Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lebih Senyap dari Bisikan

Rate this book
Di akhirat nanti, kalau aku ketemu Tuhan, akan kutanyakan kenapa Dia bikin tubuh perempuan seperti makanan kaleng. Kubayangkan di bawah pusar atau pantatku ada tulisan: Best Before: Mei 2026.

Amara dan Baron dikepung pertanyaan mengapa belum punya anak. Aneka usaha untuk hamil nyatanya telah mereka lakukan, dari yang normal hingga ekstrem. Namun, persoalan tidak selesai tatkala Amara hamil dan melahirkan. Ada yang tidak ditulis di buku panduan menjadi orangtua, ada yang tidak pernah disampaikan di utas Program Hamil.

Lebih Senyap dari Bisikan merupakan novel kedua Andina Dwifatma, setelah Semusim, dan Semusim Lagi (2013)—pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Novel ini membuka mata pembaca dengan kisah Amara dan pahit manis kehidupan perempuan dalam menemukan apa yang berharga.

155 pages, Paperback

First published January 1, 2021

74 people are currently reading
1673 people want to read

About the author

Andina Dwifatma

12 books61 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
700 (49%)
4 stars
569 (40%)
3 stars
133 (9%)
2 stars
12 (<1%)
1 star
8 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 419 reviews
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
July 31, 2021
Ada yang pernah nonton dystopian film berjudul The Lobster, arahan sutradara Yorgos Lanthimos? Aku teringat salah satu scene yang kurang lebih adegannya begini, ada sepasang perempuan dan laki-laki yang sedang dirundung masalah. Lalu mereka akan diberikan seorang "anak" agar keduanya kembali rukun, seolah-olah kehadiran anak tersebut bisa menjadi "pemersatu" yang bikin pasangan tersebut tetap bertahan dan nggak jadi berpisah.

Secuil adegan itu aku coba hubungkan dengan Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Ya, bagi sebagian pasangan yang telah menikah, anak menjadi dambaan yang begitu dinanti-nanti, termasuk Amara dan Baron, dua toko utama novel ini. Awalnya mereka kira kehadiran anak bisa jadi "pelengkap atau penyempurna" keluarga kecil mereka. Namun benar ternyata, kesempurnaan hanya milik Allah.

Lebih Senyap dari Bisikan bukan cuma menggali permasalahan rumah tangga dari konflik satu ke konflik-konflik lainnya. Penulis mencoba bermain-main dengan lapisan benang yang tadinya hampir kusut, lalu kusut, lalu kusut setengah mati, lalu terurai sedemikian rupa. Nah, karena diceritakan dari sudut pandang perempuan, aku merasa ceritanya menjadi lebih spesial, apalagi berkaitan dengan perempuan yang harus berhadapan dengan kompleksitas hidup.

Yang kutangkap dari judulnya, aku merasa bahwa dunia ini sebenarnya berisi perempuan-perempuan kuat yang dalam hidupnya, telah melakukan segala upaya, perjuangan, juga hal-hal lain yang mungkin nggak diketahui orang banyak. Sosok kuat itu bersembunyi di balik tubuh seorang perempuan yang terkadang, menyisakan tangis terisak, amarah yang meledak, mata bengkak, hingga luka tersibak. Kendati begitu, panjang umurlah kisah-kisah perjuangan perempuan termasuk dalam rumah tangga. Kasihnya yang tulus sungguh sampai ke orang-orang di sekelilingnya.

***

Yang kusuka dari novel ini adalah tebalnya cukup pas. Pembaca nggak diseret lebih jauh untuk tahu cerita-cerita nggak penting yang sebenarnya bukan jadi fokus utama penulis. Andina tahu persis kapan ia harus menghentikan suatu plot cerita, lalu menggiring pembaca segera ke fase selanjutnya. Temponya enak banget. Konflik yang dimunculkan juga dekat sekali dan banyak terjadi di tengah keluarga. Dan oh, aku juga kagum sekali dengan teknik penceritaan penulis. Banyak sekali bumbu satir berbau kejenakaan yang menurutku, pas dan cerdas! Salut dengan kekreativitasan penulis!

Sehabis baca novel ini, rasanya pengin tulis pesan untuk calon partnerku di masa depan (uhuk):
1. "Bukan tugasku untuk mengubah kamu jadi lelaki yang lebih baik. Tapi kalau kamu mau kita jalan bareng, ayok."
2. "Menikah bukan berarti melimpahkan semua pekerjaan domestik kepada istri. Peran kita setara. Tanggung jawab kita sama".
3. "Mengurus anak bukan cuma tanggung jawabku sebagai seorang Ibu. Aku mau kita urus bedua, membersarkannya bersama dalam cinta."
4. "Kalau ada masalah, yuk kita obrolin dan cari solusinya."
5. Aku sayang sama kamu, tapi mencintai diriku sendiri sama pentingnya."

Ada yang mau nambahin?

***

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di https://www.sintiaastarina.com/lebih-...
Profile Image for Fatoni M.
367 reviews81 followers
July 7, 2021
Di kantor, aku punya teman wanita yang super santai kalau bertutur. Suatu hari kami sedang makan siang bersama dan dia cerita pengalaman waktu melahirkan secara normal. Di salah satu bagian dia cerita dengan penuh ekspresi, "Ih Ton! Itu ya gue shocked banget, nggak tau kalau ngecek bukaan itu v**ina gue diobok-obok pake jari." Aku pun ngakak, jarang-jarang punya temen wanita yang sama sekali tidak jaga image kalau ngomong.

Nah, seperti itu pula gaya tulisan penulis di buku ini. Bahasanya benar-benar lepas, tanpa filter, tanpa malu-malu. Di buku ini juga diceritakan proses melahirkan dengan vulgar, persis seperti penuturan temanku, dan mau tak mau aku ikut ngakak selama proses itu (yang seharusnya tidak sopan karena itu proses hidup dan mati seorang wanita, maap maap). Namun, memang begitulah, selain gaya yang lepas, penulis juga jago banget menebar jokes sambil lalu--bahkan, semuanya diberikan di waktu yang pas sehingga aku bisa ngikik sepanjang membaca. Aku jadi teringat Hilman penulis serial Lupus, mirip-mirip lah teknik membumbui tulisan dengan guyonan.

Premis buku ini cukup sederhana, tapi tidak bisa dianggap enteng. Amara dan Baron sedang berusaha untuk punya anak, setelah selama ini mereka ongkang-ongkang kaki menikmati rumah tangga hanya berdua saja. Karena penuturan buku ini menggunakan sudut pandang pertama, dengan intim aku diajak masuk ke otak seorang wanita yang susah payah berusaha untuk hamil, lalu kegelisahan mengenai kandungannya, kecemasan menjelang menjadi seorang Ibu, dan sampai anxiety ketika akhirnya si anak lahir. Dan tidak berhenti sampai di situ, di buku ini juga disajikan konflik keluarga yang begitu dekat dengan keluarga-keluarga kecil rekan-rekan kerjaku di kantor--membuat buku ini semakin relate dengan keadaan di sekitarku. Sampai aku mikir: apakah teman-temanku yang sudah berkeluarga juga merasakan kerumitan ini?

Untuk penokohan, salut sih, kompleks banget. Amara bukan tokoh calon Ibu (dan Ibu) yang sepanjang novel mengalami susah-payah, tapi tulus ikhlas mengurus anak sambil menjalani rumah tangga. Even, she is not a supermom. Dia wanita seperti teman-temanku yang sudah berkeluarga dan punya anak: kadang sayang banget sama anaknya, kadang eneg dan pengen jadi wanita single lagi, kadang cinta mati sama suami, kadang mengumbar seluruh kejelekan suami, dan tetek bengek isu rumah tangga lainnya. Namun, menurutku itulah yang membuat kita menjadi makhluk yang disebut manusia.

Wow sih. Ini buku yang awalnya ceria-ceria pagi kemarau yang makin akhir makin menjadi mendung sore hari, sampai akhirnya kita mengucap: ya inilah hidup. Aku rekomendasikan untuk kamu yang ingin merasa seperti itu atau kamu yang ingin relate dengan berumah tangga dan punya anak.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,041 reviews1,964 followers
September 2, 2021
Jadi, kapan nikah?

Pertanyaan yg semula dianggap basa-basi semata bisa menjadi senjata. Menjeremuskan pada "living up to society's expectation." Katanya, kalau nggak segera menikah bisa-bisa nggak ada yg mau, terlalu terlambat punya anak, & wanti-wanti lain yg menyudutkan perempuan. Sudah berusia kepala dua atau belum, tetap saja hidup perempuan menyerupai arena pertarungan. Antara dirinya sendiri dg suara-sura sok tahu itu.

Amara & Baron memasuki usia pernikahan kedelapan. Mereka hidup bahagia tanpa memiliki anak. Tapi, Amara kadang jengah juga jika tiap bertemu teman yg ditanya malah "sudah isi belum?" Kenapa bukan Baron yg ditanya? Kenapa Baron nggak mendapat "tekanan" serupa?

Lebih Senyap dari Bisikan mengantarkanku pada jalan pikiran & isi kepala Amara yg riuh bak medan peperangan. Perubahannya dari wanita lajang, seorang istri, hingga seorang ibu terasa sangat nyata. Menjabarkan pengalaman hidup perempuan yg bukan main sulitnya. Tapi, kenapa terus saja dianggap warga kelas dua, ya? Akrobat multiperan harusnya patut mendapat apresiasi, bukannya malah dicemooh atau distigma macam-macam. Nggak jarang, para perempuan yg seperti Amara lah yg sejatinya adl manusia kuat.

Membaca novela ini membuatku terpelatuk pd beberapa hal. Soal mengambil keputusan secara sadar, penerimaan keluarga atas rekan hidup yg dipilih, hingga pertimbangan u/ nggak punya anak. Di satu sisi aku bersyukur punya orangtua yg demokratis. Begitu aku memasuki usia yg dianggap UU sbg usia dewasa (dibuktikan dg kepemilikan KTP), aku diberi kebebasan u/ mengambil keputusan. Orangtuaku bisa memberikan wejangan, tapi kendalinya tetap berada di tanganku.

Aku berani memberikan 5 bintang u/ buku ini. Kiranya banyak perempuan yg terwakili dg Amara & semoga banyak laki-laki yg tdk seperti Baron.

Oh anyway, kalau ada yg nanya kapan aku nikah, jawabannya: aku belum ingin & nggak tahu apakah bakalan nikah atau engga 🤷‍♀️
Profile Image for Sulhan Habibi.
806 reviews62 followers
May 13, 2022
Update:

Setelah melihat dalam perspektif lebih luas dan juga sudut pandang lain, ada hal2 yang ingin aku sampaikan perihal buku ini dan menurunkan rating jadi 4.

Kapan2 ta sampaikan deh 😁


Kusebut nama Yuki perlahan, begitu pelan, lebih senyap dari bisikan. - halaman 140

Setelah membaca paragraf yang menuliskan kutipan di atas, tiba-tiba air mataku menetes.
Aku sedang membaca buku ini kantor (e-book di GD) dan langsung ngacir ke toilet dan menangis tersedu-sedu di sana. Habis itu cuci muka. malu juga sih kalau tiba2 ada yang melihat mata merah di kantor.

Ya. Ini efek buku ini buatku. Aku tidak malu mengakuinya karena (walaupun aku tidak tahu persis bagaimana perjuangan seorang perempuan dan seorang ibu karena aku tidak akan pernah bisa mengalaminya) aku teringat istri dan anakku. Aku bisa melihat dan merasakan sendiri bagaimana seorang perempuan itu bisa SANGAT KUAT dan JAUH LEBIH KUAT dari laki-laki manapun. Aku tahu karena aku melihat itu dari istriku sendiri, dari ibuku sendiri.

Suruh laki-laki manapun menggendong anak selama 30 menit maka akan mulai mengeluh berat-pegal-ngantuk dan sebagainya (apalagi jika anak sakit). Namun, seorang ibu akan kuat menggendong sepanjang malam. Aku pun melihat perjuangan perempuan dan para ibu di sekitarku. Mereka luar biasa.

Buat para lelaki, bacalah buku ini untuk bisa mendapatkan gambaran bagaimana perjuangan seorang perempuan dan juga seorang ibu.

Buku ini membuatku semakin menghormati dan menghargai, serta menaruh rasa hormat kepada seluruh perempuan di dunia ini.
Profile Image for raafi.
928 reviews449 followers
July 4, 2021
Tindakan yang dilakukan selepas baca ini: mencari tahu kisah sang raja Thailand dan politiknya. Buku ini terasa berat dan intim terutama mengangkat tema perempuan dan menjadi ibu. Namun pada saat yang sama, dengan gaya bahasa yang tanpa tedeng aling-aling, pengarang membubuhkan bumbu jenaka. Menarik sekali.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
July 1, 2021
Saya selalu memberi kesempatan untuk membaca karya kedua atau berikutnya meski karya sebelumnya saya tak suka. Karena saya tahu, pembacaan saya terhadap suatu karya akan berubah seiring usia yang bertambah. Bisa jadi dulu saya terlalu prematur untuk membaca karya yang seharusnya untuk diri saya dua, tiga tahun setelahnya.

Hal ini terjadi dengan karya Andina sebelumnya, Semusim, dan Semusim Lagi yang kurang saya suka. Saat itu. Delapan tahun yang lalu. Namun, ketika saya melihat blurb karya Andina Dwifatma yang terbaru, saya sudah yakin saya akan menyukainya. Di hari pertama PO langsung saya buru. Bonusnya pun menarik, sepucuk surat dari ibu untuk anak yang isinya sungguh menghangatkan hati.

Lebih Senyap dari Bisikan bercerita tentang sepasang suami istri, Amara dan Baron serta masalah-masalah kehidupan sebagai pasangan muda yang tinggal di pinggiran ibu kota.
Sounds familiar?
Tunggu dulu!
Konflik novel ini memanglah domestik. Tema yang jamak ditemui dalam novel chicklit atau opera sabun. Saking akrabnya dengan tema, dengan sok tahu saya merangkai plot sendiri di dalam kepala. Tapi setiap saya membalik halaman, semakin saya sadar bahwa plot rekaan saya ternyata jauh melenceng dari cerita aslinya. Betul-betul banyak elemen kejutan!

Cara bertutur Andina sarkastis, liris, dan terkadang romantis. Sesaat pembaca akan dibuat terenyuh, sedih, tapi tak lama akan berbalik tersenyum dan terpingkal-pingkal. Plesetan-plesetannya pun terdengar segar. Salah satu favorit saya: beasiswa Gundikmisi. (Emang ada ya motivasi jadi gundik buat kuliah?)

Amara dan Baron membuat saya berpikir: mungkin makna kehidupan ini adalah belajar. Belajar pada hal-hal yang kita pikir by default akan kita kuasai. Belajar menjadi dewasa. Belajar menjadi seorang ibu. Belajar menjadi suami. Belajar menjadi anak. Bahkan belajar menjadi manusia itu sendiri. Masalah dan rasa frustasi muncul jika kita menganggap diri kita akan cakap dengan sendirinya. Saya jadi teringat esai Desi Anwar berjudul "Makna Hidup" dalam bukunya The Art of Solitude: Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Bagaimana bila arti hidup ini bukan tentang karir yang cemerlang, harta yang melimpah, keluarga yang harmonis, atau segala kategori sukses yang dilekatkan masyarakat pada kita? Bagaimana bila makna hidup ini bukan tentang apa yang kita miliki atau apa yang kita lakukan, melainkan untuk belajar. Pelajaran yang khusus dan unik untuk kita masing-masing, dan bukan sesuatu yang dapat dibandingkan atau dinilai oleh orang lain. Kesuksesan itu diukur dari seberapa baik kita telah mempelajari pelajaran hidup yang hanya diperuntukkan bagi kita saja. (Hal. 214 - 216)

Kesimpulan: berkaca pada novel ini, sebenarnya sinetron Indosiar berpotensi juga jadi karya sastra adiluhung ya...
Profile Image for Hisyam.
125 reviews14 followers
February 6, 2022
It's masterpiece. Jika ada yg meminta rekomendasi judul buku padaku, maka judul ini menjadi salah satunya yg paling kurekomendasikan. Everyone should read this book!

Novel ini sudah bbrp kali lewat di postingan bookstagram, cuma aku blm tertarik aja waktu itu. Pas tau kalo novel jadi pemenang penghargaan sastra Tempo 2021 kemarin, jadi makin penasaranlah buat baca bukunya. Dan ternyata bukunya tipis, cuma 155 halaman. Kayaknya makin sini makin banyak karya yg tipis tapi isinya berdaging ya.

dalam 155 halaman ini penulis berhasil menorehkan karya yg padat dan jelas. Poin yg ingin disampaikan penulis yaitu mengenai kehidupan pernikahan. Bagaimana perspektif masyarakat yg lebih menitikberatkan segala urusan pada perempuan dalam pernikahan. Masalah mengandung, mengurus anak, mengurus keperluan rumah tangga semuanya oleh perempuan.

Bukunya juga menyampaikan pesan bahwa dalam memiliki anak harus siap lahir maupun batin. mungkin di beberapa sisi, buku ini akan cukup membuat takut para perempuan diluar sana untuk menikah dan memiliki anak. Tapi mungkin bagi perempuan yg sudah menikah, banyak kesamaan dalam cerita ini yg dialami oleh mereka dan dianggap tabu tapi berani disuarakan penulisnya.

dan buku ini juga cocok dibaca para lelaki sebagai pengingat ketika sedang dan akan membangun rumah tangga, juga mengingatkan kita untuk selalu menghormati perempuan manapun di muka bumi, terkhusus ibu kita.
Profile Image for Shanya Putri.
350 reviews160 followers
October 13, 2021
njir

BUKU INI... bikin aku shock.

jadi, beberapa waktu yang lalu aku sempat bikin giveaway "annotated book" di twitter. bukunya aku baca dan anotasi dulu. setelah itu, baru aku kirim ke pemenangnya. bebas mau buku apa dan pemenangnya aku pilih berdasarkan alasan kenapa bukunya harus dibaca. seru juga ternyata!

baca reply tentang buku Lebih Senyap dari Bisikan ini bikin aku tertarik banget. sebelumnya aku belum pernah dengar judulnya. dan sekarang aku sangat tidak menyesal udah pilih dan baca buku ini.

disclaimer: aku jarang banget baca buku tentang pernikahan. biasanya baca cerita remaja mulu... jadi terkejut banget baca bukunya.

buku ini menceritakan tentang Amara dan Baron, sepasang suami-istri, yang sudah beberapa tahun hidup child-free namun akhirnya memutuskan untuk memiliki anak (karena tuntutan sosial). dan hal itu nggak mudah. baik sebelum atau sesudahnya.

buku ini tipiis banget. nggak nyampe 200 halaman. bagian awal buku mungkin agak kurang bikin "hooked" tapi aku selesaikan setengahnya dalam sekali duduk! padahal aku slow reader banget. ada ups and downs yang sangat bikin geregetan dan sepertinya bakal banyak perempuan yang merasa relatable sekali dengan ceritanya, whether you're married or not. i mean, it's about womanhood and motherhood.

pokoknya, kamu yang sekarang lagi baca sampai sini harus baca buku ini! bagus. serius. adek aku yang biasanya gak pernah baca buku aja baca ini. well, aku lebih menyarankan baca bukunya tanpa tau apa-apa, jadi biar lebih surprise aja gitu 😏
Profile Image for Utha.
824 reviews402 followers
August 2, 2021
Kusebut nama Yuki perlahan, begitu pelan, lebih senyap dari bisikan. - halaman 140

Awalnya aku cukup waswas karena novel penulis sebelumnya, Semusim dan Semusim, sukar sekali kunikmati meskipun bagus. Namun, ternyata Lebih Senyap dari Bisikan ditulis dengan gaya bahasa yang tanpa tedeng aling-aling, yang bikin aku betah bacanya meski punya paragraf-paragraf panjang.

Kelakar-kelakar Amara dan Baron yang lucu buat beberapa pembaca, dalam benakku anehnya malah justru ekspresi mereka bersedih--atau perasaan canggung karena nggak tahu apa yang salah dalam hidup mereka. Yang menunjukkan mau dibawa ke mana ceritanya. Entahlah.

Plotnya nyaman diikuti, meliuk-liuk tapi nggak bikin mual. Bisa dibilang, novel ini pendek tapi terasa penuh. Banyak isu yang diangkat dalam novel ini.

Doaku, semoga Yuki tumbuh jadi laki-laki kuat.

3,3
Profile Image for Ghufron Mujadid.
38 reviews
March 8, 2022
“Kamu gak akan pernah tau rasanya jadi seorang Ibu, Mas!” Ucap ibu saya beberapa tahun lalu, disaat ada secuil perdebatan di dalam rumah kami. Bertahun-tahun kemudian ucapan ibu saya tersebut masih terbayang jelas dan saya selalu mencoba untuk mencari tahu maksud dari ucapan itu. Hingga akhirnya saya menemukan satu paragraf di buku ini:

Ada hal yang tidak diberitahukan orang kepadamu tentang menjadi orangtua: kau akan merasakan kegembiraan luar biasa, rasa cinta yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun juga, tapi pada saat yang sama, dirimu menjadi rentan. Seluruh eksistensimu bukan lagi milikmu sendiri. Ukuran kebahagiaanmu tiba-tiba berubah. Kau akan bahagia saat anakmu gembira, merana saat dia terluka, dan apa pun yang dia rasakan, kau akan merasakannya dua belas kali lipat. Kau mencoba melakukan segalanya dengan benar tapi kau bakal sering gagal.


Paragraf tersebut seakan memberi secercah jawaban dari pertanyaan yang terus menggantung di pikiran saya. Dan pengalaman membaca buku ini, menjadi sangat pribadi.

***

Lebih Senyap dari Bisikan menceritakan kisah pasangan Amara dan Baron dalam menghadapi problema di rumah tangga mereka. Kisah ini fiksi, namun dekat dengan berbagai kejadian di kehidupan dewasa, manis dan pahitnya.

Sebut saja: masalah privat yang banyak dicampuri orang lain, hubungan beda agama, usaha untuk mendapatkan momongan, problema melahirkan, baby blues, terpleset dalam investasi, pasangan toxic. Dekat banget kan?

Buku ini menghajar kalbu saya dengan begitu sopannya. Terutama pada bagian-bagian yang mungkin diketahui, namun kurang dipahami kebanyakan pria. Seperti momen melahirkan yang digambarkan sangat jujur, sehingga saya bisa membayangkan rasa sakit yang benar-benar dikatakan. Saya mengetahui melahirkan itu sangat menyakitkan, tapi belum memahami betul rasa sakitnya seperti apa? Buku ini berhasil membuat saya membayangkan –dan sedikit memahami- peristiwa pertarungan hidup dan mati tersebut.

Tak habis di situ, momen baby blues serta masalah eksistensial yang dihadapi oleh Amara membuat saya terbengong-bengong. Mengutip pepatah arab “Para pecinta akan tunduk pada yang dicintai.” Seperti itulah gambaran Amara tentang hakikat kebahagiaan yang ia rasakan, merasa bahagia apabila yang dicintai (anaknya) senang dan tenang, merasa kacau apabila tangisnya tak redam.
Jika buku ini dibaca oleh keluarga muda, yang juga sedang mengalami kepayahan mengurus rumah tangga, seperti memberikan surat lembut “Gapapa, kami mengerti, kok. Kamu gak sendiri” Menguatkan hati yang rawan.

***

Amara memang tokoh fiksi, tapi Amara mewakili perempuan-perempuan lain di dunia. Sebagai seorang istri yang terus memperjuangkan hidup, sebagai ibu yang hanya ingin anaknya sehat dan berbahagia. Amara mengingatkan saya pada ibu. Setelah membaca ini saya menelpon ibu dan bertanya “Sewaktu baru menikah, kepayahan apa saja yang ibu hadapi?” Lalu ibu bercerita, bercerita, dan saya berusaha menahan air mata ketika mendengarnya.

Dan untuk para lelaki, kita marah dengan karakter Baron. Baron memang anjing. Bukan. Lebih menyebalkan dari hewan berkaki empat itu. Selain memaki Baron, mari melihat ke diri sendiri, jangan jadi Baron di dunia nyata, ya! (menasihati diri sendiri)
Profile Image for melmarian.
400 reviews134 followers
January 8, 2023
Kalau dipikir-pikir, cerita buku ini biasa saja. Dalam arti, ceritanya tentang problematika kehidupan yang dialami nyaris semua orang. Menikah lalu tak kunjung "dianugerahi momongan", banyak pasangan suami istri di Indonesia mengalaminya. Bagaimana pressure untuk segera hamil lebih banyak diberikan kepada si istri, padahal, hey, it takes two to tango. Ketika akhirnya hamil dan melahirkan, dan kini ada manusia mini yang harus diberi makan, dibersihkan eeknya, dan pendeknya harus siap sedia hampir 24 jam untuknya, timbul kesadaran ternyata menjadi ibu (dan orang tua) tidak selamanya seindah iklan-iklan teve dan sinetron. Lalu timbulnya masalah keuangan, siapa manusia dewasa yang tidak pernah mengalaminya? Ya kecuali para sultan yang hartanya lebih dari cukup untuk tujuh turunan.

Intinya, mustahil membalik halaman-halaman buku ini dan tidak menemukan satupun hal yang relatable dengan kehidupanmu. Ketika membaca buku ini, saya bolak-balik lupa kalo ini buku fiksi. Saking real-nya isu-isu yang diangkat. Gaya bahasa yang dipakai penulis juga segar, jenaka, dan (ini yang paling penting bagi saya) tanpa tedeng aling-aling. Buku ini saya rekomendasikan bagi setiap orang dewasa (rating usia bukunya 21+), tapi terutama untuk yang masih suka meromantisasi pernikahan dan menjadi orang tua (terutama ibu). Wake up and see the reality for what it is.

Bukunya tipis, hanya 155 halaman. Bacalah.
Profile Image for owlshell.
64 reviews10 followers
August 8, 2023
kukira isi bukunya cuma sekadar sindiran dan kritikan sosial soal peran perempuan, tapi ternyata lebih dari itu. makin akhir ceritanya makin kelam.🥹

aku belum menikah apalagi punya anak. dengan apa yang dialami Amara di buku ini, aku cuma bisa bersimpati tanpa merasa relate. meskipun akhirnya dibuat ikut emosi sampai nangis seseduan.🥺

membaca ini rasanya jadi ingin berterimakasih sama Mamah dan perjuangannya. tanpa bisa ngomong langsung, tapi aku sangat sangat merasa bersyukur punya ibu yang ga pernah nyerah untuk berjuang bertahan hidup demi anak-anaknya.🥹🥹🥹

salut sekali untuk perempuan diluar sana yang pasti sering menerima ekspetasi masyarakat terkait banyak hal, selalu dituntut harus sempurna sebagai seorang istri atau ibu. apalagi terkadang standar sosial tersebut bahkan muncul dari sesama perempuan.

semoga ujian pernikahan setiap pasangan bisa terlewati dengan sama-sama saling andil berjuang, jangan hanya salah satunya saja. semoga para perempuan bisa setegar Amara, dan semoga tidak ada lagi laki-laki seperti Baron di kisah siapapun.
Profile Image for Naila.
100 reviews47 followers
December 15, 2021
"Ada hal yang tidak diberitahukan kepadamu tentang menjadi orangtua kau akan merasakan kegembiraan luar biasa, rasa cinta yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun juga, tapi pada saat yang sama, dirimu menjadi rentan. Seluruh eksistensimu bukan lagi milikmu sendiri. Ukuran kebahagiaanmu tiba-tiba berubah. Kau akan bahagia saat anakmu gembira, kau akan merasakannya dua belas kali lipat. Kau mencoba melakukan segalanya dengan benar tapi kau bakal sering gagal." - halaman 58

Aku suka dengan novel ini. Penuturannya begitu mengalir dan lepas, isu yang diangkat juga related dengan kondisi sekitar, dan walaupun bukunya tipis, namun isinya padat dan banyak pelajaran yang bisa dipetik.
Profile Image for Mawa.
172 reviews4 followers
September 6, 2023
Salah satu buku tentang realitas kehidupan pernikahan.
Pernikahan itu indah, tapi tidak mudah.
Amara, berjuang untuk hamil dg segala upaya. Baron juga sebagai suami yg tanggap dan partner yg baik.
Anak adalah rejeki.
Memang, tapi kadang ada cobaan yg datang setelahnya.
Akhirnya Amara hamil, sebuah hasil yg ditunggu2 selama bertahun-tahun.
Cobaan finansial adalah yg pasti akan terjadi dalam rumah tangga. Keuangan yg menipis membuat rumah tangga goyah dan di ambang kehancuran.
Menjadi wanita, istri dan ibu tidak mudah.
Kok belum hamil sih?
Itu yg pasti akan ditanyakan ke istri. Bukan ke suami.
Lalu saat hamil, wanita juga yg menanggung sembilan bulan berjuang dg badannya.
Setelah melahirkan, wanita juga yg mengurus anak dan ditambah lagi rumah.
Wanita pun juga dituntut utk bisa selektif dalam pengeluaran rumah tangga.
Amara, semoga kamu bisa bahagia ya.
Profile Image for nisaa.
85 reviews8 followers
November 21, 2022
huaaaa akhirnya baca buku baguss 😭
suka bgt sma topik yang diangkat dibuku ini!

ceritanya tentang baron dan amara yang menikah trs udah beberapa taun menikah tp mereka blm punya anak akhirnya ditanyain sama kerabat knp blm punya anak. akhirnya mereka berusaha lagi untuk punya anak, nah pas si amara udah melahirkan dari situ lika liku kehidupan mereka dimulai!! dari sini kita tau bahwa punya anak itu gak gampang dan harus penuh persiapan. bener" perjuangan seorang ibu tuh hebat banget 🥹

pokoknya buku ini rekomen bgt deh!! tipis tapi ceritanya dapet bgt ❤️__❤️ di awal" juga diselipin jokes" gitu deh 😆
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
July 4, 2021
A novel about women, children, marriage, and mental health. Well-written. I laughed at many parts of this novel. I adored Andina’s first novel, A Season and Then Another, back in 2013 and I think she did a great job with this one too.
Profile Image for Yoyovochka.
310 reviews7 followers
May 16, 2022
Bukunya kelewat bagus dan kelewat menarik buat aku. Dalam sehari selesai karena nggak bertele-tele dan langsung masuk ke intinya. Bukunya nggak tebal, tapi isinya padat dan nggak terburu-buru. Cakep banget. Salut buat kakak penulisnya. Kapan ya bisa nulis kayak begini🙈🙈
Profile Image for Tia Ayu Sulistyana (tiareadsbooks).
266 reviews71 followers
May 13, 2022
•read•
4.5/5⭐

❝Kusebut nama Yuki perlahan, begitu pelan, lebih senyap dari bisikan.❞
—Page 140

•••

Selama 8 tahun, Amara dan Baron menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia meskipun child-free. Hingga akhirnya tuntutan sosial membuat keduanya memutuskan untuk memiliki anak, sebagai 'penyempurna' keluarga kecil mereka. Sayangnya, keputusan itu bukan tanpa konsekuensi. Mereka malah jungkir balik dalam kompleksitas hidup.

Ini merupakan buku pertama Andina Dwifatma yang aku baca. Aku menikmati gaya bercerita Kak Andina yang blak-blakan, jenaka, dan tanpa tedeng aling-aling. Premis cerita yang sederhana dikemas dengan begitu ciamik dan enak diikuti. Buku ini pun sangat mengalir dan page-turner! Aku bahkan melahap buku ini hanya dalam 3 jam.

Jangan tertipu dengan cover design-nya yang terkesan sederhana dan manis. Buku dengan tebal 152 halaman ini menyuguhkan konflik yang cukup berat dan padat dengan isu-isu yang dekat di kehidupan sekitar. Dari lika-liku pernikahan, perjuangan suami-istri untuk memiliki momongan, hingga menjadi orang tua.

Buku ini begitu jujur membawa pembaca memasuki fase kehidupan Amara—dari perempuan lajang, seorang istri, hingga menjadi seorang ibu—yang sangat nyata dan dekat dengan banyak perempuan di luar sana. Tanpa glorifikasi berlebihan, buku ini memperlihatkan perjuangan seorang perempuan dan seorang ibu, yang tetap kuat meski dalam senyap.

Aku memang belum menikah dan tidak bisa sepenuhnya relate dengan kisah Amara. Namun, buku ini memberikan sedikit gambaran tentang menjadi seorang istri dan seorang ibu. Buku ini memiliki banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil, seperti: perlunya kesiapan fisik dan mental untuk berumah tangga dan menjadi orang tua, penerimaan keluarga akan pasangan hidup yang kita pilih, serta konsekuensi yang muncul atas keputusan yang kita ambil.

Perasaan kayak diaduk-aduk pas baca buku ini! Dari mulai ketawa ngakak karena banter Amara-Baron yang lugas dan sarkas, terenyuh akan perjuangan Amara untuk hamil, ngilu dan ngeri pas proses melahirkan dan menyusui, geram sama kelakuan Baron, kaget akan keadaan mental Amara, juga frustrasi karena apa yang terjadi di akhir.

After all, I highly urge any woman to read this book! Men are welcome to read it since it will help them comprehend women's and mothers' struggles. I hope this book inspires you to respect and appreciate all women worldwide!

P.S. If you have a pessimistic view of marriage, I wouldn't recommend reading this book because it will make you even more anxious about the idea.

•••

#tiareadsbooks #tiawritesreviews
Profile Image for Puterica.
138 reviews21 followers
December 12, 2021
Yang pertama ingin kupuji adalah penulisnya. Kak Andina Dwifatma, kamu luar biasa!

Aku nggak tau apa-apa tentang teknik penulisan, tapi yang aku tau, selama membaca buku ini, aku adalah Amara. Dari bab 1 sampai bab terakhir, emosiku naik turun. Dari yang bisa ketawa gara-gara lelucon segar (yang cerdas, sekali lagi, Kak Andina), meringis sakit, sedih, marah, kecewa, putus asa—sampai di halaman terakhir, aku cuma bisa diem. Merenung.

Aku kagum banget sama cara Kak Andina bercerita. Bener-bener luwes dan detail. Deskripsi tiap kondisi yang krusial bener-bener jelas dan nyata. Rasanya bukan kayak nonton film lagi, tapi kayak terlibat langsung di dalam cerita.

And of course, the topic!

Tema perempuan selalu jadi tema yang menarik untukku. Sebagai perempuan, rasanya membaca tulisan yang relate denganku jadi kepuasan tersendiri. Membaca buku ini, aku diajak untuk melihat sisi seorang perempuan ketika akan dan sedang menjadi ibu sekaligus istri.

Ada banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari Amara. Sedikit banyak aku udah pernah denger cerita sejenis gini tentang perempuan, sepotong dari sana, sepotong dari sini. Tapi disajikan lengkap dari awal sampai akhir oleh Kak Andina dalam bentuk perjalanan Amara, rasanya luar biasa!


Buku ini adalah buku tentang kehidupan seorang ibu & istri yang paling jujur dan realistis yang pernah aku baca. Menurutku, semua perempuan DAN laki-laki perlu baca ini. Banyak banget yang bisa dipelajari dari kisah Amara, karena di luar sana banyak Amara-Amara lain yang mengalami kisah yang persis sama atau bahkan lebih parah.

Kudos, Kak Andina! I have a great time reading this. Thank you for creating such a beautiful yet tragic story <3

It's my first 5/5⭐ book after a long time!
1 review
March 7, 2022
Alur naratif nya biasa saja: bahagia, konflik, damai. Itu perjalanan cerita yang sangat lumrah. Latar, dan konfliknya juga sangat familiar; dekat dalam keseharian konteks hubungan keluarga di Indonesia.

Lalu apa yang menarik?

Bagi saya, kekuatan novel ini ada di setiap dialog dan respon-respon sang tokoh utama;Amara atas berbagai peristiwa. Andina menempatkan Amara sebagai perempuan lumrah, tidak heroik, bisa sedih, bahagia, takut bahkan mengalami kekacauan psikologis.

Amara adalah lambang kekuatan perempuan dunia ketiga yang justru tumbuh dari adaptasi dan negosiasi. Kekuatan yang ditunjukkan bukan dengan amarah dan jargon jargon feminis, tapi kekuatan yg wujudnya adalah kenyataan bahwa sebagai perempuan amara bisa ada di segala posisi, termasuk yang paling merugikannya, terus bertahan, berkompromi, dan tidak menjadi pahlawan, sebagaimana obsesi setiap laki laki patriarch untuk jadi hero.

Amara taktis, dan sekaligus reflektif menghadapi dunianya yg dihancurkan oleh suaminya lambang maskulinitas yang selalu ingin melindungi, amara berani menerima kenyataan paling pahit sekaligus terus menerus mencari alternatif; menegosiasikan posisinya. Amara oleh jalinan konflik di dunia dalam cerita yang patriarchy dikuasai suaminya, tidak lantas menjadi sosok utama, ia tetap berada di pinggiran cerita sambil terus menerus bergerak menyelamatkan cerita tanpa harus berambisi jadi pemain utama, layaknya suaminya.

Pada akhirnya Amara kembali pada ibunya, seorang perempuan, pada temannya Macan seorang perempuan, mereka inilah semua perempuan dalam novel ini menjadi penting karena tetap berada di pinggiran tapi terus menerus bergerak lamban tapi pasti, tanpa ambisi; dengan itulah dunia di selamatkan dari ambisi maskulinitas yang menyiksa.
Profile Image for DEE.
254 reviews3 followers
June 1, 2022
“Di akhirat nanti, kalau aku ketemu Tuhan, akan kutanyakan kenapa Dia bikin tubuh perempuan seperti makanan kaleng. Kubayangkan di bawah pusar atau pantatku ada tulisan: Best Before: Mei 2026.“

Superb thoughts! I mean, yes. Ok, buku ini semakin ke belakang semakin dark dan ASDFGHJKLQWERTYUIOP. Isu yang diangkat menurutku bagus, endingnya juga realistis. Buku ini cocok untuk dibaca semua gender dengan usia kurang lebih 15 tahun ke atas.

Ceritanya tuh singkat banget bisa dibaca sekali duduk harusnya (kalau gak terdistraksi dengan hal-hal lain saat baca), page turner juga kayak kita tuh dibuat penasaran banget dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Profile Image for Steven S.
701 reviews67 followers
July 11, 2021
Lebih Senyap dari Bisikan membawamu ke dalam cerita yang tak terduga.

Sangat layak untuk dinikmati!
Profile Image for Annisa Anggiana.
283 reviews53 followers
January 2, 2023
Buku yang menulis adegan melahirkan dan kehidupan pernikahan yang realistis. Amara beruntung punya maminya.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
November 29, 2021
Lebih dari perasaan naik roller coaster, dari cekikikan, ketawa-ketawa kesal, kesal, menangis, dan bikin dada sesak, ada semua di buku ini. Dan begitu kamu menemukan kalimat yang berisikan judulnya, 'Lebih Senyap Dari Bisikan', hati kamu akan sedang teraduk-aduk penuh emosi.

Buku ini berkisah tentang cerita keluarga Amara dan Baron. Tentang mereka yang belum juga punya anak dan sedang berusaha, dan tentang setelahnya yang ya berkeluarga tentu memang bukan perkara PUNYA anak saja. Dinamika menikah, mempunyai anak, menjadi ibu dan ayah, dan berada di masyarakat di buku ini, terasa sangat jujur dan mengena sekali. Dituliskan dengan kata-kata yang dekat, mengaduk-aduk emosi, naik turun tidak terduga. Kata 'jujur', sepertinya kata yang selalu ada dalam setiap ulasan buku ini.

Membaca buku ini membuat kami, saya dan Tania yang langsung saya bujuk untuk meninggalkan yang sedang dibacanya dan baca ini dulu agar saya bisa mengobrolkannya, merasa nostalgia awal-awal kami memiliki Saga dan semakin bersyukur akan banyak hal. Ditulis dari sudut Amara sebagai perempuan, ceritanya terasa sangat kompleks dan mengingatkan betapa hebatnya perempuan dengan segala pikiran dan beban yang disematkan oleh tatanan sosial. Betapa laki-laki bisa sangat payah, apalagi sistem patriarkinya.

Selain langsung ingin membuat Tania membaca buku ini lalu mengobrolkannya, ini satu buku lagi yang selama membaca dan kemudian menyelesaikannya langsung bikin ingin peluk Tania. Sebagai perempuan lalu menjadi ibu, Tania sangat luar biasa. Saya sangat bersyukur Tania ada di sisi saya.

Terima kasih, Andina Dwifatma, untuk tulisannya.
Profile Image for Zoe.
70 reviews8 followers
October 6, 2022
Awalnya pas liat jumlah halaman yang kurang dari 200 ga kepikiran kalo buku ini bakal bisa bikin aku ngalamin emotional rollercoaster. Banyak topik yang diangkat yang relate ke aku karena emang jadi perempuan sesusah itu. Emang nikah dan punya anak harus dipikirkan matang-matang dengan persiapan mental. Beneran bisa ngebayangin apa yang dirasain Amara karena nothing prepared us to be parents, apalagi pertama kali punya anak. The ending was good too.
Profile Image for cintamembaca.
38 reviews
February 7, 2024
I didn't expect this to be such a hard-to-finish book. The fact that I’m terrified to find out what will happen next in this book terrifies me. But this is truly a must-read once in a lifetime. This is a great book with a simple and neat plot that literally tells you every little thing you need to know and realize about a woman's life. Yes, being a woman is special yet hard. This book makes me think: am I going to be someone society calls "fulfilling my destiny as a woman" someday?
Profile Image for Caneya.
62 reviews7 followers
July 22, 2022
WOW WOW WOW morale of the story cuma intinya jangan melanggar restu orang tua dan jangan nikah beda agama :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Shafira Indika.
303 reviews235 followers
November 8, 2021
Jadi... mana yg bilang menikah itu perihal dapat 'berhubungan' scr halal, jalan2 berdua, dan hal2 so sweet lainnya? Mana juga yg sering 'mendesak' org utk segera punya anak?

Dari buku ini, kita jadi semakin tahu bahwa punya anak dan menikah itu butuh kesiapan lahir-batin. Lalu, ironisnya, kita jg jadi menyadari bahwa tanggung jawab atas pengurusan seorang anak tu diberatkan pada ibu. Pdhl yg bikin kan berdua? Kok tanggung jawab berat sebelah?

Aku suka buku ini krn narasinya mengalir trs ada sisipan jokes2 lucu. Selain itu, semua hal diceritakan scr gamblang & apa adanya. Dari sini kita (terutama aku krn aku ga familiar dgn hal2 ini) jd tahu soal realita lain dari sebuah pernikahan dan anak. Perlu dukungan dari orang2 terdekat dalam mengurus seorang anak (terlebih kalo anaknya masih kecil) sehingga si ibu ga merasa berjuang sendirian dan menderita sendirian. Disini keliatan bgt hal2 terkait anak selalu dilimpahkan ke Amara. Dia yg berusaha mengatasi semua permasalahannya sendiri. Lalu dia jg yg menyalahkan dirinya sndiri atas kegagalannya mengurus anak.

Aku merekomendasikan buku ini buat dibaca siapapun! Di usiaku emg blm familiar bgt sama hal2 begini, tp dgn baca buku ini setidaknya jd punya gambaran tentang apa yg akan aku hadapi kelak (walaupun amit2 aku nanti punya suami macem Baron).
Profile Image for Matchanillaaa.
89 reviews1 follower
March 21, 2025
Membaca buku ini tuh serasa baca buku diary atau mendengar curhatan temen yang udah nikah. Dikemas menggunakan bahasa yang lepas, gaul, blak blakan tapi menyentuh. Penggambaran proses melahirkan dan meng-ASIhi yang detail, membuat pembaca jadi ikut terkuras energinya. Aku sendiri jadi ikut capek karena ikut merasakan lelahnya jadi istri dan ibu.

Apalagi bagian paling gong, waktu bayi mereka digigit tikus 😭 gila siiiih sakit hati banget pasti 😭

Dari tokoh Amara, seolah membuka tabir bahwa kehidupan rumah tangga itu benar benar tidak seindah sosial media. Kesulitan-kesulitan ketika menjadi new mom yang jarang diungkap, ditambah keadaan ekonomi keluarga membuat konflik terasa semakin related.

Keinginan Amara dan Baron untuk memiliki anak, ternyata berbalik arah menimpa mereka ketika keinginan itu terwujud. Keadaan ekonomi yang ikut merosot seolah menyadarkan mereka bahwa mendapat amanah untuk menjaga seorang bayi itu bisa mengubah kehidupan mereka secara total. Dan pembaca seolah diajak untuk mempersiapkan semuanya secara fisik, mental dan finansial.

Satu hal krusial yang aku ingat sekali, mau sebesar apapun masalahnya kalau suami ada dipihak kita semua akan baik baik saja. Tapi di kasus Amara, kehidupan rumah tangga yang awalnya indah, lama lama membuat kelakuan suaminya berubah. Akhirnya ekonomi kurang, suami kek setan 😭 dahlah capeeek.
Displaying 1 - 30 of 419 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.