Mutiara di Padang Ilalang, bukan saja menggambarkan bagaimana para mahasiswa dan intelektual yang merupakan manusia-manusia harapan bangsa, dihilangkan kemanusiaannya dengan cara-cara yang kejam, tapi menggambarkan juga bagaimana bangsa ini kehilangan kepribadiannya yang berakibat pada hilangnya kesempatan membangun masa depan bangsa dengan rasa percaya diri
Gak pernah kebayang bahwa ada seseorang anak muda direnggut masa mudanya menjadi tahanan politik selama 14 tahun lamanya, tanpa melalui proses peradilan, dan harus menerima dusta selama penahanan diberlakukan dengan baik.
Awalnya, membeli buku ini di Makarya, karena iseng saya beli. Ternyata, Tedjabayu adalah anak bu Mia Bustam yang juga merupakan tahanan politik, penulis memoar Dari Kamp ke Kamp yang sehari sebelumnya baru saya baca beberapa halaman, juga adalah anak dari pelukis S. Sudjojono, yang pernah melukis keadaan di tempat saya lahir dan besar: Cikampek.
Ingatan Tedjabayu akan penahanannya sangat baik, menuliskan banyak sekali nama-nama yang rumit dan saya seringkali lupa siapa nama tokoh yang disebutnya ini.
Belakangan, ketika sudah di halaman terakhir, saya baru sadar bahwa Ia adalah mertua dari seorang pengiat politik: Afutami.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga: memoar seorang penyintas Tragedi 1965 yang mengalami penahanan brutal tanpa pengadilan sepanjang 14 tahun pertama Orde Baru berkuasa (1965-1979). Tedjabayu, saat itu mahasiswa Fakultas Geografi UGM sekaligus aktivis CGMI Yogya ini mengalami pemenjaraan sebagai tahanan politik setelah ikut mengamankan gedung Universitas Res Publica di Jalan Pangurakan, Alun-alun Utara Yogyakarta dari ancaman serbuan massa pasca Jakarta digegerkan dengan pembunuhan para jenderal pada malam 1 Oktober 1965 yang kemudian mengkambinghitamkan PKI sebagai aktor di baliknya. Memoar ini sekaligus melengkapi apa yang telah ditulis oleh ibunya, Mia Bustam, yang juga menjadi korban dari kebrutalan penahanan oleh para serdadu penyangga Orde Baru itu.
Tedja yang merupakan putra sulung pelukis besar Indonesia S. Sudjojono ditahan mulai dari Wirogunan, Nusakambangan, Ambarawa, hingga Pulau Buru, yang menjadi tempat pemenjaraan terlama sekaligus memenuhi sebagian besar kisah dalam buku ini. Membaca sekitar 400an halaman buku ini menegaskan lagi bagaimana negara ini pernah melakukan serangkaian penahanan yang amat sangat tidak manusiawi, bahkan hingga membuat semacam kamp konsentrasi di sebuah pulau dengan keseharian berupa kerja paksa dan berbagai penyiksaan yang di luar nalar manusia. Namun dalam memoar ini Tedja lebih banyak memberikan porsi mengenai kisah sehari-hari para tapol, yang entah bagaimana caranya selalu berusaha bertahan hidup, mengusir sepi sekaligus kegilaan, serta harapan akan kebebasan yang entah kapan mereka dapat mengingat tidak pernah sama sekali mereka diajukan ke meja pengadilan. Yang jelas ini adalah sebuah kesaksian yang amat otentik merentangkan tahun-tahun gelap dalam sejarah Indonesia, yang hingga kini terus disangkal realitanya dan digantung penyelesaiannya oleh negara.
Pernakah terbayang, bahwa usia mudamu dihabiskan bukan di sekolah, tapi di penjara tanpa pengadilan? Di tengah kekacauan 1965, Tedjabayu Sudjojono yang berusia 21 tahun, adalah anggota CGMI ( Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), yang “berafililiasi” dengan PKI. Ia ditangkap oleh pihak TNI-AD dan ia menjadi tahanan politik selama 14 tahun.
Mulai dari Penjara Wirogunan hingga Pulau Buru, ia mendalami berbagai siksaan, terkadang oleh serdadu yang adalah tetangganya sendiri. Jatah makannya dan kawan-kawannya semakin dikurangi, karena ini adalah, “ cara membunuh yang paling praktis, tanpa mengeluarkan sebutir peluru ( Hlm.54), “ oleh rezim pancasila yang masih dipuja-puja masyarakat Indonesia.
Namun, semua ini tidak menghancurkan Mutiara di Padang Ilalang ini. Pak Tedja tetap menggunakan keahliannya dalam Geografi untuk mengenal dan membangun tempat penahanannya. Bahkan, memoar ini lebih asyik dibanding Wikipedia, jika ingin mengetahui Pulau Buru! Ia tidak jemu-jemunya mempelajari berbagai keterampilan khusus dari tahanan-tahanan lain, seperti menangkap tikus sawah untuk meraih gizi. Aku pun tidak sudi mencoba ini!
Anggapanku, memoar tahanan politik sepenuhnya pedih, tapi banyak sekali kejadian-kejadian konyol yang dialami Pak Tedja dan kawan-kawannya! Sebab, “ Demikianlah ulah kami sehari-hari, semua dianggap bercanda dan kami tidak peduli dengan segala tata krama orang normal…. Guyonan kami merupakan salah satu dari kemampuan bertahan hidup kami.” ( Hlm. 215)
Pak Tedja meninggal setelah buku ini diterbitkan tahun 2021. Sayang, aku tidak mengenalnya sebelumnya, tapi darinya aku belajar bahwa segala pengalaman kita atau orang lain itu berguna dan layak untuk diceritakan, entah dengan cara apapun! Bahkan, pesan terakhir Pak Tedja dalam memoarnya, untuk kita para penerus muda bangsa ini adalah:
“ Terserah kepada kalian, akan diapakan pengalamanku ini!”
Akhirnya selesai juga membaca memoar Tedjabayu—yang sangat menarik bagiku, karena menceritakan tentang kehidupannya dari penjara ke penjara.
Aku sangat suka dengan cara Tedjabayu menceritakan kisahnya disini. Ia menceritakannya dengan cukup runtut dan diselingi berbagai cerita dan kenangan yang seolah ia ingat secara tiba-tiba. Selain itu, setiap detil yang ia ceritakan juga sangat mengesankan. Aku merasa ceritanya ini sangat hidup dan membaca setiap kalimatnya membuatku seolah-olah berada di sampingnya. Seolah aku turut merasakan penderitaan dan semua lelucon disana.
Mereka, para kaum intelektual, yang dibuat menderita dan dipaksa untuk menjadi "bodoh" terdengar begitu menyakitkan bagiku. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang berjas waktu itu hingga tega membuat hal sedemikian kejamnya.
Namun, sungguh aku merasa salut dengan ingatan Tedjabayu akan semua kenangan dari penjara ke penjara itu. Aku bersyukur ia mau menuliskan semua ini.
Gaya menulis mas Tedja berbeda dari penulis lainnya karena beliau memang betul-betul menuangkan kisah hidupnya selama 14 tahun sebelum dan pasca Buru sebagaimana laiknya seseorang yang hanya sekadar ingin bercerita. Keintiman terbangun secara perlahan dan ramah, yang muncul dari gaya berkalimat penulis yang secara gamblang dan mudah dimengerti.
Buku ini begitu netral yang hampir dapat dikatakan sama sekali tidak mengandung unsur ideologis. Telanjang, buku ini benar-benar mengisahkan bagaimana seseorang melewati masa-masa tersebut. Jauh dari analisis kritis terhadap situasi politik, ekonomi, dan sebagainya, membuat buku ini cocok menjadi pengantar bagi teman-teman yang ingin mulai mengenal apa yang terjadi di Indonesia masa '65-'80.
Jenaka, mengharukan, seru, semua bercampur aduk dalam buku dengan 300 halaman lebih ini. Ia juga kaya akan informasi tokoh-tokoh yang mana disangka, ada dalam lingkaran seorang Mas Tedja.
Terima kasih banyak Pak Tedjabayu atas penulisan buku ini. Dengan pilpres yang akan datang beberapa hari lagi, menurut saya penting sekali para anak muda mengerti kejamnya Suharto di jaman Orde Baru. Jangan sampai kesalahan yang sama sampai terulang.
Yang paling berkesan untuk saya adalah sikap positif Pak Tedjabayu terlepas dari kerasnya kehidupan yang dilalui beliau selama menjadi tapol dan tamil. Sudah dipukuli, diberikan konsumsi yang tidak layak, dimaki-maki, tapi masih adaaaa saja yang disa disyukuri, masih bisa mendoakan orang yang menzholimi untuk diampuni dosanya. Ya Tuhan, baik sekali bapak ini. May you rest in peace Pak.
Hilarious! This kind memoar is about not so dark ex-Buru Island exile. And the only way to write like this is to forgive Suharto and his New Order.
The writer is man of science. He added his geological, art and military knowledge about every life story since 1965 till his release based on his education, book reading and family background.
My favorite quotation is, "selama masih ketemu manusia, selama itu pulalah mereka bisa diajak bergaul dan saling memanfaatkan."
Personally, I think this book is a perfect love child of Frankl’s “Man’ Search for Meaning” and the timeless movie “The Shawshank Redemption” stitched together by local wisdom.
The writer managed to convey to the readers how life in prison was like as a political prisoner at a time where the country was just torn apart by G30SPKI. Details of the horrors were vivid in the readers’ imagination, yet also it is also heartwarming to learn how the author struggled to survive relying on hard work, camaraderie from fellow prisoners, and having hope.
Though the details are a little fuzzy, the author nicely depicts the whole story starting from his capture, the prison(s) life, and finished with his release. Being a geography major before his capture, the author at many times described at length about the terrain, stones, rivers, and more geography related lingos.
The appendix of the book listed all the departed fellow political prisoners from the days of his capture, detailed with the date and the cause of death, a gloomy memento of Indonesia’s past regime.
Secara personal memilih membaca buku ini karena sejenak ingin "berlari" dari jenuh dan riuhnya kehidupan kuliah. Sempat ragu karena ekspektasi dalam membaca memoar seorang tahanan politik berarti akan berkutik dengan cerita pengalaman hidup yang tragis, perspektif kiri, rangkaian kejadian yang berhubungan dengan PKI, dsb. Ternyata tidak, buku ini lebih dari hal-hal tersebut.
Pada memoar ini Pak Tedja yang pada saat itu adalah seorang mahasiswa Geografi UGM menceritakan beberapa bagian perjalanan hidup beliau sebagai seorang tapol (tahanan politik), dimulai dari bagaimana beliau bisa "ditangkap", masa selama menjadi tapol di Pulau Buru, dan kepulangannya ke Jakarta 14 tahun kemudian. Saya pribadi awalnya sempat kesulitan dalam mengikuti gaya penulisan Pak Tedja yang menceritakan orang-orang terdekatnya, begitu detail dan terkesan meloncat-loncat. Namun lebih daripada itu, bagaimana beliau menceritakan pengalaman dan pembelajaran hidup yang, bagi kebayakan orang tidak lazim dan penuh derita yaitu dengan begitu rendah hati, sangatlah luar biasa.
Kemampuan Pak Tedja juga dalam mengaitkan pengalaman dengan pengetahuannya di bidang selain politik seperti geologi, biologi, dan aeronautika juga sangat "comforting", begitu membumi, menggunakan bahasa sederhana, tanpa adanya bumbu arogansi sama sekali. Bagian favorit saya secara personal adalah ketika ternyata beliau secara tidak langsung mengenal Romo Mangunwijaya, salah satu budayawan favorit saya. Subjektif memang heheh, namun sebuah hal kecil yang entah mengapa membuat hati saya adem, mengingatkan saya jika dua tokoh yang berbeda, dua cerita yang berbeda, dua latarbelakang yang berbeda, dapat berkaitan.
Sekali lagi, gaya penulisan Pak Tedja yang membumi, penuh humor, namun tetap rendah hati terasa seperti kakek yang sedang duduk dan bercerita kepada cucunya. Sebagai seorang mahasiswa yang masih kerap kali bermalas-malasan, membaca buki ini saya merasa ditampar. Secara tidak langsung "diingingatkan" oleh beliau betapa saya dan generasi saat ini memiliki akses dan kesempatan hidup di zaman yang jauh lebih beruntung.
Ingin rasanya secara langsung menyampaikan rasa terimakasih atas keberanian, keputusan, dan waktu yang beliau luangkan untuk buku ini, untuk apa yang telah beliau wariskan. Sebuah pengalaman membaca yang membekas.
Kayaknya ini buku berbahasa Indonesia favoritku tahun ini; memoar Tedjabayu selama menjadi tapol. Mungkin karena memoar ya, Tedjabyu bercerita apa aja dan nggak selalu runut. You can easily pick one chapter and digest his story without the need to link it to the previous one. Kalo pernah baca bukunya Danarto yang judulnya Orang Jawa Naik Haji, kira-kira kayak gitu rasanya.
Kisah dia selama menjadi tapol tuh menarik semua. Trus, ada beberapa bagian yang bikin aku ketawa ngakak soalnya lucu bgt, meski banyak juga humor yang gelap. Tapi dari sekian banyak penderitaan yang dia alami, aku gak ngerasa Tedjabayu punya dendam terhadap rezim. Hal2 yang membuat dia survive di pengasingan adalah terus berpengharapan, punya semangat utk hidup. realistis, dan memiliki rasa solider dgn kawan.
Hal lain yang menarik buatku, karena pak Tedjabayu menyelipkan trivial seputar geomorfologi Maluku, flora dan fauna disana (disisipi nama ilmiah) dan di akhir buku ada glossari yg tebal betul.