Jump to ratings and reviews
Rate this book

Melihat Pengarang Tidak Bekerja

Rate this book
"Sebagai pengarang, saya meyakini menulis adalah perbuatan baik. Sebagaimana perbuatan baik lainnya, ia akan menghadapi godaan yang mencoba menggagalkannya setiap ia ingin ditunaikan. Oleh karena itu, saya akhirnya juga menyakini bahwa menulis itu berat. Sebab tak ada perbuatan baik yang mudah dilakukan. Sebesar keinginan saya untuk menulis dan menjadi penulis, sebesar itu pula upaya saya mencari alasan untuk tak melakukannya."

Mahfud Ikhwan adalah penulis novel Ulid (2009), Kambing dan Hujan (2015), Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017), Anwar Tohari Mencari Mati (2021), dan Bek (2021). Beberapa karya esainya berjudul Aku dan Film India Melawan Dunia (2017), Dari Kekalahan ke Kematian (2018), Sepakbola Tak Akan Pulang (2019), Dari Belakang Gawang (2021, bersama Darmanto Simaepa), Cerita, Bualan, Kebenaran (2020), dan Menumis Itu Gampang, Menulis Tidak (2021).

128 pages, Paperback

Published February 15, 2022

3 people are currently reading
37 people want to read

About the author

Mahfud Ikhwan

23 books75 followers
Mahfud Ikhwan lahir di Lamongan, 7 Mei 1980. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada, tahun 2003 dengan skripsi tentang cerpen-cerpen Kuntowijoyo. Menulis sejak kuliah, pernah menerbitkan cerpennya di Annida, Jawa Pos, Minggu Pagi, dan di beberapa buku antologi cerpen independen.

Bekerja di penerbitan buku sekolah antara 2005–2009 dan menghasilkan serial Sejarah Kebudayaan Islam untuk siswa MI berjudul Bertualang Bersama Tarikh (4 jilid, 2006) dan menulis cergam Seri Peperangan pada Zaman Nabi (3 jilid, 2008). Novelnya yang sudah terbit adalah Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009) dan Lari Gung! Lari! (2011). Novelnya yang ketiga, Kambing dan Hujan, memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014.

Selain menulis dan menjadi editor, sehari-harinya menulis ulasan sepakbola di belakang gawangdan ulasan film India di dushman duniya ka, serta menjadi fasilitator dalam Bengkel Menulis Gerakan Literasi Indonesia (GLI).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (16%)
4 stars
30 (53%)
3 stars
16 (28%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
July 10, 2022
56 - 2022

Sudah lama sejak saya terakhir membaca kumpulan esai, pas baca tulisan Mahfud Ikhwan kali ini jelas saya kebanyakan senyum-senyum sendiri, ya tentu saat dia bercerita tentang sulitnya dia punya waktu mengarang/menulis, dna kebanyakan tidur.

Ya, penulis juga manusia, tapi saya melihat begitu sangat manusiawinya seorang Mahfud Ikhwan. Sama saja seperti saya yang ngaku blogger tapi nulisnya hampir bisa dihitung kapan kejadian terpublish.

Tulisan favorit saya yang berjudul :
- Penulis? Oh, yang di Percetakan
- Pulang, Pola dan Mood
- Penulis dan Tidurnya
- Melihat Pengarang Tidak Bekerja
- Sastra adalah ... yang Gelap-gelap Gitu, kan?
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books102 followers
July 5, 2022
Tidur dan menulis berebutan dengan bekerja dalam tubuh dan kepala saya (Hal. 112)

Buku ini iseng saja dipinjam di ipusnas, dan dibaca sekali tidur-tiduran akibat listrik padam dan sinyal menghilang. Rupa-rupanya buku ini berisi kumpulan esai yang ditulis dan berasal dari pengalaman penulisnya yang mungkin seringkali penulis lain rasakan. Dan jika kuboleh mengaku-aku sebagai penulis, aku pun kerap demikian. Misalnya, mencari cara-cara menunda menulis, berpikir kalau punya alat yang lebih canggih akan lebih lancar menulis (yang sebenarnya ini ga begitu ngaruh), atau terkait mood. Buku ini juga membicarakan opini publik terkait sastra misalnya sastra populer, sastra itu yang 'gelap-gelap' dan sebagainya.
Sebagai esai, buku ini mudah dibaca, dimengerti dan ditertawai. Beberapa hal sudah terlupa seiring ingatan membacaku yang mudah pudar. Namun, kuakan mencatat beberapa kutipan di sini.

"Saya sangat menyukai menulis. Saya mencintainya, dan sudah bertahun-tahun bertahap untuknya. Tapi, bisa menemukan alasan untuk tidak melakukannya kadang jauh lebih menyenangkan." (Hal. 36)

Kesegaran sesudah tidur tak menjamin saya bisa menulis, sementara saya sering tak memerlukan menulis untuk bisa tidur (Hal. 112)
Saya selalu membayangkan, penulis yang bisa menulis populer adalah mereka yang sanggup menyampaikan hal rumit menjadi lebih sederhana, mendekatkan yang jauh agar lebih terjangkau, mengangkat yang tersembunyi jadi lebih bisa digapai, dan untuk menjadi penulis seperti itu, bayangkan kekayaan kosa kata yang mesti dimiliki. (Hal. 104)
Dan siapa kamu dan apa hakmu mencegah orang menganggap ini karya sastra dan ini bukan, atau sebaliknya, yang menganggap bahwa semua yang ditulis itu karya sastra? Bagaimana kalau itu betul-betul menggetarkan hati orang yang membacanya?" (Hal. 122)
Profile Image for raafi.
928 reviews449 followers
July 6, 2025
Apa sih yang diharapkan dari karya tulis dengan judul seperti buku ini? Kisah inspirasional yang bisa menggugah pembaca untuk bangkit dari keterpurukan? Hal-hal praktis dengan how-to lists yang bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari? Atau biografi pengarang yang telah menelurkan berbagai macam karya tulis termasuk prosa panjang, cerita pendek, dan esai?

Semua itu tidak ada di sini. Ini buku berisi racauan penulis yang penat dengan keseharian menulisnya; tentang ia yang prokrastinasi untuk melanjutan apa yang harus ditulisnya, tentang ia yang berjibaku antara menulis atau tidur, tentang ia yang menganggap menulis adalah ibadah yang penuh godaan berat. Hal-hal tersebut membuat saya, sebagai pembaca, melihat penulis sebagai orang yang membumi, andhap asor, dan sebagaimana layaknya manusia pada umumnya.

Namun, dari buku ini juga saya mendapatkan pandangan unik tentang beberapa hal. Yang paling terpatri adalah tentang sastra yang konon gelap dalam tulisan “Sastra adalah… yang Gelap-gelap Gitu, ‘Kan?”. Dalam satu paragraf panjang penulis merunut segala macam jenis cerita dari mitos Yunani, dongeng luar negeri, hingga karya sastra lokal yang memang dipenuhi nuansa kelam, kekerasan, atau tragis. Saya mungkin mengiyakan hal tersebut karena saya melihat bahwa sastra kerap kali merupakan bentuk fiksi dari berbagai permasalahan atau sisi gelap kehidupan. (Kok malah bahas ini?)

Melalui kumpulan tulisan di buku ini, saya menilai penulis jago dalam menyajikan esai dengan argumen yang cukup eksentrik cenderung nyeleneh tapi bisa diterima dan bikin angguk-angguk.

Terlepas dari itu, sejak “Kambing & Hujan” dan “Dawuk”, saya memang sudah nandain penulis sih. Gaya cerita/tulisan penulis, baik itu dalam fiksi maupun nonfiksinya, saya suka.
Profile Image for Zalila Isa.
Author 13 books53 followers
July 2, 2024
Selesai membaca dengan kepuasan tersendiri. Mungkin, sebagai penulis (yang turut tidak bekerja - malas), buku ini benar-benar memerangkap saya untuk menyukainya.

Buku ini memuatkan 12 esei seputar isu-isu yang penulisan dan sekitar diri dalam kancah kepengarangannya. Semuanya menarik sehingga ada yang saya baca dua tid

Entah bagaimana, saya merasakan kesemua yang dieseikan, berkaitan dengan saya. Mungkin sebabnya kami lahir pada zaman yang sama - iaitu zaman peralihan tradisi (70-an hingga 80-an) yang menuju ke zaman moden (Internet mula menguasai dunia sekitar akhir 90-an - kini). Ya, kami berada pada zaman itu yang serba-serbi membangun dan maju. Kami melangkah dari zaman tanpa TV, menikmati TV dan kemudian Internet yang membebaskan segalanya.

Untuk hal kepengarangan, sudah tentu kami diganggu-gugat cabaran yang sama - mahu tulis apa, keselesaan yang membunuh ketekunan menulis dan banyak lagi.

Esei-esei Mahfud dalam buku ini menceritakan gugatan-gugatan yang dihadapi olehnya sehingga 'tidak bekerja' (yang bagi saya ialah tidak mampu menulis lebih aktif).

Saya ambil inspirasinya, dan mahu menulis topik-topik yang sama berlatarkan Malaysia pula. Insya-Allah.
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
October 1, 2022
Saya pertama kali mengenal nama Mahfud Ikhwan ketika mengikuti Bengkel Literasi yang diadakan Balai Bahasa DIY, di tahun 2020. Kegiatannya adalah workshop penulisan cerpen bagi pelajar-pelajar di Yogyakarta, baik perguruan tinggi maupun sekolah menengah. Saat itu, selain Asef Saeful Anwar (yang sekarang menjadi dosen saya) dan Artie Ahmad, Mahfud Ikhwan juga menjadi pengisi acara (katakanlah pembicara sekaligus mentor sebelum cerpen-cerpen yang digarap bisa naik terbit menjadi antologi). Ia mengomentari bahwa cerpen saya sudah bagus dan rapi, tapi membubuhi catatan soal bias gender yang saya sendiri juga nyaris nggak menyadarinya (di bawahnya lagi ada catatan dari Asef Saeful Anwar yang sama-sama mengkritisi bias gender dalam cerpen saya).

Impresi pertama? Jelas biasa-biasa saja dan saya mendengarkan segala materi yang disampaikannya sambil lalu. Hanya sekadar, "Oh, beliau semua (ketiganya) adalah penulis. Sudah banyak menulis dan menerbitkan buku. Sangat keren dan hebat. Wow," dan ya memang sebatas itu. Meski kekaguman itu tetap ada, impresi pertama saya terhadap Mahfud Ikhwan malah lemah. Padahal, saya yang sudah mulai memasuki semester tua ini malah sedang bucin-bucinnya pada Mahfud Ikhwan setelah mengenalinya secara lebih personal sejak membaca Kambing dan Hujan. Ini semacam parasocial relationship antara penulis dan pembaca. Berangkat dari prodi dan almamater yang sama, kebingungan yang sama, dan personaliti yang (lumayan) sama, saya jadi menyadari bahwa saya bisa mulai 'melihat' diri saya sendiri versi masa depan.

Mahfud sangat pandai menulis, berkata-kata, dan berbicara. Saya sering (aduh pokoknya sangat sering) menghadiri acara-acara di mana ia menjadi pembicara dan saya akan mendengarkan segala ocehannya (yang nyaris nggak pernah ada petuahnya) itu dengan khidmat, seolah-olah sedang kuliah 3 SKS. Nyata adanya, membaca buku ini membawa saya mengenali sosok idola saya dengan lebih dekat. Mahfud yang menulis karena ia payah dalam segala hal kecuali menulis, Mahfud yang merasa nggak enak harus menjelaskan pada orang lain bagaimana cara penulis 'bekerja', Mahfud yang iri pada penyair-penyair dan pengarang-pengarang asal Sumatera, Mahfud yang merasa sedikit beruntung karena belajar 'teori' di bangku kuliah dan memilih untuk menciptakan dunianya sendiri agar orang lain mengkajinya dengan 'teori' tersebut.

Tulisan-tulisan ini sudah pernah dimuat di Mojok, tapi bagaimanapun, membacanya secara gratis di Ipusnas nggak akan membuat saya protes banyak-banyak. Sepanjang membaca saya hanya bisa haha-hihi dan cengengesan, bahkan mesam-mesem nggak jelas. Merasa seperti diajak ngobrol, merasa nyambung, merasa sangat paham tentang segala hal yang ditulis Mahfud. Betapa kegelisahan-kegelisahan itu nyaris semuanya sama. Bahkan, sebagai penulis (saya mengaku secara sepihak) yang masih seumur jagung dan belum menyelami pahit-manis dunia kepenulisan, saya memang sudah mengaminkan banyak hal soal cerita-cerita yang ada di dalam kumpulan esai ini. Khususnya, soal Mahfud yang iri pada pengarang-pengarang Sumatera:

Ini pasti sangat bias Jawa, dan ini pasti bukan opini yang populer, tapi saya meyakini (masih sampai sekarang) bahwa para penulis asal Sumatera punya "privilese" lebih atas bahasa Indonesia dibanding penulis dari tempat lain, termasuk Jawa macam saya. Orang-orang Sumatera bersuku-suku, berbicara dengan bahasa ibu yang berbeda-beda, dan (mungkin) saling tak mengerti satu sama lain, sebagaimana kita semua di seantero Nusantara—dan karena itulah para pendiri negeri ini "menciptakan" bahasa "baru" untuk kita, agar kita saling mengerti satu sama lain, dan itulah Bahasa Indonesia. Tapi, bagaimanapun, kita semua tahu dari lempung tanah mana Bahasa Indonesia dibentuk. (halaman 52)

Sebagai mahasiswa sastra yang dicekoki materi asal-usul bahasa Indonesia dan rentetannya dari bahasa Melayu (sampai bagannya yang bikin muak itu), saya benar-benar tahu rasanya. Ini juga pernah dibahas Asef Saeful Anwar soal mengapa karya sastra kita (khususnya sastra lama) didominasi oleh pengarang-pengarang dari Sumatera. Berkali-kali saya yang haha-hihi dan cengengesan, bahkan mesam-mesem nggak jelas sepanjang bacaan pun mulai mengangguk-angguk dalam diam. "Oh iya, iya juga ya. Aduh ini kok benar sekali. Can relate! Senasib, duh," dan lain sebagainya. Saya berharap suatu saat nanti Mahfud bisa mengisi kuliah di kelas yang saya ikuti (mengingat Mahfud dan Asef saling mengenal dan cukup dekat sebagai sesama penulis muda). Terima sungkem saya, Cak!
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books50 followers
February 20, 2022
Ini esai-esai yang sifatnya personal. Membicarakan kerja kepengarangan (atau kepenulisan secara umum) lewat recalling memory.

Tulisan Cak Mahfud di buku ini, seperti esainya yang lain, berhasil menggunakan sinisme sebagai amunisinya. Membuat pembaca seringkali mau-tidak-mau terlibat. Entah tersinggung, atau bahkan tertohok. Lihat saja esai “Hanya Penulis”, “Melihat Pengarang Tidak Bekerja”, atau “Pulang, Pola, dan Mood”.

Buku yang penting dibaca penulis muda karena banyak mewakili keresahan yang sama namun dengan cara pandang yang agaknya berbeda.
13 reviews
July 4, 2025
Esai-esai dalam buku ini akan menguji siapa pun yang berniat untuk hidup sebagai penulis. Penuh kisah getir, tantangan—baik eksternal atau berurusan dengan diri sendiri, dan selentingan dunia penulisan tanah air.

Mulai dari cerita soal nasib penulis yang mesti menjelaskan soal pekerjaannya—sebab kebanyakan orang masih belum menganggapnya sebagai profesi, lebih-lebih mampu menghidupi. Lalu mempertanyakan, apa sih sastra itu?

Buku Cak Makhfud Ikhwan ini berisi kumpulan esai yang terbit selama masa pandemi di Mojok. Seperti judulnya, ia berkisah tentang hal-hal yang menghiasi kesehariannya sebagai penulis. Apa yang dia alami barangkali akan sedikit membuat pembaca paham soal tantangan menulis.

Buku ini tipis. Kurang dari 130 halaman dan berisi 12 esai yang sebetulnya cukup ringan dan menyenangkan untuk dibaca sekali waktu—tapi saya sengaja mengiritnya, sama seperti saat menemukan makanan yang enak. Sedikit demi sedikit dikunyah agar lebih terasa nikmatnya.

Pujian itu tentu tulus—mengabaikan fakta bahwa kami lahir di kecamatan yang berdekatan. Setidaknya, sebagai seorang yang karyanya menang sayembara bergensi, perkenalan saya dengan bukunya ini memenuhi ekspektasi.

Buku ini adalah jenis buku yang menjelaskan, jika tidak bisa dibilang mencerahkan. Khususnya orang-orang seperti saya, orang-orang yang penasaran bagaimana proses kreatif dan tidak kreatif penulis dalam menggendong sebutan itu.

Saya sendiri sehari-hari bergumul dengan tulis-menulis konten. Tidak persis dengan apa yang biasa Cak Mahfud lakukan, tapi kurang lebih punya pondasi yang sama. Hidup dari kata-kata.

Saya tidak sabar membaca buku-bukunya yang lain (saya punya beberapa dan sengaja mencari waktu yang tepat untuk membacanya—tapi selalu mundur—sama seperti Cak Mahfud yang punya segudang alasan untuk menunda menulis).
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
October 31, 2025
Aku mungkin udah mengatakan: aku ngefans sama Mahfud Ikhwan sebanyak 726 kali. Padahal, bukunya yang aku baca baru 3, tapi rasanya udah bisa klaim kalau jadi pengagumnya :D makanya, gak ada keraguan untuk mencicipi buku-buku lain cak Mahfud, termasuk non fiksi Melihat Pengarang Tidak Bekerja ini.

Ini adalah kumpulan esai yang keseluruhannya udah tayang di mojok. Ya, ibaratnya, bisa dibaca gratis langsung di situs mojok. Tapi, tentu saja beda rasanya jika dapat baca isi kepala cak Mahfud lewat buku. Terlebih, -sesuai judulnya, ia banyak bicara seputar proses kreatifitasnya menulis.

Termasuk saat cak Mahfud jujur bilang kecewa dengan pewajahan novel pertamany Ulid Tak Ingin ke Malaysia. "Dan saya memang kecewa ketika akhirnya menatapnya: warna kuningnya, font judulnya yang mengekori sebuah novel motivasional yang sedang laris, gambar perempuan berkerudungnya yang memilukan, ukurannya, dan terutama label "berasar kisah nyata"-nya. Tapi saya merasa sedang melewati fase istimewa dalam perjalanan kepenulisan saya." hal.72.

Dan jujur, memang secara tampilan buku itu nggak kece dan kurang menarik perhatian. Walau pepatah mengatakan jangan nilai buku dari sampulnya, dan cerita Ulid itu buagus banget, dari POV sesama penulis (bedanya aku belum sehebat cak Mahfud), aku bisa merasakan kekecewaan itu dan untungnya kemudian novel Ulid dicetak ulang dengan pewajahan yang jauh lebih bagus.

Aku suka buku ini. Ringan -khas cak Mahfud, dan asyik untuk diselami. Jadi banyak tahu juga tentang kehidupan cak Mahfud bahkan sejak kecil. Termasuk saat-saat ia diusir oleh ayahnya dan kemudian lebih banyak tidur di masjid/mushola. Menyakitkan, walau di novel Ulid, cak Mahfud malah menghadirkan sosok ayah yang berbeda 180 derajat ketimbang (penggambaran) ayahnya dulu.

Skor 8,5/10
Profile Image for Aldila Sakinah Putri.
83 reviews
June 1, 2022
"Saya sangat menyukai menulis. Saya mencintainya, dan sudah bertahun-tahun bertahan untuknya. Tapi, bisa menemukan alasan untuk tidak melakukannya kadang jauh lebih menyenangkan." Hlm. 36

Apa yang dilakukan oleh penulis selain menulis? Oh tentu saja melakukan banyak hal. Buku ini menjelaskan semuanya. Dimulai sejak alasan mengapa menjadi penulis, hingga bergulat dengan masalah utama yakni penulis sering kali tidak punya banyak waktu untuk menyelesaikan naskahnya. Betul?

Buku ini merupakan kumpulan esai yang terbagi dalam 12 judul bab, yang lagi-lagi berkorelasi dengan kegiatan penulis itu ya ga hanya menulis aja. Kadang iri sama penulis pemula, berkhayal nerbitin novel best seller, dan sering banget nyalahin laptop padahal ide menulisnya aja belum ada. Hahaha. Hampir semua judul nih bikin aku merasa: hhmmm aku banget!

Jika disuruh memilih mana bab favorit, sungguh sulit kawan. Sebab setiap ending di tiap judulnya pasti ada kutipan favorit, atau bisa dikatakan kata-kata manis yang menohok sanubari 😂 betapa penulis tahu betul jika aku (yang menganggap diri sebagai penulis ini) lebih susah mengumpulkan niat daripada ide tulisan.

Menulis kalau ada mood? Ada di halaman 61. Buku pertama terasa tidak puas? Coba baca halaman 71. Bagaimana cara menjelaskan pekerjaan seorang penulis? Kalian pasti ngakak di halaman pertama.

Buku ini ringan dibaca di sela-sela kegiatan bekerja, khususnya untuk aku yang setiap hari membangun niat untuk menulis dan selalu saja punya alasan: aku mulai besok saja 🤧

"Masalahnya: kesegaran sesudah tidur tak menjamin saya bisa menulis, sementara saya sering tak memerlukan menulis untuk bisa tidur." Hlm. 112
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
February 15, 2025
Menjadi penulis karena merasa payah dalam hal apa pun kecuali menulis, mungkin sudah menjadi landasan atau semacam cetak biru bagi banyak penulis, tak terkecuali Mahfud Ikhwan.

Meskipun saya pikir Cak Mahfud ialah seorang penulis yang cukup produktif—sejak novelnya yang berjudul Kambing dan Hujan (2015) menjadi juara pertama Sayembara Novel DKJ 2014, ia hampir merilis buku baru setiap tahunnya—ternyata ia tetap punya banyak alasan untuk tidak menulis. Sebagian besar esai-esai dalam buku ini seakan memvalidasi bahwa kadang kala pengarang memang tidak bekerja.

Menarik ketika Cak Mahfud menganggap bahwa menulis boleh jadi memiliki kedudukan sejajar dengan perbuatan-perbuatan baik yang lain, atau bahkan ibadah—jika pakai term agama. “Itulah kenapa—katakanlah seperti salat tepat waktu, puasa sebulan penuh di bulan Ramadan, bersedekah, membayar zakat, dll.—menulis selalu menghadapi godaan begitu ia hendak ditunaikan,” kata Cak Mahfud, yang entah kenapa diam-diam saya mafhumi.

Namun, sebagaimana penulis cum pembicara yang sering kali mengisi seminar atau kelas kepenulisan, jelas Cak Mahfud tetap harus menyiapkan moto penting meskipun kelak itu menjadi ironi tersendiri. Mengutip kalimat dari novel favoritnya, Pater Pancali karya Banerji, ia berpesan: “Api dilahirkan oleh api. Kita tak dapat menyalakan obor dengan menyelundupkannya di tumpukan abu yang dingin.” Kalimat itu ia sebut untuk menanamkan kesadaran bahwa semua penulis baru tak lebih dari peminjam api para penulis lama, yang berarti bahwa para penulis—baik pemula ataupun tidak—sebaiknya banyak membaca.

Jadi, membacalah.
Profile Image for Nourman Yafet Goro.
99 reviews7 followers
September 25, 2023
Buku kedua Mahfud Ikhwan yang saya baca, terdapat 12 esai tentang dunia kepenulisannya, yang disampaikan dengan jenaka dan jujur. Alih-alih membuat orang mendapatkan inspirasi untuk semangat menulis, buku ini justru sebaliknya.

Sebagai seseorang yang membaca tulisan Raditya Dika, tulisan Mahfud Ikhwan ini menyadarkan saya bahwa menulis sesuatu (seperti postingan blog) yang lucu ternyata tidak selalu harus menggunakan aksen Jakarta atau bahasa tempat saya tumbuh. Beberapa kali saya batal menulis postingan blog karena bingung, jika menyampaikan dengan bahasa Indonesia yang terlalu baku, maka postingan tersebut akan kehilangan kelucuannya, walaupun memang untuk bisa menulis pengalaman lucu dengan bahasa Indonesia ternyata butuh usaha ekstra juga. Hal ini juga menjadi salah satu keresahan sang penulis yang disampaikan dengan menarik oleh Mahfud Ikhwan.

“Saya sangat menyukai menulis. Saya mencintainya, dan sudah bertahun-tahun bertahan untuknya. Tapi, bisa menemukan alasan untuk tidak melakukannya kadang jauh lebih menyenangkan." Halaman 36
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,090 reviews17 followers
December 21, 2023
Di kumpulan esai ini, Mahfud Ikhwan curhat tentang kehidupannya sebagai seorang pengarang. Seperti esai yang menjadi judul buku, ia menceritakan tentang tema yang menyorot tentang pengarang yang suka menunda-nunda untuk menulis dan menyelesaikan proyek tulisan yang ia miliki. Sebab, ketika ingin menulis, ada saja distraksi lain yang datang, seperti rebahan dulu, ngopi dulu, nonton film dulu, dan semacamnya.

Mahfud juga bercerita tentang bagaimana seorang penulis seperti dirinya yang berasal dari daerah dan berbahasa Jawa, awalnya cukup sulit untuk menulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Sebab, selama Mahfud tumbuh, ia lebih banyak memahami ilmu-ilmu dari bahasa Jawa. Pemahaman bahasa Indonesia yang ia dapatkan ketika masih kecil sampai remaja, salah satunya, adalah dari drama radio.

Itulah sedikit topik dari 12 esai yang ada di sini. Sebab, kita akan menjumpai topik lain seperti kesukaan Mahfud kepada sepak bola, profesi sebagai penulis yang sering dianggap remeh oleh orang-orang di sekitarnya, serta proses panjang dirinya ketika menerbitkan buku pertamanya.
Profile Image for Amel.
207 reviews4 followers
May 20, 2025
☆ 4/5

Melihat Pengarang Tidak Bekerja adalah sebuah tulisan yang kental dengan _love hate relationship_ antara penulis dengan tulisannya. Penuh dengan drama, dan kemelut yang dijalani oleh penulis demi menciptakan suatu tulisan sebagaimana yang telah diidam-idamkannya.
Disajikan dengan natural, menggemaskan, sekaligus asik untuk diikuti. Sepanjang baca tak henti-hentinya terkikik geli mengikuti drama sang penulis.

Rupanya memang sesulit itu menjadi penulis yang benar-benar menulis, sesulit itu juga mencari alasan untuk tidak menulis. Pantaslah beliau, Mahfud Ikhwan sendiri juga dengan penekanan yang mantap senantiasa mengulang kalimat, "Sebagai pengarang, saya meyakini menulis adalah perbuatan baik. Sebagaimana perbuatan baik lainnya, ia akan menghadapi godaan yang mencoba menggagalkannya setiap ia ingin ditunaikan. Oleh karena itu, saya akhirnya juga meyakini bahwa menulis itu berat. Sebab, tak ada perbuatan baik yang mudah dilakukan.

Sebesar keinginan saya untuk menulis dan menjadi penulis, sebesar itu pula upaya saya mencari alasan untuk tak melakukannya."
Profile Image for 🎏.
13 reviews
July 1, 2025
Buku ini berhasil menggelitik, menyindir dan menampar gue. Dengan segala keresahan yang amat terasa relate walaupun gue hanyalah penulis abal-abal yang kebetulan lulusan sastra. Ketimbang memotivasi gue buat terus menulis buku ini malah mengajak gue buat melihat realita yang ada.

Mau kasih rate 5/5 karena gue hanyalah manusia biasa yang gampang terhibur dan bukanlah kritikus buku kondang.
12 reviews
April 25, 2023
Menyenangkan sekali rasanya saat membaca buku ini. Beberapa kali dibuat berpikir dan 'mau tak mau' sepakat dengan apa yang ditulisnya. Soalnya relate sekali wahaha
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.