Jump to ratings and reviews
Rate this book

Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu

Rate this book
Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu merupakan buku kumpulan puisi karya M. Aan Mansyur yang secara garis besar mengangkat tema atau berbahan dasar tentang pertanyaan-pertanyaan perihal imajinasi hidup bersama. Tentang hilangnya banyak “kita”—yang dalam sajak ini bukan hanya kita manusia, tapi juga berarti bahwa manusia hanya bagian kecil dari kita yang lebih besar. Isu yang dibahas juga beragam dalam tiap sajak dan hal tersebut bisa digambarkan lewat kutipan Audre Lodre yang kelak akan teman-teman pembaca temukan pada epigraf buku ini, “Tidak ada itu perjuangan isu tunggal, karena kita tidak menjalani masalah hidup tunggal.” Kira-kira begitu.

Secara bentuk juga sangat beragam, diwakili oleh kutipan Scholes yang juga terdapat dalam epigraf buku ini, bahwa puisi bisa dilihat bukan sebagai satu genre, tetapi sistem penyampaian, sebentuk medium, di mana di dalamnya bisa ada sejumlah genre.

114 pages, Hardcover

Published October 1, 2021

10 people are currently reading
81 people want to read

About the author

M. Aan Mansyur

42 books1,092 followers
a father of four

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
30 (35%)
4 stars
42 (49%)
3 stars
12 (14%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,406 followers
January 5, 2022
Aan Mansyur memang jago marah dengan indah: Marah kepada negara dan penguasa, marah kepada netizen, marah kepada netizen dan algoritma, marah kepada waktu dan ketidakberdayaan.

Sebagai penggemar saya suka! Poin plus juga untuk ilustrasinya 😊
Profile Image for Zalila Isa.
Author 14 books54 followers
January 2, 2022
Masih mempesonakan. Adakah kerana sudah lama saya tidak menguliti diksi per diksi Aan, atau memang Aan semakin menggoncang hutan kata? Kata orang, usia dan pengalaman akan lebih mendewasakan, memaknakan, memberi erti - jika kita terus peka, terus menghidupkan jiwa, terus berhujah dengan kepala (fikiran).

Mungkin, ini fasa Aan terus berpedang dengan tangkas, terus bersilat dengan kemas, terus memintal awan-awan menjadi selimut paling nyaman, terus memberi ingatan dan pelajaran dengan hemah dan ramah.

Ilustrasinya oleh Wulang Sunu juga tidak kalah. Sama membangun dengan kata per kata Aan. Sungguh cantik. Berharmoni antara kedua-duanya.

Mana satu paling terkesan kepada saya? Untuk permulaan tentunya semua puisi yang terkandung dalam naskhah ini merangkumi fikiran dan jiwa, tapi nanti waktu demi waktu, barangkali satu per satu puisi akan memberi ingatan dan pujukan kepada saya. Ada beberapa ketika ini yang menyangkut, antaranya; Esai Mini: Kata Kerja yang menggunakan premis bahasa (kata nama + kata kerja) yang menyedarkan saya - budak bahasa - bahawa besarnya peranan bahasa dalam menggambarkan hidup, tindakan dan tentunya menafikan hal-hal mulia untuk menghalalkan bobrok. Selain itu, Inner Selfie yang mengheret diri kepada diri;

Di dadaku aku kemarau panjang
aku menghabiskan tahun-tahunku
mengamati debu; aku mempelajari
debuku satu demi satu. suatu hari nanti
ujung kemarauku,
aku akan mengetahui seluruh debuku - aku akan mengenali siapa aku.

Terima kasih kerana memberi pengalaman membaca yang enak pada awal 2022 ini!
Profile Image for literautres.
291 reviews27 followers
December 31, 2021
jika di satu persimpangan, entah di mana, masa kecilmu duduk menangis karena tersesat, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih menyadari kau masa depannya?

berapa besar kemungkinan hidupmu adalah serangkaian terapi yang melelahkan untuk sembuh dari trauma panjang karena dilahirkan? berapa besar kemungkinan kau bisa sembuh dari semua jawaban yang kau punya sekarang?


(berapa besar kemungkinan, hlm. 3)

waktu tanggal rilis buku ini diumumkan, aku udah janji sama diri sendiri kalo aku harus punya buku ini, terutama begitu melihat judulnya. i don't know about other people but i'm guessing many of us need some forgetting because i do. aku ngejadwalin buku ini sebagai buku penutup tahun, dan tepat di hari terakhir 2021 ini aku ngeluangin the whole evening to read this book. after the first poem i started crying and then after the last one i was a whole mess. and there is something relieving about crying so much before 8 pm in new year's eve. i have this book and aan mansyur himself to thank, so thank you. selamat tahun baru.
Profile Image for Boyke Rahardian.
353 reviews22 followers
February 7, 2023
Tidak suka, mungkin karena masalah selera saja. Tema yang diangkat di bagian I adalah tema besar seperti keserakahan penguasa, masyarakat Indonesia Timur yang lahan sagu-nya dirampas, kekejaman polisi dll. Bagian II mengenai komunikasi modern (ya!) dan bagian III temanya lebih beragam. Ada satu puisi tentang Sapardi yang cukup menarik di sini. Tapi secara keseluruhan saya lebih senang Aan Mansyur pada saat membahas tema-tema sederhana macam cinta, kesendirian dan perenungan. Tema besar dan upaya mengubah pendapat masyarakat melalui puisi is simply not my of cup of tea.
Profile Image for Dida.
59 reviews
November 23, 2021
the poet addresses everything that is wrong with his country through this book, the elephant in the room. it is political, it raises important questions, and it also has clever wordplays. some verses are stuck in my head because they’re the kind i wish i’d written.

it also contains a poem dedicated to Indonesian literature legend Sapardi Djoko Damono, which honestly made me like this book even more.
Profile Image for Arman Dhani.
49 reviews18 followers
October 25, 2024
Buku ini, bagiku, adalah karya terbaik Aan. Ia bicara tentang hal-hal yang dekat, personal, dan juga intim. Aku menganggap puisi-puisi yang dibuat Aan menjadi demikian jernih, bernas, dan bermutu. Meski ada kekecewaan pada bentuk buku yang mengulang rumus pada Melihat Api Bekerja, buku puisi yang diperkaya ilustrasi oleh Wulang Sunu.

Bagiku puisi semestinya ya fokus pada kata saja, tak perlu ditambah ilustrasi terlalu banyak. Karena akan memecah fokus, apa yang hendak diapresiasi? Kata atau gambarnya? Di sini aku ingat T.S. Eliot, ia menulis esai berjudul *Tradition and the Individual Talent*, yang memberikan pandangan mendalam tentang peran tradisi dalam puisi.

Analogi terkenalnya tentang pikiran penyair sebagai katalis menunjukkan bahwa penciptaan seni terjadi melalui pencampuran pengalaman, di mana penyair berperan sebagai medium yang memungkinkan terjadinya perpaduan tersebut.

Aan dengan gemilang menggambarkan depersonalisasi tadi dalam puisi "Aku Selalu Terlambat",

"aku menikah pada usia 42, saat orang lain
bersukaria menikmati kebebasan tubuh
sendiri di udara. bahkan istriku tidak hadir
di acara pernikaha kami."

Sementara pada puisi yang lain ia menerjemahkan kerasaan politis dengan bahasa yang mudah dimengerti

Menjadi Netral

jangan diam; keheningan
tidak pernah tidak memihak

Eliot berargumen bahwa karya seorang penyair harus dipertimbangkan dalam hubungannya dengan masa lalu sastra, bukan sebagai kelanjutan langsung, tetapi sebagai semacam dialog dengan karya-karya sebelumnya. Konsepnya tentang "depersonalisasi" menyarankan bahwa penyair sebaiknya lebih fokus pada bagaimana emosi mereka dapat diubah menjadi ekspresi artistik yang universal daripada hanya mengekspresikan emosi pribadi mereka.

Buku ini menyampurkan berbagai elemen penulisan puisi yang aku suka, dan menurutku, di saat kita sedang bimbang dengan keadaan seperti saat ini. Puisi Aan akan selalu relevan.
Profile Image for Kartini NRG.
77 reviews
March 20, 2022
Buku ini dibuka dengan puisi berjudul “Berapa Besar Kemungkinan” yang langsung ngejlimet tanpa aba-aba.
Cara orang menikmati puisi memang berbeda-beda. Kalau aku, aku membayangkan tiap kata itu terangkai hingga membentuk potret di benakku. Sesekali, sebuah puisi juga mengantarkanku ke jalanan sepi yang tidak pernah kudatangi. Beberapa puisi Aan Mansyur memang tidak bisa kupahami dan tidak berhasil kubayangkan. Kalau yang seperti itu biasanya aku baca saja dan kemudian sudah. Beberapa berhasil menciptakan panggung di benakku, dan yang seperti itulah yang kuberi mark.
Membaca puisi seperti mengikuti jejak seorang pemandu yang eksentrik—yang kadang membuatmu enggan untuk bertanya kita hendak ke mana sebenarnya—tidak punya pilihan selain mengikutinya. Tahu-tahu, kamu sampai di ladang yang tandus. Atau di tengah kobaran api yang marah. Atau di tepian pantai yang menyejukkan. Atau bahkan tidak di mana-mana kecuali di kamarmu yang remang. Yang terakhir itu kalau kamu gagal menciptakan panggung bagi puisi yang kamu baca. HA
Yang aku tangkap dari puisi-puisi dalam buku ini adalah kontrakdiksi, sindiran, dan pertanyaan pada diri sendiri. Banyak yang membuatku berkaca kembali sebagai manusia. Salah satu yang kusuka:
“berapa besar kemungkinan hidupmu adalah serangkaian terapi yang melelahkan untuk sembuh dari trauma panjang karena dilahirkan?” – Berapa Besar Kemungkinan, 4.

Rating: 4.5/5.0
Profile Image for rasya.
104 reviews21 followers
January 7, 2025
Puisi dalam Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu favorit saya adalah puisi pertamanya, berjudul "berapa besar kemungkinan." Kondisi ini membuat saya bertahan untuk membacanya hingga akhir, sekaligus meninggalkan harapan yang nggak kunjung terjawab karena (bagi saya personal) tidak ada yang melampaui puisi pertamanya.

Buku puisi favorit Aan Mansyur bagi saya masihlah Melihat Api Bekerja, padahal itu pun belum pernah saya baca seluruhnya. Jadi, cukuplah ya untuk menggambarkan bahwa pada buku ini, hanya pada beberapa puisi saja saya perlu berhenti untuk merenungi apa yang habis saya baca. Saya termasuk yang suka "mencuplik" baris-baris puisi untuk dikumpulkan, dan ketika Melihat Api Bekerja rasanya bikin pengin saya tulis ulang satu buku, pada Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu ini, inilah baris-baris itu:

🕙 berapa besar kemungkinan kau bisa sembuh dari semua jawaban yang kaupunya sekarang? (berapa besar kemungkinan)
🕙 mensyukuri ketidakutuhan (petani)
🕙 menghilang ke sebelum bahasa (pulang)
🕙 mereka mengambil seluruh dari kami & kami tidak kehilangan apa-apa (menunggu)
🕙 & mimpi bukan lagi hal paling besar yang bisa kami miliki (membayangkan kematian yang indah seorang penguasa)

Tapi, saya berterima kasih karena buku puisilah yang bikin saya "pecah telor" menuntaskan buku di awal 2025.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rose Diana.
Author 3 books1 follower
November 30, 2023
Setiap baca buku Aan Mansyur, membaca pertanyaan-pertanyaan yang ada di isi kepala penulis, saya kerap diam sejenak dan berkata,"Iya juga, ya?" Seperti salah satu bait dalam buku ini,
"kau tahu mengapa suara mesin
penebang pohon begitu keras?
agar kita tidak mendengar
tangis pohon."

Bait yang lain,

"masa depan akan datang.
kata mereka. bersabarlah,
besok sebentar lagi tiba.

besok selalu jadi hari ini,
besok selalu jadi saat ini,
tetapi besok tidak pernah
bisa disentuh."

Yang bikin saya berpikir agak lama adalah bait ini,

"apakah kita adalah kata benda atau kata kerja? apakah kita adalah kata kerja yang berhenti bekerja dan kini berusaha bertahan hidup sebagai kata benda?"

Selalu takjub dengan puisi-puisi Aan Mansyur, di kala bermunculan buku puisi yang cenderung tidak mencerminkan puisi. Kebanyakan dari mereka adalah prosa yang berisikan curhat yang terlalu tersurat.
56 reviews9 followers
October 1, 2022
"berapa besar kemungkinan hidupmu adalah serangkaian
terapi yang melelahkan untuk sembuh dari trauma panjang
karena dilahirkan?

berapa besar kemungkinan kau bisa sembuh dari semua
jawaban yang kaupunya sekarang?"

Sudah lama baca puisi ini di blognya Aan Mansyur dan senang sekali bisa menemukannya dibukukan, sebagai puisi pembuka.

"aku orang indonesia; jika dunia kiamat
dalam waktu dekat, aku berharap tidak
sedang diasingkan ke luar negeri.
di negeri ini, kau tahu, segala sesuatu
terlambat puluhan tahun. (aku punya
banyak lelucon tentang indonesia timur,
tetapi sekarang waktu indonesia barat)"
Profile Image for Siraa.
260 reviews3 followers
June 24, 2024
"Semakin sedikit yang kau katakan semakin sedikit yang aku dengarkan, semakin banyak yang mesti aku terjemahkan."

Setelah berbulan-bulan ditemani buku ini mengurus ini itu, selesai juga dia terbaca dengan sedikit penjelasan dan banyak kegetiran. Buku ini mungkin menjelaskan tentang kebebasan tapi itu ternyata tidaklah seagung yang dikira. Dia masih menjebak dalam alegori memabukkan tentang pertanyaan dan puisi yang selalu dimulai setelah diselesaikan. Pun ketika kita akhirnya merasa memiliki jawaban, muncul pertanyaan baru, berapa besar kemungkinan kau bisa sembuh dari jawaban yang kau punya sekarang?.
Profile Image for Hengki Putra.
18 reviews1 follower
April 3, 2022
Aan masih menjadi penyair Indonesia favorit saya saat ini.

Beberapa puisi Aan berhasil membuat saya berhenti sejenak dan merenungkan kembali banyak hal—terutama pada penggalan puisinya yang berbentuk pertanyaan, misalnya: “berapa besar kemungkinan kehadiran dirimu mengingatkan kau kepada ketidakhadiranmu?”

Atau “Apakah besok aku masih ada untukku?”

Kesan yang sama pernah saya alami saat membaca Sapardi.
Profile Image for Ipank Pamungkas.
4 reviews
December 17, 2022
Sajak-sajak Aan Mansyur dalam buku ini terasa sangat berbeda dari buku-buku puisi Aan sebelumnya. Dalam kumpulan sajak ini, tampaknya banyak keresahan yang ingin disampaikan oleh Aan. Bagi saya sajak-sajak Aan yang terkumpul dalam buku ini terasa lebih matang dan tentu dengan penulisan yang vivid dan witty.
Profile Image for Shendi C.
Author 1 book
November 17, 2021
negara dan upaya untuk tetap baik baik saja di negeri yang hancur lebur ini di ramu apik oleh kata - kata mz aan, tidak banyak tema cinta yang di angkat dalam buku puisi ini, terdapat tema politik dan lingkungan juga. puisi favorit : kesalahan kami untuk kedua anak mz aan mansyur.
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books51 followers
January 7, 2022
Salah satu buku puisi yang, bagiku, cukup jadi representasi orang-orang Indonesia—terutama dalam menghadapj pandemi. Seperti biasa, Aan Mansyur melakukan sihir lewat kata-kata yang hampir semua kalimatnya sederhana—bisa dimengerti pembaca.
Profile Image for Lala.
185 reviews27 followers
December 22, 2021
betapa besar kemungkinan hidupmu adalah serangkaian terapi yang melelahkan untuk sembuh dari trauma panjang karena dilahirkan?
Profile Image for nad.
71 reviews
January 8, 2025
I understand just very little part of the book, but the words are beautiful tho. 5 starts buat rangkaian katanya yang indaaaah ❤️
Profile Image for May.
65 reviews17 followers
June 30, 2025
Halaman pertama saja sudah bikin hati rasa sendu. 🥲
Aan Mansyur selalu menulis hal-hal yang sangat kecil, tapi dampaknya hebat. Sesuatu yang akrab dengan diri kita sendiri.
Profile Image for Sosa.
50 reviews3 followers
December 19, 2022
"tubuhku jatuh tersandung bayangan tubuhku sendiri. kata istriku: sesuatu tidak mesti nyata untuk bisa melukai kita."
Profile Image for Cep Subhan KM.
343 reviews26 followers
May 21, 2022
A window toward our contemporary pandemic situation. Thirty six newest poems of an Indonesian poet M. Aan Mansyur depict relation between people and state, between people and their-selves, and between people and their "family". In the middle of the complex and changing relationships, we found the path toward a home where we will survive, not an individual home but a home for all: people, animal, trees.
You could read my complete reading of the book in cepsubhankmdotcom
Profile Image for literatu._.reclub.
44 reviews
April 21, 2025
re-reading and want to list some quotes that I really love.

orang-orang sudah membeli & membeli
& membeli beragam tipe kebahagiaan baru;
aku masih percaya kesedihan: cinta yang tidak
lengkap, hal indah yang belum selesai.
Aku Selalu Terlambat



kesedihan membikin orang-orang ingin
menemukan lagi masa kecil; bahasa ibu
yang pernah mereka kenakan kemudian
entah kenapa mereka tanggalkan di mana;
Penghiburan & Alasan Lain Menikmati Senja


More will be added.
Displaying 1 - 26 of 26 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.