Seperti yang tertulis pada cover, buku ini adalah bunga rampai pengalaman penulis dalam melejitkan word smart, kecerdasan menulis.Seluruh artikel dalam buku ini adalah artikel-artikel yang sudah dipublikasikan sebelumnya.
Idenya adalah, setiap orang dapat membaca buku ini seperti membaca menu di restoran: Memesan dan membaca sesuai dengan selera masing-masing. Why? Karena Buku itu Sepotong Pizza!
Buku ini disusun dengan urutan Afeksi -> Kognisi. Hernomo meracik buku ini sedemikian mungkin agar pada bab-bab awal kita mendapatkan cita-rasa buku yang sesungguhnya, yaitu bagaimana cara kita mencintai buku. Lalu seperti pada Mengikat Makna, Hernomo kemudian membawa kita kepada bagaimana cara kita mengejawantahkan pengetahuan dalam tulisan.
Membaca buku ini seperti dihadapkan menu prasmanan. Macam-macam. Tapi dengan rasa signature yang kentara. Disini pembaca tidak dimanjakan dengan instruksi tersusun, melainkan ditantang untuk menemukan makna-makna di sepanjang artikel. Dan itu bagus menurut saya.
Cuma ada satu yang mengganggu. Penataan halaman kiri dan halaman kanan yang umumnya kiri adalah untuk makna, dan kanan untuk tulisan, terasa kurang ajeg dan inkonsisten. Malah lebih sering mengganggu. Banyak halaman kiri yang tidak memberikan tambahan nilai pada tulisan di sebelah kanannya atau artikel yang dibaca, melainkan hanya kumpulan quotes, skema dan poin. Saya tidak melihat gambar dan ilustrasi menarik seperti pada Mengikat Makna. Hal ini justru menjenuhkan, dan membuatnya tidak penting.
Bagaimana dengan gaya tutur personal? Saya secara pribadi menyukai gaya tutur personal, tapi untuk artikel dan novel. Untuk buku how-to yang tebal, rasanya kok too much ya..
Well, pada jaman itu (2003) sedang booming artikel dan kisah dengan sudut pandang orang pertama. Novel-novel atau ulasan arkeologis yang menyerupai diari membanjiri pasaran. Mungkin karena itulah mengapa Hernowo mempertahankan gaya tutur personal (sesuai artikelnya) di buku ini.
Di masa kini, beberapa ajaran terasa redundan dan 'basi', tentu saja karena sudah berlalu 10 tahun dari masa buku ini dihidangkan pada awalnya. Bukan salah bukunya lah, tapi salah saya yang menunda-nunda menimati.
Tapi banyak juga ajaran yang abadi, dan tetap relevan sampai sekarang. Apa aja itu? Baca aja bukunya yaa..
Perlakukan buku seperti makanan, maksudnya buku bisa kita baca dengan cara sedikit demi sedikit, laiknya seperti kita mengemil makanan. Semuanya dimaksud agar kita tak merasa bosan. Lalu gunakan daya imajinasi kita (kekuatan membayangkan) dalam membaca buku, Insya Allah, proses pemahaman akan menjadi lebih efektif.
Buku itu seperti makanan. Mesti pinter2 milih bacaan(makanan) yang bergizi agar sehat. Jika tidak, maka akan kena bikin 'penyakit' dan merusak tubuh. Menikmatinya pun mesti seperti makanan yang diincip sedikit demi sedikit hingga kelezatan makanan (buku) dapat terasa.
Buku ini yang pertama kali mengajarkan saya untuk terus menulis dan mencintai kegiatan membaca dan menulis. Terima kasih untuk Pak Sahala yang telah menyuruh mahasiswanya untuk membaca sekaligus mereview buku ini.
Oalaa, kok bisa ini belum ada di rak GR saya? Sangat-sangat inspiratif. Apalagi saya kan maniak sama pizza. Kok Mas Her tahu aja ya kesukaan saya, menyandingkan buku sama pizza? *halah* :D