani.

Novel ini memiliki alur maju mundur. Tenang aja, alur maju mundurnya nggak bikin pembaca bingung. Mungkin di awal perpindahan alur, kita akan sedikit dibuat bertanya-tanya, ini cerita tentang siapa lagi. Tapi semakin dibaca, kita bakal semakin paham. Cukup menarik sih menurutku ketika kita ditarik menuju masa lampau. Penulis dengan apik menjelaskan asal mula tentang nenek moyangnya Kuda. Feel tiap tokohnya terasa banget.

Selain Kuda, ada lagi tokoh lainnya yang menarik perhatian pembaca, yaitu Empu Manyu—orang tua angkat Kuda. Di novel ini juga mengisahkan tentang lika-liku kehidupan Empu Manyu dari masa muda hingga menjadi orang tua Kuda.

Jadi si Empu Manyu ini adalah si pembuat keris. Di jaman orde baru dia cukup tersohor karena profesinya, banyak sekali pejabat-pejabat penting yang datang kepadanya untuk dibuatkan keris. Dia juga terkenal dermawan di lingkungannya karena kehidupannya yang serba ada alias kaya. Tapi ketika orde baru tumbang keadaan berubah seratus delapan puluh derajat. Kehidupan Empu Manyu dan Kuda tak lagi sama seperti dulu.

Nah, kalian penasaran nggak sama kisah hidup Kuda dan Empu Manyu.. Penasaran juga kan dengan siapa sebenarnya orang tua kandung Kuda, dan kenapa Kuda bisa jadi anaknya Empu Manyu? Kalau iya, saranku segera baca novel ‘Kuda’ karya Panji Sukma ini. Sumpah novel ini keren. Biar tipis tapi mampu memikat pembacanya untuk tersedot dalam cerita yang disajikan penulis.
So, happy reading...😉

4/5 🌟 untuk novel ini.
Profile Image for Ika Putri.
65 reviews1 follower
July 7, 2023
3,7/5

Actually this is not that bad but not that good too. So i would say it is just so so...

Sejurunya karena aku agak judging book by the cover, lumayan berekspetasi tinggi sama isi ceritanya karena ya covernya bagus banget + unik sebab aku jadi berfikir dengan judul yang hanya diberi kata "Kuda" akan mengarah pada suatu satire atau anekdot tertentu. Well, maybe?

Okay back to the story...

Buku ini bercerita tentang tokoh "kuda" ~iya emang namanya kuda kok tapi dia manusia hahaha~ yang ayahnya mengalami keterpurukan ekonomi sebab runtuhnya orde baru, hal ini karena ayahnya seorang pembuat keris. Diceritakan juga bahwa kuda ini mempunyai Indra pendengaran yang tajam melebihi manusia pada umumnya. Ini adalah chapter pertama.

Dari chapter ini aku udah cukup excited karena menurut aku cerita dibangun dengan cukup unik, sebab ternyata ada juga ya orang yang merugi karena runtuhnya orde baru, trus dikatakan bahwa kuda memiliki pendengaran tajam ngebuat aku jadi berfikir, "oh bakal ada sesuatu nih" atau "oh suatu misteri bakal terbongkar karena seseorang punya Indra pendengaran yang tajam", tapi ternyata aku salah sampai pada akhir cerita aku gak menemukan kenapa penulis perlu menambahkan "Indra pendengaran tajam" padahal tidak sama sekali dipergunakan dalam membangun alur cerita kecuali pada bab awal. Terus aku juga berfikir nama kuda bakal jadi "sesuatu" atau arti tertentu, iyasih tapi aku berharap lebih dari sekadar nama yg terinspirasi dr penghianat kl aku gak salah ingat.

Beberapa hal yang aku suka disini adalah cerita ini ngangkat budaya keris, patrem, dalang sebagai latar belakang tokoh yang menurut aku unik, yang mana gak cuma jadi tempelan latar belakang tokoh tapi juga sangat mempengaruhi alur cerita. Kental budaya Jawa dan mengangkat realisme magis dari benda-benda tersebut.

Cuma minus sekaligus poin plus dr buku ini adalah banyaknya tokoh yang diceritakan. Let's say aku pikir tokoh utamanya adalah kuda, tapi di bab 2 dan selanjutnya diuter-uterin bahas bapaknya, temen bapaknya, istri bapaknya, nenek moyang temen bapaknya, cewe cantik tentangga kuda ( yang menurut aku sebenernya gak perlu ada karena gak penting dan gak berpengaruh terhadap isi cerita). Meanwhile kuda sendiri cuma dapet 3 POV. Dan aku bisa simpulin tokoh utamanya adalah bapaknya kuda. But, ternyata itu adalah benang merah yang berkaitan, yang makin lama mengerucut membentuk asal muasal kuda dan bagaimana takdir mengakhirinya ~ini poin plusnya.

Sebenarnya agak sayang sama endingnya kayak kurang Gong aja karena jujur agak terburu dan kurang greget.
Meskipun begitu, jujur aku cukup menikmati cerita ini karena cukup ringan dan menarik untuk diikuti.
Profile Image for Rafli.
102 reviews42 followers
August 23, 2023
Nama panji sukma saya kenal lewat buku Sang Keris yang sempat memenangkan sayembara dewan kesenian jakarta 2019 salam. Saya jatuh hati dengan gaya penulisannya di buku itu. Ketika saya berlangganan Gramedia Digital dan menjumpai bukunya yang baru, dengan sampul dan judul yang membikin penasaran, tanpa ragu lagi saya unduh buku Kuda dan membacanya.

Kuda menceritakan kisah Kuda, bukan yang biasanya ditunggangi itu, melainkan laki-laki anak dari mantan Empu tersohor yang bangkrut pasca-Reformasi yang memang bernama Kuda. Ini adalah novela tentang asal-usul Kuda, kisah tentang sang bapak, kakek, buyut, dan bagaimana ia bisa lahir. Sinopsisnya sesederhana itu, tetapi setiap generasi yang diceritakan terasa memikat.

Banyak kesamaan yang saya rasakan dari Kuda dengan Sang Keris. Di sini, keris masih menjadi elemen yang paling krusial meski bukan menjadi pusat cerita seperi di Sang Keris. Keduanya sama-sama memiliki banyak sekali tokoh, banyak sekali sampai sempat membuat saya lupa atau bingung karena belum terbiasa, ditambah lagi nama-nama lokalnya memang susah diingat dan di setiap babnya yang pendek-pendek itu akan hadir tokoh baru. Selain itu, keduanya memiliki alur cerita yang nonlinear atau maju mundur. Namun, untuk kasusnya buku ini syukurnya tidak semembingungkan Sang Keris. Saya bisa menangkap ceritanya kendati harus berpikir mengenai urutan kejadiannya.

Kuda adalah buku yang sangat tipis sehingga mungkin sekali di lahap sekali duduk. Setiap babnya juga pendek. Gaya bahasanya tidak semengesankan yang dipakai penulis di Sang Keris tetapi sangat mudah dimengerti dan tetap membuat saya terpikat. Ceritanya bagus dan tidak membosankan. Hanya saja, saya merasa ceritanya tidak memberi keadilan bagi Kuda mengingat ending-nya yang seperti itu. Tokoh yang disebut akan menanggung kesialan akibat ulah tokoh lain malah bisa dibilang baik-baik saja, justru Kuda yang kena. Saya menyanyangkan ceritanya tiba-tiba selesai dan ujug-ujug di halaman terakhir, jadinya ada kesan tanggung.

Kuda memberikan pengalaman baca yang seru. Ada ketawa, ada deg-degan, ada geram, dan lain-lain. Buku ini bisa banget dijadikan pilihan bacaan ketika kalian sedang sibuk tetapi tetang ingin menjajal hiburan.
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
July 19, 2024
4.5/5

Sejak Empu Manyu tak lagi menerima pesanan keris, sumur hartanya kini kering-asat ditinggalkan mata air. Kini yang tersisa hanya dua hal, yakni rumah megah yang semakin berkarat dan nama baik yang ia berusaha selalu jaga.


Kuda bercerita tentang kehidupan seorang anak laki-laki bernama Kuda yang hidup bersama ayahnya Empu Manyu. Kehidupannya yang penuh misteri, dengan unsur budaya indonesia, memadupadankan pewayangan, sejarah keris, dari masa orde baru, krisis moneter sampai masa sekarang.

Lebih banyak dikisahkan tentang Empu Manyu, buku ini ditulis dengan sangat rapi perkembangan karakter dan gejolak yang dialami selama hidupnya. Persahabatan, hukum tabur tuai, politik indonesia, budaya masyarakat. Dengan nilai moral kebaikan yang buat aku merasa heartwarming di tengah twist yang bertubi-tubi. Akhir bukunya sangat tidak terprediksi, aku sampai bengong sambil berusaha mencerna.

104 halaman yang nggak terasa saking mengalirnya penulisan dalam buku ini, detail dan deskriptif. I want to read more book by this author.
Profile Image for tata.
111 reviews5 followers
March 25, 2023
Aku baca ini jujur ekspektasiku tinggi. Mungkin karena sebelumnya aku baca Sang Keris dan menurutku bagus. Selesai baca kisahnya Kuda di sini, aku baru sadar meski realisme magis jadi andalan lagi, buku ini rasanya lain. Plot dan alurnya biasalah, menurutku malah bagus novel ini kesannya biasa-biasa aja. Aku rasa ketika nulis ini pun penulisnya nggak terlalu pusing sama riset. Semunya terasa—syukurnya nggak kurang—pas. Menjelang resolusi aja aku ngerasa terlalu pendek (meski memang cuma seratus halaman). Masalah yang dibangun sejak awal dan rasanya udah naik terlalu tinggi jadi dipenggal aja di akhir. Semacam epilog yang aku rasa kurang, tapi lumayan bisa diterima.
Profile Image for abie.
38 reviews
June 12, 2025
wah, endingnya bikin shock banget. bapak kandung Kuda gak tau malu ya, kesel bgt. jujur, agak bingung juga sama Empu Manyu. kenapa Kuda sama Istrinya itu gak dikasih tau perihal kamar itu? ☹️
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
December 9, 2022
99 - 2022

Baru kali ini baca karyanya Panji Sukma dan ternyata cocok dengan selera saya ini. Ceritanya tentang Keris (saya perlu baca Sang Keris kayaknya), Kuda dan hubungannya dengan cerita yang zaman orba tapi gak detail juga apa hubungannya. Karena ini novela jadi sebenernya saya gak bisa berharap cerita Kuda lebih panjang. ending yang tragis.
Profile Image for Clavis Horti.
125 reviews1 follower
August 7, 2023
Kuda karya Panji Sukma adalah sebuah karya seni sastra yang memikat dengan intriknya, mengundang rasa ingin tahu yang terus berkobar. Kisah ini membawa kita masuk ke dalam dunia perjuangan, rahasia keluarga, dan takdir yang tersembunyi di balik selembar nama: Kuda, anak seorang empu terhormat. Pasca runtuhnya rezim Orde Baru, sang empu merasakan pahitnya kehilangan kuasa, dan kita pun diajak menyaksikan bagaimana takdir mulai bermain dalam kehidupan mereka. 

Awalnya, saya meragukan keputusan sang empu yang memberi nama anaknya "Kuda", namun keraguan itu cepat menghilang seiring dengan kemampuan Panji Sukma dalam mempersembahkan alur yang menarik. Dia menggabungkan unsur-unsur magis, politik, budaya, cinta, dan kekerabatan dengan apik, membentuk kisah yang mengalir seiring penceritaan maju mundur yang menegangkan. Melalui proses ini, kita pun dihadapkan pada teka-teki tentang nasib karakter-karakter yang penuh daya tarik. Sang penulis berhasil menggali esensi keluarga, kekuasaan, dan masa lalu yang tersembunyi, membangun ikatan emosional dengan para tokoh.

Meskipun demikian, beberapa istilah budaya Jawa mungkin memerlukan penjelasan lebih lanjut bagi pembaca yang kurang akrab dengan budaya tersebut. Penggunaan catatan kaki untuk istilah-istilah ini akan sangat membantu pembaca yang ingin lebih mendalam tentang aspek budaya yang menjadi latar belakang cerita.

"Seketika itu Empu Manyu sadar, untuk membantai, manusia tidak butuh keris maupun tombak maupun senjata tajam, cukup dengan dendam dan kebencian.”


Kutipan ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang dampak dendam dan kebencian yang dapat melampaui kekuatan senjata. Dalam dunia yang dipenuhi intrik dan pertarungan hati, kutipan ini menggambarkan kebenaran tak terbantahkan: kadang-kadang, dendam mengandung potensi yang jauh lebih mematikan daripada benda tajam, dan setiap langkah dapat menjadi ancaman yang tak terduga.

Secara keseluruhan, Kuda adalah perjalanan yang memikat, mengajak kita untuk merenung tentang politik, budaya, dan cinta dalam dimensi yang sama-sama memukau. Keterampilan Panji Sukma dalam menggabungkan elemen-elemen ini membuat buku ini menjadi pilihan yang cocok untuk dibaca dalam satu waktu. Bagi mereka yang mencari cerita dengan nuansa Indonesia yang kental, Kuda adalah pilihan yang patut diperhitungkan.
Profile Image for Septian Chandra.
65 reviews1 follower
February 6, 2023
Buku ini bercerita tentang Empu Manyu yg mempunyai anak bernama Kuda. Empu Manyu adalah seorang pembuat keris termasyhur yg sudah jadi langganan pejabat2 di masa orde baru. Namun ketika masa reformasi dan hagemoni orde baru sudah mulai punah, maka berubahlah perekonomian keluarga Empu Manyu. Pejabat di masa reformasi tidak mendewakan azimat2 semacam keris sebagaimana para pejabat di masa orde baru.

Novel ini secara garis besar justru malah menceritakan tentang Empu Manyu. Gimana kesepakatan dia dengan sahabatnya, Abdul Aziz, untuk Manyu memperistri Marini yg tengah mengandung anak Abdul Aziz (yg kelak bernama Kuda Anjampiani). Lalu perjalanan pernikahan Manyu dan Marini yg awalnya Marini digambarkan seperti mayat hidup karena sejatinya pernikahan ini tidak diinginkannya hingga perlahan mulai menerima Manyu.

Nahasnya, yg menjadi persoalan adalah keris patrem beracun peninggalan Demang Sukayana yg juga dikhianati oleh Tumenggung Tjipto yg telah merebut istrinya, Nyai Pethak, menuntut balas dalam cerita ini. Demang Sukayana mengutuk keris itu akan menuntut balas pada keturunan Tjipto yg telah diurutkan ternyata adalah Abdul Aziz.

Empu Manyu yg menyimpan keris itu tidak sengaja ditemukan oleh Marini. Marini yg penasaran malah membuka keris beracun itu dan mengakibatkan ia meninggal dan anaknya lahir prematur. Dan saat Kuda sudah beranjak remaja dan Abdul Aziz mau mengambil Kuda (yg akhirnya ditolak oleh Empu Manyu karena menganggap Kuda sudah seperti anaknya sendiri) juga sepertinya merenggut nyawa Kuda dan Abdul Aziz. Kenapa sepertinya? karena yaa masih menggantung. Tidak dijelaskan lebih lanjut nasib Kuda disini.

Kekurangan novel ini mungkin lebih ke sudut pandang di mana Kuda yg menjadi judul dari novel ini justru gk mengambil porsi utama cerita. Porsi utama cerita justru didominasi perjalanan Empu Manyu. Lalu kisah Alin dan Kuda juga menggantung dan jadi dirasa kurang penting dimasukkan dalam cerita (bahkan klo tokoh Alin dihilangkan, kyknya gk berpengaruh apa2 dalam cerita). Serta antiklimaks yg nanggung dan menggantung. Bagaimana nasib Abdul Aziz vs Empu Manyu? dan bagaimana nasib Kuda yg telah mencabut keris beracun itu?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
April 20, 2025
Awalnya saya tertarik beli bukunya karena ilustrasi sampulnya yang cakep. Tebakan saya saat lihat gambarnya, ini mungkin tentang seekor kuda yang sedang melakukan perjalanan dengan sedikit mabuk dan bekal seadanya.

Tebakan saya meleset jauh. Tolong yang bikin ilustrasinya, saya butuh penjelasan.

Buku ini tentang kisah pemuda bernama Kuda Anjampiani. Setelah ibunya meninggal saat melahirkan dia, Kuda hanya tinggal berdua dengan ayahnya.

Ayahnya, Empu Manyu merupakan pembuat keris ternama di masa Orde Baru yang kini sudah tidak laku. Jaman sudah berubah, semenjak reformasi, keris bukan lagi hadiah istinewa untuk pejabat dan orang kaya.

Cerita dimulai dari awal kesuksesan Empu Manyu. Walaupun ia keponakan dalang ternama yang mustinya bisa membuatnya menjadi dalang, ia malah menekuni seni membuat keris.

Keuletannya membuahkan hasil, namanya melejit dari mulut ke mulut berkat bantuan sahabatnya yang seorang tentara Abdul Aziz.

Abdul Aziz adalah keturunan ke tujuh Tumenggung Tjipto. Di masa lampau, kakek moyangnya pernah bersiteru dengan Demang Sukayana, yang saat menjelang ajal pernah bersumpah bahwa keris miliknya akan membalaskan dendam pada keturunan Tumenggung Tjipto.

Suatu hari Abdul Aziz meminta tolong pada Empu Manyu untuk menikahi mantan kekasihnya yang sedang mengandung anaknya. Ia tidak mungkin menikahinya karena sudah melamar anak Jendral, atasannya. Atas nama persahabatan dan niatnya untuk membalas budi atas bantuannya selama ini, Empu Manyu mengiyakan.

Suatu hari ketika pasca reformasi, Abdul Aziz yang sudah menjadi duta besar di luar negari, memutuskan untuk balik ke Indonesia dan menemui anak kandungnya yang kini beranjak dewasa.

Konflik pun dimulai dengan ending yang cukup tragis.

Sebetulnya saya berharap ceritanya lebih panjang. Tadinya saya punya ekspektasi, karena keris sudah tidak laku, apakah Kuda diarahkan ayahnya menjadi dalang ataukah menjadi tentara? Sayangnya tidak.

Buku ini bagus sekali. Suka dengan cara berceritanya, gaya penulisannya pas, kalimatnya efektif tidak berbunga-bunga, to the point. Enak dibaca dan selesai baca dalam 2 hari.

Jika Panji Sukma bikin buku baru lagi, pasti akan saya uber.
Profile Image for Yuan Astika Millafanti.
314 reviews7 followers
August 12, 2023
Ini bukan hanya soal sejarah, tetapi juga tentang pergeseran budaya. Kurasa, kalimat inilah yang paling pas untuk menggambarkan buku ini.

Cerita dimulai dengan menyoroti kehidupan Kuda yang menyedihkan. Karena impitan ekonomi, PLN menghentikan sementara aliran listrik ke rumah Kuda dan mengingatkan pemilik rumah untuk segera melunasi tagihan jika tidak ingin aliran listriknya diputus. Perubahan zaman memaksa kehidupan Empu Manyu--ayah Kuda--dan juga Kuda, berubah. Kini mereka bukan lagi keluarga terpandang. Pamor telah redup. Kediaman mereka sepi dari tamu. Tidak ada lagi petinggi negara dan orang penting datang untuk memesan keris pada ayah Kuda.

Cerita berlompatan dari satu tokoh ke tokoh lain, dari satu masa ke masa lain. Awalnya ini cukup membingungkanku. Namun, setelah lebih dari separuh perjalanan, aku mulai paham sejarah kehidupan Kuda serta keterkaitan antartokohnya.

Ternyata, oh, ternyata, nama Kuda memiliki arti yang dalam. Ha-ha-ha, awalnya aku malah berpikir ini adalah cerita fantasi di mana hewan dan manusia hidup berdampingan. 😁

Wah, buku yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk ini asyik dan keren! Aku terpukau oleh kepiawaian penulis yang mampu menyodorkan genre fiksi sejarah dengan menyoroti ketimpangan budaya yang diakibatkan oleh perubahan pandangan masyarakat atau struktur politik. Tanpa disadari, adanya reformasi Orde Baru tidak hanya yang tampak di permukaan kota-kota besar. Ada gebrakan yang juga mampu menggeser pola laku warga di daerah. Ah, aku jadi penasaran dengan Sang Keris yang meraih Juara 2 dalam lomba Novel DKJ tahun 2019. Penasaran juga?

Kuda • Panji Sukma • GPU • 2022 • 94 hlm. • iPusnas

--

Sungguh, kerap kali, tahu banyak hal memang memuaskan isi kepala, tapi sekaligus memukul-mukul hati, pikirnya. Pantas saja Tuhan bersikeras meminta manusia menjaga rahasia orang lain seperti ia menjaga rahasianya sendiri.
- Hlm. 8 -

Seketika itu Empu Manyu sadar, untuk membantai, manusia tidak butuh keris maupun tombak maupun senjata tajam, cukup dengan dendam dan kebencian.
- Hlm. 68 -
Profile Image for Matchanillaaa.
89 reviews1 follower
November 24, 2025
Kuda seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh Empu Manyu, pembuat keris. Walaupun ia terlahir karena sebuah kesalahan dan penghianatan, Empu Manyu tetap membesarkan anaknya dengan penuh tanggung jawab. Walaupun Empu Manyu memberikan nama Kuda sebagai bentuk penghinaan pada si pelaku tersebut. Tapi dibalik namanya yang aneh, Empu Manyu menyimpan arti kuda sebagai tokoh sejarah, yakni guru dari Gajah Mada.
(⁠ ⁠◜⁠‿⁠◝⁠ ⁠)⁠♡

Meskipun buku ini berjudul Kuda. Nyatanya buku ini lebih banyak menceritakan tentang ayah Kuda, yaitu Empu Manyu.

Empu Manyu adalah seorang pembuat keris. Pada masa orde baru - dengan kejatuhan rezim Soeharto - pekerjaan Empu Manyu terancam musnah. Meskipun masa kekuasaan rezim Soeharto menyebarkan banyak ketakutan, Empu Manyu merasa era tersebut membuat karirnya sebagai pembuat keris mengalami masa kejayaan. Pada masa itu banyak pejabat membutuhkan keris sebagai simbol kesepakatan proyek atau hadiah pertemanan.

Bagian yang paling aku suka dari buku ini adalah karakter Empu Manyu yang green flag parah 😭 menikah tanpa saling cinta terpaksa Empu Manyu lakukan demi menutupi aib seseorang. Berkat kesabaran Empu Manyu dan perhatiannya yang terasa kecil tapi konsisten akhirnya bisa meruntuhkan dinding kokoh sang istri 😭 Mereka akhirnya saling jatuh cinta.

Tapi karena suatu peristiwa, sang istri meninggal dengan meninggalkan seorang anak laki-laki. Setelah kehilangan istri yang dicintainya, Empu Manyu tetap merawat dan membesarkan Kuda sebagai anaknya sendiri. Padahal Kuda lahir karena hasil dari suatu kesalahan.

Banyak tokoh lain dengan dimensi waktu yang berbeda. Apalagi tokoh Alin yang bersinggungan dengan Kuda, kupikir ini akan jadi ending yang berkelanjutan tapi ternyata mereka engga berakhir seperti yang aku duga 🤭 Jadi kurasa buku dengan ketebalan 104 halaman ini terasa kurang, mengingat tokohnya lumayan kompleks.
Aku menangkap sebagain besar buku ini bertema tentang hubungan keluarga Empu Manyu. Selain drama keluarga, cerita ini juga ditambah dengan unsur budaya, politik dan kekuasaan suatu rezim.
Profile Image for sesamesyrup.
58 reviews1 follower
December 26, 2025
⭐4,4/5

"... hidup Nyi Pethak tak pernah merasa tenang. Malamnya selalu diisi mimpi buruk, dihantui bayang mantan suami dan patrem terkutuk miliknya. Bahkan di Satu mimpi yang tak terbedakan dengan nyata, Demang Sukayana hadir dan mengatakan bahwa patrem itu akan menuntut balas, menghabiskan semua saja anak keturunan Tumenggung Tjipto."–hlm 33.

Pada dasarnya poin atau inti masalah dari keseluruhan cerita di novel berjudul Kuda ini ada pada kalimat tersebut. Beberapa menyebutkan bahwa akhir ceritanya (ending) terasa antiklimaks, kurang memuaskan, bahkan cenderung menggantung. Hal itu tidak sepenuhnya salah karena saat salah satu adegan mencapai puncaknya, cerita langsung diakhiri begitu saja tanpa adanya resolusi sama sekali termasuk pada nasib selanjutnya dari masing-masing tokoh. Akan tetapi, hal itu sebenarnya tidak menjadi masalah sama sekali, terutama karena tujuan dari cerita yang berjalan tersebut sudah terpenuhi dan memang tidak ada cerita yang perlu dilanjutkan lagi. Pas, hanya saja cukup mengangetkan dengan ending yang seperti itu.

Novel ini sepenuhnya menceritakan tentang pengkhianatan dan balas dendam dengan memadukan unsur budaya, mistis, hingga politik. Meskipun memiliki judul yang sama dengan nama salah satu tokoh di dalam novel ini, Kuda, akan tetapi di dalamnya lebih banyak menceritakan tentang berbagai kejadian di masa lalu sedangkan porsi cerita untuk tokoh Kuda hanyalah sedikit di novel yang berjumlah kurang dari seratus halaman ini. Yang menarik justru ada pada bagian yang menceritakan tentang perseteruan Demang Sukayana dengan Tumenggung Tjipto. Kisah cinta Empu Manyu dengan Marini pun tak kalah menarik, bahkan perjalanan hidup Empu Manyu sendiri juga sangat layak untuk diceritakan terus-menerus. Di luar hal tersebut, novel ini benar-benar menarik untuk dibaca karena ditulis dengan rapi dan mengalir, serta gaya bahasa dan penceritaan yang baik dan menyenangkan untuk diikuti.
Profile Image for Dennisa .
160 reviews
October 18, 2023
Novel ini menyajikan tentang kisah keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan.
Alurnya yang digunakan maju mundur.


Berkisah tentang sebilah keris patrem yang dahulu kala dimiliki oleh Demang Sukayana yang terbunuh oleh musuh bebuyutannya Tumenggung Tjipto karena pengkhianatan istrinya yang bernama Nyi Pethak.

Patrem yang mengandung kutukan yang akan menuntut balas kepada semua keturunan Tumenggung Tjipto.

Dan di Kemudian hari Patrem tsb ditemukan oleh Empu Manyu yang sedang melakukan Ritual bersama Abdul Aziz di sebuah Telaga.

Empu manyu adalah seorang ahli pembuat keris di jaman orba. Dimana pada Rezim itu para pejabat kerap menghadiahkan keris kepada pejabat lain sebagai simbol kesepakatan proyek atau sekedar hadiah pertemanan.

Setelah Orde baru usai Empu manyu seketika ditinggalkan teman dan kolega²nya, Dirinya juga terdampak ekonominya karena kerusuhan tahun '98, kehilangan harta dan kejayaan membuat empu manyu menutup diri dari semua orang.


Empu manyu memiliki anak semata wayang bernama Kuda nama lengkapnya yaitu Kuda Anjampiani.
[Aku tidak mengira kalau kuda adalah nama manusia 🤔]


Kuda ini bukan anak kandung Empu manyu, ia adalah anak dari Abdul Aziz dengan Marini Mantan kekasihnya, dan Abdul Aziz meminta Empu Manyu menikahi Marini.
Abdul Aziz merupakan keturunan dari Tumenggung Tjipto.

Rumit yaa ceritanya, tapi menarik buat dibaca.
Meskipun Endingnya cukup tragis.

❝Yang pasti, berat sekali menjaga nama besar ketika tak lagi memiliki harta. Sungguh, dianggap kaya padahal miskin adalah beban hidup yang terasa menggerogoti jiwa.❞
—hlm. 7

❝Urip iku Urip atau hidup haruslah menyala seperti pelita yang menerangi kegelapan, yakni harus Sudi menolong sesama yang kesulitan, memberi tanpa mengharap balasan, dan sebisa mungkin terus berperilaku yang mengenakan hati sesama.❞ —hlm.18
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rizkana.
243 reviews29 followers
June 18, 2023
Seberapa jauh kamu bisa melacak sejarah keluargamu?

Saya setidaknya sampai di nenek-kakek buyut dan, seperti cerita Kuda, ada juga cerita-cerita berbumbu kesaktian di sana. Entah benar atau tidak, tapi bukan itu poinnya sekarang.

Sapanjang mengikuti cerita ini, saya menikmatinya. Ada latar yang dipancang dengan tegas dan dilukis dengan rinci di sana. Pembaca disuguhi banyak informasi tentang keris, budaya Jawa, dan kehidupan setelah Orde Baru selesai.

Yang aneh, selesai menamatkan buku ini, timbul kebingungan, cerita tentang siapakah ini? Tokoh Kuda seperti judul bukunya? Empu Manyu atau justru Abdul Azis?

Kalau ini tentang Kuda, tanggung. Saya hampir tidak tahu apa-apa tentang perasaan tokoh Kuda, tidak banyak yang penulis bagi dari sudut pandang Kuda. Empu Manyu justru dapat satu kronologi lengkap penggambaran—dari ia muda, berguru hingga menjadi Empu, jatuh hingga patah hati, bahkan mungkin sampai bagaimana ia akhirnya mati.

Lalu, mengapa saya sampai berpikir jangan-jangan tokoh utamanya Abdul Azis adalah karena pembaca diberi porsi penting tentang siapa leluhur Abdul Azis yang ujungnya nanti menjadi penentu eksekusi akhir cerita. Ini juga yang memantik pertanyaan di atas, seberapa jauh kamu bisa melacak sejarah keluargamu?

‘Kebingungan’ ini jadi membuat saya berpikir, fokus tokoh yang menjadi sentral cerita tidak sekokoh latar yang dibangun, sayang sekali.

Gaya bercerita yang tiba-tiba maju mundur tanpa penanda waktu dan kemunculan tokoh ini itu yang porsi perannya tidak langsung berkaitan dengan alur utama juga agak sedikit membingungkan buat saya.

Jadi, bagus atau tidak? Bagus, tapi ya itu… latar sangat plus, penokohan masih kurang fokus. Baca sendiri deh, trus nanti kita diskusi ya!
Profile Image for Wenny.
134 reviews31 followers
August 21, 2023
Tanpa membaca blurb sebelumnya, aku tidak mengira bahwa Kuda adalah nama seorang manusia. Hahaha >•<

Jika dibilang Kuda adalah nama tokoh utama dalam cerita ini, bisa dibilang ya dan tidak. Ya, karena semua potongan cerita di tiap bab dalam buku ini akan bermuara pada Kuda. Tidak, karena dari sekian banyak tokoh dalam cerita ini, bukan kisah Kuda yang membuatku tersedot ke dalamnya. Aku lebih terhanyut dalam kisah Empu Manyu, ayah Kuda.

Seratus halaman yang menyedot atensiku. Tipis, namun begitu memikat. Tiap bab menceritakan tokoh yang berbeda, namun sekali lagi, semua bermuara pada Kuda. Dan pada tiap tokoh, punya feel masing-masing. Ketika menceritakan Empu Manyu, misal, aku merasakan kehampaan. Ketika cerita beralih ke ibu Kuda, Marini, ada rasa haru sekaligus manis namun getir yang sempat tercecap. Begitu pula dengan tokoh lain, yang menurutku banyak, namun semua punya bagian masing-masing dalam cerita.

Penulis menyinggung tentang kondisi sekitar kerusuhan 98 dan dampak nyatanya bagi sebagian masyarakat, khususnya dampak teror pada etnis Tionghoa dan dampak ekonomi bagi para empu yang kehilangan relasi sekaligus kostumer. Memang besar dampak kerusuhan tersebut, dan banyak kisah di baliknya yang belum banyak kutahu.

Dan aku harus memperingatkanmu: meski blurbnya sedikit menyinggung tentang kisah cinta, tidak ada romance dalam buku ini. Atau maksudku, meskipun penulis bermaksud menyelipkan sedikit kisah hubungan antara laki-laki dan perempuan, aku tidak merasakan rona-rona romansanya.

Ngomong-ngomong, aku suka endingnya.

Ps: trigger warning (kekerasan seksual, dikit sih, tapi tetap perlu peringatan).
Profile Image for Ibybrary.
23 reviews1 follower
August 13, 2024
Sudah lama sebenarnya buku ini mendekam di antrian Ipusnas, tapi baru kemarin akhirnya tergerak buat meminjam buku ini. Lalu, awalnya aku mengira buku ini tebal, tapi rupanya hanya sekitar 100 halaman, ditambah gaya tulisannya yang page turner membuat buku ini bisa diselesaikan dalam sekali duduk saja.

Buku ini akan membawa kita ke masa setelah orde baru tumbang, dan melihat bagaimana dampaknya kepada pekerjaan Empu Manyu- atau yang nama aslinya adalah Abimanyu-sebagai pembuat keris ternama. Kita juga akan dikenalkan pada Kuda Anjampiani, namanya diambil dari nama guru Gajah Mada, nama yang sesuai untuknya, mengingat keduanya merupakan anak dari seorang pengkhianat. Meskipun ada beberapa hal yang disinggung dalam buku ini, tapi aku cuma akan membahas hal yang masih sedikit mengganjalku.

I felt so bad for Empu Manyu, dia membawa patrem milik Demang Sukayana karena gak mau patrem itu sampai mencelakai orang lain, tetapi justru patrem tersebutlah yang membuatnya jadi kehilangan orang yang paling disayanginya. Dan, disinilah yang membuatku heran, patrem itu akan menuntut balas pada keturunan Tumenggung Tjipto kan? dan yang disebutkan adalah Abdul Aziz, tapi aku merasa, Empu Manyu yang justru menanggung pembalasannya. Marini dan Kuda sama-sama kehilangan nyawa karena patrem tersebut ( iya, Kuda ditembak, tapi dengan kelebihan pada indranya, dia gak mungkin juga selamat) dan dari dulu pun hidupnya gak begitu baik, apakah kematian Kuda akan membuat Abdul Aziz menderita nantinya? Aku gak yakin dia akan lebih berduka dari Empu Manyu. Oh, hubungan Empu Manyu dengan Kuda sendiri masih kurang digali menurutku, karena dari awal, cerita ini seperti lebih banyak menyoroti Empu Manyu dibandingkan Kuda, jadi awalnya aku mengira hubungan mereka dingin, tapi ternyata Empu Manyu sayang sekali dengan Kuda.

Rasanya review ini masih kurang, tapi aku sudahi saja. Overall, cerita ini tetap worth it untuk dibaca, aku juga bakal nyoba baca judul lain dari penulis. Actual rate: 3.8/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ❦ ivy.
197 reviews7 followers
September 20, 2025
Ia coba mencari jawaban atas apa yang baru saja dipilih dan apa yang bakal dijalaninya. Renungnya, adakah kesalahan di masa lalu yang ia perbuat, atau leluhurnya perbuat? Jika memang takdir, kenapa takdir itu begitu mengikat?
p. 37
★ 4,5/5
huhh... novel ini adalah definisi dari history repeats itself dan itu semua grgr sebuah patrem ;-) dari novel ini pula lah aku paham dengan maksud orang-orang yg sering ngomong, "entah apa yg telah dilakukan leluhurku sehingga aku memiliki nasib seperti ini..." wakakakak

'Kuda' adalah bacaan tipis tapi padat yg menggabungkan drama keluarga, sejarah pasca-Orde Baru, dan simbol budaya Jawa dalam satu cerita. lewat tokoh Empu Manyu dan anaknya, Kuda, kita diajak melihat bagaimana perubahan zaman, kehilangan, dan beban sejarah membentuk nasib manusia.

selama baca, aku ngevisualisasiin Kuda ya sebagai kuda, kayak yg ada di cover ;D dan awalnya aku juga bingung kenapa Kuda dinamain kuda... aku pikir karna fisiknya yg berbentuk kuda (?) tapi ternyata karna ada sangkut pautnya dengan masa lalu ayahnya :o

alur cerita novel ini non-linear, ceritanya melompat-lompat dari masa lalu ke masa kini dan dari perspektif satu tokoh ke tokoh lain. bagi sebagian pembaca, ini emang menantang dan butuh konsentrasi ekstra sih, tapi efeknya bikin cerita jadi lebih kaya dan penuh misteri. yaaa meski ada bagian yg terasa terburu-buru karna keterbatasan halaman, menurutku, 'Kuda' berhasil menghadirkan kisah singkat namun berlapis, cocok buat pembaca yg suka cerita lokal dengan sentuhan sejarah dan budaya tapi ga mau terjebak di bacaan yg tebal. 🙂‍↕👍🏻
52 reviews7 followers
August 30, 2023
Kuda diberi keberkahan dengan kelima indranya yang sensitif. Semuanya berubah setelah rezim Soeharto tidak lagi berkuasa, semua menjadi keputusan rakyat. Kuda mengalami kejatuhan saat Empu Manyu, ayahnya tidak lagi membuatkan keris untuk para pejabat. Di saat itu Keris sudah biasa menjadi tanda persahabatan.

Cerita berlanjut dengan Ki Anjang, ia dulunya seorang dalang sebelum memutuskan untuk rehat. Ia hanya punya dua anak perempuan, tidak dikaruniai anak lelaki untuk meneruskan dunia perdalangan. Sementara ia dalam perasaan kelam dan kembali menyusun wayang, kedua anaknya menjenguk namun mengambil barang berharga yang tersisa. Bahkan salah satunya mengambil sertifikat rumah. Ia merasa ia di dalam rumah megah itu menunggu untuk roboh bersama, saat ia mati nanti.

Ada Abimanyu, keponakan Ki Anjang yang nyatanya lebih memilih menjadi pandai besi dan nantinya akan terkenal menjadi Empu Manyu. Ternyata Ki Anjang menghabisi kedua anaknya sendiri, sebelum akhirnya membunuh dirinya sendiri. Aku terkejut, karena pada halaman sebelumnya Ki Anjang hanya berkata "Nduk.. ikut bapak, ada yang mau bapak sampaikan."

Empu Manyu tuh ternyata baik banget. Dia memang ke tempat pelacuran, tapi ia menjadi ojek. Bahkan lebih masuk akal jika ia masuk ke tempat itu daripada menjadi ojek sebab ia dikenal sebagai orang kaya.

Seketika itu Empu Manyu tersadar, untuk membantai manusia tidak butuh keris maupun tombak maupun senjata tajam, cukup dengan dendam dan kebencian.
— hlm. 68

tapi tetap saja, pemberontak adalah pemberontak, kecuali dia memenangkannya. — hlm. 80
Profile Image for Mira.
47 reviews1 follower
September 12, 2024
Menceritakan tentang kehidupan seorang anak bernama Kuda yang tinggal berdua dengan ayahnya, Empu Manyu.. seorang pengrajin keris yang pada masa orba namanya sangat amat termahsyur dan disegani.

Namun, masa depan berkata lain. Setelah runtuhnya orde baru, runtuh pula kemahsyuran dan kehidupan nyaman Kuda dan ayahnya yang selama ini dirasakan. Setelah ditinggalkan Era Orde Baru mereka berdua hidup dengan pas pas an hingga Kuda pun tak dapat meneruskan sekolahnya karena terkendala biaya.

Dibalik kehidupan Kuda dan Ayahnya, terselip kisah sejarah yang pelik, dimana dibalik nama "Kuda" yang selama ini kita tahu..tersimpan takdir dan kutukan keris seorang sakti yang siapapun tak dapat hindari.

Hanya terdiri dari 104 halaman namun alur di buku ini cukup intens dan padat. Banyak tokoh dan alur yang maju mundur sehingga pembaca mesti lebih ekstra untuk menyambungkan kisah dalam setia bab nya. Cukup gak nyangka karena kisah yang awalnya dramatis, tragis dapat berubah menjadi kisah yang sangat menyentuh dan penuh air mata (nangis T^T). Walaupun endingnya agak tergesa gesa namun tetap mengguncang jiwa dan bikin aku pribadi terbngong bengong dan yaaah overall paduan sejarah, mistik, dramanya bener bener kental dan ciamik untuk sebuah buku dengan tebal hanya 104 halaman ini, jadi silahkan dibaca dan nikmati sendiri 🐎
Profile Image for Tamira Bella.
177 reviews
January 18, 2024
Buku ini tipis, tapi isinya benar-benar padat, alur yang digunakan merupakan alur campuran serta banyak POV disajikan dari berbagai tokoh sampingan yang ternyata memiliki hubungan dengan peran utama.

Secara garis besar Kuda berkisah tentang asal usul laki-laki yang bernama Kuda. Tanpa melakukan spoiler pada buku ini akan dijelaskan dengan detail akan kehidupan, asal mula kelahiran, hingga background ibu, ayah angkat, dan ayah kandungnya Kuda.

Ceritanya sangat complicated, saya mencoba menyimpulkan bahwa cerita ini memiliki makna tersirat tentang penghianatan menghasilkan karma. Cara kerja karma (hukum tabur tuai) pasti akan didapatkan bagi siapapun yang menanam benih, hanya saja dalam konteks cerita ini, yang menuai tidak hanya yang menanam benih, tapi hingga keturunan ke-sekian yang bahkan tidak bersalah.

I feel so bad for this, why? OMG i hope it's just true on story author, not in real life anyone.
In real life I believe God know well about somethin' is true or false.

Terlepas dari itu semua, buku ini bagus sekali, saya suka, apalagi latar yang dibangun banyak menampilkan berbagai era, mulai dari sebelum kemerdekaan, orde lama, orde baru, kerusuhan 98, hingga reformasi dan 2000an.
Profile Image for Ella Oktaverina.
290 reviews1 follower
October 21, 2023
Setiap manusia berhak memilih jalan hidupnya sendiri.- Halaman 21.

Kuda sesungguhnya adalah sebuah buku yang tak terlalu tebal meski demikian ceritanya pun tidak sesederhana itu. Kuda jangan diartikan harfiah, karena ia adalah nama seorang anak manusia, Kuda Anjampiani, begitu nama lengkapnya. Sang ayah punya alasan mengapa ia menamainya demikian. Empu Manyu adalah ayahnya, ia hidup dari membuat keris. Dari zaman dahulu di mana keris sangat dihargai mahal karena dianggap pusaka, hingga zaman tersebut berubah dan keris tak lagi memiliki nilai serupa.

Kuda bercerita tentang kisah hidup Kuda sendiri dan Empu Manyu di masa lalu dan saat ini. Saya sangat terbantu dengan halaman yang tak terlalu tebal sehingga membuat buku ini dapat saya selesaikan sekali duduk. Namun sepertinya walau ia sedikit lebih tebal, saya juga bisa melakukannya karena ceritanya cukup menarik (dan sedikit tragis). Diksi yang digunakan penulis mengalir hingga tanpa sadar 100 halaman sudah saya lahap begitu saja. It was a pleasure.
96 reviews1 follower
April 2, 2024
Buku kedua Panji Sukma yang kubaca, dan bisa kubilang ini progres yang baik. Fokus pada Kuda, cerita ini meminjam alur legenda tokoh-tokoh Majapahit yang cukup menjanjikan. Laju bukunya cukup membosankan di tengah, namun bisa ditangkas dengan fokus cerita tentang si Kuda—yang menurutku jadi kekuatan buku ini. Fokus ke pemeran utama nggak terbagi dengan para figuran yang timbul tenggelam.

Sayangnya, aku masih sedikit meraba-raba latar belakang budaya dan sosial politik buku ini. Ada beberapa keambiguan yang kurasa bisa dieksplor lebih lanjut agar menciptakan dunia yang lebih kaya. Pun, beberapa transisi dari era ke era canon yang cukup eksplisit (seperti penyebutan merek kendaraan) jujur agak ... disangsikan gimanaaa gitu. Konflik utamanya pun cukup terasa dangkal—dibandingkan konflik di Sang Keris—meski justru ini yang membuat bukunya jauh lebih ringkas dan mudah diselesaikan. Yah, setidaknya sedikit cuplikan picisan roman Empu Manyu dan Marini memberi sedikitnya kesan manis di buku ini, lah.
Profile Image for Mizuoto.
146 reviews1 follower
August 13, 2025
“Kuda”, bukanlah fabel melainkan novel yang bakal mengajak pembaca untuk menjejaki ironi kehidupan manusia dalam balutan persahabatan, pengkhianatan, dendam, hingga relasi kekuasaan.

Panji apik mengemas cerita kehidupan yang melewati banyak masa, dan setiap individu di masa lalu membentuk benang takdir yang memengaruhi nasib keturunannya. Para tokoh mengalami kejadian-kejadian yang terlihat tidak saling terkait, tetapi menentukan takdir tokoh utama di masa kini.

Panji tidak sekadar merasionalkan absurdisitas mistik maupun memberikan segudang informasi perihal keris, patrem, dan profesi dalang sebagai bagian budaya kita, melainkan juga menempatkan mistifikasi keris sebagai alat pemberi kutukan, simbol pembalasan dendam, hingga negosiasi kekuasaan, yang mengantarkan kematian demi kematian tokoh-tokohnya, turun-temurun.

Resensi lengkap bisa dibaca di sini
Profile Image for farah.
60 reviews3 followers
January 9, 2023
✨ — 4.5/5

“Empu Manyu sadar, untuk membantai, manusia tidak butuh keris maupun tombak maupun senjata tajam, cukup dengan dendam dan kebencian.”

aku sukses dibuat takjub sama setiap cerita di buku ini, terlebih begitu banyak karakter yang muncul dan saling berkaitan, tapi watak setiap karakter itu juga yang sukses bikin aku geleng-geleng kepala

cerita ini fokus kepada asal-usul seorang Kuda, nama tokoh utama pada buku ini, dimulai dari cerita soal keluarga terdahulunya hingga kenapa dia dinamai demikian, yang pada akhirnya membuat aku paham dan menjadi salah satu alasan aku dibuat takjub

kekurangan buku ini menurut aku adalah endingnya yang seakan belum tuntas, entah itu mungkin sengaja agar kelak ada sekuelnya, tapi aku ngga yakin soal ini, jadi menurut aku masih banyak ninggalin tanda tanya
Profile Image for Aksara Raia.
48 reviews13 followers
March 30, 2023
4.75/5

Sebuah novel yang meskipun hanya memiliki kurang dari 100 halaman, tapi jalan ceritanya seru tanpa harus merasa digantungkan. Ada unsur pewayangan, mitos, dan tentu sejarah di dalamnya yang menjadi pondasi cerita. Berpusat pada seorang anak yang dinamai Kuda oleh sang ayah. Yang aku kagumkan dari buku ini adalah dengan halaman kurang dari 100 tapi cerita yang disajikan itu enggak bertele-tele apalagi ngegantung. Banyak bab di dalamnya, yang kesemuanya memiliki benang merah pada si karakter utama yakni Kuda. Penggunaan bahasa Indonesianya nggak membosankan dan selama membaca, hampir nggak aku temui typo sih. Ini nilai plus sih kalau dari aku. Masih terheran-heran sampai detik aku mengembalikan kembali bukunya ke rak, kok bisa sih novel kurang dari 100 halaman tapi ceritanya begitu matang dan enggak ada plot hole.
Profile Image for Liana.
14 reviews
January 10, 2024
Cerita ini bisa dinilai singkat karena untuk konflik yang demikian, 100an halaman rasanya masih kurang buat aku. Namun, aku paham— dengan alur yang cukup kompleks dan singkat membuat buku ini terkesan banyak 'daging'.

Menceritakan tentang hidup Kuda— nama orang, yang hidup bersama ayahnya seorang. Ibunya meninggal semasa ia dilahirkan. Konflik keluarga yang lumayan dikemas dengan begitu apik, alurnya dibuat maju mundur sehingga pembaca lebih memahami atas apa yang terjadi pada kehidupan tokoh utama.

Sangat disayangkan endingnya yang terkesan terburu-buru. Kendati demikian, buku ini masih aku rekomendasikan dengan sangat kepada orang-orang yang menyukai cerita dengan diksi cantik, alur yang ciamik, serta amanat yang apik. Oh iya, aku juga suka sama penulis yang sedikit-sedikit menyinggung tentang peristiwa sejarah Indonesia.
Displaying 1 - 30 of 63 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.