Pertama kali tertarik karena banyak yang bikin status WA kutipan dari buku ini. Tapi viralnya buku itu belum cukup bisa membuat saya langsung cari dan beli. Setelah 4 tahun dari pertama kali buku ini terbit, akhirnya saya membacanya. Tetep ngga beli sih, karena kebetulan di Perpus Pevita ada.
Oke, secara keseluruhan saya suka buku ini. Dari sampulnya cukup menarik. Kemudian bagusnya buku ini didukung pula dengan diksi yang singkat nan bersahabat, seakan jadi teman ngobrol.
Di awal-awal membaca, saya agak kecewa, karena belum menemukan momen "wah"-nya. Mungkin sudah bagi sebagian orang, tapi belum di saya. Setelah memasuki bab-bab akhir, baru sadar kalau buku ini dibagi menjadi 2 bagian. Separuh awal berisi targhib (motivasi) bagi yang sedang merasa takut, cemas, dan putus asa. Lalu separuh yang akhir berisi tarhib (ancaman/peringatan) bagi yang sedang dilanda kelalaian. Nah, jujur, saya sekarang berada di kondisi yang kedua. Wajar kalau di awal-awal ada momen "slump" di sana dan di akhir lebih "excited".
Namun sayangnya, saya rasa bagian akhir justru melenceng dari judul. Jika dilihat, judul buku ini lebih cocok bagi teman-teman yang rasa takutnya lebih tinggi dari rasa harapnya saja. Ada dua opsi mungkin, antara judulnya dibuat lebih umum, atau buku ini dipecah menjadi 2 sekuel, satu untuk yang sedang cemas & takut, satu lagi untuk yang sedang malas & lalai. Untuk keserasian judul dan isi saja, sih.
Di samping itu juga saya masih menemukan titik koma yang kurang sesuai pemenggalannya. Tapi tak apa, masih bisa dipahami maksudnya.
Akhir kata, meski isi tiap bab-nya agak melenceng ke mana-mana, tapi tetap ada satu benang merah yang bisa ditarik. Ya, tauhid. Itulah inti dari tujuan kita diciptakan, baik dalam kondisi cemas maupun malas. Terima kasih Kak Ustadz Alfi, bukunya cukup membekas.