Menjadi manusia tentu kita memiliki nilai-nilai yang dipegang untuk dijalani. Apakah sesuatu itu baik atau buruk, sesuatu itu benar atau salah, ataukah hal-hal lainnya yang kita imani sebagai manusia. Namun seringkali kita sendiri terbentur dengan nilai-nilai itu sendiri ketika bersinggungan dengan orang lain, kita terlalu memaksakan bahwa nilai yang kita yakini ini juga nilai yang sama dengan yang di miliki oleh orang lain, sehingga kala nilai itu ternyata berbeda, kita bisa jadi menilai hal tersebut menjadi hal yang salah di mata kita, bukan membuat kita memaklumi bahwa tiap manusia memang memiliki hak untuk memilih dan meyakin hal-hal mana saja yang akan diimani.
“Bagaimana mungkin kamu merasa kalah padahal kamu tidak berjuang?” (hal. 73)
Salah satu buku yang ditunggu kehadirannya adalah buku ‘Bising’ ini. Sebenarnya agak diluar dugaan karena ekspektasi terhadap buku ini akan sama dengan buku-buku sebelumnya, yakni menyajikan cerita-cerita dengan sudut pandang yang apik dan memberikan sebuah pemahaman dari hikmah di setiap yang kita jalani di fase-fase kehidupan. Ternyata salah, buku ini mengajak kita untuk banyak berkontemplasi tentang hal-hal yang disekitar kita perlu dibicarakan namun tidak untuk dinilai salah benarnya, hanya saja kita bisa memilih nilai yang bagaimana yang akan kita yakini, bagaimana kita menyikapi hal-hal yang perlu kita sikapi dengan bijak, dan bagaimana belajar terus menjadi manusia yang lebih baik dengan caranya masing-masing.
“Takaran-takaran tentang apa yang terbaik, memang tidak pernah ada dalam ukuran kita, melainkan ukuran-Nya.” (hal 129)
Setiap ceritanya, mengajak kita akan menentukan ending-nya sendiri bagaimana kita sebagai manusia harus menghadapi situasi yang seringkali mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya, atau bahkan jauh dari apa yang pernah kita pikirkan. Buku yang mengajak-tentu saja-diri sendiri untuk berbicara dengan hati, menemukan suara yang ‘bising’ dan menerimanya sebagai cara untuk mendewasakan diri. Bagaimana bertoleransi terhadap nilai-nilai yang mungkin berbeda dengan orang lain.
Keluarga, Relasi, bentuk pertemanan, dan cara berkomunikasi menjadi topik yang banyak dibicarakan dalam buku ini. Bagaimana kita (manusia) selalu memiliki banyak peran, dan bagaimana kita bisa menempatkan diri pada masing-masing peran itu. Menjadi seorang anak, menjadi orang tua, menjadi teman, bahkan tidak menjadi siapapun atau apapun. Apakah kita seorang yang memiliki kuasa, memiliki banyak pengakuan, memiliki apasaja, atau kita yang tidak memiliki apapun.
Bagi siapa saja yang sedang dalam masa quarter life crisis, mungkin buku ini bisa menjadi teman bicara, sebagai katalisator pemecah benang-benang kusut dikepala. Jangan berharap menemukan banyak jawaban dalam buku ini, karena buku ini membuat kita sendiri yang menentukan bagaimana kita memahami nilai-nilai yang hanya kita bisa yakini. Bahkan mungkin aku dan kamu akan bisa menyimpulkan bagaimana buku ini bercerita dengan cara yang berbeda.
“Apa yang selama ini ingin kamu katakana pada diri sendiri?”(hal 104)
Bagiku, menempuh jalan sunyi dan sendiri akan banyak mendengar suara yang bising, yang semakin sepi jalan yang di tempuh akan terdengar semakin jelas kebisingan itu. Terimakasih sudah menulis buku dan mengajak berbicara melalui berbagai latar belakang cerita.
“Kita tidak akan pernah bisa menghapus masa lalu, sekelam apapun. Jejak itu melekat. Kita hanya perlu menerimanya sebagai bagian dari diri kita.” (hal 152)
Untuk meredam suara bising ini, maka sebuah kutipan terakhir pada ulasan ini merupakan kutipan terfavorit pada buku “Bising”, yang sudah memberikan sudut pandang baru bahwa dunia ini selalu memiliki sejarah yang membentuk kita menjadi sedewasa hari ini, bagaimana buruknya masa lalu tetaplah menjadi nilai yang berharga untuk sebuah pembelajaran yang mungkin nilainya kita sendiri yang bisa mengukur seberapa ‘mahal’ dalam ukuran diri sendiri.