Jump to ratings and reviews
Rate this book

Gres

Rate this book

Paperback

First published January 1, 1982

1 person is currently reading
59 people want to read

About the author

Putu Wijaya

78 books108 followers
Putu Wijaya, whose real name is I Gusti Ngurah Putu Wijaya, is an Indonesian author who was born in Bali on 11 April 1944. He was the youngest of eight siblings (three of them from a different father). He lived in a large housing complex with around 200 people who were all members of the same extended family, and were accustomed to reading. His father, I Gusti Ngurah Raka, was hoping for Putu to become a doctor, but Puti was weak in the natural sciences. He liked history, language and geography.

Putu Wijaya has already written around 30 novels, 40 dramas, about a hundred short stories, and thousands of essays, free articles and drama criticisms. He has also produced film and soap-opera scripts. He led the Teater Mandiri theatre since 1971, and has received numerous prices for literary works and soap-opera scripts.

He's short stories often appear in the columns of the daily newspapers Kompas and Sinar Harapan. His novels are often published in the magazines Kartini, Femina and Horison. As a script writer, he has two times won the Citra prize at the Indonesian Film Festival, for the movies Perawan Desa (1980) and Kembang Kertas (1985).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (24%)
4 stars
27 (47%)
3 stars
13 (22%)
2 stars
2 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Book Enthusiast.
26 reviews
March 11, 2026
Kumpulan cerpen Putu Wijaya bak gado-gado, macam-macam rasa tapi tetap enak…
Baru baca kumpulan cerpen Putu Wijaya yang ditulisnya periode 1977-1981 saat beliau masih berusia 30an. Semua judul cerpen dalam buku ini hanya terdiri dari satu kata, menyiratkan bahwa semuanya hanyalah humor atau sesuatu yang tidak perlu dipikir serius setelah membacanya, cukup dinikmati saja dari awal sampai akhir.

Beberapa cerpen menampilkan ciri khas Putu Wijaya yang piawai merangkai kata dengan plot twist tak terduga di akhir cerita, seperti pada cerpen "Kejetit", "Hadiah", dan "Roh". Ada juga yang seperti naskah drama seperti cerpen "1980", karena pengalaman Putu sebagai pemain teater. Sering kali ceritanya bermula dari suatu kejadian atau pembicaraan yang remeh, tapi kemudian diolah oleh Putu sehingga membesar kemana-mana seperti bola salju, seperti cerpen "Los". Ada kalanya Putu menggarap topik yang memerlukan perenungan lebih dalam dari sisi filosofis karena seperti ada sesuatu moral story yang hendak dia sampaikan kepada pembacanya, seperti cerpen "Maria" dan "Bisma".

Karena topik cerpen dalam buku ini beraneka ragam, silahkan pembaca menikmatinya seperti menyantap gado-gado, macam-macam bumbu bercampur dan rasanya tetap enak.
Profile Image for Gustia Mardalena.
26 reviews
February 8, 2020
Sama seperti apa yang ditulis oleh Putu Wijaya di lembar awal sebelum cerita dimulai, berikut saya kutip:

" .... Ceritapendek adalah teror mental kepada manusia."

" .... Sebagai pisau bermata dua atau ular berkepala dua, arti ceritapendek pada akhirnya tidak hanya ditentukan dari pengarangnya, tetapi juga dari siapa pembacanya."

Buat saya yang masih jauh dari wawasan, terus terang, baca karya-karya Putu Wijaya itu kadang enggak cukup satu kali untuk bisa menangkap maksud, pesan, dan kesan yang hendak disampaikan. Perlu mencerna dengan saksama untuk memahami.

Sebab itulah, saya dengan percaya diri mengakui, Putu Wijaya menjadi salah satu penulis favorit saya sejak pertama kali membaca karya beliau kala itu. Dan setiap kali membaca tulisannya, saya selalu terpesona.

Seperti halnya di buku ini, penuh dengan satire yang menjadi kekhasan seorang Putu Wijaya.

Terima kasih, sudah menulis karya yang selalu apik dan cantik, Pak Putu Wijaya. 🙏
Profile Image for May.
57 reviews3 followers
September 20, 2022
Cerdas dan mendebarkan, itu adalah kesan saya setelah membaca kumpulan cerpen ini. Berisi 17 cerita pendek tentang keluarga, hubungan antar manusia, dan kegilaan masyarakat, cerpen-cerpen Putu Wijaya di dalam Gres tak lupa mencerminkan kehidupan sehari-hari yang sarat makna. Satir tentang kegelisahan dalam diri manusia juga dengan mudah dibaca secara tersirat dari cerita-cerita di dalam buku ini. Favorit saya adalah cerpen Aktor dan Moh.
Profile Image for Al Szi.
58 reviews4 followers
November 14, 2018
Setelah dua minggu berada dalam reading slump dan kerjanya bacain teenlit, kubaru menyadari betapa sedapnya baca karyanya Putu Wijaya. Ceritanya bikin mikir, makna tersembunyi bertebaran di mana-mana dan bahkan dalam cerita Bisma pun, yang terbilang fantasi, aku merasakan ke-satir-an yang terjadi di dunia nyata.
Profile Image for Rif.
7 reviews
December 30, 2020
Sebagaimana biasa, karya Putu Wijaya ringan, kocak, segar, tapi seringkali juga filosofis.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews